Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinspirasi dari berbagai komik yang author baca, dan masih berusaha mencoba membuat fic bergendre komedi lagi, sangat berharap bisa membuatnya.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ Change ~

[ Chapter 9 ]

.

.

.

"Maaf, aku pikir ini lucu." Ucap Sai, dia menghentikan aksi konyolnya.

Hahahahaha, aku tidak bisa menahan diri, aku tahu kau berharap aku akan tertawa, tapi disana itu adalah Sasuke! Tentu saja dia akan memasang wajah datarnya.

"Aku serius saat mengatakan jika kau ada masalah, kau bisa datang padaku dan berbicara, apa suamimu itu membuatmu seperti ini? Dia jadi seperti kepala rumah tangga yang hanya menyeretmu sesuka hatinya." Ucap Sai.

Aku sudah merasakan jika Sasuke terus menumpuk rasa kesalnya, sebentar lagi urat-urat di kepalanya akan keluar jika terus mendengar ucapan Sai, tapi ini membuatku terhibur, kapan lagi membuat Sasuke marah besar? Hanya saja bukan aku pelakunya, aku harap dia tidak menonjok Sai atau menyiramnya dengan minuman.

"Katakan apa inti pertemuan hari ini?" Ucap Sasuke, seperti biasa dia akan to the point.

"Aku hanya merasa kau tidak bahagia bersama suamimu."

Benar Sai, aku tidak bahagia.

"Jadi kau ingin mengatakan cerai saja dengan suamimu dan kau akan bersamaku?" Ucap Sasuke.

Apa! Kenapa kesimpulan Sasuke seperti itu? Aku dan Sai hanya berteman!

"Tidak, aku tidak akan berbuat seperti itu pada temanku, aku hanya ingin menolongnya dari kesulitan."

"Kau hanya terlalu ikut campur urusan seseorang, kau bisa mengurus pekerjaanmu dengan baik dan tidak perlu mengganggu aku lagi."

Sasuke bodoh!

Bergegas kembali pada mereka dan menarik Sasuke dari sana.

"Ikut aku sebentar." Ucapku.

Namun sebuah tangan malah menghalangiku.

"Kau sangat kasar pada Sakura." Ucap Sai dan tatapan itu terlihat marah.

Apa ini? Kami seperti sedang memperebutkan Sasuke(aku), sejujurnya aku ingin mengajaknya pergi dan memberinya peringatan agar berbicara lebih baik, bukan menambah masalah!

"Aku hanya ingin berbicara dengannya, tenanglah, aku tidak menyakitinya." Ucapku.

"Aku tidak percaya padamu, sekarang lihat sikap Sakura, dia sangat berubah."

Bagaimana bisa aku menjelaskannya jika tentu saja sikapnya menyebalkan karena dia adalah Sasuke! dan aku adalah Sakura! Hanya tubuh kami yang bertukar! Ini sungguh kacau!

"Kau salah paham, aku sungguh tak pernah bersikap kasar pada Sakura." Ucapku, aku harus menetralkan keadaan ini.

"Jaga sikapmu dokter." Kali ini Sasuke yang angkat suara, dia bahkan menarik paksa tangannya dari Sai.

Omg! Sasuke! Kau malah memperkeruh keadaan!

"Kita pulang." Ucap Sasuke dan sekarang dia yang menarikku pergi.

Setelah keluar, mencengkeram kerah bajunya dan menatap marah pada Sasuke.

"Kau semakin membuat masalah, apa tidak bisa berbicara lebih baik pada Sai? Hanya berbicara saja! Apa sesulit itu?" Ucapku.

"Kenapa kau tidak menikah saja dengannya?"

"Bagaimana mungkin? Kami hanya berteman dan masalah disini adalah kau dan aku!" Kesalku.

Menatap sekitar dan beberapa orang menatap kami, posisiku sangat buruk, aku jadi terlihat seperti akan menyakiti seorang wanita, melepaskan cengkeraman tanganku dari kerah baju Sasuke dan menariknya untuk bergegas pulang, setidaknya di rumah lebih aman jika aku akan marah besar.

.

.

.

.

Esok paginya.

Kemarin aku sudah meluapkan segala amarahku dan Sasuke hanya terdiam, dia terus mengabaikanku dan tidak peduli, aku jadi harus mengirim pesan pada Sai, meminta maaf atas cara bicaraku yang buruk dan mengatakan jika aku akan baik-baik saja bersama Sasuke, sebenarnya kami bertengkar pun, itu tidak masalah, aku sudah terbiasa dengannya, kami sudah bertengkar sejak pertemuan awal kami, bahkan hampir ingin saling membunuh saking kesalnya.

Sekarang harus ke kantor lagi, aku bosan jika harus ke kantor dan hanya menjadi pesuruh, tetap berbaring dan tetap pura-pura masih tidur, aku lelah marah-marah tapi di abaikan.

"Aaaaaa!"

Suara melengking seorang wanita, kenapa Sasuke begitu rajin untuk teriak? Tenggorokanku bisa rusak karenanya.

"Ada apa?" Ucapku dan bergegas bangun.

"Da-darah di seprai, kenapa sangat banyak?" Ucap Sasuke. Dia teriak hanya karena darah.

"Apa kau takut lihat darah?" Ucapku, hee..~ jadi dia takut darah?

"Tidak, tapi lihat! Darah ini dari bawah!" Ucapnya.

Darah? Tidak mungkin keguguran, janin saja tak terasa oleh tanganku, apa artinya- menatap ke arah Sasuke.

"Kenapa menatapku seperti itu? Darah apa ini? Perutku juga sangat sakit." Ucap Sasuke.

Aku tidak hamil? Ini adalah darah datang bulan, pantas saja aku tidak merasakan apapun pada perutku sendiri, ini sebuah kabar baik, tidak, ini kabar aneh.

"Kenapa diam saja, lakukan sesuatu, apa darahku akan habis jika terus keluar?" Ucap Sasuke, sekarang dia benar-benar terlihat seperti wanita pms dan panik.

"Tenanglah, aku akan menjelaskannya padamu, sekarang, tunggu aku di kamar mandi." Ucapku.

Aku harus mencari pembalut untuknya, tapi sebelum itu, aku harus mendatangi ibu Mikoto.

"Ada apa Sasuke?" Ucapnya, ibu Mikoto sedang bersantai di area taman, suasana di pagi hari memang sangat cocok disini, itu adalah tempat favorit ibu Mikoto.

"Ibu, Sakura datang bulan, artinya dia tidak hamil bu." Ucapku, aku sempat melihat raut terkejut ibu Mikoto.

"Be-begitu yaa, aduuh...~ kalian harus lebih berusaha lagi agar punya anak." Ucap ibu Mikoto dan sikapnya aneh, aku tidak bodoh ibu.

"Seharusnya kami tidak perlu menikah kan bu?"

"Tapi kalian sudah menikah, ibu juga tidak tahu kalau Sakura tidak hamil, tapi bagaimana pun juga kalian sudah melakukannya, kau harus tetap tanggung jawab Sasuke."

Ibu Mikoto malah terlihat panik, aku jadi curiga padanya, tapi aku tidak boleh terlalu lama disini, Sasuke pasti sedang merengek dengan perutnya yang sakit dan darahnya akan terus mengalir, dia sampai berpikiran jika darahnya akan habis, dasar pria, mereka tentu saja tidak tahu apapun.

"Kalau begitu aku pamit, bu, aku juga harus mencari pembalut untuknya." Ucapku.

"Eh? Kau mau mencari pembalut untuk Sakura?"

"Kenapa?" Ucapku, bingung.

"Tidak apa-apa, anak ibu memang pria yang bertanggung jawab."

Oh aku lupa, seorang pria mencari pembalut itu akan terlihat aneh, masa bodoh! Yang jelas itu bukan aku, tapi di mata ibu Mikoto itu adalah Sasuke.

Kembali ke kamar setelah menemukan pembalut yang memang di sediakan para pembantu.

"Sasuke, aku masuk yaa?" Ucapku.

"Cepatlah! Aku akan mati kehabisan darah sebentar lagi!" Teriaknya dan dia sangat kesal, nah seperti itu wanita pms, Sasuke sudah menjadi wanita seutuhnya, okey, fokus Sakura, kau harus segera mengurus wanita pms reseh itu.

Membantunya untuk membersihkan diri dan mengajarinya memakai pembalut wanita, wajahnya sampai terlihat stres seperti itu.

"Kau hanya datang bulan, tak perlu seperti orang yang akan mati." Ucapku.

"Diam! Rasanya sakit!"

"Wajar, hal alami pada wanita, kau cukup berbaring saja." Ucapku.

Seorang pelayan datang dan menggantikan seprei kami, tapi darah itu tembus hingga ke dalam kasurnya.

"Apa yang kau lakukan! Ganti kasurnya juga!" Ucap Sasuke, dia terlihat kesal dan malah memarahi para pelayan.

"Ba-baik nyonya." Ucap pelayan itu, takut.

"Hey, tenanglah, jangan marah seperti itu." Ucapku, mengajak Sasuke ke arah sofa dan mendudukannya di sana, sementara para pengawal dan para pelayan sibuk membawa keluar ranjang yang ada darah itu.

Aku sedikit tidak tega melihat keadaan Sasuke, seorang pria yang baru pertama kali merasakan datang bulan, apa sesulit itu? Menariknya ke arah dekapanku dan mengelus punggungnya perlahan.

"A-apa yang sedang kau lakukan?" Ucapnya, gugup.

"Jika sedang seperti ini kau harus tenang, jika terus marah-marah perutmu akan semakin sakit." Bohongku, dia tidak tahu apa-apa jadi aku mulai mengarang cerita tentang datang bulan.

"Jangan sok baik padaku, kenapa memelukku?"

"Aku sedang memeluk tubuhku yang sedang sakit, tidak ada salahnya." Ucapku.

"Cih, menyebalkan."

"Tapi jauh lebih nyamankan?" Ucapku.

"Para pelayan melihat kita." Ucap Sasuke dan berusaha melepaskan pelukanku, melirik ke arah para pelayan, wajah mereka merona dan sesekali melirik malu ke arah kami, aku tidak peduli.

"Abaikan saja mereka, lagi pula yang terlihat di hadapan mereka adalah kau yang memelukku." Ucapku dan terkekeh.

"Aku akan membalasmu, tapi tidak sekarang." Ucapnya, kau masih merasakan sakit di perutmu dan hanya seperti ini yang kau butuhkan.

"Sasuke, kau tidak bekerja?" Ucap Suigetsu.

"Hari ini aku libur, Sakura sedang tidak enak badan, aku tidak bisa meninggalkannya." Ucapku dan mendapat cubitan keras di perutku.

"Aku tidak pernah merasa kasihan padamu. Apa kau sedang berusaha bolos dari pekerjaanmu?" Bisik Sasuke padaku.

"Sasuke?" Ucap Suigetsu, dia pasti melihat tingkahku yang aneh, aku hanya sedang menahan rasa sakit bekas cubitan pria di dalam dekapanku ini.

Mendekap erat Sasuke agar Suigetsu tidak mendengar ucapannya.

"Aku mengandalkanmu, Suigetsu." Ucapku dan kembali mendapat cubitan keras itu, tetap saja aku tidak akan melepaskanmu Sasuke, dengan begini aku bebas ke kantor.

"Baiklah." Ucap Suigetsu dan akhirnya keluar dari kamar kami, ranjang baru masih belum datang dan kami hanya berada di sofa.

"Merasa lebih baik?" Tanyaku pada Sasuke, dia terdiam, apa sesakit itu? Aku rasa setiap datang bulan, aku merasa normal saja, rasa sakitnya pun yang wajar-wajar saja, melihat ke arah Sasuke dan dia tertidur, dasar, dia tidak tahan dengan rasa sakit saat datang bulan.

"Sasuke."

Ibu Mikoto mendatangi kamar kami, dia terlihat sedih, ada apa? padahal tadi ibu Mikoto terlihat baik-baik saja.

"Ada apa dengan Sakura?" Tanyanya, Sasuke masih tertidur dalam dekapanku, aku tidak tega membuatnya bangun.

"Hanya gejala ringan saat datang bulan." Ucapku.

"Kau memahami hal itu?" Ucap ibu Mikoto dan menatap bingung padaku.

"Sa-Sakura yang menjelaskannya tadi." Bohongku.

"Begitu yaa."

"Jadi, ada apa, bu?"

"Aku harap kau tidak menceraikan Sakura hanya karena dia tidak hamil."

Oh jadi ini yang membuat ibu Mikoto terlihat sedih, sejak awal ibu Mikoto ingin kami menikah agar Sasuke bertanggung jawab jika saja aku hamil, tapi sekarang aku tidak hamil dan mungkin ibu Mikoto berpikiran kami bisa mengakhiri hubungan ini dengan cepat karena tak ada alasan untuk tanggung jawab.

"Tenang saja, bu, kami tidak akan bercerai." Ucapku.

Benar, kami tidak bisa bercerai dengan keadaan seperti ini, tubuh kami tertukar dan akan sangat sulit jika kami terpisah jauh dan bersikap normal.

"Ibu senang mendengarnya, akhir-akhir ini pun kau jadi terasa lembut padanya."

"I-itu karena dia istriku." Ucapku, asal, berharap Sasuke tidak bangun dan akan memukulku sekarang juga, dia sangat benci setiap ucapan yang keluar adalah ucapan manis dariku tapi menggunakan tubuhnya.

"Baiklah, ibu tidak akan mengganggu kalian lagi dan ranjang baru kalian sebentar lagi akan tiba." Ucap ibu Mikoto dan berjalan keluar.

"Dasar bodoh."

Sasuke bangun!

"Ka-kau mendengar segalanya?"

"Aku akan memotong lidahmu sekarang juga."

"Aku minta maaf, tapi itu ucapan darurat."

"Aku juga tidak bisa membuatmu pergi jauh, kau sedang berada di dalam tubuhku dan akan sulit jika kita berpisah, kali ini aku maafkan." Ucapnya.

Bernapas lega, akhirnya Sasuke paham juga, setidaknya ini jauh lebih baik.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Masih terasa nyeri."

"Benarkah? Bukan karena kau ingin manja padaku?"

Plaaak!

"Aku hanya bercanda! Jangan di pukul begitu saja!" Ucapku, dia benar-benar kejam, kenapa memukul kepalaku?

"Te-terima kasih sudah membantuku dan tidak mengejekku." Ucap Sasuke, suaranya terdengar pelan, mungkin saja dia malu, atau egonya terlalu tinggi hingga sulit mengatakan hal itu dengan keras.

"Apa?" Ucapku, pura-pura tak dengar, sangat jarang mendengar Sasuke berterima kasih.

"Sudahlah."

"Aku tidak percaya kau berterima kasih padaku."

Tangannya kembali terangkat dan bersiap memukulku, menahan tangan Sasuke segera, kepalaku masih sakit dan dia ingin memukulnya lagi.

"B-baik, maaf, sama-sama, aku hanya mencoba membantumu." Ucapku, kapok jika akan di pukulnya lagi.

.

.

TBC

.

.


akhirnya bisa update lagi...~

ini berpikir keras tenang hal-hal yang humor dan menghibur.

terima kasih untuk kritikan, masukan dan sarannya Lacus Clyne 123, author udah sering dan rajin malah membaca tentang cerita komedi sayangnya pas author yang buat, jadinya nggak ada yang terkesan humor, wkwkwkwkw, yaa mungkin seperti yang kamu bilang, gaya penulisan author kebanyakan jatuh pada kisah yang serius, ini otak nggak bisa memproses dan menghasilkan cerita komedi XD nanti lebih di kembangkan lagi deh, bikin kisah humor, hehehe, kurang mampu emang bikin kisah humor, hehehe. :D

review dari reader lainnya, terima kasih banyak.

.

.

See you next chapter.. :)