Genre

Drama, Romance, Mystery

Rating

M

Length

Chaptered

Warning

Mpreg, yaoi, BDSM, adult fic, sexual content, mention of rape, gore, lots of alcohol, violence and abuse.

.

.

Perlahan kelopak mata sayu itu terbuka, masih menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Baekhyun melihat ke penjuru ruangan.

Ini bukan atap rumah Chanyeol yang biasa ia tempati apalagi rumah Ayahnya. Cat ruangan ini di dominasi berwarna putih.

Ketika tangannya terangkat menyentuh dahinya ia baru sadar punggung tangannya tertusuk jarum infus. Sakit dikepalanya masih berdenyut.

Kepala Baekhyun menoleh saat pintu ruangan terbuka, yang Baekhyun kenal adalah temannya, Kyungsoo. Dan lelaki asing bermata rusa.

"Jangan paksakan dirimu, Baek."

Dahi Baekhyun mengernyit saat ia mencoba bangun dari tidurnya. "Dimana aku?"

"Kau berada dirumah sakit. Apa kau mau aku memanggilkan Dokter?"

Baekhyun menggeleng lemah, "apa yang terjadi padaku?"

Kyungsoo melirik Luhan untuk meminta bantuan. "Kau tidak ingat?" tanya Luhan.

Baekhyun menggeleng lagi, matanya menatap Luhan aneh.

Yang ditatap merasa tahu apa yang di pikirkan lelaki cantik ia mulai memperkenalkan diri. "Aku Luhan, kekasih Oh Sehun." Luhan mengulurkan tangannya dan disambut balik Baekhyun.

"Apa bayimu baik-baik saja?" tanya Kyungsoo, sebenernya ia cukup terkejut ketika mendengar temannya mengundurkan diri dari sekolah secara tiba-tiba, dan mulai bertanya pada Jongin apa yang terjadi pada Baekhyun. Karena Jongin salah satu sumber informasi untuk mengetahui kabar Baekhyun. Yang dijawab bahwa lelaki mungil itu hamil karena Chanyeol yang menghamilinya.

Dengan perut yang akan membesar dan siswa-siswi akan mencurigai Baekhyun maka Chanyeol memutuskan untuk melanjutkan study Baekhyun dengan homeschoolling. Tentu yang dikatakan Jongin membuatnya begitu terkejut dan semakin terkejut ketika yang dikatakan Jongin memang benar, ketika ia mendengar Dokter menjelaskan keadaan bayi dalam perut Baekhyun.

Lelaki Byun itu seketika memegang perutnya, lalu pikirannya terahli pada hal lain. "Chanyeol?!"

...

"Tenang, oke?"

"Tenang? Apa kau gila?! Aku ingin bertemu dengan Chanyeol, jangan halangi aku!" Kyungsoo juga tidak ingin melarang Baekhyun untuk bertemu dengan Chanyeol tapi Jongin memberitahunya untuk mencegah Baekhyun kalau lelaki itu teringat akan kejadian kemarin.

"Baekhyun, kau masih lemah dan seperti yang kita bilang Chanyeol baik-baik saja. Kau bisa menjenguknya besok dan sekarang istirahatlah." Luhan ikut membantu Kyungsoo menenangkan Baekhyun yang keras kepala.

"Apa kalian tega menjauhkan bayiku dari Daddynya?" Kedua lelaki itu mengerang ketika melihat mata sayu Baekhyun yang memohon, apalagi ia memakai alasan bayinya.

"Maaf, bukannya ingin menjauhkan kalian tapi kau masih butuh istirahat. Aku janji besok kita akan menjenguk Chanyeol." Lelaki bermata doe itu mencoba negoisasi sekali lagi.

Baekhyun menghela nafas, lalu mengangguk. "Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu." Baru saja Kyungsoo ingin membantah ucapan Baekhyun, lelaki itu lebih dulu memotong. "Jadi, ceritakan keadaan Chanyeol yang sebenarnya." Baekhyun menekan kata akhir, membuat Kyungsoo dan Luhan meneguk ludahnya dengan susah payah.

...

Seperti yang dijanjikan Kyungsoo, lelaki itu membawa tubuh Baekhyun dengan kursi roda ke kamar rawat Chanyeol. Disana, diluar ruangan yang lainnya menunduk sedih ketika melihat kedatangan Baekhyun.

Bisa dikatakan raut wajah mereka sama seperti dengan Baekhyun. Sedih serta muram. "Ayo, Kyungsoo." ucap Baekhyun lemah, ia sudah mempersiapkan semuanya.

Kyungsoo mendorong kursi roda yang diduduki Baekhyun ke dalam kamar rawat Chanyeol. Hal pertama kali yang ia lihat begitu menyesakkan dadanya, Chanyeol yang berbaring di ranjang dengan ditemani alat elektrokardiogram, selang yang menghubungkan dengan paru-parunya, dan tidak ada tanda-tanda dimana Chanyeol akan sadar. Yang artinya lelaki tinggi itu dinyatakan koma untuk waktu yang tidak diketahui.

Baekhyun mengenggam sebelah tangan Chanyeol, membawa ke pipinya. Merasakan hangatnya tangan Chanyeol. "Aku tidak akan menangis, karena kau tidak akan pergi kemana-mana, aku juga tidak akan memarahimu maka dari itu bukalah matamu, hm?"

Tidak ada jawaban, hanya suara pendekteksi jantung yang terus bersuara menandakan bahwa Chanyeol masih hidup, hanya saja Chanyeol terlalu betah menutup mata.

"Aku ingin kau yang menamai bayi ini, jadi cepatlah bangun. Jangan terlalu lama tertidur, kau tau aku dan baby merindukanmu."

Baekhyun terus menceritakan tentang masalah kecil, dimulai dari ia cemburu dengan Kyungsoo dan Luhan yang selalu bermesraan didepan dirinya, atau ketika Kyungsoo memarahinya yang persis seperti seorang Ibu. Hal-hal itu membuat Baekhyun tersenyum hanya saat berada disisi Chanyeol.

Dan ketika Baekhyun menyendiri lelaki itu akan menangis sepanjang hari sampai ia tertidur karena kelelahan menangis. Yang lainnya menatap prihatin pada Baekhyun, mereka juga meminta maaf karena lalai menjaga Chanyeol, dan betapa baiknya Baekhyun hanya mengatakan "itu bukan salah kalian, terima kasih sudah menjaga Chanyeol selama ini", mereka tahu bahwa Baekhyun tidak mau membagi kesedihannya.

...

"Kau sudah siap?"

"Ya,"

Baekhyun turun dari mobil, sebelum melangkah ia menarik nafas terlebih dahulu. Kyungsoo menepuk bahu Baekhyun, "ayo."

Mereka berjalan ketempat makam, seorang pria tua membacakan doa-doa untuk menghapus dosanya saat masih hidup. Ketika upacara itu sudah selesai, beberapa orang meninggalkan bunga diatas gundukan tanah.

Baekhyun menatap sedih kearah makam, sebuah genggaman erat dari Kyungsoo sebagai tanda menguatkan dirinya. Baekhyun tersenyum, ia merasa bersyukur mempunyai teman seperti Kyungsoo.

"Hai, Baekhyun." Seorang wanita menyapa dirinya, Baekhyun ingat wanita di depannya. Yang dulu pernah membantunya saat ia masih bersekolah.

"Hai, Krystal." sapanya dengan senyuman, matanya kini mulai melirik seorang wanita yang berada di kursi roda. Ia juga ingat wanita itu tapi dia tidak tahu bahwa Krystal mempunyai hubungan dengan Jessica.

Krystal mengikuti arah mata Baekhyun, ia tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. "Dia saudara kembarku, kita tidak identik. Jika itu yang kau pikirkan." Baekhyun menunduk malu karena Krystal mengetahu isi pikirannya. "Bisa kita berbicara sebentar?" tambahnya.

Lelaki mungil itu mengangkat kembali kepalanya, lalu menoleh ke arah Kyungsoo, memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua.

Kyungsoo mengangguk paham, mengambil ahli Jessica yang wajahnya tidak pernah berubah pasca terbangun dari komanya, masih dengan wajahnya yang dingin dan tatapan kosong. Seperti jiwanya yang hilang ke alam lain tapi tubuhnya masih berada didunia.

Kini Baekhyun dan Krystal yang tersisa, Krystal menyarankan untuk duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari kawasan Kyungsoo.

"Aku.." Krystal memulai dan mencoba menatap Baekhyun dengan perasaan bersalah. "Aku ingin menceritakan sesuatu padamu yang tidak pernah kau ketahui."

...

Saat itu, jauh sebelum Baekhyun bertemu dengan Chanyeol. Akar dari masalah semuanya terjadi, dimana sesuatu yang jahat disebut dengan kebencian tumbuh menjadi sosok yang menakutkan.

Sebuah keluarga yang dipenuhi kebahagian merayakan pesta pengangkatan penerus perusahan keluarga Jung. Tuan Jung mengumumkan bahwa putri mereka yang bernama Jung Krystal, akan diwariskan sebagai penerus perusahaan itu. Semua orang bersorak bahagia tapi tidak untuk dua wanita itu.

Jessica marah pada Ayahnya yang seharusnya ialah penerusnya karena Jessica yang lebih tua daripada Krystal. Dan Jessica mulai membenci saudara kembar tidak identiknya, satu hal yang tidak diketahui bahwa Krystal tidak ingin kekuasaan itu. Tapi Jessica buta akan kebenciannya sendiri, perlahan ia mulai menjauh dari Krystal. Ia cemburu ketika orang tuanya membanggakan Krystal seakan-akan ia tidak pernah ada.

Krystal sedih ketika tahu bahwa kakaknya mulai menjauhi hanya karena Ayahnya memilih ia sebagai penerus perusahaan. Tidak pernah ada yang tahu jika Krystal harus membuang mimpinya sebagai seorang Dokter dan alih-alih menjadi CEO dimasa depan, tidak ada yang pernah tahu bahwa ia harus menelan kepahitan hidupnya ketika melihat kakaknya tidak pernah lagi tersenyum bahagia maupun bertukar sapa padanya. Pernah sekali ia membicarakan pada Ayahnya tentang ahli waris untuk diberikan pada Jessica dan reaksi Tuan Jung marah besar karena Krystal hanya membuang-buang kepintarannya untuk menjadi seorang Dokter, pada akhirnya ia tidak akan pernah bisa membantah ucapan sang Ayah.

Sampai pada dimana hari orang tuanya mengangkat seorang lelaki yatim piatu yang bernama Daehyun. Disitulah Krystal melihat kehidupan seorang Jessica hidup kembali. Ia tahu bahwa kakaknya menyukai saudara tiri mereka, maka ia bersumpah pada dirinya akan terus membuat Jessica selalu tersenyum.

Tapi lagi-lagi ia harus menelan kepahitan hidupnya, saat itu Jessica kembali menjadi sosok yang dingin ketika mendengar bahwa Daehyun mempunyai seorang kekasih. Dan Krystal telah bersumpah pada dirinya untuk selalu membuat kakaknya kembali tersenyum.

Pada saat itu ia tidak sengaja mendengar percakapan Ayahnya dengan Daehyun, memberitahu bahwa orang tua lelaki itu dibunuh oleh keluarga bermarga Park. Krystal tidak mengerti mengapa Ayahnya menghasut lelaki itu untuk menghancurkan keluarga Park, tanpa diketahui ucapan Tuan Jung menyisahkan balas dendam itu pada diri Daehyun.

Dan secara diam-diam, Krystal melamar menjadi guru disekolah yang sama dengan Daehyun dan pria bermarga Park itu.

Ia mencoba mencari latar belakang Park Chanyeol yang sering di ucapkan Ayahnya. Semua kriminal Chanyeol terkuak yang terjadi dimasa kecil lelaki itu. Chanyeol seorang pembunuh berantai atau biasa disebut robot pembunuh, tapi semua kejahatan lelaki itu dihapus dengan mudah karena Ayah Chanyeol yang menutupinya.

Berita pengumuman pertunangan antara Daehyun dan Jihye terdengar sampai ke telinga Jessica. Wanita itu hancur dan melampiaskan dengan mabuk-mabukkan. Krystal tidak tahan melihat kakaknya yang terus-terusan hancur, ia memulai merencanakan rencana untuk menjadikan Daehyun hanya untuk Jessica, kakaknya.

Saat itulah Krystal mendatangi kediaman Park, meminta bantuan. Krystal melihat lelaki itu sebagai sosok yang menyeramkan, ia tahu bahwa ini akan menukar nyawanya dengan seorang iblis. Krystal meminta Chanyeol untuk menjauhkan Daehyun dari Jihye tanpa membunuh wanita itu dan sebagai gantinya sebagian saham perusahan Jung akan diberikan. Tapi Chanyeol tidak mau saham keluarganya, lelaki itu menginginkan pengabdian. Maka dengan lantang Krystal menyetujui bahwa ia akan mengabdi pada keluarga Park.

Kesepakatan tetap kesepakatan.

Tak lama kemudian, kabar Jihye hamil anak Park Chanyeol terdengar sampai ke telinga Daehyun. Lelaki itu marah dan menambah kebencian terhadap Chanyeol yang telah merenggut kedua orang tuanya dan kekasihnya. Balas dendam yang berdarah daging itu menyatu bercampur aduk dan menjadi sosok yang menyeramkan.

Krystal kira dengan memisahkan Daehyun dan Jihye akan mudah untuk mendekatkan Daehyun pada kakaknya tapi tidak, ketika Jessica melihat seorang yang ia cintai mulai jatuh dalam kesedihan membuat hatinya sakit seperti apa yang lelaki itu rasakan. Sakit dan tidak bisa diobati.

Jessica bangkit dan membantu balas dendam Daehyun.

Siapa yang tahu bahwa balas dendam itu adalah akar dari semua ini? Masalah yang sulit untuk di tangani. Bermula dari kesalahpahaman Jessica, lalu menjadi kisah percintaan antara Brother Complex, dan pada akhirnya hanya dendam dimasa lalu yang tak pernah akan ada habisnya.

"Baekhyun kau baik-baik saja?" Kyungsoo menatap khawatir, Baekhyun terus menatap kosong sejak kembalinya dari pertemuan dengan Krystal. Lelaki mungil itu bahkan terlihat pucat, Kyungsoo meruntuki Krystal yang telah membuat Baekhyun seperti ini.

Baekhyun tersenyum lemah, "aku baik." Kepalanya kembali melihat ke luar jendela. Menatapi orang-orang dipinggir jalan.

...

5 bulan kemudian.

"Baekhyun jangan berlari-lari, ingat perutmu sudah membesar!" Baekhyun terkekeh mendengar omelan Kyungsoo. Tangannya membawa belanjaan yang berisi pakaian bayinya dan juga ingin memberi kejutan pada seseorang tentang jenis kelamin bayinya.

Ketika sudah sampai di ruangan itu, Baekhyun membuka pintu dengan pelan. Kepalanya ia tolehkan kedalam, "apa aku mengganggu kalian?"

Kris, Jongin dan Sehun menggeleng serempak. Mereka berjalan ke depan pintu tempat Baekhyun berdiri. "Masuklah, aku akan meninggalkan kalian berdua." ucap Kris sebelum meninggalkan ruangan tersebut yang diikuti Jongin dan Sehun.

Baekhyun berjalan ke arah ranjang, posisi Chanyeol masih sama terbaring di atas ranjang dengan ditemani alat elektrokardiogram, bedanya hanya tidak ada lagi selang yang menyumpat dimulut Chanyeol. Semakin hari kesehatan Chanyeol telah memulih tapi lelaki itu masih betah tertidur sampai sekarang.

"Lihat!" Baekhyun dengan wajah berbinar menunjukan foto USG janinnya. "Dia sangat tampan, aku cemburu bayi kita sepertinya akan mirip padamu." Baekhyun memajukan bibirnya. "Dan kau tau saat Dokter memberitahu bahwa bayi kita adalah baby blue aku langsung menarik Kyungsoo untuk menemaniku membeli pakaian anak kita." Baekhyun terkekeh, "wajah Kyungsoo sangat lucu saat dia marah."

Baekhyun mulai mengeluarkan belajannya dari pakaian bayinya sampai mainan. "Chanyeol cepatlah bangun, kalau tidak black card mu akan aku habisi." Baekhyun mengelus wajah Chanyeol, "aku sudah mempunyai sebuah nama untuk bayi kita nanti." Lelaki mungil itu mendekatkan bibirnya pada telinga Chanyeol. "Kau ingin tau?" tanyanya. Baekhyun tahu bahwa Chanyeol tidak akan menjawab pertanyaannya tapi dia merindukan suara lelaki tinggi itu. "Aku akan memberitahumu, nama jagoan kita..." bisiknya, airmata ikut turun ketika ia memejamkan matanya.

"...dia Park Richard."

Baekhyun merasa pipinya basah, saat menjauhkan wajahnya. Baekhyun sempat mengira jika airmatanya jatuh ke pipi Chanyeol tapi saat tetesan airmata lain jatuh berasal dari ekor mata Chanyeol, Baekhyun merasa bahwa lelaki tinggi itu mendengar ucapannya.

Namun saat Baekhyun ingin memberitahu yang lain bahwa Chanyeol mendengar apa yang ia ucapkan. Pergerakan Baekhyun berubah kaku ketika melihat tubuh Chanyeol yang mulai kejang-kejang. Baekhyun berubah panik dan terus berteriak memanggil Dokter sampai Kris datang melihat apa yang terjadi lalu dengan cepat memanggil Dokter.

Baekhyun melihat monitor ICU itu yang memperlihatkan detak jantung Chanyeol yang mulai melemah. Airmatanya tidak bisa ia tahan, Kris datang bersamaan dengan Dokter dan suster. Dan mengambil ahli tubuh Baekhyun yang mulai menggila, membawanya keluar ruangan.

"Baekhyun tenanglah, Dokter sudah menanganinya." bisik Kris sambil mengelus punggung Baekhyun yang bergetar dan menangis.

"Kris.. Chanyeol..dia mendengar ceritaku. Aku melihatnya dia menangis ketika aku memberitahu nama anaknya." ucap Baekhyun terbata-bata karena tangisannya yang semakin kencang. Kris hanya bisa membisikkan kata 'Chanyeol akan baik-baik saja' dan 'dia akan bangun'.

Sudah hampir setengah jam Dokter yang berada di ruangan Chanyeol belum juga keluar. Itu membuat Baekhyun resah, Kyungsoo memeluk Baekhyun dan menenangkan lelaki itu.

Dan saat pintu terbuka, Dokter keluar dengan wajah yang tersirat penyesalan. "Tuan Park sempat dalam masa kritis dan untunglah kita tepat waktu." Baekhyun mengigit bibir bawahnya, menunggu kelanjutan dokter itu. "Tuan Park, masih dalam masa koma. Maaf saya tidak bisa memberitahu sampai kapan Tuan Park akan bangun dari koma." Dokter itu membungkuk sopan, "saya permisi."

Setelah Dokter itu melenggang pergi, Baekhyun memasuki ruangan yang dingin. Lelaki mungil itu mendekati ranjang Chanyeol, mengambil tangannya dan menciumi punggung tangan Chanyeol.

Perlahan yang lainnya meninggalkan ruangan, meninggalkan keduanya. Baekhyun terus menangis disebelah Chanyeol sambil menggengam tangan lelaki tinggi itu. Sampai rasa kantuknya menyerang.

"Richard..." gumam Baekhyun sebelum alam sadar mengambil ahli tubuhnya.

...

"Richard..."

Mata anak kecil itu menatap tubuh seorang wanita yang akan kehilangan nyawanya. Tubuhnya bergetar ketika melihat darah bercucuran disekitar kepala wanita itu, kini matanya berahli pada tangannya yang sedang memegang sebuah pistol.

"Tembak wanita itu."

Richard kecil menggeleng lemah, dia tidak mau menjadi seorang pembunuh.

"Kau menentang perintah Ayahmu ini, Richard?"

Kepala Richard kecil menoleh ke belakang, mendapati sosok Ayahnya sedang duduk dengan tenang di dalam kegelapan.

"A-Ayah," lihirnya.

"Jangan panggil aku Ayah jika kau tidak mau mengikuti perintahku!"

Richard kembali menatap sosok wanita yang sekarat.

"Benar, habisi nyawa wanita itu. Maka rasa sakitnya yang dia tanggung tidak akan terasa lagi."

Seakan tubuhnya tersihir, pistol itu mengarah ke arah wanita itu dengan tangan gemetar Richard kecil menarik pelatuknya.

Dor!

Tubuh wanita itu kini sudah tak bernyawa lagi, suara tawa keras Ayahnya membuat tubuh Richard kecil mengigil ketakutan. Pistol yang ada di tangannya ia lempar entah kemana. Tubuhnya merosot kebawah sambil menutup kedua telinganya, suara tawa Ayahnya masih menggema di ruangan. Sebuah tangan mengkaburkan pengelihatannya. Sampai bisikan merdu itu menenangkan hatinya.

"Jangan menangis Richardku sayang.."

Richard kecil menengok kebelakang, sosok wanita yang paling ia cintai sepanjang hidupnya. Wanita yang ia anggap sebagai malaikatnya.

"Ibu.." tangisan Richard pecah ketika melihat Ibunya tersenyum padanya. Senyuman itu sudah lama ia tidak melihatnya, wajah Ibunya bersinar cantik. Bahkan jika ini hanya mimpi ia tidak akan pernah mau terbangun dari mimpi ini sampai kapanpun. Dia tidak mau kehilangan Ibunya.

"Kau sangat tampan, anakku."

Richard kecil memeluk Ibunya begitu erat sampai wanita itu terkekeh geli melihat kemanjaan putranya.

"Kau tumbuh dengan baik." Ibunya menghapus airmata dipipinya, Richard kecil baru menyadari suara Ayahnya telah hilang dan ia tidak lagi berada ditempat yang sebelumnya. Kini ia seperti berada di surga. Semuanya putih.

"Jangan tinggalkan aku lagi." cicit Ruchard kecil, masih memeluk Ibunya.

"Aku tidak akan kemana-mana sayang, aku akan selalu berada dihatimu."

"Chan. Yeol. Park. Chanyeol!" suara teriakkan tidak asing menyadarkan keduanya.

Richard kecil melepaskan pelukannya dan menengok kebelakang. Sosok lelaki kecil sedang melambaikan tangannya dengan wajah antusias, senyuman lelaki itu tidak pernah luntur.

"Siapa lelaki itu? Sepertinya dia menyukaimu." goda Ibunya membuat Richard kecil kembali menoleh kearah Ibunya.

"Aku ingin disini bersama Ibu." Richard kembali memeluk Ibunya dengan erat, mengindahkan panggilan yang tidak asing dari lelaki mungil itu.

"Kau tidak seharusnya berada disini, lelaki itu menunggumu."

Richard menggeleng lemah, hatinya sudah memilih untuk tidak meninggalkan Ibunya lagi.

"Richard," panggil Ibunya dengan tegas. "Tidak ada yang melukaimu lagi, pulanglah. Belum waktunya kau disini, hidupmu masih panjang anakku." Tangan Ibunya terangkat, mengelus surai hitam Richard kecil. "Apa kau memaafkan Ibumu ini?"

Richard kecil mengangguk sambil memeluk Ibunya, "aku memaafkanmu, Bu." Setetes airmata jatuh di pipi wanita itu dan membalas pelukan anaknya untuk terakhir kalinya.

"Terima kasih," Ibunya mencium dahi anaknya. Mata Richard kecil terpejam, menikmati hangatnya ciuman Ibunya. Tanpa sadar sosok Ibunya telah menghilang.

Sampai sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. "Chanyeol, ayo kita bermain."

Richard kecil menoleh pada sosok lelaki berparas cantik, ketika Baekhyun kecil itu tersenyum dan matanya akan berbentuk bulan sabit. Satu tangan Baekhyun kecil mengenggam boneka kelinci.

"Ada apa Chanyeol? Aku terus memanggilmu tapi kau menghiraukan aku dan Mr. Bunny." Baekhyun kecil memajukkan bibirnya, ia merasa gemas dengan lelaki didepannya ini.

Tidak menunggu Richard kecil membuka suara lelaki mungil itu sudah menarik tangannya dan berlari ke arah cahaya yang bersinar.

...

Baekhyun merasa ada sebuah tangan yang mengelus rambutnya dengan lembut. Ketika kesadarannya sudah mengambil ahli, kepalanya terangkat, dan matanya membelak terkejut melihat Chanyeol sudah membuka mata.

"Chanyeol!" Baekhyun buru-buru pergi keluar memanggil Dokter.

"Terima kasih sudah bangun." Lelaki mungil itu menghapus airmata kebahagiannya. Dari arah pintu, Dokter dan yang lainnya memasuki ruangan.

Seorang yang memakmemakai jas putih mulai memeriksa kondisi Chanyeol. "Tidak ada kecacatan, Tuan Park sudah sembuh total. Saya akan menjadwalkan terapi untuk syarafnya, kalau begitu saya permisi dulu."

Baekhyun mendekati ranjang disebelah Chanyeol, dia ingin memeluk lelaki tinggi itu tapi rasa keinginannya ia tahan. Sebagai gantinya Baekhyun mengenggam kembali tangan Chanyeol dan membawa ke pipinya. "Aku merindukanmu."

Chanyeol tersenyum lemah, "aku.. juga.. merindukanmu." suara Chanyeol terdengar serak, dan rasa rindunya terbalas.

Baekhyun kembali menangis, ia merasakan janinya menendang perutnya. Mungkin bayinya juga merasakan bahwa Daddynya sudah kembali. Yang tadinya tangan Chanyeol berada di pipi Baekhyun kini ia membawanya ke perut yang sudah membuncit.

Mata Chanyeol melihat perut Baekhyun yang sudah membesar, ia merasa bersalah tidak berada disisi Baekhyun saat pertumbuhan bayinya. "Dia baby blue, seorang jagoan tampan sepertimu."

"Maafkan..aku,"

Baekhyun menggeleng tidak setuju, "Tidak apa, aku senang kau sudah membuka matamu. Jangan seperti ini lagi."

Chanyeol tersenyum, "kemarilah." Baekhyun langsung berhambur ke pelukan Chanyeol.

"Ayo, kita keluar dari rumah sakit sialan ini." Chanyeol terkekeh mendengar ucapan Baekhyun, lalu mencium bibir lelaki mungil itu. Rasanya manis dan rindu ketika bibir mereka menyatu.

Semua orang yang tadinya melihat adegan mengharukan ini mulai memutar bola matanya melihat adegan ciuman Chanyeol dan Baekhyun.

"Kukira Bos kita sudah kembali seperti biasa,"

Baekhyun terkekeh mendengar ucapan Jongin dan tawa dari lainnya.

TBC

A/N : He-yo!

*elektrokardiogram : alat untuk mendekteksi jantung pasien.

Yang nanya Baekhyun ke makam siapa, itu makam Daehyun. Dan kenapa Jessica masih hidup? Ingin aja hehe~

Untuk baekh910 : Umur Baekhyun dan Chanyeol sama-sama 18 tahun. Balik ke chapter 7 disitu flashback aku sertai tahun 2003. Chanbaek saat itu berumur 11 tahun. Mereka tetep pada tahun kelahirannya 1992. Dan dimasa sekarang aku pakai tahun 2010. Apa pertanyaanmu sudah terjawab? Kalau masih bingung bisa tanya lagi. Terima kasih~

Untuk selepy : Ini panjang kok, 3k words hehe, semoga gak ngebosenin ya.

1 chapter lagi end, yey.

Tangan gatel mau bikin ff baru, huft. Tapi aku tahan biar ff lama gak pending mulu.

Terima kasih untuk semangatnya, semua!

I Love U.

xoxo,

bub.