Title : I.D.S

Genre : Angst, Romance

Rating : M

Pairing : YunJae, Broken!HyunJae, Hint!JaeChun

Disclaimer : YunJae belong to each others. I own only the plot. Half of the plot Based on a True Story Novel

Warning : Typos, Violance, Cursing, YAOI (BOY X BOY) Don't Like? Please press red botton with x symbol. Yes, that botton.

Summary : Kim JaeJoong, seorang penyanyi terkenal yang rela meninggalkan dunia Showbiz demi menikahi pria yang dicintainya. Suatu malam, setelah sebuah pertengkar hebat sang suami menghilang tanpa jejak. Apakah yang sesungguhnya terjadi?

.

.


.

9th April.

Puluhan orang menggoyangkan tubuhnya seiring dengan irama musik yang berdentum.

Seorang namja duduk di salah satu kursi bar counter sembari sesekali menyeruput gin dan memperhatikan sekitarnya.

"HyunJoong ah…" Seseorang menepuk bahu namja berparas tampan itu.

"SeungHo…"

"Hey, Beer satu." Namja yang dipanggil SeungHo itu memesan minuman pada bartender. "Lama tak jumpa ya? Apa kabarmu HyunJoong ah?"

"Baik. Kau?"

"Baik."

"Hey, omong-omong pasanganmu yang cantik apa kabar?"

Alis HyunJoong terangkat sebelah, ia tak suka nada bicara SeungHo.

"Kenapa tiba-tiba menanyakan JaeJoong?"

"Aku hanya penasaran. Dia punya mainan baru. Namanya YunHo."

"Apa maksudmu?"

"Ah, jangan berpura-pura bodoh. Aku melihat mereka beciuman. Mereka seperti ingin melahap wajah masing-masing. Hahahaha…"

HyunJoong mengepalkan tangan, mencoba tak terpancing. SeungHo ini memang terkenal suka membual dan bermulut besar.

"Dari mana kau mengenal YunHo ini?"

"Aku mendengar percakapan mereka saat mereka makan malam di Nine beberapa waktu yang lalu. JaeJoongmu harus lebih pintar-pintar mencari tempat kencan. Bagaimana kalau kau pinjamkan dia untukku semalam? Aku yang akan mengajarkannya dan memuaskannya lebih darimu dan YunHo itu. Hahahaha…."

Mendengar ini HyunJoong menyiramkan gin di gelasnya tepat ke wajah SeungHo. Terkejut, dengan reflek SeungHo mundur hingga namja itu menabrak seorang yeoja di belakangnya.

"Kim HyunJoong Jahanam! Apa yang kau lakukan!"

HyungJoong tak menjawab dan menatap SeungHo dengan tatapan benci dan jijik.

"JANGAN BICARA SEMBARANGAN SOAL JAEJOONGIE-KU!

"AKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA. JAEJOONGIE YANG KAU PUJA-PUJA DAN BANGGA-BANGGAKAN ITU TAK LEBIH DARI SEORANG PELACUR!"

Tanpa banyak bicara lagi, HyunJoong menerjang dan melayangkan pukulan pada dagu SeungHo.

Mundur beberapa langkah karena efek pukulan itu, SeungHo segera menyeimbangkan tubuh dan membalas pukulan HyunJoong.

Mereka saling memukul tanpa henti, membuat pengunjung Jumon segera menyelamatkan diri.

SeungHo melayangkan tinju pada perut HyunJoong dengan keras, mengirim namja itu membentur bar counter.

Tidak merasa puas SeungHo mendekat hendak melayangkan pukulan lagi, HyunJoong menyambar botol beer, memecahkannya dan menusuk perut SeungHo.

Suara teriakan ketakutan para yeoja yang menjadi saksi perkelahian mereka menyadarkan HyunJoong dari kemarahan sesaat yang menguasainya.

Empat orang security bar mendatanginya.

Tanpa pikir panjang HyunJoong merenggut salah satu yeoja yang masih berdiri disekitar sana dan yeoja itu kemudian diketahui sebagai Park HaNeul.

Lengan HyunJoong mencekik HaNeul.

"Tolong… Jangan…" HaNeul menggeleng ketakutan sambil terisak pelan.

"Diam dan ikuti aku bila kau ingin selamat."

"Mundur! Atau benda ini akan menusuk leher yeoja ini!" Ancam HyunJoong sambil mengarahkan pecahan botol pada sisi kepala HaNeul.

Mau tidak mau orang-orang membuka jalan untuk mereka.

HyunJoong menyeret HaNeul menuju mobilnya yang di parkir tepat di luar club.

"Masuk, setir mobil ini dan berhenti menangis!"

HaNeul mengusap air matanya dan memasuki kursi pengemudi sementara HyunJoong duduk di jok belakang, masih mengarakan pecahan botol padanya.

Dengan patuh HaNeul mengemudikan mobil ke arah yang diperintahkan HyunJoong.

"Berhenti!"

Seketika HaNeul menginjak pedal rem, menimbulkan bunyi decit menyakitkan telinga.

"Turun."

Mobil berwarna silver itu kemudian melesat pergi, meninggalkan HaNeul yang menangis lega di jalanan yang cukup sepi.

.

-YunJae-

.

Kemarahan kembali menguasai HyunJoong sesampainya ia di rumah.

Dengan keras dan penuh emosi dibantingnya pintu depan.

Tak perduli akan membangunkan tetangganya.

Saat memasuki kamar, ia melihat JaeJoong telah berdiri di hadapannya.

Melihat mata JaeJoong yang bersinar penuh tanda tanya dan innocent membuat HyunJoong makin terbakar amarah.

"Kau, pelacur!" Adalah kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya sebelum mulai melayangkan pukulan dan tendangan pada pasangan yang benar-benar dicintainya itu. Membuat namja cantik itu tersungkur.

HyunJoong selama ini telah bersabar dengan sikap dingin yang diterimanya.

Ia bahkan tak pernah memaksa JaeJoong untuk melayaninya pada masa awal pernikahan mereka.

Tapi ia juga hanyalah manusia.

JaeJoong tak tahu betapa sulitnya bagi HyunJoong setiap hari melihat orang yang ia cintai, orang yang telah mengucapkan janji setia dengannya, orang yang telah bersumpah menjadi miliknya sampai maut memisahkan tak pernah sekalipun menatap dirinya dengan cara yang dia inginkan.

Tatapan cinta dan sayang.

Sungguh HyunJoong tak ingin percaya dengan perkataan SeungHo tapi jauh di lubuk hatinya HyunJoong menyadari perubahan dalam diri JaeJoong.

Ia tak lagi sedingin dulu.

Walau sikapnya masih sama pada HyunJoong tapi ada sesuatu yang berbeda.

HyunJoong tak mampu menjelaskan dengan kata-kata tapi ia merasakannya.

Joongie-nya telah berubah, seseorang telah mampu melewati perisai yang selalu dipasang JaeJoong.

"Jangan berlagak sebagai korban. Aku akan membuatmu menyesal. Kau akan menderita Kim JaeJoong! Dan aku akan memastikan kau tak akan bisa berjalan selama sebulan penuh, cause tonight I'll fuck you endlessly."

"Tidaaakkkk… Kau mabuk, HyunJoong…. Kumohon hentikan…. "

JaeJoong mencoba bangkit namun HyunJoong menarik pergelangan kakinya, menyeret tubuh lemah JaeJoong yang tak mau makan sejak tiga hari terakhir ini dengan mudah. Menginjak serta menendang sisi tubuh sebelah kiri JaeJoong hingga suara derak mengerikan terdengar.

"Jadi gossip yang mengatakan kau ingin meminta perceraian kita itu benar? Karena kau ingin bersama dengan YunHo itu? Kau tak mau makan akhir-akhir ini karena tak bisa bertemu dengan lelaki itu bukan? Berapa kali kau telah tidur dengannya? Jawab aku, pelacur!"

JaeJoong menelan ludahnya. "Aku tak mengerti apa yang kau katakan."

"JANGAN BERPURA-PURA LAGI! AKU TAHU SEGALANYA! TAPI AKU TAK AKAN MELEPASKANMU UNTUKNYA! TAK AKAN PERNAH!"

Dengan membabi buta HyunJoong menyeret JaeJoong ke tempat tidur dan menindih tubuh lemas itu kemudian menyerang lehernya.

"Tidaaaakk! Lepaskan!"

JaeJoong berontak dan menyambar patung gajah di meja kecil di sebelah tempat tidur dan memukul belakang kepala HyunJoong. Membuat sang suami limbung sesaat.

Entah kekuatan dari mana yang membuat JaeJoong mampu mendorong tubuh HyunJoong. Dengan panik ia berlari keluar, mencari tempat berlindung. Mata besar JaeJoong menangkap kilatan pisau dapur yang berjejer rapi di kitchen counter.

Disambarnya pisau itu sebelum menuju pintu depan.

"KIM JAEJOONG, SELANGKAH SAJA KAU KELUAR DARI SINI, AKU AKAN MENDATANGI PRIA ITU DAN AKU AKAN MEROBEK-ROBEK TUBUHNYA!"

JaeJoong berhenti di tempatnya dan berbalik. Suaminya menatapnya dengan pandangan bengis sambil memegangi bagian belakang kepalanya.

"Jangan mendekat, HyunJoong. Kau lihat apa yang aku pegang? Jangan sampai terjadi pertumpahan darah disini."

Suara JaeJoong terdengar sangat tegas dan berani padahal sesungguhnya di dalam ia ketakutan, tubuhnya babak belur, menyakitkan.

"Huh! Apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu. Aku berani bertaruh yang dicari YunHo bajingan itu hanya tubuhmu. Dia hanya ingin tidur denganmu, setelah itu kau akan dicampakkan seperti kain pel!"

"Jangan berlagak seolah kau mengenal YunHo. Dia hanya pernah menyentuhku sekali. Hubungan kami tidak berlandaskan fisik semata. Dia menawarkan hal yang tak akan pernah bisa kau penuhi. Dia memberiku kenyamanan dan rasa aman."

"Oh ya? Kalau begitu aku jadi makin ingin berjumpa dengannya. Aku akan memastikan untuk mematahkan lehernya. Kemudian kau hanya akan menjadi milikku."

"Jangan pernah berfikir untuk menyentuh YunHo. Kau tak tahu apa yang bisa aku lakukan padamu."

HyunJoong tertawa menghina. "Kau melindunginya? Sungguh lucu. Orang lemah macam dirimu bisa melakukan apa?"

Genggaman JaeJoong pada gagang pisau makin erat. "Aku mau pergi!" Perlahan JaeJoong mundur teratur.

Tanpa rasa takut HyunJoong makin mendekat. "Kau mau pergi? Menemui bajingan itu? Kau pikir kau bisa lepas dari genggaman tanganku? Jangan harap!"

Begerak dengan cepat, HyunJoong menampik pisau di tangan JaeJoong. Pisau itu terlepas dan melayang setengah meter dari tubuh JaeJoong yang telah ditindih HyunJoong pada bagian perut.

Dengan lututnya JaeJoong mendorong tubuh HyunJoong jatuh.

Berbalik dan hendak bangkit, lagi-lagi kaki JaeJoong ditarik. Rasa takut menguasai diri JaeJoong, tangannya meraba-raba karpet sekitarnya dan telunjuknya merasakan dinginnya logam.

Secara naluriah diambilnya benda itu dan mengayunkannya pada HyunJoong. Sesuatu yang hangat menyiprati pipinya dan JaeJoong reflek menutup mata.

Saat membuka mata, hal pertama yang disadarinya adalah warna merah di mana-mana. Warna merah yang menggenang dari HyunJoong.

Darah….

.

-YunJae-

.

Tubuh JaeJoong gemetar hebat. Ia melap darah ditangannya pada kaos hitam yang dikenakannya.

Setelah menarik nafas dengan susah payah, JaeJoong menekan tombol panggilan cepat satu yang terhubung pada nomor ponsel YunHo.

"Yunnie.. Aku.. Aku menusuk HyunJoong! Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" Teriak JaeJoong panik melalui sambungan telepon.

"Jae… Jae… Tenanglah. Aku sedang berada disekitar sana, dalam lima belas menit aku telah sampai di rumahmu."

YunHo memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, sengaja tak memarkir mobilnya di tikungan jalan yang berjarak dua rumah dari rumah keluarga Kim.

Diketuknya pintu rumah JaeJoong. Perlahan pintu terbuka, menampilkan JaeJoong yang berkubang darah sampai mengenai pipi kanannya.

YunHo masuk dan kembali terkaget mendapati sesosok tubuh namja terbaring di atas karpet berwarna coklat yang bercampur warna merah darah.

"Jae, apa yang terjadi?"

"Kami… Kami bertengkar dan dia memukuliku. Saat aku ingin kabur, aku menyambar pisau dan kemudian kami bergumul. Aku tak sengaja menusuknya tepat di dada. Bagaimana ini? Bagaimana?"

YunHo memeluk tubuh gemetaran JaeJoong. Otaknya sedang bekerja keras menyusun rencana dalam waktu singkat.

"Jae, ganti pakaianmu. Aku akan mengurus semuanya. Cuci wajahmu, kemudian hubungi sahabat yang sering kau ceritakan itu. Katakan kau dipukuli oleh suamimu dan minta ia kemari. Bila ia bertanya dimana suamimu katakana kau tak tahu karena kau pingsan."

Tanpa banyak bicara JaeJoong berbalik untuk berganti pakaian.

Menghela nafas, YunHo menggulung pisau yang telah dibersihkan dari sidik jadi dan tubuh tak bernyawa itu dengan karpet kemudian menyeretnya ke salah satu kamar.

YunHo membalikkan meja dan memecahkan vas bunga.

"Chunnie bilang akan datang secepatnya." JaeJoong memberitahukan sambil duduk lemas di sofa, ia telah berganti dengan kaos putih yang entah bagaimana ternoda lagi oleh darah.

"Jae, kau berdarah.."

"Kurasa tulang rusukku patah dan tadi saat batuk sedikit darah keluar dan mengotori kaos ini. Dimana?"

"Aku menyembunyikannya pada salah satu kamar." YunHo yang paham maksud JaeJoong menjawab dengan tenang.

"Lalu sekarang bagaimana? Aku seorang pembunuh, Yun."

YunHo meraih tangan JaeJoong dan meremasnya, mencoba memberikan kekuatan. "Jae, tenanglah. Aku punya rencana. Aku tak akan membiarkan siapapun menangkapmu."

"Tapi itu tak mengurangi fakta bahwa aku adalah seorang pembunuh."

Setitik cairan bening mengalir di pipi pucat itu, dengan jari-jarinya YunHo menghapuskan cairan hangat itu.

"Tenanglah Jae. Aku akan membereskan semuanya. Mana kaos yang tadi kau pakai?"

"Di kamar."

YunHo beranjak dan mengambil kaos hitam penuh darah itu, menempatkannya di dekat karpet.

"Jadi apa rencanamu Yun?"

"Jae, Sahabatmu, YooChun Ssi mencintaimu bukan? Dia bersedia melakukan apapun untukmu bukan? Dia memiliki rumah sendiri bukan?"

JaeJoong mengerutkan alis, tak mengerti hubungan antara masalah yang sedang dihadapinya dengan pertanyaan ini namun ia menganggukkan kepala jua.

"Dimana alamatnya? Apa dia tinggal sendirian? Apa kau memiliki kunci rumahnya?"

JaeJoong menuliskan alamat rumah YooChun pada notes kecil yang diberikan YunHo. "Iya, dia sendirian. Aku tak punya kunci tapi dia selalu menyimpan kunci cadangan di bawah pot bunga."

"Bagus. Rencananya begini, laporkan penganiayaan yang kau terima pada polisi, katakan kau dipukuli karena tak mau melayaninya. Setengahnya benar bukan? Jadi kau tidak berbohong." YunHo menungkas saat melihat wajah ragu JaeJoong. "Kau tak tahu dimana suamimu berada karena setelah dipukuli, kau pingsan. Itu adalah terakhir kali kau melihatnya. Sisanya aku yang mengurus."

"Tapi bila polisi menyelidiki, orang pertama yang akan dituduh adalah aku."

"Kita akan melemparkan tuduhan pada orang lain."

Mata JaeJoong melebar. "Siapa? Jangan bilang…"

YunHo mengangguk.

"Tapi Yun…"

"Jae, bila aku diposisinya, aku pasti bersedia melewati apapun untuk melindungimu."

Mereka tak sempat lagi berdebat karena seseorang telah mengetuk pintu. YunHo segera bersembunyi di dalam kamar.

Setelah JaeJoong dan YooChun menghilang, ia segera mengambil mobil dan memasukkan tubuh HyunJoong di bagasi. Setelah memastikan keadaan sangat sepi dan tak ada yang mengintip tentunya.

Beruntung bagi YunHo karena semua orang telah terbuai dalam dunia mimpi.

YunHo membawa tubuh HyunJoong ke gudang yang telah tak terpakai lagi di pinggir kota Seoul sambil berhati-hati agar tak meninggalkan jejak yang tak perlu.

Ia kemudian dengan sengaja membakar karpet dan kaos hitam yang dipakai JaeJoong di rumah YooChun.

"Bila ada yang tersisa maka tuduhan akan mengenai YooChun Ssi lagi. Maaf. Tapi ini untuk melindungi Jae."

Dengan ahli YunHo membongkar papan lantai di bawah sebuah grand piano putih. Tempat yang jarang diperhatikan. Ia kemudian memasang kembali papan tersebut, berhati-hati agar tak terdapat goresan sedikitpun jadi sang pemilik rumah tidak akan sadar.

"Semoga dewi fortuna berpihak pada kami."

.

-YunJae-

.

Segala rencana yang telah disusun dengan rapi oleh YunHo berjalan dengan lancar walaupun secara mengejutkan ia sendiri yang ditunjuk menangani kasus tersebut.

Setiap melihat JaeJoong ia harus berusaha mati-matian menahan diri. Menahan agar tak memanggilnya "Jae." seperti biasa, berpura-pura tidak saling mengenal dan memanggilnya "JaeJoong Ssi."

JaeJoong juga mengalami kesulitan yang sama. Sangat sulit melihat langsung betapa YunHo dan Ara terlihat begitu serasi.

Terutama saat di pesta itu. Hatinya bagaikan teriris setiap menyaksikan kemesraan sepasang kekasih resmi itu.

YunHo yang menyadari itu semaksimal mungkin bersikap tenang dan sedikit menjaga jarak dengan Ara.

.

Semuanya terasa mengalir dengan lancar. YunHo membayangkan beberapa bulan dari sekarang ia akan dapat bersama dengan JaeJoong.

Tapi harapan itu nyaris kandas saat seorang yeoja berambut hitam membicarakan dirinya dan JaeJoong ditelepon dengan volume suara maksimal.

Sepertinya dewi fortuna masih mengikuti YunHo karena yeoja itu keluar dan berjalan menuju belakang villa milik sepupunya, Jung YongHwa.

Tepat saat hampir menyebutkan namanya, YunHo mendorong yeoja itu. Ia tak perlu bersusah payah menggunakan leaf catcher yang diambilnya untuk menahan kepala yeoja itu karena ia ternyata tak bisa berenang.

Sungguh satu lagi kebetulan yang menguntungkan bahwa YooChun mengenal Park HaNeul itu. Jadi YunHo sekali lagi dapat melemparkan kecurigaan pada namja itu.

Dengan sengaja ia menyenggol seorang waiter agar minuman yang dibawanya menumpahi pakaian YooChun.

YunHo kemudian menunggu YooChun di dalam kabin rest room. Menantikan saat yang tepat untuk keluar. Ia mengeluarkan sapu tangan dan meletakkannya di dekat barang-barang YooChun kemudian YunHo membasuh tangannya. Dan, voila… Bagai tukang sulap YunHo mengambil jepitan dasi milik YooChun yang tertutup sapu tangan YunHo tanpa disadari sang pemilik.

YooChun terlalu sibuk memandangi YunHo dengan pandangan tidak suka.

Saat Yoochun mengajaknya bicara, YunHo dengan senang hati mengiyakan dan menggiring sang anak domba menuju belakang villa, tempat suatu kejutan menanti YooChun.

Sebelum melompat ke dalam kolam renang, YunHo melemparkan barang-barangnya sembarangan. Termasuk sebuah jepitan dasi.

.

-YunJae-

.

Penangkapan YooChun merupakan double strike bagi YunHo.

Ia dapat melindungi JaeJoong sekaligus meraih kursi kepala divisi.

YunHo merasa amat bersalah pada YooChun tapi pikiran itu segera ditepisnya saat membayangkan JaeJoong yang harus dipenjara.

Tidak akan YunHo membiarkan itu terjadi.

.

Sementara JaeJoong merasa bergitu rendah dan buruk.

Ia mengorbankan sahabatnya demi diri sendiri, tapi ia tak sanggup berpisah dari YunHo.

Tidak.

Maka saat Kim JunSu, pengacara YooChun memintanya datang, sesegera mungkin JaeJoong meluncur ke kantor polisi.

Rasa bersalah memporak-porandakan hatinya saat melihat YooChun.

"Hyung, there's something i need to know."

YooChun menatap langsung kedua mata JaeJoong dengan serius.

"Apa itu?"

"Apakah Hyung by any chance membunuh HyunJoong?"

"…."

JaeJoong gemetar, bayangan akan kejadian malam itu terulang kembali dikepalanya.

YooChun tak perlu jawaban apapun. Dari wajah JaeJoong saja ia telah mengetahui jawabnya.

"Don't worry, Hyung. My lips are sealed. Aku akan melindungimu."

Dengan sayang YooChun menepuk-nepuk tangan JaeJoong.

Mengakibatkan rasa bersalah makin mencengkram hatinya.

"Chunnie… Aku…"

"Aku akan melindungimu, Hyung. I'm insisting."

.

Semua skenario YunHo berjalan dengan baik sampai sang dewi fortuna tak mau lagi berada dipihak sepasang kekasih itu.

Sang dewi memutar roda nasib dan kali ini sepertinya YunHo dan JaeJoong berada di bawah.

.

.

TBC

.


.

Uwahhhh~~ Akhirnya tinggal epilog maka FF ini berakhiiiiiiirrr~~~

Baiklah, saya tahu ketidak-logisan nomor satu dalam FF ini adalah pengaturan waktu. Argh… Saya sadar baru detik-detik terakhir ini kalau waktu kejadiannya mepet nian.. Maafkan saya.. *nangis*

Review replynya saya di chap ini :

Lanlopumin : Hehehehe.. Jadi begitulah, YunHo n JJ satu sama, JJ bunuh HyunJoong, Yun bunuh HaNeul. Chap 8 sudah super panjang khan? Saya sampai sesek nafas nulisnya.. XD

Zhie Hikaruno-chan : Auw.. Mian Chingu, selasa kemarin tak bisa update. Tapi minggu ini di double lho~~~ Apa bisa dihitung triple yaw?

Blue-Mist78 : Berakhir di chap depan nih, blue. Tidak salah tebak kok, hanya saya memang suka muter-muter menjelaskannya.. ^^v

Diidactorlove : Kita lihat nasib YunJae di chap depan yaw.. *dibasmi*

Priss Uchun : Hehehehe.. Baiklah, permintaan priss dikabulkan, YooSu-nya tidak bersatu. Sejujurnya karena saya binggung mau taruh dimana YooSu momennya.

Arisa Adachi: Saya juga tak iklas Yun dipenjara, makanya sejak awal direncanakan memang akhirnya begini. *dibuang ke laut*

Angel Xiah : iya, tidak bersatu tuh YooSu-nya.. :D Tak punya ide dimana mengembangkan hubungan mereka.

Thazt: Mian, saya akan bertanggung jawab di chap depan. *dibantai* Mian lagi apdatenya molor dari biasanya.

Nikwon : Gumawoooo semangatnya~~~~ Tapi sudah hampir berakhir ini FF.

Choiqhang : Ini chingu, saya pinjemin toa untuk teriak. :D Gumawo…

dfaFallenAngel : Reaksinya JJ pas uno ditangkap? Bagaikan dunia ini runtuh.. .

New reviewer~~ Gumawo sudah review chingu. *Hugs*

Ika UzumakiTeukHyukkie : Cho Mi? Boleh…. Sudah di flashback habis-habisan ika.. Seru tidak? Aneh tidak? Geje yaw?

DeVIL MaGNAe RIn : Reviewer baru lagiiii~~~ *bear hugs* Makasih.. *blushing* Mian YunJae momennya sedikit, soalnya kalau banyak nanti ketahuan skenarionya Yun.

Delta Alpha Fujoshi : Gumawo *Hugs* ini sudah hampir End, mudah-mudahan tidak kecewa. . Delta : Sangat kecewa~~~! Me : *Nangis*

RizmaHuka-huka : Benar Sekali, mereka bertemu 1,5 tahun yang lalu. Kyaaa~~ Saya senang ada yang 'ngeh' clue kecil yang saya tebar. ^^ NC-nya maaf dibatalkan, karena saya tidak becus. Mian… *bow* Aduh.. Makasih banyak Rizma FF aneh tak logis saya ini difave. Terharu lagi saya… Lop u tooooo~~

Diana 'dobe-chan' Cassiopeia : Yun melakukan segalanya demi JJ trus JJ nya menyusul Uno..

Moyoko Tomoyo : Tak apa Mo Chan~~~ Benar Yun pelakunya. JJ juga tapinya…Hehehe…

Rei : Nah, sudah terjawab.. Jadi uchun mengaku memang untuk melindungi JJ. Uri umma laris, semua ngantri untuk melindungi..

CD-Elfyza : Hehehehe.. Ini sudah hampir habis Dy, dari awal dicanangkan selesai di chap NINE karena buat saya 9 itu Lagu kebangsaan YunJae. Tapi ternyata molor satu chapter. Lalu tidak bisa ditambah bumbu karena untuk saya ceritanya sudah tak mentok.

zero BiE : Mian yaw kalau membingungkan… Saya memang suka muter-muter. Iyah, YunJae terjebak cinta terlarang.

Pohon Putih : Aihhh~~ Chagiiiiii~~~ Kau terlalu memuji~~ Kepala eon besar jadinya~~ Lalu.. Lalu yang ini bagaimana? Eon takut mengecewakan lho.. Aneh tidak Chagi?

Yakk… Sekian… Review ya… Flame dipersilahkan… Terutama untuk chap 9 ini, karena saya malas baca ulang dan edit-edit.

Love, Cho Jang Mi