A/N: Makasih buat reviewers di chapter 9: Sketsa Gelap, Meg chan, Lovely Orihime, Ren-Mi3 NoVantA, asahi, NaruDobe Listachan, Sieg hart, dan baka nesiachan.
Bales reviewers yang ga login dulu:
Meg chan: Gomen, kayaknya susah tuh kalo bikin Naruko merasa bersalah. Yang terjadi malah sebaliknya. Soalnya yang sebelumnya Naruto POV, jadi Naruko sama sekali ga tau kejadian-kejadian yang menimpa Naruto. Masalah Naruto yang hampir mati pun Naruko tentu saja ga tau.
Asahi: Berhubung fic ini hampir tamat, cerita udah fokus ke Naru-Naru, jadi dijelasin singkat disini aja ya. Intinya Sai men-scan poster untuk mencari sidik jari. Saat tengah malam, Shikamaru berjaga di luar sekolah dan memandu semuanya via earphone. Chouji, Kiba dan Akamaru menyekap satpam sekolah (tentunya mereka semua pake topeng). Lee membuka pintu ruang komputer dengan kunci dari Gai-sensei. Shino, Sasuke, dan Sai masuk ke dalam. Shino meng-hack database siswa di komputer server dengan laptop Sasuke. Data sidik jari yang dibawa Sai dicocokkan dengan sidik jari semua siswa Konoha High. Yang cocok sidik jari Tayuya. Malam itu juga mereka semua mendatangi rumah Tayuya. Diinterogasi 7 orang sekaligus akhirnya dia mengakui semuanya.
Sieg Hart: Memang sungguh miris kehidupan remaja zaman sekarang, ckckck #plak
baka nesiachan: Sayang sekali ketinggalan, makanya jangan lupa cek tiap weekend biar ga ketinggalan cerita ya. Bukannya "neng" panggilan buat cewek ya? Saya 'kan cowok T.T
...
Chapter 10 ini kembali ke Naruto POV seperti di awal. Selamat membaca Chapter 10 ;)
Ayo Pulang, Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Mungkin juga ada typo. Bahasanya kadang baku kadang nggak.
Cerita Sebelumnya:
Aku memegang dadaku yang kembali terasa sakit. Rasa sakit yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Ini terlalu sakit. Efeknya menyebar ke seluruh badanku, kerongkonganku mengejang, wajahku memanas dan air mata terus mengalir tanpa henti.
Ditengah kesadaran yang semakin menipis, aku sadar sesuatu.
Disaat Naruko meninggalkanku seperti ini, hatiku merespon dengan rasa sakit yang luar biasa. Ini bukan suatu kebetulan semata. Tapi sebuah respon naluriah seorang adik kembar kepada kakak kembarnya, sebuah perasaan yang muncul dari seorang adik kembar kepada kakak kembarnya, sebuah respon yang murni berasal dari hatiku. Oleh karena itu aku sadar...
Aku sangat menyayangi Naruko...
Bersamaan dengan itu kesadaranku menghilang...
Apa ini akhir dari segalanya?
.
.
.
Chapter 10
-Penghalang Terakhir! Naruto VS Deidara!-
"Dasar kau ini ceroboh sekali. Tangan dan bahu kirimu memar di beberapa tempat, kaki kirimu bengkak, dan tengkukmu membiru karena dipukul."
"Gomen."
"Tidak usah minta maaf, yang menderita 'kan tubuhmu sendiri. Tou-san cuma khawatir padamu."
Begitulah ocehan-ocehan Tou-san saat dalam perjalanan pulang dari bandara. Tou-san sekarang mengendarai motorku dan aku dibonceng. Tak lama setelah aku ditahan di ruang security waktu di bandara, Tou-san datang dan meminta maaf kepada pihak bandara atas kekurangajaranku memukul petugas bandara. Beruntung pihak bandara tidak memperpanjang masalah ini dan menganggap semuanya selesai. Meskipun dua petugas yang kupukul sepertinya masih tidak terima.
Setelah aku mendapat perawatan di ruang kesehatan di bandara, kami pun pulang. Tapi tak dapat kupungkiri aku masih kecewa, sangat kecewa karena tidak bisa membawa pulang Naruko. Entah apa yang akan Kaa-san lakukan mengetahui aku gagal membawa Naruko pulang.
"Kami pulang," kata Tou-san saat kami sampai di rumah.
"Naruto!" panggil Kaa-san begitu melihatku datang. "Mana Naruko?"
Kaa-san begitu penasaran menunggu jawabanku, aku menunduk merasa bersalah. "Go-gomen Kaa-san, aku terlambat. Na-Naruko sudah berangkat ke... ke Inggris."
"Kau!" Kaa-san mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, sudah bersiap akan menamparku lagi. Yup, setiap kesalahan memang patut mendapat ganjaran. Aku hanya bisa memejamkan mata pasrah bersiap menerima tamparan kedua Kaa-san hari ini.
"Cukup Kushina!" Sebelum telapak tangan Kaa-san menyentuh pipiku, Tou-san menahan tangan Kaa-san.
"Akh!" Kaa-san yang kesal menepis tangan Tou-san dan berlari ke kamarnya.
"Hei, Kushina!"
"Gomen Tou-san..." ucapku pelan semakin merasa bersalah.
"Kenapa kau terus saja meminta maaf? Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu seperti ini. Sudahlah, biar besok Tou-san yang menyusul Naruko ke Inggris," kata Tou-san menepuk pundakku berusaha menenangkan.
"Ta-tapi..."
"Jangan banyak tapi," sela Tou-san, "sekarang kau istirahat saja. Tou-san mau menenangkan Kaa-sanmu dulu."
Meskipun bicara begitu, aku tetap saja merasa bersalah. Naruko pergi gara-gara aku 'kan? Bagaimana bisa aku tidak menyalahkan diriku?
Aku berjalan lesu ke kamarku. Kunaiki pelan satu demi satu anak tangga menuju lantai 2, begitu pelan seolah banyak sekali beban yang kupikul. Langkahku berhenti di depan kamar Karin-Neesan yang sudah sebulan ini jadi kamar Naruko. Ada sebuah keinginan kuat yang menarikku untuk masuk ke kamar itu.
Aku masuk ke kamar dan mendapati kamar itu berantakan. Baju Naruko berserakan di kasur dan lantai. Dia pasti buru-buru sekali saat akan pergi. Meskipun begitu aku tersenyum menyadari kalau keadaan kamar ini sama sekali tidak berubah dari terakhir aku kesini (saat masih menjadi milik Karin-Neesan). Baik dari foto yang dipajang, barang-barang Karin-Neesan, maupun posisi kasur, meja dan lemari disana semuanya tidak berubah. Naruko ternyata tidak sedikitpun mengubah keadaannya.
Saat pandanganku ke arah meja di samping kasur, aku menangkap kilauan di atas meja tersebut. Kudekati meja itu, disana ada gelang Kyuubi betina yang dibeli Naruko waktu liburan ke pantai. Aku mengambilnya dan kugelangkan ke tangan kiriku. Kurebahkan setengah badanku di kasur, sehingga kakiku masih menyentuh lantai. Kupegang liontin Kyuubi jantan punyaku – yang saat ini kujadikan kalung, karena tali gelangnya putus waktu digebrak Iruka-sensei tadi siang – dan kubandingkan dengan liontin Kyuubi betina di tangan kiriku. Jujur, aku sedih juga melihat liontin itu, Kyuubi betina yang malang. Kalau Naruko meninggalkannya disini, pasti dia sangat membenciku sekarang.
Tiba-tiba secara tidak sengaja kakiku menyentuh sesuatu di bawah kasur. Seperti sebuah plastik. Karena aku penasaran, aku bangun dan mengeluarkan bungkusan plastik itu dari bawah kasur. Sekilas kulihat tulisan kata "Naruto" dari simpul plastik yang terbuka di atasnya. Tentu saja itu membuatku semakin penasaran. Kubuka plastik itu dan tampaklah sebuah bungkusan kado berukuran sedang disana. Diatasnya tertulis:
Untuk: Baka Otouto, Naruto
Baka Otouto?
Dadaku berdebar-debar. Apa mungkin ini dari...
Orang yang suka memanggilku Baka Otouto hanya...
Aku tidak berani menebak-nebak, kuatur nafasku supaya tetap tenang. Kubuka kado berwarna orange bermotif strip hitam itu. Di dalamnya ada sebuah jaket dan secarik surat. Aku tidak pedulikan jaketnya, yang aku ambil adalah suratnya. Aku baca surat tersebut.
Happy birthday Naruto.
Gomen, aku tulis surat ini sebulan sebelum kau ulang tahun. Kenapa? Gini ceritanya.
Apa kau ingat waktu aku dan Suigetsu jalan-jalan ke Harazuku dan kami ga beliin oleh-oleh? Nah sebenarnya aku beli jaket ini untukmu. Tapi berhubung jaraknya deket sama ulang tahunmu, jadi aku putuskan unjuk menjadikan jaket ini sebagai hadiah ulang tahunmu saja. Jadi aku ga usah beli hadiah double. Hahaha. Aku pelit ya?
Tapi terlepas dari itu, aku punya sesuatu yang ingin kusampaikan. Apalagi ini ulang tahun ke-17, aku anggap itu sebagai tanda kau mulai dewasa. Jadi akan kuungkapkan satu rahasia besar untukmu. Tapi pastikan kau jangan bilang-bilang kepada Kaa-san. Ini tentang keluarga kita.
Sebenarnya... Sebenarnya kau punya kakak kembar cewek. Namanya Naruko. Jadi kita ini 3 bersaudara. Gomen, baru bisa memberitahumu sekarang. Dari dulu aku selalu berharap kalau kita bertiga bisa bermain bersama. Aku juga ingin keluarga kita bisa seperti dulu lagi. Utuh tanpa ada yang kurang satu orang pun: Tou-san, Kaa-san, Aku, Naruko dan kau. Tapi melihat keadaan Kaa-san yang... kau tau sendiri lah. Jadi aku hanya bisa berdoa semoga saat-saat seperti itu akan datang suatu hari nanti.
Nah, karena saat membaca surat ini kau sedang ulang tahun, jadi doakan juga agar keluarga kita bisa utuh lagi ya? Biasanya yang ulang tahun 'kan doanya gampang dikabulkan. Hehe.
Aku menyampaikan hal ini lewat surat karena takut ketahuan Kaa-san. Karena itu, setelah kau baca surat ini bersikaplah biasa kepada Kaa-san, jangan menyalahkannya karena telah menyimpan kenyataan ini darimu. Kau harus mengerti perasaan Kaa-san juga.
Ok deh udah kepanjangan. Yang terpenting yang harus kau tahu adalah aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Biarpun aku selalu memukul dan mengejekmu, tapi aku sangat sayang padamu. Aku harap kau tahu itu. Dan aku harap kau juga menyayangiku meskipun aku tidak tahu apa aku sudah jadi kakak yang baik atau belum untukmu.
Sekali lagi selamat ulang tahun ya Naruto. Aku sudah tidak sabar untuk naik motor bersamamu memakai jaket baruku yang juga aku beli di Harazuku. Oh jangan lupa juga traktir aku es krim coklat spesial ukuran jumbo di stand es krim langganan kita. Aku tunggu traktiran mu.
Onee-sanmu yang cantik,
Karin
Aku terduduk lemas setelah membaca surat itu. Disaat impiannya hampir tercapai, Karin-Neesan malah meninggal. Kadang aku berpikir kalau Tuhan itu kejam. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya setelah keluarga kami berkumpul saja? Dengan begitu Karin-Neesan akan merasa senang, minimal di saat-saat terakhir sebelum ajal menjemputnya.
Kulihat bungkusan lain yang tidak jauh dari kado itu. Saat kubuka, itu jaket yang aku perkirakan jaket Karin-Neesan yang diceritakan Nee-san di suratnya. Kupeluk kedua jaket itu erat di dadaku. Aku teringat kembali pesan Karin-Neesan setelah tertabrak mobil tadi sore. Dia juga mengatakan hal yang sama, yaitu tentang harapannya agar keluarga kami utuh kembali. Yang lebih membuatku sedih adalah kenyataan kalau aku tidak bisa menepati janjiku padanya. Aku memang tidak berguna.
Kupeluk kedua jaket itu semakin erat sambil menangis. Kalau begini aku sudah membuat sedih banyak orang. Naruko, Kaa-san, Tou-san, bahkan Karin-Neesan.
Aku tidak menyangka perbuatanku akan berujung seperti ini. Ini benar-benar salah. Bukan ini yang kuinginkan. Ini sama sekali bukan akhir yang kuharapkan.
Aku harus melakukan sesuatu...
Keadaan tidak akan berubah jika aku hanya diam disini dan meratapi kesedihan. Kurapikan kedua jaket tadi, kuhapus sisa air mataku dan kupaksakan tubuhku untuk bangkit. Pandanganku terlalih ke Kyuubi betina di pergelangan tangan kiriku. Hei Kyuubi, ayo kita temui majikanmu. Yah, keputusanku mungkin agak nekat, tapi sudah kuputuskan...
Aku akan menyusul Naruko ke Inggris...
Tok! Tok Tok!
Kuketuk pintu kamar Tou-san dan Kaa-san, tak lama kemudian Tou-san muncul. Sekilas kudengar Kaa-san sesenggukan di kamar. Dia menangis. Lagi-lagi itu gara-gara perbuatanku. Aku semakin ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
"Naruto?"
"Aku akan menyusul Naruko ke Inggris," seruku to the point.
"UAPAA?" Mata Tou-san membulat seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Aku minta alamat rumah Tou-san yang di Inggris," seruku tidak menghiraukan kekagetan Tou-san.
"Jangan bercanda Naruto! Ini sudah malam, lagi pula dengan keadaanmu yang seperti ini..."
"Tidak apa-apa," balasku tenang dan penuh keyakinan.
"Apanya yang tidak apa-apa?" Tou-san makin panik.
"Tou-san..." ucapku pelan.
"Nanti kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?"
"Tou-san..." Tampaknya ucapanku tidak dianggap.
"Biar Tou-san besok ke Inggris dan..."
"Tou-san!" bentakku. Mau tidak mau sekarang Tou-san terdiam karena kaget.
"Eh?"
"Aku yang membuat masalah, jadi aku yang harus menyelesaikannya."
"..." Tou-san terlihat berfikir keras.
Aku mengerti kekhawatirannya. Ayah mana yang dengan gampang memberi izin anaknya ke luar negeri saat kondisi fisik anaknya itu tidak sepenuhnya fit? "Tou-san, aku ini anakmu. Jadi... percayalah padaku," kataku meyakinkan Tou-san.
Mendengar kata-kataku itu, Tou-san menghela nafas kemudian tersenyum. "Hmmm.. mau bagaimana lagi? Kalau begitu, cepat ganti baju seragammu itu. Penerbangan terakhir jam 9, kita harus cepat."
"Hai!"
"Cepat naik!" Tou-san sudah menstarter motorku sementara aku sedang memakai sepatu.
"Naruto!" Kaa-san memanggilku sesaat sebelum aku menaiki motor.
"Kaa-san?"
"A-apa kau mau ke Inggris juga?" tanyanya ragu.
"Ya."
"Go-gomen." Kaa-san berlari dan memelukku. "Jangan terlalu pikirkan omongan Kaa-san tadi siang. Kamu ga usah maksain diri gini."
Ada sedikit rasa lega dihatiku mengetahui Kaa-san masih memiliki rasa khawatir kepadaku. Setidaknya walaupun tadi siang dia marah-marah dan menamparku, tapi dia tetap memiliki kepedulian kepadaku.
"Jangan khawatir Kaa-san. Ini keputusanku sendiri kok," balasku sambil melepas pelukan.
"..." Kaa-san terlihat bingung mau bicara apa lagi.
"Oi, cepat!" teriak Tou-san yang terdengar sudah menggeber-geber gas motor.
"Ya, ya. Aku berangkat Kaa-san," kataku sambil tersenyum dan menaiki motor.
"Naru... Naru-chan, kalau begitu bawa pulang Naruko kesini!" teriak Kaa-san.
"Pasti!" Aku memperlihatkan cengiranku memberitahu Kaa-san kalau semua akan baik-baik saja.
"30 menit lagi," kata Tou-san, "pegangan, kita lihat seberapa cepat motormu ini." Tuas kopling ditarik dan persneling gigi 1 masuk.
CKLEK! NGUEEEENGGGG...!
"WHOAAAAAA..." Cara Tou-san mengendarai motor memang gila! Tidak salah dia menyuruhku berpegangan kuat padanya. Motorku pun wheelie sepanjang beberapa meter dan kemudian melesat menembus udara malam Konoha yang malam ini terasa dingin menembus kulit.
Kurang dari 30 menit kami sudah sampai di bandara. Masalah tiket sudah diurus semua oleh Tou-san. Dan pesawat tujuan Inggris sebentar lagi berangkat.
"Tou-san cuma bisa mengantar sampai sini."
"Tidak apa-apa Tou-san, arigato." Tou-san memelukku sebentar. Setelah belasan tahun, akhirnya aku bisa merasakan kembali pelukan seorang ayah. Ternyata itu bisa memberimu semangat ekstra.
"Hati-hati dan bawa Naruko pulang," katanya lagi sambil melambaikan tangannya.
"Hai."
Jam 9 pagi aku sampai di London, Inggris. Kebetulan memang rumah Tou-san letaknya di London, jadi dari bandara aku tinggal naik taxi. Di sepanjang perjalanan aku memperhatikan sekelilingku. Negara bagian dari United Kingdom ini memang hebat. Memiliki banyak bangunan-bangunan modern, tetapi juga masih mempertahankan bangunan lama yang bersejarah.
Tak sampai 1 jam, aku sudah sampai di depan sebuah rumah megah. Dari alamat yang kudapat dari Tou-san, memang inilah rumah yang dimaksud. Aku merapatkan jaketku menahan hawa dingin yang menusuk, udara bulan Oktober disini dingin sekali. Aku tau di Jepang juga sedang musim gugur, tapi suhunya tidak sedingin ini. Aku menyesal tidak membawa jaket yang lebih tebal. Baru saja akan melangkahkan kaki ke gerbang besar rumah itu, ringtone HPku berbunyi.
"Halo?"
"Naruto, dasar merepotkan! Kenapa HPmu susah dihubungi?" Dari suaranya aku hapal betul kalau itu Shikamaru.
"Gomen. Aku baru menghidupkannya tadi."
"Disaat penting seperti ini kau malah mematikan HP. Ah sudahlah lupakan. Yang terpenting kami sudah menemukan pelaku penyebar poster Naruko."
"Siapa? Siapa?"
"Pelakunya Tayuya, Shion dan Yakumo."
"Ck! Kurang ajar!"
"Mau kita apakan mereka?"
"Tunggu sampai aku pulang. Biar aku yang akan memberi pelajaran kepada mereka."
"Pulang? Memangnya kau dimana sekarang?"
"Di Inggris."
"A-APA? Sial, kalau begitu sudah dulu nanti pulsaku habis..."
Eh? Ditutup? Hmm, tapi terima kasih atas bantuan kalian teman-teman. Sekarang tinggal tugasku membawa pulang Naruko. Semoga aku berhasil membawanya pulang.
Di gerbang aku disambut seorang pelayan dan diantar ke pintu utama rumah. Aku membuka pintu rumah yang besar itu dan...
BUGH!
Seseorang menendang perutku membuatku mundur beberapa langkah. Aku yang memang belum siap tidak sempat menghindar atau menangkis.
"Ohoek! Uhuk-uhuk..." Yang menendang bukan orang sembarangan, ia menendang tepat di ulu hati. Aku memegang perutku menahan sakit.
"Sudah kubilang 'kan jaga Naruko baik-baik. Sekarang apa yang telah kau perbuat un?" Kucari asal suara dan kutemukan Deidara berdiri tidak jauh dari sana.
"Go-gomen... Aku kesini untuk meminta maaf," ujarku masih mengatur nafasku.
"Berisik!" Deidara mendekatiku dengan tatapan kebencian. Matilah aku, dulu aku berjanji kepadanya untuk menjaga Naruko dan sekarang aku malah mengingkarinya. Langkah Deidara terhenti saat ringtone HPnya berdering.
"Habataitara modorenai to itte. Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo..."
"Eh? Halo? Oh, ada apa Minato?"
Oh ternyata yang menelpon dia Tou-san.
"Uuhh itu... Tapi aku tidak memukul Naruto. Sumpah! Un, ano... itu... baiklah, aku memang memukulnya tapi hanya sekali.. Tidak kok, cuma sekali! O-ok, gomen."
Setelah Deidara menutup telpon, dia berbalik dan meninggalkanku. "Huh, untung ayahmu membelamu. Cepatlah temui Naruko un, dia di kamarnya di lantai 3."
Fiuh... Terima kasih Tou-san, kau menyelamatkanku kali ini. Aku berjalan menaiki tangga.
"Dengar Naruto, kalau sampai kau membuatnya sedih lagi, jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup!"
GLEK!
Hah, baru saja aku menghela nafas lega, ancaman Deidara itu kembali membuat nyaliku ciut. Baiklah, aku tidak akan berbuat kesalahan lagi.
Rumah ini punya banyak ruangan dan lorong. Cukup memakan waktu hanya untuk ke kamar Naruko. Setelah sampai, kutatap pintu didepanku, pintu kamar dari orang yang seharian ini aku kejar. Kumantapkan hatiku sekali lagi, semua pasti akan berjalan lancar. Tenang Naruto!
Kuketuk pintu di depanku itu.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada respon, aku mengetuknya kembali.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang benar-benar aku rindukan walaupun hanya ditinggalkan olehnya semalam. Sosok yang membuatku nekat mengejarnya ke Inggris. Sosok kembaran yang sangat aku sayangi. Namikaze Naruko.
"Na-Naruto?" tanyanya tidak yakin. Wajahnya kaget ketika melihat aku berdiri disana. Aku bersumpah melihat sekilas kebahagiaan di wajahnya, tapi entah kenapa sekian milidetik kemudian wajahnya kembali ketus dan bermaksud menutup kembali pintu kamarnya.
"Tunggu dulu Naruko." Kutahan pintu kamarnya agar tidak tertutup. "Dengarkan aku dulu..."
"Aku tidak mau melihatmu lagi!" bentaknya.
"Aku mohon, sekali ini saja dengarkan aku."
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan!"
"Aku tau aku salah, tapi..."
"Memang kau salah! Kemana kau saat aku membutuhkanmu? Kemana kau saat aku butuh perlindungan? Kemana kau saat aku butuh teman?" Naruko semakin sengit meneriakiku.
"Naruko... Gomen..."
"Kau terlambat kalau meminta maaf sekarang! Sekarang kenapa kau kesini? Pasti disuruh Kaa-san dan Tou-san! Pergi!"
"Tidak, aku..."
"PERGI!"
Aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Perlu rencana lain untuk menyelesaikan ini. Aku harus menenangkan Naruko dulu.
"PERGIIIIIIII!" teriak Naruko makin keras.
"Naruko..." Aku memegang tangan Naruko berusaha menenangkan, tapi ia malah memberontak. Disaat aku berusaha memegang tangan Naruko yang lainnya, sebuah tangan kekar menahan tanganku.
"Cukup un! Kesempatanmu habis." Deidara datang kembali. Ia menghempaskan tanganku dan menghalangi pintu masuk ke kamar Naruko. "Kau barusan dengar dia 'kan Naruto? Tidak ada alasan lagi kau disini. Naruko, apa yang harus kulakukan pada bocah kurang ngajar ini?"
"..." Naruko terlihat berpikir keras.
"Naruko, tolong izinkan aku menjelaskan dulu..." kataku lagi masih berusaha memintanya mendengarkan.
"Diam!" bentak Naruko.
"So?" Deidara memandang Naruko, meminta sebuah jawaban.
"U-usir dia dari rumah ini!" kata Naruko.
Aku kecewa mendengar kata-kata Naruko. Tapi aku yakin di dasar hati Naruko yang paling dalam, ia masih menyimpan kepedulian kepadaku. Lagipula aku kesini membawa kepercayaan Tou-san, Kaa-san dan juga Karin-Neesan. Aku sudah berjanji kepada mereka akan membawa Naruko pulang. Aku jauh-jauh dari Jepang kesini bukan untuk mendapat bentakkan saja. Aku ingin pulang ke Jepang membawa Naruko. Karena itu aku harus berhasil membawanya pulang bagaimanapun caranya.
"Hehehehe." Aku tertawa memperlihatkan cengiran khasku dan menatap Naruko serta Deidara bergantian. Mereka balik menatapku heran. Mungkin mengira aku gila karena tiba-tiba tertawa.
"Aku tidak akan pulang tanpa membawamu bersamaku. Kamu sudah berada sedekat ini, aku tidak akan melepasmu lagi. Aku akan tetap membawamu pulang meskipun aku harus menggendongmu," kataku tersenyum ke arah Naruko. Aku tau ini terdengar egois. Tapi sebenarnya tidak. Aku tau sebenarnya Naruko juga ingin pulang bersamaku. Aku yakin itu, jangan remehkan insting seorang saudara kembar terhadap saudara kembar lainnya.
Naruko kaget mendengar kata-kataku itu. Begitu juga dengan Deidara yang tak kalah kaget, pasti dia berpikir aku cari mati berani bicara seperti itu.
"Dasar keras kepala. Kalau kau bersikeras ingin membawa Naruko, kau harus berhadapan denganku un. Sekarang aku tidak peduli lagi ancaman Minato, lagipula kau yang keras kepala un, jadi aku tidak punya jalan lain. Jangan salahkan aku kalau setelah ini kau kehilangan nyawamu. Aku tidak main-main Naruto! Bersiaplah!" Deidara mundur memberi jarak diantara kami dan memasang kuda-kudanya.
"Yah, memang tidak ada jalan lain. Lihat aku Naruko, akan kutunjukan seberapa kuat tekadku untuk membawamu pulang. Oh ya, satu hal yang harus kamu tau. Dari tadi aku mau bilang, kalau aku kesini karena keinginanku sendiri." Aku menatap Naruko sekali lagi, memperlihatkan senyumanku kepadanya. Menatapnya tepat di mata. Entah kenapa aku menganggap kalau matanya itu lebih indah dari punyaku meskipun kami kembar.
Naruko kaget mendengar kata-kataku. Saat tatapan kami bertemu, dia lebih memilih membuang mukanya.
"Aku ingin segera membawamu pulang bersamaku..."
BUKHH!
Sebuah pukulan mendarat dengan telak di pipiku.
"Ughhh..." Darah segar keluar dari mulutku, mengalir sampai ke dagu.
"Cukup basa-basinya!" teriak Deidara. "Pertarungan sudah dimulai!"
"Gomen. Baiklah aku akan serius sekarang." Deidara tersenyum mendengarnya. Senang karena dia akan mendapatkan perlawanan kali ini. Kubuka jaketku, memperlihatkan tangan kiriku yang penuh perban gara-gara insiden kemarin. Naruko kaget melihat tanganku yang dibalut banyak perban itu, karena dia tau persis kalau sehari sebelumnya aku sama sekali tidak apa-apa. Kuhapus aliran darah di daguku dengan punggung tanganku. Kupasang kuda-kudaku, kukepalkan kedua tanganku dan kutatap Deidara tajam.
"MAJULAH!"
To Be Continue...
A/N: Bagaimanakah pertarungan antara Naruto dan Deidara? Siapa yang bakal menang? Berhasilkah Naruto membawa pulang Naruko? Nantikan di Last Chapter, Chapter 11: Ayo Pulang, Onee-san minggu depan. Karena chapter depan itu chapter terakhir, jadi ini kesempatan terakhir kalian para readers buat ngasih review/kesan mengenai fanfic ini. Soalnya kalo di chapter selanjutnya pasti reviewnya ga akan dibales (kecuali yg login). Ok, sampe ketemu lagi minggu depan. Review, review, review... ;)
Arigato
-rifuki-
