内の電力
Uchi no Denryoku – Internal Power
NARUTO © Masashi Kishimoto
UnD © Yatogami Tohka
Genre: Adventure – Fantasy – Friendship – Supernatural – Mystery
Pairing: Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Warning: AU, OOC, and romance and tegang yang agak gagal here /ha
As usually.. kita awali dengan balas review dulu.. X3
Sherlock Holmes : Tohka kelamaan updet ya? ;w;) Gomen ne.. Tohka ga nepatin janji tiap updet seminggu sekali.. harus liat keadaan dulu.. ;w;) tapi Keep Reading and Reviewing ya.. X3
Titan-miauw : Bisa.. :D tapi tentu saja seperti luka bakar pada umumnya, butuh waktu agak lama supaya benar-benar ilang, kan? :3 tapi ntar juga tetep ada bekasnya kan?
Lyn Kuromuno : Lyn tau anime Another? Karin itu macam "murid tambahan" di anime itu ( kalo nonton ya.. :3 ) jadi sebenarnya dulu dia udah mati, cuma dia jadi hantu yang punya jiwa dan raga, dan ingatan. Dan jadi jahat. Kalo di Another kan cuma jadi hantu yang punya jiwa dan raga dan ingatan.. :3
Haru CherryRaven : Lah.. Author macam Onta bisa nyimpen cadangan makanan di punuknya ntar kalo pipinya melar.. XD
Hanazono Yuri : Pasti! X3 Tapi.. Diusahakan yaa.. ;w;) Author suka ga tepat nih updetnya, kadang lebih sehari dua hari. Paling parah lebih seminggu .. ;w;)
Syofalira29 : Arigatou.. ^^ Salam kenal Syofalira-chan.. Keep reading juga yaa.. XD and keep reviewing.. *ketjup* Keep Reading and Reviewing ya…
Iqlima : Maap ya updetnya ga kilat-kilat .. ;w;) Author masih mengusahakan updet kilat nih.. Tentu dong! Namanya juga cinta sejati, feelingnya pasti kuat! *w*)9 /nak.
Sasusaku Fans : Kalo chapter, entahlah .. sebisa author aja bisanya ampe berapa chapter.. mudah-mudahan author bisa buat berchapter-chapter.. TwT)b | FB sih ada, tapi author 'tidak bisa' kasih tau disini.. ^^"
Eysha 'CherryBlossom : Author memasukkan beberapa unsur-unsur ANOTHER disini. Jadi entah bagaimana dia mati dulu, yang pasti dia hanya bagaikan muncul dan hilang tiba-tiba di ingatan orang-orang yang bakal berurusan dengannya.. ;w;) *penjelasan nan gaje* Sasuke tau koq, makanya dia bilang seharusnya Karin udah ga ada disini kan? :3 Keep Reading and Reviewing ya..
Aria Desu : Author kangen Aria… TwT) *peluk alia elat-elat* *mendadak cadel* Iya yak.. ^^" Masih terlalu ngebut, semoga chapter depan bisa berjalan secara natural, gak ngebut-ngebut amat.. X3 | Sippo~! Kalau sifat Sakura yang Author tonjolkan disini sudah cukup tepat, author akan pertahankan.. X3 | XD Gomen ne.. tadinya mau dikasih sesuatu, tapi kan titik permasalahannya Karin, jadi yaa.. mau bagaimana atuh.. ;w;)w | Chapter depan ini tegang-tegangan koq.. XD Tapi kayaknya belum bener-bener mulai tegang, soalnya masih permulaan kasus.. ;w;) Gomen ne.. Orz Keep Reading and Reviewing yaa.. X3
Hikari Ciel : Yah.. namanya anak-anak.. mungkin mereka sedang kena hukumnya.. /nak/ XD Sippo~ Keep Reading and Reviewing.. X3
Marchioness Scarlet : Scarlet-chan Author bikin jadi anak-anak disini mau? '-')a kalau jadi remaja seumuran, sudah terlalu banyak. Tapi Scarlet tetep masuk IP koq.. ;w;)b | Janggalnya kenapa ne? Author akan perbaiki jika ada kata-kata janggal di chapter ini dan chapter depan.. arigatou.. ^w^)b | Warna rambutnya scarlet kayak Erza Scarlet di Fairy Tail ya? :3
.9 : Keep Reading and Reviewing ya.. ^^)b
Mia Dullindal : Bener juga ya.. chainsaw sudah terlalu mainstream.. =w=)b | Chapter ini one shot case karena chapter khusus .. seterusnya akan jadi beberapa chapter lagi.. *smirk* /nak/ | Iya nih.. yang ini kasusnya emang dipaksain. Berhubung rewatch Another, jadi nambahin beberapa unsur another.. ;w;) Gomen ne..
MiMeNyan : Jadi ini akun FFn Hani-chan? *w*) *brb follow author* XD | Tentu dong! Sasuke kan sukanya Sakura, bukan Karin! Ia pasti akan menolong Sakura apapun yang terjadi, walau badai menerjang.. /nak XD
Imahkakoeni : Mungkin ada di chapter-chapter depan setelah beberapa kasus yang sudah author siapkan ya.. :3 Mau kasusnya yang bagaimana?
Arisa Kanagki : Tidak terlalu sih.. =w=)a itu juga konsultasi ama guru Kimia.. XD | Benarkah ada typo? OAO)w DIMANA?! CEPAT JAWAB! OAO)w /cukup/ ;w;) Gomen ne.. lain kali takkan ada typo lagi.. ;w;) | Karin itu sebenarnya udah mati, bagaimanapun cara matinya, lupa author jelaskan di chapter kemarin.. =w=) tapi idup lagi, dan sama seperti jasadnya, ia hidup lagi dalam ingatan orang yang juga akan berkaitan dengan dia. Dia bisa jahat karena dia menyangka dirinya immortal, karena idup lagi, dan efek "reinkarnasi kilat" itu.. ._.)b *tidak perlu dianggap serius penjelasan ini, semua hanya fiksih belaka* Keep Reading and Reviewing ya.. X3
Tzuki Yuzuhira : Sippo~! Keep Reading and Reviewing ya Tzuki-chan.. ^^
Vanny-chan : Galaksi Bima Sakti terlalu mainstream, kita buat galaksi baru. /nak/ XD | Karin mati yang dulu, bisa karena apa saja. XD lupa dijelaskan. Gomen ne.. terserah pada imajinasi kalian Karin matinya kenapa. Kalo Karin mati yang kedua kalinya kan dibakar Skamolphonnya Sasuke. X3
Yuka-chan : Gak apa koq.. yang penting Yuka-chan ngereview *w*)9 *maksa* | Tentu saja dikembangkan secara perlahan.. supaya mengalir natural bagai air.. /ha XD | Kalo selingkuh dapet piring cantik deh.. 'w')b /ha | Kalo chapter, belum yakin sampe berapa.. XD mungkin banyak.. Yuka-chan maunya sampe berapa? | Arigatou Yuka-chan.. X3
Sakura di chapter kemarin masih agak lemah, tapi dia sudah punya keberanian yang menjadi senjata paling utamanya…
Seperti kata pepatah (?) semua harus dimulai dari nol. Perkembangan kekuatan anggota IP, khususnya Sakura pun, harus berkembang perlahan..
DISINI baru permulaan KASUS KETIGA, jadinya mungkin agak sedikit, tak apa-apa kan? ;w;) sudah sedikit, telat seminggu lagi.. author janji chapter depan WALAU telat, tapi panjang.. ;w;)b
Yosh! Lanjut keee~~ *sfx : Meong Guk Guk ba dum tes*
Liburan musim panas di pantai tidak sehebat dan selama yang kami bayangkan, hanya beberapa hari. Kami segera pulang, dan merencanakan liburan musim panas di tempat lain.
Setidaknya karena ini, aku punya pengalaman bertarung dengan orang kuat seperti Karin..
Dan juga.
Menjalin hubungan dengan Sasuke dengan status yang resmi.
"Pacaran.."
Chapter 10 – Leadership Training Camp
Sakura's POV
"Sudah dengar pengumuman tadi?" Shikamaru memulai percakapan di pertemuan IP pertama kali setelah liburan musim panas kemarin yang dibilang agak berantakan karena masalah Karin itu.
"Ya.. tentang leadership training camp di Indonesia itu.." Neji menimpali, "Apa tidak terlalu jauh? Kenapa tidak di Gunung Fuji, atau di Kyushu? Atau di tempat lain di Jepang?" Perkataan Neji masuk akal menurutku. Training camp sampai Indonesia, terlalu berlebihan.
"Di surat edaran tertulis di Gunung Salak, Indonesia." Hinata kembali membaca ulang surat edaran yang dipegangnya.
"Berangkat tanggal 10. Terhitung seminggu lagi dari sekarang.." kata Ino, "Bagaimana? Cukup menarik, bukan? Lagipula, sekali-sekali training camp di negara lain 'kan tak masalah.. Aku baru tahu sekolah bobrok seperti ini punya biaya besar untuk training camp di Indonesia loh.."
"Menginap berapa hari?" Lee bertanya.
"Sekitar seminggu." jawab Hinata, meniti kata demi kata di surat edaran.
Aku hanya menghela nafas. Seminggu, butuh berapa banyak baju yang harus disiapkan. Walaupun aku sudah terbiasa hiking dan mengerti bagaimana cara menge-pack baju dengan baik dan menyiapkan baju secukupnya, tetap saja berlebihan. Training camp sampai ke luar negeri, apalagi Indonesia yang jauh sekali di selatan. Negara tropis.. Panas…
"Aku penasaran bagaimana rasanya disana.." Ino tertawa, "Kata ayahku yang pernah ke Indonesia, gunung itu memang terkenal mistis. Untuk orang seperti kita, bukankah itu suatu tantangan? Melawan kekuatan gunung."
Hari ini, hari pertama IP kembali berkumpul setelah liburan musim panas yang sama sekali tidak menyenangkan. Bahkan saat liburan pun kami masih harus menghadapi kasus semacam Karin. Dan setelah kasus itu, aku tidak pernah lagi membahas soal itu, walau ingin. Sasuke terlalu terpukul, kurasa, aku baru pertama kali melihatnya seperti itu. Shikamaru pun melarangku mengungkit hal itu lagi dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal, 'hal yang lalu sebaiknya dilupakan saja' begitu katanya, tapi mungkin dia mengatakan itu untuk kebaikanku, karena jika Sasuke tersulut emosi, maka yang kena imbasnya adalah aku.
"Keputusan sekolah, mana bisa diganggu gugat. Yang pasti, jalani sajalah dulu.." Sasuke angkat bicara.
Semua anggota IP, termasuk diriku, menghela nafas panjang. Bukan karena kami takut terhadap kemistisan gunung, tapi berhadapan dengan 'mereka' yang di gunung semacam masuk ke dalam kandang singa-singa kelaparan. 'Mereka' bisa saja menyadari bahwa kami bisa memusnahkan mereka. Mereka panik dan merasa terancam, lalu mengumpulkan 'sekutu' untuk memulai perang dengan mengganggu orang yang tak punya kekuatan seperti kami.
"Yang penting, saat disana nanti, jika memang tak terlalu berbahaya, tak perlu diladeni.." Temari memberi arahan, "Aku tak bisa ikut ke sana karena ada urusan keluarga di Hokkaido, jadi kuharap kalian bisa kembali dengan selamat.. sebagai salah satu anggota inti OSIS, aku menaruh kepercayaan pada kalian untuk menjaga keselamatan anak-anak lain."
"Ya.. kami mengerti.." kata Neji, "Kami akan berusaha semampu kami.."
Awalnya aku tak mengerti kenapa mereka panik saat mendengar training camp kali ini akan dilaksanakan di salah satu gunung di Pulau Jawa, Indonesia, negara yang sama sekali belum pernah kukunjungi. Untunglah kami tak harus dibimbing oleh pelatih disana, melainkan pelatih orang Jepang yang telah mengetahui seluk beluk gunung dan mengenai training camp itu sendiri. Lalu setelah mendengar percakapan mereka, aku mengerti.
Ternyata sama seperti hewan, hantu juga bisa merasa terancam ya...
"Apa tidak apa-apa…" Aku memulai percakapan sembari menunggu pesanan datang.
Sasuke menatapku dengan tangan yang sibuk mengaduk jus tomatnya, awalnya ia agak bingung dengan apa yang kubicarakan, tapi tak lama akhirnya dia mengerti, "Percayakan saja pada mereka.."
"Kau sendiri bagaimana? Sejak masalah kemarin, kau bahkan tak menjawab pesan dariku atau mengangkat telponku sekali saja.." Aku memalingkan wajahku, cemberut. Tentu saja. Berhari-hari aku mengkhawatirkannya dan dia sama sekali tak memikirkan perasaanku.
"Maaf.." dia tersenyum, sedikit. Orang seperti dia seumur hidupnya takkan bisa tersenyum lebar seperti Naruto, "Aku membuatmu khawatir, ya?"
"Tentu saja, bodoh.." Aku menyambar gelas es jeruk yang sedari tadi belum kusentuh dan meminumnya sampai habis.
"Aku tak tahu apa aku bisa terus menjagamu, atau yang lain bisa menjagamu atau tidak.. Gunung penuh misteri, apapun yang mustahil bisa ada disana. Tidak hanya arwah, tapi hewan juga bisa terlihat, oleh mata ini.." ia menunjuk mataku, memulai pembicaraan yang arahnya tak kumengerti. Sama sekali tak ada hubungannya dengan topik awal, "Aku hanya ingin kau hati-hati."
"Anggota IP bertebaran dimana-mana.. Jika dibagi kelompok pun, aku pasti akan sekelompok dengan salah satu dari mereka. Kau tak perlu khawatir.." Aku menaruh gelas kosong di meja, "Justru kau yang kukhawatirkan…"
"Kenapa?"
"Sasuke orang yang kuat, tapi kalau sudah diambang batas, jadi terlalu memaksakan diri sehingga kesusahan sendiri. Sekali-sekali meminta bantuan pada orang lain 'kan tak ada salahnya.. jangan melakukan semuanya atas kemauanmu sendiri.." Dengan nada kesal, aku menyindir soal kenekatannya mengajak Karin ke hutan sendirian, padahal dia sudah tahu Karin itu berbahaya.
"Hanya tak ingin membawa orang lain menuju bahaya.." Sasuke hanya tersenyum miris, "Alasan yang cukup, bukan?"
"Pokoknya…" Kata-kataku sempat terpotong karena pelayan baru saja membawakan pesananku dan Sasuke, tapi aku segera melanjutkannya ketika pelayan itu pergi, "Aku tak mau kau mengulang kejadian yang sama seperti kemarin.. aku tak mau.."
"Aku mengerti.." Sasuke menyodorkan piring berisi spageti pesananku, "Segeralah makan."
"Nee, Sasuke.. Boleh aku bertanya sesuatu?" Sebelum menyuap sendok pertama, aku berencana menanyakannya mengenai kasus kemarin saat liburan.
"Tanyalah."
"Kau tahu Karin adalah arwah yang punya jiwa dan raga, arwah yang sudah mati sebelumnya, tapi darimana kau tahu?" tanyaku, "Bagaimana dia meninggal dulu? Bagaimana bisa Naruto dan yang lainnya tidak tahu soal itu?"
Sasuke terdiam. Sejenak ia membuatku takut, tapi dengan muka acuh tak acuh, akhirnya ia menjelaskannya padaku.
"Aku melihatnya sendiri, saat seorang anak kecil berambut merah seperti dirinya jatuh ke sebuah bendungan. Tapi satu setengah tahun kemudian aku menemui orang yang sama, Karin. Yang seperti itu biasanya hanya muncul dan hilang tiba-tiba dalam ingatan orang-orang.."
Aku hanya ber-oh ria.
"IP akan berkumpul lebih intensif untuk training camp di Indonesia nanti.." Sasuke menepuk pelan kepalaku, "Kau harus menjadi kuat.."
"Iyaa, tak perlu kau beritahu pun aku sudah tahu.." Aku menyembunyikan wajahku yang pasti sudah merah, "Ah.. bagaimana dengan luka bakar di lehermu?" Aku mengecilkan volume suaraku.
Sasuke memegang sekitar leher dan pundaknya, "Sudah mulai sembuh.." Aku masih bisa melihat perban yang masih setia menutupi luka bakarnya, "Tapi aku tetap harus memakai perban agar tak terlihat orang," Sasuke melanjutkan kata-katanya.
Aku menghabiskan pesananku, kemudian mengajak Sasuke yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya pulang. Tidak ada percakapan penting sepanjang perjalanan. Aku pulang, ke rumahku yang masih gelap, tanda kaa-san belum pulang.
Setidaknya aku merasa siap, untuk training camp di Indonesia.
Training Camp Day 1, National Park Halimun Mountain, in Salak Mountain.
"Tidakkah hawanya begitu dingin?" Ino merapatkan jaketnya, "Aku tak menyangka akan sedingin ini, sama seperti ketika memasuki musim dingin di Jepang.." Ia menggigil sedikit.
Kami baru saja turun dari truk militer yang mengangkut kami sampai ke perhentian di kaki gunung. Setelah mengalami jetlag, walau hanya penerbangan yang sebentar, aku sudah kecapaian ketika berjalan kaki menanjak sampai ke lapangan pertemuan. Dari sini, kami bisa melihat gunung yang begitu menantang. Tentu saja, dengan pepohonannya yang begitu lebat.
"Ya.. hawanya dingin.. " kataku, "Mana yang lainnya?"
"Hinata kelihatannya masih berjalan kaki.." Ino yang tidak ada kerjaan mencoba mengepang rambutnya, "Yang lainnya kurasa juga, kita sudah sampai duluan dengan orang-orang yang sama sekali tak kukenal."
Aku sudah mulai menganalisa pegunungan ini.. memang mistis. Aku bergidik merasakan angin yang datang dari atas gunung, seakan mereka khusus turun untuk menyambut kami, tapi membawa hawa aneh yang terasa mencekam. Beberapa pembimbing training camp tampaknya sudah berdatangan dan sedang mendiskusikan sesuatu, mungkin tentang kegiatan selanjutnya. Langit terlihat mendung, padahal di jalan tadi langit begitu cerah, panas matahari pun begitu terik.
"Sasuke! Naruto!" Aku mendengar Ino berseru-seru sambil melambaikan tangan pada Sasuke dan Naruto serta Hinata yang kulihat di belakang Naruto baru saja sampai, "Disini! Hinata-chan!" Seruan Ino membuyarkan lamunanku.
"Kalian cepat sekali.." Naruto sudah terengah-engah, ia mengeluarkan botol minumannya dan menenggaknya sampai habis setengah, "Baru perjalanan ke sini saja sudah capek, bagaimana saat kita tracking ke camp nanti?"
"Kurasa kita akan berkegiatan dulu disini. Aku melihat beberapa pembimbing yang sepertinya sedang menyiapkan sesuatu." Kataku.
"Kalau dibagi kelompok, semoga kita bisa bersama-sama yaa.." Hinata menggenggam tanganku dan Ino, "Aku tidak terlalu percaya diri kalau tidak dengan kalian.."
Para peserta training camp yang lainnya mulai berdatangan. Artinya sebentar lagi kegiatan sudah akan dimulai. Benar saja, pembimbing bertubuh tegap dan berkulit cokelat itu sudah mulai mengumpulkan kami, berbaris menurut gender. Aku melihat anggota IP cowok, seperti Neji, Shikamaru, Sasuke, Naruto dan Sai berbaris dalam satu banjar. Mungkin memang akan dibagi sesuai baris banjar seperti sekarang, tapi aku tak yakin. Ino dan Tenten tampaknya asyik mengobrol di belakang Hinata, masih dalam satu banjar denganku.
"Aku harap kita sekelompok.." Ino membisikkan sesuatu padaku, ketika pembimbing berkata akan membagi kami dalam kelompok, satu kelompok 10 orang."
"Semoga saja…" Aku tersenyum.
Tapi perasaanku tak enak soal ini…
"Kayu bakarnya kurang.. Kau, gadis pink… Bisa tolong carikan kayu bakar lagi?"
Aku menoleh ke seorang cowok yang sedang berkutik dengan api dan kayu bakar untuk memasak, mengangguk dengan malas dan kemudian pergi ke bawah bukit mencari kayu bakar yang mungkin berserakan di bawah sana. Perasaanku tepat, tak ada satupun anggota IP dalam kelompokku. Hanya ada Roxanne, yang katanya blasteran Jepang – Inggris, murid pindahan dari kelas lain, beberapa cowok yang tidak bisa diharapkan dan tiga orang cewek lain yang useless.
Hinata dan Ino yang ternyata sekelompok berusaha menghibur semampu mereka, ketika aku tahu tidak ada satupun anggota IP dalam kelompokku.
Kegiatan pertama setelah membentuk kelompok dan membuat yel-yel kelompok, adalah memasak di tengah alam dengan persediaan yang sudah disiapkan. Merepotkan saja.
Aku membawa kayu bakar permintaan cowok aneh yang sedang berusaha menyalakan api itu, menaruhnya di dekat kakinya dan kemudian berjalan ke arah tas, mengeluarkan minyak kayu putih.
"Aneh! Sama sekali tak menyala!" cowok di sebelahnya sudah naik pitam, kurasa.
"Masa harus dipakai semua?" salah satu cewek menimpali, "Kata Kawase-sensei kan kita tak boleh memakai terlalu boros.."
Lelah dengan perdebatan ini, aku segera mendekat ke sisi dimana api masih sedikit menyala, membuka botol minyak kayu putih dan menyembur api itu. Api kecil itu langsung berubah menjadi api besar yang menutupi setengah badan panci itu.
"Jangan hanya berbicara.." aku berkata ketus pada kelompokku yang tak berguna, "Berpikir!"
Aku tak yakin bisa menjalankan leadership training ini dengan baik.
"Selanjutnya kita akan tracking ke camp. Bawa perlengkapan masak kalian, jika kita tak sampai hari ini, mungkin kita akan bermalam di tengah hutan!" salah satu pembimbing memberi arahan bagi kami.
Melihat sudah jam 4 sore, dan kami harus berjalan sekiranya 5 km dari sini, ditambah berbahaya berjalan di hutan malam-malam, kurasa kami akan bermalam di hutan. Aku diabaikan oleh kelompokku, mungkin karena aku berkata ketus tadi saat kegiatan memasak. Masa bodoh.. aku juga tak begitu peduli dengan mereka.
Aku hanya memikirkan Sasuke dan yang lainnya. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Apa mereka memikirkanku juga yang tampaknya terasingkan di kelompok sendiri? Ketika kami mulai berjalan melewati hutan, aku sudah banyak melihat 'mereka' yang terus mengamatiku, seakan mereka sangat penasaran padaku. Aku merelakan diri berjalan paling belakang, padahal syaraf olahragaku tumpul.
Sampai ke tempat yang tidak terlalu curam, aku menurunkan tas. Melihat mendungnya langit, tampaknya sebentar lagi akan hujan deras dengan badai ringan.. Hanya sekedar berjaga-jaga. Tas career ini takkan tahan menghadapi badai walau ringan.
Tempat perhentian pertama, aku bisa melihat sebuah rumah kecil yang sepertinya kosong.
"Sakura-chan!" Hinata memanggilku penuh semangat. Ia sedang duduk di dekat kolam dengan Ino.
Aku segera menghampiri mereka, tak peduli dengan kelompokku, "Bagaimana perjalanan kalian? Tidak apa-apa kan?" tanyaku.
"Aa.. aku tercebur saat melewati sungai.." Ino memperlihatkan celana trainingnya yang basah setengah, "Untung hanya celana.. lagipula ini juga cepat kering.."
"Dimana Sasuke dan Naruto? Apa mereka sekelompok?" aku kembali bertanya, setelah pura-pura terkejut Ino terjatuh.
"Entahlah, mungkin mereka belum datang. Tapi tadi kulihat Sasuke, Shikamaru, dan Sai terpisah. Aku tidak melihat Neji, Lee, dan Naruto. Ada kemungkinan mereka juga terpisah." Hinata menjelaskan, "Kau sendiri bagaimana? Baik-baik saja?"
"Sama sekali tidak. Karena aku berkata ketus tadi saat memasak, mereka mengabaikanku dan menganggapku seolah aku tidak ada.." Aku hanya bisa menghela nafas.
"Itu! Sasuke! Naruto!" Ino memanggil Sasuke dan Naruto yang sudah tampak bersama kelompok mereka. Kelompok mereka masing-masing. Ternyata Sasuke dan Naruto memang tidak sekelompok.
"Kalian sudah sampai duluan? Lagi-lagi… Kalian cepat sekali sih." Naruto menggerutu, "Aku masih harus menolong beberapa teman yang takut-takut saat melewati sungai dan akhirnya tercebur juga.."
Aku tersenyum. Naruto dan Sasuke tampaknya baik-baik saja. Sasuke menatapku, tersenyum sedikit, kemudian mendekatiku.
"Aku akan berusaha menjagamu, walaupun jauh.." Ia mengelus rambutku, "Berjuanglah.. kau kan anggota IP, harus kuat."
Aku tersenyum senang, "Yaa.. aku mengerti.. Kau juga.. jangan selingkuh!" kataku sambil tertawa.
"Bodoh.. mana mungkin begitu." Sambil tersipu, Sasuke memalingkan wajahnya, "Hanya kau … selalu kau.. tak ada yang lain."
Yaa.. aku juga sepertimu, Sasuke… Hanya kau.. selalu kau..
Memang tidak akan sampai tepat waktu, sama seperti tebakanku.
Kami dihentikan di sebuah lapangan luas, tapi kelihatannya masih agak jauh dari camp yang sebenarnya. Sudah ada tenda-tenda, sepertinya untuk perkelompok. Di tengahnya ada tumpukan kayu bakar, untuk api unggun kurasa."
Jam sudah menunjukkan pukul 6. Langit sudah gelap. Dan aku sudah bergidik merasakan udara malam disini. Begitu dingin, dan lebih menekan dari sebelumnya, sedikit melirik, aku sudah melihat 'mereka' yang banyak bertebaran di sekitar lapangan ini. Aku sudah mempersiapkan crimson, kalau-kalau memang ada yang menyerangku, tapi mana bisa aku melakukannya di tengah orang-orang seperti ini?
Setelah jalan dan merapikan barang kami di tenda, kami diberikan waktu yang paling kutunggu-tunggu. Waktu bebas sebelum menjalankan kegiatan menyebalkan besok. Waktu bebas sampai malam.
"Aku berencana membersihkan tempat ini saat malam nanti.." Naruto berbisik-bisik saat kami berkumpul di dekat api unggun, dan yang lainnya menetap di tenda atau makan makanan yang mereka bawa.
"Setuju! Aku tak tahan dengan banyak makhluk aneh disini!" Ino tak kalah semangat, "Lagipula mereka bisa saja membahayakan kan? Lebih baik murnikan saja!"
"Tidak gunakan kekkai saja?" tanya Hinata, "Lebih efisien kan?"
"Analoginya sama kalau membunuh orang…" kata Sasuke, "Membunuh satu persatu kan lebih tenang dibandingkan membunuh dengan bom yang menghasilkan keributan. Kalian mengerti maksudku?
Ya.. memurnikan 'mereka' satu persatu lebih tenang dibandingkan dengan kekkai yang akan mendatangkan lebih banyak lagi..
"Mulai jam berapa?" tanya Neji.
"Menurut ketika mereka semua sudah masuk ke tenda…" kata Naruto, "Ketika mereka sudah mengantuk.. kita murnikan 'mereka' satu persatu.."
Rencana telah dibuat sematang mungkin..
Kuharap memang tidak akan datang lebih banyak.
Analoginya.. kau membunuh satu dari dua preman.. lalu preman yang lainnya kabur, memanggil preman lain untuk membalaskan dendam preman yang kaubunuh itu.. Analogi yang mudah, bukan?
Tapi entah apa rencana itu bisa terlaksana.. Makin malam, malah semakin ramai.
Mereka semua tampak masih segar. Belum ada tanda-tanda tenang, belum ada tanda-tanda mereka mau masuk ke tenda masing-masing. Masih seru berbincang-bincang atau bercanda di sekitar api unggun.
Daritadi aku mencari seorang gadis yang termasuk dalam kelompokku, Roxanne.. si gadis blasteran itu.
Dia adalah gadis yang paling pendiam diantara semuanya. Gadis yang hanya banyak bergerak, tapi tak pernah berbicara. Ia terlihat dingin, dan agak misterius. Sedari tadi aku tak melihatnya, aku agak khawatir karena kelihatannya dia adalah gadis yang tak pandai bersosialisasi.
Ino dan Hinata sedang berbincang, Naruto dan Sasuke serta yang lainnya menyiapkan senjata di tenda. Aku sendiri, sengaja tak bergabung dengan mereka, karena ingin mencari gadis misterius itu.
Aku menyusuri jalan setapak yang samar karena sudah malam. Tak lupa membawa headlamp dan sebuah tongkat agar aku tak terpeleset karena tanahnya agak basah karena hujan. Sekilas ada jejak kaki, kurasa memang milik Roxanne. Aku mengikutinya, kemudian memberi tanda jalan pulang dengan ranting yang ditancapkan di tanah. Aku belum memberitahu yang lainnya, tapi tak apalah, toh aku takkan pergi terlalu jauh kan.
Roxanne tadi memakai cardigan hitam, tapi ia memakai pita putih di rambutnya. Mungkin akan terlihat jelas di kegelapan.
Tak lama kemudian.. aku melihat bayangan pita putih di hutan tak jauh dari tempatku berdiri sekarang.
"Roxanne!" Aku memanggilnya dengan suara lantang, tapi ia sepertinya tak mendengar atau menoleh. Aku mengejarnya dengan lari kecil, menuju ke arah hutan, meninggalkan headlamp-ku di tempat tadi agar menjadi tanda. Walau tak ada penerangan untuk jalan, aku masih bisa melihat pita putih Roxanne kan?
"Roxanne! Sudah malam… kau harus segera kembali ke tenda atau…"
" –KYAAAAA!"
Tubuhku terhempas jatuh, jauh ke bawah. Tanpa sadar aku telah berada di pinggir bukit yang cukup curam. Sebelum jatuh cukup jauh, aku berpegangan pada pohon.
Dasar bodoh.. berniat menolong malah jatuh begini.
Aku bisa merasakan darah yang mengalir dari kaki, tangan dan pelipisku karena terkena batu tajam dan kakiku yang kelihatannya memar terkena pohon.
Sasuke…
Tolong aku…
She doesn't realize, someone watching her in the deep forest.
Well… who knows? Is it will kill her or will help her?
It walks to her… tap tap tap… walking in the dark to her.
It left eye is blue, but the other is yellow…
It hair is dark, or red?
Where's Roxanne? She's gone?
Who is it? What will it do to her? Is it dangerous? Why it looking her?
To many question… but you will know it soon..
To Be Continued
Chapter 10 telah hadirrr.. JENG JENG JENG! /nak
Awalan kasus kedua untuk chapter 10 gak menarik ya? Terkesan maksa, apalagi settingnya di Indonesia.. cerita kedua ini agak berantakan ya? TTwTT) Author agak terburu-buru mengerjakannya karena gak mau para readers menunggu lebih lama lagi.. ;w;) Sama sekali ga ada tegang-tegangnya, beuh.. ancur.. /nakcukupnak
Chapter depan author akan berusaha memperbagus ceritanya.. ;w;) tapi para readers yang author sayangi jangan pada kabur yaa… ;w;) author minta maaf kalau chapter 10 gak memuaskan buat kalian, banyak salah, atau banyak maksa.. Hontou ni Gomenasai.. ;w;)/ dan Happy Chinese New Year bagi yang merayakannya.. ^^)b
Sekian dari Yatogami Tohka
RnR Please.. :3
