Bagi Sehun, Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.

~A Chance~

Chapter 10

The Previous Chapter…

"Presdir Oh.", panggil Sekretaris Lee dengan hati-hati.

"Hm?" Sehun menjawab dengan gumaman sementara ia mengetik sesuatu pada Chanyeol.

"Saya baru mendapat informasi tentang nama putrinya. Namanya adalah Byun Baekhyun dan sekarang tinggal di Seoul untuk meneruskan kuliahnya."

Gerakan jemari Sehun refleks berhenti. Tatapannya menajam pada sang sekretaris yang bingung dengan perubahan ekspresi atasannya itu.

"Siapa namanya?", tanya Sehun.

"Byun Baekhyun, Presdir."

Sehun dengan cepat menghapus pesannya dan menelepon Chanyeol untuk memastikan dugaannya tidak salah.

'Hallo? Kubilang jangan telepon, Baekhyun-'

"Chanyeol, siapa nama marga kekasihmu?"

'Kenapa? Kenapa kau bertanya hal itu?'

"Cepatlah, atau aku tidak akan membantumu."

'Baekhyun. Byun Baekhyun."

Warning! Typo(s) detected!

"Presdir, haruskah saya lanjutkan?"

Sehun berfikir keras hingga melupakan Sekretaris Lee yang menunggu perintahnya. Apakah dugaannya benar? Nama Byun Baekhyun ada puluhan di Korea, tapi kenapa Sehun yakin sekali jika Byun Baekhyun itu adalah kekasih Chanyeol?

"Tidak. Aku akan membacanya sendiri nanti.", ucap Sehun, masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya atas fakta baru yang diketahuinya. Jika benar Byun Baekhyun itu adalah putri Tuan Byun, itu artinya ia dan Luhan masih merupakan saudara sepupu tiri secara tidak langsung.

Dunia benar-benar sempit.

Sekretaris Lee mengangguk paham. Ia bersiap untuk kembali ke kantor dan menghandle tugas sang presdir selama Sehun masih berada dalam masa cuti. "Kalau begitu saya akan kembali ke kantor."

"Oh ya Hyung," Sehun menahan langkah Sekretaris Lee hingga berhenti. "Jangan beritahu perihal aku yang mencari informasi ini kepada siapapun. Meskipun itu Jongin dan Chanyeol sekalipun."

"Tentu, Presdir."

Sekretaris Lee membungkuk singkat sebelum keluar dari apartment Sehun dan meninggalkan pemiliknya dengan kening berkerut tajam dan berbagai pikiran di otaknya.

Sepuluh menit kemudian, bel pintu apartment Sehun berbunyi dan tanpa menebak Sehun sudah tahu siapa pelakunya.

"Lama sekali. Dimana kamarmu?", tanya Chanyeol tepat saat pintu dibuka oleh Sehun. Si pemilik apartment hanya memutar bola matanya malas dan menunjuk salah satu pintu.

"Bukakan pintunya, bodoh!", perintah Chanyeol dan lagi-lagi disambut decakan oleh Sehun. Sehun tidak memiliki pilihan lain selain membukakan pintu dan membiarkan Chanyeol yang tengah menggendong Baekhyun memasuki kamarnya. Well, bukan kamar utama sebenarnya, melainkan kamar tamu yang tidak pernah ditempati Sehun.

Sehun pergi dan membiarkan Chanyeol meletakkan tubuh Baekhyun yang tertidur pulas, bahkan tidak bangun meski Chanyeol telah menggendongnya dari parkiran hingga apartment Sehun di lantai tiga. Tapi tentunya Chanyeol tidak merasa keberatan sedikitpun, bahkan cukup sedih mengetahui bahwa tubuh Baekhyun terlalu ringan dilengannya.

Chanyeol menutup pintu pelan-pelan dan menghampiri Sehun di sofa. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar hingga Sehun mampu mendengar nafas dari pria itu.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?", tanya Sehun.

"Hm. Ibuku mendatangi Baekhyun lagi. Ibu marah-marah dan nyaris membuat Baekhyun pingsan. Untung saja aku datang tepat waktu.", jawab Chanyeol dengan pikiran yang terbayang dengan kemungkinan-kemungkinan jika ia tidak datang tadi. Mungkin Ibunya akan mengambil langkah yang lebih parah daripada mengancam Baekhyun untuk memberantakan hidup gadis itu.

"Lalu kenapa kau membawanya kemari?"

"Aku tidak tahu kunci flatnya dan tidak mungkin membawanya ke apartmentku. Bisa payah jika Ibu kesana dan kembali mengganggu Baekhyun."

Sehun menggelengkan kepalanya berulang kali. Jadi menurut Chanyeol apartmentnya adalah tempat mengungsi, begitu?

"Kau tidak mau menyerah pada Bibi Park?"

"Maksudmu memutuskan Baekhyun? Hell, no! Ibuku tidak berhak ikut campur dengan urusan percintaanku."

Sehun tidak habis fikir dengan jalan pikiran Chanyeol. Pria itu nekad membantah ibunya demi sang kekasih yang belum tentu menjadi jodohnya. Sedangkan menurut Sehun, seberat apapun ia tidak akan mengecewakan Ibunya seperti yang telah Chanyeol lakukan.

Well, itu karena Sehun tidak pernah merasakan pedihnya mencintai seseorang yang tidak direstui.

Mungkin jika Sehun berada di kondisi yang sama, ia juga tidak akan melepaskan Luhan dari sisinya.

"Ternyata benar, pria menjadi sangat bodoh jika berurusan dengan wanita yang dicintainya.", komentar Sehun dan dibalas dengan seringaian di bibir Chanyeol.

"Koreksi, pria bodoh itu hanya dirimu saja."

"Mwo?!"

"Aku benar, kan? Mana ada pria bodoh yang tidak menyadari perasaannya terhadap seorang gadis selain dirimu?"

Sehun berdecak kesal (sebab Chanyeol sangat benar) dan Chanyeol tertawa lebar. Menghibur diri yang sedikit memendam rasa bersalah kepada sang Ibu yang dikecewakannya.

"Jadi, bagaimana hasilnya? Apa Bibi Park sudah merestui kalian berdua?"

Tawa Chanyeol serta merta menghilang dari wajahnya. Kini ia hanya tersenyum kecut dan mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Kau tahu sendiri bagaimana watak ibuku yang tidak mudah menyerah itu."

Sehun memberikan tepukan simpati di bahu Chanyeol, hal yang selalu mereka (Sehun, Chanyeol, dan Jongin) lakukan ketika salah satu mendapat masalah.

Namun hanya bertahan beberapa detik, sebelum Sehun mengatakan sesuatu yang mampu membuat Chanyeol mengerutkan kening.

"Kalau begitu biarkan Baekhyun disini beberapa waktu. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya."

...

Luhan mendesah kecil saat dinginnya jus dalam kaleng menyentuh kerongkongannya. Siang ini masih terasa panas seperti biasa, meski suhu mulai menurun saat musim gugur mulai mendekat.

Luhan berdiri di depan halte bis, memutuskan untuk pulang menaiki bis alih-alih menelepon Sehun atau sopirnya untuk menjemputnya. Ia hanya mengirimkan pesan pada Sehun atas kepulangannya. Entah kenapa hari ini Luhan ingin merasakan naik bis kembali, setelah cukup lama ia tidak menaiki transportasi umum itu.

Bus berwarna hijau berhenti di depannya. Dengan semangat Luhan melangkah masuk dan bernafas lega melihat kondisi bus yang cukup sepi. Ia memutuskan untuk duduk di kursi belakang dan di dekat jendela, sembari mendengarkan lagu dari earphone putih kesayangannya.

Suasana hati Luhan sangat bagus hari ini. Hal itu dikarenakan oleh keberadaan Sehun yang kembali melingkupi mata rusanya. Dan berbeda, tidak ada lagi goresan perih saat menemukan Sehun di dekatnya. Sehun benar-benar memiliki penawar untuk menyembuhkan sakit hati Luhan beberapa waktu lalu.

Kendati setiap didekat Sehun akan membuatnya malu dan berdegub setengah mati, Luhan sangat menyukainya. Ia terlanjur mencintai si pria dengan hati dingin itu hingga tidak tersisa kebencian sedikitpun dihatinya.

Luhan tersentak saat laju bis tiba-tiba memelan dan banyak kendaraan berhenti di luar. Hal itu berlangsung cukup lama hingga bis kembali berhenti di halte untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

"Apa ada sesuatu terjadi?", tanya Luhan pada seorang wanita muda yang baru saja menaiki bus dan kini duduk di sampingnya.

"Ada kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan tertabrak hingga dua orang penumpangnya meninggal di tempat. Astaga, mengerikan."

Deg!

Sebuah ingatan menghantam alam sadarnya dengan kuat.

Luhan, Baba dan Mama-mu kecelakaan. Mereka menabrak pembatas jalan dan mobilnya terbakar. Sampai... sampai mereka meninggal di tempat, Luhan. Hiks...

Luhan otomatis memucat dan keringat dingin mulai turun di dahinya. Tangannya bergetar dan seketika telinganya tidak mendengar apapun dari earphonenya.

"Hhh...hhh..."

Nafas Luhan mulai tidak beraturan. Ingatan yang susah payah dilupakannya hingga ia kembali bangkit, perlahan mulai muncul kembali ke permukaan. Membuatnya harus mengingat kembali realita bahwa sang Baba dan Mama pergi dengan kisah yang sama. Mengingat kembali betapa tersiksanya ia menghadapi hari tanpa mereka.

"Agashi, kau tidak apa apa?"

Rupanya perubahan raut Luhan terlihat jelas oleh wanita muda yang ditanyai oleh Luhan tadi. Luhan hanya menggeleng pelan, tidak ingin merepotkan wanita muda itu ataupun orang lain disekitarnya. Oleh karena itu, ia cepat cepat menutupinya dengan senyuman palsu yang sayangnya tidak dipercaya begitu saja oleh wanita disampingnya.

Wanita itu lantas mengeluarkan botol air minum dari tas tangannya dan memberikan kepada Luhan. "Minumlah air putih dulu."

"Terima kasih." Luhan meneguk air yang disodorkan wanita itu. Sial! Luhan tidak menyangka pengaruhnya akan sehebat ini. Padahal kecelakaan itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan kecelakaan orangtuanya. Tapi kenapa hatinya tetap saja sakit dan sedih? Apalagi bayangan tentang reaksi keluarga korban ikut terlintas dipikirannya.

Sementara si wanita hanya mengangguk dan menatap Luhan dengan pandangan sulit diartikan. "Apa kau memiliki trauma pada kecelakaan?", tanya wanita itu secara blak-blakan. Mengesampingkan sikap sopan yang harusnya ia lakukan pada seseorang yang baru dikenalnya, apalagi hanya di kendaraan umum.

"Aku tidak tahu, Agashi. Tapi kecelakaan itu mengingatkanku pada mendiang orangtuaku." Entah kenapa Luhan merasa nyaman bercerita kepada wanita yang baru dikenalnya itu. Rasanya wanita itu adalah wanita yang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dengannya agar ia bisa bercerita. Luhan ingat, ia tidak memiliki satupun teman wanita yang bisa mendengar keluh kisahnya.

Meskipun sedikit aneh bercerita pada orang asing, terlebih di kendaraan umum.

"Apa orangtuamu –maaf, meninggal karena kecelakaan?"

Luhan mengangguk pelan. Ia mengembalikan botol air minum milik wanita itu yang sempat ia minum tadi. Kepalanya mendadak pusing tanpa sebab, ia berharap bus itu akan sampai di halte dekat rumahnya dengan cepat.

"Kau mengalami secondary trauma." Luhan lantas menoleh kaget. "Jangan kaget seperti itu. Hal itu wajar dialami oleh keluarga korban kecelakaan. Kau hanya perlu banyak bercerita tentang perasaanmu kepada orang terdekatmu, tentu kau memilikinya, kan?"

Luhan terdiam. Tidak mengangguk ataupun menggeleng. Matanya yang menyembunyikan keraguan nyatanya mampu ditangkap oleh wanita itu.

"Kalau tidak ada, kau bisa bercerita padaku." Wanita itu mengeluarkan secarik kartu nama dari dalam dompetnya. "Kau bisa datang kapan saja ke kantorku, dan aku akan mendengar apapun yang kau ingin katakan. Oh ya, namaku Kyungsoo. Kim Kyungsoo. Maaf aku harus turun lebih dulu karena rumahku di dekat sini. Bye!"

"Ya. Terima kasih, Agashi."

Wanita itu beranjak dan tiba-tiba menghadap Luhan kembali. "Siapa namamu?"

"Luhan. Xi Luhan."

"Baiklah. Sampai berjumpa kembali!"

Si wanita bernama Kyungsoo itu kembali berbalik dan segera turun dari bus. Meninggalkan Luhan dengan kernyitan didahinya saat membaca tulisan yang tertera di kartu nama itu.

"Kim Kyungsoo. Seorang psikolog?"

Deru nafas disampingnya yang berhasil membangunkan Baekhyun dari tidur lelapnya. Mata puppy gadis itu mengerjap dan tangannya bergerak untuk merilekskan tubuhnya. Ugh! Sudah berapa lama ia tertidur?

Sedikit demi sedikit matanya terbuka, dan terkejut ketika disuguhkan dengan pemandangan menakjubkan dari sosok pria tampan yang tengah merajut mimpi.

"Chanyeol?" Baekhyun bertanya kepada dirinya sendiri. Ia menunduk untuk melihat dirinya dan Chanyeol yang tengah berpelukan itu. Satu lengan pria itu jatuh di pinggang Baekhyun, sementara lengan yang lain menjadi bantal kepalanya sendiri. Bibirnya terbuka sedikit, dan karena posisinya yang sangat dekat dengan Baekhyun, membuat nafasnya langsung menerpa wajah Baekhyun tanpa terkecuali.

Namun diantara itu semua, Baekhyun lebih terkejut dengan kenyataan tentang dimana ia berada sekarang. Ruang kamar ini begitu asing di mata puppy-nya. Seingatnya, interior kamar Chanyeol tidak asing dan tentu saja bukan kamarnya sendiri dengan perabotan mewah seperti ini.

"Kau sudah bangun?" Tiba tiba Chanyeol bertanya lengkap dengan suara serak khas bangun tidur. Pria itu lantas menarik Baekhyun semakin mendekat padanya sementara matanya kembali terpejam rapat.

"T-tunggu Chan. Kita ada dimana sekarang?"

"Ditempat tidur, Bee. Dimana lagi? –aw!"

"Maksudku tempat kita berada sekarang. Kurasa ini bukan apartmentku ataupun flatku." Baekhyun terlihat tidak bersalah setelah jari lentiknya mencubit pinggang Chanyeol karena jawaban sembarangan pria itu.

"Di apartment Sehun. Aku mengungsikanmu kemari."

"Apa?!" Baekhyun langsung bangkit terduduk. "Apa maksudmu mengungsikanku? Di apartment Sehun?!"

"Tenanglah, Bee!" Chanyeol ikut terduduk meski matanya seolah diberi lem perekat yang melarangnya untuk bangun. "Aku hanya tidak ingin mengambil resiko untuk Ibu yang kembali mengganggumu dan melakukan hal yang lebih ekstrim. Kau bisa menginap disini selama beberapa hari."

"Apa?!", teriak Baekhyun hingga beberapa oktaf. Kepalanya didera pusing mendadak oleh kenyataan bahwa Chanyeol membawanya kemari karena alasan yang menurutnya tidak masuk akal.

Bukankah Nyonya Park sudah mengatakan untuk tidak mengurusi hubungan mereka lagi? Bukankah Nyonya Park tidak akan mengganggu lagi? Lantas kenapa Chanyeol masih merasa takut dan Baekhyun yang lega bukan main? Bahkan hingga membuatnya berhasil tertidur lelap tanpa mimpi setelah dihantui rasa takut kehilangan Chanyeol.

"Aku tahu maksudmu, Bee. Tapi setelah ku pikir kembali dan melihat watak ibuku yang keras dan tidak pantang menyerah, membuatku kembali ragu. Aku takut Ibu akan semakin berbuat lebih kepadamu." Chanyeol berusaha menjelaskan dengan kalimat yang sekiranya tidak membuat Baekhyun takut dan kembali berfikir yang tidak-tidak.

Tapi, sepertinya tidak berhasil. Karena yang terjadi selanjutnya adalah mata puppy Baekhyun yang berkaca-kaca dan nyaris menjatuhkan kristal beningnya. Chanyeol yang melihatnya kontan terkejut bukan main, rasa kantuknya hilang tak tersisa.

"B-bee…"

"Ah, tidak seharusnya aku terlalu bahagia tadi. Kau benar, Ibumu pasti sangat obsesif, mirip seperti putranya. Dan seharusnya aku tidak percaya dan merasa lega begitu saja. Harusnya aku tetap dilanda ketakutan jika suatu saat Nyonya Park akan mendatangiku dan bahkan mungkin akan membunuhku." Suara Baekhyun merendah dan tentu Chanyeol memahami sesuatu akan terjadi setelahnya.

Benar, setelah mengucapkan dua kalimat itu Baekhyun langsung berdiri. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan menemukan tas kecil yang sempat dibawanya sebelum pergi bersama Chanyeol tadi. Ia bersiap pergi sebelum tangan Chanyeol dengan kuat mencekal lengannya.

"Bukan seperti itu maksudku, Bee. Aku-"

"Aku tahu, Chan. Sekarang aku harus pulang. Aku tidak mungkin merepotkan Sehun untuk memberiku tumpangan, lagipula aku sudah siap jika tiba-tiba bom meledak di depan flatku dan aku mati-"

"BYUN BAEKHYUN!"

Baekhyun tersentak mendengar bentakan keluar begitu saja dari mulut Chanyeol. Seketika kristal beningnya jatuh bebas membasahi pipi semi chubby-nya. Dengan cepat Baekhyun menghapus aliran air mata di pipinya, secepat langkahnya pergi meninggalkan Chanyeol yang mengutuk kerja mulutnya.

Sial! Padahal Chanyeol tahu Baekhyun tipe gadis yang tidak suka dibentak dan dikasari.

"ARGHH! Kau sungguh bodoh Park Chanyeol!", teriaknya kepada dirinya sendiri. Mengacak rambutnya dan memilih untuk membiarkan Baekhyun sendiri terlebih dahulu. Ia tidak ingin semakin menurunkan mood Baekhyun saat ini.

Pukul lima sore yang sudah gelap. Rupanya musim mulai berganti menjadi musim gugur yang memiliki siang yang lebih singkat dan sejuk di malam hari.

Sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Keluarga Xi yang luas. Sepuluh detik kemudian, seseorang muncul dari dalam mobil seraya menggenggam ponselnya. Sehun, yang menganggap dirinya bukan tamu yang harus menekan bel rumah demi dibukakan pintu utama, langsung memasuki rumah besar itu. Sudah lama Sehun tidak datang kemari, mungkin dua atau tingga minggu yang lalu? Yang jelas sebelum hubungannya dan Luhan baik seperti sekarang.

Ia sudah melewatkan waktu bertemu Luhan, bahkan tidak sempat menjemput Luhan dari kampusnya. Lebih tepat, Sehun tidak tahu kapan urusan Luhan akan berakhir sedangkan saat Sehun bertanya, ternyata Luhan sudah di rumahnya dan pulang menaiki bus.

Sehun sedikit jengkel, bagaimanapun ia berjanji untuk menjemput Luhan sementara gadis itu menyelesaikan urusannya. Namun ternyata, Luhan malah pulang sendiri tanpa menghubungi Sehun ataupun sopir pribadinya.

Aku hanya tidak ingin merepotkanmu dan kebetulan aku ingin naik bus umum. Sudah lama aku tidak menaiki bus, jadi aku merindukannya. Begitu kira-kira isi pesan Luhan yang ia kirimkan tadi. Membuat Sehun menggelengkan kepalanya, heran dengan keinginan Luhan yang menurutnya aneh itu. Untuk apa panas-panasan naik bus umum jika ada Sehun yang bersedia menjemputnya?

Kedatangannya disambut oleh Kepala Pelayan Seo bersama dua pelayan lain, dan Sehun tidak memiliki banyak waktu untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

"Oh, Tuan Muda Sehun."

Seketika Kepala Pelayan Seo dan dua pelayan lainnya membungkuk hormat tatkala menemukan seorang pria yang berstatus -masih dipikiran mereka- sebagai tunangan Nona Xi Luhan, anak majikan mereka. Selanjutnya kedua pelayan beringsut mundur dan membiarkan Tuan Seo berbicara dengan Sehun.

"Apa Luhan sudah pulang?", tanya Sehun tanpa basa-basi. Menyerukan tujuannya datang ke rumah megah itu.

"Ya, Tuan Muda. Nona Luhan sudah datang sekitar satu jam lalu, dengan kondisi yang tidak baik.", jawab Tuan Seo jujur, sejujurnya menurut apa yang ia lihat ketika menemukan Nona Besarnya berjalan tertatih menuju kamarnya di lantai dua. Tuan Seo sempat bertanya dan jawabannya hanyalah gelengan lemah. Karena itu Tuan Seo berinisiatif untuk mengantar Luhan ke kamarnya untuk menghindari kemungkinan gadis itu akan pingsan di anak tangga.

"Apa maksudmu?" Sehun kembali bertanya. Dan kini terlihat gurat kekhawatiran di wajah tampannya.

Ada apa dengan Luhan? Bukankah dia baik-baik saja saat pagi tadi?

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Nona Luhan datang sudah dengan wajah pucat dan berkeringat dingin. Saya menduga jika Nona Luhan terlalu lelah. Jadi, saya memintanya beristirahat."

Sehun mengangguk paham. Ia bergegas ke kamar Luhan sebelum suara Tuan Seo kembali menginterupsi.

"Tuan muda, ada yang ingin saya berikan kepada Anda."

Langkah Sehun berhenti bersamaan dengan munculmya kernyitan di dahinya. Setahu Sehun, ia tidak memiliki urusan apapun dengan Tuan Seo selama ini.

Mengetahui Sehun dilanda kebingungan, Tuan Seo bergegas mengambil sesuatu dari dalam laci di dekat ruang tamu, mengeluarkan dua buah map yang tidak bisa Sehun tebak apa isinya.

"Apa ini?"

"Itu adalah informasi-informasi penting dari Rumah Sakit dan Kepolisian. Sebenarnya saya sudah mendapatkannya sejak dua hari yang lalu, tapi saya masih tidak tega jika harus memberikannya kepada Nona Luhan. Bagaimanapun kondisi Nona Luhan masih naik turun dan saya tidak ingin menambah pikiran Nona Luhan dengan memberikan berkas itu."

Sehun mengangguk beberapa kali. Berkas itu adalah salah satu hal penting yang ia perlukan untuk menyelidiki kecelakaan yang terjadi menimpa orangtua kekasihnya beberapa waktu lalu.

"Terima kasih, Paman. Terima kasih sudah memberikannya kepadaku. Keputusan Paman adalah yang paling benar."

Sehun sedikit meringis memikirkan bagaimana jadinya jika Luhan kembali murung dan tidak bersemangat akibat kembali mengingat kematian mengetahui apa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Tidak, Sehun tidak akan membiarkan itu terjadi pada gadis itu.

"Tapi, bisakah kau memberikannya nanti? Aku harus segera melihat Luhan dan mengetahui kondisinya."

Tuan Seo mengangguk. "Baik, Tuan Muda."

"Oh ya, satu lagi. Katakan padaku jika ada sesuatu hal yang kau ketahui tentang kejadian itu. Karena mulai sekarang, aku yang akan menyelidiki semuanya."

...

Cklek!

Pintu terbuka perlahan, menyebabkan mata elang Sehun langsung tertuju pada satu gundukan selimut di tengah ranjang. Sehun melangkah setenang mungkin meski keinginan untuk memeriksa Luhan sangatlah menyiksanya. Haruskah Sehun menelepon Jongin sekarang? Sepertinya kondisi Luhan benar-benar tidak baik dilihat dari selimut yang menutupi keseluruhan tubuhnya.

"Luhan-ah...", panggil Sehun pelan sambil mendudukkan diri di tepian ranjang Luhan. Membuka selimut itu perlahan hingga menampilkan wajah merah dan basah Luhan oleh air mata. Mata rusa gadis itu mengerjab dan langsung mendudukkan diri, terkejut menemukan Sehun di sampingnya. Sehun yang tersenyum namun juga tersirat kekhawatiran disana.

"Kenapa menangis, hm? Apa ada sesuatu atau seseorang yang mengganggumu?", tanya Sehun dan tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang lagi-lagi turun di pipi mulus kekasihnya. Entah sejak kapan Luhan menangis, yang pasti, mata sembab itu menunjukkan bahwa Luhan sudah menangis berjam-jam.

Sehun merasakan sentilan di hatinya. Seharusnya ia datang lebih awal, agar bisa menemani Luhan menumpahkan tangisnya ataupun menenangkan gadis itu.

Luhan menggeleng kuat. Keinginan untuk menangis tiba-tiba menyeruak kembali dan ia tidak bisa menahan diri untuk memeluk leher Sehun hingga ia bersembunyi disana.

"Ssssh... Tenanglah, hm? Aku ada disini sekarang."

Suara Sehun begitu lembut ditelinga Luhan, hampir sama dengan elusan tangan Sehun di punggungnya. Lembut, hangat, dan menenangkan.

Luhan tidak tahu harus mengatakan apa. Baginya pelukan Sehun yang paling ia butuhkan saat ini. Pelukan itu, rasanya sudah menjadi candu bagi Luhan. Disana, di dada Sehun yang memperdengarkan detak jantung pria itu, Luhan menemukan kenyamanan dan rasa terlindungi.

Pelukan itu berlangsung cukup lama. Sehun dengan elusan lembutnya, dan Luhan yang terisak dan nafas terputus-putus tanpa Sehun ketahui penyebabnya. Percayalah, Sehun sangat penasaran tentang apa yang terjadi pada Luhan, apa yang menimpa gadis itu selama Sehun tidak ada disisinya. Namun Sehun tidak ingin memaksa Luhan untuk bercerita. Ia tentu masih ingat bahwa Luhan adalah gadis tertutup dan sulit mengungkapkan perasaan dan isi hatinya.

Sehun hanya perlu menunggu Luhan untuk mempercayainya dan berkata jujur setelahnya.

Lalu saat Sehun menyentuh tengkuk Luhan, ada hal yang membuatnya terdiam dan membulatkan matanya.

Tubuh Luhan panas, namun basah oleh keringat dingin. Sehun dapat merasakan suhu tinggi itu mengenai syaraf perabanya ketika ia menempelkan punggung tangannya di dahi basah Luhan. "Ya Tuhan, Lu. Kau demam."

Sehun cepat-cepat membaringkan tubuh Luhan dan menarik selimut hingga lehernya. Saat ia bersiap berdiri untuk meminta pelayan memanggilkan dokter, Luhan justru meraih tangan Sehun. Melarangnya untuk pergi.

"Jangan pergi, Sehun.", ucapnya dalam suara serak.

"Aku hanya ingin pelayan memanggil dokter, Lu. Aku akan kembali sebentar lagi, hm?"

"Tidak mau. Aku tidak perlu dokter."

"Kalau begitu aku akan mengambilkan obat penurun demam."

Gelengan kepala Luhan menjadi alasan Sehun untuk menghela nafas berat, menuruti keinginan Luhan untuk tetap disisi gadis itu. Pria itu beringsut memasuki selimut, lantas membawa Luhan ke dalam dekapannya -lagi-.

Tidak menyadari jika Luhan tengah menegang hebat. Ada satu hal yang menyebabkan Luhan bertingkah demikian, dan itu tidak lain dikarenakan oleh helaan nafas Sehun yang sempat di dengarnya.

Tentu Luhan tidak pernah lupa dengan kebencian Sehun terhadap tingkah manjanya dulu. Dan mungkin, Sehun kembali jengah dengan keinginan Luhan yang melarang pria itu pergi sebentar mengambil obat untuknya.

Meski kenyataannya Luhan memang bertingkah demikian jika ia sedang sakit. Baginya seseorang yang menemaninya hingga tertidur lebih baik dibandingkan efek yang ditimbulkan dari obat yang diberikan dokter. Ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya dan memberikan perhatian untuknya.

"Hiks..."

Luhan kembali menangis, namun berbeda alasan. Kini ia merasa bersalah pada Sehun.

"Ssst... Jangan menangis lagi. Aku disini. Aku tidak akan pergi kemanapun." Sehun memberikan tepukan pelan di pinggang sempit Luhan yang dipeluknya. Mencoba menghentikan tangis Luhan walaupun ia tidak yakin akan berhasil, sebab ia tidak pandai untuk menghadapi seorang gadis yang menangis dan sedang sakit pula.

"Maafkan aku, Sehun..."

Sehun tidak tahu kenapa Luhan harus meminta maaf kepadanya, sedangkan ia merasa tidak ada sesuatu yang membuatnya kecewa terhadap Luhan. Yang ada ia sangat khawatir untuk meninggalkan Luhan dalam kondisi bersedih dan sakit seperti itu.

"Ya. Sekarang tidurlah. Aku akan menginap disini malam ini."

Luhan bernafas lega. Setidaknya Sehun tidak membahas perilaku manjanya tadi. Ditambah dengan kenyataan bahwa Sehun akan menginap untuk menjaganya, berhasil membuat Luhan diserang kelegaan mendalam dan perlahan rasa kantuk menyerangnya. Ia jatuh tertidur beberapa detik kemudian.

...

"Lu, bangun Lu."

Luhan merasakan sesuatu mengelus pipinya lembut hingga mampu mengganggu tidurnya. Dahinya mengernyit dan beberapa saat kemudian kelopak matanya terbuka.

"Waktunya makan malam. Kau harus makan malam dulu."

Luhan terdiam untuk membiasakan diri dengan cahaya yang memasuki matanya. Hal yang pertama tertangkap di mata rusanya adalah sosok Sehun yang duduk disebelahnya sambil mengawasi pergerakan Luhan. Tangan pria itu membantu Luhan untuk bangun dan mempersiapkan bantal untuk menyenderkan punggung Luhan agar bisa duduk.

Rasa pusing menyerang Luhan begitu ia terduduk. Namun ia hanya diam menanggapinya.

Oh, Luhan baru ingat jika Sehun masih di rumahnya. Dan menurut ucapan Sehun, maka pria itu akan menginap disini malam ini. Untuk menjaga Luhannya yang sedang demam tinggi.

Seketika wajah Luhan memanas. Jika Sehun menginap untuk menjaganya, bukankah ia dan Sehun akan bersama sepanjang malam? Luhan menatap Sehun. Pria itu sudah mengganti pakaiannya lebih santai dengan t-shirt dan celana training. Luhan tidak tahu darimana Sehun mendapatkan pakaian itu, tapi sepertinya pakaian itu adalah milik Sehun sendiri. Sementara rambut pria itu sedikit basah menandakan ia baru saja mandi, mungkin sebelum membangunkan Luhan.

"Lihat, wajahmu memerah. Demammu akan semakin parah kalau kau tidak makan. Ayo, aku suapi."

Luhan semakin memerah malu, syukurlah kalau Sehun menganggapnya sebagai ciri-ciri demam.

Sehun menyuapkan sesendok bubur di mulut Luhan secara perlahan. Luhan mengernyit, merasakan pahit pada lidahnya saat mencecap bubur itu. Kepalanya menggeleng disuapan ketiga. Ia tidak mampu makan lebih banyak lagi.

"Sudah?", tanya Sehun lembut. Tidak berusaha memaksa Luhan untuk makan lebih banyak.

Luhan mengangguk pelan. Kepalanya kembali pusing dan itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang menahan sakit. Tentu Sehun bisa membaca perubahan ekspresinya, lantas meletakkan mangkuk bubur di atas meja nakas dan beralih dengan dua butir obat serta air putih.

"Minum obat dulu lalu beristirahatlah."

Sehun menuntun Luhan untuk menelan butiran obat itu secara bergiliran. Luhan mengernyit saat merasakan lidahnya yang pahit menjadi semakin pahit. Tapi perlahan memghilang oleh air putih yang diteguknya.

Sehun kembali menuntun Luhan untuk berbaring dan menutupi tubuh Luhan dengan selimut. Diletakkannya punggung tangannya di dahi Luhan untuk mengukur suhu tubuhnya. Masih sangat panas.

"Tidurlah. Aku akan meletakkan peralatan makan ini di dapur dulu."

"Kau juga harus makan Sehun. Bagaimanapun kau juga baru sembuh."

Sehun tersenyum mendengar kekhawatiran Luhan. Padahal justru kondisi dirinya sendiri yang perlu di khawatirkan.

"Hm, aku tahu. Selamat tidur."

"Sehun?"

"Ya?"

"Berjanjilah untuk tidak ada dokter yang memeriksaku."

Sehun tersenyum tipis lalu berbisik, "Dan berjanjilah untuk tidur dan beristirahat total malam ini."

Luhan tersenyum dan memejamkan mata saat Sehun mengecup dahi panasnya sekilas. Ia tidak membuka mata lagi dan efek obat mulai mempengaruhinya.

"Aku mencintaimu, Lu."

-namun Luhan masih mampu mendengar ucapan terakhir Sehun. Membuatnya tersenyum sekilas dalam perjalanan menuju mimpinya.

...

Sehun menuruni tangga seraya sibuk dengan ponselnya. Besok ia sudah mulai bekerja dan Sekretaris Lee sudah membawa beberapa file dan laptop kerjanya tadi, saat Sehun menyuruhnya mengambil pakaian ganti.

"Kau masih di apartment-ku?"

Sehun berbicara di telepon, dan pria tinggi bernama Chanyeol adalah lawan bicaranya.

"..."

"Kau bisa menginap disana, aku tidak akan pulang malam ini."

"..."

"Hm. Luhan sakit. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri. Well, meski ada pelayan tapi tidak mungkin mereka akan menjaga Luhan sepanjang malam."

"..."

"Ya. Aku yang meminta Lee Joon hyung untuk mengambilkanku pakaian termasuk pakaian kantorku."

"..."

"Oke. Aku tutup."

Klik!

Sehun meletakkan ponsel ke dalam sakunya. Kini ia tengah duduk di sofa, menghampiri laptop dan beberapa file yang akan membuat kepalanya pusing seperti yang sudah-sudah. Sehun berniat membawa 'senjata perang'nya itu ke dalam kamar Luhan, sehingga ia bisa mengerjakannya seraya menemani Luhan-nya.

Gerakan Sehun terhenti dan ia tertegun saat menemukan map diantara file perusahaannya. Itu adalah berkas yang Tuan Seo berikan kepadanya tadi sore, berkas yang berisikan hasil pemeriksaan Kepolisian dan Rumah Sakit. Sehun segera menyembunyikan map itu diantara yang lain, untuk mencegah Luhan mengetahui dan kembali memikirkan hal yang seharusnya sudah ia lupakan demi kelanjutan hidupnya.

"Hyung,"

Sehun tersentak hingga refleks mengikuti arah suara yang memanggilnya. Itu Yixing, berdiri di depan pintu dengan penampilan seragam lengkap dan tas ransel di punggungnya.

"Xing-ah, kau baru pulang?", tanya Sehun lalu berdiri menghampiri keluarga inti satu-satunya Luhan itu.

"Hm. Aku baru selesai mengikuti latihan dance bersama teman-temanku." Yixing meletakkan tasnya di atas sofa diikuti dengan tubuhnya yang lelah. "Hyung, sebenarnya Hyung kemana selama ini?"

Bibir Sehun terkatup rapat. Tidak tahu harus menjawab apa sementara Yixing sedang menunggu jawabannya. "Memangnya ada apa?", tanya Sehun akhirnya. Memilih untuk mengalihkan fokus Yixing terhadap pertanyaannya.

"Aniyo. Hanya saja kepergian Hyung menyebabkan sesuatu yang berbeda."

"Maksudmu?", tanya Sehun tidak mengerti. Ia berinisiatif duduk di samping Yixing dan menatap bingung lelaki itu.

"Luhan Noona, ia berubah menjadi gadis yang sangat pendiam. Mungkin ia masih perhatian kepadaku, tapi aku sebagai seorang adik yang sejak kecil mengenalnya, aku tahu perhatian Luhan Noona tidak sehangat dulu. Ia hanya akan bicara jika di tanya dan ia tidak lagi menanyakan tentang tugas sekolahku. Aku benar-benar kehilangan jiwa dalam raganya."

Bibir Sehun kembali terkatup rapat. Ini pertama kalinya ia mendengar perubahan Luhan yang diakibatkan oleh dirinya.

"Aku sangat berterima kasih pada Sehun hyung. Sebelum bertemu Sehun hyung, Noona-ku sangatlah pendiam, tertutup, dan tidak perduli pada penampilannya. Bahkan Mama sering memarahi tingkah Luhan Noona itu. Tapi sejak bersama Sehun hyung, Luhan noona menjadi lebih ceria dan bahagia. Matanya selalu bersinar dan ia menjadi terbuka kepada kami, bercerita panjang lebar tentang Hyung dengan semangat. Dari situ saja, aku sudah tahu kalau kehadiran Sehun hyung sangat mempengaruhi Luhan Noona."

Sehun terhenyak mendengar penuturan remaja polos seperti Yixing. Ia tidak menyangka jika dia ikut membawa perubahan pada diri Luhan. Kenyataan itu berhasil membuat sudut-sudut bibir Sehun tertarik hingga membentuk sebuah senyuman.

"Tapi kemudian, aku tidak tahu apa yang terjadi, Sehun Hyung tidak pernah datang lagi kemari, bahkan di hari pemakaman Mama dan Baba."

Senyuman Sehun lenyap berganti menjadi ekspresi penuh penyesalannya. Ia tidak menyangka kehadirannya sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Xi, meskipun pertemuannya dengan keluarga itu tidak lebih dari tiga bulan lamanya.

"Maafkan Hyung, Xing-ah. Hyung sungguh patut dipersalahkan waktu itu.", ucap Sehun mengutarakan maaf tulusnya.

"Tidak apa-apa Hyung. Yang penting sekarang Hyung kembali kepada Luhan Noona. Aku senang melihat Noona kembali tersenyum dan semangat karena Sehun Hyung. Terima kasih, Hyung."

Sehun tersenyum dan mengusak kepala Yixing dengan gemas. Syukurlah tidak ada masalah yang berarti antara Sehun dan keluarga Xi yang tersisa. Sehun lega bukan main.

"Oh ya, Paman Seo bilang Luhan Noona sakit?"

"Ya. Dia sedang beristirahat sekarang. Kakakmu bersikeras untuk tidak diperiksa Dokter, apa setiap sakit dia selalu seperti itu?"

Yixing terkekeh pelan. Sudah ia duga Sehun akan menanyakan hal ini, sebab kekasih kakaknya itu tidak tahu kebiasaan yang satu itu. "Hm. Luhan Noona benci apapun yang berbau Rumah Sakit termasuk jas putih milik Dokter dan peralatannya. Tapi anehnya, penyakit Luhan Noona akan sembuh dengan sendirinya. Ah, satu lagi. Luhan Noona sangat suka ditemani saat tidur. Katanya itu bisa menjadi obat penyembuh alami untuk sakitnya. Ck!"

Sehun dan Yixing tertawa kompak. Sepertinya Sehun harus bertanya lebih banyak kepada Yixing tentang kebiasaan-kebiasaan Luhan.

"Sepertinya sudah malam. Kau harus beristirahat juga.", ucap Sehun.

"Hm. Aku juga sudah lelah. Hyung juga, beristirahat."

"Ya. Setelah menyelesaikan pekerjaan ini. Selamat tidur."

"Aku ke kamar, Hyung." Yixing menggendong tas ranselnya dan berjalan malas menuju kamarnya sambil sesekali menguap.

Sepergian Yixing, Sehun membereskan semua dokumennya dan membawa ke atas, ke kamar Luhan. Sesuai perkataan Yixing, Luhan sangat suka ditemani meski sedang tidur sekalipun. Karena itu ia berinisiatif menyelesaikan pekerjaannya seraya menemani Luhannya.

...

Pukul sepuluh malam, mata Sehun masih fokus di hadapan layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaannya. Sebagai perusahaan besar, tentu Sehun tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Ada banyak hal yang harus ia periksa dengan mata kepalanya sendiri.

Ia bekerja sambil menemani Luhan yang masih terlelap dalam tidurnya. Sesekali Sehun akan mengganti handuk untuk mengompres kening Luhan, memeriksa suhu gadis itu menggunakan termometer, dan ia bernafas lega saat obat demam mulai menunjukkan efeknya untuk menurunkan suhu tubuh Luhan. Posisinya duduk bersandar di kepala ranjang, tepat di samping Luhan dengan laptop menyala di pangkuannya. Rupanya Sehun cukup nyaman dengan posisinya.

Beberapa menit kemudian, ranjang sedikit bergerak menunjukkan tanda Luhan temgah terbangun. Mata gadis itu terbuka perlahan, dan pandangannya langsung tertuju pada Sehun disampingnya.

"Sehun?", tanya Luhan memastikan.

"Kau bangun? Apa aku mengganggumu?", tanya Sehun dan langsung menutup laptop serta berkas-berkas pentingnya di atas meja nakas. Termasuk berkas yang diberikan oleh Kepala Pelayan Seo.

"Aniyo. Apa yang kau lakukan?"

"Aku harus memeriksa beberapa berkas dan laporan bawahanku."

"Apa sudah selesai?"

"Hm. Baru saja. Apa ada yang kau inginkan?"

Luhan menggeleng namun Sehun melihatnya seperti tengah menginginkan sesuatu. Bibir gadis itu digigit dan tangannya meremas satu sama lain.

"Katakan padaku." Sehun memisahkan tangan Luhan yang saling meremas lalu meraih telapak tangan kanannya untuk ia cium. Merasakan suhu yang hangat mengenai kulitnya.

Tidak ada jawaban Luhan setelahnya. Mata gadis itu menatap Sehun, namun Sehun menyadari jika fokus gadis itu tidak kepadanya. Mata gadis itu menerawang jauh, tidak membiarkan Sehun menyelami isi pikirannya.

Ssmentara Luhan masih mempertimbangkan keputusannya.

"A-aku... Aku... B-bisakah kau memelukku?" Sehun mengangkat sebelah alisnya, tidak memahami maksud perkataan Luhan. Memeluk? Bukankah Luhan bisa memeluknya lebih dulu?

"M-maksudku, aku tidur, dan kau..."

Sehun tertawa kecil mengetahui maksud dari keinginan Luhan. Ia lalu masuk ke dalam selimut dan berbaring telentang, sementara lengan kirinya terbuka ke samping. "Kemarilah. Aku akan memelukmu selama yang kau inginkan."

Ragu, Luhan beringsut membaringkan tubuhnya. Perlahan ia mendekati Sehun dan pria itu langsung menyambutnya dengan pelukan yang Luhan inginkan. Pelukan nyaman yang disadari atau tidak telah menjadi candu untuk Luhan.

"Kau menyukainya?"

"Hm. Sangat hangat dan nyaman.", jawab Luhan jujur. Kepalanya semakin tenggelam di dada Sehun hingga pria itu mampu merasakan nafas hangatnya.

"Berjanjilah untuk sembuh setelah ini. Sungguh, aku tidak suka melihatmu sakit seperti ini." Tangan Sehun mendarat di rambut kecoklatan Luhan dan memberi elusan lembut disana.

"Itu yang kurasakan saat kau sakit kemarin.", balas Luhan dan diakhiri dengan kekehannya. "Melihatmu pingsan, nyaris membuatku mati ketakutan."

"Kalau kau mati ketakutan, maka aku akan mati karena kehilanganmu."

Cup!

Satu kecupan hadir di kening Luhan.

Luhan tersenyum dalam diam. Ia sungguh menyukai perhatian dan kelembutan yang Sehun tawarkan untuknya. Tak pernah terbayangkan dalam hidup Luhan, jika pada akhirnya ia kembali di pelukan sosok pria yang dulu pernah menyakiti hatinya. Sosok pria yang pernah Luhan panggil dengan nama 'berengsek' di akhir namanya.

"Sehun, ada yang ingin kuberitahu padamu." Keheningan terpecah oleh kalimat pernyataan Luhan.

"Apa itu?"

"Alasan aku menangis tadi."

"Mau berbagi denganku?"

Awalnya Luhan tidak berniat membagi isi pikirannya. Tapi, bukankah Sehun berhak tahu? Pria itu sudah berhasil menenangkan Luhan meski ia tidak tahu alasan mengapa Luhan menangis.

"Tadi dijalan," Luhan bersuara di tengah keheningan beberapa menit kemudian, dengan suara yang sarat akan tangis. "Aku melihat ada kecelakaan, dua orang, dan mereka meninggal di tempat. Entah kenapa aku langsung teringat dengan Baba dan Mama, aku... aku..."

Kata "aku" yang diucapkan berulang-ulang dan isakan setelahnya, membuat Sehun semakin yakin jika Luhan belum seenuhnya melepaskan kepergian orangtuanya. Hatinya masih rapuh, remah oleh sesuatu yang mengganggunya.

Lengan Sehun semakin erat melingkar di tubuh Luhan lengkap dengan elusan lembutnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan, tidak mungkin Sehun membawa orangtua Luhan kembali demi menghapus kesedihan di hati rapuh itu. Itu mustahil, sangat mustahil.

Setidaknya Sehun ingin membuktikan bahwa kepergian orangtua Luhan bukan berarti gadis itu akan kehilangan orang di sampingnya. Masih ada Sehun, pria yang meneguhkan hati untuk mencintai Luhan dan melindungi gadis itu. Pria yang berjanji untuk tidak mengulang kesalahannya di masa lalu.

"Luhan…"

"Hiks…"

"Ayo kita menikah."

_TBC_

Thanks for 25.750 views, 578 reviews, 303 follows, and 297 favorites ^^v