Two World

Part 8

HunHan (GS)

"Kita seperti dua orang dari dunia berbeda"

.

.

.

Luhan mempercepat langkahnya saat melihat Sehun diantara keramaian setelah keluar dari gerbang kedatangan.

"Kau sungguh tidak ada kuliah sekarang?" adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Luhan saat Sehun mengambil alih koper dari tangannya.

Sehun memandang Luhan menyipit, "Apakah itu kalimat pertama yang harus kau ucapkan pada suamimu yang sudah tidak satu bulan bertemu?"

Luhan masih memandang Sehun tidak percaya, "Tetap saja, aku belum bisa mempercayaimu"

Sehun menghela napas, "Ah, sudahlah, aku yang bodoh mengharapkan berbagai hal darimu. Ayo" Sehun menyerah dan membawa Luhan keluar dari bandara dengan merangkul bahu istrinya.

"Kau mengharapkan apa?" Luhan mengulum senyumnya, menggoda Sehun.

Sehun terlihat kesal, namun tidak mau menjawab, "Lihat kedepan kalau berjalan".

"Hey, ayolah, beritahu aku"

"Perhatikan jalanmu!"

.

.

Sehun memperhatikan Luhan yang mengelilingi apartemennya dengan tatapan menilai, sesekali Luhan akan menempelkan tangannya pada meja, lemari, untuk memastikan tidak ada debu yang menebal disana.

"Apa kau tidak lelah sama sekali? Baru sampai sudah menginspeksi tempat tinggalku" Sehun yang duduk bersila di atas sofa melipat kedua tangannya di dada.

Luhan berjalan ke arah lemari es, "Penerbangan dua belas jam memberikanku waktu tidur yang cukup, dan perbedaan waktunya membuatku tidak merasa melewati perjalanan jauh sama sekali. Astaga! Kau tidak punya apapun selain ini?!" Luhan mengeluarkan botol berisi air mineral dan susu dari lemari es.

Sehun bangkit dari posisinya, "Kau sudah memberitahu eomeoni jika kau sudah sampai?" tanya Sehun sambil mengambil kedua botol itu dari tangan Luhan dan kembali memasukkannya ke dalam lemari es.

"Aku sudah mengirimkan pesan. Di Korea sudah tengah malam sekarang, tidak perlu menelepon" Luhan bersandar pada meja keramik dibelakangnya, setelah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore dan memperhatikan Sehun sambil melipat kedua tangan di dada.

"Okay, sudah cukup kalau begitu, sekarang giliranku" Sehun menutup pintu lemari es dan menatap Luhan mencurigakan.

Sehun memenjarakan Luhan dengan kedua tangannya dan menyejajarkan garis matanya dengan Luhan. Luhan hanya memundurkan kepalanya sambil menatap Sehun dengan dahi berkerut, "Aku baru saja melewati penerbangan dua belas jam, jika boleh kuingatkan"

Sehun mengangkat sudut bibirnya, "Instingmu bekerja sangat cepat" bisik Sehun sebelum mencuri kecupan pertama dari istrinya.

Luhan tidak bereaksi berlebihan, membiarkan Sehun mendapatkan kecupannya, "Okay, cukup. Aku harus menyiapkan makan malam, kau bahkan tidak menawarkan aku minum—" Cup! Kecupan kedua.

"Aku tidak butuh makan malam" bisik Sehun seduktif sambil merapikan anak rambut Luhan kebelakang telinga.

"Aku yang butuh—" Cup! Kecupan ketiga dan kali ini Sehun memindahkan kedua tangannya pada pinggang Luhan.

Luhan mengangkat kedua tangannya didepan dada, "Okay, okay cukup. Sekarang silahkan kembali ke—hmph!" kali ini Sehun melumat bibir istrinya dan memaksa untuk mengikutsertakan lidahnya. Luhan memukul-mukul pelan dada Sehun, menyuruh berhenti.

"Oh Sehun! Nanti! Oke?! Biarkan aku mengisi perutku dan—"

"Mm" Sehun menggeleng cepat, "Aku merindukanmu" bisik Sehun dengan nada memohon.

Luhan menunduk dan menghela napas sedikit kesal, "Kau benar-benar menyebalkan"

Sehun tersenyum menang, "Dan kau menyukainya" jawab Sehun sebelum menggendong Luhan seperti anak koala dan kembali menyumpal mulut istrinya.

.

.

Sehun menopang kepalanya dengan satu tangan, memperhatikan Luhan yang masih terlelap disampingnya. Saat melihat dahi Luhan berkerut tanda tidurnya terganggu, Sehun menarik selimut untuk menutupi bahu istrinya. Sayangnya hal itu justru membuat kelopak mata Luhan terbuka.

Setelah menemukan Sehun dihadapannya Luhan kembali menutup mata, "Aku lapar" bisiknya dengan suara serak.

Sehun tergelak, "Kau benar-benar tidak menyerah sampai akhir" balas Sehun sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya.

"Pukul berapa sekarang?" Luhan kembali berbisik masih dengan mata tertutup.

"Hampir tengah malam, tidurlah, nanti kau mengalami jetlag" Sehun kembali memastikan selimut menutupi Luhannya.

"Aku lapar" ulang Luhan, memaksa.

"Apa kau sedang menghukumku sekarang?" Sehun kembali tertawa.

"Mm. Seharusnya kau memberiku makan dulu. Tidak punya manner sama sekali" keluh Luhan, kali ini dengan menatap Sehun dengan mata disipitkan.

"Tapi ini sudah hampir tengah malam" tawar Sehun sambil memainkan rambut Luhan yang berantakan.

"Sesuatu yang tidak terlalu manis, tapi tidak terlalu berat" Luhan tidak mau kalah.

"Kau serius?" Sehun menatap Luhan tidak percaya dan Luhan membalasnya dengan singkat, "Mm".

"Jinjja?"

Luhan tidak menjawab Sehun dan menutup telinganya sambil memejamkan mata, ini perintah mutlak!

"Tapi, aku..." Sehun tidak melanjutkan kalimatnya karena Luhan tidak bergeming sama sekali. Ia hanya bisa menghela napas dan bangkit menuju kamar mandi.

.

Luhan sedang menggulung rambutnya dengan handuk saat Sehun menutup pintu masuk sambil menenteng dua buah box persegi ukuran sedang.

Sehun melepaskan alas kaki dan melihat ke arah jam dinding, "Hanya ini yang bisa kutemukan jam segini" Sehun meletakkan kedua box yang dibawanya ke atas meja makan dan mengeluarkan dua botol air putih dari kulkas.

Tanpa menjawab Sehun, Luhan segera duduk dan membuka kedua box diatas meja. Bau fish and chips menjalar ke seluruh ruangan. Tanpa ada jeda, Luhan langsung memasukkan beberapa potong chips ke mulutnya. Sehun yang melihat itu langsung megerutkan kening, "Kau.. tidak mencuci tangan dulu?" tanya Sehun ragu.

Luhan yang tersadar menghentikan kunyahannya, kemudian menatap tangannya yang ia gunakan untuk mengambil chips. Sehun benar! Ia tidak mencuci tangan terlebih dahulu! Apa ini pertanda baik dari OCD-nya?

"Geureoge.. Apa menurutmu ini tidak apa-apa?" Luhan masih membiarkan tangannya menggantung diudara.

"Tentu saja tidak apa-apa! Kau pasti mencuci tanganmu setelah mandi. Tidak apa-apa, itu tandanya kau mulai membaik!" Sehun menjawab girang pertanyaan Luhan dan mengambil tempat tepat di depan istrinya.

Terpengaruh dengan Sehun, Luhan meyakinkan diri untuk tetap menggunakan tangannya seperti semula.

"Eottae (How)?" Sehun memperhatikan Luhan yang sedang sibuk dengan makanannya.

"Not bad. Yang penting aku kenyang" jawab Luhan dengan mulut berisi makanan.

"Bukan ini. Sendirian di rumah, bagaimana rasanya? Ada sesuatu yang terjadi? tanya Sehun serius tanpa menyentuh fish and chipsnya.

Luhan terlihat berpikir dengan mulut yang sibuk mengunyah, "Tidak ada sesuatu yang penting" putusnya kemudian kembali melanjutkan kegiatan makan.

Sehun hanya diam memperhatikan Luhan yang terlihat sangat berkonsentrasi dengan makanannya, seperti orang yang sudah tiga hari tidak makan.

Merasa diperhatikan Luhan mengangkat kepalanya, "Wae?"

Sehun menggeleng, "Ani. Kau mau lagi? Kau terlihat kelaparan sekali" Sehun mendorong fish and chips miliknya ke arah Luhan.

"Bolehkah?" Sehun mengangguk.

Kunjungan singkat Luhan harus berakhir di hari Sabtu. Ia harus kembali ke Korea karena kelas hari Senin. Tidak ada hal spesial yang dilakukan Luhan selama di Inggris, menunggui Sehun selesai kelas dengan berkeliling di sekitar gedung kuliah Sehun, kemudian menghabiskan waktu di pusat-pusat keramaian seperti pasangan-pasangan lainnya, Sehun benar-benar menempel seperti perangko selama tiga hari itu.

Sekembalinya dari mengunjungi Sehun, Luhan kembali disibukkan dengan kuliahnya, waktu berjalan begitu cepat, tanpa sadar Luhan baru saja menyelesaikan ujian tengah semesternya. Kebiasaan Luhan setelah ujian selesai adalah menyelesaikan beberapa pertanyaan yang sempat membuatnya bingung selama ujian dan menghabiskan waktu di perpustakaan hingga larut malam.

"Leherku" keluh Luhan sambil mendongakkan kepala dan menepuk-nepuk tengkuknya. Beruntung, kali ini Luhan ada janji dengan Kyungsoo, sehingga ia harus menyelesaikan belajarnya sebelum pukul delapan.

.

"Mood-ku buruk sekali hari ini" keluh Kyungsoo sebelum menyuap ceker pedas kesukaannya.

"Wae? Sesuatu terjadi di kantor?" Luhan membalik-balik daging yang sedang dipanggang.

"Ani. Biasa. Hari pertama period-ku, mood-ku benar-benar naik turun hari ini. Disaat seperti ini aku merasa kasian pada suamiku. Karena aku akan marah-marah tanpa alasan padanya. Kau beruntung tidak pernah mengalaminya"

Luhan terlihat berpikir sambil terus membolak-balik daging, ia tidak ingat pernah mengalami hal seperti itu.

"Setidaknya period-mu datang teratur. Mereka malah datang seperti kejutan padaku, kadang-kadang setelah dua bulan atau tiga bulan, kemudian aku tidak bisa bergerak dari tempat tidur seharian. Begitu lebih menyebalkan" Luhan berdecak kesal mengingat ia yang harus selalu siaga terhadap tanggal haidnya yang sangat tidak bisa ditebak.

"Aigoo, bagaimana cara menghitung masa suburmu kalau begitu. Kapan terakhir periodmu?"

Luhan kembali menerawang, mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mengapatkan haidnya. Tapi kemudian kening sempit itu berkerut, "Geuroge, kapan aku terakhir kali mengalaminya?" Luhan bertanya pada dirinya sendiri.

Kyungsoo hanya menggeleng-geleng menanggapi Luhan yang masih terihat berpikir dan menghitung dengan jemarinya.

Pembicaraan dengan Kyungsoo mendadak terpikir sepanjang perjalanan pulang. Luhan bahkan sempat mendapat klakson dari kendaraan di belakangnya karena melamun saat lampu hijau.

"Apa-apaan perasaan aneh ini?" bisik Luhan saat menghempaskan tubuh di atas tempat tidurnya, ia masih berusaha mengingat-ingat.

.

.

"Meskipun beratnya dibawah normal, tidak ada permasalahan struktur sejauh ini. Saya sarankan untuk memerhatikan pola makan anda mulai sekarang. Selamat nyonya"

Kalimat itu masih berputar-putar ditelinga Luhan yang terduduk di bangku ruang tunggu dengan sebuah amplop putih dipangkuannya. Kedua tangannya memegang pinggiran amplop sambil menatap kosong ke depan. Saat tersadar Luhan mengeluarkan benda persegi dari amplop dipangkuannya, hasil ultasonografi dengan namanya di bagian sudut dan tulisan '15w' di sudut lainnya.

"Mwoya.." bisik Luhan dengan suara bergetar.

.

Kyungsoo mendecak kesal karena suara tidak sabaran dari bel rumahnya. Putranya yang baru saja tertidur terancam bangun lagi, setelah melihat intercom Kyungsoo segera berlari untuk membuka pintu rumahnya.

"Apa yang—"

"Kyungsoo-ya, eotteohke.."

Kyungsoo mengelus punggung Luhan yang baru saja selesai menumpahkan keluh kesahnya dan sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa, hanya diam mendengarkan Luhan sambil sesekali mengangguk. Ada beberapa bagian yang ia mengerti, namun bagian lainnya membuat Kyungsoo mengerutkan kening.

"Lu" Kyungsoo berbicara selembut mungkin.

Luhan mengangkat kepalanya, menatap Kyungsoo masih dengan wajah kalut.

"Kau harus membicarakannya dengan Sehun. Hanya itu yang bisa kukatakan" Dan bahu Luhan kembali merosot.

.

Aku hamil. Dan itu sudah 15 minggu.

Berbagai perasaan dan pikiran berkecamuk karena dua frasa pendek itu.

Kenapa aku baru tahu?

Kenapa aku tidak merasakan apapun?

Apa akhir-akhir ini aku makan dengan baik?

Bagaimana dengan perjalanan ke Inggris bulan lalu? Apa bayiku baik-baik saja?

Sekecil itukah ukurannya sampai aku tidak menyadari bahwa ia sudah ada di rahimku sejak tiga bulan yang lalu?

Jika sudah lima belas minggu itu artinya kurang dari enam bulan kedepan bayi ini akan lahir. Apa aku sudah siap?

Ini terlalu mendadak sungguh. Bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana jika kuliahku menyita banyak waktu?

Apa aku harus mengambil cuti satu tahun? Lalu bagaimana jika aku terlalu sibuk setelah satu tahun?

Bagaimana jika bayiku nanti tidak mendapat perhatian setelah lahir karena aku terlalu sibuk?

Sepertinya beratnya dibawah normal karena aku stres dan tidak makan teratur akhir-akhir ini. Bagaimana jika perkembangannya terganggu? Astaga apa yang sudah kulakukan?

Apa aku harus membatalkan program doktorku?

Atau aku berhenti saja?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku sekarang, seperti akan meledak dalam beberapa menit.

Luhan menghela napas untuk kesekian kalinya. Sudah sepuluh menit Luhan memutar-mutar ponselnya ditangan, ingin menghubungi Sehun. Namun selalu ada yang kurang dari setiap kata-kata yang ia susun di kepala.

Luhan hampir saja melempar ponselnya saat benda itu bergetar, setelah dering ketiga Luhan menggeser ikon telepon yang meloncat-loncat di layar.

"Yeoboseyo"

"Kenapa kau terdengar tidak bersemangat?"

"Mungkin hanya lelah" jawab Luhan hampir berbisik.

"Terjadi sesuatu?" 'Sial! Kenapa Sehun sepeka ini' pikir Luhan.

Diam. Luhan tidak menjawab apapun untuk beberapa puluh detik.

"Lu?"

"Sehun-a"

"Ya?"

"Aku hamil"

Tidak ada jawaban dari Sehun. Luhan mendadak merasakan udara panas disekitarnya, tanpa ia tahu Sehun sedang ternganga dengan senyum bodohnya sekarang.

"Aku hamil, Sehun. Bagaimana ini?"

Dan tanpa Luhan tahu lagi, kening Sehun berkerut mendengar pertanyaan Luhan barusan.

"Wah, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku ingin memelukmu! Sungguh!" suara Sehun terdengar setengah berteriak, sangat excited.

"Sehun—"

"Aku benar-benar merindukanmu, bagaimana ini"

"Sehun—"

"Apa aku pulang saja? Aku bisa membolos seminggu penuh!"

"Sehun! Dengarkan aku!"

Luhan akhirnya berhasil memotong dan mendapat perhatian dari Sehun yang terlalu excited dengan kabar kehamilan istrinya.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya.. bingung"

Sehun kembali mengerutkan keningnya, mengingat-ingat. Sejak awal suara Luhan memang tidak terdengar bersemangat. Apanya yang salah? Apa mungkin.. Luhan tidak senang?

"Aku bingung Sehun. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku merasa.. belum siap. Bagaimana ini?"

Sehun menghela napas, untuk sesaat ia merasa kesal dengan kenyataan Luhan tidak seratus persen senang, hanya sesaat. Karena setelah itu Sehun segera sadar, Luhan butuh perhatian lebih banyak dari wanita umumnya.

"Wae? Apa yang membuatmu bingung" Sehun bertanya dengan lembut.

Luhan kembali bisu untuk beberapa saat, "Aku marah pada diriku sendiri, karena tidak sepenuhnya senang dengan—" Luhan tercekat. Suara lembut penuh pengertian Sehun membuatnya kesusahan untuk bicara dengan benar, tiba-tiba berbagai emosinya bercampur aduk dan menyerang Luhan bersamaan, sehingga kelopak matanya mulai memerah. Satu kata lagi mungkin Luhan akan menangis tersedu-sedu.

"Baiklah. Aku akan pulang—"

"Aniya! Berikan aku waktu untuk sendiri. Dua atau tiga hari. Kumohon Sehun" Luhan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis ditengah-tengah kalimatnya.

Sehun berpikir sesaat, "Baiklah. Jangan melakukan sesuatu yang aneh-aneh, jangan melewatkan waktu makanmu. Istirahatlah. Aku akan menghubungimu dua hari lagi"

Luhan menutup teleponnya dan menyembunyikan wajah dengan kedua tangan.

.

.

.

To be continue..

A.n :

Helloow everybody! Ampuni saya dengan keterlambatan ini T/\T

Perskripsian benar-benar menyita waktu, energi dan emosi saya beberapa bulan terakhir (almost 6 months actually, but it got worse this late 3 months). Dan finally! It-ends-two-weeks-ago! Finally! Rasanya kaya nahan pup setengah tahun!

Okay, setelah balas dendam waktu tidur, makan dan hiburan selama dua minggu terakhir saya akan kembali fokus pada dunia perfanfiksian ini, so see ya in a couple days!