Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
Sepasang mata beriris biru itu mengerjap cepat sebanyak beberapa kali sebelum melebar sempurna. Bibir mahasiswa muda itu tampak terbuka dan tertutup karena sang pemilik sama sekali tidak menemukan kata pertama yang tepat untuk diucapkan.
Sementara pemuda berambut pirang itu nampak bingung, pemuda lain yang masih berdiri tepat dihadapannya terlihat menarik napas panjang.
Naruto ikut menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana cara menghadapimu akhir-akhir ini. Aku tidak bisa berkata bahwa kekesalanmu bukan salahku, tapi aku juga tidak bisa mengalak bahwa kekesalanku sendiri memang disebabkan oleh sikapmu," tutur Naruto tenang.
"Aku tidak bermaksud lari darimu, tapi bagaiaman bisa aku tidak melakukan itu? Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau memiliki perasaan semacam itu padaku."
"Kau memang bukan orang yang peka, Teme," Naruto menunjukkan cengiran lebarnya saat melihat raut kesal tersirat di wajah Sasuke. "Aku tidak menyalahkan ketidakpekaanmu."
Sasuke menggelengkan kepala dan tanpa ragu duduk di salah satu kursi kosong yang ada tepat di samping sang lawan bicara. Matanya kini mengarah lurus ke panggung kosong yang ada di hadapan mereka berdua.
Keputusannya untuk berbicara langsung dengan Naruto muncul setelah pembicaraannya dengan Itachi berakhir. Ia tidak tahu apa yang bisa membuat dirinya lebih baik selain meminta maaf dan berusaha memperbaiki sikapnya kepada sang Uzumaki. Bukan karena keinginannya untuk mengalahkan sang niisan, tapi karena perasaan bersalahnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Kau tahu, aku sudah sangat keterlaluan padamu dan aku tidak akan merasa tenang jika kau memaafkanku begitu saja."
Tipikal seorang Uchiha.
Naruto tersenyum dan menganggukkan kepala, mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya. Ia mengerutkan dahi, berusaha mencari ide apa yang harus dilakukan Sasuke sebagai ganti sikap menyebalkannya selama hampir satu bulan terakhir.
"Bantu aku menyelesaikan skripsiku," tuturnya memecahkan keheningan yang ada.
"Apa kau gila?"
Tawa pemuda berkulit kecoklatan itu kini memenuhi gedung pertunjukkan. Ia menggelengkan kepala, menyalahkan pemikiran Sasuke.
"Aku butuh asisten untuk membantuku mengetik hasil analisis, bukan untuk mengerjakan tugas akhirku yang sudah rampung, Teme."
"Skripsimu sudah selesai?" Sasuke membulatkan mata, takjub. Ia tidak tahu apa yang membuat Naruto bisa menyelesaikan prasyarat wisuda itu dalam jangka waktu hanya tiga bulan.
"Tidak bisa dikatakan sudah selesai juga karena masih ada beberapa bagian yang harus kuketik ulang karena revisi dua hari yang lalu, tapi selebihnya sudah kubereskan."
Sasuke mengglengkan kepala. Kalau ada orang selain Itachi yang bisa membuatnya kagum, Uzumaki Naruto mungkin adalah jawabannya.
"Kapan bisa kita mulai?"
"Sekarang, tentu saja. Kau pikir berapa Kakashi sensei memberiku waktu, hm? Aku harus menemuinya lagi lusa."
Tawa si pemuda berambut pirang kembali terdengar saat pemuda yang mengikuti tindakannya bangkit dari tempat duduk menunjukkan raut terkejut yang sangat. Tanpa ragu ia melangkahkan kaki menelusuri koridor kampus yang dipadati para mahasiswa. Saat makan siang memang selalu membuat loromg-lorong kampus padat seperti ini.
Sasuke menolehkan kepala saat sebelah tangannya ditarik pemuda yang masih melangkah tepat disampingnya. Pandangannya kemudian teralih pada segerombolan mahasiswa yang hampir saja menabraknya beberapa menit yang lalu.
Pemilik mata beriris gelap itu tampak mengerutkan dahi saat menyadari bahwa ada satu sosok yang tengah melemparkan tatapan tidak suka padanya.
.
-0-
.
"Kau gila."
Naruto berusaha menahan tawanya yang hampir meledak. Ia tidak mau membuat pengunjung perpustakaan lain yang duduk di satu ruangan dengannya merasa tidak nyaman. Ia menganggukkan kepala saat pandangan penuh tanda tanya mengarah padanya.
Sasuke menarik napas panjang dan mulai membiarkan jemarinya bergerak cepat diatas keyboard laptop yang ada di mejanya.
"Jangan sampai ada yang salah atau terlewat, Teme. Aku tidak mau bimbinganku selanjutnya gagal hanya karena bagian itu," tutur Naruto yang tampak sibuk dengan laptop lain diatas mejanya.
"Bagaimana bisa kau membaca semua buku ini, Dobe? Apa kau harus membaca semua ini hanya untuk membuat bagian Literary Review dan analisis?" Sasuke masih tidak mempercayai isi tulisan di dua lembar kertas yang baru saja diberikan Naruto padanya.
"Aku tidak punya pilihan, Teme. Kalau kau mau membuat skripsi yang bagus, kau memang harus mencari sumber yang bagus sebanyak mungkin. Beritahu aku kalau ada informasi yang tidak lengkap di catatanku itu."
Sasuke mengangguk dan mengalihkan pandangan dengan cepat dari lembar kertas berisi informasi buku yang biasa digunakan untuk bahan referensi dan layar laptopnya yang menunjukkan hasil ketikannya saat ini.
Keheningan yang hanya diisi dengan suara langkah lembut dan gesekan kertas harus diakui Sasuke sangat membantu konsentrasinya menyusun bagian referensi dari skripsi seniornya ini. Ia tidak menyangka bahwa dibalik sifat ceria dan sikap berisik Naruto, pemuda itu malah sering menghabiskan waktunya di tempat seperti ini.
Sasuke tentu tidak akan mengetahui fakta itu kalau saja ia tidak sengaja melihat daftar peminjaman buku yang ada di monitor penjaga perpustaan saat mereka datang tadi. Dari jumlah banyaknya buku yang pernah dipinjam Naruto hingga daftar kehadirannya yang panjang tentu Sasuke dengan mudah dapat menyimpulkan bahwa Uzumaki satu itu memang sering mengunjungi tempat ini.
"Berapa lama kau ingin melakukan ini sebagai ganti dari sikap acuhmu, Teme?"
"Sampai kau menyelesaikannya kalau perlu. Ujianku sudah selesai, tidak ada hal lain yang harus kulakukan sampai semester ini berakhir," Sasuke angkat bahu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau sebegitu inginnya meminta maaf padaku? Kau tahu, kau tidak perlu melakukan semua ini," ungkap Naruto sembari menutup buku yang tengah ia baca.
"Lalu apa yang harus kulakukan sebagai gantinya? Kau terlalu mudah memaafkan orang lain, Dobe."
Gumaman kalimat terakhir sang Uchiha berhasil membuat Naruto menggembungkan pipi. Nada bicara yang digunakan Sasuke membuatnya merasa kalau salah satu sifatnya itu tidaklah benar.
"Kau ingin aku memintamu melakukan apa kalau begitu?" pemuda pirang itu membalikkan pertanyaan. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu harus membalas tindakan Sasuke dengan apa, karena ia mengerti ketidaknyamanan yang Sasuke rasakan setelah pemuda itu mengetahui perasaannya. Toh ia juga sempat melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Sasuke saat ia mengetahui perasaan Itachi.
Sasuke lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat dan membiarkan mereka berdua tenggelam di keheningan yang sama seperti sebelumnya.
.
..
-0-0-0-
..
.
Sakura mengerutkan dahi dan menepuk bahu pemuda yang tengah memunggunginya saat melihat sosok itu menarik kembali tangannya yang sudah terulur.
"Sasuke, kami sudah menunggumu sejak tadi. Eh? Kau kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.
Kerutan di dahi sang Haruno tampak semakin jelas saat pemuda yang ditanyainya membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan ruang perpustakaan dimana mereka berada.
"Oh. Neji senpai, Naruto, kalian disini?" tanyanya ketika pandangannya kembali mengarah lurus kedepan.
"Ah, Sakura-chan! Ouch!"
Sakura berusaha menahan tawanya sebaik mungkin saat melihat senior pirangnya meringis pelan akibat jitakan telak yang diterimanya di puncak kepala. Adu death glare yang kemudian terjadi diantara kedua pemuda yang masih berdiri di salah satu koridor rak buku membuat gadis manis itu menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu kenapa aku harus menganggap kalian seniorku dengan sikap kekanakan kalian ini," cetusnya yang membuat kedua pemuda yang dimaksud tertawa pelan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto setelah tawanya reda.
"Menjemput Sasuke untuk latihan. Kalian mau ikut melihat latihan kami?"
"Hm."
Sakura tersenyum dan membalikkan tubuh, melangkahkan kaki lebih dulu dari dua pemuda yang mengikutinya.
"Aku tidak sabar melihat pementasan kalian nanti. Satu minggu lagi, bukan?"
Gadis berambut merah muda tampak menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan retoris senpai pirangnya. Ia menghentikan langkah untuk membuka pintu ruang pertunjunjukkan dan tanpa ragu langsung mendekati lawan mainnya yang tengah bercakap-cakap dengan salah satu pemain.
"Tega sekali kau meninggalkanku di perpustakaan," gerutunya sembari memukul pelan bahu pemuda berkulit pucat itu.
Sasuke menahan pergelangan tangan Sakura dan mendengus geli saat melihat raut kesal yang jelas terpampang di wajah sosok yang sama.
"Gomen," cetusnya setelah melepaskan pergelangan tangan yang digenggamnya.
"Mana sutradara? Kenapa latihan belum dimulai?"
"Kurasa dia masih menyelesaikan rapat dengan tim properti."
"Ah~ Aku akan menyusulnya kalau begitu. Jangan berani kabur lagi kau, Uchiha!"
"Hn," Sasuke mengerlingkan mata dan membiarkan gadis manis dihadapannya melangkah pergi.
"Kau tadi di perpustakaan? Kenapa aku tidak melihatmu?" Naruto mendekati pemeran utama pria itu.
"Hn, aku ingin menyerahkan hasil kerjaku tapi ponselku bergetar jadi aku cepat-cepat keluar dari tempat itu. Kau bisa mengambilnya nanti setelah latihan ini selesai," papar Sasuke tenang.
"Ah, kau sudah menyelesaikannya? Cepat sekali," Naruto menaikkan alis, takjub dengan kemampuan mengetik yang dikuasai adik tingkatnya.
"Aku tidak perlu berpikir saat mengerjakannya karena aku hanya harus mengetik ulang hasil kerjamu, jadi aku tidak menghabiskan banyak waktu. Apa masih ada yang harus kukerjakan?"
Naruto tampak berpikir beberapa saat sebelum mengangguk. Pandangannya beralih cepat saat melihat dosen pembimbingnya keluar dari backstage. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari untuk menyapa lelaki berperawakan tegak itu.
"Kau sudah menyadari kesalahanmu?"
"Setelah kau menamparku—tidak dalam artian yang sebenarnya—tentu saja aku menyadarinya."
Neji sama sekali tidak menyembunyikan seringai kemenangan. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan menatap pemuda pirang yang sedang bercakap riang.
"Aku tidak menyukainya, tapi aku harus berterima kasih padamu karena sudah membawanya kembali."
Sasuke menatap pemuda di sampingnya dengan kerutan jelas di dahi.
"Aku tidak melakukan apapun," tuturnya.
"Tanpa melakukan apapun saja kau bisa membuatnya kembali menjadi seorang Uzumaki Naruto. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau kau melakukan sesuatu," ungkap Neji ringan. "Kalau kau merasa iri kepada Itachi, kurasa dia jauh lebih iri padamu kalau dia mengetahui kau sudah membuat Naruto 'normal' kembali."
"Aku tidak mau menghubungkan kedekatanku dan Naruto dengan sifat dasarku terhadap Itachi itu."
Neji menganggukkan kepala, merasa bangga karena perkataannya tempo hari benar-benar berhasil mengembalikan kewarasan pemuda di sebelahnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan perasaannya padamu? Kau tidak lupa kalau Naruto menyukaimu kan?"
Pertanyaan sang Hyuuga berhasil membuat helaan napas meluncur mulus dari bibir Sasuke. Kadang ia berpikir kenapa salah satu seniornya ini tidak bisa, untuk sekali saja, tidak menyerangnya secara langsung.
"Kami belum membicarakan hal itu lagi, tapi sejak awal aku sudah memberitahunya kalau aku tidak memiliki perasaan yang sama dan kurasa dia mengerti."
"Dia memang mengerti, tapi apa kau pikir dia bisa terus menahan perasaannya? Kau tidak berencana untuk menjauhinya lagi setelah ini kan?" Neji menekankan pertanyaan yang terakhir ia lontarkan.
"For the God's sake, just gimme a little break, won't you?"
Neji melepaskan tawa dan menepuk bahu pemuda yang tengah memijat dahinya perlahan. Ia meremas salah satu sisi bahu mahasiswa muda itu dan membalas tatapan sepasang mata beriris oniks yang mengarah padanya dengan tatapan tenang, tanpa menyadari adanya sepasang mata tajam yang memperhatikan kedekatan keduanya dari sudut ruangan.
.
.
TBC
.
.
ReviewReply:
.
.
Ch-A: better than the last? Which 'last' that you mean? (O.O) Penulis? Novelis? Bukan, bukan. Menulis cuma jadi hobi saya. PM as in Private Message. Kalo Ch-A punya akun di FFn, kita bisa ngobrol lebih pribadi lewat PM. Yep, terima kasih~~ (^^) Ah, ya, di review selanjutnya, penname 'no name'-nya diganti sama inisialmu ya~ :D
dedechan: ah, untuk yang satu itu bakal terungkap dua atau tiga chapter lagi. Berhubung saya ga menulis banyak di tiap chapter, jadi butuh waktu cukup lama buat sampe ke bagian itu. Gomen (^^)
Kicchan: benarkah? Mwahahahaha, bagus dong kalo gitu XD #girang. Udah mulai jelas kan ceritanya? Di tiap chapter bakal banyak hal yang terbongkar kok (^^) Konoha's Academy? Wah, kebetulan, saya lagi siap-siap buat publish salah satu koleksi side story mereka. Mohon kesabarannya untuk menunggu ya, Kicchan~ :D
