Crazy Room Mate

Chapter 10

"Hei bagaimana makan malamnya?", tanya Kaito ketika Luka dan Akaito kembali.

"Sepertinya jauh lebih enak dibandingkan masakanmu~ hahaha..", kata Akaito diikuti tertawaan Luka.

Kaito hanya memberi tatapan (-_-). Luka hanya tertawa melihat Kaito yang seperti itu.

"Besok kembalilah lagi. Dan jaga kondisimu agar tetap seperti ini..", kata Akaito sambil membantu Kaito berdiri. Kaito mengangguk senang.

"Dan Luka.. Jika dia tidak menuruti peraturanku, segera laporkan padaku.", tambah Akaito. Dan Luka mengangguk sambil tertawa.

Kaito menggelengkan kepalanya, "tidak usah berlebihan seperti itu bodoh..". kaito berjalan menuju pintu keluar yang diikiuti Luka.

"Baiklah, kami pulang dulu. Selamat malam kak! Dan terimakasih..", kata Luka kemudian mengikuti Kaito berjalan keluar.

Akaito terdiam setelah mereka berdua keluar.

'Apakah semuanya.. Akan baik-baik saja?

Apakah ini memang yang terbaik untuk mereka?'

...

"Hei. Kau membaca apa, Luka?", tanya Kaito pada Luka yang asik membaca.

"Novel yang kupinjam dari Miku. Judulnya.. Die With the One You Love is The Best..", jawab Luka sambil terus membaca. Kaito sudah bisa mendapatkan gambaran akan cerita dari buku itu. Dia heran, kenapa Luka mau membaca cerita seperti itu? Apakah dia tegar dan tidak akan menangis nantinya?

"Jangan sampai kau terpengaruh ceritanya ya..", kata Kaito sambil mengacak-acak rambut Luka.

"Aku tidak sebodoh itu untuk terpengaruh ckckck..", kata Luka yang pura-pura sebal.

"Hahaha.. Maaf-maaf.."

Kemudian Kaito berdiri dan berjalan menuju keyboard kesayangannya. Dia duduk dan mulai memainkannya.

Tiba-tiba, keyboardnya yang putih itu ternoda oleh sebuah tetesan berwarna merah.

'Darah?'

Kaito langsung memegangi hidungnya. Dia segera membersihkan noda itu dan secepatnya ke kamar mandi agar Luka tidak mengetahuinya.

'Bukankah aku sudah rutin cek dan menuruti perintah kakak? Dan kenapa tiba-tiba saja aku mimisan lagi?'. Kaito membatin dalam hatinya sambil membersihkan sisa-sisa darah di sekitar hidungnya.

"Kaito? Apa yang kau lakukan didalam?", tanya Luka dari luar yang heran dengan Kaito yang tiba-tiba saja langsung menuju kamar mandi.

"Mencuci muka!", jawab Kaito cepat. Dia tidak ingin Luka tau jika dirinya mimisan.

"Benar?", tanya Luka yang sedikit curiga.

"Tentu saja. Mana mungkin aku berbohong..", kata Kaito yang sebenarnya berbohong.

"Hmm.. Baiklah..", dan Kaito mendengar langkah Luka yang kembali ke tempatnya semula.

Kaito menghela nafas lega. Setidaknya kali ini Luka tidak tau jika dirinya mimisan. Dan kakaknya juga.. Mungkin tidak akan mengetahuinya..

..

"Kaito.. Bangun.. Kaito..", Luka membangunkan Kaito yang tidak biasanya bangun lebih siang darinya.

"Hngg..", Kaito menjawab dengan malas.

"Ayo bangun. Apakah kamu merasa tidak enak?", tanya Luka yang langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Kaito.

"Ah.. Tidak.. Aku hanya mengantuk.. Hahaha..", Kaito mengucek matanya dan langsung berjalan kearah kamar mandi.

Kaito mencuci muka dan melihat dirinya di cermin.

"Astaga.."

Kaito kaget melihat wajahnya sendiri yang sangat pucat. Sepertinya dia memang kurang enak badan hari ini. Ditambah dengan kemarin dia mimisan, membuatnya yakin jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Tetapi.. Jika Luka melihat hal ini? Itu berarti dia akan segera dikembalikan ke kakaknya dan dirawat di rumah sakit lagi?

Kaito segera mencuci mukanya lagi, dan dia berusaha menutupi wajah pucatnya itu bagaimanapun caranya. Menurunkan dan sedikit membasahi rambutnya agar sedikit menutupi wajahnya yang pucat itu.

Kaito segera memakai seragamnya dan cepat-cepat ingin keluar. Tidak ingin Luka melihat wajahnya.

"Luka maaf.. Aku harus berangkat dulu. Ada sesuatu yang harus kukerjakan dengan club musik!", kata Kaito.

"Ah baiklah. Byee..", jawab Luka. Dan Kaito segera berlari keluar.

Sebenarnya Luka merasa ada sesuatu yang aneh dengan Kaito. Tapi dia cepat-cepat menghilangkan pikirannya itu karena mungkin saja Kaito memang mempunyai urusan penting.

Kaito segera berjalan kearah kelasnya dengan kepala pusing.

'Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan terjadi jika nanti Luka mengetahuinya? Pasti Akaito akan mengambilku kembali!', gerutu Kaito dalam hati.

Daripada membiarkan kondisinya yang sedang tidak baik itu mengikuti pelajaran, Kaito memutuskan untuk tidur di ruang kesehatan saja. Mungkin dengan sedikit tidur, dia akan menjadi lebih baik? Sehingga dia tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dari Luka.

Miku yang datang bersama Mikuo, melihat kearah Kaito yang bukan menuju kearah ruang kelas. "Hei Mikuo, apa yang dilakukan dengan temanmu itu?", kata Miku sambil menunjuk kearah Kaito. Mikuo menoleh kearah Kaito, dan dia menjadi heran. "Aku akan menegurnya..", kata Mikuo yang langsung berlari kearah Kaito.

"Hei Kaito! Arah kelas bukan kesana..", tegur Mikuo dari belakang!

Kaito cukup terkejut dengan manusia yang memanggilnya dari belakang itu sampai dia menghentikan langkahnya sejenak. Bisa gawat jika Mikuo mengetahaui kalau Kaito akan menuju ke ruang kesehatan dulu.

"Ah.. Aku ada sedikit urusan.. Tidak bisa memasuki kelas dulu.", balas Kaito berbohong.

"Oh. Kalau begitu aku ke kelas dulu saja ya.. Bye!", kata Mikuo.

Kaito sedikit lega karena Mikuo tidak mengomentari wajah Kaito yang pucat itu. Dan Kaito segera memasuki ruang kesehatan.

...

"Pagi Luka!", sapa Miku.

"Pagi Miku!"

"Kaito berangkat lebih pagi ya?", tanya Miku.

Luka mengangguk. "Katanya dia ada urusan dengan club musik.. jadi dia harus berangkat lebih awal..", jawab Luka.

Miku sedikit heran. Bukankah yang tadi pagi menegur Kaito adalah saudara kembarnya? Dan Mikuo adalah salah satu bagian dari club musik. Miku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan dari Kaito. Dia merasa, Kaito berbohong..

Miku hampir saja akan mengatakannya jika tidak mengingat kata-kata Mikuo.

Kata Mikuo, Kaito tidak mungkin akan berbohong jika ada sesuatu yang penting atau tidak ingin membuat orang lain khawatir. Miku merasa Kaito tidak ingin membuat Luka khawatir, karena itu dia diam saja..

"Baiklah, ayo duduk. Pelajaran pertama akan segera dimulai!", kata Miku.

-skip time-

"Bagaimana?", tanya Kaito.

Akaito bingung harus menjawab apa. Karena dari awal dia memang sengaja memperbolehkan Kaito keluar dari rumah sakit agar Kaito bahagia..

"Hmmm.. Aku minta tiga hari saja kau dirawat disini? Aku harus mengecekmu lebih sering lagi..", kata Akaito..

Kaito terdiam.. Akaito menduga jika Kaito pasti menolaknya..

"Jika itu yang terbaik apa boleh buat..", jawab Kaito yang sungguh tidak diduga oleh Akaito.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?", tanya Akaito heran..

"Yaa.. Sebenarnya aku mimisan.. Dan pusing berkali-kali.. Kepalaku sakit sekali..", kata Kaito yang merasa tidak ada gunanya di sembunyikan lagi karena kakaknya memintanya untuk dirawat inap.

Akaito tidak terlalu kaget dengan jawaban Kaito. Sepertinya dia sudah menduga hal ini sejak awal. Hanya saja dia yang membiarkan Kaito..

'Semua ini salahku...', kata Akaito dalam hati.

"Baiklah. Jika keadaanmu semakin memburuk, kau tidak boleh keluar lagi. Aku akan benar-benar merawatmu disini..", kata Akaito.

"Aku akan membaik! Karena itu, aku akan keluar kak! Dan tolong.. Jangan katakan hal ini pada Luka.. Aku mohon.. Katakan saja kalau aku harus di terapi rutin selama beberapa hari.. Atau apa saja, yang penting jangan katakan jika kondisiku memburuk!", kata Kaito memohon..

Akaito mengerti perasaan Kaito dan akhirnya dia mengiyakannya.

"Bagaimana akan kamu jelaskan nantinya?", tanya Akaito.

"Entahlah.. Apa aku akan mati? Jika iya, aku akan memberitahukan hal ini secepatnya..", kata Kaito.

"Bodoh.. Sudah kubilang aku akan berusaha menyembuhkanmu..", kata Akaito. Sebenarnya dia juga sedih mendengar kata-kata Kaito yang sepertinya sudah tidak peduli dengan hidupnya lagi.

"Kamu memang dokter yang hebat.. Tapi dokter hebat sekalipun, tidak tau bagaimana hasilnya. Apakah akan sembuh atau tidak. Jika takdirku memang tidak sembuh.. Aku tidak akan sembuh..", jawab Kaito.

Akaito mengacak-acak rambut Kaito.

"Jangan pernah katakan hal bodoh lagi..", dan Kaito keluar dari ruangannya sejenak.

'Apa yang harus kulakukan? Jika dia tidak sembuh, tentu saja kami sekeluarga akan sangat sedih. Dan Luka.. Tetapi, aku juga tidak ingin menyiksanya di rumah sakit terus. Aku tau ini adalah hal yang dibencinya..', kata Akaito dalam hati. Sebenarnya dia ingin menangis melihat keadaan adik yang disayangi oleh semua keluarganya seperti itu. Dan akan ada seorang gadis yang akan amat sangat sedih jika ditinggal oleh Kaito..

'Jika memang pasti sembuh, aku tidak peduli akan kebenciannya terhadap rumah sakit. Tetapi jika tidak.. Aku tidak mungkin membiarkan hari-hari terakhirnya dengan infus, alat-alat pengobatan dan obat..'

Akaito benar-benar galau pada saat itu. Dia hampir frustasi dengan keadaan Kaito. Dia mencoba beberapa hari saja mengeluarkan Kaito dari rumah sakit dan hasilnya langsung terlihat..

Akaito mengambil ponselnya. Memencet nomor seseorang, dan menelponnya.

"Apa yang harus aku lakukan?", kata Akaito setelah orang itu mengangkat telponnya.

...

"Ibu mohon Kaito.. Tetaplah disini dan menjalani pengobatan..", kata nyonya Shion setengah menangis melihat keadaan anaknya seperti itu. Kaito tetap menunduk, sepertinya dia bingung harus bagaimana jika menatap wajah ibunya.

"Kami juga mengerti perasaanmu yang terkekang disini. Memang tidak enak, dan susah untuk sembuh jika tidak bahagia.. Tetapi, kami benar-benar menginginkan kesembuhanmu..", tambah ayah Kaito..

Kini seluruh anggota keluarga Shion sedang berada di ruang kerja Akaito sekaligus ruangan Kaito dirawat. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Kaito setelah mendapat kabar dari Akaito. Dan mereka merasa jika harus menyemangati Kaito dan membuatnya mau melakukan pengobatan.

"Ingatlah.. Ada seorang gadis yang menunggumu. Gadis itu akan hancur jika kau meninggalkannya.. tidak mungkin dia akan bahagia jika kamu bersamanya, menghabiskan waktu terakhirmu, dan lalu meninggalkannya..", tambah Kaiko berusaha menyemangati Kaito.

Kaito terdiam. Dia mencerna sedikit demi sedikit kata-kata kakaknya dan kedua orangtuanya. Memang semua itu benar.. Tetapi juga terasa tidak benar di sisi lain bagi Kaito. Dia memikirkan perasaan semua keluarganya yang khawatir padanya. Tetapi, kebenciannya terhadap penyakitnya dan rumah sakit membuatnya enggan untuk terus-terusan dirawat di rumah sakit. Dia merasa bahwa semua ini akan sia-sia saja..

Apakah membiarkan Kaito dirawat terus, adalah hal yang terbaik?

"Jika aku dirawat disini.. Maukah kalian menjanjikan sesuatu padaku?", tanya Kaito.

Semua terdiam dan terlihat heran, tetapi berusaha tetap tenang dan mendengarkan kata-kata Kaito.

"Jika aku tidak sembuh-sembuh dan masih dirawat disini.. Aku ingin.. Pada malam natal, aku bisa keluar sebentar untuk berjalan-jalan bersama Luka..", kata Kaito.

Semua langsung terdiam lagi setelah mendengar kata-kata Kaito. Ingin sekali rasanya mereka melarang Kaito, namun mereka sadar jika itu adalah hal yang salah

"Baiklah. Itu berarti aku harus menyembuhkanmu sebelum itu kan? Aku akan berusaha menyembuhkanmu sebelum itu.. ", jawab Akaito.

Akaito sedikit lega dengan datangnya semua anggota keluarganya. Hal itu membuat Kaito sedikit menurut. Tetapi yang masih dikhawatirkannya adalah kesembuhan Kaito. Memang benar, dia sendiri tidak tau apakah Kaito bisa sembuh atau tidak..

Dan hari-hari neraka Kaito, dimulai..

...

"Ughh...", Kaito sedikit mengerang akan sakitnya setelah menjalani pengobatan sebagai penderita kanker otak.

"Sabar ya. Memang sakit..", kata Akaito.

"Tidak apa-apa.. Bagaimana dengan Luka? Apa yang akan kau katakan nanti?", tanya Kaito.

"Entahlah.. Aku hanya akan mengatakan apa adanya.. Bagaimana?"

"Baiklah.. Itu lebih baik daripada berbohong. Kurasa biarkan dia tau yang sebenarnya saja..", kata Kaito pasrah. Sebenarnya dia tidak ingin membuat Luka khawatir dan sedih. "Ah.. Selamat sore...", kata Luka saat memasuki ruangan Kaito.

"Selamat sore Luka..", kata Akaito.

"Hai Luka! Bagaimana harimu di sekolah?", tanya Kaito.

"Baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaanmu? Baik-baik saja kan?", tanya Luka balik.

Kaito terdiam, begitu pula dengan Akaito.

"Luka.. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Tetapi tidak disini.. Hmm.. Bagaimana kalau kita berbicara di belakang rumah sakit saja?", tanya Akaito.

Luka menoleh kearah Kaito, dan Kaito menganggik menandakan jika dia menyuruh Luka mengikuti Kaito. Akhirnya mereka berdua keluar dan menuju belakang rumah sakit.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Apakah menyangkut keadaan Kaito?", tanya Luka. "Hmm. Begitulah.. Aku ingin kamu mengerti, Luka. Keadaan Kaito memang memburuk setelah aku biarkan dia keluar dari rumah sakit untuk beberapa hari. Aku tau ini semua salahku.. Aku hanya ingin dia merasa bahagia saja, namun berdampak pada kondisi tubuhnya. Aku tidak tau kapan dia bisa sembuh. Hanya saja.. Sepertinya membutuhkan waktu lama. Dan dia kembali ke rumah sakit ini lagi untuk perawatan yang lama. Maafkan aku, Luka.. Dan Kaito sebelumnya tidak ingin kau tau akan keadaanya karena pasti akan membuatmu khawatir..", kata Akaito berusaha tenang.

Luka kaget mendengar kata-kata Kaito. Dan air mata keluar dari matanya.

"Keadaan Kaito.. Memburuk? ...", kata Luka tidak percaya.

"Kuatkan dirimu. Aku akan mencoba sebisaku untuk menyembuhkannya juga. Dan aku membutuhkan bantuanmu. Teruslah semangati Kaito agar dia semangat untuk sembuh..", kata Akaito lagi.

Luka menunduk. Tidak percaya dengan keadaan Kaito. Ditambah dirinya tidak bisa melakukan apapun selain menyemangati Kaito.

Dan itupun.. Jika Kaito akan sembuh..

"Kak Akaito.. Kaito.. Akan sembuh kan?", tanya Luka pelan.

"Aku akan berusaha semampuku untuk menyembuhkannya! Walau aku tidak tau hasilnya, tetapi aku akan berjuang! Dan aku akan terus berusaha untuk membuat Kaito sembuh! ", jawab Akaito.

Dan Luka tersenyum.

"Aku juga akan mendukung dan menyemangatinya.. Kaito harus sembuh!", kata Luka yang sepertinya sudah bisa menenangkan dirinya.

Akaito tersenyum mendengar jawaban Luka.

"Baiklah ayo kita kembali.. Kaito pasti sudah menunggu kita..", kata Akaito yang kemudian berdiri. Luka mengikutinya, dan mereka berjalan kembali ke kamar Kaito.

...

"Bagaimana keadaanmu hari ini Kaito?", tanya Luka.

"Seperti biasanya.. Hahaha..", jawab Kaito santai.

Sudah tiga minggu Kaito dirawat disini. Dan menjalani pengobatan yang menyakitkan. Bahkan Kaito juga susah untuk makan.

"Kau tidak habiskan makananmu lagi..", kata Luka yang langsung mengambil makanan Kaito.

"Aku merasa mual dan ingin muntah jika makan. Sungguh, tidak ada selera makan sedikitpun..", kata Kaito.

"Itu efek dari obatnya yang bekerja kan! Hahaha.. Jangan seperti itu. Kau harus tetap makan teratur, dan setelah itu sembuh!", kata Luka menyuapi Kaito yang masih tidak mau makan itu.

Sebenarnya bukan efek obat yang bekerja. Tetapi rasa sakit yang dirasakan oleh Kaito saat menjalani pengobatan lah yang membuatnya kehilangan seluruh nafsu makannya.

"Ayolah Kaito.. Makan..", kata Luka sambil memutar-mutar sendok di depan mulut Kaito. Akhirnya Kaito menyerah den memakannya. Luka tersenyum puas.

"Nah begitu dong! Kan bagus kalau begini terus..", kata Luka.

"Itu karena kau yang meminta. Jika orang lain, mungkin tidak akan kulakukan~", kata Kaito.

"Kalau begitu teruslah makan makananmu agar kau sembuh. Itu permintaanku~", kata Luka. Kaito hanya tersenyum dan mengangguk lemah. Dia tidak tau apakah tetap bisa memakan makanan lewat tenggorokannya itu.

"Kamu bertambah kurus..", kata Luka pelan. Dia sangat sedih melihat keadaan Kaito yang seperti itu.

Kaito diam saja. Dia bingung harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak suka gadis yang dicintainya sedih karena dirinya. Andai saja penyakit sialan ini tidak ada dalam dirinya..

Dia membenci penyakit ini bukan karena merasa sakit.. Kaito membencinya karena membuat orang-orang disekitarnya khawatir.

"Tidak ada yang mengganggumu lagi kan di sekolah? Bagaimana dengan si pria ungu yang banci itu?", tanya Kaito pada Luka untuk memecah keheningan.

"Hahaha. Tenang saja.. Sepertinya dia sudah tidak berani menemuiku lagi..", kata Luka.

"Syukurlah.. Maaf aku tidak bisa berada di sekolah untuk melindungimu..", kata Kaito.

"Bicara apa kau ini.. Kau sudah melindungiku sehingga aku aman dimanapun aku berada.. Hahaha..", kata Luka mencoba menghibur Kaito. Kaito hanya bisa tersenyum tipis. Dia mengerti jika Luka berusaha menghiburnya.

….

"Selamat siang Kaito!", sapa Luka yang baru memasuki kamar Kaito.

"hei! Bagaimana harimu di sekolah hari ini?", tanya Kaito.

"Hahahha… berjalan seperti biasanya..", jawab Luka santai dan dia duduk di sebelah Kaito.

Sudah dua bulan Kaito dirawat di rumah sakit dan selama dua bulan itu pula Luka rutin hamper setiap hari menjenguknya. Membawakan Kaito cerita-cerita tentang kesehariannya di sekolah. Terkadang beberapa teman Kaito juga dating menjenguknya setelah mendengar kabar jika Kaito dirawat di rumah sakit karena suatu penyakit yang serius.

Kini di depan Luka adalah Kaito yang bertambah semakin kurus, semakin pucat dan rambutnya semakin rontok. Bahkan terlihat jelas beberapa helai rambut di bantal yang ditiduri Kaito. Luka sebenarnya selalu ingin menangis melihat keadaan Kaito yang seperti ini, namun selalu ditahannya sampai dia pulang dan Kaito tidak melihat dirinya menangis. Luka juga sering diam-diam melihat proses pengobatan Kaito. Dan saat-saat dimana Kaito memuntahkan makanannya. Benar-benar neraka untuk Kaito.

"Hei? Kenapa diam saja?", tegur Kaito pada Luka yang terus diam.

"A-aah! Tidak apa-apa.. hahhaa..", jawab Luka yang sedikit ling lung.

Kaito hanya memandangi Luka heran. Seperti ada yang salah dengan diri Luka. Atau ada yang membebani pikirannya?

"Hei Kaito.."

"Hm?"

"kau.. tidak akan meninggalkanku bukan?", tanya Luka tiba-tiba.

Kaito menjadi diam dengan pertanyaan Luka. Dia ingin sekali menjawab 'iya', hanya saja dia tidak yakin apakah bisa menepatinya. Namun jika dia menjawab tidak.. itu akan menyakiti Luka terlebih lagi.

Akhirnya Kaito mengambil nafas dan berusaha mengatakannya dengan tegar.

"aku tidak akan meninggalkanmu sendirian..", kata Kaito sambil tersenyum.

"Janji?"

"Ya.. Aku berjanji.."

Luka memeluk Kaito. Dan tanpa dia sadari, air matanya ikut mengalir…

….

To be continued.

Next chapter will end this story :D can imagine the ending? XD

Maaf buat updte yang lama sekali, laptop saya baru benar :D

Mind to review after read?:)

Veline Shee : makasih bwt terus ikutin crita ini, saya jga terharu :'D . makasih bwt komennya, smuanya penting kok XD ahahhahah.. sudah selesai servis, slanjutnya fast updte kok d tnggu ya :D sdh mw tamat..

Baka-hiro : maaf br bs updt krn ga ada media bwt nulis x_X iya inni sudah brusaha sy panjangin, smoga memuaskan :D thx reviewnya, keep reading!

Matsumoto Tsuki : sepertinya bgitu :D tp sy ga ada wkt jd maaf bwt typo"nya ya x_X smoga crt slanjutnya bs d perbaiki. Sepertinya begitu, tp maafkan faku yang tidak pntar bwt judul o.O keep reading! :D

Guest & raisa524 : gomeen bru bs updt x_x keep reading yakk! :D