AAAAARGH!
Luka menghempaskan tubuhnya secara paksa ketika dia hendak menyentuh seorang gadis berambut hijau di depannya. "Bukankah itu menyakitkan?" sebuah suara berbisik ditelinganya, suara itu terdengar sangat tentram dan sangat sedih. "Membunuh seseorang demi menetralisirkan kutukan," suara itu terus terdengar menggema dalam telinga Luka. "Kutukan yang membawamu kemari…" terdiam sesaat. "Kutukan yang membuat kita hidup sampai sekarang," lanjut suara itu.
Luka membalikkan tubuhnya paksa, dia beratatapan dengan seseorang yang tak dikenalnya, tapi dia merasa sangat dekat dengan orang itu. Orang itu memasang wajah sedih sambil tersenyum pada Luka, dia juga menatap Luka.
!
"Nightmare…"
Crimson Sacrifice oleh Naoya Yuuki
VOCALOID © Yamaha, Crypton, etc.
Chapter 9 Re:born
Lenka menutup matanya merasakan air hujan yang membasahi tubuhnya, gadis berambut pirang panjang itu menggerakkan mulutnya tanpa terdengar suara apapun, kemudian dia tersenyum—sebuah senyum sedih. Lenka membuka matanya menatap langit yang menurunkan hujan, tangan kanannya diangkat ke atas.
"Siapa kau sebenarnya?"
Lenka membalikkan tubuhnya, dia tersenyum melihat seorang gadis berambut pirang persis seperti dirinya memandangnya tak suka. "Kagamine Rin."
Rin mengangkat kedua tangannya mempersiapkan kuda-kuda akan bertarung. "Aku tak mengingatmu."
Lenka masih terdiam, dia masih saja tersenyum. "Aku Lenka."
"Aaargh!" Rin berlari ke arah Lenka, melayangkan pukulan pertamanya. Lenka menahan pukulan itu dengan kedua tangannya dan melompat kebelakang.
"Kenapa kau melawanku, eh—?" Rin tiba-tiba sudah di belakangnya dengan sebuah pisau yang mengarah padanya, Lenka segera menghindari serangan mendadak Rin. Gadis berambut pirang panjang itu melakukan serangan balik dengan berusaha untuk menjatuhkan pisau yang dipegang oleh Rin, tapi Rin berkali-kali mencoba menghindari serangan balik Lenka, walaupun dia tahu sebentar lagi dia akan terjatuh.
DUAAGH!
Lenka berhasil membuat Rin terjatuh dengan menendang perutnya, kemudian Lenka berlari ke arah Rin memutar tangannya yang memegang pisau dan membuat pisau yang dipegangnya terjatuh. Lenka membuat Rin tidak bisa bergerak melawannya lagi.
"Kenapa kau menyerangku?" tanya Lenka.
Tidak ada jawaban dari Rin, ada dua kemungkinan Rin pingsan atau tidak mau menjawab.
"Baiklah," Lenka melepas Rin, membiarkan gadis berambut pendek itu bebas. "Aku juga tidak punya banyak waktu untuk berurusan denganmu, aku harus mengejar Nightmare."
Lenka segera berlari meninggalkan Rin, tapi sebelum Lenka terlalu jauh Rin mengangkat wajahnya menatap punggung Lenka.
"Tunggu!" ucapnya.
Lenka berhenti melangkah. "Aku tidak punya waktu Rin." Dia melanjutkan larinya, kali ini dia benar-benar meninggalkan Kagamine Rin yang masih terbaring di atas tanah.
Rin membalikkan tubuhnya, pandangannya samar, tangan kanannya berhenti menyala—tangan itu juga berubah menjadi seperti batu. Rin menangis di dalam hujan yang membasahi tubuh lemahnya. Dia bukanlah death angel lagi sekarang, tangan itu kehilangan kekuatannya karena Rin kalah melawan seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya.
"Tolong aku onee-sama."
ooo
Baju yang dipakainya hampir setengah robek, Luka menggenggam luka yang tergores besar ditangan kanannya, sebuah cairan berwarna biru terus mengalir. Dia terus mencoba melawan dirinya sendiri—Luka belum kehilangan akal sehatnya, dia masih bisa mengendalikan dirinya yang berkali-kali mencoba untuk melakukan penarikan jiwa.
Di depannya berdiri seorang gadis berambut twintail panjang yang kondisinya tak jauh beda dengan Luka, hanya saja gadis itu masih bisa berdiri tegap walaupun Luka berusaha terus untuk menyerang bagian vitalnya.
"Kenapa kau masih bisa berdiri tegap?" tanya Luka.
Orang itu terdiam, dia memalingkan wajahnya menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Lalu dia melirik Luka dengan ekor matanya. "Kenapa ya?"
Luka menggeram kesal, bergerak mencoba untuk menyerang orang itu lagi. "Siapa kau?" tanyanya lagi.
Orang itu tak menghindar, dia menerima serangan Luka yang tepat mengenai jantungnya, menembus tubuhnya. "Ugh…" rintihnya menahan sakit. "Kau lupa aku tidak bisa mati, Luka?"
Deg—
Bunuh… aku…
Luka menarik paksa tangannya yang menembus dada orang itu, dia memegang kepalanya yang mendadak berat. Kenapa? Kenapa dia memanggilku Luka? pikirnya.
Deg—
…dengan diari ini…
Night…
…mare
"!" Luka mengayunkan tangannya acak, kepalanya semakin terasa sakit.
Selamat tinggal…
Megurine…
… Luka!
AAAAH!
Luka berteriak kencang, dia memukul tubuhnya sendiri mencoba untuk menetralisirkan sakit di kepalanya.
"Nigh—Luka? Kau baik-baik saja?"
Sebuah lingkar sihir muncul di bawah kaki Luka, dia masih terus berteriak dan menjerit menahan sakitnya. Luka menangis, perlahan dirinya mulai terlihat tenang. Lalu, lingkar sihir itu juga muncul di bawah kaki orang itu—bukan hanya orang itu, bahkan Rin dan Lenka yang berada sangat jauh dari merekapun lingkar sihir itu muncul.
"Terima kasih, Hatsune Miku."
Orang itu—Miku, menatap Luka dia tidak mengerti kenapa, tapi sepertinya sesuatu akan terjadi. Miku berjalan ke arah Luka. "Apa yang kau lakukan?"
"Bukankah aku sudah berjanji untuk mengakhiri ritual itu?"
Miku tidak mengerti kemana pembicaraan ini akan berlanjut, tapi dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh orang seperti Luka.
Luka menutup matanya lalu membukanya kembali, mata yang semula merah itu sudah kembali kemata yang biasanya—biru.
"Sudah saatnya mengakhiri ritual itu, bodohnya aku. Padahal selama ini, yang membuat ritual itu tetap berjalan adalah diriku sendiri," Luka tersenyum sedih. "Kalau saja aku menyadarinya, aku pasti sudah membunuh diriku sendiri—oh," Luka mulai tertawa kecil. "Aku memang sudah berniat untuk bunuh diri, tapi keluargaku terus-terusan mengorbankan nyawanya untukku."
"Luka?"
"Terima kasih untukmu, aku jadi ingat siapa diriku yang sebenarnya," Luka menatap tangannya sendiri. "Nightmare—mimpi buruk, tidakkah aku menyeramkan? Aku harusnya lahir sebagai seorang malaikat, tapi mimpi buruk membuatku terlahir sebagai Nightmare, lucu sekali padahal Nightmare sendiri adalah mimpi buruk itu."
Luka tertawa, dia mentertawakan dirinya sendiri.
"Luka, kenapa kau menciptakan Crimson Sacrifice lalu pada akhirnya kau ingin mengakhirinya?" tanya Miku, gadis itu penasaran. Sejak lahir dia sudah mendapat tugas untuk menjadi penjaga berlangsungnya ritual itu, tapi dia tidak pernah tahu kenapa dan untuk apa ritual itu diciptakan.
"Seseorang berusaha menjadi sahabat seorang mimpi buruk, lalu dia mati karena bersahabat dengan mimpi buruk itu. Lalu mimpi buruk itu mengikat kontrak kematian dan menghidupkannya, dia tidak tahu bahwa kontrak itu akan menjadi ritual kematian."
Mereka berdua terdiam, tiba-tiba saja angin berhembus kencang menerbangkan debu jalanan, Kagamine Lenka tiba di sana dengan wajah kusut, dia menatap Luka dan Miku bergantian.
"Ada apa ini, Nightmare?" tanyanya.
"Lenka?" Luka menatap sosok itu kangen, dia benar-benar ingin memeluk gadis berambut pirang panjang itu saat itu juga, tapi dia tidak bisa. Angin terus berhembus semakin kencang berpusat pada Luka, dia mulai berjalan mundur dari kedua orang itu. "Hiduplah tanpa kutukan, aku akan menarik kutukan kalian, jadi, nikmatilah hidupmu yang hanya sekali ini."
"Luka!" Miku dan Lenka bersama-sama berusaha untuk menggapai Luka.
"Kalian manusia tak seharusnya berteman dengan mimpi buruk sepertiku."
Luka terbang keatas langit, perlahan bagian tubuhnya terkikis dan mengeluarkan cahaya putih karena menerima semua kutukan, tangan Lenka yang semula hitam kebiruan kini mulai menjadi normal kembali, begitu juga dengan Rin dan Miku yang terluka parah, semua lukanya mendadak menghilang, tanyan Rin juga telah menjadi normal.
"Luka!
Nightmare!"
Teriak mereka berdua.
Tubuh Luka pecah menjadi pecahan cahaya kecil.
"Selamat tinggal."
ooo
Dua tahun telah berlalu. Badai mengerikan telah pergi, langit telah menjadi cerah. Semua kehidupan telah menjadi normal kembali, tidak ada lagi yang namanya ritual Crimson Sacrifice, semua orang juga sudah melupakannya.
Aku sendiri sekarang menjadi mahasiswa biasa di jurusan astronomi, beberapa kali aku terbaring di rumah sakit karena masih tak percaya bahwa keabadianku telah hilang—mencoba melompat dari lantai 2, aku bukannya bunuh diri loh.
Kagamine Rin, meninggal setelah kutukan itu dicabut, tubuhnya terbaring di dekat gang kecil di kota, orang-orang baru menyadarinya setelah bau tak sedap tercium di hidung mereka, aku merasa kesepian dan tak adil, kenapa hanya Rin yang meninggal?
Sedangkan Lenka, dia melanjutkan hidupnya dengan mengelilingi dunia, katanya dia butuh refreshing dari segala jenis kegiatan yang melelahkan, dan aku bertanya pada diriku sendiri 'apakah keliling dunia itu tidak melelahkan?'
Kau tahu apa? Sakine Meiko dihidupkan kembali oleh Luka, sekarang dia sudah menikah dengan seorang pria tampan dan memiliki seorang anak, dia menamainya Rin—cukup adil karena Rin seperti bereinkarnasi, anaknya memang persis terlihat seperti Rin dan dia kembar.
Saat itu dia menghilang setelah menarik semua kutukan dari tubuh kami, dan dia hanya mengatakan selamat tinggal tanpa tersenyum sedikitpun, aku tidak tahu dan tidak mengerti. Aku berharap dia bereinkarnasi lagi dan menjadi temanku—sekali lagi, ya walaupun sebenarnya dia tidak akan pernah bereinkarnasi lagi aku akan tetap mengingatnya.
"Luka kau siap?"
"Tentu Miku!"
Crimson Sacrifice (end)
ooo
Thank you for reading and supporting me!
Chapter spesial: Nightmare—ini akan menceritakan siapa Luka di masa lalu. Tunggu saja dan maaf jika Crimson sacrifice berakhir dengan masih meninggalkan banyak tanda tanya—dan juga aneh dan gak nyambung. Maaf juga kalau sebelumnya saya berjanji akan memberikan feels dan sekarang malah feelsnya kurang.
Anyway, Review?
