AN : Fanfic remake, dengan pengubahan seperlunya demi kesesuaian jalan cerita, tapi tidak mengubah inti cerita itu sendiri
.
.
.
Happy Reading~
.
.
.
"Jongin menyatakan cinta kepadamu dan sekarang kalian berpacaran?" suara Karen agak meninggi di seberang sana dan membuat Kyungsoo mengernyit. Dia tadi segera menelepon Karen untuk mengabarkan bahwa dia sudah pindah ke rumah Chanyeol, kemudian karena perasaannya begitu bahagia, dia menceritakan semuanya kepada Karen, ingin berbagi kepada sahabatnya. Tetapi tanggapan Karen sama sekali tidak diduganya, dia mengira Karen akan tertawa dan menggodanya, alih-alih yang didengarnya adalah nada tinggi seperti... Kemarahan?
"Apakah... Kau tidak setuju, Karen?" tanya Kyungsoo hatihati.
Sejenak suasana di seberang sana terdengar hening, lalu kemudian Karen tertawa, "Aku cuma kaget Kyungsoo, aku sangat bahagia mendengarnya. Selamat ya," gumamnya dalam gelak tawa, membuat Kyungsoo merasa lega.
.
.
.
Dilain pihak, ketika Karen menutup percakapan dengan Kyungsoo, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi, matanya nyalang membakar dan hidungnya kembang kempis terengah-engah. Dia berteriak keras-keras memenuhi seluruh rumah. Dengan marah dibantingnya seluruh barang di kamarnya, membuat suara gaduh yang menakutkan, apalagi diiringi dengan jeritan dan teriakan-teriakan yang mengerikan.
"Aku akan membunuhmuuuuu..!"
.
.
.
Jongin sedang menyelesaikan pekerjaannya di depan komputer ketika salah seorang pelayan mengetuk pintunya, dia mengernyit.
"Ada tamu untuk anda Tuan, Nona Karen ingin bertemu anda di ruang tamu."
Kerutan di dahi Jongin semakin dalam. Karen? Ingin menemuinya? Mungkin pelayannya salah dengar, mungkin yang ingin ditemui oleh Karen adalah Kyungsoo, apakah Karen belum tahu bahwa Kyungsoo sudah pindah dari mansion ini? Benak Jongin langsung menghangat ketika membayangkan Kyungsoo. Dia sudah merindukan Kyungsoo padahal baru setengah hari mereka berpisah. Tetapi tidak apa-apa, beginilah pasangan yang sehat seharusnya. Saling merindukan. Jongin tiba-tiba teringat tentang Karen dan memutuskan untuk menemui perempuan itu.
Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Karen sudah duduk di sana. Karen tampak sangat cantik dengan pakaian yang sangat rapi dan dandanan yang sempurna, penampilannya tenang dan anggun, tetapi sayang, dia bukan tipe Jongin, hati Jongin sudah terpikat pada Kyungsoo dan dia bersyukur ayahnya dulu membatalkan pertunangannya dengan Karen.
"Hai Karen." Jongin duduk di depan Karen, menatap perempuan itu dengan ramah, "Pelayanku bilang kau ingin menemuiku, mungkin dia salah dengar? Kalau kau mencari Kyungsoo dia sekarang tinggal di rumah Chanyeol, kau pasti tahu kalau Kyungsoo adalah adik kandung Chanyeol bukan?"
"Aku tahu." Karen tersenyum samar, "Kyungsoo pasti bercerita kepadaku, dia selalu berbagi semua denganku. Aku kesini untuk menemuimu Jongin."
"Menemuiku? Tentang apa?"
"Kau pasti tahu bahwa kita sudah ditunangkan sejak kecil." Karen tersenyum lembut, "Lalu pertunangan itu dibatalkan secara sepihak oleh ayahmu. Aku bukannya ingin menyalahkan ayahmu atau apa, lagipula aku tidak merasakan pengaruhnya ada atau tidak ada pertunangan itu. Bahkan ketika aku kembali ke negara ini aku sama sekali tidak peduli dan tidak memikirkanmu, sampai kemudian aku bertemu dengan Kyungsoo dan baru tahu bahwa dia tinggal bersamamu, tetapi itupun tidak masalah untukku, kuharap kau jangan merasa tidak enak."
Jongin tersenyum hangat, "Aku senang kau membahasnya Karen, pembatalan pertunangan itu memang terasa mengganjal di antara kita, apalagi kau adalah sahabat Kyungsoo. Dengan begini mungkin kita bisa meluruskan semuanya dan menghilangkan rasa tidak enak."
Karen menganggukkan kepalanya, "Oke. Tapi masih ada satu hal lagi, aku pikir kau pasti tidak tahu kenapa ayahmu membatalkan pertunangan itu secara sepihak."
"Kenapa?" Jongin mengernyitkan keningnya, merasa ingin tahu.
Tiba-tiba senyum Karen tampak mengerikan, perempuan itu mengeluarkan benda berkilau dari tas tangannya yang ternyata adalah sebuah pisau daging ukuran kecil yang tampak sangat tajam.
"Karena aku gila." Karen menyeringai sambil mengacungkan pisau itu. "Aku didiagnosa menderita kegilaan turunan, seperti ibuku yang mati bunuh diri karena gila, ibuku bukan mati karena kecelakaan, dia mati karena kegilaannya mendorongnya melompat di tangga. Aku tidak sakit, selama ini papa mengurungku ke luar negeri karena malu kepadaku. Tetapi aku pandai berakting dan bersikap baik, sehingga akhirnya papa luluh dan membiarkanku pulang ke negara ini dan bersekolah di sekolah umum." mata Karen menyala, "Lalu aku melihat Kyungsoo dan jatuh cinta pada pandangan pertama, aku mendekatinya dan yakin bahwa dia juga mencintaiku. Dia mencintaiku!" Karen mulai menjerit, "Tapi kau lalu datang mengganggu. Kalian semua laki-laki hanya pengganggu, aku akan membunuhmuuuuu...!"
Karen berteriak keras seperti orang gila lalu berdiri dan mengacungkan pisaunya ke arah Jongin yang masih duduk terperanjat.
.
.
.
Kyungsoo sedang berusaha menyesuaikan diri di rumah Chanyeol. Kedua orangtua Chanyeol sangat baik dan menyempatkan diri menyambut Kyungsoo, tetapi mereka juga orangtua yang sibuk, sama seperti papa dan mama Jongin. Chanyeol mengantarkannya ke sekeliling rumah supaya dia terbiasa, dan ternyata sudah menyiapkan kamarnya, kamar yang cantik dan feminin yang sangat Kyungsoo sukai.
"Kuharap kau kerasan tinggal di sini." Chanyeol tersenyum lembut sambil menyiapkan biolanya. Dia selalu berlatih setiap hari. Bedanya dulu dia berlatih dalam kesendirian, sekarang ada Kyungsoo yang menungguinya.
Tiba-tiba telepon di rumah mereka berbunyi. Chanyeol yang mengangkatnya, dia tampak bercakap-cakap, lalu mendadak wajahnya berubah serius, ketika menutup telepon, dia langsung mengajak Kyungsoo.
"Kyungsoo kita harus ke rumah Jongin segera, ada hal serius di sana."
.
.
.
Chanyeol tidak mengatakan apa-apa tentang Jongin, membuat Kyungsoo panik setengah mati, benaknya panik memikirkan segala kemungkinan. Apakah ada kebakaran? Ada perampokan? Ada kejahatan? Apakah Jongin sakit? Akhirnya mereka sampai di rumah Jongin, di sana tampak ramai banyak mobil diparkir, salah satunya ambulans dan mobil polisi, Kyungsoo dan Chanyeol langsung berlari menghambur ke mansion itu segera setelah mereka turun dari mobil.
"Kyungsoo! Sayangku!" teriakan yang sangat dikenal Kyungsoo membuatnya terpaku bingung. Itu Karen, tetapi bukan Karen yang biasanya. Perempuan itu dipegangi oleh dua orang paramedis yang setengah berusaha menyeretnya keluar, Karen yang ini tampak berantakan, rambutnya acak-acakan dan matanya nanar, dia menatap Kyungsoo seperti orang mabuk, "Aku sudah membunuh Jongin, dia penghalang cinta kita, sekarang kita bisa saling mencintai... Sekarang kita bebaaass..." paramedis itu berhasil menyeret Karen keluar dibantu rekannya, sementara Karen masih terus mengoceh tidak karuan.
Kyungsoo merasa ngeri atas pemandangan di depannya. Kenapa Karen seperti itu? Dan dia bilang dia sudah membunuh Jongin? Jantung Kyungsoo berdebar kencang tidak karuan, dengan langkah tergesa dia menuju ke dalam mansion. Napasnya langsung lega melihat Jongin duduk di sofa, sedang dirawat oleh paramedis, sementara Chanyeol ada di sampingnya. Lengannya tampak terluka oleh bekas sayatan dan sedang di perban.
"Jongin!" Kyungsoo bergumam cemas, berjongkok di depan Jongin, "Kau tidak apa-apa? Dan kenapa Karen seperti itu? Diakah pelaku semua ini?"
Jongin terkekeh, "Ternyata dia gila, dia gila dan dia berhasil menyembunyikannya dengan baik." Jongin menatap Kyungsoo lembut, "Sebenarnya aku sudah curiga sejak lama ketika mengetahui bahwa Karen mendekatimu." Dia berdehem pelan, " Karen eh... adalah mantan tunanganku di masa kecil..."
"Tunangan?" Kyungsoo dan Chanyeol bergumam bersamaan, merasa bingung.
"Ya.. tetapi entah karena alasan apa, papaku membatalkan pertunangan itu... kurasa dari kata-kata Karen tadi, sepertinya papaku membatalkan pertunangan itu karena tahu tentang penyakit Karen." Mata Jongin tampak sedih, "Dia bilang dia gila... karena itulah dia diasingkan di luar negeri oleh papanya."
Karena itulah Karen tidak suka membicarakan penyakitnya. Kyungsoo langsung terkenang ke percakapan mereka waktu itu.
"Apakah dia kembali karena ingin menemuimu? Bekas tunangannya?" Kyungsoo langsung menarik kesimpulan, "Aku.. karena merasa Karen sahabatku, langsung meneleponnya dan menceritakan hubungan kita." Pipinya kali ini benar-benar merah padam. "Mungkinkah Karen cemburu dan memutuskan untuk menyerangmu?"
Jongin tampak geli sendiri, "Karen memang cemburu, tetapi tidak seperti yang kau pikirkan. Dia bilang dia bahkan tidak memikirkan pertunangan kami di masa kecil, Karen jatuh cinta kepadamu Kyungsoo. Dan dia merasa aku ini penghalang, jadi dia berusaha menyerangku. Beruntung aku dibekali ilmu bela diri yang cukup, hasil usaha papaku untuk menghindarkanku dari percobaan penculikan, dan ternyata kemampuan itu terpakai juga." Jongin menatap menyesal ke arah luka di lengannya, "Tetapi memang susah menghadapi perempuan gila yang nekad.
"Karen jatuh cinta pada Kyungsoo?" Kali ini Chanyeol yang berseru, lelaki itu tampak begidik, "Pantas aku selalu merasa ada yang aneh tentangnya, aku tidak pernah menyukainya meskipun dia selalu berusaha tampil manis di luarnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku merinding. Apalagi ketika dia meminta tidur di kamar Kyungsoo malam itu. Aku merasakan sesuatu yang ganjil."
"Aku juga, tetapi aku melupakannya begitu saja, aku pikir dia benar-benar mencemaskan Kyungsoo." Jongin menghela napas panjang,
Kyungsoo masih tertegun, shock atas semua yang terjadi. Karen... dia tidak menyangka kalau Karen seperti itu. Oh Astaga. Karen mencintainya? Karen sebenarnya gila? Dia bahkan tidak punya firasat sedikitpun tentang hal itu.
"Lain kali hati-hati kalau memilih teman." Goda Jongin lembut ketika melihat Kyungsoo masih merenung karena shock, hal itu membuat Chanyeol yang mendengarnya ikut terkekeh.
Kyungsoo tersenyum malu, "Aku pikir... aku terlalu senang sehingga tidak waspada, karena hanya Karen yang mau berteman denganku. Lagipula selama persahabatan kami dia benar-benar baik... aku tidak menyangka bahwa dia ternyata seperti ini." Gumam Kyungsoo dengan nada menyesal.
"Aku tahu." Jongin mengulurkan tangannya dan memberi isyarat supaya Kyungsoo mendekat, Kyungsoo langsung melakukannya.
"Mungkin memang pada awalnya Karen ingin berteman denganmu, tetapi kemudian semuanya berubah menjadi kegilaan yang mengerikan, menurutku dia memang labil dan harus dirawat."
"Semoga dia baik-baik saja." Kyungsoo mendesah, bayangan Karen yang ditarik petugas paramedis ke dalam mobil membuatnya merasa kasihan.
Karen begitu cantik, begitu sempurna penampilan luarnya, kenapa dia harus berakhir seperti itu?
"Tenang saja, mamaku sudah menelepon papa Karen, dia akan menjemput Karen di rumah sakit. Aku rasa papa Karen akan membawanya kembali ke luar negeri."
"Mungkin itu yang terbaik." Chanyeol menggumam, "Menurutku dia belum sepenuhnya sembuh, sangat berbahaya kalau dia berinteraksi dengan orang-orang dan kemudian tidak dapat menahan emosinya seperti kejadian barusan." Chanyeol melirik luka di lengan Jongin, "Untung saja kau tidak apa-apa."
"Aku akan meminta mama untuk mendesak papa Karen agar membawanya kembali ke luar negeri," Jongin menyetujui, "Kalau tidak bisa berbahaya bagi Kyungsoo." Jongin menatap Kyungsoo dengan lembut.
Pipi Kyungsoo memerah menerima tatapan itu, tatapan penuh cinta yang intens dan tidak disembunyikan lagi, dulu dia bahkan tidak bisa menebak apa yang ada di dalam benak Jongin , lelaki itu selalu memasang tampang datar dan tidak terbacam tetapi kemudian, ketika memutuskan untuk membuka hatinya, Jongin tidak tanggung-tanggung, lelaki itu dengan terang-terangan menatap Kyungsoo penuh cinta, hingga membuat Kyungsoo salah tingkah.
"Jangan menatapnya seperti itu." Chanyeol yang bergumam, "Kau akan membuatnya makin memerah seperti kepiting rebus."
Jongin tertawa, tetapi Kyungsoo benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Lalu lelaki itu memeluk Kyungsoo dengan sebelah tangannya yang tidak terluka, tidak mempedulikan Chanyeol yang cemberut melihatnya, "Aku tidak melihatmu baru sebentar dan sudah merindukanmu."
Kyungsoo menatap Jongin sambil tersenyum, "Aku juga, Jongin."
"Aku tidak merindukanmu sama sekali." Chanyeol menyela, berusaha mengganggu pasangan itu, membuat Jongin meliriknya dengan mencela.
"Apakah kau tidak punya kegiatan lain selain mengganggu kami?" gumam Jongin ketus.
"Tidak." Chanyeol mendongakkan dagunya, menantang, Jongin mendengus, lalu dia memutuskan mengabaikan Chanyeol dengan memeluk Kyungsoo erat-erat.
"Semoga setelah semua musuh dikalahkan, tidak ada lagi yang menghalangi kita."
Chanyeol mengeluarkan suara mencibir yang sengaja dikeraskan, membuat Kyungsoo tersenyum geli. Berapa bahagianya dirinya, memang banyak musuh yang mengintai diam-diam, dia juga hampir celaka dan sedih memikirkan bahwa pelakunya adalah ibunya sendiri. Tetapi setidaknya semua kejadian itu membawanya kepada ujung yang membahagiakan, Kyungsoo bisa bertemu kakak kandungnya yang tak bisa dibantah lagi amat sangat menyayanginya, dan dia bisa menemukan Jongin, lelaki yang sangat dicintai dan mencintainya. Rasanya hidupnya begitu lengkap, dan dia tidak ingin apa-apa lagi.
.
.
.
"Jangan pernah takut pada ribuan musuh di depanmu, takutlah pada seorang musuh di belakangmu, yang berpura-pura menjadi temanmu."
.
.
.
"Hmm... kita lupakan saja tentang Karen, memang kali ini kau salah memilih teman karena hanya dia yang mau berteman denganmu, tetapi tenang saja Kyungsoo, nanti kalau kau sudah menjadi isteriku, pasti banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi temanmu."
"Apa?" Chanyeol dan Kyungsoo berseru bersamaan, sementara Jongin menatap Chanyeol dengan penuh tekad.
"Kau boleh memiliki Kyungsoo, Chanyeol. Tetapi tidak lama, aku akan segera menikahinya setelah Kyungsoo lulus kuliah dan membawanya kembali ke rumahku."
Kyungsoo tergelak ketika melihat Chanyeol dan Jongin berganti-ganti saling menatap tajam. Hatinya dipenuhi oleh perasaan bahagia. Dia sudah menemukan cintanya dalam diri Jongin, dan dia harap ke depannya semua akan berjalan baik.
Sementara itu Chanyeol masih merengut mendengar rencana Jongin, dia menyipitkan matanya, "Mungkin aku akan mengenalkan lelaki-lelaki tampan kenalanku, banyak pemain musik klasik yang tampan yang pasti akan mau mendekati Kyungsoo, mereka tidak punya niat jahat membawa adikku pergi jauh dariku."
Jongin terkekeh, dia menarik Kyungsoo supaya duduk di sebelahnya dan merangkulnya erat-erat.
"Kau tidak akan bisa melakukannya. Kyungsoo mencintaiku." matanya yang tajam menatap Kyungsoo penuh ingin tahu.
Sebenarnya dia sendiri bahkan belum mendengar pernyataan cinta dari Kyungsoo untuknya. Kyungsoo tersenyum dengan pipi memerah, lalu menganggukkan kepalanya, "Ya Jongin, aku mencintaimu."
Binar bahagia tampak di mata Jongin, nah karena kita sudah membereskan segala salah paham dan kegilaan ini..."
Lelaki itu mengeluarkan cincin mungil dari saku jasnya, membuat Chanyeol membelalakkan matanya. "Apa-apaan, kau tidak serius kan Jongin?"
"Aku serius." mata Jongin tampak benar-benar serius, lelaki itu dengan susah payah berusaha berlutut sambil meskipun lengannya yang luka agak menghambatnya. Dia mengulurkan kotak cincin itu ke depan Kyungsoo dan membukanya. "Kyungsoo... Maukah kau menikah denganku nanti setelah kau lulus? Cincin ini adalah tanda janjimu, tanda bahwa kau adalah milikku."
Kyungsoo terperangah, bingung. Tetapi kemudian, dengan mata berkaca-kaca, dia menganggukkan kepalanya. Air matanya menetes ketika Jongin meraih jemarinya dan menyelipkan cincin itu di jari manisnya.
Dengan lembut Jongin menarik Kyungsoo menunduk, lalu mengecup bibirnya. "Terima kasih karena bersedia." bisik Jongin lembut, bibirnya hendak melumat bibir Kyungsoo ketika Chanyeol berdehem dengan sengaja.
Jongin menatap Chanyeol dengan kesal, "Tidak bisakah kau pergi saja?" gumamnya mencela.
Tetapi Chanyeol bersedekap dan menatap Jongin dengan tatapan menantang, "Kau melamar adikku di depan mataku dan tidak meminta restuku?"
"Restumu?" Jongin mengangkat alisnya, "Sejak kapan Jongin Kim meminta restu orang lain?"
Sekali lagi Kyungsoo tertawa geli melihat tingkah dua sahabat ini. Dia berusaha memisahkan mereka berdua. "Sudah. Kalian akan menjadi saudara juga nantinya," gumamnya menggoda, membuat Jongin mengedipkan matanya dengan senang, lalu duduk disebelah Kyungsoo lagi dan memeluknya.
Chanyeol menatap kedua pasangan ini dalam senyum, lalu dia mencibir, "Kurasa aku harus pergi dari sini sebelum mual karena nuansa cinta yang berbunga-bunga di ruangan ini." gumamnya sebelum kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, memberikan kesempatan kepada Kyungsoo dan Jongin untuk berduaan.
Kyungsoo dan Jongin saling bertatapan, lalu lelaki itu berubah menjadi serius, Jongin mengecup Kyungsoo dengan sayang, lalu mengecup pipi, rahang, dahi dan ujung hidungnya. "Terima kasih sudah datang di kehidupanku dan merubahku menjadi lelaki yang lebih baik..." bisiknya parau, "Aku sangat mencintaimu Kyungsoo, dan kuharap aku juga bisa menjadi yang terbaik untukmu." Kyungsoo tersenyum dan menggenggam jemari Jongin, "Terima kasih juga karena telah menjagaku. Aku yakin kau adalah yang terbaik untukku."
Dua anak manusia itu bertatapan penuh cinta. Pada awalnya mereka seperti musuh, tetapi kemudian cinta tumbuh dan mereka bisa saling mencintai. Kyungsoo teringat kepada ayahnya dan merasakan syukur mendalam dalam hatinya, ayahnya di surga pasti merasakan kebahagiaan ketika melihatnya sekarang.
.
.
.
.
.
.
Side Story
.
"Syukurlah kau baik-baik saja Kyungsoo." Youngwoon langsung menyambutnya ketika melihat pagi itu Kyungsoo datang ke Garden Cafe, "Aku melihat berita di koran dan betapa dramatis akhirnya, tapi bagiku yang terpenting adalah kau baik-baik saja."
Kyungsoo tersenyum ketika Youngwoon menyerahkan Oreo Milkshake pesanannya yang sangat dirindukannya. Diminumnya minuman itu dengan bahagia, merasakan sensasi nikmat yang manis dan bercampur aroma vanilla serta rasa biskuit oreo yang khas membungkus lidahnya, membuatnya tersenyum.
Dia memang sudah lama tidak ke cafe ini, kasus penculikan itu memang sedikit menyibukkannya, para wartawan mengikutinya kemana-mana. Kyungsoo harus menjadi saksi di pengadilan dan lain sebagainya, semula Kyungsoo ingin berdamai, apalagi ada ibunya di sana. Tetapi Chanyeol tampaknya bersikap tegas, dia ingin ibunya dihukum dan merasakan penjara, bukan karena kebenciannya, tetapi lebih agar ibunya menyadari perbuatannya. Apalagi dalam hal ini ibunya sama sekali tidak menunjukkan penyesalannya, dia terus menerus berkata bahwa kekayaan dan kebahagiaan Chanyeol serta Kyungsoo adalah berkat dirinya.
Belum lagi kasus Karen, papa Karen yang menjemputnya dari rumah sakit jiwa dan kemudian meminta maaf kepada keluarga Kim karena kelalaiannya, dia lalu membawa Karen ke luar negeri, kembali ke tempat Karen diasingkan seperti semula, karena terbukti Karen masih berbahaya bagi orang lain. Ingatan tentang ibunya dan Karen kadang membuat Kyungsoo sedih, tetapi dia berusaha melupakannya.
Kyungsoo menikmati oreo milkshake yang diminumnya sambil mengeluarkan sebuah novel roman yang baru dibelinya kemarin. Novel itu sangat terkenal akhir-akhir ini dan kisah cinta di dalamnya tidak biasa, Kyungsoo sangat menyukai tulisantulisannya, dia memiliki hampir 10 koleksinya, dan yang dia pegang sekarang adalah bukunya yang terbaru, Kyungsoo sangat penasaran dengan kisahnya.
Youngwoon datang lagi, mengantarkan kentang goreng pesanan Kyungsoo. Sementara itu Kyungsoo termenung menatap jemarinya, ada cincin yang melingkar di sana, cincin Jongin, tanda kepemilikannya. Dia sangat bahagia saat ini. Matanya melirik ke arah minumannya dan tersenyum, seperti milkshake oreo dia tidak pernah bisa membuat semua orang sama seperti prinsipnya, putih seperti susu, pasti akan ada perbedaan yang diwakili oleh hitamnya serbuk oreo yang bercampur dengan susu. Rahasianya adalah bagaimana membuat semuanya menyatu, dalam warna abu-abu yang indah, dan pada akhirnya, semuanya akan terasa manis.Indah pada waktunya.
.
.
.
The End Of Sweet Enemy
.
.
.
Akhirnya selesai juga yeeeaaayyy~~~ :DD
Gimana gimana gimanaa?~ xD Happy ending juga kannn :3 dan bang jojong tetap bersama dedek dio ;3
Pasti kaget kan dengan kenyataan ini/? :v hahahhaha, Karen ternyata euh-mencintai-euh Kyungsoo, dia ternyata punya penyakit kejiwaan :3
Dari awal cerita seolah2 Karen adalah masalah besar dalam hubungan Jongin-Kyungsoo atau dia adalah pemeran antagonis utamanya, ternyata dia cuma masalah kecil di akhir cerita/? dan ga pngaruh apa2 sama hubungan Kaisoo xD
Ayo tinggalkan jejak, tulis saran kritik komentar dll tentang cerita dan masukan juga buat author nee
Sampai jumpa di tulisan berikutnya yg semoga saja bukan remake hahahah xD
Annyeeoooong~~~~
Lovyaaaaaa :* :* :*
