"Aku tidak memintamu untuk menjauhiku," Sungmin kembali menuangkan sedikit larutan alcohol pada kapas yang tengah di pegangnya. Dia meraih dagu pemuda di depannya sekali lagi, kemudian dengan perlahan menempelkan kapas yang tengah dipegangnya itu ke sudut bibir pemuda tersebut.

Kyuhyun hanya bisa meringis, merasakan perih ketika dinginnya alcohol menyentuh permukaan kulitnya.

"Maaf..."

Kyuhyun tertegun seketika, pandangannya kini terfokus pada Sungmin yang tengah mengobati lukanya. Foxy eyes di depannya itu nampak menyendu, menolak untuk menatap kedua matanya sendiri.

"Ini…ini bukan apa-apa," Kyuhyun membuka suara, merespon permintaan maaf Sungmin yang sempat didengarnya tadi.

Foxy eyes Sungmin menatap lurus kedua orbs hitam di depannya kini.

"Kyuhyun…" Sungmin menggumam, jemari tangannya meletakkan kapas yang sedari tadi dipegangnya itu ke atas meja. "Maaf, aku hanya…" Sungmin menghela nafasnya, mengambil jeda sejenak. "Aku hanya merasa sedikit emosi karena kau menjauhiku beberapa hari ini."

"Well, um…" Kyuhyun mengalihkan pandangannya, memilih untuk menghindar dari tatapan Sungmin yang sedikit membuatnya gugup. "Mungkin aku memang pantas mendapatkan hal seperti itu darimu."

Sungmin menatap pemuda di depannya dalam diam. Masih mengamati wajah Kyuhyun meskipun pemuda di depannya itu menolak untuk menatapnya, "Kyuhyun…" ia kembali membuka suara dan mendengar sebuah 'hum' kecil sebagai responnya. "Apa kau akan tetap menyimpan perasaanmu kalau aku memintanya?"

Mendengar hal itu, Kyuhyun pun kembali mempertemukan kedua orbsnya dengan foxy eyes milik Sungmin. Mencari sebuah kata ketidak seriusan melalui kedua mata hitam pemuda di depannya tersebut. Tapi, ia sama sekali tidak menemukan apapun disana.

"Aku…tidak tahu, Sungmin," ujar Kyuhyun tiba-tiba.

Sungmin kembali menatap Kyuhyun dalam diam. Lalu menghela nafasnya setelah itu. "Kyuhyun…" ia memejamkan matanya sekilas dan sedikit mengambil jeda sebelum akhirnya membuka kedua foxy eyes itu kembali, "Aku rasa aku gagal membohongi perasaanku."

.

.

.

"Kibum adalah teman masa kecilku saat aku masih berada di Jepang. Dia juga termasuk sahabat terbaikku, sama seperti Jungmo. Hanya saja…" Sungmin sedikit mengambil jeda sembari membenarkan posisi duduknya di Sofa. Sementara Kyuhyun masih menatap Sungmin dalam diam, menunggu Sungmin untuk melanjutkan ceritanya.

"Hanya saja?" tanya Kyuhyun tiba-tiba. Membuat pemuda di sampingnya itu balik menatapnya kini.

"Hanya saja kami membuat beberapa janji saat kami masih kecil dulu. Aku mengatakan pada Kibum kalau aku akan selalu bersamanya meskipun suatu saat nanti kami tumbuh dewasa. Aku tidak tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini," foxy eyes Sungmin masih menatap pemuda di depannya itu, sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Lalu?"

"Aku berkata pada Kibum kalau aku… akan menikah dengannya jika suatu saat nanti kami tumbuh dewasa," lanjutnya lagi dan Sungmin tidak bisa menahan untuk tidak menggigit bibirnya bawahnya sendiri setelah mengatakan hal tersebut.

Kyuhyun terdiam, pandangannya beralih pada telivisi yang tidak menyala di depannya kini.

"Itu…janji yang sangat manis," Kyuhyun bergumam pelan. Sikunya berpangku pada sandaran sofa disampingnya sekarang, menahan diri untuk tidak tertawa, "Mungkin kau bisa memenuhi janjimu sekarang," ucapnya lagi tanpa sadar.

"Yah! kau baru saja mengatakan kalau kau tidak bisa melupakanku tadi!" Sungmin meninju lengan kiri Kyuhyun tiba-tiba. "Aku tahu itu terdengar konyol. Tapi aku serius. Dan aku tidak menyangka bahwa Kibum akan—"

"Berhenti memukulku," potong Kyuhyun, pandangannya kembali menatap kearah Sungmin seraya menggenggam tangan pemuda di sampingnya itu dengan satu tangannya sendiri. "Dengar… Sungmin… mungkin kau benar. Hal itu memang terdengar konyol tapi, aku rasa… kalau aku yang berada di posisi Kibum, mungkin… aku akan melakukan hal yang sama," gumam Kyuhyun melanjutkan perkataannya.

Kyuhyun tidak bohong. Walaupun janji masa kecil Sungmin dengan Kibum terdengar seperti hal sepele. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ada perasaan iri tersendiri di benaknya ketika mengetahui hal tersebut. Dan ia yakin kalau dirinya juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Kibum lakukan.

Sungmin tertegun sebelum akhirnya kembali berkata, "Kau tidak benar-benar menyukaiku, bukan?" dan Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya mendengar hal tersebut.

"Tentu aku menyukaimu!" Kyuhyun menyanggah. Wajahnya menghangat seketika setelah itu. "T-tapi kau mencintai Kibum, bukan?"

"Aku memang mencintainya," jawab Sungmin dan hal itu berhasil membuat Kyuhyun terdiam seketika. Sungmin mendengus pelan setelah itu. "Tapi, perasaanku padanya, semata-mata tidak lebih dari perasaan seorang hyung terhadap dongsaengnya," Sungmin memfokuskan pandangannya lagi kearah Kyuhyun. "Aku rasa perasaanku pada Kibum sama seperti aku mencintai adikku sendiri. Dan Kyuhyun, sebaiknya kau berhenti bertingkah kikuk seperti ini terhadapku! Kau bilang kau menyukaiku!"

Kyuhyun berdecak pelan, wajahnya kembali menghangat. Mengakui kalau dirinya benar-benar memiliki perasaan khusus terhadap pemuda di sampingnya, bukanlah hal yang biasa untuk Kyuhyun. Terlebih karena ini adalah pertama kalinya bagi Kyuhyun—menyimpan perasaan pada seseorang yang notabenenya sama seperti dia.

Tapi, lagi—Kyuhyun hanya tidak bisa menahan perasaannya lebih lama, ia sendiri tidak yakin kalau ia akan dengan mudah melupakan Sungmin begitu saja. Well, mungkin Kyuhyun bisa melupakan Sungmin memang, mungkin…kalau saja Sungmin tidak menghajarnya tiba-tiba dan membuatnya berharap serta menyimpan perasaannya lebih lama lagi.

"Bagaimana…bagaimana dengan Kibum?" tanya Kyuhyun tiba-tiba, pelan, dan hal itu berhasil membuat Sungmin terdiam kembali.

"Aku tidak bisa, Kyuhyun. Aku hanya…" Sungmin mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. "Aku hanya tidak bisa terus-menerus menyakiti Kibum dengan berpura-pura kalau aku mencintainya sama seperti caranya mencintaiku," Sungmin mengepalkan kedua tangannya, erat. "Kibum selalu menungguku, Kyuhyun. Dia ingin aku menepati janjiku, janji yang aku buat ketika kami masih kecil. Janji yang aku yakin tidak akan bisa aku tepati sekarang."

Kyuhyun terdiam, tidak tahu harus merespon bagaimana dengan semua cerita Sungmin. Dan mungkin, diam adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Karena terkadang, ketika kau sedang mendengar seseorang bercerita padamu, kau tidak perlu ambil pusing mencari apa yang seharusnya kau lakukan untuk menghibur orang itu, atau memikirkan saran apa yang seharusnya kau beri pada orang itu. Mungkin…mungkin hanya dengan berdiam dan mendengarkan, itu saja sudah cukup bagi seseorang yang tengah mempercayakan separuh dari cerita kehidupannya kepadamu.

"Henli! Kau tidak bisa menahanku— Sungmin!"

Seorang pemuda berambut merah datang tiba-tiba dan berseru, membuat Kyuhyun dan Sungmin terkejut dan menoleh kearahnya seketika. Mereka bisa melihat seorang pemuda pirang, Henry, berdiri di belakang si pemuda berambut merah—sebisa mungkin berusaha menahan pemuda berambut merah itu.

"Sungmin! sudah aku peringatkan padamu untuk tidak menemui Kui—"

"Mi!" Kyuhyun memotong, kemudian mendekat kearah pemuda berambut merah itu secara tiba-tiba dan menahannya untuk tidak bertindak gegabah pada Sungmin. Sementara Sungmin hanya berdiam diri di tempatnya, berdiri dengan pandangan menatap lurus pada Zhoumi yang tengah menatap tajam kearahnya. Kenyataannya, ia sama sekali tidak merasa takut meski Zhoumi berniat untuk menghajarnya sekalipun. Karena jauh di dalam benaknya, ia sendiri pun tahu alasan kenapa Zhoumi bersikap seperti itu terhadapnya.

.

.

.

"Kau gila, Kui Xian," Zhoumi mengatur nafasnya, berusaha menenangkan dirinya dengan meneguk segelas air yang baru saja diberikan oleh Henry. Mereka bertiga tengah berada di ruang makan kini, dan suara 'duk' yang cukup keras dari gelas yang berbenturan dengan meja ketika Zhoumi meletakkannya, nampaknya ikut melenyapkan keheningan yang menghampiri mereka.

"Dan kau akan tetap menyimpan perasaanmu padanya meskipun kau tahu dia telah menjadi milik orang lain?!" Zhoumi kembali membuka suara. Membuat Henry sedikit berdecak mendengarnya.

"Tidak ada yang memiliki Sungmin hyung, Mi. Tidak ada," Henry ikut membuka suaranya kemudian, membuat pemuda berambut merah di depannya itu kini menatapnya.

"Kau selalu membela Sungmin," ujar Zhoumi tiba-tiba. Pemuda berambut merah itu pun ber-sigh pelan. "Aku hanya ingin melindungi temanku, teman yang sudah sangat lama aku kenal. Dan aku tidak ingin Sungmin—"

"Sungmin hyung juga temanmu, Mi!" Henry memotong, tidak membiarkan Zhoumi untuk melanjutkan perkataannya karena ia sudah tahu betul apa yang akan di ucapkan si pemuda berambut merah tersebut. "Dan…bagaimanapun, meski perkenalanmu dengan Kyuhyun jauh lebih lama dari perkenalanmu dengan Sungmin hyung, kau tidak bisa terus-menerus memperlakukan Sungmin hyung seperti ini karena…karena menurutku ini sudah terlalu berlebihan. Sampai kapan kau akan terus beranggapan kalau Sungmin hyung akan menyakiti Kyuhyun?"

"Dia benar," kali ini Kyuhyun yang membuka suara, pandangannya yang tadi sempat tertuju pada meja makan di depannya, kini ikut menatap pemuda berambut merah itu. Sama seperti Henry.

"Kui Xian…"

"Aku… menghargai maksudmu," ucap Kyuhyun lagi. Ia mengambil jeda sejenak sebelum kembali berkata "Tapi, aku hanya ingin kau tahu kalau Sungmin tidak seperti yang kau pikirkan. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku sampai seperti ini, kau tahu? Sungmin…Sungmin sama sekali tidak berniat untuk menyakitiku. Dan aku tidak ingin kau terus-menerus memperlakukannya seperti ini. M-maksudku…aku tidak ingin melihatmu yang seakan-akan menganggap Sungmin seperti musuhmu. Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk bisa berteman baik dengan Sungmin?"

Zhoumi terdiam, merasakan rasa bersalah tersendiri ketika kata demi kata dari dua orang di depannya itu berkumpul di dalam otaknya. Mungkin Kyuhyun dan Henry benar. Mungkin tidak seharusnya ia bersikap berlebihan seperti ini, mungkin seharusnya ia tidak perlu bersikap terlalu gegabah hanya karena ingin melindungi Kyuhyun—seseorang yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Dan mungkin…mungkin kalau ia tersadar lebih cepat—kalau sekarang Sungmin juga termasuk salah satu temannya, mungkin dia tidak perlu mengambil sikap yang berlebihan pada pemuda itu. Terlebih hanya karena permasalahan yang seharusnya tidak pernah ia campuri sejak awal.

Kedua mata Zhoumi menatap dua orang temannya itu secara bergantian, seakan mencari suatu jawaban kalau mungkin…mungkin dia bisa menebus semua sikapnya kepada Sungmin beberapa hari ini. Ia menghela nafasnya seketika saat kedua matanya bertemu dengan dua orbs hitam milik Kyuhyun.

"Mungkin kalian benar…" Zhoumi membuka suara, sepenuhnya menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Pandangannya beralih pada lemari pendingin di belakang Kyuhyun kini—meskipun itu hanya sekedar untuk menghindar dari tatapan Kyuhyun yang tengah diberikannya. "Mungkin tidak seharusnya aku bersikap berlebihan seperti ini. Aku…aku sangat menyesal," lanjut Zhoumi kemudian. Jemarinya bergerak memijat keningnya sendiri kali ini, sementara kepalanya sedikit tertunduk.

"Well, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?" Henry ikut membuka suara, membuat Zhoumi dan Kyuhyun menoleh bersamaan kearahnya. Pemuda pirang itu kemudian tersenyum menerima tatapan dari kedua temannya tersebut. Lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah itu. "Aku rasa…kau harus segera meminta maaf pada Sungmin hyung. Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini padamu. Tapi, Sungmin hyung…dia merasa sedih ketika kau memperlakukannya seperti itu. Dia—"

"A-apa katamu?" mata Zhoumi melebar tidak percaya dengan ucapan yang baru saja di dengarnya itu. Sementara Henry hanya bisa berdecak ketika Zhoumi memotong kata-katanya.

"Mungkin kau tidak bisa melihatnya. Tapi, Sungmin hyung...dia…sangat peduli pada pertemanan. Dan kenyataan kalau sikapmu terhadapnya berubah seratus delapan puluh derajat secara tiba-tiba, hal itu sangat menyakitinya," ucap Henry menjelaskan—tidak peduli meskipun hal itu semakin membuat pemuda berambut merah di depannya merasa lebih bersalah dari sebelumnya.

"Kau semakin membuatku merasa bersalah, Henli," ucap Zhoumi, pelan.

"Itu tujuanku," Henry menyaut sebelum akhirnya tertawa pelan kearah pemuda di depannya itu—hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Sementara Zhoumi hanya bisa berdecak kecil. Well, bagaimanapun ia tidak bisa marah pada pemuda mochi di depannya.

"Dan uh…" Henry mengalihkan pandangannya seketika menatap Kyuhyun. "Kyuhyun, apa kau tahu kalau sebenarnya Sungmin hyung masih belum terlalu yakin dengan perasaannya?"

Kyuhyun tertegun sejenak, sementara kedua orbsnya itu menatap lurus pemuda pirang yang juga tengah menatapnya kini. Masih…belum terlalu yakin?, tanyanya dalam hati.

.

.

.

"Apa kau berpikir kalau selama ini hanya kau yang merasa tidak yakin dengan perasaanmu, Kyuhyun? Keputusan yang akan Sungmin hyung ambil nanti, semuanya tergantung pada keputusanmu sendiri."

Kyuhyun memejamkan matanya, memutar kembali semua ucapan Henry yang masih terekam jelas di ingatannya. Tubuhnya merebah di atas tempat tidurnya sendiri, dengan kedua tangan yang merentang di kedua sisi tubuhnya.

Semuanya terasa begitu cepat bagi Kyuhyun. Dan ia masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja di lewatinya hari ini.

Kyuhyun membuka matanya dengan perlahan, membuat dua orbs hitam itu bertemu dengan langit-langit kamarnya.

"Apa tuhan sedang mempermainkan hidupku?" tanya Kyuhyun ber-sigh pelan.

Baru saja beberapa hari yang lalu, ia memantapkan hati untuk melupakan perasaannya terhadap Sungmin—meskipun kenyataannya, hal itu hanya sia-sia. Namun dalam hitungan jam, ia sudah dipusingkan dengan perasaannya kembali. Terima kasih untuk Lee Sungmin tentu saja.

Mengetahui kalau Sungmin ternyata juga menyimpan perasaan yang sama dengannya, tentu…adalah sesuatu yang menyenangkan untuk Kyuhyun. Bohong, kalau ia sama sekali tidak merasakannya. Karena jantungnya yang masih berdetak secara tidak normal ketika ia berhadapan dengan Sungmin tadi, cukup membuktikan kalau Kyuhyun memangmasih menyimpan perasaan terkutuk itu pada pemuda rubah yang telah dikenalnya selama enam bulan ini.

Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri, frustrasi. "Apa kau juga sedang mempermainkanku, Sungmin-sshi? Kenapa kau begitu menyebalkan? Tch."

Ponsel yang berdering tiba-tiba, seakan menjawab pertanyaan yang baru saja diucapkan Kyuhyun tanpa sadar tadi. Kyuhyun mengedarkan pandangannya, hanya untuk mencari ponsel yang tergeletak entah dimana. Lalu ia pun segera mengambil ponsel itu setelah teringat kalau ia sempat meletakkan ponselnya di bawah bantalnya sendiri tadi.

Kyuhyun mengubah posisi berbaringnya menjadi posisi duduk, lalu membuka sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.

Apa kau sedang memikirkanku, Kyuhyun? Karena sejak tadi aku tidak bisa berhenti bersin.

"W-what the…" Kyuhyun membulatkan kedua matanya seketika, terkejut karena pesan Sungmin yang baru saja dibacanya. Oh, Hell, apa Sungmin memasang alat penyadap di dalam kamarnya? Atau kamera tersembunyi?

Kyuhyun mengedarkan pandangannya sekali lagi, menatap ke sekeliling kamarnya dan berharap kalau ia menemukan sesuatu untuk membuktikan pemikiran bodohnya. Tentu usahanya berbuah nihil, karena ia sama sekali tidak menemukan apapun yang mencurigakan di dalam kamarnya itu.

Ponselnya kembali berdering, sebuah pesan baru muncul tiba-tiba sebelum Kyuhyun sempat membalas yang pertama. Kyuhyun pun kembali menatap layar ponselnya dan menekan 'Yes' untuk membaca pesan tersebut.

Kibum mengajakku ke sebuah festival. Kau mau ikut?

Kyuhyun menautkan alisnya, tidak terlalu yakin dengan tawaran Sungmin yang diberikan kepadanya. Niat Kyuhyun untuk membalas pesan itu, lagi-lagi terhalang ketika sebuah pesan baru kembali muncul di layar ponselnya.

Oh, Yesung hyung juga ikut bersama kami. Ini akan menyenangkan! Kau juga harus ikut!

Kyuhyun berdecak pelan, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya setelah itu. Sungmin masih sama seperti biasa. Meskipun mereka sempat menjauh beberapa hari karena kebodohannya sendiri, Sungmin…masih dapat bersikap seperti biasa terhadapnya. Dan meskipun hanya hal sederhana seperti itu, tapi itu cukup untuk menyadarkan Kyuhyun kalau mungkin…mungkin ia sedang merindukan sosok pemuda yang telah merebut hatinya tersebut.

Jemari Kyuhyun bergerak membalas pesan Sungmin. Mungkin menerima ajakan Sungmin pun tidak masalah. Bukankah ia juga butuh penyegar pikiran sebelum memilih keputusan yang tepat untuknya?

Kyuhyun terdiam sejenak menunggu balasan dari Sungmin. Setelah beberapa detik, ia pun menerima balasan itu dan segera membukanya.

Baguslah! kalau begitu jangan sampai terlambat. Good night, Cinderella! ;)

Sungmin masih sama seperti biasa, bukan? Dan Kyuhyun pun nampaknya harus mengakui kalau Sungmin masih menyebalkan. Sama seperti biasa.

"Damn it."

.

.

.

To be Continued

.

.

.

a/n : hah...