10. FAKTA
Aku tidak peduli apapun wujudmu...
Aku juga tidak peduli dengan darah yang mengalir di tubuhmu...
Karena yang penting, kau harus tahu...
Bahwa aku juga mencintaimu...
Vanitas berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang tamu di mana yang lain sedang berkumpul. Kairi dan Sora sedang duduk sambil saling berbisik, Roxas dan Namine hanya diam saja, sementara Cloud dan Tifa juga diam sambil menunggu Vanitas. Kejadian datangnya Demyx, salah satu vampir pesuruh raja ke dunia manusia sungguh mengejutkan mereka. Sama sekali tak disangka bahwa mereka bisa menampakkan sosok mereka di depan Xion, yang adalah seorang manusia. Bahkan menyerangnya dan nyaris membunuhnya. Apakah dunia vampir benar-benar sudah berubah?
Tanpa menatap satupun anggota keluarganya, Vanitas berjalan ke arah sofa dan duduk disamping Tifa. Cloud yang tadinya diam, langsung memulai pembicaraan dengan istri dan anak-anaknya. Dan memang sejak awal, Cloud-lah yang paling gelisah dengan masalah ini.
"Jadi, seperti yang kita sudah ketahui," kata Cloud memulai pembicaraan. "Mengenai kasus Demyx yang menyerang Xion, apa pendapat kalian?"
"Entahlah," jawab Sora. "Tetapi, kenapa dia bisa masuk ke dunia manusia dengan mudah? Bukankah semenjak kita kabur dari kota, seluruh vampir langsung dilarang keras untuk pergi ke dunia luar?"
"Memang betul, tetapi kenapa Demyx bisa dengan mudahnya masuk ke sini? Itulah yang sebenarnya paling kubingungkan."
"Apa itu tanda bahwa mereka telah telah diberi kewenangan bebas untuk menjelajah, termasuk ke dunia manusia?" tanya Kairi.
"Kalau memang begitu, berarti gawat sekali," kata Roxas. "Dan Demyx juga sudah melihat Vanitas, aku yakin kalau dia akan melapor nantinya."
Vanitas mendengarkan pendapat mereka tanpa berbicara sedikitpun. Meskipun keluarganya sedang membahas mengenai serangan Demyx, tetapi yang ada di pikiran Vanitas adalah Xion. Vanitas masih ingat betul betapa khawatirnya dia ketika melihat sosok Xion yang sudah berdarah-darah di lantai kelas. Kalau saja dia terlambat, mungkin Xion akan benar-benar tewas. Tetapi ada satu hal lain yang mengganjal di hati Vanitas.
Kenapa tadi dia bisa mencium keningnya?
Apa sebenarnya yang menggerakkannya untuk melakukan hal tersebut?
Sejak awal Vanitas memang sudah merasa ada yang aneh ketika ia pertama kali bertemu dengan Xion. Seolah-olah gadis itu adalah hal yang baru pertama kali diketahui dan ditemui olehnya. Padahal setiap hari dia sudah pernah melihat manusia perempuan disekelilingnya, baik di sekolah, maupun disekitar rumahnya. Tetapi mengapa ketika melihat Xion semuanya terasa begitu... berbeda?
Vanitas Fallenstein, kau memang sungguh aneh. Tak seharusnya kan kau memikirkan perasaanmu disaat genting seperti ini, seharusnya kau ikut fokus pada pembicaraan.
"Vani?" tanya Tifa.
"Ya?" jawab Vanitas sambil menolehkan kepalanya. "Maaf, tadi kalian bicara sampai mana?"
"Kau tidak apa-apa? Kenapa daritadi kau diam?"
"Aku tidak apa-apa kaa-san."
Tifa menaruh tangannya di bahu Vanitas. "Kau agak aneh hari ini. Mau istirahat di kamarmu?"
"Tidak usah, aku sungguh baik-baik saja."
"Tou-san, mungkinkah ini tanda bahwa Xehanort benar-benar sudah gila?" tanya Sora.
Pertanyaan itu membuat Vanitas terkejut. Apalagi ketika dia mendengar lagi nama 'Xehanort', nama orang yang telah membunuh orangtua kandungnya. Dan tak hanya orangtuanya, melainkan juga orangtua Kairi dan Namine. Vanitas masih menyimpan dendam terhadap Xehanort meskipun lima tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Rasanya dia ingin sekali menyiksanya pelan-pelan lalu membunuhnya.
Tifa menyadari perubahan dalam sorot mata anaknya. Sejak pertama kali dia dan Cloud mengangkatnya menjadi anak, dia memiliki sorot mata yang berbeda dengan anak-anaknya yang lain. Sorot mata penuh kebencian serta dendam, yang mungkin saja akan mengambil alih kepribadiannya suatu saat nanti. Seandainya ada cara untuk menghilangkan rasa dendamnya seutuhnya, baik dirinya dan Cloud ingin sekali mencari tahu.
"Vani."
Suara berat khas Cloud membuat pikiran Vanitas jernih kembali. Ya ampun, sudah dua kali pikirannya kemana-mana. Nama Xion dan Xehanort seolah-olah mampu mengacaukan pikiran dan konsentrasinya.
"Aku tahu nama Xehanort ibarat tabu untukmu, tetapi bisakah kau tetap fokus? Ini hal yang sangat penting."
"Tou-san, daritadi aku..."
"Jangan berbohong, Vani. Aku dapat mengetahuinya dari sorot matamu, kau daritadi tidak menyimak pembicaraan kami kan?"
Vanitas tidak menjawab dan menundukkan kepalanya. Sial, akhirnya dia jadi dimarahi.
"Cloud, kau jangan terlalu keras dengannya. Lagipula wajar kan jika dia masih mengingat kejadian..."
"Jangan memanjakannya, Tifa," sela Cloud. "Dia bukan vampir muda lagi, sudah saatnya dia menjadi lebih dewasa."
Baru saja Tifa mau menjawabnya, Vanitas sudah bangkit berdiri dari sofa. Ekspresi wajahnya sulit untuk ditebak, entah menunjukkan rasa marah, atau mungkin malu.
"Maafkan aku tou-san," kata Vanitas. "Aku akan menenangkan diri lebih dulu."
"Va—"
Vanitas tersenyum pada Tifa sebagai tanda bahwa dia tidak apa-apa. Dan kemudian, dia berjalan ke arah pintu dan keluar. Vanitas merenungkan kata-kata ayahnya tadi, dan memang apa yang dikatakannya benar. Dia bukanlah vampir muda ataupun vampir yang masih bau kencur. Usianya sudah 130 tahun, termasuk matang untuk ukuran vampir. Jadi sudah seharusnya dia bersikap dewasa dengan melupakan masa lalu dan tidak lagi terbawa emosi.
Tetapi sangat sulit untuk melakukannya. Meskipun dia selalu mencoba untuk mengontrol emosi, dari dalam tubuhnya seperti ada sesuatu yang selalu bergejolak. Dan gejolak itulah yang akhirnya membuat dia mengamuk kembali. Berbagai cara sudah dilakukan Vanitas untuk mengontrol emosinya, tetapi hasilnya selalu nihil.
"Apa yang harus kulakukan? Aku tak mau merepotkan mereka lagi."
Vanitas melangkahkan kakinya ke halaman. Rasanya dia ingin sekali berubah dan pergi ke tempat yang jauh untuk berpikir jernih. Namun, sebelum dia mewujudkan niatnya, dia sudah dikagetkan dengan suara lembut yang memanggilnya dari atas.
"Kau mau kemana, Vani?"
...
Xion sungguh bosan. Dia sudah menghabiskan makanannya dan kini dia tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya dia ingin sekali bangun dan menyapa keluarga Vanitas yang ada di bawah. Tetapi dia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Cloud yang sedang memarahi Vanitas. Memangnya apa yang dilakukan Vanitas? Xion ingin sekali tahu.
Luka-luka di tubuhnya sudah jauh lebih baik berkat obat yang diberikan Cloud. Kini Xion bisa menggerakkan tangan dan kakinya lebih leluasa. Sambil memindahkan posisi kakinya, Xionpun mencoba turun dari ranjang. Kakinya masih terasa lemas ketika menapak lantai, berarti Xion terpaksa membatalkan niatnya untuk turun ke bawah. Saat berjalanpun, Xion harus berpegangan supaya tidak jatuh. Aduh... rasanya seperti sedang sakit parah saja.
Brak.
Tiba-tiba Xion mendengar suara pintu yang ditutup pelan dari bawah. 'Siapa ya?' begitulah pikirnya.
"Mungkin lebih baik aku ke teras."
Sambil membawa tabung infusnya, Xion melangkah pelan menuju ke teras yang ada di depannya. Tangannya yang juga masih terasa lemas menggeser pintu kaca dengan susah payah sampai akhirnya dia berhasil keluar. Sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal, Xion melihat sosok seorang laki-laki yang sedang berjalan keluar dari garasi. Mukanya tampak murung, berbeda dengan saat dia berbicara dengannya tadi. Xion memutuskan untuk memanggilnya.
"Kau mau kemana, Vani?"
Panggilan lembut itu cukup membuat Vanitas membalikkan tubuhnya. Seperti dugaan Xion, ada yang berbeda dengan ekspresi Vanitas.
"Xion."
"Kau mau kemana malam-malam begini? Bukannya tadi kau sedang mengobrol dengan keluargamu?"
Mereka berdua bertatapan sesaat, dan setelah itu Vanitas melompat dengan mudahnya hingga ia sekarang berada di samping Xion. Xion sungguh kaget setengah mati.
"Ini salah satu keahlian vampir," kata Vanitas sambil tersenyum.
"Sepertinya kau akan membuatku mati karena sakit jantung."
"Kenapa kau bangun? Lukamu masih belum sembuh kan?"
"Lukaku sudah jauh lebih baik. Terima kasih karena obat ayahmu sangat membantu."
"Oh."
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Vani. Kau mau ke mana tadi?"
"Aku tidak mau kemana-mana kok, hanya mau menyegarkan pikiran saja."
"Memangnya ada apa?"
Vanitas memeluk punggung Xion. "Daripada kau mendengarnya, lebih baik kau istirahat. Aku akan menemanimu supaya kau tidak bosan."
"Kau tadi habis dimarahi?"
Senyum di wajah Vanitas tiba-tiba menghilang ketika mendengar pertanyaan Xion. Xion yang menyadari perubahan ekspresi Vanitas langsung melanjutkan pertanyaannya.
"Apa kau dimarahi karena aku?"
Vanitas menggelengkan kepalanya. "Bukan."
"Tapi kau memang dimarahi kan?"
Vanitas melepaskan tangannya dari punggung Xion. Kemudian, dia berjalan ke pinggir teras dengan wajah yang mengarah ke atas. Menatap langit malam yang dipenuhi dengan bintang.
"Ya, aku memang dimarahi oleh ayahku. Tetapi bukan karena aku membawamu ke sini."
"Lalu kenapa?"
"Ada alasannya," katanya, "tapi tenang saja, bukan hal yang serius."
Vanitas kembali mendekati Xion. "Ayo kita masuk, angin malam tidak bagus untukmu."
Melihat sisi lembut Vanitas yang telah kembali lagi, Xion tidak bisa menjawab dan berbuat apa-apa. Dia membiarkan tangan Vanitas memeluk dan memapahnya hingga akhirnya mereka sampai di kasur. Tangan Vanitas terasa begitu kuat, tetapi tidak sampai membuatnya merasa sakit. Malah Xion merasa begitu terlindungi, sama seperti saat Vanitas datang menolongnya di sekolah.
Xion kembali berbaring dengan bantuan Vanitas. Saat ia menoleh ke jam dinding yang tergantung di samping pintu, jarum pendek sudah menunjuk ke angka delapan. Ternyata masih jam delapan toh? Tetapi entah kenapa mata Xion sudah terasa agak berat. Padahal biasanya dia tidur jam sepuluh sampai sebelas malam. Mungkinkah semua ini karena kejadian yang menimpanya?
Lalu, bagaimana dengan Vanitas yang kini sedang menyelimutinya? Dia kan vampir. Apakah dia juga butuh tidur? Kalau di film horor sih, vampir tetap bisa tidur. Hanya saja tidurnya bukan di kasur seperti manusia pada umumnya, melainkan di peti mati. Apa iya Vanitas dan keluarganya juga begitu? Selama dia berkunjung ke rumah ini, Xion belum sempat menjelajah lebih jauh. Dan lagi, waktu itu kan Xion belum tahu bahwa mereka sekeluarga adalah vampir. Jadi Xion tidak pernah memperdulikannya.
"Vani."
"Hm?"
"Apa kau bisa tidur?"
Vanitas memiringkan kepalanya. "Maksudmu?"
"Maksudku... ah, aku jadi malu untuk menanyakannya."
"Tanyakan saja, tak apa kok."
Xion memandang Vanitas dengan sedikit tidak yakin. 'Benar nih tak apa-apa?' Begitulah isi pikirannya. Tetapi ketika melihat kedua mata Vanitas yang menatapnya, akhirnya Xion berani untuk mengucapkannya.
"Kau kan vampir," ucap Xion. "Apa kau juga tidur seperti manusia?"
"Tentu saja."
"Lalu... apa kau tidur di... yah..."
"Peti mati?"
Xion menundukkan kepalanya sambil mengangguk. Tetapi dia tahu kalau Vanitas sedang menahan tawanya.
"Tentu saja tidak, aku tidur di tempat tidur seperti manusia lainnya."
Mulut Xion membentuk huruf 'o', ternyata dugaan dan pemikiran dia salah. Keluarga ini sudah lebih modern dibanding vampir yang ada di film-film. Yah, dari rumah dan perabotannya juga sudah kelihatan.
"Lalu, aku mau bertanya lagi," lanjut Xion.
"Silahkan, tanya saja."
"Berapa umurmu? Rasanya aku tidak yakin kau seumuran denganku."
"Umurku?"
"Iya, umurmu."
"Kau sungguhan ingin tahu?"
"Kalau aku tidak ingin tahu, aku tidak akan tanya."
"Jangan kaget kalau begitu."
Vanitas menggeser kursinya mendekati Xion. Entah untuk apa, Xion tidak tahu. Padahal tanpa menggesernya, suara Vanitas sudah terdengar begitu jelas di telinganya. Jarak antara mereka berdua kan dekat.
"Tahun ini usiaku 130."
"Hah? !"
"Tidak percaya kan?"
Xion memegangi kepalanya sambil berkata 'Serius nih? !' dalam hati. Usianya 130? Berarti dia termasuk kakek-kakek! (bahkan lebih dari kakek!). Rasanya lama-lama dia bisa jadi gila, terlalu banyak hal-hal di dunia ini yang di luar perkiraannya.
"Dasar kakek," ejek Xion.
"Hei, tapi wajahku kan bukan wajah kakek-kakek."
"Wajah kan bisa menipu."
"Wajah ini asli lho, Xion."
PRANG!
Xion dan Vanitas dibuat terkejut dengan suara keras yang muncul dari lantai satu. Suara yang terdengar seperti kaca pecah. Sepertinya jendela raksaksa yang menghubungkan rumah dengan teras yang hancur.
"Su... suara apa itu?"
Vanitas bangkit berdiri. "Mereka datang lagi."
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu...
Namun...
Apakah kita sungguh-sungguh bisa bersatu?
Akhirnya saya bisa update juga. Makasih yang sudah baca, ikutin, review, fave, dan alert fic ini. Mohon read and review chapter ini juga ya, makasih.
