Summary:"Inaho.. kau sedang apa sekarang?" tanyanya pelan seperti berbisik ke udara. Berharap angin-angin yang bertiup itu bisa menyampaikan apa yang sebenarnya dia rasakan kepada Inaho. "Kuharap di kehidupan yang akan datang kita bisa bersama"
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan
Balasan review 'Cause Its You chap 9'
River: Hobby banget ganti user ihhh kan pusing manggilnya apa hahaha.. Hahaha merenung 2 hari buat chap itu sih hohoho.. yang 'Our Story' bedewe diriku aja lupa ada fic itu loh hahaha (ditabok).. yeeeepp lagu nano yg itu juga bagus (aslinya suka sama semua lagunya nano sih hohho)
Fujoshi Desu: Ide bagus, nanti yah tapi dibuatnya.. habis ngelarin ini dulu hoho.. takut kalo buat lagi jatuhnya malah multi chap.. ini aja ternyata ada 3 multi chap yang belum kelar sama cause its you .. kalo salah satu dari 3 udah ada yang kelar dibuatin yang mpreg deh hehehe
9798: Padahal mau buat yang sad ending loh :v /gk bercanda ding.. hai hai… terima kasih sudah membaca hoho
Vey: Sebelumnya selama ujian de', semoga hasilnya bagus :3 /berdoa/ gak.. duhh gak bakal Bisa diri ini buat cerita Inaho meninggal. Buat cerita kayak gitu sama aja kayak buat cerita Natsu mati NOOOO NOOOOO WAYYYY! (gila)
Harumia Risa: Terima kasih dukungannya Risa-san.. Punya dendam sih errr karna Inaho merebut Slaine dariku~~ /gk/ hahahaha
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
CAUSE ITS YOU
(chap 10)
"Mungkin di Kehidupan yang Lain"
Langit-langit berwarna putih menjadi objek pertama yang ditangkap matanya saat terbuka. Bunyi dari alat pendeteksi detak jantung menjadi irama yang pertama didengar oleh telinganya. Matanya menoleh ke arah monitor itu menampilkan grafik naik turun dan angka-angka yang berubah setiap detik tapi tidak terlalu signifikan. Sebuah selang pernafasan yang menghubungkan tabung oksigen dan hidungnya juga terpasang. Mata merah itu kembali menyusuri semua sudut ruangan, senyum bahagia muncul saat matanya menangkap mawar biru yang tertata rapih di sebuah vas bening berbentuk tabung yang diletakkan tepat di meja di samping tempat tidurnya. Entah bagaimana dia merasa bahwa Slaine lah yang sudah meletakkannya di sana.
"Anda sudah sadar Tuan Kaizuka?" sapa seorang perawat wanita yang baru saja masuk ke ruangannya untuk mengecek kondisi pasiennya pagi itu.
"Di mana Slaine?" tanyanya kepada perawat itu, tidak menjawab pertanyaan basa basi dari si perawat.
"Maksud Anda pria ganteng berambut pirang?"
"Ya"
"Dia baru saja pulang sekitar setengah jam lalu. Mungkin untuk mengganti pakaian. Anda beruntung punya teman seperti mereka berdua"
"Mereka?"
"Yah Pria berambut pirang dan temannya yang bertubuh sedikit lebih jangkung menemani anda hampir 24 jam. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan.. APA YANG ANDA LAKUKAN?" tanya perawat itu panik saat Inaho mencabut selang yang terpasang di hidungnya dengan paksa. "ANDA MASIH BELUM BOLEH BANYAK BERGERAK!"
Inaho tidak memperdulikan ucapan si perawat, tangannya masih sibuk melepas kabel-kabel yang menempel di dadanya, selang infus yang juga terpasang di tanganya sudah terlepas. Dengan kasar perawat mendorong Inaho untuk kembali berbaring ke tempat tidurnya. Mereka berdua menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka.
"Sla.. Yuki-nee? Mau apa kau ke sini? Mau menyakiti Slaine lagi karna tau dia ada di sini?" Inaho mendorong perawat itu lebih keras dari yang tadi. Membuat pegangan perawat wanita itu terlepas. Dengan emosi Inaho menghampiri kakaknya yang masih berdiri di pintu memegang sebuah keranjang berisi jeruk buah kesukaan Inaho. Di belakangnya tampak Asseylum tersenyum ramah memakai baju dari bahan sifonberkerah renda berwarna putih, dan rok berwarna pink pastel yang panjangnya sedikit di atas lutut memamerkan pahanya yang terlihat putih dan mulus. Sepatu berwarna coklat dengan hak setinggi kurang lebih 7 sentimeter membuat auranya terlihat makin feminin. Sebagian rambut pirang panjangnya diuntai sedemikian rupa dan menyatukan rambut yang diuntai itu dengan rambut yang dibuat polos dengan satu ikatan lembut di sebelah kiri. Benar-benar sosok wanita sempurna bagi siapapun yang melihatnya, perawat wanita yang tadi memeriksa kondisi Inaho sedikit minder melihat sosok yang masih berdiri di ambang pintu itu.
"Inaho-kun, bukannya kau masih harus beristirahat?" Tanya Asseylum, masih dengan senyum lembut di wajahnya.
"Apa urusanmu? Menghilanglah dari hadapanku!"
"Inaho-kun?"
~O~O~O~O~O~O~O~
"Orang itu bukan aku Slaine. Itu jebakan Yuki-nee, Aku tidak mungkin menyuruh orang lain menyakitimu seperti itu"
Slaine membatu di tempatnya. Sekarang apalagi permainan Inaho? Menuduh orang lain untuk kesalahannya? "Harklight bisa tolong suruh dia keluar dari sini? Menghirup udara yang sama dengannya membuatku sesak!" Slaine masuk ke ruang santai. Meninggalkan Inaho dan Harklight yang masih di pintu.
"Aku akan terus menunggumu di sini, bahkan semalaman di luar akan kulakukan jika itu satu-satunya cara agar kau mau mendegarkanku!.. Slaine… Sla"
BLAAAAM Slaine tidak lagi mendengar teriakan Inaho setelah bunyi debaman pintu saat Harklight menutup pintu dengan kasar. Mereka berdua kembali duduk di ruang santai. Menatap kosong ke arah layar televisi yang masih menampilkan latar yang sama 'New Game', 'Resume', 'Save'.
"Slaine baik-baik saja?" Harklight membuka suara.
"Bagaimana kalau dia benar-benar menunggu di luar dengan pakaian setipis itu?"
"Baiklah, kita akan menyuruhnya masuk. Kalian bisa berbicara lebih tenang" Harklight berdiri dari duduknya, siap melangkah kembali menuju pintu saat tangan pucat Slaine terjulur dan menarik ujung baju Harklight.
"Aku tidak ingin melihatnya"
Harklight memandang ke arah pintu dan wajah Slaine secara bergantian. Jika boleh jujur Harklight juga tidak ingin Slaine bertemu lagi dengan pria bernama Inaho. Tapi dia tau Slaine membutuhkan orang itu, walaupun mulutnya berkata tidak ingin tapi Harklight tau Slaine sangat ingin. Semua terbaca jelas di wajahnya yang tertunduk.
"Baiklah, bagaimana kalau kita istirahat dulu? Slaine butuh tidur, kudengar tidur itu obat yang mujarab untuk fikiran yang kalut"
Slaine mengangguk, mengikuti langkah Harklight menuju kamar. Terakhir kalinya menoleh ke arah pintu bertanya-tanya apakah seorang Inaho bersungguh-sungguh menunggunya di luar sana? atau mungkin sudah kembali berada di rumahnya meminum arabica kesukaannya. Slaine sedikit berharap Inaho masih ada di sana menunggunya seperti yang diucapkannya.
Pukul empat subuh, Slaine terbangun saat Harklight menarik lengannya –yang dijadikan bantal oleh Slaine– untuk mengangkat telpon apartementnya yang berdering di jam tidak biasa itu. Matanya sedikit terbelalak saat mendengar penjelasan dari orang di seberang sana. Dengan cepat Harklight menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, Slaine yang masih bingung mengikuti Harklight ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
Slaine jatuh terduduk, kakinya lemas saat melihat Inaho yang sudah pingsan tepat di tempatnya beberapa jam lalu berdiri. Beberapa orang dengan pakaian serba putih terlihat memasangkan alat bantu pernapasan dan menaikkan Inaho ke tempat tidur beroda. Beberapa lantai di bawah sana, Slaine melihat sebuah ambulance tengah terparkir. Seorang petugas apartement mendekati Harklight yang juga sedang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Slaine memegang tangan Inaho yang terasa sedingin es. Bibirnya terlihat membiru, dengan kulit pucat. Dengan cepat Slaine menggosok-gosokkan tangan Inaho di antara tangannya sendiri, berharap Inaho bisa sedikit lebih hangat dengan apa yang tengah dikerjakannya.
Slaine menoleh ke arah Harklight yang terlihat masih berbicara dengan serius dengan petugas apartement. Harklight hanya mengangguk ke arah Slaine, dengan cepat si pirang menyamakan langkahnya dengan petugas-petugas medis yang mulai membawa Inaho ke arah lift. Tangannya masih memegang tangan Inaho.
Slaine terus menatap monitor yang menampilkan grafik detak jantung Inaho dari balik kaca pintu ruang perawatan. Di dalam sana beberapa orang yang terlihat memasangkan alat-alat entah apa itu. Mencoba membuat tubuh Inaho yang semakin pucat itu tetap hangat. Dengan gemetar Slaine mengangkat panggilan ponselnya yang sejak beberapa saat lalu bergetar di sakunya.
Satu jam lamanya, Slaine masih menempelkan wajahnya di kaca. Dokter dan perawat sudah meninggalkan Inaho yang terlihat semakin membaik. Mulutnya sudah tidak sepucat tadi, tapi Inaho masih belum sadar. Kata dokter, Inaho akan sadar sekitar dua sampai tiga hari ke depan. Dia berbalik ke arah Harklight yang baru saja tiba dan menyampirkan jaket tebal berwarna merah marun ke pundak Slaine.
"Bagaimana keadaan Sensei?"
"Kata dokter dia baru akan sadar dua-tiga hari lagi. Terlambat setengah jam, hipotermia yang di deritanya akan membekukan otaknya dan membuatnya lumpuh atau mati. Kabar baiknya, saat ini dia hanya tertidur saja. Dia akan pulih setelah beberapa hari" jelas Slaine, kembali menatap ke dalam ruangan. "Dia benar-benar menunggu. Jika saja waktu itu aku mendengarkannya, hal ini tidak akan terjadikan? Ini semua salahku Harklight. Kenapa aku begitu keras kepala? Kenapa tidak kucoba saja memberi dia kesempatan menjelaskan apapun itu? Aku… Jika hal buruk itu menimpanya, aku bahkan tidak tau apa yang akan terjadi padaku"
Harklight mengusap pundak Slaine pelan saat melihat Slaine gemetar "Dia akan baik-baik saja. Ingat? Dia ini Inaho. Inaho Kaizuka, dia tidak akan mati semudah itu. Slaine juga butuh istirahatkan? Ini juga bukanlah hal mudah bagi Slaine" Harklight mengajak Slaine duduk di salah satu deretan kursi tunggu yang terdapat di lorong rumah sakit. Memberikan pria itu secangkir coklat hangat yang beberapa saat lalu dibelinya sebelum menemui Slaine. Manik hitamnya menatap pria berambut pirang itu yang masih belum berhenti gemetar.
"Harklight, bagaimana kalau kita pindah saja?"
"Apa maksud Slaine?"
"Kau tau? Semakin lama kami berdekatan, semakin banyak sakit yang diterimanya. Aku… Aku hanya tidak ingin dia terluka ataupun melukai dirinya lebih dari ini"
"Slaine yakin?"
Slaine mengangguk, kembali menatap pintu tempat Inaho terbaring
~O~O~O~O~O~O~O~
Inaho akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit –setelah memaksa, dan beberapa kali mencoba kabur– Pihak rumah sakit berkata kondisi fisik Inaho sudah jauh lebih baik untuk kembali beraktivitas secara normal. Inaho mengendarai mobilnya sendiri, berbelok menuju arah apartement Harklight sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Dengan tidak sabar jari telunjuknya menekan-nekan bel. Tidak ada yang membuka pintu, bahkan telinganya tidak menangkap suara-suara dari dalam. Inaho meninggalkan apartement itu, menuju ke beberapa tempat yang Inaho tau sebagai tempat kerja paruh waktu Slaine.
Dengan mantap Inaho menginjak pedal gas mobilnya. Membuat mobil berwarna orange itu melaju dengan kecepatan 80 km/jam seperti yang ditunjukkan oleh jarum speedometer. Fokusnya terbagi antara mengendarai mobil dan mengutak-atik ponsel miliknya. Sejak tadi menekan angka 1 yang secara otomatis menghubungi kontak dengan nama Slaine. Tapi seperti saat di apartement tadi, kali inipun Slaine tidak menjawab telponnya.
Inaho memasuki swalayan tempatnya bertemu Slane beberapa hari lalu. Dan seperti yang dilakukannya di beberapa kombini kali ini Inaho juga melakukan hal yang sama. Memotong antrian pembayaran, tidak peduli dengan cemooh orang-orang yang sejak tadi mengantri.
"Dimana Slaine?" Tanyanya tidak sabar, menarik kerah baju kasir yang tengah bekerja. Membuat kasir itu pucat ketakutan mendapat tatapan Inaho.
"S..S..Slaine-kun sudah berhenti bekerja di sini sejak hari ini."
"Apa? Kenapa?"
"S..S..Saya juga tidak tau tuan. Dia tadi tiba-tiba berhenti. Dia hanya sebentar di sini"
Dengan kasar Inaho mendorong kasir itu hingga menubruk dinding yang berjarak tidak jauh di belakangnya. Temannya yang berada di sampingnya membantunya berdiri. Orang-orang yang tadi ribut mengomentari kelakuan tidak sopan Inaho menutup mulut mereka rapat saat sadar 'orang ini' berbahaya.
Inaho kembali ke mobilnya, menendang ban mobil depannya yang tidak bersalah untuk melampiaskan kekesalannya. Hujan salju kembali turun sore itu. Membuat beberapa orang yang terlihat berjalan di trotoar mempercepat langkahnya, menaikan tubung-tudung mantel untuk melindungi kepala mereka dari salju. Beberapa lainnya terlihat mengeluarkan payung-payungnya. Inaho menengadah menatap langit yang terlihat berwarna abu-abu sore itu. "Slaine…"
~O~O~O~O~O~O~O~
"Slaine.. Slaine.." ucap pria itu setengah sadar. Matanya kembali menatap langit-langit kamar dan dinding kamarnya yang masih tertempel potretnya dan Slaine. Masih dengan jumlah yang sama, masih dengan ekspresi Slaine yang sama. Kedua tangannya seperti terikat saat dia mencoba untuk bangun. Tidak hanya tangan, kedua kakinya juga terikat ke ujung tempat tidur. Membuatnya tidak bisa merubah posisi. Lehernya sedikit terangkat, urat-uratnya sedikit timbul saat dia berteriak "LEPASKAN AKU! AKU HARUS BERTEMU DENGAN SLAINE! LEPASKAN AKU!"
Teriakannya berhenti menjadi tatapan penuh kebencian saat melihat kakak perempuannya masuk ke kamarnya. Diikuti seorang pria berusia sekitar 40 tahunan mengenakan kacamata ber-frame hitam dan menjinjing tas kerjanya. Tanpa berbicara orang itu mengeluarkan sebotol cairan yang Inaho tidak tau apa itu, dan menusuk penutup botol yang terbuat dari bahan karet itu dengan jarum suntik.
"Aku terpaksa menaikkan dosisnya" seperti sudah mengetahui dengan baik orang itu menyuntikkan cairan tadi ke pembuluh darah Inaho. Membuat si surai coklat seketika kehilangan tenaganya, jangankan untuk menggerakkan tangannya agar ikatannya lepas, berbicara saja Inaho sepertinya tidak sanggup. Pandangannya berubah gelap, semua inderanya seperti tidak ingin mengikuti perintah otaknya.
"Kita tidak bisa terus-terusan memberikannya obat penenang Yuki"
"Tapi jika kita tidak memberinya penenang, dia pasti akan melukai dirinya seperti sebelumnya."
"Kau harus cepat menemukan orang bernama Slaine.. itu…"
Indera pendengarannya hanya mampu menangkap pecakapan itu. Sekali lagi Inaho jatuh tertidur karna obat penenang yang disuntikkan dokter pribadi keluarganya. Sekali lagi Inaho jatuh ke dalam mimpinya. Bertemu dengan orang yang bahkan wajahnya tidak terlihat jelas. Orang itu terlihat menyebalkan, tapi ada daya tarik yang menyebabkan Inaho selalu merasa bahagia saat bersama orang itu.
Beratus-ratus kilometer dari tempat Inaho
Warna putih salju menutup seluruh taman. Udara dingin tidak membuat anak-anak kecil yang sejak tadi berlarian di sana terlihat menurunkan aktivitas mereka. Mereka berlari, saling melemparkan gundukan salju yang dibentuk bulat seperti bola sebesar ukuran telapak tangan. Slaine ikut tertawa melihat tingkah mereka. Seperti tidak ada beban, seperti tidak ada masalah, menikmati setiap detik apa yang mereka bisa nikmati. Matanya fokus kepada dua anak yang terlihat duduk di salah satu ayunan. Memfokuskan telinganya untuk menangkap apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Kai?" Tanya anak berambut pirang sama seperti warna rambutnya kepada anak dengan rambut coklat yang sedang membuka jaket tebalnya dan menyampirkannya kepada si pirang. "Bukannya kau benci dingin?"
"Hm.. tapi aku lebih benci melihatmu kedinginan" jawab anak yang tadi dipanggil Kai. "Udara semakin dingin, ayo ke rumahku, kita minum susu coklat buatan Kaa-sanku" Anak yang dipanggil Kai menarik paksa si pirang. Memegang tangan anak itu seperti tidak ingin melepasnya.
"Inaho.. kau sedang apa sekarang?" tanyanya pelan seperti berbisik ke udara. Berharap angin-angin yang bertiup itu bisa menyampaikan apa yang sebenarnya dia rasakan kepada Inaho. "Kuharap di kehidupan yang akan datang kita bisa bersama"
Inaho di dalam mimpinya
"Kuharap di kehidupan yang akan datang kita bisa bersama" ucap orang itu lirih
"Kenapa harus di kehidupan yang akan datang? Kenapa tidak sekarang saja?" Inaho mengguncang-guncang pundak orang itu. Wajahnya di dekatkannya kepada wajah di hadapannya, tapi Inaho masih tidak bisa melihat jelas siapa orang itu.
"hmm" Orang itu menggeleng lembut, sejumput senyum mekar di bibirnya, satu-satunya yang jelas bisa dilihat oleh Inaho. "Kau bahkan tidak mengenaliku Orenji. Bagaimana kita bisa hidup bersama?"
"Aku.. Aku tau siapa kau!"
"Hmmm"
"Kau.. Kau orang yang penting dalam hidupku"
"Jika aku penting, kau tidak mungkin melupakanku kan? Buktinya saat ini kau bahkan tidak tau siapa aku."
"Aku…"
"Nee Orenji, Kau ingat sesuatu saat melihat ini?" Orang itu merentangkan tangannya, bunga-bunga mawar berwarna biru tiba-tiba mekar di belakangnya. Seperti berada di tengah-tengah padang mawar biru.
"Aku pernah melihat ini sebelumnya di rumah sakit. Di vas bunga yang.. yang… yangaku yakin disiapkan Slaine. Aku tau, kau Slaine kan?" Inaho memeluk orang di hadapannya.
"Hmmm" lagi-lagi orang itu menggeleng "kau hanya ingat kejadian beberapa waktu setelah kau koma. Kau bahkan tidak ingat kejadian sebelum itu."
"Tidak penting aku mengingatnya atau tidak. Yang terpenting adalah aku mencintaimu sebelum dan sesudah aku koma."
"Orenji, sudah saatnya kita berpisah." Orang itu mengecup pelan bibir Inaho, perlahan padang mawar biru di belakangnya memudar, begitupula dengan tubuh orang yang beberapa kali ditemuinya ini.
"Sla.. Bat" ucapnya sambil menghapus air matanya dengan ujung pundaknya.
~TBC~
OWARI
Akhirnya bisa publish chap 10 .. maafkan diri ini atas keterlambatan updatenya huhuhu. tadinya mau update kilat, tapi malah fangirlingan starmyu. Duhh emang sih nontonnya itu feel InaSurenya kurang, tapi tetep aja setiap liat starmyu malah ngebayangin InaSure nyanyi~~ hahaha. Dan habis ubek-ubek folder fanfic di pc, nemu satu ff yg belum ke publish karna belum selesai tentang 'band'. Mungkin kapan-kapan bakal di publish kali yah? Fufufuf.. See yaaa next chap~~~ semoga chap kali ini tidak mengecewakan bagi yang nunggu updaten hahahaha. dadah-dadah cantik.
