Author Note: update again! ^^ -sigh- Cuma tiga reviewer :3
ya sudah, enjoy the story~

Troublesome Family

Chapter 9

"Hey, mengapa kau bertingkah seperti itu? Apakah aku terlihat seperti hantu?" Tanya Roxas dengan heran.

Aku masih tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mataku saat ini. Roxas, orang yang kutemui tadi malam saat melakukan misi, saat ini berada di depanku dengan wajah sehat dan segar bugar seperti tidak terluka sedikit pun, padahal aku yakin sekali bahwa kemarin bahunya tertembak...

Kukedipkan mataku dan kugosok mataku untuk memastikan bahwa semua ini hanya ilusi karena aku masih mengantuk. Tetapi begitu mataku terbuka, Roxas masih terlihat juga, dia terlihat heran pada tingkahku.

"Roxas, kaukah itu?" Tanyaku seperti orang bodoh.

"Huh?" dia terlihat memiringkan kepalanya ketika mengatakannya. "Tentu saja ini aku, siapa lagi?" Tanyanya terheran-heran.

"Tapi... kau... semalam... bukankah kau..." Kataku tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik saking bingungnya melihat Roxas yang seharusnya tidak masuk hari ini karena terluka, tetapi hari ini dia tetap masuk.

"Hm... kau ingin mengatakan apa,Sora? Aku tidak mengerti," katanya memberitahu.

Lalu aku mencoba memegang bahunya yang tertembak kemarin malam dan menekannya dengan kuat.

"Ow!" Teriaknya kesakitan ketika kutekan bahunya.

'Tidak salah lagi, memang dia yang ditembak oleh Kadaj...' Pikirku dengan wajah pucat. '...apa yang harus kukatakan padanya?' Pikirku bingung.

"Sora? Hello? Earth to Sora? Are you listening to me?" Kata Roxas sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, dia terlihat kesal karena aku tidak menjawab sedari tadi. "HEY!" Teriaknya tepat di telingaku.

"Woah!" Teriakku kaget dan juga kesakitan sambil memegangi kupingku yang diteriakinya. "My ear..." Keluhku sambil menggosok telingaku.

"Ah, akhirnya jiwamu kembali pada tubuhmu," kata Roxas setengah bercanda dengan senyum sinis.

Aku lalu menatap Roxas yang sejak tadi tersenyum, aku ingin tersenyum juga, tetapi...

"Roxas, luka di bahumu itu...," Kataku sambil menatap bahunya.

"Well, luka di bahuku ini adalah kecerobohanku..." Jelasnya sambil menatap bahunya. "...kau tidak perlu memikirkannya, itu bukan salahmu."

Aku memucat setelah mendengar kata-katanya. "Kau... kau tahu bahwa semalam itu..."

Sebelum aku selesai mengatakannya, Roxas lalu menyela.

"Yeah..." Potongnya. "... aku baru menyadari bahwa itu adalah kamu, Sora. Aku baru menyadarinya ketika kau menyebut namaku, caramu menyebut namaku pagi ini sangatlah sama persis ketika kau menyebut namaku kemarin malam. Reaksimu juga yang memperkuat dugaanku bahwa kau adalah orang yang kuserang semalam," jelasnya. "Aku masih kurang yakin tadi malam, tapi sekarang aku sangatlah yakin bahwa orang itu adalah kamu, Sora."

Aku hanya terdiam dengan keringat dingin yang bermunculan di dahiku. Entah mengapa suasana kelas ini terasa sangat mencekam dan seakan-akan di kelas yang ramai ini, hanya terdapat antara aku dan Roxas saja, siswa yang lain terasa seperti menghilang. Entah mengapa aku sangat cemas setelah Roxas mengetahui identitasku, apakah dia hendak membunuhku sekarang?

"Don't worry, Sora..." Kata Roxas dengan senyum dan memecah keheningan kami berdua. Herannya suasana mencekam yang kurasakan tadi telah menghilang. "...aku tidak berniat membunuhmu untuk membalas atas gagalnya misiku. Semua orang pasti pernah gagal."

Aku langsung lega mendengarnya, apakah itu berarti aku dan Roxas masih bisa berteman? Tapi aku ini saingannya...

"Ro... Roxas..." Kataku menatapnya dengan ragu-ragu. "...Kau... masih ingin menjadi temanku?"Tanyaku dengan suara kecil.

"Of course, no,"jawabnya dengan wajah dingin dan serius, tentu saja jawabannya itu langsung membuatku sangat sedih. "Hey, aku cuma bercanda!" Katanya sambil menepuk bahuku, dia terlihat tertawa saat mengatakannya. "Jangan dibawa serius begitu!" Katanya sambil mencubit kedua pipiku.

Ketika dia melepaskan cubitannya, aku segera memegang kedua pipiku yang memerah akibat cubitannya. "So, we're still friend?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikannya.

"Yeah, but..." Senyum Roxas tiba-tiba menghilang dan diganti dengan ekspresi serius. Entah mengapa aku langsung menahan napas ketika melihat ekspresinya yang mendadak menjadi dingin kembali. "...jika kita bertemu lagi dalam sebuah misi atau pun sebuah tugas penting,sebagai seorang pembunuh profesional, Sora..." Katanya sambil menatapku. Entah mengapa tatapanku sulit kualihkan dari tatapannya, yang dingin dan serasa mencekikku hingga aku merasa sangat sulit untuk bernapas. Ekspresinya mengingatkanku pada Dad-Sephiroth maksudku- ketika membunuh, ekspresi Roxas terlihat sama persis. "...maka saat itu kita bukanlah teman, melainkan musuh," katanya memberitahu.

Aku menelan ludah dengan susah payah setelah dia selesai mengatakannya, tenggorokkanku terasa kering dan seperti habis tercekik karena aura Roxas yang mencekam sekali ketika ekspresinya mendingin. Kata-katanya yang tadi bukanlah candaan, melainkan sangatlah serius...

"Hey..." Panggil Roxas dengan ekspresi normal, suasana mencekam tadi tiba-tiba menghilang.

"Ye... yeah?" Jawabku dengan kaku, aku masih merasa tegang meski suasananya sudah tidak mencekam.

"Sora, please, bersikaplah seperti biasanya..." Katanya memohon. "...paling tidak, berteman denganmu membuatku merasa sedikit normal," katanya dengan senyum. "Rekan-rekanku, hampir seluruh dari mereka memperlakukanku dengan dingin jika kami memiliki tugas bersama. Bahkan aku juga merasa bahwa seluruh murid di sekolah ini juga memperlakukanku dengan dingin karena kami sesama pembunuh, kau merasakannya, bukan?" Tanyanya.

Ketika dia menanyakannya, aku baru menyadari bahwa perkataannya adalah benar. Hampir seluruh murid di sekolah ini terlihat dingin dan herannya, aku tidak terlalu menyadarinya...

"Ya...," Kataku dengan suara kecil.

Roxas lalu tersenyum mendengarnya. "Hanya kau saja yang selalu memperlakukanku dengan hangat meski kau tahu bahwa aku ini juga seorang pembunuh dan mungkin juga musuhmu, tetapi kau tidak peduli akan hal itu."

Aku hanya tertawa pelan –dan ini tertawa palsu- saat dia mengatakannya. Sepertinya Roxas sedikit salah paham. Sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu bahwa dia itu pembunuh, aku ingin berteman dengannya karena dia keren sekali ketika bermain skate board. Lagipula, mungkin saja aku akan menjaga jarak dengan Roxas jika aku tahu dia seorang pembunuh juga, tapi Kadak –mau pun seluruh anggota keluarga ini— terlambat memberitahukanku bahwa murid di sekolah ini hampir seluruh adalah pembunuh dan aku terlanjur suka –bukan cinta!—pada Roxas yang awesome!

Dia sungguh berpengalaman cukup dalam bermain skate board. Aku suka olahraga, makanya aku suka skate board. Jujur, nilaiku tidak bagus di mata pelajaran apa pun selain olahraga dan kesalnya, aku harus mengakui bahwa hampir seluruh murid yang sekolah di sini berprestasi! Aw man...

"Sora?" Roxas memanggilku dan membuyarkan lamunanku.

"Um, Roxas, pelajaran hampir dimulai,"kataku memberitahu setelah melihat guru yang mengajar di kelas ini masuk.

"Oh...," Katanya sambil menoleh kearah guru yang baru saja datang. "See ya at lunch," katanya sambil berlari menuju kursinya, dia tersenyum seperti biasanya.

Aku langsung melamun ketika pelajaran dimulai, aku tidak bisa mengikuti pelajaran jika banyak pikiran yang menggangguku. Roxas, bagiku dia adalah temanku yang paling akrab dan juga paling dekat, aku lebih sering bersamanya dibandingkan dengan teman-temanku –sepertinya kami sesama pembunuh juga, tapi kami jarang bersama—yang lain.

Dulu, Roxas adalah orang yang dingin, tetapi karena sering kusapa, perlahan dia mulai berubah dan mudah tersenyum. Kami menjadi sangat akrab dan sering kami sering bermain bersama...

'Berteman denganmu membuatku merasa sedikit normal.' Kata-kata itu teringat kembali olehku. Entah mengapa kata-kata itu membuat hatiku terasa sakit, ini mengingatkanku pada orang tua kandungku yang selalu memperlakukanku dengan kasar, padahal aku hanyalah anak normal! Ah, Roxas juga, dia juga manusia yang terpaksa membunuh, sama sepertiku. Lalu mengapa... dia mengatakan bahwa seakan-akan dia tidak normal?

Ketika jam makan siang tiba, aku langsung berlari kearah kelas Roxas setelah pelajaran selesai. Pelajaran keduaku berbeda dengan Roxas, jadi kami pun mengikuti pelajaran di ruangan yang berbeda. Sebelum mencapai kelasnya, aku bertemu dengannya di tengah jalan. Dia terlihat berjalan ke arahku...

"Roxas!" Kataku memanggilnya.

Roxas terlihat heran karena aku berlari kearahnya. "Woah? Apa yang membuatmu tergesa-gesa, Sora?"

"Aku ingin bicara denganmu! Berdua saja!" Kataku dengan napas yang memburu akibat lelah berlari."Bisakan?" Tanyaku tidak sabaran.

"Sure," katanya dengan heran.

"Mari kita ke lantai atas ataukah ke kelas yang sepi?" Tanyaku.

"Kelasku lagi kosong, seluruh murid sudah keluar dan menuju kantin," kata Roxas memberitahu.

Maka kami menuju kelas Roxas yang lebih dekat. Aku menarik napas dalam sebelum bicara, lalu aku menatap matanya.

"Roxas, apakah kau masih memiliki orang tua?" Tanyaku.

"No..." Jawabnya. "...mengapa kau menanyakannya?" Tanyanya heran.

"Apakah kau selalu berpikir bahwa kau berbeda dengan anak-anak normal yang selalu bermain di taman?" Tanyaku sambil mengacuhkan pertanyaannya.

"Yeah," jawabnya dengan tatapan kosong.

"Why?" Tanyaku dengan dahi mengkerut.

"Because, my hand smell blood..." Jawabnya sambil menatapi kedua tangannya, tatapannya terlihat masih kosong.

Biasanya, jika kau membunuh seseorang dan tidak sengaja tanganmu terkena darah dari orang yang kau bunuh itu, maka tanganmu akan selalu tercium bau darah dan hanya dirimu sendiri saja yang bisa mencium bau darah itu.

Aku tahu karena tanganku juga berbau darah. Bau ini merupakan dosaku yang tidak akan pernah bisa kuhindari mau pun kuhilangkan, akan selalu melekat di tanganku...

"Roxas, mungkin kita memang berbeda dengan anak-anak yang bermain di taman. Tetapi, kita masih bisa berbaur atau bermain dengan anak-anak normal itu, karena, di mata mereka kita terlihat normal, sama seperti mereka juga...," Kataku dengan senyum.

Ekspresi Roxas yang masih terlihat kosong setelah mendengar penjelasanku membuatku bingung, karena seharusnya dia bereaksi sedikit, tetapi dia tidak memberikan sebuah reaksi. Dia menutup matanya sejenak dan membukanya. Matanya yang tadi terlihat kosong dan redup, sekarang menjadi bercahaya. Dia pun tersenyum padaku...

"Sora, nanti kita bermain di taman, ya, sehabis sekolah usai?" Tanyanya dengan senyum.

"Okay! But, bagaimana dengan bahumu?" Tanyaku cemas.

"It okay, luka ini tidak akan mengangguku ketika aku bermain skate board," jawabnya dengan senyum.

"Tapi..." Kataku cemas, takut lukanya bertambah parah. Seharusnya aku tidak perlu mencemaskannya karena dia adalah musuhku, tapi saat ini statusku adalah temannya, bukan musuhnya, makanya aku cemas. "...ada kemungkinan lukamu terbuka, Roxas."

"Sora, kau tidak perlu mencemaskan kondisiku. Karena, mungkin siang ini kita adalah teman, tapi mungkin nanti malam aku akan menjadi musuhmu,"kata Roxas mengingatkan.

"I know, tapi biarkan aku mencemaskanmu saat ini, sebagai teman," kataku.

"You know, Sora, kau terlalu baik," katanya sambil menghela napas.

"Not really...," kataku sambil tertawa kecil.

Bell sekolah berbunyi, menandakan jam makan siang berakhir...

"Aw man! Aku belum makan siang!" Keluhku setelah bell berbunyi.

"Well, nanti kita makan siang setelah pulang saja," kata Roxas dengan tersenyum.
"See ya, Sora! Nanti kita bertemu di loker ya!" Kata Roxas sambil berlari keluar kelas, pelajaran berikutnya bukan di kelas ini, melainkan di kelas yang lainnya.

"Yeah!" Jawabku sambil menyusulkan keluar kelas, aku berlari ke arah yang berbeda dengannya karena kelasku berada di arah yang berbeda dengannya...

To Be Continued...

Author Note: satu chapter akhirnya selesai… -yawn- any review?