Arthur cepat menemukan sebuah sepeda di lapangan parkir kantin. Tanpa meminta izin kepada pemiliknya, dia menjalankan sepeda tersebut kemudian menaikinya. Beberapa orang menyapanya, mengelukannya, tetapi dia terlalu sibuk dengan kayuhan sepeda yang ia percepat. Dia akhirnya meninggalkan kompleks asrama, mengayuh sepedanya di jalan besar.

Saat itu pukul 8 malam. Arthur mengayuh sepeda di jalanan kampus yang memang selalu sepi di malam hari. Lampu jalanan bertenaga solar cell berpendar menerangi berputarnya roda sepeda Arthur. Udara dingin cepat menyapa dan menggelitik kulit di bawah kaos putihnya. Walaupun begitu, Arthur tidak merasa dingin. Daerah asalnya, Inggris, apalagi mendekati Skotlandia, tidak terkenal dengan kehangatan. Selain bunyi angin yang membelah karena dirinya, bunyi permukaan roda dengan jalan beraspal menemaninya. Kanan-kiri jalan adalah gedung-gedung fakultas. Beberapa orang masih di sana tentunya, tetapi tidak melihat kayuhan sepeda dari ketua BEM angkatan yang baru itu.

Setelah melewati beberapa gedung fakultas dan jalan, Arthur membelokkan sepedanya ke jalan yang lebih sepi lagi. Pohon-pohon di kanan dan kiri jalan semakin besar, lampu-lampu jalan semakin jarang, sebuah gedung tidak terlihat sampai beberapa kilometer lagi. Di saat matahari bersinar, apalagi pagi hari, jalanan tersebut terkenal bagi mereka yang ingin melakukan jogging. Di malam hari, walaupun ujung jalan tersebut adalah perpustakaan dan gedung-gedung riset, tidak banyak yang melintas. Biasanya orang akan ketakutan dengan rumor-rumor yang beredar, tetapi tidak untuk Arthur. Sebagai orang yang dapat melihat makhluk-makhluk yang seharusnya tidak terlihat, dia sudah terbiasa sehingga dia tidak takut akan apapun. Dengan tenang dia mengayuh sepedanya, kalau dia berhenti sekarang, tujuan dia mengayuh sepeda sejak awal tidak akan tercepai.

"Arthur?"

Arthur terlalu fokus dengan jalan dan tujuannya, sehingga dia terlambat menyadari kehadiran Livio di trotoar. Dia menoleh ke belakang, dan benar saja, terdapat Livio dan juga.. Antonio! Dia ingin menghentikan sepedanya, tetapi karena terkejut dan sepeda sudah terlanjur melewati mereka, dia kesulitan melakukannya. Kemudian dia tidak mengantisipasi polisi tidur di depannya. Sepedanya melewati gundukan tersebut, tetapi itu menyebabkan Arthur kehilangan keseimbangan. Roda belakang yang mendapat giliran melewati gundukan sukses membuat Arthur terjungkal dari sepedanya.

"Ugh! Pasti sakit!"

(*********)

Antonio sangat ingin tertawa akan insiden itu. Akan tetapi, mengingat pembicaraannya dengan Livio tadi, membuatnya mengambil tindakan cerdas untuk tidak melakukannya. Malah, dengan cepat dia menghampiri Arthur, melebihi cepatnya Livio.

"Kau tidak apa-apa, Amigo?" Antonio membantu Arthur bangun dengan menarik tangannya. Akan tetapi, bukannya terangkat, dia malah jatuh bersama Arthur.

"Ouch! kau sengaja melakukannya ya?" berbeda dengan pertanyaannya yang awal, kali ini dia bertanya dengan kesal.

"Sengaja bagaimana? Aku masih kesakitan dan kau menarikku tidak benar!" Arthur menepuk sikunya yang berdebu karena terbentur dengan aspal. Walaupun sedikit, dia dapat merasakan perih di bagian tersebut. "Kau ini tidak berniat membantu, bukan?" Arthur menggerutu, sama sekali tidak peduli dengan keadaan Antonio.

"Kata siapa?" Antonio membalas. Di kepalanya dia tidak berhenti merasa heran, kenapa niat baiknya berakhir seperti ini. Kemudian dia melihat luka lecet di siku Arthur. "Kau terluka!" serunya, kekhawatiran muncul perlahan di wajahnya.

"Ohh ya?" Arthur berkata seakan itu wajar. "Telapak tanganku juga, dan kupikir dengkulku juga."

"Kita harus segera merawatnya!" Livio yang telah berada di samping mereka berseru dengan nada sangat khawatir.

Arthur tersenyum melihat Livio. Daripada memikirkan keadaan dirinya, dia bersyukur Livio baik-baik saja. Dia khawatir Livio tertidur lagi di samping danau, karena itu dia menjemputnya dengan sepeda. "Tidak perlu terburu-buru. Nanti juga kering sendiri," dia berupaya bangun, dia cepat tertegun oleh tangan Antonio yang cepat membantunya.

"Dirawat atau tidak, kita harus cepat-cepat ke asrama," katanya, terdengar sangat serius sembari menaikkan sepeda tersebut.

Arthur tertawa sebelum mengangguk.

"Apa yang lucu?" seru Antonio yang mulai menggiring sepeda itu dengan dua tangan.

"Nothing. Aku lihat kau menemukan Livio terlebih dahulu daripada aku,"

Mereka memulai perjalanan dengan perbincangan tersebut.

"Lalu?"

"Aku terkesan, itu saja,"

Tiba-tiba Antonio, yang memimpin jalan, berhenti. Membuat yang lain juga ikut berhenti. Arthur dan Livio menatap Antonio dengan penuh tanda tanya. Kemudian Antonio memutar tubuhnya, menyodorkan tangannya.

"Aku ingin kita berbaikan. Tidak ada lagi pertengkaran!"

Arthur tertegun, menatap tangan yang tersodor kepadanya. Kemudian... dia menepisnya.

"No more fights? Kau gila! Kita tidak akan pernah berbaikan.."

Antonio menatap tangannya yang telah ditepis dengan terkejut, kemudian dia merasa terluka dengan perkataan Arthur.

"Kita juga tidak pernah bertengkar!"

Belum sempat Antonio memproses perkataan tersebut, tangannya yang tadi ditepis kini ditarik, kemudian dia mendapati dirinya dekat dengan Arthur. Beberapa detik kemudian dia baru menyadari bahwa Arthur sedang memeluknya. Dia cepat membalas pelukan tersebut.

Dia memeluknya tidak terlalu erat, juga tidak terlalu longgar. Akan tetapi, dia merasa nyaman dengan pelukan tersebut. Karena dalam pelukan tersebut, dia merasa apa yang telah dia dan Arthur lakukan akhir-akhir ini –bertengkar- menjadi salah satu dari bagian memori yang harus dilupakan.

"Karena itu, aku tidak mau lagi kau melakukan ini!" Arthur melepaskan diri dari pelukan tersebut, "Meminta maaf dan berjabat tangan? Jangan membuatku tertawa Antonio!"

Antonio melihat temannya dengan kagum. Yap, Arthur memang benar-benar teman yang telah ia kenal sejak SD.

Kemudian dia tertawa.

Livio yang hanya dapat menonton mereka berdua, ikut tertawa.

Arthur pun ikut tertawa.

Setelah itu perjalanan menuju asrama terasa ringan.

(*********)

"Antonio-kun!"

Di kantin, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini masih penuh. Aiko juga masih berada di situ, sedari tadi menunggu Antonio. Ketika melihat pacarnya di lapangan parkir, dia cepat menghampirinya.

"Aku telah mencarimu ke mana-mana!"

"Aiko kau masih di sini?" Antonio bertanya dengan nada khawatir.

"Eh? Memangnya kenapa? Tunggu, kenapa kau tidak menjawab panggilanku?"

Kini Antonio yang bingung. "Ohh iya, aku meninggalkan ponselku di suatu tempat,"

"Hilang?" Aiko bertanya dengan khawatir.

Antonio tidak tahu harus menjawab apa, kemudian dia melihat Gilbert menghampirinya.

"Ponselmu ketinggalan di ruang diskusi tadi!" Gilbert melemparkan ponsel milik Antonio yang cepat ditangkap oleh Antonio.

"Gracias," Antonio kehilangan kata-kata, melihat ponselnya yang telah kembali.

"Sama-sama kawan," Gilbert menoleh kepada Aiko. "Kau sabar ya punya pacar anak GDA," dia meninggalkan mereka setelah meninju pundak Antonio.

"Kenapa kau tidak mencariku besok saja? Sekarang sudah malam, tidak aman.. Ouch!"

"Ohh, Aiko. Aku telah menanti kau melakukan hal itu!" Arthur yang masih berada di situ akhirnya mengatakan sesuatu. Aiko telah menampar Antonio, dan dia menganggapnya wajar karena Antonio bukannya berterimakasih telah dicari dan ditunggui malah bertanya-tanya dan menyuruhnya pulang. Kalau saja Aiko tidak melakukannya, Arthur sendiri akan melakukannya setelah Gilbert tadi.

"Aiko?" Antonio memegang pipinya. Benar-benar tak menyangka pacarnya melakukan hal tadi.

Aiko tersenyum, tidak merasa bersalah. "Kau lupa ya, jam malam kan diperpanjang satu jam. Menjadi jam 10, kau ingat? Ini semua kan karena jasa temanmu di sebelah itu!"

"Tidak perlu berterimakasih," Arthur cepat menanggapi. Entah kenapa melihat Antonio yang harus tertunduk-tunduk karena Aiko, sangat menghibur dirnya. Hey, Aiko tidak selemah lembut orang kira!

"Kalau begitu, kapan kau ingin pulang? Biarku antar!"

"Hmm, sekarang saja! Karena aku merasa sia-sia telah menunggumu, buat apa-apa berlama-lama di sini!"

Tanpa berkata-kata lagi, Arthur melihat pasangan tersebut meninggalkannya.

"Enak ya punya pacar," ujar Livio, berada di sebelahnya setelah memasuki kantin untuk mengambil jaket BEM Arthur.

"Then, it's just the two of us," Arthur melingkarkan tangannya di leher Livio. Dua sahabat tersebut berjalan meninggalkan kantin untuk pulang ke asrama, ke kamar mereka yang tampak seperti kapal pecah.

(**********)