Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Inspiride by : OreImo
Summary : Punya adik perempuan yang sangat manis dan imut, hebat dan berbakat menjadi ninja, serta menjadi idola banyak orang tentu menjadi kebanggaan buat seorang kakak. Tapi itu tidak berlaku untuk Bolt, apa yang bisa dibanggakan dari adik perempuan yang sombong, egois, suka seenaknya, menyebalkan, pemarah, dan ceroboh seperti Himawari? Tentu saja, TIDAK ADA. Disinilah kesabaran seorang kakak di uji. Simak saja ceritanya. . .
Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family
Rate : T
Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan
Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.
Ahad, 25 Oktober 2015
Happy reading . . . . .
Sebelumnya . . . . .
Namun setelah beberapa menit, anak kecil yang ditunggu-tunggunya tidak kunjung kembali.
"Aduuh, kemana sih dia. Es krimnya jadi mencair gini. Kan sayang jadinya" kata Himawari agak kesal setelah menatap es krim cone yang tampak sudah mencair dan meleleh hingga membuat tangan Himawari yang memegang es krim itu sedikit belepotan. "Hah, mungkin dia tidak akan kembali lagi. Ku apakan ya eksrim ini? Aku sedang diet, tapi sayang kan kalau dibuang"
"Lebih baik ku makan saja deh, di liatin terus dari tadi es krim ini membuatku jadi haus. Nanti kalau dia kembali, belikan saja lagi es krim yang baru." kata Himawari dalam hati lalu memakan kedua es krim ditangannya.
Lama Hima menunggu, namun yang datang malah teman setimnya. Karena waktu kereta yang akan membawa mereka ke konoha tiba sebentar lagi, mereka segera saja bersiap berangkat. Himawari pun sudah melupakan tentang anak kecil yang minta dibelikan es krim tadi.
My Cute Sister? Nonsense
By Si Hitam
Chapter 9. Himawari Terjerat Kasus Pidana, Part II.
Fasilitas transportasi umum benar-benar mendapat perhatian serius dari pemerintah Konoha. Salah satu buktinya adalah kereta yang sedang ditumpangi oleh empat orang gadis ini. Kereta yang melaju cepat tanpa hambatan, tidak ada antrian dan tidak berdesak-desakan bukti bahwa pemerintah benar-benar memberikan pelayanan terbaik dengan sarana transportasi umum ini.
Dan didalam kereta itulah, empat gadis kunoichi duduk dengan nyamannya di kursi penumpang. Duduk saling berhadapan karena mereka berempat mengambil kursi kelas eksekutif.
"Hima-chan, aku haus. Boleh minta air minum milikmu?" pinta Amaru
"Sebentar Amaru-chan" jawab Himawari. Diapun mengambil tasnya.
Cukup lama Himawari mengubek-ubek isi tas, membuat Amaru yang sedang kehausan jadi tidak sabaran.
"Ada apa Hima-chan? Kenapa lama sekali sih mengambil air minumnya?" tanya Amaru yang bingung dengan kelakuan Himawari yang sudah cukup lama mengubek-ubek isi tas hanya untuk mencari botol air minum.
"Ah, bagaimana ini?" gumam Himawari panik tanpa mempedulikan pertanyaan Amaru.
"Ada apa sih Hima? Kok dari tadi tidak bisa diam" tanya Ryuzetsu yang merasa sedikit terganggu dengan kelakuan Himawari.
"Gulungan penyimpanan yang kita bawa hilang." kata Himawari sendu.
"HAH. . ! Bagaimana bisa.?" serentak ketiga gadis lainnya terkejut.
"Sudah kucari-cari dari tadi di tasku, tapi tidak ketemu" jawab Himawari.
"Coba cari lagi deh yang benar Hima-chan" Amaru mulai ikutan panik.
"Iya Hima-chan, siapa tau cuma terselip. Ukuran gulungan kan itu cukup kecil" kata Mirai untuk menenangkan kedua muridnya.
Lama mengubek-ubek tas, namun yang dicari tidak ketemu juga membuat mereka bertiga frustasi.
"Hima, apa ada barang lain di tasmu yang hilang juga?" tanya Ryuzetsu mencoba mencari-cari penyebab hilangnya gulungan itu.
"Tunggu" kata Himawari lalu lanjut mengubek-ubek isi tasnya lagi. "Dompet rubah kurama-chan hadiah ulang tahunku dari papa juga hilang, bahkan lipgloss, bedak, perona pipi dan beberapa kosmetikku lainnya juga hilang. Aduuuuh, bagaimana ini" kata Himawari hampir menangis meratapi barang-barangnya yang raib.
Tiga gadis lainnya terheran-heran, buat apa Himawari membawa-bawa alat kosmetik dalam misi. Memangnya saat misi ada sesi pemotretan apa? Apa Himawari tidak bisa membedakan kapan misi ninja dan kapan pekerjaan menjadi model, pikir tiga gadis itu.
"Sudah ku duga, kamu pasti kecurian Hima" kata Ryuzetsu menyimpulkan pemikirannya.
"Eh, tapi bagaimana caranya. Kamu tidak tertidur ditaman tadi kan Hima-chan?" tanya Amaru dengan pemikiran yang tidak jelas muncul dari mana.
"Huuaaaa, dompet kurama-chan milikkuuu, , uuuuu, hikss hiks. Bagaimana ini, papa bisa marah kalau dompet itu hilang, huueee. . ." sekarang Himawari benar-benar menangis. Dia sepertinya tidak mempedulikan lagi gulungan yang nilai jualnya lebih dari harga segunung emas dan hanya memikirkan dompet rubahnya yang harganya hanya seharga sebuah semangka.
"Sssstt, jangan menangis lagi Hima-chan. Kita pasti akan menemukan kurama-chan lagi" Mirai mencoba menenangkan Himawari agar berhenti menangis. Kan malu diliatin seluruh penumpang kereta. "Jadi kita harus bagaimana sekarang Ryu-chan?" tanyanya setelah menoleh pada Ryuzetsu.
"Karena sebentar lagi kita akan tiba di Konoha, sebaiknya kita melapor saja kepada hokage-sama. Kita tidak mungkin kembali ketempat tadi dan mecari gulungan itu. Pasti hokage-sama akan curiga karena melebihi batas waktu misi yang diberikan hokage pada kita" jawab Ryuzetsu.
"Baik lah, aku setuju dengan usulmu Ryu-chan" kata Mirai, lalu mengalihkan tatapannya pada Himawari yang tampak masih sesegukkan, belum ada tanda-tanda akan berhenti menangis. "Nah sekarang Hima-chan. Bisa kau ceritakan kakak apa saja yang terjadi ketika kami mencari makan dan meninggalkanmu sendirian di taman tadi?" kata Mirai dengan lembut dan penuh perhatian layaknya seorang kakak perempuan.
"Umm, hiks. . tadi saat aku bersantai, hiks, , , ada seorang gadis kecil yang datang padaku, hiks. . . lalu karena kasihan kubelikan es krim dan . . . . . . . . " kata Hima panjang lebar menceritakan apa yang dialaminya ditaman dekat stasiun tadi sambil sesekali tetap sesegukan karena menangis.
'Haaaaahh, Himawari. Kenapa cerobohnya tidak hilang-hilang sih, bahkan sampai tidak sadar ditipu oleh seorang anak kecil. Himawari memang benar-benar anak hokage-sama, sifat ceroboh saja sampai diwariskan. Sampai sekarang yang sudah berumur cukup tua pun, hokage-sama masih saja ceroboh, apa jangan-jangan nanti sampai tua pun Himawari juga akan tetap ceroboh ya?' pikir Ryuzetsu nista. Dia tidak mungkin mengutarakan isi kepalanya ini lewat mulut, bisa-bisa Himawari mengamuk dan menghajarnya karena dia dan ayah kebanggaannya dihina.
.
Setelah sampai di Konoha, mereka segera melapor kekantor hokage. Naruto yang kebetulan belum pulang, mendengarkan laporan dari tim 7. Dia menerima laporan itu dan segera memerintahkan beberapa tim pencari yang tidak bertugas untuk mencari keberadaan gadis kecil pencuri itu, bahkan beberapa anggota kesatuan ANBU juga ikut dikerahkan.
"Sudah lah Hima-chan. Berhenti menangis. Papa tidak akan marah kok kalau dompet hadiah dari papa tidak ketemu" kata Naruto menenangkan Himawari yang masih belum berhenti menangis sejak tim 7 tiba dikantor hokage. Walau Naruto agak kesal juga sebenarnya karena dompet itu hilang, tapi dia tidak ingin Himawari putri kecil kesayangannya sedih dan menangis lebih lama lagi.
"Kalau kau mau, papa akan belikan 100 dompet rubah kurama-chan untukmu." kata-kata Naruto yang barusan malah membuat Himawari semakin menjadi-jadi acara tangisannya.
Dasar hokage bodoh, buat apa juga orang punya 100 dompet, mana bentuknya sama lagi, pikir orang lain yang ada disana.
"Tapi papa, itu kan dompet kurama-chan limited edition. Tidak ada lagi yang menjual dompet rubah kurama-chan paling lucu yang warnanya pink dan ujung ekor serta hidungnya putih seperti punya ku, papa." kata Himawari dengan berlinang air mata membuat Naruto semakin tidak tega melihat penderitaan anaknya. Padahal hanya kehilangan dompet saja. Kalau isi dompetnya sih tidak masalah untuk keluarga kaya seperti keluarga Uzumaki.
Sementara Kurama, sang biju berekor sembilan dalam alam bawah sadar Naruto tertawa senang dan melompat-lompat kegirangan karena insiden ini. Dulu adalah ide Naruto untuk membelikan dompet itu untuk hadiah ulang tahun Himawari agar serasi dengan dompet gama-chan hijau miliknya, begitu kata Naruto. Ketika itu Kurama langsung marah-marah, hidungnya kembang kempis, gigi taringnya mencuat panjang keluar karena Naruto memilih dompet rubah warna pink yang ujung ekor dan hidungnya berwarna putih. Dia tidak terima replika dirinya sendiri, sang biju terkuat dan gagah perkasa berwarna konyol dan menggelikan menurut Kurama. Namun Naruto sama tidak mempedulikan protes Kurama saat itu.
"Ssssttt, Hima-chan putri papa yang paling lucu dan imuuut. . . Sudah, berhenti menangisnyaaa, yaaa. Begini saja, papa akan mendatangi pemilik pabrik yang memproduksi dompet itu dan dengan kuasa sebagai hokage, papa akan memerintahkan mereka membuatkan kurama-chan khusus untukmu saja sesuai keinginanmu, bagaimana?" tawar Naruto pada Himawari.
Sementara Kurama dalam tubuh Naruto marah lagi, dan berniat protes. Dia tidak akan sudi jika replikanya dibuat berwarna pink lagi. Itu suatu penghinaan besar baginya.
"Beneran nih papa? Terus papa juga tidak akan memarahi Hima karena menghilangkan hadiah ulang tahun dari papa kan?" kata Himawari yang dibalas anggukan mantap oleh Naruto.
"Papa berjanji kan sama Hima kan?" kata Himawari lagi dengan mata berbinar-binar menatap Naruto.
"Iyaa, papa janji dan papa pasti menepati janji papa" ucap Naruto dan segera memeluk Himawari, malaikat kecil putri kesayangannya itu.
Sedangkan anggota tim 7 yang lain ditambah Shikamaru yang tumben-tumbennya si pemalas itu belum pulang padahal sudah sesore ini, hanya bisa menatap tak percaya pada kelakuan ayah anak dihadapan mereka. Sama persis kejadiannya dengan pagi hari kemarin sebelum tim 7 berangkat misi. Mereka semua tidak menyangka, Naruto sebagai hokage kelihatannya tidak mempedulikan sama sekali tentang hilangnya gulungan seharga segunung emas, bahkan malah berniat menyalahgunakan jabatan dan wewenangnya sebagai hokage hanya untuk memerintahkan sebuah pabrik agar membuat dompet berbentuk rubah, khusus untuk putrinya. Naruto benar-benar mengidap daughter complex akut. Jika hal ini ketahuan publik, pastilah merusak citra Konohagakure dimata dunia internasional.
"Karena misi pencarian sudah kuserahkan pada tim lain, sebaiknya kalian istirahat saja. Pasti lelah kan setelah menempuh perjalanan panjang?" kata Naruto dengan senyuman hangat pada anggota tim 7. "Dan kamu Hima-chan, ayo pulang sama papa"
"Yey, makasih papa" kata Himawari senang dan mencium pipi Naruto.
Mereka semua segera keluar ruang hokage untuk pulang, dan meninggalkan seorang pria paruh baya disana.
'Jadi aku tidak mereka pedulikan ya?' gumam Shikamaru miris. Namun setelah itu ia juga segera pulang setelah mengunci ruang kerja Hokage.
.
Ke esokan harinya, Himawari bangun tidur setelah dibangunkan ibunya, Hinata.
"Hima-chan. Kamu segera mandi dan bersiap-siap kekantor dewan. Tadi ada ANBU suruhan papamu kesini dan memintamu segera kesana" kata Hinata setelah Himawari bangun.
"Iya mama" Himawari mengecup pipi Hinata lalu beranjak kekamar mandi.
Selesai sarapan, Himawari segera berangkat ketempat yang dituju setelah berpamitan dengan ibunya.
Sesampainya diruang rapat dewan konoha, Himawari heran dengan keadaan disana. Susunan kursi dan meja telah disulap layaknya ruang sidang. Ayahnya, Naruto sedang duduk dengan raut wajah kusut padaha masih pagi-pagi begini. Biasanya kan ayahnya itu selalu tampak riang dan ceria. Anggota tim 7 juga sudah berkumpul, lengkap dengan wajah bersalah. Diruang itu juga ada beberapa orang pria yang diketahuinya dari nametag yang mereka pakai kalau mereka berasal dari Soui Inc., perusahaan yang menjadi klien misi mereka kemarin. Dan tidak lupa beberapa anggota Dewan Konoha yang dia tau sering hadir dan menjadi dewan hakim jika ada seseorang yang sedang diadili. Bahkan kakeknya, Hyuga Hiashi sebagai anggota dewan perwakilan dari Klan Hyuga juga turut hadir pagi ini, jelas sekali wajah hampir menangis yang menghiasi wajah Hyuga Hiashi walaupun berusaha disembunyikannya dibalik wajah datar andalannya.
"Karena orang yang ditunggu-tunggu sudah hadir, kita akan segera mulai persidangan hari ini. Uzumaki Himawari, dipersilahkan menempati kursi yang telah disediakan." kata seseorang yang sedang duduk di meja bertuliskan Hakim Ketua.
Himawari yang dipanggil menatap tidak percaya, 'apa-apaan ini, memangnya aku seorang kriminal?' pikir Himawari. Karena Himawari masih diam ditempat, seseorang berjas hitam mengarahkan Himawari untuk duduk dikursi yang tepat ditengah seluruh orang yang hadir, didepan sang hakim ketua. Himawari terpaksa menurut saja, tidak melawan sama sekali.
Tok
Suara satu kali ketukan palu sidang terdengar, menandakan sidang telah dimulai.
"Pertama-tama, kepada Jaksa Penuntut hari ini, dipersilahkan menyampaikan tuntutan dari pihak pendakwa" ucap si hakim ketua dengan berwibawa.
"Uzumaki Himawari, berdasarkan laporan dari kuasa hukum perusahaan Soui Inc., Anda dituntut karena telah menyebabkan kerugian yang sangat besar pada perusahaan tersebut. Pihak perusahaan mengatakan kerugian yang mereka alami setalah diuangkan sebesar 16,356,667,650,000 Ryo."
"Saya yang akan mengganti kerugian tersebut" Ucap Hiashi lantang. Siapapun tahu kalau Hiashi pemimpin dari Klan Hyuga, klan terkaya di dunia. Mungkin uang sejumlah itu tidak terlalu berpengaruh pada seluruh aset yang dimiliki Klan Hyuga.
"Maaf Hyuuga-san, anda belum dipersilahkan melakukan pembelaan" sahut sang hakim ketus, membuat Hiashi sedikit malu karena ulahnya sendiri yang terbawa emosi.
Jaksa penuntut pun melanjutkan pembacaan tuntutannya, "Selain itu, paket yang dihilangkan bukan saja sangat mahal, namun juga sangat berbahaya jika disalahgunakan. Unsur mineral aktif vibranium sebanyak itu dapat digunakan sebagai bahan peledak berkekuatan sangat besar setara bom nuklir dengan radius ledakan hingga 250 km. Sanggup meratakan sebuah negara dalam sekejap. Bisa dibayangkan daya ledaknya lima puluh kali lebih besar dari ledakan yg diakibatkan oleh bom bunuh diri Deidara (radius 5 km) dahulu. Ledakan mineral aktif vibranium juga akan menyisakan partikel-partikel yang memancarkan radiasi chakra berbahaya. Seperti yang kita tahu tentang chakra bintang yang dipancarkan batu meteor yang jatuh di Hoshigakure dahulu. Hal itu akan membawa dampak buruk pada manusia karena mampu mengacaukan aliran chakra manusia, dan tentu jika partikel-partikel sisa ledakan vibranium menyebar keseluruh bumi, pasti akan menjadi bencana yang sangat besar dan mengancam kelangsungan hidup seluruh umat manusia dan makhluk hidup lainnya" Jaksa pun selesai membacakan tuntutannya.
"Sekarang, pihak terdakwa dipersilahkan jika ada pembelaan" kata sang hakim.
Himawari hanya bisa diam tidak mengatakan apa-apa. Dia masih shock akibat menjadi terdakwa sidang pidana pertama kali seumur hidupnya. Apalagi setelah mendengar tuntutan jaksa yang begitu banyak seakan dia adalah kriminal kelas berat, membuat Himawari tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.
Suasana menjadi hening cukup lama karena Himawari belum bersuara. Hiashi yang sudah tidak tahan melihat kondisi cucu kecil kesayangannya, berdiri dari kursinya. "Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya akan mengganti seluruh kerugian ini. Selain itu, saya juga akan mengerahkan seluruh anggota Klan Hyuga untuk mencari gulungan paket tersebut, kalian tidak akan meragukan kemampuan melacak byakugan kami kan?" kata Hiashi sedikit emosi.
"Tidak bisa semudah itu Hyuuga-san. Memang kerugian yang kami alami sekarang sejumlah yang disebutkan tadi, tapi jika kami tidak mendapat gulungan paket itu dengan segera, kerugian kami akan bertambah jauh lebih besar karena isi paket itu sangat kami butuhkan sekarang. Kalaupun anda bisa mengganti uangnya, vibranium sebanyak itu tidak akan terkumpul lagi dalam waktu singkat. Pihak penambang baru bisa menyiapkan pesanan kami setelah 6 bulan" kata kuasa hukum pendakwa menyanggah pembelaan Hiashi.
"Anda juga belum bisa memastikan keamanan paket tersebut. Anda sudah mengerti kan betapa berbahaya vibranium itu jika berada pada tangan yang salah Hyuga-san?" sambung jaksa menolak pembelaan Hiashi dan membuat hiashi bungkam.
"Begini, umur putri saya. Maksud saya terdakwa masih 14 tahun. Dia belum layak dijadikan tersangka, sesuai KUHPK (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Konoha) yang mensyaratkan umur minimal tersangka pidana adalah 15 tahun. Jadi kalian tidak berhak menuntut Hima-chan ku seperti tadi" sambung Naruto dengan wajah kesal tidak terima putrinya di tuntut segitu banyak. Naruto, beserta ayah mertuanya, Hiashi, tidak akan mebiarkan Hima-chan tersayang mereka dihukum apalagi sampai masuk penjara.
"Memangnya siapa yang memberikan misi ini kepada anak kecil seperti dia, Hokage-sama?" cibir sang jaksa kepada Naruto sembari menunjuk Himawari yang sudah terduduk lesu. Perkataan jaksa kali ini membuat Naruto bungkam seperti mertuanya, ini salah Naruto sendiri karena terlalu memanjakan dan selalu menuruti keinginan putrinya.
"Hakim ketua, boleh saya mengajukan pendapat" Shikamaru sebagai penasehat hokage juga ikut dalam sidang ini. Dia hadir sebagai antisipasi jika Naruto melakukan hal bodoh dan bertindak anarki apalagi sampai mengamuk dan mengancam anggota dewan karena yang disidang pagi ini adalah putri kesayangan Naruto.
"Silahkan Nara-san"
"Begini hakim ketua. Berdasarkan laporan yang kami terima, hilangnya paket vibranium disebabkan oleh seorang anak kecil, dia pasti mencuri hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kecil kemungkinan akan terjadi hal membahayakan seperti yang jaksa perkirakan tadi. Kalaupun anak kecil menjual gulungan itu, tidak akan ada yang membelinya karena pembeli pasti mengira gulungan itu hanyalah gulungan penyimpanan tidak berharga. Jadi kita tidak perlu terlalu khawatir akan hal ini, lagipula beberapa tim pencari dan kesatuan ANBU juga telah dikerahkan sejak kemarin untuk mencari gulungan tersebut. Lalu mengenai kerugian yang dialami perusahaan, seperti yang dikatakan Hyuga-san tadi. Jadi menurut saya kasus seperti ini tidak perlu terlalu dibesar-besarkan" kata Shikamaru mengeluarkan semua pendapatnya.
"Baiklah, Terima kasih Nara-san. Saya rasa, kami dewan hakim sudah mendapatkan informasi yang cukup. Silahkan tunggu beberapa menit untuk keputusan hasil sidang" kata sang hakim ketua. Kemudia sejenak dia berdiskusi dengan beberapa hakim lainnya. Tidak lama setelah itu Hakim ketua kembali duduk tegap dikursinya.
"Ekhkhem,, kepada semua hadirin, silahkan kembali duduk dengan tenang. Saya akan membacakan keputusan." hal ini tentu saja membuat semua orang disana was-was.
"Konoha, tertanggal 2 Nopember XXXX. Dengan ini kami memutuskan bahwa, Saudari Uzumaki Himawari telah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus hilangnya paket vibranium yang sangat berbahaya dan telah menyebabkan kerugian besar pada pihak perusahaan Soui Inc. Berdasarkan pemikiran matang secara sadar tanpa pengaruh apapun apalagi genjutsu, kami memutuskan bahwa Saudari Uzumaki Himawari ditahan selama satu bulan percobaan, dengan catatan paket vibranium harus ditemukan dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu dan harus mengganti sebesar 30% dari total kerugian yang dialami perusahaan Soui Inc. Sidang selanjutnya akan dilaksanakan jika paket vibranium yang hilang telah didapatkan kembali atau setelah habis masa hukuman percobaan. Keputusan hakim bulat dan tidak bisa diganggu gugat."
Tok Tok Tok.
Terdengar suara ketukan palu tiga kali yang menandakan bahwa sidang telah berakhir.
"Hima-chan, papa janji papa akan segera membebaskanmu, bagaimanapun caranya apapun resikonya. Kamu percaya pada papamu ini kan?" jerit Naruto histeris setelah mendengar keputusan hakim. Si Nanadaime Hokage sekarang hanya bisa sesegukan menagis dan menggigit bibirnya, meratapi nasib anak gadis kecil paling imut yang sangat dimanjakannya akan mendekam sebulan dipenjara. Dia tidak sanggup membayangkan kesepian seperti apa yang akan dialami Himawari. Apa yang harus dia katakan pada Hinata ketika pulang nanti? Walaupun jabatannya hokage, tapi didepan dewan konoha, dia tidak punya kuasa apa-apa karena secara secara yuridis/hukum, dewan lebih tinggi posisinya dari hokage.
Hal barusan benar-benar kejadian memalukan bagi Konohagakure. Sang hokage tercinta mereka menangis untuk pertama kalinya. Untung saja ini sidang tertutup agar menghindari bocornya informasi tentang paket vibranium yang hilang. Jadi publik tidak akan mengetahui tingkah cengeng hokage mereka.
"Kakek juga Hima-chan. Kakek rela menghabiskan seluruh uang kekayaan Hyuga untuk membebaskanmu" sambung Hiashi yang sudah hampir menitikkan air mata melihat Himawari yang sedang dibawa menuju ruang tahanan.
Hiashi sama memalukannya dengan menantunya. Dia juga benar-benar tidak memikirkan semua anggota Klan Hyuga yang akan jatuh miskin dan melarat jika sampai dia menghabiskan seluruh aset kekayaan klan hanya untuk seorang cucu perempuannya. Mungkin bukan hanya Naruto yang mengidap daughter-complex, Hiashi juga sepertinya mengidap ganddaughter-complex yang tak kalah akutnya dengan Naruto.
Dengan begitu, Himawari sebagai tersangka akhirnya dibawa kedalam sel tahanan. Sebuah tahanan khusus yang diperuntukkan bagi para ninja agar mereka tidak mudah melarikan diri.
FLASHBACK END.
"Hooaam, kau bercerita terlalu panjang Ryu-chan. Aku sampai mengantuk" kata Amaru setelah Ryuzetsu menyelesaikan ceritanya.
"Kau ini tidak peduli dengan Hima-chan ya?" sungut Ryuzetsu dengan nada kesal.
"Ugh, bukan begitu Ryu-chan. Tentu saja aku peduli. Ini karena ceritamu yang membosankan" balas Amaru.
"Kalian berdua, bisa tidak jangan bertengkar dulu sekarang. Aku sudah pusing memikirkan kasus yang menimpa Hima-chan, jangan kalian berdua menambah beban pikiranku juga" kata Mirai dengan nada marah. Amaru dan Ryuzetsu langsung diam.
Mereka bertiga sebenarnya sangat menyesalkan apa yang telah terjadi. Mereka tidak ikut dihukum, padahal mereka bertiga juga bagian dari tim yang melaksanakan misi membawa paket tersebut. Ketika jaksa penuntut mengatakan bahwa kesalahan murni diakibatkan oleh kecerobohan Himawari bukan anggota tim yang lain, mereka bertiga tidak bisa berkata apa-apa.
"Jadi begitu. Lalu kita harus bagaimana?" tanya Bolt pada tiga gadis yang sedang bersamanya di kafe.
"Kau mau melakukan sesuatu, Bolt-kun?" tanya Mirai balik.
"Memangnya ada pilihan lain? Kalau dibiarkan, urusan ini tidak akan selesai"
"Ini kan bukan urusanmu, lagipula sepertinya kau membenci Hima-chan kan?" tanya Mirai lagi.
"Kalau ini bukan urusanku? Lalu kenapa kalian memberitahuku hal ini. Ayah dan Ibuku dirumah bahkan tidak memberitahuku apa-apa. Baiklah, aku akui aku memang membenci Hima. Tapi hal seperti ini tidak bisa dibiarkan, rasanya aku jadi kesal sendiri dia diperlakukan tidak adil seperti itu. Entah kenapa, aku sepertinya harus melakukan sesuatu" ucap Bolt setelah menghempaskan gelas minumannya kemeja kafe.
Ketiga gadis disana langsung tersenyum dan serentak berkata "Ayo, kita lakukan sama-sama" dengan penuh semangat.
.
.
.
To be Continued. . . .
Note : Nah, tuh udah ketahuan bagaimana kronologinya sehingga Hima bisa masuk penjara. Terus untuk salah satu reviewer, Kuroshiro, aku ngerti sekali perasaan kamu. Aku juga merasakannya ketika nonton anime OreImo. Tapi walaupun Bolt terkesan menderita, Hima seenaknya, akan ada suatu ketika dipaparkan kenapa semuanya bisa seperti itu dan akhirnya pun pasti berbuah manis untuk semuanya. Tidak akan ada karakter yang menderita selamanya di fic ini. Santai aja, ini Hima udah mulai tau tentang apa itu masalah dalam hidup, bukan hanya hidup enak dan selalu bermanja-manja pada Naruto.
Oh iya, numpang promosi nih. Kemarin kan udah ada dua skandal yang menimpa Nanadaime Hokage? Nah, aku buat fic khusus membahas skandal-skandal lainnya yang juga menimpa Nanadaime Hokage, Check in this acoount!
Sekali lagi, ini daftar umur pemeran cerita di fic ini.
Uzumaki Himawari – 14 tahun
Uzumaki Buroto/Bolt – 17 tahun
Uchiha Sarada – 17 Tahun
Naruto – 37 tahun
Sarutobi Mirai – 20 tahun
Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.
Saya Newbie, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
