A/N: Ditingal PoWa sebulan Zzzzzz…. Rasanya keilangan setengah nyawa. Ngga ada lagi temen curhat yang bisa diajak gegeloan. Akhirnya tiap hari Cuma di rumah ngetik kaya orang gila. Seperti biasa, sambil dengerin lagu-lagu Vocaloid yang makin menarik aja. Project Diva keren! (langsung berharap AJP kaya project Diva)

Disc: *Siap-siap pecut kalau ada yang ngaku Kamen Rider punya dia, bukan milik Ishinomori-sama* yang pasti selain Rokoz dan Rugo yang milik gue, sisanya Cuma punya beliau.

Warning: OC/ Angst (All from Rokoz POV)

Dedicated to Me! Also dedicated to You! Yang udah susah payah baca fanfic gaje ini hingga sampai pada akhirnya. Tengkyu ya! Sorry kalau ada salah-salah dan hal yang kurang banget. Aku bakal coba perbaikin lagi di Fic berikutnya.

Selamat menikmati chapter terakhir!

…..

.

LUMINAIRE LUMINESCENCE

Act 10. Everlasting

Aku sibuk memandang diriku yang masih diliputi cahaya keemasan. Mataku benar-benar sakit dibuatnya. Sekarang aku memakai kostum yang kurang lebih hampir mirip seperti Hayato dan rider senior lain lengkap dengan syal. Lambang berbentuk huruf "Z" terukir pada bagian dada kiri seakan itu adalah nama yang langsung diberikan pada sosok baruku. Kulihat professor-professor yang selamat sekali lagi. Mereka hanya menggeleng, seolah keadaanku yang sekarang di luar rencana.

"Kalian…" Kata-kataku bergetar karena amarah. "Kalian menanam chip itu padaku?" Aku melampiaskan kemarahanku dengan menghajar semua pasukan Gel Shocker yang masih berkeliaran di dalam ruangan seakan mereka adalah makhluk yang tidak berharga.

"Rokoz-san, kami tidak bermaksud begitu! Kami kekurangan spare part dan entah kenapa chip itu terus menerus bercahaya di sampingmu seakan dia adalah bagian tubuhmu. Maafkan kami!"

Aku tidak ada waktu dulu untuk berbincang-bincang karena monster belalang sialan itu langsung menebas pisaunya ke arahku. Aku menangkisnya dengan tangan kosong dan dia langsung terpental. Luar biasa! Sekarang aku mengerti perasaan anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang diinginkan. Tapi aku tidak boleh melupakan tujuan utamaku.

"Kamu…luminaire…" monster itu bersikeras.

"Bukan!" jawabku mantap sambil memegang torehan huruf di dada yang kurasakan melalui serung tangan hitamku. "Namaku Zenon!"

Hanya sebentar aku beradu pandang dengan monster itu melalui mata majemukku. Dalam hitungan detik pula, kulancarkan pukulan bertubi-tubi serta beberapa kali tendangan. Terakhir, aku mematahkan salah satu sayapnya yang menjijikkan.

"Rokoz, form dasarmu adalah kunang-kunang!" seru salah seorang professor yang berhasil meraih komputer yang selamat kemudian mengidentifikasi sosok baruku.

"Laluuu?" Aku berteriak sambil terus menghindari sabetan maut musuhku.

"Cahaya yang kau hasilkan adalah cahaya tanpa panas Luminescene… ehmm… maksudku mereka mempunyai zat Luciferin yang dihasilkannya bersama Oksigen!"

"Tolong pakai bahasa yang lebih gampang dicernaaa!" Jeritku frustasi. Baiklah! Nilai biologiku memang buruk. Bahkan menurutku fisika jauh lebih meyenangkan. Aku kehabisan akal karena monster ini sudah menyudutkanku.

"Kurasa, kau mungkin bisa menghasilkan senjata dari cahaya dari tubuhmu!" Teriaknya. Ok! Sekarang aku paham teorinya. Tapi bagaimana dengan praktek? Lagipula berada dalam sosok kamen rider -sebut saja begitu- adalah pertama kalinya bagiku.

"Aaaaargh!"

Sial, aku lengah! Sekarang monster itu menendang perutku serta melukai kedua kakiku. Aku jatuh terjerembab di lantai. Aku ingin besar kepala seperti Hayato dan Rider lain yang selalu mengalahkan setiap musuh dengan tangan kosong. Tapi sekarang aku beradu dengan waktu, aku perlu senjata!

Sebelum monster sialan itu menebas kepalaku aku berhasil menangkap mata pisaunya. Tapi dia tidak mau kalah dan membuat posisiku semakin berbahaya. Kalau aku tidak berbuat sesuatu, aku dan semua manusia ini bisa mati.

"Sial!" Tangan kananku menjadi panas. Udara yang ada disekelilingku berkumpul menjadi sesuatu yang sekarang tampak solid. Aku meraih benda itu lalu kutepis pada monster tersebut. Dia kesakitan dan menjerit ketika sinar yang terpancar dari benda aneh itu menebasnya.

"Guuaaaaaaarhhhh!"

Kuperhatikan kembali benda menyerupai senter di tanganku. Bentuknya tidak biasa karena membentuk huruf yang sama seperti huruf pada dada kiriku. Dari ujungnya terlihat seberkas cahaya padat panjang sebagai pengganti mata pedang. Keren! Kuayunkan benda yang kusebut pedang itu sekali lagi untuk meyakinkan diri sendiri. Kali ini cahaya yang memanjang tadi meliuk dan menghancurkan semua barang yang ada di depanku. Pedang itu berubah menjadi cemeti.

"Ini terlalu keren!" Kataku bersemangat. Kalau aku sedang berada dalam wujud manusia, aku pasti sudah senyum-senyum seperti orang gila. Kualihkan pandanganku lagi pada monster yang masih kesakitan jauh di sampingku. Walau sama-sama terluka tapi aku tidak mau kalah. Kami maju bersama secara serempak namun hati-hati, saling mengeluarkan jurus andalan terakhir. Untunglah pedang cahayaku lebih dulu menembusnya. Aku langsung berlari ke arah para professor untuk melindungi mereka karena seperti dugaanku, tidak lama monster itu mulai meledak. Aku heran pada super hero lain yang sempat berpose dulu saat musuh mereka mati. Berarti buku-buku cerita yang kubaca sejak kecil itu semuanya bohong!

Beberapa saat setelah ledakan, para professor sudah berada pada posisinya. Berinisiatif bahu membahu membersihkan, mengecek atau merapihkan barang yang masih bisa diselamatkan. Aku menawarkan diri membersihkan mayat dan sisa-sisa monster karena tidak tega membiarkan mereka melakukannya.

Badanku mulai panas lagi. Rasanya sesak.

"Uuukh..aaarghhh…" Aku mulai panik. Setiap hembusan nafasku memendek dan aku kembali tersungkur di lantai. Asap sekaligus cahaya pudar menyelimuti badanku. Kurasakan aku kembali pada sosok manusiaku.

"Rokoz-san beritahu apa yang kau rasakan!"

"Jantungku…seperti meleleh…" kataku tersengal. Pandangan mataku kabur dan dalam hitungan detik keringat mengucur deras di seluruh tubuhku.

"Siapkan pompa jantung dan serum C!"

Mereka secepatnya mengangkat tubuhku, membaringkanku pada meja operasi. Menempelkan kabel-kabel serta alat yang tidak kumengerti sementara aku mengepalkan tanganku sekuat tenaga menahan sakit. Sakit!

Yang kuingat sebelum semuanya menjadi gelap adalah suara bor itu lagi.

..

.

"Rokoz! Ro-ro-ro-kooooz!"

"Berisik Wei, aku masih mau tidur!" Aku memutar arah tidurku ke arah sebaliknya. Menaikkan selimut sampai ke dagu sambil meringkuk seperti anak kecil.

"Yee…gimana sih! Kita kan udah susah-susah menjenguk. Ayo bangun dulu!" Wei mengguncang-guncang sadis kemeja putih yang kupakai. Memaksaku untuk duduk.

"Kasar banget sih sama orang sakit?" Aku manggerutu. Kuacak-acak rambut belakangku dengan tangan kiri yang dibalut perban dan memperhatikan sekeliling. Aku masih di ruang ICU. Tidak ada yang berbeda. Kulihat Gordon, Baker dan beberapa anggota spirits unit 10 yang tidak kukenal berada di ruangan yang sama. Wei memasukkan sedotan di mulutku untuk membuatku diam. Pintar juga dia. Tapi aku memang tidak keberatan karena aku langsung menikmati mengulum sedotan tersebut.

"Aku ada kabar baik nih." Kata Wei bersemangat.

"Akan ada serangga sialan yang akan masuk unit kami." Ujar Gordon yang wajahnya langsung sukses dihajar oleh tombak Wei.

"Kita sudah merekomendasikan kamu masuk unit 10 lho, say!" Timpal Baker tidak mau kalah.

"Hah? Tapi kan aku tidak bisa meninggalkan unit 2. Lagipula Kamen Rider Nigo pasti membutuhkan pasukannya." Aku mengusap mataku untuk melihat mereka lebih jelas. Mencoba beradaptasi dengan cahaya sial yang kini masuk melalui jendela. Wei, Baker dan yang lain kini saling berpandangan dengan cemas.

"Rokoz…maaf…tapi unit 2 sudah tidak ada. Helikopter mereka meledak. Hanya kamu yang selamat." Kata pemuda berambut panjang itu perlahan. Aku membelalakkan mata. Helikopter meledak? Tidak mungkin! Terakhir yang kuingat aku memang bertemu Hayato dan dibawa oleh helikopter medis. Tapi aku yakin masih melihat beberapa anggota unit 2 yang selamat. Memang sudah berapa lama sih aku dirawat?

"Gordon…" Aku menatap tajam pada laki-laki yang paling besar di ruangan. Gordon tidak mungkin berbohong. Kulihat dia hanya menunduk dan menggelengkan kepala. Tidak mungkin!

"Rokoz…"

"Maaf, aku ingin sendiri dulu!" Aku kembali meringkuk, kali ini aku menyelimuti seluruh tubuhku. Mereka pasti menyangka aku sedang menangis. Aku bersikeras tidak bergerak sampai mendengar suara pintu ditutup dan hanya menyisakan suara mesin yang beroperasi serta langkah kaki para professor yang ada di ruangan.

Semua anggota unit 2 sudah tidak ada…?

Aku terus melamun dan membayangkan kecerobohan yang kubuat saat bertugas. Andai waktu itu aku bisa melawan monster yang melukai perutku, aku pasti bisa menyelamatkan Andea. Tidak! Andai waktu itu aku bisa meyakinkan Hayato untuk mengubahku menjadi Kamen rider!

Aku terus melamun hingga pikiranku terasa kosong. Berkonsentrasi pada sedotan yang masih menempel di bibirku seperti yang selalu kulakukan. Memikirkan beberapa kemungkinan yang seharusnya bisa kuambil.

Tidak! Aku tidak boleh begini terus!

Aku bangkit mendadak, membuat semua orang di ruangan terkejut karena gerakanku yang tiba-tiba. Kulihat seragam spirit kebanggaanku tergantung rapih di dinding. Kuamati lekat-lekat untuk beberapa saat sebelum aku menampar diriku sendiri. Aku adalah spirits! Nyawa ini adalah untuk umat manusia hingga akhir!

"Semua terima kasih. Aku pergi dulu!" kubungkukkan badan sebagai tanda hormat kemudian mengambil seragamku seraya berlari menuju pintu keluar. Tujuanku adalah menyusul Wei dan anggota spirits unit 10 lainnya. Kususuri pantai dan menembus angin pagi kota Kyoto yang dingin.

..

.

"Hhh…kelakuan anak muda, ada-ada saja…" ujar seorang professor yang sekarang sibuk membereskan buku-buku di ruang ICU sesaat setelah pasiennya pergi.

"Untunglah dia tidak tahu kita menggunakan Ceroton System padanya. Sayang sekali… Padahal kekuatannya bisa digunakan untuk membantu kamen Rider lain."

"Tapi kenapa kita hanya menghapus ingatannya tentang perubahanya? Bukannya perjanjian kita adalah menghapus semua masa lalunya kemudian mendepaknya dari spirits?"

"Cukup! Kita sudah bersumpah tidak akan membahas hal itu lagi. Lagipula ini semua keinginan Ichimonji-san, kita hanya bisa menurut." Hardik professor yang lain.

"Maaf. Ayo kita kembali bekerja." Kata-kata itu langsung disetujui oleh semua professor yang hadir di ruangan. Mereka serentak mengangguk dan kembali pada aktifitas masing-masing.

End of Act 10

*** END ***

Next Story -
Enter Canvas Ranger: Luminaire Luminescence Lithium!

Otanoshimini!