Arakafsya Uchiha Mempersembahkan :
"Anthem Of The Angels"
Genre : Hurt/Comfort/Romance
Characters : Sasuke U. & Sakura H.
Rate : M
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
Don't like? Don't read!
.
.
Sepeninggalan Uchiha Itachi dalam kecelakaan bersama Sakura Haruno membuat gadis itu cukup menderita dan sempat mengalami gangguan kejiwaan. Akankah Sasuke Uchiha mampu menyembuhkan semua luka Kakak Iparnya? Lalu, bagaimana dengan status Hinata yang berdiri sebagai calon Tunangan Sasuke?
.
.
Funeral Of Konoha, Konohagakure
Sakura's POV
Pagi ini, sebelum matahari terbit dan sebelum matahari benar-benar menampakkan cahanya, aku disini. Berdiri sendiri dengan dua buah bucket bunga putih dan menghadap pada dua buah gundukan tanah yang masih baru. Aku menatap kedua nisan berwarna perak tersebut.
'Uchiha Itachi dan Uchiha Aoi'
Begitu ku sebut namanya dalam hati. Kedua kakiku masih kuat, masih mampu menahan berat tubuhku yang tetap berdiri disini. Hening— samar terdengar suara angin yang berhembus lewat bersamaan dengan angan-angan yang masih sempat terkenang.
"Itachi…" ucapku parau dengan air mata yang sudah berlinang.
"Aku…aku akan menikah—" ku tarik nafasku yang sudah mulai sesak, "Dosakah aku menikahi adikmu? Sedang dalam hati aku masih belum bisa melupakan kalian?"
Aku tertegun dengan pertanyaanku sendiri, "Kalau saja kau ada disini, aku ingin meminta banyak penjelasan padamu. Banyak! Perihal Shion, Hinata, Aoi, Sasuke. Semuanya!" – Aku kembali berteriak.
"Tidak seharusnya kau meninggalkan aku dengan semua teka-teki ini, Uchiha Itachi!" ku pukul gundukan tanah merah itu, "BANGUN, ITACHI! BANGUN KATAKU!"
Aku menggeram lagi, memukul bongkahan tanah tersebut. Masih dengan air mata yang mengalir, masih dengan hati yang belum rela ditinggalkan dua orang berharga dalam hidupku. Masih mencoba untuk tegar, walau nyatanya tidak bisa. Hanya ada suara isak tangis disana. Ya, hanya ada suara isak tangis.
"Bohong kalau kau bilang kau sudah ikhlas melepasku, Uchiha Sakura."
Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati sosok tegap suamiku disana. Berpakaian serba putih, dan dengan wajah tenangnya— duduk di samping diriku yang masih kaget dan ketakutan.
"Kadang kala kita sebagai manusia memang suka mengatakan apa yang dinamakan kebohongan, bukan apa yang dikatakan hati." Aku menunduk.
"Tidak salah kalau kau marah, jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya tetap memandang lurus ke depan, aku menoleh—sedikit tersenyum.
"Shion…benarkah kau memiliki hubungan khusus dengan Shion?" ku lihat Itachi tersenyum.
"Maafkan aku. Aku memang terlalu jahat padamu," Cukup— itu sudah cukup menjadi jawaban untukku. Hatiku? Jangan tanya bagaimana. Karena rasanya sakit.
==oOo==
Uchiha Mansion, Konohagakure
Normal POV
Sasuke Uchiha merapatkan kedua matanya. Indera pendengarannya menangkap suara-suara cicitan burung di pagi hari. Tubuhnya sedikit menggeliat, ia tatap langit-langit kamarnya. Senyum terlukis dari bibir tipisnya, pikirannya kembali dihantui oleh seorang wanita yang kini menemani hidupnya. Uchiha Sakura.
'Ng? Jam berapa ini?'. Gumam pemuda itu dalam hati.
Ia bangkit dari tidurnya dan keluar dari kamarnya yang besar itu, langkah kakinya terus berjalan menghampiri sebuah pintu yang masih tertutup rapat. Ia tarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu tersebut.
Crek.
Dengan senyum tipis yang mengembang, pemuda itu menyembulkan kepalanya di balik daun pintu, "Ohay—Sakura-chan?!" belum sempat mengucapkan selamat pagi, pemuda itu terkejut bukan main tak mendapati seorangpun disana. Kamar itu rapih, bersih, dan bahkan tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Ia mendecih kesal, berlari menuruni anak tangga dengan mata yang berkilat marah.
"Selamat pagi, Tuan muda." Kepala pelayan di rumah mereka berojigi saat mendapati Tuan mudanya baru saja turun dari anak tangga terakhir yang ia pijaki.
"Hn, kemana pelayan yang lain?" tanyanya dengan suara dingin.
"Sedang membereskan rumah, ada yang bisa saya bantu?" sekali lagi, kepala pelayan itu memberikan rasa hormatnya pada sang Tuan muda.
"Hn, kemana Nyonya muda?" iris kelamnya mengekori tiap sudut ruangan.
"A—ah, kami…kami tadi mendapati Nyonya muda akan pergi pada dini hari, kami memang sempat bertanya tapi Nyonya muda hanya diam saja. Maafkan kami," kepala pelayan itu berojigi lagi.
"Aku tidak tanya itu, yang aku tanyakan kemana Sakura?!" marah— merupakan hal wajar jika kau tidak menemukan orang yang sangat kau sayangi berada di rumah, tapi tidak perlu membentak bawahanmu juga 'kan, Uchiha Sasuke? Hn. Beda urusan untuk Uchiha Sakura. Beda.
"Sasuke-kun, besok kita ke makam Aoi dan Itachi ya?"
Sekelebat bayangan akan ajakan Sakura kemarin terngiang di benaknya. Ia menggeram, tak bisakah wanita itu lebih sabar sedikit mengenai pergi ke makam Itachi? Sasuke menarik nafas lagi seraya menenangkan dirinya dari rasa marah yang sempat menyambar hatinya.
"Siapkan mobil dan supir, aku ingin pergi." Ucapnya seraya berlalu begitu saja tanpa memperdulikan sang kepala pelayan yang berojigi.
.
.
.
Masih diliputi rasa cemas, pemuda itu duduk di kursi belakang mobilnya. Ia sandarkan kepalanya pada kaca gelap mobilnya, ia tatap pemandangan luar yang masih sepi akan kendaraan. Samar-samar, cahaya matahari kembali tertutup oleh awan—pelan tapi pasti. Belum ada rintik hujan yang turun, mobil berhenti kala rambu-rambu lalu lintas menunjukkan lampu berwarna merah.
TES TES
Rintik hujan mulai membasahi kaca mobil, Sasuke mendecak kesal tatkala mobilnya masih harus berhenti untuk waktu tiga puluh detik. Ia menggeram pelan, "Cepat sedikit, Pak. Jangan sampai Sakura kehujanan," ucap Sasuke dengan bibir yang enggan terbuka.
"Baik, Tuan muda." Mobil berjalan kembali dan sedikit menaikkan kecepatannya. Jalanan yang terbilang sepi itu tidak menyusahkan Sasuke untuk tiba di pemakaman dalam jangkauan waktu lama. Setelah mobil berhenti, pemuda itu membuka kaca mobil dan membiarkan angin hujan menyentuh wajah tampannya.
"Aku akan turun, kalau nanti aku beri aba-aba, cepat datang dan bawakan payung." Sasuke membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil Fortuner putihnya. Tubuhnya basah kuyup akibat disambut oleh air hujan. Sedikit menggigil karena merasakan hawa dingin angin hujan yang lumayan besar.
"Sakura!" –ia teriyaki nama calon isterinya sembari mengitari pemakaman.
"Sakura! Dimana kau?!" kali ini lebih keras—sedikit serak karena dingin, kakinya melangkah menuju pemakaman sang kakak.
"Astaga, Sakura!" –ia kembali dikejutkan oleh wanita musim semi itu. Obsidian pekatnya menatap tak percaya pada sosok wanita bersurai merah muda panjang yang saat ini terbaring di atas gundukan tanah itu. Sasuke yakin, Sakura sudah pingsan sebelum hujan turun.
Ia bungkukkan tubuhnya dan meraih tubuh dingin Sakura. Wajah dan bibirnya pucat, seakan tak ada lagi kehidupan pada tubuh lemah itu. Sasuke mendekap erat tubuh wanitanya sampai supir mereka datang dan berlari dengan payung di tangannya—memayungi atasannya dan menuntun mereka ke dalam mobil.
.
.
.
Tidak peduli pada apa yang terjadi, meskipun lantai rumahnya becek dan kotor karena ulahnya sendiri—Sasuke Uchiha tetap hati-hati melangkah, sebisa mungkin tidak akan jatuh karena ia sendiri sedang membawa Sakura dalam dekapannya. Nafasnya tersengal, ia tendang daun pintu itu dengan kasar sampai terbuka dan akhirnya juga ia letakkan tubuh pucat Sakura di atas kasurnya.
Klick.
Penghangat ruangan menyala. Sasuke meraih handuk di lemarinya dan mengusapkannya pada tubuh Sakura. Ia menggelengkan kepalanya pelan akibat rasa pusing yang mulai menjalar, ia keluar dari kamar Sakura dan menyuruh maid untuk menggantikan pakaian Sakura.
Blam.
Suara pintu yang ditutup kasar kembali terdengar dari kamar Uchiha Sasuke. Pemuda itu mengganti pakaiannya dan mengulum dirinya di dalam selimut tebal. Kepalanya sakit bukan main, suhu tubuhnya sudah berubah. Nafasnya mulai tersendat-sendat, hidung dan wajahnya memerah—Sasuke Uchiha mengalami demam tinggi.
"Tuan muda, saya bawakan sup hangat. Lebih baik dimakan sekarang, nanti dingin." Ujar salah seorang maid yang baru saja masuk ke dalam kamar Sasuke. Gadis berambut hitam panjang itu meletakkan mangkuk sup di atas meja Sasuke. Setelah maid itu keluar, Sasuke menyingkap selimut itu dengan kasar dan langsung duduk di tepi kasur.
"Ha—Hatchiii !" pemuda itu menggeleng lagi, kepalanya terasa semakin berat.
'Brengsek, harus ku paksa makan.' Ujarnya dalam hati sembari menatap semangkuk sup. Lagi, "Ha—hatchi!." Pemuda itu menggeram, ia raih satu sendok sup dan akhirnya berhasil ia telan. Ia menggeleng lagi, kepalanya semakin terasa pening.
"Sasuke-kun," sebuah suara lembut tengah menghentikan kegiatannya. Ia melihat Sakura baru saja masuk ke dalam ruang kamarnya, pemuda itu bangkit menuju lemari pakaian dan mengambil selembar masker dan memasangkannya untuk menutupi bagian hidung sampai mulutnya.
"Kau kenapa kemari? Cepat sana kembali, kau harus istirahat!" ujar Sasuke setengah berteriak sembari membaringkan tubuhnya.
"Sasuke-kun sakit ya?" tanya Sakura dengan pelan sembari duduk di tepi kasur pemuda itu.
"Hn, jangan dekat-dekat. Nanti kau tertular,"
Sakura menyipitkan matanya, "Tak apa, sini aku suapi saja. Kalau tidak makan, tidak bisa meminum obat."
"Tidak usah, Sakura. Kau tidur saja sana," jawab Sasuke sembari membalikkan tubuhnya.
Sakura menggeram kesal, ia menghentakkan kakinya pada lantai dan menarik paksa tubuh pemuda Uchiha itu agar segera berbalik menghadapnya. Pemuda itu sedikit meringis kesakitan karena lehernya ikut terputar paksa—dikarenakan kepalanya sudah berdenyut sedari tadi.
"Sakura!" Sasuke berteriak di balik maskernya. Sakura memajukan bibirnya tanda marah, "Habisnya tidak mau mendengarkan, rasakan!"
Sasuke menarik nafasnya pasrah, perlahan ia buka masker putihnya dan menatap Sakura dengan tatapan sayu, "Sekarang apa?" tanyanya malas sembari duduk bersandar pada penyanggah kasur.
"Sasuke-kun harus makan," pemuda itu mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tidak pernah mampu menolak permintaan kekasih yang akan menjadi isterinya kelak. Ia mendekatkan diri pada Sakura dan membuka mulutnya kala tangan mungil itu menghampiri bibirnya dengan sesendok sup.
"Ne, tidak panas 'kan?" tanya Sakura sembari tersenyum lembut.
Sasuke menggeleng, "Kapan kau bangun? Bukankah tadi kau pingsan?"
"Tak lama setelah maid menggantikan aku baju," Sakura memberikan suapannya lagi.
Gluk.
Pemuda itu menelan dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sakit, "Kau sudah meminum obat belum?"
Sakura mengangguk. Satu suapan terakhir ia berikan pada Sasuke, "Nah, sekarang saatnya meminum obatmu. Kau demam,"
Wanita musim semi itu beranjak menuju meja dan mengambil air mineral serta sebutir obat, ia serahkan pada Sasuke untuk segera di minum. Pemuda itu menghela nafas saat obat sudah masuk ke dalam tubuhnya. Tenggorokannya kembali diserang rasa sakit dan panas, sepertinya demam kali ini akan disertai dengan flue dan radang.
"Sakura," panggil Sasuke dengan suara tercekat.
Sakura yang sedang membereskan obat-obatan Sasuke segera menoleh, "Ada apa, Sasuke-kun?"
"Tenggorokanku sakit," katanya sembari memegang lehernya yang terasa panas. Sakura mengeryitkan dahinya dan menghampiri Sasuke yang sedang memejamkan matanya tersebut.
"Tunggu sebentar ya, Sasuke-kun." Naluri kedokterannya kembali muncul, ia beranjak pergi meninggalkan pemuda itu sendiri, lalu kembali dengan sebotol obat cair yang ia letakkan di atas meja.
"Coba buka mulutmu," perintah Sakura sembari mengangkat kepala Sasuke menuju pangkuannya.
"Sepertinya kau akan flue dan tenggorokanmu merah, Sasuke-kun. Kau tidak boleh minum yang dingin dulu ya, kau harus banyak istirahat." Sambung Sakura sembari menyuapkan obat batuk pada Sasuke. Pemuda itu membuka matanya dan menatap Sakura yang sedang mengusap kepalanya, ia nikmati sentuhan wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya.
Bibir tipis wanita itu tersenyum, menyambut tatapan mata kekasihnya. Entah apa yang merasuki pemuda itu, akhirnya ia menarik Sakura ke dalam ciumannya. Ciuman lembut biasa, mengulum bibir sang wanita dan mengajak lidahnya untuk bermain. Ciuman itu berubah, panas— ditambah suhu yg dihasilkan penghangat ruangan ini, ia menggeleng—melepaskan ciumannya.
"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura yang tiba-tiba mendapati mata hitam kekasihnya menatapnya sendu.
Sasuke menggeleng, "Aku lupa aku sedang sakit, nanti kau tertular." Sasuke membalikkan tubuhnya dan mengulum dirinya lagi di dalam selimut tebal.
"Kau harus istirahat, Sakura. Cepat pergi selagi aku masih belum terlalu bernafsu padamu," Sakura tersenyum geli mendengar penuturan Sasuke.
"Kau yakin kau ingin aku pergi?" Sakura melipat kedua tangannya di dada.
"Hn," pemuda itu semakin meringkuk di bawah selimut.
"Padahal aku ingin melanjutkannya, loh. Sasuke-kun," Sakura merangkak di atas kasur dan menyingkap kasar selimut milik kekasihnya.
"Jangan menggodaku, Hime. Sana cepat pergi," jawab Sasuke datar sembari menarik selimut lagi.
"Iiih! Kau ini kenapa sih, Sasuke-kun?!" teriak Sakura sembari membuang selimut itu ke sembarang arah.
"Aarrgghh!" geram sudah pemuda Uchiha ini, ia tatap dalam-dalam mata hijau kekasihnya untuk memastikan dirinya sendiri harus bertindak seperti apa. Ia menarik nafas lagi, "Kemarilah," ujarnya pelan sembari menarik sebelah tangan Sakura. Ia dekap wanitanya dalam rengkuhannya, ia baringkan tubuhnya dan menimpah tubuh kekasihnya.
"Jangan marah, Sasuke-kun." Kata Sakura pelan dengan suara yang sedikit manja. Pemuda itu mendengus menahan tawa.
"Hn, kalau kau tidak mau aku marah, bantu aku."
Sakura menyipitkan mata pertanda bingung, "Bantu apa?"
"Berikan aku…" Sasuke mendekap erat tubuh kekasihnya, ia kecup leher jenjang nan mulus milik kekasihnya.
"Ngghh…Sasuke-kun…aahh…" Sakura mendesah kala pemuda itu menggigit dan menghisap lehernya sehingga menimbulkan warna kemerahan disana.
"…berikan aku kehangatan, Sakura-chan." Kata Sasuke sembari menatap iris emerald kekasihnya. Mereka sama-sama memamerkan senyum terbaiknya, sama-sama mengusap pipi kekasihnya dengan lembut. Sasuke memejamkan matanya lagi menikmati sentuhan tangan calon isterinya, ia tenggelamkan wajahnya pada bahu dan leher kekasihnya itu.
"Saku…" pemuda itu mengecup leher kekasihnya lagi, ia singkirkan rambut kekasihnya dan mengecupnya lebih dalam. Menyesap segala aroma cherry blossom khas milik kekasihnya. Sasuke Uchiha sudah terbuai dalam pesona kekasihnya. Perlahan, tangan yang tadinya mengusap lembut pipi Sakura, kini beralih ke untuk meremas pelan kedua dada kekasihnya itu.
"Ahh—Sasuke-kun, ja-jang…aannhhh…" Sakura menggeleng mendapati kekasihnya itu sudah memulai aksinya.
"Ini hukuman karena sudah mengangguku," Sasuke kembali ambil posisi menindih tubuh kekasihnya. Ia buka pakaian Sakura dengan paksa, meremas bongkahan dada kenyal milik kekasihnya yang sedikit mengeras. Sasuke menyeringai.
"Sudah tidak tahan, eh?" tanya Sasuke sembari meremas-remas dengan gemas.
Sakura menggeliat, kepalanya menggeleng lemah kala pemuda itu semakin mengencangkan remasan pada dadanya. Peluh mulai mengaliri pelipisnya, hal ini juga dikarenakan suhu penghangat ruangan yang masih menyala. Hujan masih mengguyur Konohagakure, tapi nampaknya hujan juga tidak membuat dingin kedua anak manusia yang tengah didera nikmat duniawi.
"Ugh—aah…Sas—" Sakura menggeliat erotis kala kekasihnya melumat penuh puting susunya yang menegang. Berusaha mendorong kepala pemuda itu juga percuma, nyatanya tenaga Sakura sendiri seperti dikunci dan tidak bisa keluar.
Sasuke berhenti sejenak, menatap kekasihnya yang sudah dibanjiri peluh dan nafas yang terengah-engah. Ia bangkit dan mematikan pemanas ruangan, lalu menghidupkan AC agar kekasihnya tidak terlalu merasa panas. Hey—bukankah semakin panas itu seharusnya semakin menggairahkan? Tentu Uchiha Sasuke juga tidak ingin egois dalam hal bercinta.
Ia membuka kemeja putihnya, memamerkan dada bidang miliknya dan tubuh putih dengan bentuk atletis yang sempurna. Sekali lagi, ia menindih tubuh kekasihnya dan langsung melumat penuh gairah bibir mungil yang sudah merah milik Sakura tersebut. Tangan mungil Sakura meraba pelan tubuh si bungsu Uchiha sehingga pemuda itu mendesah dengan suara tertahan.
DEG DEG!
"Arrggh—" Sasuke melepaskan ciumannya dan menggeram saat kepalanya diserang rasa sakit yang tak tertahankan. Ia mencengkram kuat kepalanya sehingga membuat wanita yang tadi sempat ditidurinya terbangun.
"Sasuke-kun, kau baik-baik saja?" tanya sakura khawatir sembari menarik Sasuke ke dalam pelukannya.
"Kepalaku sakit, Sakura." Katanya pelan sembari mencengkram kepalanya.
"Kau harus istirahat, kita lanjutkan nanti saja ya," jawab Sakura sembari membaringkan tubuh Sasuke di sampingnya.
"Hn? Aku baik-baik saja, Hime. Jangan khawatir," jawabnya sembari mengusap pipi kekasihnya dengan ibu jari.
"Sasuke-kun harus istirahat, nanti tambah parah."
Sasuke menggeleng, "Kemarilah,"
Sakura mendekatkan diri pada sosok pemuda yang kini tidur di sebelahnya, "Buka pakaianku dan aku akan menuntunmu untuk menyelesaikan ini."
Pipi Sakura bersemu merah mendengar perintah Sasuke. Sedikit ragu, ia membuka sabuk hitam Sasuke dan membuka jeans pendek milik kekasihnya itu. Ia lakukan hal yang sama pada boxer hitam Sasuke dan memalingkan wajahnya yang memerah saat melihat milik kekasihnya yang sudah menegang.
"Kau bisa malu juga rupanya," titah Sasuke sembari menyeringai. Ia menarik tangan Sakura untuk menuntun tubuh kekasihnya agar segera duduk di atas tubuhnya.
"S-Sasuke-kun, aku tidak b-bisa…" kata Sakura pelan dengan suara seraknya.
"Aku akan menuntunmu, lakukan saja apa yang aku katakan." Jawabnya dengan senyum kecil yang tersisa di wajah tampannya.
Sasuke memegangi miliknya dan mengarahkannya pada milik Sakura. Tubuh mulus kekasihnya semakin turun kala benda itu tertanam di dalamnya. Rasa sakit mulai menjalar daerah intim kewanitaan Sakura, ia meringis pelan dan sempat berhenti sebentar sehingga membuat Sasuke yang harus melanjutkannya.
"P-padahal belum lama, tapi sudah sesempit ini." kata Sasuke sembari merasakan kenikmatan yang menderanya.
"U-ugghh…aaahhh…—" Sasuke menggeram tertahan saat menekan bokong Sakura dan mengangkatnya sebentar, lelu menurunkannya lagi. Miliknya terasa dihimpit dengan keras sehingga menciptakan sensasi nikmat tiada tara.
"Aahh…mmhh…aaahh, Sasu-kun…hhh~" Sakura tidak bisa menahan desahannya saat kenikmatan menghujaninya secara bertubi-tubi.
Dada Sakura yang bergoyang naik-turun membuat pemuda itu meremasnya dengan gemas, kenikmatan yang mereka rasakan semakin bertambah. Erangan, desahan, semua menggema di ruangan besar milik Sasuke tersebut. Hawa panas mulai menyerang, meski hujan dan petir saling bersahutan dan belap membalap dengan suara desahan kedua anak manusia yang didera kenikmatan duniawi.
==oOo==
Hyuuga Mansion, Konohagakure
Hujan masih membasahi kota Konoha. Hawa dingin disertai angin yang berhembus masih saja setia menemani aktifitas manusia. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak akan ada aktifitas yang bisa berjalan lancar disaat cuaca seperti ini, kecuali menggalau tentunya.
Disini, Hyuuga Hinata masih setia duduk di celah jendela kamarnya yang menghubungkannya pada balkon kamar yang hampir basah akibat hujan itu. Ia ingat kalau hujan adalah sesuatu yang ia senangi, karena ia memiliki kenangan dengan hujan.
Drrtt…Drrrtt
Hinata menoleh kearah ponsel yang bergetar, ia melangkahkan kakinya menuju meja belajar dan meraih benda berwarna putih tersebut. Ia menghela nafas lagi kala mendapati nama yang tertera disana.
"Ya, Sasuke-kun?" ucapnya sembari meremas ujung dressnya.
"Hinata, kau sedang bersama Naruto?" sahut suara di seberang sana.
Hinata menggeleng, "Tidak. Ada apa memangnya?"
"Ku dengar kalian cukup akrab, jadi aku menelponmu untuk menanyakan keberadaannya. Nomornya tidak aktif, kalau kau bertemu dengannya, sampaikan kalau ia harus menghubungiku."
"Sasuke-kun, tunggu!" Hinata sedikit berteriak saat pemuda itu hampir menutup sambungan teleponnya.
"Hn, ada apa?"
"K-ku dengar…malam itu…Aoi-kun me-me-meninggal…" jawabnya dengan suara parau—penuh penyesalan.
"Hn," sahut pemuda itu sekenanya.
"K-kau p-pasti m-marah padaku 'kan?" Hinata berjalan menuju jendela dan menikmati angin hujan yang menggelitik kulit wajahnya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Lagipula aku dan Sakura sudah mengikhlaskan kepergiannya."
Hinata menarik nafas, "M-maafkan aku, Sasuke-kun."
"Hn. Sampaikan pada Naruto kalau ia harus menghubungiku, aku tidak bisa menunda pernikahan lebih lama lagi."
"Kau akan menikah?!" tanya Hinata tak percaya.
"Hn, sudah ya—"
"Sasuke-kun, tunggu dulu!" Hinata memotong pembicaraannya lagi.
"Dengan siapa kau menikah?" sambungnya lagi saat mendengar helaan nafas dari pemuda itu.
"Sakura."
FLIP
Nada itu terdengar bertepatan saat sambungan telepon terputus. Hinata menghela nafas berat dan tersenyum getir menatap hujan yang masih mengguyur kota. Ia menyentuh pelan dadanya dan tersenyum, "Sasuke-kun…selamat."
==oOo==
Uchiha Mansion, Konohagakure
"Hey, bangun pemalas~" ucap Sasuke sembari mengecup pipi ranum Sakura. Wanita itu tersenyum dan memeluk leher Sasuke dengan manja.
"Sasuke-kun…"
"Hn, mandilah. Makan malam sudah hampir siap, sayang." Jawab Sasuke sembari mengecupi pipi ranum kekasihnya yang memerah.
"Iya, Sasuke-kun."
Sasuke tersenyum lembut saat wanita bersurai merah muda panjang itu berjalan memasuki kamar mandi. Samar-samar semua kenangannya kembali terbayang dengan jelas, semburat merah tipis menghiasi wajahnya membayangkan kejadian panas tadi pagi. Ia tersenyum, "Aku pasti akan menikahimu, Sakura."
-Tbc-
Author Spam :
Tbc? What the…
Maafkan atas kelabilan saya -_- saya tadinya ingin membuat sampai chapter 10 selesai. Tapi ternyata sampai chapter 11, karena chapter depan itu udah penutup. Lemon? Bagaimana dengan lemon? Sepertinya kurang memuaskan. Mohon maaf bgt atas keterlambatan update. Udah telat, gajadi ending pula. Masih berkenan baca? Terima kasih.
Deshe Lusi : Gereget kenapa? Kurang puas ya sama moment di lautnya ._.v
Nina317Elf : Iya, Nina. Asalkan gak tenggelam ke laut aja sangking bahagianya ya (?). jangan-jangan kamu juga berharap untuk dilamar demikian? Hahaha.
Tsurugi De Lelouch : Tapi tetap saja senpai, karya anda juga bagus. Oh ya, saya sempat baca di HP karya senpai yang "Short Ficlet SasuSaku" Chapter XX, bikin aku sedikit—terharu—karena inget almarhum ayah saya yang cukup—menyangi—saya dengan caranya sendiri. Haha. Dari tadi saya melihat isi review semuanya membicarakan lamaran bawah laut, saya melakukan itu pun kata pacar saya biasa aja, padahal kata saya cukup romantis. Apa semua tergantung muka ya? Kalo setampan Sasuke dibilang romantis, kl ga tampan dibilang biasa aja? *ini jadi curhat*
Rie saka : Iya salam kenal, iya ini Shaskeh yang update. Nani? -_- laki-laki juga harus rapih. Lihat Sasuke (?) dia rapih dan dia tampan. Haha
Diella Nadilla SasuSakuLovers : Aku dosa nih? -_- berarti harus minta maaf sama kamu ya (?) aku yang romantis, apa Sasuke yang romantis? Jangan bilang kamu juga ngarep dilamar demikian *digantung*
nadialovely : Iya, ini Fict Collab Jihand dan saya. Ada apa?
Anka-chan : ini sudah di update.
Ah rin : Selamat! Kamu adalah orang ke sekian yang berharap dilamar demikian (?) makannya nanti cari pacar kaya sasuke ya, biar dilamar dibawah laut. Haha. Siapa tau ntar dapet yg lebih baik, dilamarnya di kereta bawah tanah:p
chiaki katsumata : Iya salam kenal :) gak nyangkanya kenapa? Haha, jadi malu. Apa? Kamu senyum-senyum sendiri? Hati-hati takut disangka yang 'enggak-enggak' :| ini udah diupdate, map telat.
Azakayana Yume : Iya jogetlah sesukamu :p, hah? Di twitter? Siapa? Aku lupa, serius.
sasusaku kira : eciee aku ditungguin *digampar* iya bener? Soalnya chap 9 diambil dari kisah nyata aku dan Ara loh—ehem— kamu juga orang yang kesekian kali yang pengen dilamar di dalam laut. Iya ini sudah aku update :)
Guest : Ini saya adain lemon karena memang permintaan kamu loh (?) *digantung* kamu juga ternyata, sama-sama mengharapkan dilamar di bawah laut :p minta dong sama pacarnya nanti dilamar di bawah laut. Jangan lupa pake pelampung :p
Qren : Iya mereka emang pasangan paling sosweet. Dan aku memang memasangkan Hinata dengan Naruto.
uchiharuno phorepeerr : Yosh! Aku memang so sweet (?) kejadian ini diambil dari kisah nyata dan pengalaman pribadi *ga penting* oke, selamat hari valentine buat kamu kalo gitu *telat bgt* dan ah ya, kamu mau punya pacar kaya Sasuke? Bermimpilah setinggi-tingginya :p saya mau punya pacar kaya sakura aja susah. Haha
Hima : Suka kok, Author suka bgt sama lemon *kan ketauan deh ah* hanyut? Kaya apa aja gitu hanyut :p haha. Makasih ya Hima :)
mako-chan : Gak-gak-gak, gak jadi. Ini chapter yang terakhir, tenang ya tenang *usapin punggung* (?)
FN : kamu jangan ngaku-ngaku deh :p pengen ikut mandi nih ceritanya? Ayonih, mumpung aku belum mandi *plak* kamu belum punya pacar kenapa gak sama aku aja sih? Wkwkwk :p tuh kan, kamu kaya dukun suka nebak-nebak jalan cerita. Jangan-jangan kamu nih yang mau nikah :p
melyarahmawinarti : UN aja dulu. Udah H-42 ya menuju UN? Jadi kamu baca lemonnya -_- kamu masih kecil udah baca-baca lemon ya. Ini udah update mel, ini udah update. Nyuri hp yang disita? Biarin ntar bilangin papahnya melya nih :p
Guest : Ampe review dua kali, jadi malu bgt udah telat update :| Black ya? Kayaknya "Black" belom ada inspirasi. Black juga kan diambil dari kisah nyata, jadi karena kisah nyatanya belom ada kelanjutan, ya Black juga discontinued. Maaf bgt ya :|
sasusaku uchiha : ini udah diupdate, maaf ya kalau telat. Kamu terlalu berlebihan :) saya gapunya fans ataupun penggemar. Saya ini newbie loh. Lihat bio aja kalau ga percaya. Kalau untuk "Black" saya sendiri gatau, karena itu juga karyanya Ara. Perdana pula, dan diambil dari kisah nyata. Karena kisah nyatanya juga berhenti sampai disitu, jadi berhenti juga FFNnya. Saya ucapin terima kasih byk buat kamu ya :)
Asakura Ayaka : hemm kami itu—pacaran—merambat tunangan. Uhuk! –dan yang bagian bola di dapur itu emang beneran kejadian ==" jadi kamu baca fict ini lagi di dapur? Ngapain? *kok jadi kepo* iya Aya makasih atas koreksinya :), jihand sih sebenernya bisa berenang, hanya gabisa ngambang. Itu aja -_-. Iya aya, nanti kalau aku ke makam aku titipin salamnya deh :) makasih bgt ya Aya. Dan aku juga nunggu Sequel kamu juga ya yang FBI itu loh :p
sasa-chan : Tapi sayangnya ini yang update bukan Ara tuh :p Ara lagi sibuk Try Out :p terima kasih ya sasa-chan, nanti saya salamkan supportnya ke Ara. Saya ucapkan sekali lagi terima kasih :)
Holaaa! Saya hampir lupa juga nih, jangan lewatkan ya, saya akan bikin sequel dari tiga Fict, "Sasuke itu AYAH-ku" ; "Among The Dead" ; "Anthem Of The Angels" yang akan turun secara serentak. Rate tentunya T dan semuanya insya Allah hanya oneshoot. Terus ikuti kami ya, terima kasih Minna-san!
Sign,
Shaskeh Admaja & Arakafsya
