Quitter (go left)
Present by Caca
Je pense toujours à la cruauté du monde ...
Sur le départ ...
A la mort ...
A propos de la destinée ...
Et les pense qu'il a conduit à craindre ...
Et malheureusement, il devient une véritable peur ...
Aku selalu berpikir tentang kekejaman dunia...
Tentang kepergian ...
Tentang kematian ...
Tentang takdir ...
Lalu pemikiran itu berujung pada ketakutan...
Dan sayangnya, ketakutan itu menjadi nyata...
Dimana setiap detik dari masa masa kelamnya dipenuhi oleh aturan-aturan dari fraksi para borjuis berkantong tebal dan hidupnya yang menggembel dan menggelandang disesaki oleh napas bau para pedagang gelap. Usianya baru dua belas tahun ketika kakinya mulai menapaki dunia yang bahkan terasa awam bagi orang-orang dewasa. Bergerak dan menggeliat bersama malam demi bulir bulir beras dan sejumput sayur yang mengenyangkan.
Pagi ini dia kembali melangkahkan kakinya yang kurus berbalut celana pendek kusam yang terlihat amat berumur, ia akan kembali keperadaban nyata dimana dia dihina dan tidak punya harga sebagai manusia. Ia melangkah lelah melewati gang-gang kumuh dimana banyak gelandangan berbaring lemah dan pemabuk juga wanita-wanita seharga sebotol beer berjalan sempoyongan dengan tawa tak beraturan juga wajah kuyu mereka. Ia menghela napas sesaat setelah melewati seorang pria yang muntah karena mabuk berat. Gang kumuhnya yang tercinta, semakin bau oleh aroma muntah juga percintaan para sampah masyarakat. Belokan pertama lalu kedua lalu ketiga dan seterusnya hingga sampailah ia pada sebuah rumah reyot yang miring bangunannya.
Lalu dibukanya pintu kecoklatan itu,...
"Aku pulang"
Dan hening menyahutinya dengan embusan angin.
Tidak pulang lagi, eoh?
Dan tangannya yang sama kurusnya dengan kaki pucatnya itu digunakan untuk mendorong kembali pintu demi pintu untuk mencari keberadaan manusia lain yang telah sekian hari tidak ia temui.
"Hyung...Makeu-hyung?"panggilnya. suaranya yang sudah parau akibat terlalu banyak menghirup rokok para borjuis dipasar gelap. Sekali lagi tubuhnya ia bawa menyusuri bangunan dua lantai yang miring itu, sekalipun dilingkungan yang buruk, rumah itu terlihat bersih dan wangi. Memanglah pemuda kurus yang kini bergerak kesana kemari dengan agak lunglai itu bukanlah orang yang akan punya banyak waktu membersihkan rumah, tapi partner atau apanya yang baik hati selalu melakukannya, lagi pun dia benci kotor.
"Hyung? Kau kemana?"tanyanya pada angin .
Kau tidak kesana lagi, bukan?
Caca's Present
Pagi yang lain datang dan berderik perlahan bersama angin musim gugur yang bertiup membekukan. Sebentar lagi salju akan turun, dalam hitungan hari. Pemuda kurus yang sama dengan yang sebelumnya mendekati sebuah kedai kopi mungil beraroma americano berwarna coklat dengan gaya klasik juga kue-kue manis yang menyenangkan lidah. Ia tak takut diusir darisana, pemiliknya sudah paham dengan setiap tingkah laku si kurus. Ia akan masuk, menanyakan pria berambut madu bernama Mark yang duduk dipojokkan sambil membaca atau sesekali menulis. Alis melengkung dan selalu memakai earphone. Dan seperti biasa, si pemilik, Lee Jeno menyambutnya, menawari teh—karena si kurus tidak suka kopi—dan kue kue buatan tangan terampilnya juga mengobrol. Si kurus tersenyum, biasanya dia menolak, tapi kelelahan batin memaksanya untuk takluk pada tawaran pemuda tampan bermata sabit dihadapannya, lagipula, pakaian yang ia kenakan sedang layak. Kaos biru laut dibalut jamper abu juga jeans hitam dan sneakers putih. Pakaian mahal, hasil upah yang dulu dulu ia tabung ia kurangi sedikit untuk ini. Supaya nanti bila ia menemukan Mark, ia tidak akan membuatnya kurus ini tak mau ditinggalkan karena malu.
"Tumben sekali mau mampir,"Jeno membuka pembicaraan, meletakkan teh hijau melati dan sebuah kue greentea yang dicelup gula.
Senyum. Hanya senyuman manis dari pemuda berkulit madu dengan mata doe yang menyipit hingga menjadi garis.
"Sudah tiga bulan kau mencarinya, setiap hari, apa kau tidak mau lapor polisi saja?"Jeno menyeruput kopinya. Kopi yang penuh susu dan frape berwarna putih.
"Aku akan baik-baik saja, kami akan baik-baik saja"
"Jika kau butuh sesuatu, aku akan ada disana untuk membantumu. Jadi katakan saja"
"Akan kukatakan saat sudah waktunya"
Voulez-vous me entendre maintenant?
Apakah kau akan mendengarku sekarang?
Si kurus madu melewati salju pertama di malam natal tahun ini sendirian, sembari menata susu dan kue jahe juga sekotak pizza dan fast food lain kesukaan Mark. Hari ini hening seperti biasa, sedari dulu memang hening. Iris karamelnya menelisik kotak kado yang hanya ada dua. Satu untuknya dan satu yang lain untuk Mark. Tapi seperti yang diduga, Mark tidak pulang. Seperti Santa yang tidak datang sekalipun ia telah meletakkan kue jahe nikmat dan segelas susu didekat perapian. Santa berbohong dalam diam, ia mungkin bukan anak baik, tapi Santa tidak harus menghakiminya seperti ini. Ia memang hanya seharga budak di ruang kerjanya yang sempit, dalam lingkup pekerjaan yang hina, sekalipun pundi-pundi yang terkumpul tidak bisa disepelekan, ia tidak akan diterima ditempat yang lebih baik dari tempatnya berdiri sekarang. Pemukiman kumuh dan rumah reyotnya yang miring namun terawat.
Si doe karamel ini menjadi gontai dalam hari harinya. Sunyi senyap pun sedu sedan datang silih berganti, lalu musim semi datang. Tiba tiba saja kicauan burung memekik merdu dipelataran taman yang jauh dari rumah kumuhnya. Bunga bunga mekar dan sakura mulai berhamburan dengan kelopak merah jambunya.
"Sekarang kau pergi kemana?"hati kecilnya mengiris sembilu yang lain diantara ketakutan dan kebingungan yang rumit.
"Apakah kau akan mendengarku sekarang?"
Caca's Present
Si manis yang kini telah diketahui namanya ini bergerak menuju ruang kerjanya yang sempit yang bau amis.
"Kenapa kalian tidak jujur saja padaku dan jangan buat aku lebih bertanya tanya. Aku takut tidak bisa menahan diri lebih lama"suara keputusasaan dan kelelahan yang mendalam menggetarkan hati orang orang berbaju kelam yang kini menunduk takut takut.
"Kau harusnya tidak bertanya pada mereka"lalu sebuah suara lain menyahut. Si madu diam dengan wajah datarnya.
"Dia tidak berada dimanapun, semua tempat dikolong langit ini kukenali bahkan sampai kedalam buminya. Orang orang bergerak atas perintahku dan aku tidak dapat menemukan satu orang?!"
"Dia berada dalam kebijakan yang diatas, kebijakan pimpinan tidak bisa diganggu gugat. Haechan-ah!"
Si manis yang namanya ternyata Haechan itu mendesis. Ia sudah lelah melewati bulan-bulan depresi yang penuh kedukaan. Mencari kesana kemari dengan sia-sia dan perasaan rindu tak berujung.
"Akan kutanyakan pada pimpinan"
"Untuk yang ke berapa ribu kalinya?"
"Untuk yang terakhir kalinya"
J'ai essayé de nier le destin
aku berusaha mengingkari takdir
Haechan menepi pada sebuah ruang paling mewah dikantor pasar gelap yang jam bukanya menyesuaikan iklim kepolisian. Ia menatap ruangan itu sesaat menunggu budak kekar penjaga pintu kembali dan membawa ijin dari tuannya.
"Anda diijinkan masuk"
Dan koridor kelam pun sunyi itu kosong. Haechan, 18 tahun, menemui pimpinan.
"Apa ini perihal kekasihmu lagi?"
"Untuk yang terakhir kalinya"
Pria diujung ruangan remang itu membalik kursi kantornya, suka tidak suka wajah Haechan harus menatap lurus tampang sinis tuannya.
"Aku tidak ingin menahannya lama-lama, tidak berfaedah. Tapi mengatakannya pun tetap tidak akan berguna"
"Ini akan jadi terakhir kalinya saya bertanya, terima kasih untuk waktunya"
"Haechan-ah. Aku yang memberimu nama, uang dan bahkan kesempatan untuk bertemu dengan pacar atau apamu itu. Memberimu informasi tanpa harga ini hanya akan membuang waktu"
"Ini berharga bagi saya"
Keheningan menyergap sesaat. Pria separuh baya dihadapan Haechan benar-benar unik. Suara lembut dan mata sinis yang berlawanan. Kesannya yang kebapakkan namun dilingkupi aura kelam pun tidak nampak serasi.
"Dia sudah selesai, tidak perlu berusaha lagi"helaan tipis napas diatas kumis tebal tipis dan keriput dagunya.
"Kau tidak perlu membimbingnya mendengar, tidak perlu membimbingnya membeda warna atau memilih buku. Dia sudah bersama Yang Kuasa"
"Kau ingin marah, aku tidak keberatan"
Lalu tangis pun pecah. Haechan menumpahkan kekesalannya pada aturan pimpinan dan kehidupan pun takdirnya yang malang. Kepalanya terasa pening dan kemarahannya diubun ubun. Bibir plum nya ia gigit putus asa. Semua ini adalah kesalahannya, tidak seharusnya ia menemukan Mark, membawanya pulang atau apapun. Mungkin jika demikian, Mark masih akan hidup. Memikul dunianya sendiri dan bukannya ikut campur-ah! terseret dalam dunia gelapnya.
"Dia mungkin bisu! Dia mungkin tuli! Dia bahkan buta warna dan tidak paham abjad! Tapi tidak seharusnya Anda memerlakukan dia seperti ini! Kehidupannya yang gagal adalah kesalahan saya! Hidup adalah haknya dan Anda tidak punya hak menyalahinya seperti ini! Dia tidak mengerti apapun selain abu-abu yang banyak! Dia menutup telinganya dengan earphone agar orang orang tak mengajaknya bicara, agar ia tak perlu malu karena bisu. Ia tak bersosialisasi agar tak perlu bingung ditanya warna. Dia tidak punya kesalahan dan Anda menghancurkannya!"
"Aku tahu kau akan marah, aku juga tahu kau sudah menebak perihal ini. Tapi reaksimu tadi sungguh tidak kuduga. Kau menyalahkan dirimu karena takdir yang menimpanya. Aku tidak mengerti, apakah ini yang orang sebut sebagai cinta. Menjustifikasi diri sendiri, meninggikan diri orang lain dan membatasi kehidupan masing-masing. Aku melihat orang jatuh cinta, tapi tidak pernah sepertimu. Cinta adalah perihal materi dan sedikit cipratan dollar semuanya akan baik. Namun definisimu berbeda, kau meninggalkan darahmu yang mengental disini. Meninggalkan duniamu yang telak menjadi sokongan finansialmu. Kau meninggalkan apa yang orang lain kejar dan melewati batas dirimu. Marah itu wajar, tapi buatmu, kutetapkan membentakku itu kelewatan. Dan hari ini kau melakukannya"
Hening, kata-kata panjang dan rentetan ketakutan juga kebingungan menyergap udara. Diam diam memeras oksigen hingga meremanglah bulu-bulu kuduknya.
"Ini abunya"
Haechan diam dan menghindar dari sebuah guci berisi abu pembakaran dari kremasi yang dilakukan. Terlalu banyak yang tak dapat Haechan terima. Terlalu mengejutkan dan sangat menyakitkan. Napasnya seolah habis dan tenggorokkannya tercekat. Bosnya tidak pernah berbohong barang sekalipun padanya, dan hal itu membuatnya makin tidak bisa menerima deritan takdirnya yang mendecit bak tikus dikolong kolong.
Mark telah tiada...
caca's present
quitter
has been complete
13:21
8-4-17
