Please Save Me
.
.
.
Hee mau jawab pertanyaan yang nanyain tentang apa tokoh seulmi dicerita ini benaran ada gk? Dan beneran meninggal gk? Jawabannya si seulmi ini beneran ada dan masih idup bahakn tiap malem chattingan sama Hee curhat-curhatan. Disini karakter seulmi emang mirip sama si seulmi yang real, cuek, dingin, bahkan dia berani ngelawan bapaknya demi ngebela ibunya. Ya pokoknya peran jongin sama seulmi itu mirip lah cuman si peran jongin yang real itu lebih parah dan gak akan pernah sadar kalo dia salah. Peran kyungsoo juga hampir mirip karena aslinya si peran kyungsoo ini lemah banget sampe nerima semua perlakuan si jongin.
Dan nantinya jongin meninggal atau engga kita lihat aja sampe selesai ya. Walaupun ini kisah nyata temen Hee tapi beberapa udah ada yang Hee ganti jadi gak 100% ini real ya. Dan sebenernya seulmi itu sahabat Hee yang paling deket banget sama Hee sampe Hee dimarahin gara-gara buat ff ini dan bikin dia meninggal di ff ini.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Jongin mulai membuka matanya perlahan-lahan. Ia merasa kepalanya memberat dan sedikit sakit pada bagian belakang kepalanya.
Ia melihat sekitarnya untuk memastikan apakah ia masih hidup atau sudah berada di alam baka. Dan ternyata ia sedang berbaring diranjang empuk sebuah rumah sakit.
"Kau sudah sadar?" Tanya seorang pria dengan suara beratnya namun terkesan dingin.
Jongin hanya diam dan memejamkan matanya sejanak karena rasa nyeri pada sekujur tubuhnya lalu kemudian ia menatap pria itu yang ternyata adalah Chanyeol.
Entah apa dan bagaimana ia benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi hingga sekarang ia dapat berada di rumah sakit dengan Chanyeol yang juga berada disana.
"Baguslah kalau kau sudah sadar kalau begitu aku bisa pergi sekarang." Lanjut Chanyeol yang kemudian berdiri dari tempat duduknya disana.
Jongin hanya diam dan menatap kepergian Chanyeol. Ia sangat tahu jika Chanyeol saat ini pasti sangat membencinya karena perbuatannya sendiri.
"Ku peringatkan kau, sebaiknya jangan menemui Kyungsoo lagi. Dia akan kembali menderita saat kau menemuinya. Jangan lakukan apapun dan jalani hidupmu sesuai keinginanmu itu!" Akhir Chanyeol yang kemudian benar-benar meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
.
"Syukurlah jika dia sudah sadar." Ucap seorang wanita dengan senyuman samar diwajahnya.
"Aku merasa bersalah karena aku yang dia menjadi seperti itu." Lanjut wanita itu lagi saat seseorang dari sebrang menanyakan sesuatu kepadanya.
Wanita itu adalah Kyungsoo yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang disebrang sana melalui telepon.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo pada seseorang itu.
Kyungsoo semakin mengembangkan senyumannya karena mendengar jawaban dari seseorang disebrang sana.
"Terima kasih Chan." Ucap Kyungsoo pada seseorang itu yang ternyata adalah Chanyeol.
Terlihat kini Kyungsoo tersenyum lega setelah mengakhiri panggilan itu. Kemudian Kyungsoo memasukkan ponsel itu kedalam sakunya.
Sebenarnya ponsel itu adalah ponsel baru yang diberikan oleh Baekhyun saat ia meninggalkan rumah itu. Sekarang Kyungsoo benar-benar lega saat mengetahui jika Jongin sudah sadar dan pria itu tidak terluka parah.
Kyungsoo merasa bersalah karena apa yang terjadi pada pria itu merupakan salahnya, dan karena itulah Kyungsoo menghubungi Chanyeol untuk meminta bantuannya.
Dan berkat Kyungsoolah sekarang ini Jongin berada di rumah sakit. Tadinya saat Kyungsoo akan memasuki rumah wanita tua yang sudah Kyungsoo anggap seperti neneknya itu, ia mendengar ringisan kesakitan Jongin samar-samar ditelinganya.
Dan saat Kyungsoo menghampiri pria itu dan memanggil namanya, pria itu sama sekali tidak merespon panggilannya bahkan sat Kyungsoo menyentuh tangan pria itu, tangan pria itu begitu terasa dingin dan saat itulah Kyungsoo tahu jika Jongin tidak sadarkan diri.
Hingga akhirnya ia memutuskan menghubungi Chanyeol dan memintanya untuk membawa Jongin menuju ke rumah sakit. Kyungsoo benar-benar sangat khawatir saat itu bahkan ia sangat takut jika ia akan kehilangan Jongin untuk selamanya.
"Kenapa kau tidak kembali saja? Kenapa kau harus menahan dirimu disini?" Tanya seorang wanita tua yang datang dan langsung menempatkan dirinya duduk disamping Kyungsoo
Kyungsoo yang tersadar dari lamunannya itu kemudian tersenyum dan menggeleng menjawab pertanyaan wanita itu.
"Kenapa? Kau takut jika dia menyakitimu lagi? Jika memang begitu maka panggil saja aku, aku akan memberinya pelajaran jika dia menyakitimu lagi." Kata wanita itu yang terlihat kesal.
"Aku tidak ingin menyakitinya lagi. Aku tidak ingin membebani hidupnya lagi karena diriku. Terlebih lagi saat ini aku buta, aku pasti akan banyak merepotkannya halmoni." Jawab Kyungsoo dengan senyumannya.
"Sudah larut malam halmoni ayo kita tidur aku sangat mengantuk." Lanjut Kyungsoo yang langsung membaringkan tubuhnya pada kasur lantai yang sejak tadi ia duduki, lalu menarik selimut dan memunggungi wanita tua itu.
Tanpa sepengetahuan siapapun kini rasa sakit yang ada pada relung hati Kyungsoo kembali terasa hingga ia harus kembali menitihkan airmatanya lagi dan lagi.
.
.
.
.
Jongin kembai berdiri didepan sebuah flat kecil disebuah desa pinggiran kota Seoul. Setelah tiga hari dimana kejadian Jongin pingsan itu kini akhirnya Jongin kembali berdiri didepan flat kecil itu dan kali ini apapun yang terjadi Jongin akan terus berada disana sampai ia dapat membawa Kyungsoo kembali.
"Selamat pagi.." Sapa Jongin dengan senyumannya saat Kyungsoo keluar dari flatnya.
Kyungsoo yang mendengar itu hanya berpura-pura menulikan pendengarannya dan mengabaikan sapaan Jongin. Kyungsoo masih sibuk mengunci pintu flat itu dan menganggap Jongin sebagai angin lalu.
Setelahnya Kyungsoo berjalan menuju ke tempat kerjanya dan entah sengaja atau tidak Kyungsoo menginjak kaki Jongin disana lalu melewatinya. Jongin sendiri menahan rintihan dan rasa sakitnya pada kakinya.
Dengan cueknya Kyungsoo terus berjalan tanpa menganggap Jongin yang sejak daritadi mengikutinya. Dan lagi-lagi Jongin kembali duduk disalah satu meja yang terdapat disana lalu memesan makanan, hingga akhirnya kedai itu tutup.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya Jongin memutuskan untuk tinggal didesa itu dan menyerahkan semua perkerjaannya pada orang kepercayaannya.
Kini Jongin tinggal di flat yang bersebelahan dengan Kyungsoo. Semua yang Jongin lakukan selama ini hanya untuk membawa Kyungsoo kembali dan meluluhkan wanita itu, agar ia dan Kyungsoo dapat bersama kembali serta memulai hidup yang baru dengan penuh cinta.
Sekarang Jongin sudah kembali menjadi Kim Jongin jati dirinya yang asli. Kim Jongin yang begitu perhatian dan ceria, tidak ada lagi Kim Jongin yang kejam, dingin, dan pemarah.
Jongin sangat sadar jika selama ini ia terlalu kalap dengan cinta pertamanya yang tidak pasti dan kali ini ia benar-benar memantapkan pilihannya pada satu wanita yaitu Do Kyungsoo seorang wanita yang membuatnya berubah layaknya bunglon. Kyungsoo yang membuat Jongin menjadi pria berdarah dingin, dan Kyungsoo pula yang membuat Jongin kembali menjadi pria baik yang selama ini telah tenggelam dalam kegelapan.
Jongin tidak hanya tinggal disana ia juga bekerja ditempat yang sama dengan Kyungsoo sebagai pencuci piring disana. Sebenarnya tidak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut terlebih lagi pemilik kedai itu amat sangat tidak menyukai Jongin karena memang wanita tua itu telah mengetahui semua yang ia lakukan pada Kyungsoo.
Hingga akhirnya Jongin memohon-mohon pada wanita itu untuk menerimanya bahkan selama tiga hari yang lalu Jongin duduk bersimpuh didepan rumah wanita itu hanya untuk mendapatkan pekerjaan itu. Semuanya akan Jongin lakukan agar ia bisa kembali dekat dengan Kyungsoo dan membawa Kyungsoo kembali kepelukannya.
Seperti pagi ini Jongin sudah meletakkan sebuket bunga mawar putih didepan rumah pintu flat Kyungsoo. Dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan Jongin selama seminggu ini semenjak ia tinggal disana.
Jongin sangat ingat jika Kyungsoo sangat menyukai bunga mawar itu bahkan wanita itu berharap kelak ia mendapatkan bunga itu dari seseorang yang amat sangat mencintainya.
Tidak beberapa lama muncullah Kyungsoo disana. Bunga itu terjatuh diatas kaki Kyungsoo dan dengan segera Kyungsoo mengambil bunga itu lalu berjalan membawa bunga itu.
Tampak Jongin yang berada didepan pintu flatnya melihat itu, lalu mengembangkan senyumannya, karena biasanya Kyungsoo akan melempar bunga itu kesembarang arah tapi kali ini Kyungsoo membawanya.
Namun senyuman Jongin luntur seketika saat melihat Kyungsoo berjalan menuju tempat sampah yang berada didepan flatnya yang tak jauh dari tempat Jongin berdiri sekarang.
Kyungsoo meremas bunga itu dan memisahkan kelopak bunga-bunga itu dari tangkainya dengan kasar. Lalu membuang bunga itu ditempat sampah.
"Aku tidak butuh apapun! Yang aku inginkan saat ini adalah kau pergi dari sini dan jangan pernah menunjukkan dirimu didepanku! Aku tidak membutuhkanmu! Tidak juga uangmu! Aku tidak akan menuntut apapun kepadamu! Aku tidak akan kembali lagi seperti keinginanmu! Jadi pergilah aku benar-benar muak denganmu!" Kata Kyungsoo yang meluapkan emosinya dengan menatap tempat sampah itu.
Setelahnya Kyungsoo berjalan menuju kedai tempatnya bekerja dengan airmata yang mengiringi perjalanannya. Sebenarnya sangat sakit bagi Kyungsoo mengatakan hal tersebut tapi entah kenapa mulut Kyungsoo spontan mengatakannya. Dan tanpa Jongin sadari Kyungsoo masih membawa dua kelopak bunga itu ditangannya dan ia menyimpannya didalam sakunya.
Jongin yang mendengar semuanya itu merasa terpukul dengan perkataan Kyungsoo. Kyungsoo seolah-olah menyindirnya dan mengingatkan betapa kejamnya ia dulu.
"Maafkan aku Kyungsoo. Maafkan aku..." Sesal Jongin dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
.
.
.
Jongin tersenyum puas saat melihat ruangan itu sudah bersih dan rapi. Sebenarnya ruangan itu memang sudah cukup rapi karena memang pemiliknya sangat rapi dan bersih.
Dan kegiatan rutin Jongin yang lain adalah menyusup kedalam flat Kyungsoo dan membersihkan flat itu. Bahkan terkadang Jongin mengganti beberapa perabotan yang sekiranya dapat membuat Kyungsoo terluka. Walapun ia tahu akhirnya akan sama dengan bunga yang ia berikan pada Kyungsoo, yaitu berakhir ditempat sampah.
Namun Jongin tetap sabar dan menerima semua perlakuan Kyungsoo, karena memang apa yang Kyungsoo lakukan saat ini tidak ada apa-apanya dengan apa telah ia perbuat pada Kyungsoo.
"Sekarang kau bisa tidur dengan nyaman tanpa harus bermimpi buruk jadi tidurlah dengan nyenyak malam ini Do Kyungsoo." Kata Jongin dengan menatap kasur lantai baru yang ia beli.
Jongin tahu Kyungsoo pasti tidak nyaman dengan kasur lamanya yang telah jelek itu, jadi Jongin berinisiatif membelikan kasur lantai baru untuk wanita itu. Tidak hanya itu Jongin juga membeli beberapa bahan-bahan makanan untuk Kyungsoo yang ia letakkan di dapur.
Jongin melangkahkan kakinya untuk keluar darisana dan bersiap pergi bekerja, karena jika ia telat maka wanita tua itu akan marah kepadanya bahkan akan memecatnya.
Sebenarnya Jongin bekerja disana tanpa digaji dan jika ia dipecat maka ia akan membayar wanita tua itu untuk kembali memperkerjakannya.
Meskipun begitu Jongin sama sekali tidak keberatan karena uang yang Jongin berikan kepada wanita tua itu akan diberikan kepada Kyungsoo. Wanita itu akan mengatakan jika uang tersebut merupakan bonus karena Kyungsoo sudah membuat masakan yang sangat enak hingga pengunjungnya bertambah banyak, walaupun memang begitulah kenyataannya.
.
.
Jongin melangkahkan kakinya memasuki kedai itu dan tersenyum ramah menyapa wanita tua yang sedang sibuk menghitung uang didalam kedai tersebut.
"Halmoni apa sekarang kau akan membayarku?" Tanya Jongin dengan manatap wanita tua itu.
"Aku sudah membayarmu dengan makan dan kau bisa melihat Kyungsoo disini apa itu masih kurang?" Tanya wanita tua itu dengan nada yang sedikit tidak santai.
"Baiklah santai saja halmoni, kau akan semakin keriput jika seperti itu halmoni." Kata Jongin yang semakin membuat wanita itu kesal.
Dan dengan cekatan Jongin segera berlari meninggalkan wanita itu menuju ke dalam dapur untuk melaksanakan tugasnya dan tentunya melihat Kyungsoo.
"Akh.." Ringis Kyungsoo karena jarinya yang tersayat oleh pisau saat ia sedang memotong wortel.
Jongin yang baru saja datang segera menghampiri Kyungsoo dan meraih tangan Kyungsoo untuk melihat apakah Kyungsoo baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Jongin yang terlihat panik.
Kyungsoo yang mendengar pertanyaan itu hanya terdiam dengan pikirannya yang melayang-layang karena pertanyaan Jongin tersebut.
"Kau berdarah." Kata Jongin yang langsung memasukkan jari Kyungsoo itu dan menyesap darah segar yang mengalir disana.
Entah kenapa diperlakukan Jongin seperti itu membuat hati Kyungsoo menghangat. Selama ini Kyungsoo tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Jongin dan kini ia merasa jika Jongin memang sudah berubah.
Jongin sendiri dengan telatennya mengobati luka pada jari Kyungsoo dan membungkus bagian jari Kyungsoo yang terluka dengan plester.
Saat Jongin sudah selesai, Kyungsoo kembali tersadar dan menarik tangannya dari genggaman Jongin. Lalu membuka plester yang membungkus jarinya itu dan membuangnya.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Kata Kyungsoo.
"Tapi kau terluka, akan semakin perih jika kau membiarkannya seperti itu." Jawab Jongin dengan nada lembutnya.
"Aku sudah terbiasa terluka bahkan menahan rasa perih!" Ketus Kyungsoo yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jongin hanya terdiam menatap Kyungsoo dengan tatapan sendunya karena lagi-lagi Kyungsoo menyindirnya dan mengunggkapkan kekesalannya pada Jongin.
"Akh..." Lagi-lagi tangan Kyungsoo kembali tersayat oleh tajamnya pisau itu.
Jongin kembali panik dan hendak melihat bagaimana malangnya jari Kyungsoo yang tersayat tersebut. Tapi ternyata Kyungsoo justru bergerak lebih cepat dan menyesap darah yang mengalir dijarinya.
"Pakailah ini." Kata Jongin dengan menaruh dua buah plester diatas meja didepan Kyungsoo.
"Walaupun kau sudah terbiasa terluka tapi rasanya akan tetap sakit bahkan rasanya akan lebih sakit dari yang sebelumnya. Kumohon jangan siksa dirimu lagi dengan luka-luka itu, walaupun kau muak denganku tapi aku akan tetap setia disini menjadi plester hingga kau tidak merasa sakit dan perih lagi." Lanjut Jongin yang menatap Kyungsoo dan kemudian berbalik untuk mencuci piring yang sudah menunggunya sejak tadi.
Kyungsoo terdiam ditempatnya untuk beberapa saat memikirkan perkataan Jongin.
"Maaf..." Lirih Kyungsoo yang tak terdengar dan kemudian pergi dari sana.
Jongin menolehkan kepalanya menatap Kyungsoo yang pergi dari sana dan meninggalkan plester yang tadinya ia berikan.
"Kau benar-benar keras kepala Do Kyungsoo. Maafkan aku." Ucap Jongin dengan menatap sendu plester dimeja itu lalu menundukkan kepalanya menahan airmata dan kepedihannya.
Disisi lain Kyungsoo berjongkok dengan bersandar pada pintu kamar mandi yang tertutup. Ia menangis meluapkan kesedihannya saat ini.
Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, ia benar-benar merindukan pria itu tapi bersikap seolah-olah ia membenci pria itu membuatnya semakin merasa tersakiti.
"Seulmi, apa yang harus ibu lakukan sekarang?" Tanya Kyungsoo entah pada siapa.
"Apa kau akan marah jika ibu kembali kepada pria brengsek itu?" Tanya Kyungsoo lagi.
"Atau kau justru akan sedih jika ibu seperti ini?" Lanjut Kyungsoo.
Airmata Kyungsoo semakin mengalir deras karena mengingat baaimana masa lalunya yang begitu kelam. Dalam hati Kyungsoo sebenarnya ia sangat ingin kembali pada pria itu tapi pikiran Kyungsoo menyangkal keinginan hatinya.
"Seulmi, ibu sangat merindukanmu. Ibu ingin bertemu denganmu, ibu sangat merindukanmu..." Ucap Kyungsoo dengan tangisannya.
.
.
.
.
Kini hari sudah berganti, matahari tidak lagi menghiasi langit biru dengan cahayanya. Karena saat ini tugas sang rembulan untuk menghiasi langit yang kelam dengan sinar yang ia miliki.
Kyungsoo baru saja memasuki flat kecilnya, dan kemudian merebahkan dirinya dikasur lantainya. Tapi saat ia membaringkan tubuhnya disana ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan kasurnya.
Kyungsoo kemudian mencium selimut yang kini ia pegang, dan ternyata dugaan Kyungsoo benar jika kasur tersebut adalah kasur baru. Kyungsoo yakin siapa pelaku yang sudah mengganti kasurnya tersebut.
Dengan cepat Kyungsoo segera berdiri dengan membawa kasur lantai itu keluar flatnya. Kyungsoo berjalan menuju tempat sampah besar yang berada didepan flat Jongin, dan dengan kasarnya Kyungsoo membuang kasur itu disana.
Setelahnya Kyungsoo kembali menuju flatnya dan mencari barang apa saja yang telah Jongin berikan untuknya, lalu membuangnya ditempat yang sama dengan ia membuang kasurnya.
Kyungsoo kembali kedalam flatnya dan membaringkan tubuhnya diatas lantai yang terasa begitu dingin. Kyungsoo membiarkan airmatanya jatuh membasahi lantai itu. Kyungsoo sangat sadar dengan apa yang ia lakukan tapi ia harus seperti itu agar Jongin pergi dari sisinya.
"Maafkan aku..." Lirih Kyungsoo dengan memejamkan matanya hingga membuat airmata Kyungsoo meluncur dengan mulus dari matanya.
.
.
.
Jongin menghela nafasnya saat ia membuka pintu flatnya dan pandangannya langsung tertuju pada tempat sampah yang penuh akan kasur lantai serta bahan makanan yang telah ia berikan kepada Kyungsoo.
Jongin cukup sabar mengetahui hal tersebut. Ia tetap menyemangati dirinya sendiri agar ia bisa bersama Kyungsoo kembali.
Apapun itu Jongin akan tetap berada disana, tekadnya sudah bulat dan jika seperti itu maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi Jongin untuk mendapatkan apa yang ia mau.
Hari terus berjalan dengan seperti biasa Kyungsoo yang dingin kepadanya bahkan sama sekali tak menganggapnya. Dan perlakuan Kyungsoo terhadap semua barang-barang yang Jongin berikan juga masih sama. Bahkan, sekarang Kyungsoo membuangnya didepan pintu flat Jongin hingga pria itu harus membersihkan barang-barang itu dari sana.
Seperti hari ini Jongin sudah meletakkan sepasang sepatu yang begitu cantik didepan pintu flat Kyungsoo. Jongin pikir sepatu itu akan sangat berguna bagi Kyungsoo mengingat sepatu wanita itu sudah rusak dan jelek.
"Sepatu yang cantik untuk seorang yang cantik." Kata Jongin dengan mengusap sepatu itu.
Jongin tersenyum saat mengatakannya dan setelahnya ia pergi dari sana karena takut jika sang pemilik datang dan memergokinya disana.
Tak berapa lama Kyungsoo keluar dari sana dengan tongkat yang berada digenggamannya. Jongin yang mengamati Kyungsoo dari flatnya tersenyum senang saat melihat Kyungsoo berdiri disana.
"Kau masih tetap cantik Do Kyungsoo." Ucap Jongin dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
Kyungsoo segera memakai sepatu itu, dan melangkahkan kakinya menuju kesebuah tempat. Memang sebenarnya hari ini Kyungsoo tidak sedang berkerja dan karena itulah Kyungsoo harus kesuatu tempat.
Saat telah beberapa langkah menjauh dari flatnya Kyungsoo merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa sepatunya lebih nyaman dari biasanya, biasanya sepatunya terasa sesak dan tidak nyaman tapi kali ini sepatunya sangat terasa nyaman seperti sepatu baru.
Dengan segera Kyungsoo melepas sepatu itu dan menelitinya, ternyata memang benar sepatu yang saat ini ia pakai bukanlah sepatunya. Kyungsoo sangat yakin siapa yang memberikan sepatu tersebut, untung saja Kyungsoo sangat teliti terhadap semua barang-barangnya.
Walaupun sekarang dirinya buta tapi Kyungsoo tidak ingin dibohongi oleh orang lain karena itu Kyungsoo sangat teliti terhadap semua barang-barangnya.
Kyungsoo langsung melepas sepatu itu dan mambawanya, kemudian ia melanjutkan berjalan tanpa alas kaki.
Jongin yang melihat itu dari kejauhan terlihat sangat panik karena ia takut jika kaki Kyungsoo akan terluka. Dan karena hal tersebut akhirnya Jongin mengikuti Kyungsoo.
.
.
.
.
Disinilah Kyungsoo saat ini, yaitu duduk didepan gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.
"Seulmi, ibu datang." Sapa Kyungsoo dengan senyumnya.
"Maaf jika ibu baru sempat datang. Apa kau kesal? Kau akan memarahi ibumu sekarang?" Tanya Kyungsoo masih dengan senyumannya.
Namun tidak dengan matanya yang menyiratkan akan kesedihan bahkan sudah berair saat ini. Kyungsoo mengusap gundukan tanah itu dengan penuh kasih sayang.
"Tidak, ibu tidak menangis karena sedih. Ibu... menangis karena ibu sangat bahagia sekarang." Kata Kyungsoo dengan mengusap airmatanya yang telah membasahi pipinya.
"Apa kau uga bahagia disana?" Tanya Kyungsoo pada gundukan tanah itu.
"Ibu sangat senang jika kau bahagia disana. Haruskan ibu menyusulmu agar kita bisa saling berbagi kebahagiaan disana?" Lanjut Kyungsoo yang menatap sendu gundukan tanah itu.
Tanpa Kyungsoo sadari ternyata Jongin juga berdiri disana, bahkan saat ini Jongin membelalakkan matanya saat mendengar perkataan Kyungsoo. Refleks saja ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Kyungsoo dan mencegah wanita itu. Namun niat Jongin tersebut ia urungkan saat Kyungsoo kembali membuka mulutnya.
"Ibu yakin kau pasti akan marah saat mengetahui ibu sudah bersamamu disana." Ucap Kyungsoo yang tersenyum membayangkan bagaimana kesalnya putrinya saat ia melakukan hal-hal bodoh menurut putrinya.
"Jika ibu boleh jujur. Ibu sangat lelah dengan semua ini, ibu sangat merindukanmu. Ibu merasa hidup ibu tidak ada artinya lagi terlebih saat ini ibu juga buta. Sekarang bukan hanya penglihatan ibu yang menggelap tapi semuanya juga ikut menggelap. Ibu sangat membutuhkanmu Seulmi. Ibu sangat merindukanmu sangat." Lanjut Kyungsoo dengan memeluk gundukan tanah itu dan mulai menangis.
Hingga semakin lama isakan Kyungsoo terdengar dan begitu memilukan hati saat mendengar isakan tersebut.
"Maafkan aku Do Kyungsoo." Ucap Jongin lirih dan menatap Kyungsoo dengan matanya yang telah berair.
.
.
.
.
.
Hari sudah gelap saat Kyungsoo turun di halte dengan Jongin yang masih tetap mengikutinya. Jongin sangat khawatir karena sejak tadi pagi Kyungsoo berjalan tanpa alas kaki bahkan sepatu pemberiannya hanya Kyungsoo bawa tanpa memakainya.
Kyungsoo yang mengetahui jika sejak tadi Jongin mengikutinya itu kini akhirnya tidak tahan dan menghentikan jalannya. Otomatis Jongin yang melihat itu juga ikut menghentikan jalannya.
"Kenapa kau terus mengikutiku?" Tanya Kyungsoo pada Jongin yang berada dibelakangnya.
"Aku tidak mengikutimu. Aku hanya sedang mencari udara segar." Jawab Jongin dengan kebohongannya.
Kyungsoo yang mendengar jawaban Jongin tersebut tersenyum miring meremehkan Jongin. Hingga akhirnya ia membalikkan badannya menghadap Jongin karena jawaban tersebut.
"Apa kau belum puas menyiksaku selama ini hingga kini kau membohongiku begitu?" Tanya Kyungsoo.
Jongin yang mendengar pertanyaan itu kini terdiam menatap Kyungsoo yang sepertinya terlihat marah karena Jongin mengikutinya.
Keduanya terdiam beberapa menit dengan posisi mereka, dan dengan tiba-tiba kini tetesan-tetesan air jatuh dari langit.
"Tidak bisakah kau pergi dari hidupku Jongin?" Tanya Kyungsoo dengan emosinya yang sedikit terlihat.
"Aku hanya khawatir karena kau keluar tanpa menggunakan alas kaki." Jawab Jongin dengan menatap Kyungsoo.
Kini langit semakin banyak menjatuhkan tetesan-tetesan airnya.
"Aku terluka atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu! Sekarang kita tidak memiliki ikatan apapun jadi jangan ikuti aku atau mengkhawatirkanku!" Kata Kyungsoo dengan emosinya.
Dan tepat saat itu hujan turun, entah apa yang terjadi mungkn kini langit juga merasakan kesedihan yang Jongin rasakan.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu hah?! Jangan ikuti aku! Jangan campuri kehidupanku! Jangan kembali mengusik kehidupanku! Apapun yang terjadi jangan menampakkan dirimu dihadapanku!" Kesal Kyungsoo dengan tangisannya yang tertutup oleh hujan.
"Aku hanya ingin menebus kesalahnku dan memperbaiki semuanya Kyungsoo." Kata Jongin dengan menatap sedih Kyungsoo.
"Apa dengan begitu kau bisa mengembalikan putriku?!"
Jongin hanya terdiam saat mendapat pertanyaan tersebut.
"Jawab Kim Jongin! Kau bisa? Jika kau bisa maka aku akan kembali kepadamu dan memulainya dari awal bersamamu." Kata Kyungsoo dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
Jongin hanya diam dan menatap Kyungsoo dengan tatapan bersalahnya.
"Kyungsoo..." Panggil Jongin yang mulai mendekatkan dirinya pada Kyungsoo.
Kyungsoo yang merasa Jongin mulai mendekat kini ia juga memundurkan tubuhnya beberapa langkah.
"Kau pikir aku tidak lelah hah?! Aku bahkan ingin mengakhiri hidupku karena dirimu! Sekarang aku tak punya siapapun kau tahu itu?!" Kata Kyungsoo yang meluapkan perasaannya.
"Kau tahu betapa tersiksanya aku Kim Jongi? Kau tahu?" Lanjut Kyungsoo.
"Kyungsoo..." Jongin kembali mendekati Kyungsoo dan Kyungsoo juga mulai melangkah mundur.
"Kau tidak tahu bagaimana penderitaanku Kim Jongin. Kau memperlakukanku layaknya binatang bahkan kau juga tidak menganggap Seulmi sebagai darah dagingmu sendiri dan sekarang dengan mudahnya kau memintaku untuk kembali kepadamu? Apa kau tak tahu malu?" Lanjut Kyungsoo dengan isakannya.
"Kyungsoo maafkan aku." Sesal Jongin yang juga diam-diam menangis.
"Pergilah dan hiduplah bahagia dengan pacarmu itu." Usir Kyungsoo.
"Kami sudah tidak berhubungan lagi." Jawab Jongin dengan menunduk.
Kyungsoo yang mendengar itu merasa terkejut dan setelahnya ia tersenyum miring meremehkan Jongin.
"Dan sekarang kau ingin kembali kepadaku? Benar-benar tak tahu malu kau Kim Jongin." Ucap Kyungsoo dengan sinisnya.
Dan dengan kasarnya Kyungsoo melempar sepatu yang tadi pagi Jongin berikan, hingga mengenai wajah tampan Jongin. Jongin sendiri hanya diam menerima perlakuan Kyungsoo tersebut. Ia merasa pantas jika Kyungsoo memperlakukannya seperti itu. Bahkan apa yang Kyungsoo lakukan sekarang tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah ia perbuat pada Kyungsoo.
"Pergi! Jangan kembali lagi!" Kata Kyungsoo mulai berjalan menjauh dari sana meninggalkan Jongin.
"Kau benar Kyungsoo aku memang tidak tahu malu. Dan aku benar-benar merasa bodoh karena terlambat mencintaimu." Teriak Jongin agar Kyungsoo mendengarnya.
Kyungsoo sendiri terus berjalan tanpa tongkatnya yang entah kemana. Ia terus menangis menumpahkan kesdihannya dengan hujan yang mengguyur tubuhnya.
"Kim Jongin bodoh..." Ucap Kyungsoo dengan tangisannya.
Saat ini perasaan Kyungsoo campur aduk. Ia merasa sakit saat meminta Jongin untuk pergi tapi ia juga merasa kesal dengan pria itu.
"Aku Kim Jongin pria bodoh dan tak tahu malu ini sangat mencintaimu Do Kyungsoo." Teriak Jongin lagi.
"Tidak kau tidak boleh mencintai wanita buta sepertiku Kim Jongin." Lirih Kyungsoo dengan isakannya dan semakin menjauhi Jongin.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Ketemu lagi sama author nyebelin ini yang udah buat anak manusia pada nangis bombay wkwkwk. Ini udah di up ya jadi jangan minta panjang panjang soalnya hurufnya udah habis aku cemilin :v. Sekedar bocoran ini sampe chap 12 dan gak ada negosiasi apalagi squel soalnya Hee udah 4L alias lemah,letih,lelah,lesu. Oke sip udah gitu aja. Maaf jika typonya kebanyakan dan makasih buat semua yang udah dukung Hee.
See you next Chapter~
Salam cinta dari Hee :*
.
'Dongvil'
