Illogically Loving
.
Playlist:
¯ Symphony by Clean Bandit feat. Zara Larsson
¯ Let me Love You by DJ Drake feat. Justin Bieber
.
.
.
Logica 9
.
"Sakura sudah berangkat ke Swiss tiga hari yang lalu. Aku jadi penasaran bagaimana perasaanmu menanggapi hal itu?"
Siapa lagi orang yang berani memberikan pertanyaan semacam itu kepada Karin kalau bukan si polos Hinata. Nyaris freak kalau kata Karin.
"Apa?" tanya Hinata tak mengerti. Karin hanya memberinya pandangan malas sebagai jawaban pertanyaan tadi.
"Kau yakin memberi pertanyaan seperti itu kepadaku?" ujar Karin dengan nada mencemooh yang tidak ditutupi. "Aku yang paling membenci keberadaan si Haruno itu. Masih perlu kau bertanya bagaimana perasaanku?"
"Hahaha, benar juga." Hinata tertawa garing.
Hening.
Karin bukan tipe orang yang memulai pembicaraan kecuali dengan orang yang benar – benar disukainya. Sayangnya, Hinata belum masuk kategori langka itu. Tidak mengherankan sedari tadi hanya Hinata yang terlihat berusaha keras untuk mewarnai kebersamaan mereka dengan percakapan. Sedangkan Karin sendiri hanya menanggapinya dengan pasif.
Saat ini mereka berdua sedang menikmati apa yang Hinata sebut sebagai girl time. Hinata bersikeras mengajak Karin untuk menemaninya shopping, spa, menicure, pedicure dan masih banyak lagi. Hinata berdalih bahwa sebagai teman yang baik, dia berinisiatif untuk mengajak Karin mempersiapakan dirinya untuk acara pertunangannya besok. Karin harus tampil glowing besok. Begitulah tekad Hinata. Walaupun Karin curiga, ini hanyaah akal – akalan Hinata supaya Karrin mau menemaninya melakukan girl stuff. Karena hanya dirinyalah yang tersisa setelah kepergian teman mainnya, Sakura.
"Kau kenapa, Karin? Sepertinya kau sedang gelisah?" tanya Hinata dengan kening berkerut mengamati Karin di sebelahnya.
"Tidak, aku hanya—" merasa ada yang memperhatikan kita dari tadi? Stalker? Atau musuh Uzumaki-kah?
Karin melanjutkan ucapannya dalam hati karena ia sendiri juga tidak begitu yakin. Mungkin ia memang terlalu paranoid. Semenjak Uzumaki mengumumkan keberadaannya kepada publik, ia sering merasa was – was tanpa sebab seperti ini.
"Karin? Kau lelah ya? Apakah kita sebaiknya pulang saja dan menyudahi acara berbelanja kita?" ujar Hinata ketika merasa ekspresi Karin berubah tegang disebelahnya. Dia mengatakannya dengan nada memelas yang maknanya benar – benar kebalikan dari ucapannya.
Karin menoleh dan tertegun. Puppy eyes itu begitu silau menatap Karin penuh harap.
"Baiklah, baiklah. Kita lanjutkan acara menyiksa ini," keluh Karin kemudian, sebisa mungkin menahan seyuman geli melihat Hinata yang polos berjingkrak kegirangan.
.
.
Tidak pernah sepanjang 24 tahun hidupnya Sasuke mengira akan datang hari seperti ini. Hari dia akan bertunangan dengan Karin. Orang yang paling dibencinya—atau seharusnya masih dibencinya.
Namun terkadang takdir punya lelucon yang buruk. Hari ini, dia dan orang yang paling dibencinya itu akan melangsungkan pesta pertunangan di Ballroom Sharingan Hotel. Salah satu hotel milik Uchiha Group.
"Sasuke, sudah waktunya kau keluar. Kau harus menyambut para tamu VVIP kita terlebih dahulu, Sayang. Sebelum ritual pertunangan dilangsungkan,"
Sasuke menoleh untuk mendapati ibunya berkacak pinggang. Wanita berumur setengah baya itu masih tetap bisa tampil stunning diumurnya yang tidak muda lagi.
"Ibu tahu kan, aku paling benci harus pura – pura ramah kepada para penjilat itu!" erang Sasuke. Mikoto terkekeh menghampiri Sasuke. Berdecak kagum saat mematut putra tampannya dari dekat.
"Hihi, tampan sekali! Mirip Fugaku sewaktu muda dulu," kikik Mikoto genit yang sama sekali tidak seperti Mikoto.
"Mom!" erang Sasuke putus asa. Dia yakin, ibunya pasti sedang membayangkan hal yang tidak – tidak tentang Ayahnya. Ibunya yang kalem bersahaja itu memang bisa sedikit gila di depan keluarga inti mereka.
"Apa?" ujar Mikoto polos. "Ibu hanya memuji betapa tampannya ayahmu dulu. Fakta yang diketahui semua orang." Sasuke memberikan pandangan datar. "Wakatta, wakatta, kali ini ibu serius. Kau harus benar – benar keluar menemui para tamu sekarang, Sasuke. Ibu tahu kau tidak terlalu suka bersosialisaasi. Tapi mulai sekarang kau harus membiasakannya, Nak. Kau yang akan memegang Uchiha Group pusat di Jepang. Semua urusan dalam negeri akan menjadi tanggung jawabmu."
Mikoto tersenyum geli melihat raut cemberut putra bungsunya yang menurutnya mirip sekali dengan Fugaku. Kedua anak dan ayah tersebut memang yang paling sering berselisih paham. Tapi sekaligus yang paling serupa watak dan kepribadiannya. Itachi sang kebanggaan Fugaku malah mempunyai kepribadian lebih mirip dengan dirinya.
"Sudah, sudah, sebaiknya kau bergegas. Ibu tunggu di bawah." Mikoto berlalu setelah Sasuke memberikan anggukan persetujuan.
.
.
Karin tidak pernah menyangka akan tiba hari ini. Hari Sasuke akan menjadi miliknya. Bukan pernikahan. Hanya pertunangan. Namun setidaknya, orang itu tidak lagi menjadi tak terjangkau seperti sebelumnya.
"Semua sudah siap, Nona Karin. Anda cantik sekali hari ini," puji salah seorang maid yang membantunya bersiap – siap.
Karin menatap pantulan dirinya dicermin.
"Kalian semua bisa pergi. Tinggalkan aku sendiri. Katakan pada Heiji-san aku akan segera turun sebentar lagi."
"Baik, Nona."
Harusnya Karin bahagia cintanya tidak lama akan segera terwujud. Tapi mengapa ia tidak bisa tersenyum hari ini. Ia menatap balik wanita bergaun merah di depannya. Gaun merah menawan dan make up sempurna membalut wanita yang balas tersenyum ke arahnya. Senyumnya terlihat hampa.
"Kau mau menghadiri pertunanganmu sendiri dengan baju seperti itu?"
Karin tidak perlu repot – repot berbalik untuk tahu siapa yang baru saja bericara kepadanya. Ia sudah hafal dengan dengan suara dengan nada sarkas yang sialnya selalu dia rindukan.
.
.
Sasuke sebenarnya tidak berniat untuk menemui Karin. Ia sendiri bingung mengapa langkah kakinya berhenti di depan ruangan tempat Karin bersiap – siap. Pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan punggung mulus Karin yang menghadap kearahnya.
Apa yang dia pikirkan? Memakai gaun seperti itu?
"Kau mau menghadiri pertunanganmu sendiri dengan baju seperti itu?"
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan gaun yang dipakai Karin. Ia tampak flawless dengan gaun backless berwarna merah marun.
"Gaunmu terlalu terbuka. Like a bitch as always. Sepertinya kebiasaan lama sudah terlalu mendarah daging padamu. Topeng Uzumaki itu tidak bisa menyamarkannya."
Ekspresi menyesal sempat terlintas begitu kalimat itu terlepas dari bibir Sasuke. Sasuke bahkan sempat berpikir untuk meminta maaf saat melihat raut tersakiti yang terlintas di wajah Karin.
"Ku kira kau masih belum menerimaku, kalau begitu, Sasuke-kun?" ujar Karin mengamati Sasuke dari pantulan cermin di depannya.
"Perasaanku padamu belum berubah."
"Haruskah kita membatalkan saja pertunangan kita?"
"Batal? Setelah sampai di titik ini? Kalau kau masih punya harga diri. Silahkan lakukan. Kau yang memulai, kau juga yang arus mengakhirinya. Aku tidak mau dipersalahkan oleh si tua Fugaku itu," dengkus Sasuke sebelum berlalu. Meninggalkan Karin yang sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri.
.
.
"Apa?! Karin menghilang dari kamarnya?"
Kepala keluarga Uzumaki, Uzumaki Heiji berbisik keras ketika Kakashi membisikan sesuatu ditelinganya. Bisikan itu tidak selirih yang diharapkan. Sasuke yang kebetulan berada tak jauh darinya mendengar bisikan terperanjat itu meski tidak terlalu jelas. Keningnya berkerut.
Karin hilang?
"Heiji-san? Semua baik – baik saja?" ujar Sasuke saat berjalan menghampiri sang mantan penguasa pemerintahan Jepang.
Mata Heiji mengawasi Sasuke penuh pertimbangan.
"Well, sesuatu terjadi. Kita perlu mendiskusikan beberapa hal penting. Kau panggilah kedua orang tuanmu Sasuke. Kita bertemu di kamarku 15 menit lagi setelah aku mengerjakan beberapa hal mendesak."
Sasuke bahkan tidak sempat menanyakan maksud instruksi Heiji. Pria paruh baya tersebut sudah berlalu secepat kilat. Sasuke penasaran apa yang membuat seorang Uzumaki Heiji yang biasanya tenang menjadi gusar.
Berbagai praduga dan spekulasi berkecamuk di kepala Sasuke. Salah satu lima belas menit paling menyebalkan dalam hidupnya. Ia benci penasaran. Ia tidak suka menunggu. Ia sudah mengumpulkan Ayah dan Ibunya di sebuah ruang pertemuan kecil. Terbenam dalam pikiran masing – masing.
Suara pintu terbuka terdengar menampilkan sosok Heiji. Kakashi mengekor di belakangnya dengan tatapan yang serius. Tidak lagi menampilkan wajah mengantuk seperti biasa.
"Sepertinya kita harus menunda acara pertunangan ini, Fugaku," ujar Heiji tanpa basa – basi. Membuat semua orang di ruangan itu terbelalak kaget.
"Apa?! Apa maksudnya ini Paman? Karin? Benar – benar melarikan diri?" Hati Sasuke mencelos.
Karin tidak mungkin senekat itu untuk menuruti perkataannya tadi kan?
"Melarikan diri? Apa – apaan maksudnya itu? Semua tamu penting sudah hadir, Heiji-san! Kalian tidak bisa mempermalukan kami seperti ini," ujar Mikoto sinis.
Fugaku sendiri masih terdiam. Pengalamannya menjadi kolega terdekat Uzumaki membuatnya mampu membaca ekspresi Uzumaki Heiji. Instingnya yang tajam mengatakan ada sesuatu yang salah.
"Ini kondisi terakhir kamar saat Nona Karin menghilang dari sana," jawab Kakashi menggantikan kebungkaman Heiji. Kakashi memperlihatkan layar tablet yan ia bawa kepada mereka. Layar tersebut ampilkan foto sebuah kamar yang berantaan. Perlatan make up yang berserakan di lantai. Kursi yang tergeletak dengan posisi yang tidak wajar.
"Sepertinya ini bukan kasus pengantin-yang-melarikan-diri-sebelum-hari-H biasa," ujar Kakashi dengan candaan khasnya yang tidak lucu sama sekali.
"Maksud Anda… Karin di culik?" Mikoto membekap mulutnya kaget.
"Tapi keamanan tempat ini di jaga ketat. Bahkan tidak semua media kita undang. Siapa yang punya cukup nyali untuk mengusik Uchiha – Uzumaki?!" seru Sasuke marah.
"Apakah ada telepon ancaman atau semacamnya?" tanya Fugaku.
"Sampai saat ini belum. Itu salah kami mengajukan pertemuan singkat ini. Salah satunya untuk mendiskusikan musuh Uchiha yang kira – kira mempunyai cukup motif untuk berbuat sejauh ini, " ujar Kakashi.
"Musuh Uchiha," desah Fugaku. "Membicarakan mereka bisa seharian penuh. Kau tahu sendiri saingan bisnis Uchiha sama banyak dan nekatnya seperti oposisi politik Uzumaki."
"Ya, inilah yang membuat kami kesulitan memperkecil tersangka."
"Apakah kepolisian sudah dikerahkan?"
"Mengenai itu…" Kakashi tampak ragu – ragu melirik ke arah Heiji yang sedari tadi hanya terdiam. Ekspresinya memang tampak datar. Tidak ada yang tahu badai macam apa yang kini melanda hatinya.
"Sementara ini kami hanya mengerahkan tim kemanan elit Uzumaki untuk melacaknya. Saat penculik itu menghubungi baru kami akan mengontak Inspektur Nagato." Akhirnya Heiji bersuara.
"Apa?! Jadi, polisi belum tahu?! Anda sepertinya tidak terlalu mengkhawatirkan putri Anda yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya!" seru Sasuke marah.
"Sasuke!" tegur Fugaku kepada putranya yang berteriak tidak sopan kepada calon besan mereka.
Sasuke si keras kepala tentu saja tidak terima. Namun bantahannya disela oleh sebuah ketukan. Minato dan Kushina memasuki ruangan dengan senyum muram.
"Kami sudah meng-handle para tamu. Pemeriksaan ketat tiap tamu yang akan keluar saja sudah menimbulkan spekulasi yang macam – macam. Pengumuman pending tepat sebelum acara pertunangan dimulai bukanlah hal yang sepele," ujar Minato.
"Its fine. Keselamatan Karin lebih penting," ujar Heiji.
"Tsk! Si Nenek Sihir itu selalu saja membuat masalah!" gerutu Naruto yang rupanya cukup keras karena Kushina langsung melotot murka ke arah anak semata wayangnya.
Heiji sendiri tidak begitu peduli dengan celetukan Naruto. Baru saja, Kakashi membisikan sesuatu di telinganya setelah beberapa waktu mengecek pesan di ponselnya.
"Sepertinya benar kita harus mengkonsultasikan hal ini kepada Inspektur Nagato. Aku dan Kakashi akan menemuinya sekarang. Sebaiknya kalian pulang dan beristirahat."
"Menemui Inspektur? Itu berarti Karin…" Sasuke merasa ada bongkahan batu besar yang menyumbat tenggorokannya.
"Ya. Si penculik baru saja menghubungi."
.
.
.
Heiji sedang melihat layar di depannya dengan tatapan dingin. Layar tablet tersebut menampilkan seorang gadis dengan tangan dan kaki terikat di kursi. Tampilan di layar tersebut berganti setiap lima menit. Menampilkan gambar Karin dari berbagai angle yang berbeda. Mata dan mulut Karin tertutup dengan kain. Diam tak bergerak.
Heiji harus berusaha keras untuk tidak memecahkan tablet di genggamannya. Melihat putri semata wayangnya terikat tak sadarkan diri sudah cukup untuk mematahkan hatinya. Berani sekali mereka meletakkan tangan kotor mereka pada Heiress Uzumaki.
"Apa tuntutan mereka?" tanya Heiji.
"Seperti yang Anda duga, Heiji-sama. Uang dan pembatalan pembelian 30% saham Nirvana Media. Dengan menculik Karin, saya juga menebak bahwa kawan kecil kita ini tidak begitu suka dengan bersatunya Uchiha dan Uzumaki."
Ada jeda panjang menyusul laporan Kakashi. Heiji tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Kakashi hanya diam menunggu perintah dari sang Tuan. Tidak berani mengganggu.
"Hubungi Pain. Suruh dia bekerja sama dengan Nagato. Aku mau strategi sempurna penyelamatan Karin. Gunakan cara apapun."
"Baik, Tuan. " Kakashi langsung mengerti tanpa Heiji jelaskan lebih lanjut. Saat code name Pain sudah dipanggil. Itu berarti Heiji sudah sangat – sangat serius dan ingin melakukan cara bawah tanah.
.
.
.
"Sasuke, bisa kau tidak mondar – mandir seperti itu? Kau membuat kepalaku pusing!" keluh Naruto kepada sang sahabat yang sedari tadi gelisah.
Tujuh jam sudah berlalu sejak penculikan Karin. Naruto tak habis pikir, hanya karena seorang Karin Sasuke bisa sebegini kacau.
"Tidak ada kabar apa – apa dari pamanmu Naruto?" Sasuke memilih menanyakan hal yang terus menggangu di pikirannya. Wajahnya boleh saja masih datar dan suaranya tetap tenang. Namun tidak bagi yang Naruto yang sudah mengenalnya luar dalam.
"Nah, Ayah hanya bilang jangan macam – macam, tunggu kabar selanjutnya dan jangan khawatir. Paman Heiji sudah mengerahkan Pain. Jadi, semua pasti semua akan baik – baik saja," ujar Naruto santai tanpa mengalihkan pandangannya pada layar handphone.
"Pain? Apa itu Pain? Maksudmu sakit?"
"Bukan apa tapi siapa." Untuk kali ini Naruto mengalihkan tatapannya dari layar Smartphone untuk menatap Sasuke. Suaranya semakin kecil seakan informasi yang akan diberikan benar – benar rahasia. "Aku juga belum pernah bertemu dengannya sih. Tapi dari yang kudengar, dia benar – benar hebat! Ketua Yakuza se-Jepang! Paman Heiji menggunakan Pain untuk sesuatu yang benar – benar serius dan tidak cukup dengan jalur 'biasa'. Katanya sih Pain belum pernah sekalipun gagal menjalankan misi yang diberikan oleh Paman Heiji. Jadi, Paman Heiji sangat percaya dengan kartu As-nya itu."
Sasuke tampak berpikir mencerna informasi dari Naruto.
Dia tidak sepenuhnya kaget Heiji ternyata diam – diam memiliki pengaruh juga di dunia bawah Jepang. Mengingat betapa mulus dan cemerlangnya karir beliau sebagai Perdana Menteri termuda dan tersukses sepanjang sejarah. Ia yakin Heiji tidak se-innocent yang selalu ditampilkannya ke publik.
Tapi tetap saja. Ia tidak bisa diam saja seperti ini layaknya pecundang pengecut. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan apapun ketika keadaan Karin entah seperti apa. Dia harus melakukan sesuatu.
Sasuke baru saja akan meraih pintu kamar Naruto untuk ke keluar ketika smartphone milik Naruto berdenging.
"Halo, Ayah? Apa? Karin sudah berhasil ditemukan?"
"…."
"Oke, baiklah Ayah kami tak akan kemana – mana."
"…."
"Apa maksud Ayah kami akan bertindak ceroboh? Kami bukan lelaki labil bodoh, Ayah! Lagian Ayah tahu kan, aku tidak mungkin mempertaruhkan leherku hanya demi Karin!"
"..."
Ayah tidak percaya pada anak kandung Ayah sendiri?"
"…."
"Ya, ya, ya. Kami akan tenang di rumah." Sergah Naruto malas sebelum menutup smartphone-nya dengan kesal.
"Apa yang dikatakan Paman Minato? Apakah Karin berhasil diselamatkan?" tanya Sasuke tak sabar.
"Yeah, mereka sudah berhasil menemukan lokasi penyekapan Karin akhirnya. Mereka sedang menyusun strategi penyelamatan. Deadline tebusan jam 7 pagi esok hari dan mereka berencana menyelamatkan Karin sebelum itu."
"Kau tahu dimana lokasinya?"
"Kalau tidak salah tadi sih katanya di bekas gudang Pelabuh-" Naruto mendadak menghentikan kalimatnya di tengah jalan dan memandang Sasuke penuh curiga.
Mereka berdua hanya diam dan saling menatap selama 1 menit penuh. Tapi tatapan sudah lebih dari cukup. Naruto sangat tahu apa yang ada di benak Sasuke saat ini. Matanya membulat kaget dan menggeleng tegas.
"Tidak, Sasuke. Tidak. Kau dengar kan tadi? Jangan melakukan hal gegabah sampai semua jelas."
"Ayolah, Naruto. Kau tidak mungkin sepengecut itu untuk patuh begitu saja pada nasehat Paman Minato, kan? Biasanya kau anak yang pembangkan!" ujar Sasuke memprovokasi.
"Sialan kau! Lagi pula, aku juga tidak diberi tahu lokasi tepatnya. Mereka hanya bilang Karin disekap di gudang bekas di salah satu pelabuhan."
"Jangan bilang kau tidak punya cara untuk mencari tahu informasi sepele seperti itu!"
"…."
Naruto terlihat meragu. Mungkin sedang menimbang – nimbang kemungkinan terburuk dan keuntungan dia membantu Sasuke. Sasuke tidak menyerah. Dia terus melancarkan provokasi.
"Yeah, tapi aku bisa mengerti. Well, kalau kau memang sepengecut itu, aku bisa memakluminya."
"Apa kau bilang? Jangan meremehkan Uzumaki Naruto. Gini – gini aku punya banyak link bahkan di pasukan khusus milik Paman!" ujar Naruto panas.
"Kalau begitu buktikan!"
"Oke, aku akna membuktikannya!"
Diam – diam Sasuke menyeringai. Untung saja sahabat kuningnya yang satu ini tidak terlalu pintar
.
-to be continue...
A/N:
Yeah, se-sepertinya sudah berabad - abad tidak update...
gomenne...
Saya harap masih ada yang menantikan cerita ini...
Chapter ini saya dedikasikan kepada LF-san..., makasih sudah setia menantikan cerita Illogically Loving...hiks hiks, saya terhuraaa...
...dan untuk teman - teman semua yang masih sudi membaca cerita ini...
semoga chap selanjutnya tidak semolor ini...
happy reading... :D
.
.
.
23.02.2019
hikarishe
