Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. The Chaser milik Fura.

A.N: Serius, Fura buru-buru. Ini sudah lewat jam tidur Fura. Fura merasa harus publish malam ini karena kartu Fura.. Kalian bisa baca di A.N yang bawah U,U)a

Jadi terimakasih untuk para reviewers chapter lalu, dan berikut balasan untuk yang anonim. Untuk yang login silahkan cek PM, arigatou! #bow

Edelweis: Oke ini sudah lanjut. Semoga suka & arigatou sudah RnR ^-^)/

Konata Izumi: Ho'oh kamu boleh anggap Temari blushing. Readers mana pun berhak untuk mengimajinasikan apa yang sudah dibacanya di ff. /apaini/ Lagipula Sakura ga bakal nikung juga XD Btw semoga suka yang chapter ini.

Leny chan: Ho'oh kamu juga berhak mengimajinasikan Tenten blushing. Fura sengaja tak tulis setiap hal dengan detail biar kalian juga turut berimajinasi :v Dan semoga suka yang chapter ini ^-^)/

.

.

Happy Reading!

.

.

Sudah dua hari sejak Tenten memulai persahabatannya dengan Haruno Sakura. Sudah dua hari juga sejak gadis beriris hazel itu merasakan wajahnya yang merah memanas akibat pertanyaan Sakura. Dan tolong jangan tanyakan jawaban Tenten untuk pertanyaan yang satu itu.

Di koridor yang ramai, Tenten berjalan menuju kelasnya. Dia baru kembali dari ruang guru untuk mengumpulkan tugas susulan. Belakangan ini Tenten merasa tidak enak. Entah kenapa setiap dia berjalan, orang-orang di sekitarnya memandangnya dengan tatapan yang berbeda. Mungkinkah sejak mereka tau Tenten sudah berteman dengan Haruno Sakura, siswi elit yang sekali lagi paling selektif soal teman? Entahlah, Tenten tidak peduli. Masih lebih banyak hal yang lebih butuh perhatian Tenten. Misalnya, bisa saja kakaknya kan? Kakak yang selama ini Tenten bingungkan keberadaannya. Ya, sosok kakak yang membuat Tenten lebih memilih kabur dari panti asuhan untuk meneruskan hidup seorang diri. Orang-orang di sekitar koridor ini mungkin sadar bahwa Tenten sudah membuat hampir semuanya berubah. Membuat Sakura berubah jadi bisa memiliki teman, misalnya. Namun tidak ada dari mereka yang tau kalau Tenten sama sekali tak merasakan perubahan apa pun. Karena baginya, perubahan dirasakan hanya saat dia bisa menemukan sosok kakaknya. Kakak yang sudah lama terpisah darinya sejak dia dan kakaknya harus menghuni dua panti asuhan yang berbeda.

10 tahun yang lalu - Someone POV

Orang tuaku bilang aku berbeda. Entahlah. Sejak kecil aku selalu melihat warna dari suara yang kudengar, dan merasakan rasa tertentu dari apa yang kulihat. Awalnya kupikir itu hal yang lumrah dan bisa dialami semua orang juga. Tapi ternyata tidak. Itu semua kusadari saat aku melihatnya dari Tenten.

"Uwah, suara dari permainan harmonikamu berwarna biru muda. Warna birunya indah sekali, Tenten-chan!" Aku berdecak kagum pada permainan harmonika adikku. Kulihat gadis berumur enam tahun itu menggelembungkan pipi sebal. Kuduga dia tak mengerti apa yang aku katakan.

"Kaa-san! Lagi-lagi nii-san bicara soal warna. Aku masih tidak mengerti!" rengek Tenten pada wanita bersurai cokelat panjang yang kini berjalan ke arah kami.

Kulihat kaa-san terkikik sebelum mengusap kepala Tenten gemas.

"Tenten-chan, kakakmu itu kan memiliki penyakit yang membuatnya bisa mendengar warna. Kau tak memiliki penyakit yang sama, itu sebabnya kau tak mengerti" jelas kaa-san sambil tersenyum. Ah, melihatnya membuatku dapat merasakan rasa manis tersendiri di lidahku.

"Eh? Nii-san punya penyakit?" gumam Tenten mengerjapkan mata bingung. Kemudian dialihkannya pandangan cemas manik hazel itu padaku. "Apakah nii-san merasakan sakit?"

Dan jelas saja kaa-san tertawa mendengar pertanyaan polos adikku itu. Pipiku memerah mendapat pertanyaan harap-harap cemas dari gadis polos itu. Tapi kemudian aku tersenyum.

"Tidak. Ini bukan penyakit menyakitkan seperti yang kau pikirkan Tenten-chan. Dengan penyakit ini, aku bahagia. Dengan ini, aku bersyukur karena bisa mendengar warna indah dari suara kalian. Aku juga bisa merasakan manis dengan melihat setiap wajah kalian," jelasku yang langsung membuat kaasan merangkulku dan mengecuk pucuk kepalaku. Aku senang bisa mendengar warna indah dari mereka berdua. Ya, itu semua terjadi sebelum aku merasakan kesakitan yang teramat sangat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan sakit akibat penyakit synesthesia. Untuk pertama kalinya, aku merasa menyesal karena harus mengidap penyakit ini.

"KAA-SAN! JANGAN PERGI, KAA-SAN!" teriakan histeris Tenten menyakitkanku. Dia tak henti-henti menjerit sejak sejumlah orang menarik kami. Dua jam yang lalu kami sadari ibu kami meninggal. Kenapa kau tak memberitahuku kaa-san? Kenapa kau tak memberitahuku kalau setelah melahirkan pengidap synesthesia sepertiku, kau juga melahirkan Tenten yang memiliki kelainan jantung? Dan kenapa kau mendonorkan jantungmu tanpa bilang padaku dulu? Kalau saja aku tau dari awal, aku pasti sudah menunjuk diriku sebagai pendonor. Tapi hatiku semakin terpukul setelah mendengar pernyataan dari dokter.

"Synesthesia adalah penyakit psikologi yang berhubungan dengan syaraf. Seseorang dengan penyakit syaraf tak memenuhi kriteria pendonor organ tubuh seperti jantung,"

Dan aku sadari, aku dan Tenten sama-sama memiliki kekurangan. Tapi selama bersamanya aku merasa sempurna. Benar-benar merasa sempurna sebelum dia pergi dari sini.

"Chiyo-baasama, apa yang harus kita lakukan?" Seseorang berjalan panik mendekati aku yang sedang duduk di pekarangan panti asuhan bersama pemilik panti asuhan dan penghuni panti yang lain. Chiyo-baasama berdiri dan bertanya apa yang terjadi. Dan jawabannya sungguh menyakitkan.

"Tenten lari dari panti asuhan yang merupakan mitra dari panti asuhan kita"

Untuk pertama kalinya, duniaku gelap. Aku tidak pernah lagi melihat warna biru muda dari suara riang adikku. Sudah sangat percuma mengharapkan rasa manis di lidah manakala mendengar suara adik dan ibuku. Dimana kau Tenten? Setega itukah kau membuatku menghabiskan sisa hidup dengan berbagai warna kelam yang ditangkap indera pendengaranku?

Flashback End - Author POV

Napas Tenten tercekat mendapati seseorang menarik tangannya saat dia baru akan meraih knop pintu kelasnya. Tangan kiri digunakannya untuk melepas genggaman erat pada pergelangan tangan kanannya. Namun nahas pemberontakannya percuma. Sampai akhirnya dia menyadari dia ditarik menuju ruangan gelap, iris hazelnya membulat. Namun keterkejutannya belum cukup sampai akhirnya orang itu membanting tubuh Tenten ke atas lantai.

Bruk

Tenten meringisi punggungnya yang terasa nyeri. Dilihatnya empat pemuda yang tidak asing baginya. Matanya mendelik pada salah satu dari mereka yang berjalan ke belakang Tenten. Dalam posisi terduduk seperti ini, Tenten-

Bugh

Tenten terkapar tengkurap di atas lantai. Di ruangan gelap ini, Tenten menahan nyeri akibat pukulan tongkat baseball di punggungnya. Kemudian Tenten mencoba bangun. Matanya menatap kilat pada iris azure yang ikut menyaksikan Suigetsu memukulnya. Pemilik iris azure yang menatap lemah iris hazel itu mencoba membuang muka.

"Gaara-san, kau tau? Aku sudah berteman dengan Saku-"

Bugh

Tenten kembali terkapar seperti sebelumnya. Namun kini tetap mengulas senyum dan menatap Gaara lagi. Menatap Gaara yang matanya menoleh ke arah lain seolah tak tega melihat Suigetsu yang terus menuruti titah Sasuke untuk memukulnya.

"Gaara-san, kalau kau tak pernah memberitahuku se-sebelumnya, aku, aku pasti belum tentu bisa berteman dengan Saku-"

Bugh

Gaara menoleh. Menatap miris pada Tenten yang punggungnya sudah mendapat banyak pukulan. Suigetsu menyeringai. Tenten hanya mengepal kedua tangannya pada posisi terkapar seperti ini. Seragamnya sudah bersimbah darah. Dia yakini punggungnya sudah punya banyak memar sekarang.

"Gaara-san, arigatou"

Brak

.

.

.

Haruno Sakura berlari di sepanjang koridor. Kristal bening terus melayang di udara setiap Sakura meneteskannya selama berlari. Sakura menangis. Dia tak tau apa yang akan terjadi pada Tenten. Napasnya terasa sesak. Tidak bisa diungkapkan lagi rasa khawatirnya sejak mendapat kabar soal Tenten yang ditarik paksa Suigetsu tadi.

"Aku mohon pada-Mu. Tolong jaga Tenten-chan agar dia baik-baik saja. Aku mohon" bisik Sakura lirih sambil terus berlari menuju ruangan yang ditunjukkan padanya.

.

.

.

Bruk

Suigetsu terduduk bersandar pada dinding. Dia tersungkur usai mendapat pukulan di wajah oleh Gaara. Bersamaan dengan itu, Sasuke dan seisi ruangan terkejut melihat sosok yang mendobrak pintu gudang. Iris lavender itu menatap sendu pada keadaan Tenten. Tangannya mengepal marah. Emosinya tersulut oleh sekumpulan manusia setengah kayu bakar yang sudah mengundang amarah sekaligus kekecewaannya. Sejak kecil, Hyuuga Neji selalu diajarkan untuk memperlakukan perempuan dengan hormat dan penuh kasih sayang. Namun Hyuuga muda itu dibuat kecewa oleh perlakuan Taka terhadap gadis bercepol dua yang sudah sekarat di sana.

Segera kakinya melangkah mendekati Tenten yang sedang dipeluk Gaara.

"Lepaskan dia!" titah Neji pada Gaara dengan suara datar. Neji bisa mendengar Gaara terisak. Manusia normal mana pun akan tersayat hatinya melihat kondisi Tenten sekarang.

"Tidak! Biarkan aku memeluknya. Biarkan aku meminta maaf padanya" Gaara mengeratkan rengkuhannya.

"Aku tidak pernah berpikir ada istilah terlambat untuk meminta maaf. Tapi apa yang kau lakukan sudah tidak bisa dimaafkan," Neji mengepal kedua tangannya menatap punggung Gaara penuh kekecewaan.

"Kau bukan Tenten! Kau tidak berhak menilai standar maaf seseorang!"

"Aku bukan Tenten tapi aku juga bukan iblis jahat sepertimu, Rei Gaara!" bentakan Neji tidak bisa dibalaskan. Gaara hanya diam sambil memejamkan mata tak kuat.

"Setelah semua yang kau lakukan hanya diam melihatnya dipukuli, kau baru memeluknya dan meminta maaf padanya. Kemana saja kau sebelum ini semua terjadi?!"

.

.

.

"Kalau saja gadis itu mendapat pukulan sekali lagi, mungkin tulang punggungnya sudah mengalami cedera permanen"

Jujur saja, Sakura terus sesenggukan merasa sakit mendengar pernyataan . Setelah memisahkan keributan Gaara dan Neji yang terus saling menyalahkan, Sakura segera menghubungi ambulans untuk membawa Tenten agar cepat mendapat penanganan. Sarutobi Hiruzen sebagai kepala sekolah turut menyesali apa yang sudah Taka lakukan. Jika biasanya Hiruzen selalu mengalah pada kejahatan Taka yang membayar tinggi agar terhindar dari hukuman, untuk kali ini Hyuuga Neji ikut keluar biaya untuk memastikan Taka mendapat hukuman. Tapi dibanding buang-buang uang, tentunya akan lebih baik jika uangnya Author masukkan ke dalam saku pribadi dan membuat Taka terhindar dari hukumannya. Walau terhindar dari ancaman skorsing, Taka dituntut melakukan hormat bendera sebelum masuk jam pelajaran pertama dan bersih-bersih kantin setelah jam istirahat. Itu semua dilakukan sampai Tenten keluar dari rumah sakit dalam keadaan sembuh total.

TBC

A/N: Holla, bagaimana chapter ini? Maaf update terlalu cepat. Besok kartu Fura memasuki masa tenggang XD

Mind to Review?