Tittle : Revenge
Cast : DBSK And Other
Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance/NC21/BDSM/GS
Marga disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Jadi disini ada beberapa karakter yang nadal masukin, bukan berarti nadal ga suka sama orang tersebut, tapi lebih untuk kebutuhan cerita ^^ ingat ini hanya fiksi ^^ siapa saja yang baca maapkan nadal ne? nadal ga bermaksud apa-apa ^^
#catatan: don't like don't read ok?
Jadi buat yang ga suka, silahkan angkat kaki. Monggo
Thank you
Happy Reading ^^
"I'm sure, God has planned the best, and we just need to run the scenario only"
Sebelumnyaaahhh~
"Ah..jum..maaa.. Hiks.. Tolong.. Ak..ku.. Ini.. Sak..kith.. Nnnggghh" ucap Jaejoong pelan.
BRUK!
"Akh! Appo.." tubuh Jaejoong terjatuh begitu setelah mencoba untuk turun dari ranjang mereka.
Kini kakinya terasa lemas tidak dapat menahan tubuhnya. Jaejoong mencoba meraba kearah manapun menyeret tubuhnya sedikit demi sedikit. Entahlah, Jaejoong sama sekali tidak tahu kemana arah tangan membawanya. Hingga Jaejoong berdiam diri duduk bersandar pada sisi tembok. Jaejoong kembali menyentuh perut bagian bawahnya, tubuhnya lemas tak sanggup lagi menahan kesadarannya. Jaejoong kini merasakan sesuatu yang kental mengalir keluar dari bagian bawah tubuhnya. Sakit dan takut itu yang Jaejoong rasakan saat ini.
"Berta..hanlah.. untuk.. Umma.. Cha..gi" ucap Jaejoong susah payah dan mengelus perlahan perut besarnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Jaejoong, tidak ada yang bisa menolongnya saat ini. Jaejoong hanya bisa berharap bahwa bayi yang dala kandungannya selamat. Sampai pada akhirnya Jaejoong mulai kehilangan kesadaran secara perlahan.
Chapter 10~
Pagi hampir datang namun matahari belum menampakkan dirinya dirinya terlebih dengan lampu kamar yang dalam keadaan mati dan gorden kamar yang belum dibuka. Mata musang itu terbuka secara perlahan. Yunho mengerjapkan matanya. Namun, Yunho tidak ada Jaejoong di sebalahnya. Ranjang mereka berantakan. Yunho memegang kepalanya yang terasa pening dan berdeyut, sampai dia menyadari bahwa semalam tidur tanpa mengenakan celana. Yunho kaget mengingat semalam dia mabuk karna melampiaskan kekesalannya setelah bertengkar dengan Jaejoong. Wait! Jaejoong kemana dia? Yunho meraba kasurnya dan mendapati sebuah kain yang merupakan celana yang semalam dia pakai, dengan tergesah Yunho langsung mengenakannya. Dengan cepat Yunho langsung turun dari ranjangnya dan berjalan dengan perlahan mencari saklar lampu di dekatnya. Yunho kembali mengedarkan pandangannya, matanya terbelalak ketika mendapati tubuh Jaejoong yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri ditambah dengan darah pekat bercampur dengan air berwarna bening disekitar kaki Jaejoong.
"Boo!" dengan perasaan kalut Yunho langsung mendekati Jaejoong.
Dengan sigap Yunho langsung berusaha membenarkan posisi Jaejoong. Yunho memeluk tubuh Jaejoong dan membiarkan Jaejoong bersandar pada tubuhnya. Mata Yunho memanas, airmata Yunho langsung turun ketika melihat wajah pucat Jaejoong dan merasakan tubuh dingin Jaejoong.
"Boo, ireona" ucap Yunho menepuk pelan pipi Jaejoong. Namun tidak ak ada jawaban maupun gerakan yang dilakukan tubuh yang terkulai lemas itu.
"Kumohon menjauh..darikuh.. Nnngghh… Kum..mohon.. Nggghh.. Hent-"
PLAK!
"Diam! Kubilang diam!"
Yunho semakin menangis sepotong ingatan semalam melintas di kepalanya, apa yang sudah Yunho lakukan semalam pada Jaejoong terulang kembali bahkan lebih parah. Yunho terus berusaha untuk membangunkan Jaejoong, airmatanya terus turun hingga membasahi wajah lusuh Jaejoong. Yunho meletakan Jaejoong dengan perlahan dan berlari menuju pintu, membukanya dengan tergesah. Tanpa diduga, Yunho mendapati So Ahjumma tertidur di sebelah pintu kamarnya.
"Ahjumma… Ahjumma, ireona!" ucap Yunho panic dan membuat So ahujmma terkaget dan langsung membuka matanya.
"Tuan muda, dimana Joongie?!" tanya So ahjumma dengan nada panic.
"Kumohon tolong katakana pada Jongkook untuk siapkan mobil" jawab Yunho dengan tergesah.
"Apa yang kau lakukan pada Joongie?!"
"Ahjumma kumohon cepat!" ucap Yunho yang langsung mendorong-dorong tubuh So ahjumma untuk segera mengabulkan permintaannya.
So ahjumma langsung mengabulkan permintaan Yunho dan berlari menjauh dari kamar Yunjae, Yunho sendiri langsung kembali masuk dan mengangkat tubuh Jaejoong dengan perlahan. Tidak ada tetesan darah lagi yang keluar dari tubuh Jaejoong karna semuanya sudah mongering. Pikiran Yunho saat ini adalah sesegera mungkin untuk menyelamatkan Jaejoong.
"Ommo?! Joongie?!" So ahjumma terkejut ketika melihat tubuh Jaejoong digendongan Yunho.
"Ahjumma, tolong buka pintunya" titah Yunho dan So ahjumma langsung membukakan pintu utama kediaman Jung.
Diluar Jongkook telah siap dengan mobil yang Yunho minta. So ahjumma langsung membukakan pintu bagian belakang. Dengan perlahan Yunho masuk dengan membiarkan Jaejoong di pangkuannya.
"Boo.. Ireona, chebal.." bisik Yunho terus menerus pada telinga Jaejoong sepanjang perjalanan.
.
Sudah sekitar 3 jam berlalu Yunho berdiri bersandartepat disamping pintu ruang operasi dengan lampu berwarna merah diatasnya yang masih menandakan bahwa operasi belum usai. Jejak airmata sudah menghiasi wajah Yunho sejak tadi. So ahjumma yang melihat itupun mendekati YUnho dengan wajah yang menahan amarah.
"Lihat apa yang kau lakukan, Yunho" ucap So ahjumma yang untuk pertama kalinya menyebut nama pendek Yunho secara langsung. "Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyakitinya lagi? Coba kau lihat apa yang kau lakukan sekarang?!" So ahjumma akhirnya meluapkan emosinya pada Yunho, sedangkan Yunho hanya diam dengan wajah lesunya dengan mata yang terus melihat kearah kaca buram ruang operasi.
PLAK
Satu tamparan cukup keras dilayangkan oleh So ahjumma membuat Yunho menundukkan kepalanya. Airmata kembali menetes dari mata musang itu, begitupun dengan So ahjumma. So ahjumma menangkup wajah Yunho yang sudah menunjukkan kekacauan disana.
"Yunho.. Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya So ahjumma dengan lembut.
"Ini semua salahku.. Aku menghancurkannya, ahjumma" tangis Yunho kembali pecah.
Tak kuasa melihat kondisi Yunho saat ini, So ahjumma perlahan memeluk tubuh Yunho. Membiarkan tubuhnya menjadi sandaran bagi Yunho. Seberapa besar kesalahan Yunho, So ahjumma tidak akan bisa untuk membenci orang yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
Beberapa menit kemudian lampu ruang operasi berubahhijau menandakan operasi telah usai. Baik Yunho maupun So ahjumma langsung melepaskan pelukannya. Terlihat seorang dokter yang langsung melepas maskernya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yunho langsung.
"Syukurlah bayinya selamat" jawab Junsu singkat hal itu membuat So ahjumma sedikit merasa lega, namun tidak dengan Yunho.
"Lalu bagaimana dengan Joongie?" tanya Yunho lagi.
"Kau bisa menemuinya didalam, ikut aku" jawab Junsu lagi dan langsung kembali masuk kedalam ruangan.
Yunho melirik kearah So ahjumma, seolah memberi isyarat apakah dirinya harus masuk. Mengerti dengan maksud Yunho, So ahjumma langsung menganggukan kepalanya. Yunho pun berjalan masuk mengikuti dokter tersebut.
.
Dengan pakaian khusus yang sudah dikenakan, Yunho berjalan mendekati sebuah box kecil transparent yang memperlihatkan seorang bayi mungil didalam sana. Mata Yunho mulai basah, dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Perlahan Yunho menyentuh tubuh mungil bayi laki-lakinya. Yunho mulai menangis ketika mengelus tangan kecil itu secara lembut. Tanpa disadari bayi laki-laki dihadapannya merespon sentuhannya dengan menggenggam ibu jari Yunho. Yunho tersenyum kecil dan mencium tangan kecil itu masih tak percaya, Yunho terus mengelus kulit halus dan putih bersih yang Jaejoong wariskan padanya. Bagaikan sebuah jiplakan, bayi tersebut bagai perpaduan wajah Yunho dan Jaejoong. Terlalu larut dengan pemandangannya saat ini, Yunho baru tersadar dirinya belum melihat Jaejoong.
"Dimana istriku, Uisa?" tanya Yunho bingung.
"Dia ada disebelah tirai itu" jawab dokter tersebut.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Yunho dan dokter tersebut hanya menganggukan kepalanya.
Perlahan Yunho menyingkap tirai yang berada disebelahnya. Disana, diatas ranjang, Jaejoong yang terlihat tertidur pulas dengan wajah pucat dan selang oxygen yang menancap dihidungnya serta berbagai alat kembali menopang hidupnya. Serta monitor bersuara nyaring yang menunjukkan berbagai angka sebagai penunjuk denyut nadi Jaejoong. Perlahan Yunho duduk diranjang Jaejoong. Tangannya terulur untuk menyentuh surai hitam Jaejoong. Perlahan mata sayu Jaejoong terbuka.
"Boo.. Kau sudah sadar?" tanya Yunho dan langsung mengelus pipi Jaejoong.
"Yunh.." ucap Jaejoong dengan suara lemah.
"Anak kita selamat, Boo.. Changmin, kau ingin nama itu kan? Dia tampan dia mirip dengan kita" ucap Yunho girang.
"Ch..ang..min?" sebut Jaejoong sedikit senyum yang terukir disudut bibirnya.
Ne, Mianhae, Boo.. Aku menyesal telah melakukannya padamu" ucap Yunho kembali menangis.
"Yunh.. Mengapa..kau.. memb..bohongi..kuh" tanya Jaejoong dengan susah payah.
"Mianhae, Boo.. Kumohon maafkan aku, kau mau memaafkanku kan? Kumohon, Boo. Jangan membenciku" ucap Yunho yang terus memohon pada Jaejoong.
"Ani.." jawaban Jaejoong membuat Yunho terdiam. "Ak..ku tidak memben..cimu, tap..pi aku, kecewa..pada..mu" tambahnya.
"Untuk itu maafkan aku, aku janji aku akan memperbaiki semuanya, Boo.. Aku janji"
"Yunh.. Disi..ni dingin.." ucap Jaejoong.
"Biar kuhangatkan tanganmu ya" jawab Yunho yang menggenggam erat tangan Jaejoong dan menciumnya berkali-kali.
"Ding..in Yun" ucap Jaejoong lagi. "Maukah..kau memeluk..ku, Yun?"
"Ne.. Aku akan menghangatkanmu" ucap Yunho.
Perlahan Yunho mulai mengangkat tubuh bagian atas Jaejoong dan membawanya dalam pelukan. Dengan lembut Yunho membelai surai Jaejoong dan membuat Jaejoong menyandarkan kepalanya pada pundak Yunho. Jaejoong kembali memejamkan matanya, perlahan tangannya menyentuh punggung kekar Yunho.
"Maafkan aku, Boo.." tangis Yunho dan terus menggumamkan kata maaf.
"Ne.." jawab Jaejoong singkat.
"Gomawo, Boo" ucap Yunho dan mengeratkan pelukannya.
Cukup lama keduanya Yunho emeluk tubuh Jaejoong, Yunho berharap dapat menghantarkan hangat pada tubuh Jaejoong dengan terus mengecup dengan saying puncak kepala Jaejoong.
"Yunh.."
"Ne?"
"Kumo..hon, jaga Changmin.. unt..tukku" ucap Jaejoong susah payah.
"Kau tidak boleh mengatakan itu, Boo.. Kita akan membesarkan Changmin bersama-sama. Aku mencintaimu, Boo. Jangan tinggalkan aku. Jangan katakan itu. Jangan katakana seolah kau akan meninggalkanku" ucap Yunho yang airmatanya kembali turun dan terus memeluk Jaejoong.
"Ak..ku..juga..men..cintai..mu..Yu-"
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt~
Belum sempat Jaejoong menyelesaikan kata-katanya bunyi nyaring terdengar dari monitor yang menunjukkan angka nol. Yunho merasakan sentuhan tangan Jaejoong pada punggungnya merosot secara perlahan. Tangis Yunho semakin pecah. Dia tahu, Jaejoong pergi meninggalkannya, meninggalkan Changmin tanpa sempat melihatnya. Dan juga tanpa sempat Yunho menepati janjinya untuk mengembalikan warna pada mata Jaejoong. Dan hanya itulah yang bisa Yunho lakukan, menangisi tubuh yang tidak lagi bergerak dalam pelukannya.
.
Perlahan Yunho menyentuh batu nisan dihadapannya, kini didepan matanya telah bertengger sebuah gundukan baru di dekat makam pasangan Kim yang tak lain adalah orangtua Jaejoong. Tak dapat digambarkan perasaan yang Yunho rasakan saat ini. Cukup lama Yunho terdiam dalam lamunannya, sampai sebuah tangan kecil menyentuh tangannya mencoba ikut menyentuh batu nisan tersebut. Changmin. Ya, bocah kecil berusia 7 bulan tersenyum kearah Yunho. Yunho tersenyum kecil dibuatnya.
"Kau ingin menyentuh umma?" Yunho mengarahkan tangan bayi kecil tersebut untuk menyentuh pusara Jaejoong. "Kau tidak bisa merasakan umma disini, tapi umma akan selalu ada disini" Yunho mengarahkan tangan kecil Changmin kearah dadanya sendiri. "Umma aka nada disini bersama kita. Maafkan appa, ne?" tambah Yunho seraya berdiri dan memeluk tubuh Changmin. "Boo.. kami pulang dulu, annyeong"
Yunho pun berjalan keluar area pemakaman membawa Changmin dalam gendongannya. Tanpa disadari Yunho, Changmin tengah tersenyum kearah belakang dengan seseorang yang tidak akan pernah lagi dilihat oleh Yunho.
-END-
