Jingga dan Senja
Main Cast : Kai, Chanyeol, Sehun, Baekhyun, Zelo
Pairing: Kaihun?or Hanhun?
Genre : Drama, romance, slice of life
Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.
Part 10
Esoknya Kai berangkat ke sekolah pagi-pagi. Kecemasan membuat tubuhnya tetap kuat meskipun hanya tidur kurang dari tiga jam. Dua orang petugas security yang berjaga di pintu gerbang sampai terheran-heran. Mereka kemudian malah curiga, jangan-jangan Kai sengaja datang pagi untuk menggalang kekuatan guna membalas serangan Busan High School kemarin siang.
Setelah memarkir motornya, Kai langsung menuju kelas Sehun. Baru satu orang yang datang, yaitu Zelo, yang memang terkenal rajin datang pagi. Kai menghampiri pria itu dan langsung bertanya tanpa prolog apalagi salam perkenalan.
"Sehun datang jam berapa?"
Zelo yang sedang tenggelam dalam novel grafis V for Fendetta mendongak kaget. Dan jadi lebih kaget lagi begitu tahu siapa yang berdiri di depannya.
"Ne, Sunbae?" tanyanya dengan sikap duduk yang langusng berubah.
"Sehun datang jam berapa?" Kai mengulang pertanyannya .
"Sehun yang mana, Sunbae? Soalnya ada dua Sehun."
Meskipun Zelo merasa yakin Sehun mana yang dicari Kai, dia memutuskan untuk bertanya. Biar lebih jelas. Soalnya yang sedang berdiri di depannya ini senior yang paling ditakuti para junior, jadi dia tidak ingin sampai membuat kesalahan.
"Gitu?" Kai terlihat agak kaget.
"Iya. Sunbae nyari Sehun yang mana? Park Sehun atau Sehun yang satunya?"
"Yang rambutnya lurus panjang. Yang sering pake aksesoris warna oranye."
"Oh, kalo dia sih nggak tentu. Kadang pagi-pagi gini udah datang. Kadang jam setengah tujuh. Kadang udah mau bel baru muncul"
"Itu yang namanya Park Sehun?"
"Bukan. Park Sehun yang rambutnya pendek. Yang rambutnya panjang itu namanya Sehun Matahari."
Kedua mata Kai seketika membelalak.
"Namanya Matahari?" desisnya.
"Iya," Zelo tertawa. "tau tuh cewek, namanya aneh banget."
"Sehun Matahari siapa?"
Zelo tidak langsung menjawab. Dari dalam saku celana, ponselnya mengeluarkan ringtone pertanda ada SMS masuk. Dikeluarkannya benda itu.
"Bentar ya, Sunbae. Ada pesan masuk dari Eomma saya," katanya. Kai mengangguk. "Nama lengakapnya sih unik. Indah malah," kata Zelo. Kepalanya menunduk, menekan-nekan tombol ponselnya.
"Siapa?" Tanya Kai.
"Sehun Jingga Matahari."
Jingga Matahari!
Kai terkesiap. Tubuhnya terhuyung. Cepat-cepat disambarnya tepi meja Zelo. Kekagetan itu tak tersembunyikan. Kai membeku di depan Zelo. Shock. Pucat pasi.
"Sehun Jingga Matahari!?" desisnya, di luar kesadaran.
"Iya," Zelo mengangguk sambil tertawa. Kepalanya masih menunduk, membaca deretan kalimat di layar poselnya. "Waktu pertama kali denger, kami juga…" Kalimat Zelo tidak selesai, tawanya juga langsung terhenti begitu mendongak dan mendapati kondisi Kai. Tatapan heran Zelo membuat Kai tersadar.
"Jangan bilang kalo aku mencarinya," ucap Kai dengan suara kering. Zelo mengangguk.
Diiringi tatapan heran Zelo, Kai balik badan dan berjalan ke luar kelas. Pria itu melangkah menuju tempat parkir dengan muka pucat dan langkah gamang. Tatapannya terarah lurus ke depan, tapi semua orang yang berpapasan dengannya bisa melihat, fokus Kai tidak ada di sana, karena pria itu seperti tidak mendengar setiap sapaan yang ditujukan untuknya di sepanjang jalan.
"Sehun Jingga Matahari!?" desis Kai. Masih dengan efek yang sama. Sesuatu seperti menghantam dadanya kuat-kuat dan membuatnya sesak napas. Pantas saja ada begitu banyak warna jingga yang melekat pada Sehun. Gadis itu begitu mencintai warna matahari, karena ternyata namanya memang Matahari!
Begitu keluar dari koridor utama dan melihat motornya di kejauhan, Kai merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan kunci. Sekolah, belajar, buku-buku, dan para guru, bahkan teman-teman akrabnya, semua telah terlempar dari benaknya karena satu nama itu. Dia hanya ingin pergi dan menyendiri.
Baru saja Kai menyalakan mesin motornya, terdengar satu seruan keras.
"Kai, mau ke mana kamu!?" Kim Seongsaenim ternyata sudah berdiri di mulut koridor.
"Cabut, Seongsaenim!" Kai balas berseru.
Kim Seongsaenim tercengang. "Kai, turun dari motor! Sekarang!" bentaknya.
Tidak peduli dengan bentakan keras Kim Seongsaenim, Kai memacu motornya kearah pintu gerbang. Meninggalkan bunyi raungan mesin yang membuat siapa pun yang berada di area depan sekolah jadi menoleh sambil tutup kuping.
"KAI! KAII!" teriak Kim Seongsaenim, tapi sia-sia. Akhirnya guru itu Cuma bisa geleng-geleng kepala ketika Kai hilang dari pamandangan.
Membelah lalu lintas pagi Seoul yang mulai padat, Kai memacu motornya kearah luar kota. Ada satu tempat yang selalu ditujunya tiap kali dia merasa kacau. Satu tempat yang membuatnya bisa melepaskan semua emosi yang menyesakkan dada, yang bisa membuatnya meninggalkan topeng yang selama
ini dia kenakan. Satu-satunya tempat yang masih tersisa dari banyak tempat yang telah menghilang dalam kenangannya.
Di satu ruas jalan Kai menepikan motornya karena ada yang harus dia lakukan. Dikeluarkannya sehelai T-shirt dari dalam tas. Pria itu memang selalu membawa baju ganti karena rumahnya ada di mana-mana. Rumah dalam arti harfiah, yang bagi sebagian besar teman-temannya adalah tujuan utama setelah bel pulang berbunyi, atau tujuan pada saat hati dan pikiran sedang galau. Bagi Kai, rumah justru jadi terminal paling akhir. Because there's nobody at home. Just silence.
Selesai mengganti baju seragamnya dengan kaus, dikeluarkannya ponsel dari saku celana dan dikontaknya Chanyeol. Teman semejanya itu terkenal punya kebiasaan aneh. Biarpun kena hukuman skorsing, itu anak tetap saja berangkat sekolah. Lengkap dengan seragam dan buku-buku pelajaran sesuai dengan jadwal hari itu. Kalau guru memaksanya keluar ruangan, dengan tampang memelas Chanyeol akan ngomong, "Yaah, Seongsaenim kok tega sih? Saya kan ingin belajar…"
Chanyeol tetap keluar kelas, tapi tidak jauh-jauh. Dia lalu akan berdiri di depan salah satu jendela, melanjutkan menyimak pelajaran dan tetap mencatat dengan posisi buku dia letakkan menempel di kaca jendela. Persis kayak anak tidak mampu yang ingin sekolah tapi tidak bisa.
Perbuatan Chanyeol itu bikin setiap orang yang ngeliat jadi terenyuh dan bikin guru yang menyuruhnya keluar kelas jadi merasa bersalah. Buntutnya, Chanyeol disuruh masuk kelas lagi. Kalo lagi kena skorsing, Chanyeol juga jadi betah duduk anteng di bangkunya. Dia juga jadi rajin mencatat dan menyimak setiap penjelasan guru dengan serius. Padahal kalo hari-hari biasa, maksudnya kalo dia lagi tidak terkena hukuman, pria itu senang sekali menciptakan huru-hara yang membuat kelasnya riuh, apalagi kalo Kai yang nyuruh.
"Chan, kau masuk?" Tanya Kai. Di seberang, Chanyeol langsung terkekeh geli.
"Masuk lah, Man. kau tau sendiri di rumahku tidak ada siapapun. Sepi sekali."
"Tolong aku kalo gitu. Gadis itu kelas sepuluh sembilan, Chan. Namanya Sehun Jingga Matahari."
"HAAA!?" Chanyeol kontan memekik. Kai sampai menjauhkan ponselnya sesaat dari telinga.
"Tadi aku sudah ke kelasnya, tapi gadis itu belom datang. Sekarang tolong kau cek barangkali dia udah datang. Kalo udah, liat kondisinya gimana. Baik-baik aja atau gimana. Terus kau bilang padanya, jangan cerita apa-apa soal kemaren. Oke, Chan?"
"Oke. Gadis yang satunya lagi?" Chanyeol bukannya bodoh, tetapi karena dia terus menerus mendengar kata benda dalam bentuk tunggal, juga karena ada getar hebat yang coba diredam Kai saat menyebut nama lengkap Sehun dan Chanyeol tetap bisa mendengarnya dengan jelas. Kini Chanyeol mengerti kenapa Kai peduli pada Sehun. Karena dia bernama Matahari.
"Ya iyalah," terdengar nada heran dalam suara Kai. "Suruh mereka jangan cerita apa-apa dulu. Soalnya ini masalah sensitif."
"Sensitif?" kening Chanyeol mengerut. "Maksudnya?"
"Tsk. Udah deh, nggak usah banyak Tanya. Kerjain aja yang aku suruh. Kau masih mau subsidi makan siang sama rokok nggak?"
"Oke, Bos!" Chanyeol langsung sadar diri. "Kau mau ke mana?"
"Cabut!" jawab Kai pendek dan langsung menutup telepon. Diubahnya status menjadi silent, karena dia benar-benar tidak ingin diganggu. Benar-benar ingin sendirian.
Chanyeol bengong, tapi sesaat kemudian segera melangkah menuju kelas Sehun.
Ternyata Sehun dan Baekhyun belum datang. Chanyeol segera menuju pintu gerbang. Begitu Sehun muncul, langsung dicegatnya gadis itu. Diamatinya lekat-lekat. Dipandanginya dari ujung rambut sampai ujung sepatu, membuat Sehun
ketakutan dan hampir saja kabur. Setelah yakin gadis di depannya baik-baik saja, baru Chanyeol buka mulut.
"Kai bilang, kau sama temanmu jangan cerita apa-apa dulu soal kemaren. Dia mau liat apa tujuan Luhan yang sebenarnya," ucapnya tanpa basa-basi. Setelah mengatakan itu, Chanyeol langsung pergi. Meninggalkan Sehun yang berdiri di pintu gerbang, menatap kepergiannya dengan tampang bingung.
.
.
.
.
Berpuluh-puluh kilometer dari situ, Kai tengah memacu motornya meninggalkan Seoul. Menyusuri jalan aspal yang menanjak menuju ketinggian. Membawa serta emosi yang kacau, penat pikiran yang melelahkan, dan hati yang tidak bisa lagi ditenangkan sejak didengarnya satu nama itu.
Perjalanan berakhir di mulut sebuah jalan kecil. Dua bangunan yang berfungsi sebagai loket mengapit jalan itu di kiri-kanan. Kai kembali memacu motornya setelah membayar sebesar jumlah yang tertera. Diparkirnya motornya di area parker yang saat itu sepi, karena saat ini memang bukan hari libur.
Dengan langkah pelan dimasukinya tempat wisata yang merupakan bagian dari taman nasional itu. Banyak yang telah berubah. Sesuatu yang pasti dan tak terhindari. Namun, ini masih tempat yang sama, karena pohon-pohon yang berdiri di sana adalah pohon-pohon yang sama yang tegak sejak belasan tahun lalu.
Dan di antara bangunan-bangunan baru, masih tersisa satu dari banyak saung yang dulu pernah menjadi ciri khas tempat ini. Saung favorit Kai. Saat melihat saung tua itu masih berdiri, Kai seperti mendapatkan kekuatannya kembali.
Pria itu lalu berdiri tidak jauh di depan saung itu. Kelu. Bisu. Kue-kue dan cokelat susu panas pernah dinikmatinya di sana. Juga nasi dan beragam lauk-pauknya. Tawa dan celoteh seseorang yang dulu pernah jadi bagian dari hati dan hidup Kai seperti bergema. Seseorang yang menjadi bayangan Kai dan Kai juga menjadi bayangan orang itu. Gema tawa itu memberikan perih yang baru untuk lukanya yang memang selalu menganaga.
Kai menghela napas panjang dan menghembusakannya dengan cara seolah-olah ingin mengeluarkan semua sesak yang menekan dadanya. Pria itu melangkah mendekati saung, kemudian duduk bersila di terasnya setelah sebelumnya dia lepaskan kedua sepatunya. Saung ini jadi saung favorit karena ini satu-satunya saung yang menghadap ke langit barat. Pria itu melirik jam tangannya. Masih jam sembilan pagi. Masih sembilan jam lagi sebelum matahari tenggelam di belahan langit itu.
Berkali-kali disaksikannya matahari tenggelam dari tempat ini. Semburat jingganya memenuhi seluruh langit barat. Indah, megah, dan tak berubah. Dia masih matahari jingga yang sama. Namun matahari jingga yang lain telah tenggelam bertahun-tahun lalu. Pergi dari hidupnya.
Apakah Matahari yang muncul di depannya kini adalah pengganti untuk Matahari-nya yang sudah lama pergi? Atau-kah justru pertanda bahwa dia akan muncul kembali?
.
.
.
.
Part 10 end. Keep review guys^^
