Siang ini, setelah kepulangan Ibu Jaehyun, tiba-tiba ada lagi yang mengetuk pintu dorm, membuat Johnny yang satu-satunya sedang bersantai melangkahkan kakinya kearah pintu depan.
"Haish, siapa sih." Gerutunya, tetapi tangannya tetap cekatan untuk membukakan pintu.
"Halo!" Sapa tamu abstrak dorm. Johnny hampir saja menjerit alay, untungnya ia cepat sadar.
"YA! Chittaphon, Minhyung!" Johnny berteriak sebal, tetapi tangannya malah memeluk kedua penghuni abstrak dorm yang baru saja kembali dari Busan tersebut.
"Hehehe, kami kangen John hyung!" ujar Mark yang diangguki Ten, tangan mereka berdua membentuk lingkaran, bersama mengikuti Johnny berpelukan seperti orang gila.
"Hyuuuung! Kudengar dorm ada kejadian luar biasa ya?" Ten mengawali, walau tangan mereka tidak terlepas, masih berpelukan seperti orang gila. Mark menatap Johnny penasaran.
"Ya, kalau kedatangan Ibu Jaehyun bisa dianggap luar biasa," Johnny tersenyum, mengalihkan maksud Ten. "Sudah, ayo kalian masuk, bersihkan diri!" Mark dan Ten mengangguk, lalu masuk kedalam.
"Hyung, aku tahu kalian semua menyembunyikan sesuatu," bisik Ten. "Aku tahu kejadian semalam, kau harus cerita setelah ini." Lanjutnya sambil melenggang ke kamarnya sendiri.
"Oh tentu saja, Ten. Kamarku, ya!"
.
.
.
Dua Duanya Calon Menantu Keluarga Jung?
A fanfiction from jaehyurn.
Jaehyun, Jung x Doyoung, Kim x Taeyong, Lee
Mention a lot brand name, location, and many more.
Warn! This is YAOI/BoysLove.
(Sebelumnya aku berterima kasih (lagi lagi lagi, dan lagi. Aku tidak mau melewatkan satu fuck pun untuk berterimakasih padanya.) kepada seseorang lelaki berinisial J.
Oke. Ini ff jaman kapan /gak. Nanti [A/N] dibawah jangan lupa dibaca, disitu ada alasan kenapa aku molor seminggu lebih begini. Aku ga janji nanti chap 10 bakal secepat biasanya juga ya. Tapi aku udah kerjain kok, tenang.
Juga, aku mendengarkan EXO – Lucky One saat mengerjakan ini. Mungkin lagunya bisa dijadikan backsound fuck ini. Hope you like guys!)
And always, other standard warn is applied.
.
.
NINETH FUCK : Artificial Love.
.
.
"Eomma istirahat saja dulu, kan baru saja pulang dari dorm." Ujar Jaehyun setengah jengkel. Ibunya baru saja pulang dan sudah menelfonnya, merecokinya!
"Eomma tidak akan istirahat sebelum kamu beri tahu siapa pacarmu sekarang, Yoonoh."
"Tidak enak kalau aku bilang ditelfon seperti ini, makanya nanti saja kalau eomma kesini lagi." Disebelah Jaehyun, Taeyong terlihat was-was sendiri walau tangannya ada di punggung kekasihnya. Mengelus penuh sayang.
"Eomma belum tentu bisa kesana lagi, Yoonoh. Nanti malam video call, ya?"
"Video call?" tanya Jaehyun memastikan. "Yasudah nanti malam, ya eomma. Sudah dulu, saranghaeyo, eomma."
"Nado, Yoonoh-ie."
PIP.
Jaehyun langsung mematikan sambungan, sekaligus men-turn off smartphone-nya. Badannya ia rebahkan ke kasur, berusaha membuat beban dipikirannya melayang. Taeyong ikut merebahkan disampingnya, memeluk Jaehyun.
"Bagaimana?" tanya Taeyong. Jaehyun menoleh, lalu menaruh kepala Taeyong di lengannya. Tangannya mengelus surai ungu blaster putih sang kekasih, lalu menjawab pertanyaan kekasihnya penuh kepasrahan.
"Kita tidak bisa menghindar lagi, hyung. Nanti malam kamu harus siap siap hyung." Taeyong menatap Jaehyun.
"Aku bingung harus meyakinkan eommonim seperti apa lagi, Jae," Taeyong menunduk, memainkan jari-jari mungilnya. "Terakhir aku mengobrol dengan eommonim, kelihatan sekali beliau kurang suka aku."
"Lebih baik kita optimis, semoga eomma akan menyukaimu, hyung." Jaehyun tersenyum lemah, bibirnya ia tempelkan ke dahi Taeyong, menyalurkan cinta yang besar. Taeyong tersenyum, lalu menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Jaehyun.
"Ya, aku harap."
.
.
Baby, won't you stay?
.
.
"Hyung! Hyuck-ie kangen hyung!" ujar Donghyuck heboh saat ia melihat Mark masuk kedalam dorm. Kaki-kakinya melangkah cepat, menubruk sang hyung, memeluknya erat sekali.
"Hyung lebih kangen Hyuck-ie." Mark kaget, walau tak urung ia juga senang sekali akhirnya kekasih imutnya ini rindu padanya. Tangannya membalas pelukan Donghyuck erat.
Bibir Mark menyentuh pipi tirus—Mark benci pipi tirus, ia lebih suka Donghyuck dengan pipi bulatnya, omong-omong—Donghyuck, menciumnya lama, menyalurkan rasa rindu yang menyiksa.
Berlebihan, padahal mereka hanya berpisah kurang dalam waktu 24 jam.
Mark membawa kekasihnya kearah sofa, lalu membiarkan Donghyuck men-setting gaya duduk mereka sekarang. Membuat Donghyuck duduk diatas paha Mark, bermanja-manja.
"Uh, uri Hyuck-ie kangen banget ya, sama hyung?" Goda Mark. Donghyuck mengangguk malu-malu, menenggelamkan kepala dileher hyungnya.
"Hu-um! Habisnya dorm terasa sepi saat hyung tidak ada." Rajuk Donghyuck, sambil mencebikkan bibirnya sebal. Tangan Mark iseng menelusup ke dalam kaos abu-abu kekasihnya, lalu mengelus garis tulang belakangnya. Donghyuck hanya menutup matanya, menikmati jari-jari Mark.
"Kangen sih kangen, tapi liat tempat juga dong." Johnny yang baru saja selesai mengunci pintu menyambar, membuat Mark mendelik.
"Berisik, hyung! Sana bermesraan dengan Hansol hyung saja sendiri!"
"Ide brilian, Minhyung Lee, tetapi sayang sehabis ini aku ada urusan dengan Chittaphon."
.
.
Baby, tell me where the line is.
.
.
Johnny sekeras mungkin menahan emosinya sekarang.
Bagaimana tidak? Ia butuh ruang privacy bersama Chittaphon tetapi pemuda Osaka didepannya terus saja menempeli Chittaphon!
Yang benar saja, apanya yang privacy kalau ada Nakamoto Yuta?
"Astaga, Nakamoto. Aku tidak akan melakukan apapun ke Chittaphon." Johnny mendesah frustasi, tangannya mengacak-acak rambut light chocolate miliknya. Yuta terlihat keukeuh memeluk Ten, tidak mau melepaskan kekasihnya.
"Ya, aku tahu sekali itu, soalnya Hansol hyung akan membunuhmu kalau kau ketahuan," kepala Yuta menelusup ke leher belakang Ten, menghirup feromon khas milik kekasihnya. "Tetapi saat ini aku sedang sangat merindukan kekasih mungilku. Anyway, aku tahu apa yang akan kalian bicarakan, jadi sudah, bicara saja."
"Mungil darimananya," Johnny mencibir, tangannya ia lipat didada. "Baiklah kalau Yuta memaksa, sangat memaksa. Jadi soal kejadian semalam Ten, kamu sudah dengar garis besarnya?"
Ten yang daritadi diam sekarang angkat bicara. "Aku hanya tahu semalam ada suara aneh dari kamar Jaehyun-Mark, dan paginya ada 3 orang yang keluar dari kamar mereka, Jaehyun, Taeyong hyung, dan Doyoung hyung. Yuta-ie hanya memberikan penjelasan seperti itu."
"Aku tidak mau mengotori pikiranmu seperti Jaehyun mengotori pikiran Taeyong, darling." Timpal Yuta, membuat Johnny bergidik ngeri. Pemuda Nakamoto didepannya ini, benar-benar..
"Tapi kan aku sudah besar, Nakamoto," Ten mencebik imut, membuat Yuta menjerit tertahan, fanboying. "Jadi artinya ada threesome kan? Tapi setahuku Doyoung hyung kan not interested dengan hal-hal aneh seperti itu."
"Kemungkinan besar seperti itu. Tetapi yang membuatku heran, sebelum kejadian dan setelahnya, Doyoung malah lebih lengket ke Taeil hyung dibanding ke kekasihnya sendiri, Jaehyun." Ten menjentikkan jarinya reflek, tanda setuju dengan pernyataan lelaki Chicago tersebut.
"Nah! Bahkan kemarin-kemarin, kulihat Doyoung hyung mengurung diri di kamar, setelahnya Taeil hyung masuk, ia keluar dengan mata sembab. Tapi wajahnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa."
"Ya, sampai mengacaukan acaraku dan Hansol." Johnny mencibir lagi, membuat Yuta tertawa karena ia melihat kejadian tersebut. Ten sendiri hanya facepalm.
"Itusih karena kau tidak tahu tempat juga, hyung!"
.
.
Everythings just gonna be fine.
.
.
"Hyung, aku dengar ada yang suka denganku, bagaimana ini?"
Taeil langsung tersedak air mineralnya sendiri, tangannya memukul-mukul dadanya, membuat Doyoung panik sendiri.
"Astaga! Hyung!" Doyoung membantu Taeil, hingga Taeil agak stabil.
"Ada yang menyukaimu?" tanya Taeil memastikan, kembali meminum air mineralnya, cepat cepat menyelesaikan sebelum ia tersedak lagi.
"Kata Jaehyun sih begitu," Ujar Doyoung polos, tangannya menggenggam tangan Taeil yang bebas, membuat jantung yang tertua berdetak cepat tak kenal kondisi. "Hyung kayaknya kaget gitu, hyung tahu?"
Kan aku orangnya, Young-ie. "Aku tahu Young-ie. Memangnya Jaehyun tidak memberi tahu siapa orangnya, hm?" Taeil menaruh botol mineralnya, lalu memeluk adiknya.
"Aniya. Jaehyun tidak mau memberitahuku, dasar adik menyebalkan," Doyoung mengeluh, mencebikkan bibirnya imut, membuat Taeil tertawa. "Tapi aku mulai menyukai orang lain, hyung. Aku sudah bisa move on dari Jaehyun ke orang lain. Bagaimana ini?"
PRANG!
(Tenang, itu bukan suara apapun, itu hanyalah suara kepingan hati Taeil yang sudah pecah entah keberapa kalinya.)
"Kasihan sekali orang yang menyukaimu, Young-ie," Taeil mengasihani dirinya sendiri, tapi pelukannya ke Doyoung mengerat, seakan belum bisa menerima kenyataan kalau Doyoung menyukai yang lain dan pergi dari sisinya. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan Jaehyun, Young-ie? Dan kalau boleh tahu, siapa yang kamu sukai sekarang?"
"Uh, aku sudah selesai dengan dia, ternyata dia adik tiriku." Taeil menatap Doyoung kaget, sedangkan yang ditatap hanya menenggelamkan kepalanya ke dada Taeil yang sedang terbalut kaos sleeveless orange.
"Aku juga awalnya tidak menyangka, tapi memang kenyataannya seperti itu." Lanjut yang lebih muda, mengisyaratkan kalau ia tidak mau bercerita lebih lanjut.
"Dan?" Taeil masih menunggu jawaban pertanyaannya yang terakhir. Doyoung dalam dekapan Taeil merona merah, malu untuk mengungkapkan.
"Aku rasa, aku menyukaimu, hyung."
Taeil langsung terperangah, benar-benar kaget karena pernyataan cinta adiknya, dua sisi hatinya terbelah, satu tidak percaya, satu lagi senang overload.
"Berarti yang menyukaimu tidak jadi kukasihani, Young-ie," Taeil tersenyum, tangannya menangkup rahang Doyoung, membawanya sejajar dengan wajahnya sendiri. "Cintanya terbalas." Lanjutnya sambil mengecup sudut bibir Doyoung.
"U-uh?" Doyoung menatap hyung tersayang kebingungan, masih berusaha loading maksud perkataan hyungnya. Taeil yang melihatnya tertawa manis, namja ttoki ini menggemaskan sekali saat kebingungan!
"Aku yang selama ini menyukaimu, Young-ie. Semenjak kita bertemu, aku sudah jatuh kedalam dirimu. Memang aku pengecut karena aku tidak berani mengejarmu sedari dulu, tapi percayalah, cintaku benar benar tulus dan pure, tanpa paksaan." Doyoung melotot kaget, lalu merona merah seperti kepiting yang baru saja direbus hingga matang.
"Uh, aku juga cinta hyung, kok." Ujar Doyoung sambil menutup pipinya yang matang merah.
"Jadi pacarku, ya?" Taeil mengecup bibir mungil Doyoung lama, menyalurkan perasaannya yang terpendam.
"Kau menciumku, hyung. Sudah tidak ada alasan untuk menolakmu."
.
.
I'm creeping in your heart, babe.
.
.
.
.
TBC.
.
.
[A/N]:
Jadi, pertama-tama, maaf aku telat lagi. Aku ganti provider lagi, jadi susah mau ngakses ffn, dan juga, aku sempet sakit sampe gaikut perpisahan (gagal fotbar sama J, huks). Dan, ff ini tinggal 1 fuck untuk mencapai ending! Kemungkinan aku mengupdate fuck terakhir adalah nanti pertengahan bulan puasa kalau ga ngaret (bisa lebih cepat juga). dan untuk 2-3 epilog yang pernah kubilang, itu secepatnya setelah ending, karena nulis fluff itu lebih enak ketimbang ada konflik gini, wkwk.
Jadi, Taeil-Doyoungie akhirnya jadian! Wkwk maafkan aku papi Jae, mami Tae, aku gantungin kalian dikeseluruhan cerita /sungkem/. Buat yang request Yuten dan Markhyuck, ini udah aku buatin, wkwkwk!
Dan! Aku awalnya mau balesin review, cuma aku gabisa, belum bisa. Hari ini pengumuman nilai UN /nangis. Insha Allah fuck depan bakal aku jawabin satu-satu :3
.
.
Xoxo,
Jaehyurn.
(11th June 2k16)
