LUNA
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
ABO dynamics
Minyoon
.
.
.
"Lebih baik kita kembali," ujar Hoseok. "Yoongi, dan kau, hei, Jungkook." dia mendecak sembari menggelengkan kepala ketika menatap Jungkook.
Alpha muda itu segera bangun, memandang perubahan Yoongi dari wujudnya yang berupa serigala putih, kembali jadi manusia utuh. Ketika menengadah, dia pikir bulu Yoongi dan salju itu sama. Tangannya terbuka untuk menyambut butiran-butiran yang meleleh di atas telapaknya.
Seharusnya salju turun di akhir tahun, di musim dingin. Tapi kewenangan penyelenggaralah yang membuat musim bisa berganti dengan cepat. Apa yang ada di hadapan mereka pun tak seluruhnya asli, beberapa diseting dan disesuaikan. Mungkin saja, dalam sekejap, setelah salju itu habis, hutan lebat yang lembab itu bisa berubah jadi gurun tandus.
Walau memang indah, sedikitnya Jungkook merasa terancam. Ah, dalam keadaan seperti itu memang banyak hal yang bisa jadi pikiran.
"Ayo."
Hoseok berjalan lebih dulu. Kemudian disusul Yoongi, tapi Jungkook masih tak bergeming. Dia hanya menatap punggung sempit Yoongi dari belakang.
"Kenapa? Ayo kembali." omega itu berbalik hanya untuk mengulurkan tangan.
Jungkook tentu ingat seberapa hangat pelukan Yoongi. Seberapa nyamannya dia direngkuh oleh seekor serigala berbulu putih yang mencoba membantunya lepas dari kesusahan itu. Jungkook menatap lamat tangan Yoongi yang masih terulur. Rasanya, dia harus menyambut.
"Iya."
Pada akhirnya mereka bergandengan tangan. Jari-jari yang mengamitnya itu terasa sama hangatnya seperti ketika Yoongi berwujud serigala. Tangan kurus yang hangat. Jungkook merasakan sesuatu berdesir di dadanya.
Tanpa mereka tahu, Hoseok memerhatikan. Sedikit banyak beta itu merasa lega mengetahui kalau Yoongi bisa meraih Jungkook. Dia pikir apa yang mungkin telah terjadi atau dibicarakan selama mereka berdua saja itu telah merubah Jungkook, atau Yoongi sendiri. Sebab, Yoongi yang tadinya penakut dan pendiam itu sekarang justru nampak lebih berani. Bahkan gandengan tangan itu, mengabaikan perbedaan statusnya dengan Jungkook. Alpha dan omega. Tidak, Hoseok pikir Yoongi memandang Jungkook sebagai bagian dari kelompok, bukan sebagai seorang alpha.
Mungkin bagi orang lain itu tak bernial spesial, tapi bagi Hoseok, dianggap sebagai anggota sebuah kelompok adalah suatu hal yang besar. Karena dengan itu, ada andil, hak dan tanggung jawab yang dipikul tak hanya sendiri, tapi juga oleh kawan lainnya.
Sebelum masuk karantina, dia hidup dalam satu pack utuh yang solid. Walau hanya seorang beta—dan ayah ibunya pun sama—tapi dia dihargai dalam pack itu. Belum pernah ada suatu kesulitan besar yang dia hadapi semasa hidupnya. Hanya saja dalam area, dia berjumpa dengan banyak masalah ketika dia masih sendirian. Di antaranya mereka yang tak menghargai orang lain—jangankan menghargai, peduli pun tidak. Banyak partisipan yang mati dalam pertarungan di awal karantina. Itu mereka yang sendirian dan tak cukup kuat untuk bertahan. Sedang dirinya pun hampir mati suatu kali. Tapi Namjoon menyelamatkannya. Karantina seperti sebuah babak baru dalam kehidupannya yang mulus. Ada lika-liku jalan yang harus dia hadapi, dia tahu itu. Sadar diri, mungkin dia tak akan selamanya jadi Hoseok yang sekarang.
Di lain tempat, perapian diinjak-injak agar tak meninggalkan jejak. Namjoon menendang-nendang tanah yang bercampur abu dan arang. Seokjin duduk di dekat Jimin dan Taehyung. Daun-daun dari pohon lebat yang menaungi mereka membuat salju tak banyak turun, tersangkut di puncak. Tapi tetap saja dingin mulai menusuk. Mereka harus pindah.
"Ah, mereka sudah kembali."
Suara Namjoon membuat Seokjin menoleh. Hoseok datang dengan Yoongi dan Jungkook di belakangnya. Sedikit dia mendengus ketika melihat anak itu. Tapi begitu sadar Jungkook berdri sangat rapat di belakang Yoongi ada heran yang dia rasa.
Tapi meski heran dia mencoba mengabaikan itu, dan lebih peduli pada dua orang sakit yang masih harus diurus. "Kita harus mencari tempat berlindung dari hujan salju. Belum lebat tapi aku yakin nantinya akan sulit jika kita terus berada di tempat terbuka seperti ini." Seokjin sedikit menyeret tubuh Taehyung agar alpha itu bisa disandarkannya pada pohon besar yang dia rasa dapat lebih melindungi mereka dari salju. "Hoseok, Namjoon, kalian bisa, kan?"
Hoseok membantu Seokjin dengan menggendong Taehyung di punggungnya, kemudian Namjoon melakukan hal yang sama pada Jimin meski dia sedikit menggerutu. Mereka tahu apa yang Seokjin maksud. Butuh tempat berlindung, berarti mereka harus mencari goa atau lubang yang cukup luas untuk ditempati tujuh orang. Biasanya dibalik tanah yang sedikit berbukit ada lubang. Atau di dekat sungai. Atau juga di bawah ceruk yang melandai. Namjoon tak perlu banyak berpikir untuk melakukan ini. Mencari tempat adalah perkara mudah baginya. Sementara Hoseok seperti biasa, hanya mengikuti. Asal Namjoon tidak berbuat macam-macam dia mau pergi kemana saja dengan alpha itu.
"Aku akan memanggilmu kalau kami sudah menemukan tempat. Dan kau bisa jaga diri, kan?" itu pertanyaan terakhir Namjoon sebelum dia merubah dirinya menjadi seekor serigala.
"Bisa." jawab Seokjin mantap. Walau dua alpha dalam kelompok itu tengah pingsan dan tak bisa dia andalkan, dia merasa bisa melindungi dirinya sendiri. Lagipula masih ada satu alpha lain, meski kepercayaannya pada Jungkook sedang diuji karena masalah itu.
"Kalau begitu kami pergi. Kami usahakan tak akan lama." Hoseok pun merubah dirinya menjadi serigala. Warna oranye-kemerahannya nampak meski gelap. Jauh berbeda dengan bulu Namjoon yang lebih banyak punya warna hitam sehingga alpha itu dengan mudahnya ditelan gelap hutan di malam hari.
Titik-titik putih itu masih jatuh dengan lamban, tapi lama-lama akan menumpuk dan menutupi tanah. Musim dingin cukup buruk bagi para werewolf. Jika tak punya sarang, mereka tak bisa bertahan. Mereka butuh tempat untuk menghangatkan diri. Dalam wujud manusia, mereka mungkin bisa menyalakan api unggun ketika hari tak berhujan salju. Tapi ketika hujan itu turun, mereka tak bisa apa-apa. Mereka akan kedinginan. Sedang dalam wujud serigala, mereka bisa menghangatkan diri dengan bulu-bulunya sendiri. Dan lubang tempat berlindung itu dapat menguntungkan baik ketika mereka berwujud manusia ataupun serigala.
"Yoongi, kau jaga mereka ya?" Seokjin berjalan menuruni akar besar yang menyembul dari tanah. Pijakan terakhirnya membuat bunyi krak patahan ranting. "Jungkook, kurasa kita harus bicara—"
"Maafkan aku."
Perkataannya itu disela. Seokjin menelengkan kepalanya ketika Jungkook mengucap maaf yang tak terduga.
"Maafkan aku..." ucapan itu diulang oleh Jungkook, kini dengan kepala tertunduk dalam. Dia masih berdiri di belakang Yoongi dan masih meremat tangannya, lebih erat, seperti mencari keberanian lewat jemari kurus itu. Yoongi sendiri hanya melirik lewat ekor matanya ketika merasakan rematan tangan Jungkook.
Seokjin mendengus. "Baiklah, kuterima maafmu. Tapi kau tetap harus menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
Yoongi menoleh ke belakang dan dia mendapati Jungkook mengulum bibir dan mengangguk perlahan. Alpha itu akan mengatakan semuanya, dia yakin.
.
.
.
LUNA
.
.
.
Mereka telah menemukan tempat untuk berlindung. Sehari semalam mereka menghabiskan waktu di dalam lubang itu untuk mengindari salju yang mulai lebat. Menjelang pagi, Taehyung sadar.
"Taehyung." bisik Yoongi terdengar jelas di telinganya. Dia melirik pada omega yang tengah duduk memangku seseorang yang bergelung bersandar kepala di pahanya. Dibantu cahaya yang minim dia melihat warna cokelat dari rambut ikal itu. Ah, Jungkook. Tapi kenapa...
Dia bangun, melirik ke kiri dan mendapati Jimin berbaring di sampingnya.
"Yang lain masih tidur..." Yoongi berbisik lagi. Ketika memandang isian goa itu, Taehyung memang melihat semua tengah lelap dalam tidurnya.
"Yoongi, kenapa...?" tatapan Taehyung terarah pada Jungkook.
Yoongi tahu. pastilah alpha itu merasa aneh dengan pemandangan yang dilihatnya. Tanpa menghentikan belaiannya pada rambut cokelat itu, Yoongi menjawab. "Dia sudah berjaga semalaman, tapi ketiduran dan kupikir aku yang harus menggantikannya."
Ada sirat sayang ketika Yoongi menatap alpha muda itu. Memandang Yoongi memperlakukan Jungkook dengan lembut, dia merasakan sesuatu; bukan cemburu, entah apa namanya, dia sendiri pun tak paham. Tapi jari-jari yang menyisir rambut itu jelas adalah gestur pemberi kasih. Taehyung mulai berpikir kalau Yoongi mungkin serupa dengan dirinya, yang ingin mengabaikan segala perangai buruk Jungkook dan mencoba untuk menerima alpha itu apa adanya.
"Apa kau merasa lapar atau haus?"
Pertanyaan itu bukti kalau Yoongi juga peduli padanya.
Kemudian pagi berganti siang, matahari mulai naik ke langit, tapi tertutupi awan kelabu. Seperti musim dingin asli, langit dibuat mendung. Hujan salju tak selebat semalam, seperti sisa yang harus dihabiskan tapi tak dalam waktu singkat. Seperti sesuatu yang harus mengisi waktu, terus turun konstan dengan lambat.
Mereka butuh makanan. Jadilah para alpha pergi berburu. Hoseok ikut karena dia tak betah kalau hanya diam dalam goa dan menunggu hasil perburuan. Sedang Seokjin, Yoongi dan Jungkook tinggal untuk menjaga Jimin. Meski sebetulnya Seokjin ingin ikut berburu juga, tapi dia merasa tak bisa melepas tanggungjawabnya untuk menunggui satu orang sakit yang belum sadar itu. Dia tinggal agar tak sulit kalau-kalau terjadi sesuatu.
Yang berburu sudah pergi lama. Seokjin mulai bosan menunggu. Yoongi dan Jungkook dibiarkannya pergi ke luar sementara dia berjaga untuk Jimin.
.
.
.
"Ayah, kenapa banyak orang sakit di luar sana?"
"Ini seperti seleksi alam, Jimin-ah. Dunia semakin kejam dan yang lemah akan mati. Jika banyak orang sakit yang semakin sakit, maka merekalah yang tak mampu bertahan."
"Apakah para ilmuwan itu tidak mencari solusi?"
"Mereka tak bisa menghentikan alam, hanya bisa membuat yang hidup jadi lebih kuat..."
Sekelebat bayangan ayahnya tergambar samar, hanya siluet, tapi debur ombak dan hangat udara pantai itu dia kenali. Lama-lama bayangan itu menghilang seiring telinganya mendengar bunyi krauk-krauk renyah. Lalu otaknya mulai berpikir bahwa mungkin ada yang sedang memakan sesuatu di dekatnya. Apa itu? Apa? Jimin mencoba menelaah bunyi itu. Seperti daging buah apel yang digerus gigi tajam. Semakin lama bunyi itu semakin mengganggu, dia pun membuka matanya dalam satu hitungan.
"Astaga, kau sudah sadar?"
Yang menyambutnya pertama kali adalah suara Seokjin yang sedikit tak jelas. Matanya melirik ke samping di mana Seokjin tengah duduk bersila dengan santai, sebuah apel yang tinggal separuh ada di tangannya. Pipinya menggembung menyimpan potongan yang belum beres dia kunyah. Oh, rupanya bunyi renyah itu berasal dari sana.
"Berapa lama aku tidur?" itu pertanyaan yang paling ingin dia utarakan, belum semenit sejak dia bangun. Matanya menyisir dan merasa asing dengan dinding batu kecokelatan yang melingkupinya. Dia pasti dipindah ke suatu tempat ketika dia tak sadarkan diri.
"Dua hari," jawab Seokjin singkat. Dia mengunyah apelnya lagi. "Kau mau makan apel? Aku memetik banyak. Selagi pohon apelnya belum mati karena dingin."
Jimin bangun dan duduk, lantas memegangi kepalanya yang sedikit pening. Mungkin karena terlalu lama tidur. Tapi dia tak paham dengan kalimat Seokjin. "Apa maksudmu?"
"Musim telah berganti. Sekarang banyak salju di mana-mana."
Jawaban itu membuatnya sadar kalau ia tak bisa mencium banyak bau. Suhu di dalam goa itu memang tak terlalu dingin, tapi bau pohon, bau tanah, dan bau lainnya tak mudah tercium. Semua yang tertutupi salju akan jadi samar juga baunya. Ah, sial memang. Melewatkan dua hari dengan pingsan sungguh membuatnya tak tahu apa-apa.
Jimin meringis. Kesal juga pada dirinya sendiri. Dia tak tahu kalau Taehyung sempat pingsan sama seperti dirinya. Tapi alpha pirang itu bangun lebih dulu, lebih cepat setengah hari dan sekarang hanya Jimin seorang yang tertinggal. Rasanya ada banyak hal yang jadi semrawut dalam kepalanya tapi dia tak bisa runutkan satu-satu.
"Hei, apakah tidak ada pertanyaan yang mengusikmu setelah kau bangun?" Seokjin memancing. Jimin tahu apa maksudnya.
"Siapa yang sudah mengerjaiku?"
Ada tawa. Seokjin senang karena Jimin benar-benar mengerti. Mereka adalah dua orang yang memiliki satu kesamaan dalam berpikir, jadi mudah untuk saling memahami. "Bocah yang mengekorimu kemana-mana. Tapi dia juga—"
Jimin mengerutkan dahi. "Lalu sekarang di mana dia?" tanyanya dengan dingin. "Di mana bocah itu?"
"Hei Jimin!" Seokjin melempar apelnya dan menarik lengan baju Jimin ketika alpha itu tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan hendak berjalan pergi. Tapi Jimin seolah tak peduli hingga Seokjin harus menyeret langkahnya untuk membuat alpha itu berhenti. "Jimin!"
Tanpa menoleh Jimin bertanya lagi, dengan nada yang lebih dingin dari yang tadi."Di mana dia dan yang lain?"
"Dia sedang bersama Yoongi dan yang lain pergi berburu..."
"Bersama Yoongi? Apa yang dia lakukan bersama Yoongi?" nadanya naik seperti tak suka.
Seokjin menarik tangan alpha itu supaya dia berhenti. Tapi alih-alih tergugu, Jimin malah menghempaskan tangan Seokjin begitu saja. Alpha itu mungkin marah setelah tahu siapa orang yang sudah membuatnya keracunan. Seokjin sudah mengira ini akan terjadi.
"Kau tak harus mencarinya, aku ingin menjelaskan sesuatu padamu! Berhenti dan dengarkan aku!" dia berteriak, napasnya memutih di udara. Tapi Jimin tak mendengar, langsung saja dia menanjaki bibir goa untuk keluar dari sana.
Tak jauh dari lubang itu, di tanah lapang yang tak terhalang banyak pohon, Yoongi dan Jungkook hanya sedang bermain-main. Menunggu mereka yang pergi berburu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan, sehingga Yoongi membawa keluar Jungkook yang terus murung. Alpha muda yang sedang menggunakan wujud serigalanya itu menikmati belaian tangan Yoongi yang dirasanya sangat nyaman. Dia duduk menekuk dua kaki belakangnya dan membiarkan omega itu menggesek-gesekkan dahi, meremat-remat bulu kecokelatannya, dan sesekali melepas tawa ringan. Mereka mengabaikan udara yang jadi lebih dingin sejak salju pertama turun dua hari lalu. Paling-paling hanya peduli ketika titik-tiik yang jatuh malas itu menumpuk di rambut atau di bahu mereka.
"Kau punya bau kayu yang unik. Seperti pohon... apa ya namanya? Aku tak pernah mendengar ayahku ketika dia berbicara panjang lebar soal kayu-kayu." gurau Yoongi. Dia menekan telinga Jungkook hingga daunnya terlipat ke belakang. Lucu. Jungkook menurut saja.
Samar ada bau yang datang, mereka sama-sama menoleh dan mendapati Jimin berjalan mendekat menembus angin dingin.
"Jimin?" seru Yoongi. Jungkook berlari kecil pada alpha itu, tanpa berhenti dia berubah, lantas larinya jadi lebih cepat, seperti amat senang melihat Jimin datang padanya.
"Jimin-hyu—!"
Buagh! Sekonyong-konyong Jimin meninju pipi Jungkook begitu kerasnya hingga alpha muda itu jatuh di atas tanah bersalju. Matanya menyorotkan amarah yang kentara.
"Ukhh..." Jungkook meringkuk, Dia menumpu tangan untuk mencoba berdiri kemudian. Melihat itu Jimin hendak memukulnya lagi.
"Tunggu! Hentikan!"
Bugh! Yoongi maju untuk menghentikannya. Sayang pukulan itu tak terhindarkan sehingga pelipisnya pun kena. Jimin terkejut, jelas. Matanya melebar melihat Yoongi menundukkan kepala setelah terkena bogem mentahnya. Alpha itu mematung, Jungkook pun sama. Sedang Yoongi perlahan mengangkat wajah, tapi matanya terhalang anak-anak rambutnya yang jatuh ke depan. Kakinya melangkah membentuk jejak, tangannya terayun tepat pada pipi Jimin.
Plakk! Yoongi menamparnya.
Sekali lagi Jimin hanya bisa terdiam. Masih terasa perih bekas layangan tangan kurus itu. Sedikit-sedikit mata abunya melirik, Yoongi berdiri di hadapannya dengan wajah yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
"Sudah, cukup." suaranya bercampur dengan deru angin dingin. Lebih seperti bisikan kasar yang dalam.
Jimin mencoba mencari sesuatu dalam mata yang memicing padanya itu. "Jangan katakan padaku kalau kau membelanya."
"Aku memang membelanya." jawab Yoongi tegas. Omega itu menatap lurus pada mata abu Jimin tanpa keraguan. Jungkook di belakangnya, dia berdiri untuk melindungi alpha muda itu.
"Hyung, maafkan aku... aku tak berniat untuk meracunimu..." ucap Jungkook lirih. Wajah polos itu penuh sesal dan harusnya Jimin bisa melihatnya dengan jelas, tapi dia masih saja ragu dengan permintaan maaf itu.
"Kau dengar? Dia sudah minta maaf padamu. Kupikir dengan itu masalah ini selesai."
Jimin beralih dari Jungkook pada Yoongi. Dia menatap omega itu penuh tanda tanya. Apa yang Yoongi inginkan?
"Kau sendiri yang bilang padaku kalau karantina masih panjang. Seharusnya kau tahu kalau masalah ini tidak bisa diperpanjang juga hanya karena pertengkaran kalian. Lagipula Jungkook sudah mengakui semuanya pada kami selama kau masih pingsan. Apa Seokjin sudah mengatakannya padamu?"
Jimin teringat pada omega berambut merah muda yang mencegahnya pergi itu. Dia dengar kalau terakhir kali Seokjin sempat bicara sesuatu, tapi entah apa karena tak dia dengarkan.
Yoongi mendecak, tertawa meringis. "Kukira kau cukup dewasa, Jimin." lantas dia membalik badan dan membantu Jungkook untuk berdiri.
Tentu Jimin merasa aneh dengan interaksi itu. Jungkook tadinya tidak akrab dengan siapapun, apalagi dengan Yoongi. Tapi melihat mereka yang seperti itu, Jimin jadi bertanya-tanya dalam hati, apa saja yang sudah terjadi selama dia tak sadar? Kenapa mereka bisa dekat seperti itu?
Jemari Yoongi bergerak membersihkan butir-butir salju yang menempel di helai-helai rambut Jungkook. Pipi alpha muda itu dia sentuh dengan khawatir. Bekas tinjuan Jimin yang meninggalkan luka di sudut bibirnya.
Jimin mendekat dengan tergesa. Tangannya meraih lengan Yoongi dan memaksanya berbalik dengan satu sentakan. Lalu dia bicara dengan nadanya yang tegas dan menuntut. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kau melarang aku bertanya pada Jungkook, maka aku akan bertanya padamu."
"Aku hanya tak ingin mengulang-ulang penjelasan yang sama. Makanya kutanya apa Seokjin tak mengatakan sesuatu?" nada Yoongi mulai naik tak suka. Lengannya masih dicengkram Jimin.
Ada jawaban tanpa gelengan kepala. "Tidak."
"Jimin, aku tahu kalaupun aku yang bicara kau tak akan berhenti bersikap seperti ini." Yoongi memicing.
"Kalau begitu cepat katakan supaya aku mengerti!"
Lengan itu dicengkram makin kuat. Yoongi sedikit meringis dan saat itu juga bentakannya bersambut dorongan di dada. Jimin otomatis mundur selangkah dan Jungkook berdiri di hadapannya, seolah sedang melindungi Yoongi. "Hyung! Tolong! Jangan bertengkar karena aku!"
Jimin terdiam. Sedang Yoongi membuang muka. Dua orang di depannya itu membuatnya sadar kalau dia telah bersikap kasar. Memukul Jungkook, tak sengaja juga melukai Yoongi, dan tadi, bentakan itu. Dia lihat sorot sedih di mata besar Jungkook. Alpha muda itu berdiri seakan menjauhkan Yoongi darinya. Seakan dirinya adalah sebuah ancaman. Tapi mungkin memang begitu. Jimin mulai merasa ada yang salah dari dirinya.
Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu. Dia sekilas menunduk, lalu ketika mengangkat wajahnya lagi dia masih dapati sorot yang sama. Bahkan, Yoongi tak mau menatapnya.
"Yang salah di sini adalah aku. Aku yang kekanakan ini berniat meracuni Taehyung tapi ternyata kau dan dia berbagi air yang sama. Aku serius ketika kubilang tak berniat meracunimu, karena memang begitu adanya. Jadi salahkan aku, marahlah padaku kalau memang kau marah. Jangan Yoongi, jangan... Aku tak ingin dia terluka..." tuturan itu melemah di akhir. Jungkook menunduk makin sedih. Yoongi terluka karenanya. Dia tak inginkan itu. "Maafkan aku... Maaf... Aku minta maaf..."
Hati Jimin mungkin sekeras batu. Tapi air yang melulu menetes di atas batu tetap bisa merubah bentuknya. Bukan kata-kata Jungkook yang membuat dia berpikir, tapi sosok Yoongi di sana. Betapa bodoh karena dia telah menjadikan Yoongi pelampiasan. Tak seharusnya begitu. Melukai Yoongi adalah satu kesalahan fatal. Ah, dia bingung harus apa.
"Hyung, maafkan aku..."
Jimin menutupi wajahnya dengan satu tangan, bergerak depresif mengelus dahi. "Oke. Aku sudah cukup puas dengan memukul wajahmu." dia mengangkat kepala dan bernapas berat hingga udara memutih banyak. "Sekarang kembalilah ke goa, Seokjin sendirian di sana. Aku butuh waktu untuk bicara dengan Yoongi."
Jungkook tak mengatakan apa-apa ketika dia menoleh ke belakang dan menatap Yoongi. Omega itu juga hanya diam. Jawabannya entah setuju entah tidak, tapi Jungkook merasa kalau dia memang harus membiarkan alpha dan omega itu bicara berdua.
"Baiklah, hyung. Aku akan kembali."
Dia pergi. Sedikit menoleh lagi dengan khawatir ketika Jimin menggandeng tangan Yoongi dan berjalan ke arah yang berlawanan. Tapi, bagaimanapun dia percaya kalau Jimin tidak akan sekasar tadi pada Yoongi nantinya. Semoga saja.
"Kau mau bicara apa lagi?" tanya Yoongi setelah dirinya dibawa Jimin cukup jauh dari tanah lapang itu ke dalam bibir hutan.
Jimin mengelus dahi. "Aku hanya ingin minta maaf padamu."
"Sudahlah." Yoongi seakan tak ingin peduli. Dia melangkahkan kaki meninggalkan rerumputan di bibir hutan, hendak kembali ke goa juga.
Hanya saja Jimin tak suka diabaikan. Maka dengan sekali tarik tangan dia membuat omega itu terhuyung, kemudian ditangkapnya langsung dalam pelukan dari belakang. "Yoongi." Jimin memanggil nama itu dengan lirih. Dia sandarkan dagunya di bahu Yoongi. Bau manis itu masih begitu jelas tercium meski dingin menyelimuti segalanya. "Aku hanya takut kalau kau akan membenciku karena ini..."
"Aku akan melupakannya, kau tenang saja." kata-kata itu terucap tapi Jimin tak merasa puas, seperti tak tulus keluar dari mulut Yoongi. Seperti hanya sebuah kalimat untuk melepaskan diri.
Kemudian lagi dia memanggil. "Yoongi."
"Apa lagi yang kau mau?" sungut omega itu sedikit iritasi. Kesal, mungkin.
Dia dilepaskan dari pelukan itu dan tubuhnya dibalik dengan sentuhan bahu. Tangan Jimin bertengger di kanan kirinya. Sedikit mendongak dia menatap alpha berambut perak itu. Ada sesal.
"Aku mau maafmu."
Yoongi tak menjawab. Tak ada sepatah katapun keluar ketika dia tenggelam dalam mata sewarna lumpur itu. Hanya ada napas berhembus dan dada yang naik turun.
Perlahan wajah itu mendekat, dan dia sedikit menunduk pasrah. "Jimin..."
Jimin mengecup pelipis bekas bogemnya itu dengan lembut. Lepas bibirnya mengecup mereka saling bersitatap lagi dalam diam. Mata abu Jimin dengan mata kelam Yoongi. Napas putih di udara melebur. Tapi dalam sekejap Yoongi berpaling.
"Jimin."
Jimin melirik lewat sudut matanya sehabis Yoongi berbisik pelan. Dengan hati-hati kepalanya bergerak. Ketika berbalik di antara pohon-pohon yang berdiri berjauhan, dia melihat seekor beruang yang ukurannya tiga kali lipat dari beruang biasa.
Grrrr! Terdengar geraman yang begitu dalam.
.
.
.
LUNA
.
.
.
CONTINUED
Ngedrama. Dasar, hahaha. Tapi serius deh, baca-bacain review dari kalian bikin saya seneng. Masih nggak nyangka aja gitu kalau responnya seru begitu. Terus banyak yang bilang saya fast update. Eheheh bukannya apa-apa, saya mah kalau lagi nge-hype bakal terus dikejar. Tapi yang jadi korban beberapa chaptered fanfic yang lain yang mandeg. Maafkan. Belum ada mood aja untuk ke sana. Soalnya terkadang saya hanya bisa fokus pada satu tujuan (ceilaah)
Tersugakan suruh saya bikin buku dari fanfic ini, hm... patut dipertimbangkan...
