Previous Chap :

"Aku pun yakin orang suci juga akan tergoda apabila melihat Sakura dengan pakaian renangnya yang basah. Terlebih lagi dia sedang pingsan."

"Lalu apa masalahnya denganku?"

"Ngga ada. Karena itu cepat serahkan Sakura kepadaku."

"Tsch, ngga akan." Nada Sasuke sedikit menjadi tinggi. Pandangannya menjadi sinis. "Diamlah dan minggir."

Sampai tiba-tiba saja terdengar dari sebuah langkah yang menginjak pasir, yang menandakan Ino dan Tenten baru saja sampai di belakangnya.

Mereka yang masih terengah itu sebenarnya berniat langsung menengok keadaan Sakura yang masih terbaring di lengan Sasuke, tapi ketika ia melihat Gaara, mereka terdiam.

"Sakura pingsan, ya? Sini, biar kami yang ngerawatnya..." Ino meminta ke Sasuke yang masih memunggunginya.

"Ya, Sasuke. Kalo kau ngga mau menyerahkan Sakura kepadaku, serahkan Sakura kepada Ino dan Tenten. Adil, kan—?"

"Ngga."

Selaan tiba-tiba yang dikeluarkan Sasuke membuat ketiga orang di sekitarnya itu terfokus lagi kepadanya. Jeda sebentar, dan kemudian Sasuke kembali berjalan. Kali ini melewati Gaara tanpa ragu.

"Aku sendiri yang akan merawatnya."

.

.

"Aku sendiri yang akan merawatnya."

Sesaat kalimat itu keluar dari bibir Uchiha Sasuke, ketiga orang yang ada di sekitarnya terdiam. Gaara sedikit mengernyit, sedangkan Ino dan Tenten menganga. Tanpa memedulikan mereka, pria berambut raven itu membawa Sakura yang berada di gendongannya ke villa—yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pantai.

"Terserahlah." Sepeninggal Sasuke, Gaara mengangkat kedua bahunya. Ia lanjut berjalan ke arah lain. Yang jelas, kini pria itu sudah tau kalau pria Uchiha itu 'peduli' kepada Sakura. Sambil menyeringai, Gaara mendengus. Kesimpulan dari perilaku Sasuke bisa dia jadikan bahan jebakannya di kemudian hari.

Namun, berbeda dari Gaara—yang sepertinya sudah tidak mau mengurusi Sasuke dan Sakura—Tenten terlihat masih tidak rela. Gadis bercepol dua itu langsung melangkahkan kedua kakinya yang berada di atas pasir, ia berniat mengejar Sasuke.

"Hei! Tunggu, Sasuke—!"

Grep!

Kalimat Tenten tertahan oleh Ino yang tiba-tiba saja menariknya.

"Ino, kenapa kamu menahanku!?" Tenten mencoba melepaskan diri. "Kamu ngga liat si Sasuke itu akan ngebawa Sakura ke villa?"

"Sstt, tenang! Aku sendiri juga tau kok!" Ino berdesis. "Coba kita biarkan Sasuke dan Sakura berduaan dulu..."

"Hah? Berduaan?" Ia tersentak. "Kamu gila atau apa, Ino? Saat ini Sakura lagi memakai baju renang yang tipis, basah dan transparan! Dan sekarang, kamu malah ngebiarin cowok kayak Sasuke—yang notabene suka dibikin kesel sama Sakura—untuk ngebawa dia ke kamar villa yang sepi!?"

Ino menghela nafasnya perlahan. "Aku tau. Tapi..."

"Tapi apa? Kamu mau Sasuke memperkosa Sakura—hmmph!?"

"DIAM DULU, TENTEN!" Ino menjerit sebal, lalu ia langsung menutup mulut Tenten dengan telapak tangannya. "Aku tau maksud dari semua kalimatku yang tadi. Dan sebenernya aku juga takut kalo si Sasuke ngelakuin hal yang ngga-ngga."

Sebelum Tenten melepaskan diri dari Ino, si pirang itu pun kembali bersuara.

"Tapi ngga ada salahnya juga kan kita ngasih mereka kesempatan untuk memperbaiki hubungan? Masalahnya, sekarang aku yakin banget kalo Sasuke udah mulai peduli sama Sakura." Jelasnya. "Siapa tau dia akan mengobati Sakura dengan baik-baik, iya ngga?"

Barulah ia melepaskan Tenten. Gadis berambut coklat itu mengeluh pelan. "Cuma aku masih takut kalau Sasuke ngapa-ngapain Sakura..."

"Nggaaa. Jangan mikir kayak gitu..." Ino tersenyum, lalu menepuki bahu sahabatnya. "Kali ini kita percayain dulu Sakura kita ke Sasuke."

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

TENTH. Lekas Sembuh

.

.

Di lain tempat, Sasuke Uchiha sedang berjalan kaki. Dengan menggendong tubuh Sakura yang ringan baginya, ia tinggal menempuh jarak 20 meter lagi agar dapat memasuki daerah villa—yang disewa untuk acara outing sekolahannya. Setelah pria berambut biru dongker itu sampai, dia perhatikan satu per satu nama-nama siswi yang terpajang di deretan pintu villa khusus perempuan.

Setelah mendapati kamar siswi untuk kelompok 8, Sasuke terlebih dulu membenarkan posisi Sakura yang masih pingsan—agar dapat tertopang dengan tangan kanannya saja—sehingga ia bisa memutar kenop pintu.

Cklek.

Sesaat kamar terbuka, pria yang saat ini cuma mengenakan celana tersebut langsung memasukinya dan menutup pintu. Di awal, kedua mata onyx-nya memandangi tiga ranjang single bed yang terjejer rapi di depannya. Sasuke pun merebahkan tubuh Sakura di salah satu kasur yang paling ujung—mendempet dinding.

Seketika permukaan seprai yang semula kering menjadi basah, tanda air di tubuh Sakura terserap oleh kainnya. Tapi ia mengabaikannya sebentar, karena ia harus menyelimuti gadis bermarga Haruno itu. Sesudahnya Sasuke pun segera terduduk di lantai. Dia menghela nafas panjang-panjang.

Sambil menyingkirkan helaian poni pendeknya dari dahi, ia melirik Sakura. Gadis itu tertidur dengan posisi menyamping. Meski kondisi tubuhnya yang saat ini terlihat tak nyaman—karena seluruh pakaiannya yang lembap—setidaknya Sakura bisa beristirahat.

Perlahan pria tinggi itu menundukkan kepala dan berniat mengusap wajahnya. Namun sesaat ia menyentuh permukaan hidungnya sendiri, dia merasakan ada sesuatu yang kurang. Dan sedetik berselang Sasuke baru menyadarinya.

Ia tidak mengenakan kacamata.

"Tsch..."

Kalau tidak salah, ia melepaskan benda tersebut sebelum menolong Sakura yang tenggelam. Jika benar begitu, kacamatanya pasti sudah hilang.

Setelah terdiam selama beberapa saat, Sasuke kembali membuka kedua matanya. Dia lihat lagi Sakura yang sedang terbaring—dengan arah wajah yang menghadap kepadanya.

Dilatarbelakangi oleh keheningan ini, ia amati terus permukaan wajah Sakura yang tidak terlalu jauh darinya. Saat ini, gadis itu tertidur. Kedua matanya terpejam, dan nafasnya teratur. Helaian pink milik Sakura yang masih basah terbiarkan menempel begitu saja di kening maupun leher putihnya.

Karena itu, Sasuke segera melihat dirinya sendiri. Tentu saja, ia juga masih basah. Sasuke pun berdiri dan mengingat bahwa dia telah membuat banyak becekan air di lantai keramik kamar Sakura dan Hinata—yang menetes darinya.

Sepertinya ia harus mencari handuk.

Sasuke pun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ketika melihat ada sebuah kamar mandi, Sasuke langsung ke sana dan mengambil dua handuk baru yang tergantung. Sasuke melingkarkan salah satu handuk ke lehernya. Menggunakan sisi kanan dari kain tebal itu, ia mengeringkan wajah, rambut dan juga dada polosnya yang masih ditempeli oleh butiran-butiran air laut.

Setelah ia sudah mengeringkan diri sendiri, dia lemparkan perhatiannya ke tubuh Sakura yang terdapat di permukaan kasur. Walau tidak terlalu kelihatan, Sasuke yakin bahwa gadis itu sedang kedinginan. Suhu rendah di sekitar villa kota Ame semakin memperburuk keadaannya yang basah kuyup.

Oleh sebab itu Sasuke pun duduk di pinggir ranjang. Dengan handuk lain yang masih belum terpakai, dia usap secara perlahan rambut Sakura.

"Uh..."

Mungkin cara Sasuke menggerakkan handuk sedikit mengganggu tidur Sakura. Tapi pria itu tetap tidak berhenti.

"Pusiing..."

Terkadang keluhan Sakura keluar dengan bisikan parau. Ia pun juga menggerakkan tangan tak bertenaganya, seperti saat ini. Seperti ingin menepis handuk yang sedang digosokkan Sasuke di kepalanya.

"Biar kau kering."

"Ngh... tapi terlalu kasar.."

"Iya."

"Pelan-pelan..." Masih dengan kedua mata yang terpejam, ia merengek.

Sasuke memalingkan wajahnya sebentar. Ternyata sekalipun staminanya habis, Sakura masih bisa menyebalkan.

Sesudah bermenit-menit ia habiskan untuk mengeringkan rambut pink Sakura, akhirnya Sasuke menghela lega. Ia segera berdiri dan membuka selimut Sakura. Terpampanglah tubuh seorang Sakura Haruno yang terbalut pakaian renang basah.

Sasuke terdiam. Seperti apa kata Gaara yang sebelumnya, wajar bagi seorang pria yang terpaku dengan pemandangan ini. Tapi Sasuke langsung berdecak, dan ia pun cepat-cepat melapisi handuk ke atas badan Sakura. Setelah ia menumpuknya ulang dengan selimut, Sasuke mundur selangkah dan melipat kedua tangannya di dada. Dirinya berpikir.

Sejujurnya, Sasuke mengakui kecantikan yang dimiliki oleh Sakura. Dia sempurna tanpa setitik pun kecacatan.

Namun sepertinya Sakura bisa menjadi lebih sempurna lagi apabila tidak berteriak-teriak ataupun bersikap menyebalkan. Setidaknya gadis itu berubah menjadi pribadi yang tenang... seperti saat ini; di saat ia terlelap.

"Nhh..."

Tiba-tiba saja Sakura melenguh. Ia menggerakkan kaki jenjangnya di balik selimut, dan selanjutnya ia mengubah posisinya menjadi terlentang.

Di sebelah ranjang, Sasuke diam di tempat. Entah kenapa, hanya karena mendapati 'gerakan' dan 'suara' Sakura, ia merasakan ada sesuatu yang terpancing di dalam dirinya. Lekaslah ia menyandarkan bahunya ke dinding. Kedua matanya dia buat terpejam rapat sampai keningnya mengerut.

Sasuke bertanya kepada dirinya sendiri; kenapa tubuhnya menegang hanya karena hal sepele yang dihasilkan oleh Sakura?

Karena tidak ingin memikirkannya terlalu lama, Sasuke menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya perlahan. Dia buka kembali matanya, lalu menolehkan ke sekitar. Ternyata ada sebuah kursi di bawah meja rias kamar. Ia tarik kursi tersebut, lalu meletakkannya di sebelah ranjang Sakura—untuk dirinya terduduk.

Di dalam situasi ini, kedua mata Sasuke memperhatikan Sakura. Lama. Menit demi menit terlewat begitu saja. Tanpa suara, dan tanpa omongan. Namun, tanpa dirinya sendiri sadari, sorotan mata pria itu sedikit melembut. Tanpa ia sadari, ada sesuatu yang menjalar di dalam hatinya. Dan itu... menghangatkan.

"Melihatmu yang seperti ini..."

Bersama gerakan lambat, ia mengulurkan tangan. Sasuke sentuhkan punggung jemarinya ke pipi gadis itu. Menyentuh kulitnya yang dingin, lalu menggerakkannya secara perlahan ke pelipis, mata, dan juga dahinya.

"Seolah-olah membuatku lupa pada sosok Sakura yang dulu kukenal."

Terakhir, Sasuke menyelipkan jari-jari tangan kanannya ke rambut merah muda milik Sakura. Ia menyisihkan beberapa helaian rambut—yang sempat menutupi wajah Sakura—ke belakang daun telinganya.

"Kau yang menyebalkan... ternyata bisa rapuh."

Di saat Sasuke sedikit mengangkat tangannya, melepaskan tangannya dari Sakura, pria itu merasakan segala keheningan yang ada di ruangan ini. Ia teliti lagi wajah Sakura—untuk yang kesekian kalinya. Kali ini ia menjelajahi permukaan pipi Sakura yang memerah.

Ketika ujung jarinya baru menyentuh bibir bagian bawah Sakura, tak lama, pria itu mengepalkan kelima jemarinya. Ia mendengus. Bagaikan tersadar dengan kelakuan dirinya sendiri, Sasuke berniat menarik kembali tangannya. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba saja tangan Sakura bergerak. Masih dengan kedua matanya yang tertutup, ia menahan tangan Sasuke.

Sasuke yang sedikit membatu pun hanya bisa merasakan satu tangannya digenggam oleh jari-jari ringkih milik Sakura.

"Sasuke..."

Sasuke terdiam sebentar. "Hn?"

Tak hanya itu, Sakura juga berusaha menggerakkan tubuh, ingin membangkitkan diri agar dapat terduduk. Kedua bola mata yang ada di balik pejaman Sakura bergerak pelan—menunjukkan ciri-ciri bahwa Sakura akan membuka mata. Mendapati reaksi tersebut Sasuke sempat terkesiap di tempat.

Sekalipun identitas wajahnya memang tidak terlalu penting, tidak tau kenapa ia sedikit tidak menginginkan Sakura melihat dirinya yang sedang tak memakai kacamata.

Namun, saat ini keberuntungan sedang memihak Sasuke. Dengan keluhan kecil yang terlepas dari bibirnya, Sakura kembali terbaring. Kedua matanya terpejam rapat, bahkan alisnya sampai mengernyit. Keningnya ia pegangi dengan tangan, menandakan ada sesuatu yang nyeri di kepalanya.

"Kenapa?"

"Kepalaku sakit..."

"Jangan memaksakan diri, bodoh."

Mendengar kalimat barusan, Sakura langsung merebahkan kepalanya ke permukaan bantal. Sambil mengerucutkan bibirnya, Sakura memalingkan wajah. Bahkan ia sampai membalikkan tubuhnya ke samping—memunggungi Sasuke. Karena ada guling, ia peluk guling tersebut erat-erat dan membenamkan wajahnya ke ujung benda empuk tersebut.

"Sasuke brengsek..."

Sasuke mendengus geli. Kalimat yang telah lama tak didengarnya itu akhirnya keluar juga. Hinaan khas yang benar-benar sudah melekat di sesosok Sakura Haruno baginya—yang menyebalkan, dan gemar menghina orang.

Namun, suara yang selanjutnya dikeluarkan oleh Sakura membuat ia terdiam.

"Hiks..."

Sakura menangis.

"Sa-Sasuke brengseek..."

Sasuke tau kalau Sakura itu orang aneh. Tapi untuk hari ini, dia lebih aneh lagi.

"Buat apa kau nangis?" Bersama tatapan heran, Sasuke bertanya.

"Abisnya... kamu nyebelin." Bisikan Sakura sedikit teredam akibat guling. "Kamu ngatain aku 'bodoh'."

Sasuke terheran. Kemudian, ia berkata. "Jadi kau nangis hanya karena itu?"

"E-Emangnya apa lagi...?"

"Dasar manja."

Dikatai seperti itu Sakura semakin menangis. Pelukan di gulingnya semakin kencang.

Sasuke berdecak pelan, malas membuat kupingnya terasa pekak akibat tangisan tidak jelas yang dikeluarkan Sakura.

"Tapi... aku lebih memilih melihatmu yang seperti ini dibandingkan sewaktu kau pingsan." Ia bergumam. "Meski kau sedikit lebih cengeng dari biasanya."

Ketika mendengar pernyataan Sasuke yang tadi, jantungnya seakan-akan baru didetakkan. Susah payah, Sakura menelan ludahnya sendiri. Aliran air matanya terhenti.

"Sasu..."

"Hn?"

"Kamu lagi ngehibur aku, ya?"

"Ngga. Itu cuma perasaanmu."

Walau kedua matanya masih basah, Sakura sudah dapat tersenyum. Sebab, sekalipun samar, ia mengerti kalau Sasuke sedang menyemangatinya.

Melihat keadaan Sakura yang membaik, Sasuke berniat untuk keluar. Ia tidak ingin terlarut lebih lama dengan kondisi Sakura yang seperti ini. Karena apabila guru atau orang lain yang melihatnya, mungkin banyak yang akan salah paham.

Sasuke pun berdiri. Ia berjalan pintu kamar.

"Sasuke?" Mendengar suara langkah kaki yang menjauh, gadis itu menjadi panik.

"Hn?"

"Mau... ke mana?"

"Keluar."

"Jangan."

Sasuke melirik Sakura yang masih memunggunginya—karena gadis itu masih memiringkan tubuhnya ke arah tembok.

"Apa?"

"Jangan keluar..." Bisiknya. "Kamu di sini aja..."

"Aku tetap mau keluar."

Sakura menggigit bibirnya sendiri. Air matanya tak lagi menetes, tapi dia tetap merasakan hatinya kacau—seolah menjadi resah apabila pria itu pergi.

Cklek.

"Kalo kubilang di sini, ya di sini!" Dengan nekat, Sakura berteriak.

Hal itu membuat Sasuke menoleh.

"Kamu kan pembantuku! Jadi kamu harus nemenin aku di sini!" Sakura mengeraskan nadanya. Sekalipun suara yang dikeluarkan oleh Sakura terdengar seperti rajukan anak kecil, entah kenapa Sasuke tidak bisa menemukan alasan untuk marah.

Pria itu hanya berjalan, dan duduk di sebelah ranjang Sakura.

"Terserah..."

Di posisinya, Sasuke menyunggingkan senyum tipis.

Tampaknya, ia sudah lumayan sering mendengar bentakan Sakura yang seperti tak ingin ditinggalkan olehnya.

"Kalau kau berteriak, sakit kepalamu bisa makin parah..." Pria itu berujar tenang. Dari Sakura yang terdiam di posisinya, ia dapat mengetahui kalau gadis itu sedang menenangkan kepalanya yang sedang berdenyut. "Kau memang bodoh."

"Diamlah..." Sakura memejamkan lagi kedua matanya. "Ini cuma nyeri biasa."

Sasuke memantau reaksinya. "Hn? Ngga nangis lagi?"

"Ngga akan."

Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi, lalu ia memejamkan matanya. "Tidur sana. Aku akan menunggu di sini."

"Hm..."

Sesudah itu tak ada sedikit pun suara yang terdengar di dalam kamar. Sakura mengatupkan kelopak matanya—mencoba untuk tidur dan mematuhi perintah Sasuke. Sehingga bermenit-menit kedepan hanya ada suara detikan jarum jam yang bergerak.

Di sisi Sakura, gadis itu tetap terjaga. Ia tidak mau tidur. Ia takut apabila ia terlelap, Sasuke akan pergi meninggalkannya seorang diri. Tapi ia juga tidak ingin membalikkan tubuhnya menghadap ke Uchiha sulung itu. Kenapa? Itu karena ia tidak ingin Sasuke melihat wajah anehnya sewaktu tertidur. Sakura masih punya malu.

Namun ada sebuah pemikiran yang memasuki otaknya.

"Sasuke..."

Sakura kembali mengeluarkan suara.

"Hn?"

"Kamu... pembantuku, kan?"

Sasuke menghela nafas malasnya terlebih dulu. Lagi-lagi ini dibahas.

"Iya."

"Itu tandanya... kamu mau menaati... semua perintahku, kan?"

"Ya."

Sakura menghela nafasnya terlebih dulu, lalu ia memeluk gulingnya erat-erat. "Tidur di sebelahku."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Apa?"

Sakura semakin membenamkan wajahnya ke guling. Perutnya terasa geli oleh sesuatu—padahal ia tidak sedang ingin tertawa.

"Kubilang... tidur di sebelahku..."

"Kau memintaku untuk menidurimu, hah?"

Bukh!

Tanpa menoleh, Sakura melemparkan bantal guling ke arah Sasuke terduduk.

"Ba-Baka! Mana mungkin!?" Kali ini hanya tersisa kedua telapak tangan yang menutupi wajah Sakura yang memerah. "Aku bilangnya tidur di sebelahku! Itu aja! L-Lagian kamu cuma perlu tiduran! Jadi ngga susah, kan—!?"

"Cerewet."

Brukh.

Permukaan kasur single yang ditiduri oleh sakura bergoyang, Dan Sakura sedikit terkejut saat ia mendapati adanya punggung seorang pria yang kini sudah menempel dengan punggungnya.

Kalau bukan Sasuke, memangnya siapa lagi?

Sesuatu yang hangat menyusup ke hati Sakura. Seandainya ia bisa jujur kepada dirinya sendiri, mungkin Sakura akan mengatakan kalau ia senang dengan tingkah laku Sasuke. Membuatnya nyaman dan bahagia.

Sedikit demi sedikit Sakura membuka kelopak matanya. Ia menatap dinding putih yang berada tepat di hadapannya. Bersama tatapan kosong, kedua bibirnya terbuka, mengeluarkan sebuah suara.

"Sasuke..."

"Apa lagi?"

"Kenapa... tadi kamu menolongku?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Suasana menjadi sepi dan senyap. Sakura ingin kembali melanjutan kalimatnya, tapi pria itu sudah menjawab.

"Lupa."

"Bohong."

"Tau dari mana aku berbohong?"

"Aku yakin kamu masih ingat." Selanya.

"Aku lupa."

"Bohong..."

"Terserah. Yang jelas aku udah ngasih tau."

"Bohong."

Sasuke berdecak.

"Terpaksa. "

Kedua mata Sakura terbuka lebar. Jawaban itu bagai pukulan telak bagi harapannya. Beberapa detik kemudian, ia menurunkan kelopak matanya. Tatapan Sakura meredup. Susah payah, ia mencoba menanggapi.

"Jadi... benar-benar karena terpaksa, ya? Ahaha..."

Kini, Sasuke tidak lagi menjawab. Pria itu hanya mendengarkan reaksi Sakura dalam diam.

"Sudah kuduga."

Sakura merasakan sesuatu perasaan pengap di hatinya.

Sedikit sesak...

Tapi kenapa matanya berair?

Ia harus kuat. Ia tidak boleh menangis lagi.

Tapi Sakura tidak bisa.

"Seharusnya kamu biarin aja aku mati tenggelam." Saat mengatakan hal itu, bibir Sakura bergetar. "Toh, dari dulu kamu benci aku, kan?"

Sasuke bungkam. Pikirannya terasa penat.

Sakura berusaha melanjutkan. "Kalo aku jadi seorang Sasuke Uchiha, mungkin aku akan tertawa pas ngeliat Sakura Haruno tenggelam di laut—"

Set.

"Bodoh."

Mendadak, Pria itu menarik bahu Sakura—menyuruhnya agar dapat terbaring dengar benar. Sedikit terkejut dengan perlakuan Sasuke, Sakura terpekik pelan. Terutama saat ia menyadari bahwa Sasuke telah berada di atas tubuhnya.

Menyadari mata Sasuke yang memandangnya, Sakura berpaling. Ia tidak berani menatap langsung kedua onyx yang sedang mengarah kepadanya itu. Bahkan Sakura sampai menggunakan salah satu telapak tangannya untuk menutupi wajahnya sendiri—seolah-olah tak ingin membiarkan Sasuke melihatnya dari jarak sedekat itu.

Kemudian wajah Sasuke mendekat, semakin membuatnya gugup. Ia pun berbisik.

"Jawaban seperti apa... yang ingin kau dengar dariku?"

Sakura menahan nafas. Detak jantungnya menggila.

"Cepat jawab..."

"N-Ngga!" Sergahnya sambil mengeratkan pejaman mata. "Aku ngga tau! Ka-Karena itu mi-minggir dariku!"

Sasuke menghentikan pergerakkan wajahnya. Dari jarak yang minim ini, ia pandangi rona di kedua pipi mulus Sakura. Sasuke pun mengambil salah satu tangan Sakura—yang menjadikan pembatas di atas wajah mereka, setelahnya ia kembali berbisik.

"Bagaimana kalau aku menjawab: tubuhku otomatis bergerak?"

Sakura terdiam.

"Aku ngga ingin kehilanganmu. Itu alasannya."

"A-Apa—?"

"Apa kau puas?"

Pertanyaan Sakura ia abaikan, namun itu digantikan oleh bibir Sasuke yang menekan lembut permukaan bibirnya. Kedua mata Sakura—yang semula sudah terpejam—semakin mengerat. Jantungnya yang bersemayam di dalam dadanya berdegup kencang. Begitu berisik, sehingga nyaris memusingkan otaknya.

"S-S-Sa-Sasu..."

Suara itu terdengar dari sela bibirnya yang bergetar. Sasuke tidak menjawab. Pria itu malah mememeluk kepala Sakura, dan memiringkan wajahnya.

"Sasu—mmmh..."

Lidah Sasuke keluar, memanjakan rongga mulutnya. Kedua lidah mereka bertemu.

Segala sentuhan itu sebenarnya lambat, dan tak begitu meggairahkan. Hanya saja, semua itu menjadi terasa membawa sensasi-sensasi anehnya dari perut sampai ke ubun-ubun.

Tangan Sakura menyentuh dada Sasuke yang polos. Gadis itu berniat mendorongnya, tapi ia lemas. Perbuatan Sasuke benar-benar membuatnya tak bertenaga seperti ini.

"Nggh..."

"Sasu..."

"Mnh..."

Bunyi-bunyi kecupan pun terdengar. Tak jarang desahan Sakura keluar menyertai—menjadi bonus di indra pendengaran mereka berdua. Dan tanpa Sakura sadari, kini kedua tangannya mulai melingkari kepala Sasuke, memberikan tanda bahwa ia mulai menginginkan sentuhan pria itu.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di kawasan depan villa yang sepi, saat ini Ino dan Tenten—yang sudah berganti baju—sedang berjalan berdampingan. Tujuan mereka kembali hanya satu, yaitu mendatangi Sakura yang sebelumnya sempat dibawa pergi oleh Sasuke.

"Hei, Tenten..."

"Apa?"

"Kira-kira... apa yang sedang mereka lakukan, ya?"

Dengan kedua kaki yang masih melangkah, Ino berbisik pelan. Gadis bercepol dua itu langsung memasang wajah cemas. "Entahlah. Semoga mereka ngga ngelakuin hal yang aneh-aneh."

"Kamu sih kelamaan ganti baju..." Si pirang menggerutu. Tenten langsung mengerucutkan bibirnya.

"Kamu juga lama."

"Aku cuma lama dandan kok."

"Itu sih sama aja."

Tep.

Ino berhenti melangkah. Tenten yang berada di depannya menoleh. "Kenapa?"

"Eh, kita mau ke kamar Sakura, kan?"

"Iya."

"Yang mana sih kamarnya?"

Tenten segera mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kini mereka sudah sampai di kawasan villa milik para siswi. Dan kalau tidak salah Tenten sempat mengingat lokasi kamar Sakura. Tanpa menunggu Ino, ia langsung berlari kecil ke arah depan. Dia pandangi sebuah kertas yang tertempel di papan pintu.

"Nah, ini dia kamarnya." Ia juga memperhatikan becekan yang berbentuk langkah kaki. "Dan ini pasti jejak Sasuke. Dia kan tadi basah banget."

Ino menyusul, dan ia pun langsung menggenggam daun pintu, bersiap untuk membukanya.

"Sakura, kami datang—"

"Mmh... Sa-Sasu..."

Deg.

Ketika suara desahan itu terdengar pelan, sontak saja tenaganya—yang ingin ia pakai untuk menggerakkan daun pintu—langsung hilang. Dan itu semua digantikan dengan kedua pasang mata yang sudah terbelalak lebar.

Ino dan Tenten langsung berpandangan.

Tak butuh banyak basa-basi lagi, Ino melepaskan kenop pintu. Dia tarik Tenten yang wajahnya mulai memucat. Setelah mereka sudah mengambil jarak 10 meter dari pintu kamar Sakura, Tenten menjerit.

"Me-Mereka... MEREKA SEDANG APA DI KAMAR!?"

"A-Aku juga ngga tau..."

Gadis beriris brownies tersebut menatap villa tersebut dengan horor. "LALU KENAPA SAKURA NGELUARIN SUARA KAYAK GITU?"

"Ten, tenang duluuuu..."

"TAPI PEMIKIRANKU BENER, KAN!? SI SASUKE ITU PASTI MACAM-MACAM—HMMPH!"

Ino langsung membekap mulut sahabatnya yang akhir-akhir ini suka sembarangan. Ia pun berdesis. "Oke, Tenten. Silahkan berpendapat sesuka hatimu. Tapi... bisa ngga kecilin dikit suara gilamu itu?"

Nafas Tenten terengah. Dari ekspresi yang dia tunjukan, tampaknya gadis itu benar-benar mencemaskan keadaan Sakura. Dan baru saja Ino ingin mencoba untuk menghilangkan bayangan-bayangan aneh di otak Tenten, dirinya sedikit terkejut saat melihat sesosok pasangan yang baru saja pulang juga dari pantai.

Itu Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuuga. Sepertinya mereka juga diperbolehkan pulang duluan karena alasan insiden tadi—yang Sakura dan Hinata alami. Dan dari arah jalannya, dapat ditebak kalau Naruto akan mengantarkan Hinata ke kamar gadis itu—yang juga merupakan kamar Sakura.

"E-Eh! Mereka mau masuk ke kamar!" Tenten langsung histeris. Tapi ia tidak ingin begitu kencang berteriak. Takut menganggu momen-momen Sasuke dan Sakura yang tampaknya masih sibuk dengan kegiatan mereka berdua.

Namun karena saat itu Naruto sedang berjalan sambil mengajak ngobrol Hinata, tentu saja mereka tidak mendengar.

"Aku punya susu coklat instan dan ramen. Kau mau?" Pria berambut jabrik itu menawarkan. Hinata—yang saat ini mengenakan jaket besar milik Naruto—pun mengangguk. "Kau punya termos air panas, kan?"

"Mm, ada..."

"Oke, berarti aku ngga mesti bawa termos ke sini."

Naruto menghentikan langkahnya di depan kamar Hinata, lalu ia melihat salah satu nama 'Hinata Uchiha' dari ketiga nama yang terpajang di sana. "Ini kamarmu, ya? Lebih baik kau istirahat dulu." Ia pun meletakkan telapak tangannya ke kenop pintu, berniat membukakannya untuk Hinata. "Nanti aku akan membawa semuanya ke sini—"

Buakh!

Tapi sayangnya, Naruto sudah terlebih dulu didorong kuat-kuat oleh Ino sampai punggungnya menabrak dinding. Sebelum Naruto mengumpat, Ino langsung menarik pria itu untuk menjauh dari kamar—persis seperti apa yang tadi ia lakukan kepada Tenten. Tak lupa, Hinata pun segera dituntun oleh Tenten untuk mengikuti mereka.

"Kalian ini apa-apaan!?" Akhirnya raungan Naruto keluar.

"Sstt, diam! Kami bisa jelasin!"

"Emang kalian pikir hal penjelasan kalian bisa ngobatin tulang punggungku yang—hmph!"

Bersama kedua telapak tangannya, Ino membekap mulut Naruto—lagi-lagi menggunakan cara yang terlebih dulu ia berikan ke Tenten.

"Dengerin." Sesudah Naruto bisa lebih diam, Ino membuka topik. "Sebelumnya, kami sempat mendengar suara 'desahan' Sakura di dalam kamar."

"Apa? De-Desahan!?" Naruto mengernyit jijik—meski wajahnya sedikit memerah karena pikirannya mulai ke mana-mana.

"Iya. Dan di saat itu, Sakura nyebutin 'Sasu'."

"S-Sa-Sasu?" Gadis itu Hinata menjadi panik sendiri. "Sa-Sasuke-nii, ya?"

Mendengarnya dari Hinata, Naruto semakin menjerit. "SA-SASUKE? DIA LAGI SAMA SASUKE DI KAMAR!? DAN DIA... MENDESAH—!?"

Bletak!

Malas membekap mulut Naruto, akhirnya Ino menggunakan cara kasar; memukulnya.

"Iya, memang siapa lagi kalau bukan Sasuke?" Tenten menghela nafas dengan ngeri. "Makanya, kami mencegah kalian masuk."

"Kenapa kalian berdua ngga mencegahnya!?"

"Ya kayaknya asal Sasuke ngga maksa Sakura kami masih agak fine-fine aja. Cuma kalo sampe Sakura teriak-teriak—alias diperkosa—baru deh kami dobrak pintunya." Ino menjelaskan dengan tenang.

'Lagian remaja-remaja Jepang kayak kita kan memang wajar untuk urusan begitu...' Gadis berkuncir satu itu membatin.

Dengan itu semua akhirnya Naruto dan Hinata mengangguk mengerti. Hanya saja sebuah hal memasuki kepala Naruto.

"Eh, tapi masa Hinata ngga boleh masuk? Dia kan harus istirahat."

"Iya, ya..." Tenten dan Ino jadi merasa bersalah.

"Udah, usir aja Sasuke dan Sakura. Suruh mereka ngelakuin itunya di tempat lain."

"Mana bisa kayak gitu!"

"Abis mau gimana lagi...?"

Pria berkulit tan itu melipat kedua tangannya di dada. Sambil berpikir, kedua mata Naruto melirik ke Hinata yang sedang merenung juga. Dirinya pun memperhatikan wajah dan tubuh Hinata. Sedetik terlewat, ia memandangi pintu kamar villa Sakura.

"Kalau begitu... Hinata ke kamarku aja." Dengan santai dan ceria, Naruto merangkul Hinata dan segera menyeretnya ke deretan villa para siswa. "Ayo, Hinata. Aku juga ingin mendengar desahanmu."

"E-Eh?" Dengan wajah merona Hinata menahan kedua kakinya agar tidak bergerak.

"Tenang aja, aku ngga akan kasar. Lagian dari teknik aku keliatan lebih pro dibanding Sasuke—"

Buakh!

Karena mendapatkan bogeman double dari Ino dan Tenten, Naruto terpental jauh. Segeralah Hinata ditarik kedua sahabat dari Sakura Haruno itu ke kamar Ino.

"Hinata-chan ke kamar kelompokku dulu aja, ya~?"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Berita baiiiik. Berhubung FFn udah menambah fitur karakter menjadi 4 kolom, dan juga saran dari Sukie 'Suu' Foxie, aku nambahin nama character Naruto dan Hinata ke fict ini. Artinya sekarang Twins Alert memajang 4 karakter sebagai pemeran utama (tapi itu cuma bisa diliat kalo di archieve doang). Nah... dengan itu, kuharap ngga akan ada yang protes lagi soal penempatan karakter. Kalo masih ada, mohon maaf kalau aku sengaja mengabaikannya. Jadi, terima kasih banyak atas dukungan, saran, kritik, dan flame-nya untuk selama ini... :')

Cuman untuk sekedar pemberitahuan, aku belom masangin Naruto dan Hinata-nya, karena fitur setting-an FFn lagi ngga mendukung. Tiap aku pasangin 4 chara dengan urutan Sasu, Saku, Naru, dan Hina, selalu ke-reset ulang dengan urutan Naru, Sasu, Saku, dan Hina (kalo di profil, otomatis jadi NaruSasu). Jadi mohon maaf dan harap sabar. Kalo FFn ngga error lagi, akan kuganti as soon as possible kok... :D

Itu aja deh. Gomen juga ya kalo chap ini lebih pendek dari yang kemaren (chap 9 totalnya 7k words). Soalnya aku memang kepengen ngebuat words di Twins Alert jadi normal kembali (sekitar 3k-4k).

Untuk scene terakhir SasuSaku-nya... jangan mikir yang ngga-ngga, ya~! Ini masih rated T kok! :))

Terakhir, chap ini kubuat semi-full SasuSaku (plus scene kissu) untuk ulang tahun Ribka (a.k.a Ribby-chan) di tanggal 16 Juni 2013. Ribka, orang pertama yang merekomendasiin aku untuk ngebuat fict SasuSaku (Twins Alert), dan terus mendukungku hingga detik ini. Selamat ulang tahun yang ke-15! Semoga panjang umur dan sehat selalu~! Loph uuu~! :') #hugtight.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

lhylia-kiryu, Fran Fryn Kun, Ziigoonerette, Guest, Urara-chan, Arbert unlog, Eky-chan, iya baka-san, Haruchi Nikiyama, Maya Kimnana, D'psyChotic, Kureijii, heryanilinda, Hayama Ayumu, Nameless, tomatocherry, widhyie-shelawashe, fathir, Mikaela Williams, nadialovey, Tsurugi De Lelouch, D, Canthy Meilanda, Saras SasuSaku-chan, White Rose, Black Swan II, Pita-chan, aam tempe, Ridiculous Aura XD, SaSakuToCherry, senayuki-chan, Ribby-chan, K. Riko ga login, Tsukiyomi Aori Hotori, Winter Cherry Mlz Log In, Guest, mysticahime, Neerval-Li, nabila, sapaajabolehdah, Eunike Yuen, chokyu parkji, Tomat-23, shawol21bangs, Nagi Sa Mikazuki Ananda, lee shin ah, Ayam Berbulu Pink, Fumiki Momo, Yafa mut, steffany, Rurippe no Kimi, abi-putraramadhan, Ramen panas, kai anf, nina-chan, Hina chan, D3villaZ, torokoro, Guest, celly, Guest, blackberry, ayren caddi, keroamalia, Sakumori Haruna, Utsukushii Haruna, jideragon21, Luscania'Effect, Scy Momo Cherry, tamu, Airalawliet2327, Guest, farah alliya, msconan, I'm on your side, PM, feigun, Guest, your hater, Guest, sasusaku, unknown, nararhezty-cliquers, Pikachu, Kireina Shinju, sakamoto-kun, Guest.

.

.

Pojok Balas Review :

Chemistry SasuSaku-nya udah mulai dapet.Terima kasihh. Kalau pairing-nya SasuSaku dan NaruHina, pasti aku suka.Perasaan dari awal emang SasuSaku dan NaruHina kok :D Jangan pedulikan flame.Hm. Untuk flame, aku ngga pernah gitu mikirin. Hak setiap author untuk menciptakan fict sesuai apa yang ada dipikirannya—selama ngga bashing ataupun melanggar guidelines.Setujuu. Feel SasuSaku kurang. Kayaknya karena Sasuke terlalu datar.Uh, aku memang suka kesulitan untuk ngatur ekspresi dia #cubitSasu. Tapi semoga aja chap ini udah sedikit berubah. Interaksi NaruHina-nya lucu.Hehe, iya. Sasuke-nya udah suka sama Sakura, belom?Silahkan tebak. Gara-gara baca ini, aku jadi suka sama Hinata. Ada grup Hinata, ngga?Hehe, review-mu aku capture loh saking senengnya. Untuk grup, ada kok. Namanya 'HINATA LOVERS'. Terima kasih banyak, ya... :') Kritik dan saran readers memang penting, tapi jangan sampai jalan ceritanya sampai zo ubah, ya?Iya. Tenang saja :) Suka Gaara yang evil.Makasih. Tapi chap ini dia lagi absen hehe. SasuSaku-nya ngga OOC.Arigatouu. Zo cari muka? Itu bukan zo yang aku kenal.Makasih... :') Kalo mau dapet chemistry SasuSaku, bayangin aja SasuSaku beneran ada. Atau ngga, baca fict SasuSaku yang lain. Terus baca essay SasuSaku punya Aikuromi.Okee. Saranmu udah kucoba. Tapi kayaknya aku masih belum nemu esai Aikuromi (tapi essay itu apa, ya? :Da) Buat Sakura takjub sama ketampanan Sasuke.Haha, chap ini malah Sakura yang ngga berani ngeliat muka Sasuke. Aku SHL, tapi aku suka fict ini. Dan aku yakin banyak para SHL lain yang membaca ini juga.Terima kasih :"D Miris melihat zo di-bully.Ahaha ngga di-bully kok. Cuma dihujani kritikan. Tapi sekarang udah ngga :D Arigatou hints GaaIno-nya.Iyaa.Jetski dikendarai? Apa maksudnya speedboat, ya?Jetski itu yang cuma bisa dikendarai sama 2 orang (kayak motor). Kalo speadboat, itu yang dikendarai sama banyak orang (kalo di chap 9, itu yang dipake sama SasuNaru dan InoTen pas main waterski). Gomen kalo penjelasannya agak-agak burem (baru cek google tadi #pok). Alasan Naruto takut air itu apa?Phobia, mungkin. Pengennya NaruHina juga banyak.Nanti ada porsinya lagi kok hehe. Dari sisi netral, aku menangkap hints buruk dari zo. Terutama di Sakura dan SasuSaku-nya.Hints buruk? Maksudnya? Memangnya aku berniat buruk apa? :| Naruto kan nyelamatin Hinata, kok dia ngga kaget sama penampilannya?Kan Naruto udah pernah liat. Lagian, itu kan lagi di kondisi panik hehe. Jadinya ngga sempet :D Setelah nyelamatin Sakura, Sasuke make kacamata, ngga?Ngga. Tapi sayangnya Sakura masih belom liat. Murid yang pindah di kelompok 8 itu OC, ya?Iya. Tsukimi Suma itu OC. Tapi kubuat dia pindah sekolah biar cewek di kelompok itu cuma SakuHina ahaha #jahat. Kamu memang cari muka. Untuk apa kamu mindahin dari SH ke SS?Aku males jawab. Tapi nanti chara yang kupajang bakalan Sasu, Saku, Naru dan Hina kok. Jadi stop ya yang kayak gininya.

.

.

Next Chap :

"SAKURA, KAMU UTANG CERITA DENGAN KAMI!"

"E-Eh, jangan sembarangan, ya!"

"Aku ngga akan macem-macem. Kau percaya padaku, kan?"

"Ta-Tapi ya terserah kalo kamu mau duduk di sini! Tapi yang jelas, aku ngga minta!"

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU