ONE DAY

.

.

.

Apriltaste

.

.

.

Oh Sehun

Lu Han

.

.

HunHan/GS for Uke.

Don't like ? Don't Read and Don't Bash !

Typo Everywhere

.

.

.

Someday, we'll have a happy ending.

.

.

.

Percayalah semua perasaanku padamu.

Semuanya masih terasa sama.

Dalam dan hangat.

Aku masih mencintaimu.

Entah sudah berapa kali Sehun selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan entah sudah berapa kali pula lelaki itu menangis di tengah malam ketika ia benar-benar telah merasa putus asa dengan masalah yang seakan tak ada ujungnya. Sehun tak tahu sampai kapan ia harus menahan rasa rindunya pada Luhan dan setelah itu ia tak bisa membayangkan apakah ia masih pantas mendapat sebuah maaf dari wanita yang selalu ia cintai itu.

Sehun tak boleh menyerah ketika sebuah perasaan putus asa benar-benar menghampiri sebagian hatinya, seakan-akan rasa itu benar-benar menguasai pikirannya. Luna, wanita itu bagi Sehun sekarang hanyalah tak lebih dari jelmaan iblis. Wanita mana yang tega menyakiti adik kandungnya sendiri ? Jika saja Sehun tak bermain dibelakang Luhan, Jika saja Sehun tak menikmati semua sentuhan yang diberikan Luna malam itu, mungkin semua ini tak pernah terjadi.

Hatinya benar-benar sakit ketika malam itu ia melihat Luhan pergi tanpa melihat wajahnya, walaupun tak ada air mata tapi Sehun tahu hati wanita itu benar-benar hancur malam itu juga. Wanita mana yang masih bisa bertahan jika lelakinya tidur dengan kakak kandungnya sendiri ? Ya Sehun benar-benar brengsek.

Tentang Luhan, Sehun benar-benar tak mengerti kenapa semua orang didekatnya termasuk para sahabatnya –Chanyeol dan Jongin- menyembunyikan keberadaan wanita itu mengingat para kekasih mereka juga bersama dengan Luhan saat ini. Mungkin ini adalah hukuman untuk Sehun yang diberikan mereka. Selanjutnya, yang ia tahu dari mereka hanyalah keadaan Luhan yang baik-baik saja.

Sehun merindukan semua tentang wanita itu, hari-hari yang selalu mereka lalui hingga senyuman Luhan yang selalu ia impikan didalam tidurnya. Sehun merindukan bagaimana wanita itu memanggil namanya dan berlari kearahnya yang berakhir tubuh mungil itu tenggelam kedalam pelukannya. Sehun merindukan Luhan.

Tujuh bulan berjalan sangat lambat bagi Sehun. Hari demi hari ia lalui tanpa menganggap Luna sebagai istrinya, ia membiarkan wanita itu bertingkah hingga pada puncak pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu. Membuat kepalanya seakan ingin meledak kapan saja. Wanita itu benar-benar dapat menguras semua emosi Sehun walaupun hanya dengan beberapa detik mereka saling menatap. Beberapa hari ini, ia sengaja tak pulang ke apartemen dan memilih menginap di kantornya atau pulang kerumah. Setidaknya, tanpa melihat dan berbicara dengan wanita itu hidupnya sedikit lebih baik.

.

.

.

-Sehun-

Untuk malam ini, aku memang tak sengaja pulang ke apartemen. Aku lebih memilih pulang menuju rumah orang tuaku. Memang, dulu aku lebih nyaman tinggal di apartemen. Tapi, mungkin sekarang sudah tidak lagi. Semua berbeda karena wanita itu.

Aku tak peduli lagi dengan Luna, wanita itu terus terdiam semenjak pertengkaran malam itu. Aku bahkan lupa tentang keberadaannya yang telah menjadi istriku. Kau tahu ? bukankah perasaan itu memang tak dapat dipaksakan ? lalu apakah mereka tahu jika ini menyakitkan ? aku lupa, aku hanyalah sebuah boneka disini. Tak lebih.

Ibu, orang yang berada dibalik pintu besar itu tersenyum menatapku ketika aku berada pada ambang pintu rumah. Wanita itu selalu tersenyum walaupun aku tahu jika ia tak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Ibu selalu bertanya padaku, Dimana Luhan, Bagaimana keadaan Luhan, selalu dengan nada lirih miliknya dengan bulir air mata yang menggenangi pipi tirusnya. Ibu selalu mengkhawatirkan Luhan.

Ibu, menjadi satu-satunya orang yang kini berada di pihakku. Dari awal, ibu tak menyetujui tentang pernikahan bodoh ini. Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita yang setiap harinya hanya mengurus rumah ? kekuasaan dan keputusan tertinggi berada pada lelaki tua itu –ayahku-

Wanita itu menyambutku dan kemudian memelukku dengan hangat ketika aku melangkah lebih dalam lagi. Usapan hangat itu menyapa punggungku, ini benar-benar hangat seolah semua beban yang kubawa terangkat dengan ringan.

"Kau pulang sendiri ?" Ibu menatapku dengan sorot yang ku kenal sejak kecil, wanita itu tak pernah berubah sedikitpun.

"Ya." Jawabku singkat, sembari berjalan menuju kamar milikku. Ibu membawa lengannya untuk memeluk sebelah lenganku lebih erat.

"Kenapa Luna tak kau ajak ? dia istrimu. Dia pasti merasa kesepian di apartemen." Ibu duduk disampingku ketika kami telah sampai pada kamar dengan dominasi warna biru tua dan putih itu. Aku hanya diam tak menanggapi ucapannya.

"Kalian bertengkar ?" tanyanya dengan nada hati-hati. Takut melukai perasaanku dan menambah bebanku mungkin. Tubuhku ku bawa mendekat kearahnya, merebahkan kepalaku diatas pangkuannya. Aku terlalu lelah sekarang.

"Ibu, aku merindukan Luhan." Suaraku terdengar tercekat ketika menyebutkan nama itu. Nama yang mampu menggetarkan seluruh hatiku hingga yang terdalam. Nama dengan sosok yang tak pernah kulihat lagi.

"Ibu tahu, perjuanganmu masih panjang Sehun." Tangan dengan gurat keriput itu ia bawa untuk mengelus kepalaku. Membawa helai-helai disana pada sela jemarinya. Hal yang selalu ia lakukan untuk menenangkanku.

"Apakah Luhan akan memaafkanku ? apakah wanita itu masih menerimaku ?" kedua mata milikku kubawa untuk terpejam. Menahan agar rasa sesak itu tak bertambah menjadi lebih sakit.

"Setiap manusia bukan sosok yang sempurna Sehun, Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Disini, kau hanya perlu berjuang lebih. Yakinkan Luhan bahwa kau pantas untuknya."

"Bagaimana dengan Luna ? wanita itu, aku juga tak ingin menyakitinya."

"Kau mencintai Luna ?"

"Tidak."

"Kau mencintai Luhan ?"

"Ya.."

"Kau sudah mendapatkan jawabannya, ikuti kata hatimu. Berusahalah semampumu. Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Karena hanya kau yang tahu siapa pemilik hatimu sebenarnya, sayang." Ucapan Ibu membuat hatiku terasa damai, membuatku yakin jika masih ada sebuah kesempatan untukku. Usapan lembut yang Ibu berikan diatas kepalaku membuat kedua kelopakku terasa berat. Aku membawa mataku terpejam, biarkan aku beristirahat sebentar karena semua ini terlalu melelahkan.

.

.

.

-Luna-

Sehun tak pulang lagi, aku tak tahu kemana perginya lelaki itu dan aku tak ingin bertanya kepada orang tuaku karena ku yakin itu malah akan menimbulkan sebuah permasalahan. Sudah beberapa hari ini kami tak berbicara satu sama lain, bahkan lelaki itu tak menganggap keberadaanku.

Dan setelah ini lelaki itu akan melupakanku.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, sepertinya setelah pertengkaran kami beberapa hari yang lalu membuat hidupku benar-benar berubah. Amplop dari rumah sakit masih dalam genggamanku. Akhir-akhir ini memang ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, ya tentang kehamilan. Sebelum menikah, kami bahkan telah bercinta berulang kali. Tapi, kenapa tak ada bibit dari Oh Sehun yang tumbuh bersamaku ? Setidaknya, aku harus bisa memberikan keturunan pada Sehun agar lelaki itu tak meninggalkanku. Dan pergi kerumah sakit adalah keputusan terbodoh yang pernah kubuat.

Aku tak bisa hamil.

Hanya itu kesimpulan yang kudapatkan dari penjelasan dokter sialan yang mendiagnosisku dengan hasil tes menggelikan. Aku ingin menangis, berteriak dan marah kepada siapa saja. Kenapa Tuhan tak mengijinkanku menjadi seorang wanita yang sempurna. Apakah setelah ini aku akan mati saja ? agar Sehun dan keluarganya tak menertawakanku.

Tak boleh, aku tak boleh menyerahkan Sehun pada Luhan dengan semudah itu.

Dan Sehun juga tak boleh mengetahui hasil diagnosis dari kertas sialan ini atau hidupku akan hancur dengan cepat. Aku menyandarkan punggungku, mencoba menormalkan nafasku. Pikiranku benar-benar kalut sekarang. Aku tak tahu rencana apa yang harus kulakukan setelah ini. Bagaimana caraku menahan Sehun agar terus bersamaku dan bagaimana caraku menghancurkan Luhan.

Aku mengambil ponselku yang tiba-tiba bergetar. Disana tertera nama Ayah. Ada apa lagi hingga lelaki itu menelpon.

"Ya Ayah." Aku menjawab panggilnnya setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar datar milikku. Mencoba menjawabnya dengan suara yang tak terdengar parau.

"Luna, bisakah kau berangkat ke Beijing ?" itu suara Ayah dengan nada beratnya, mengisyaratkan tak ada penolakkan dengan perintahnya. Aku tak tahu ini sebuah keberuntungan atau malah sebaliknya. Beijing ? sepertinya Luhan benar-benar tak boleh lepas dari pengawasanku.

"Ada Apa ? Bukankah Luhan yang mengatur semuanya disana ?" Aku pura-pura bodoh, setidaknya berbasa-basi sebelum menyetujui permintaan Ayah.

"Tak ada masalah, Beijing Aman. Hanya saja, kunjungan rutin belum dilaksanakan bulan ini."

"Baiklah, aku akan berangkat. Lagipula aku sudah lama tak bertemu dengan Luhan." Jawabku kemudian mengakhiri panggilan dengan lelaki itu. setidaknya aku harus menemui Luhan, memastikan wanita itu tak berhubungan dengan Sehun. Dan tak akan membiarkan Sehun tahu jika aku akan pergi menemui wanita sialan itu.

.

.

.

-Luhan-

Aku tak tahu ini sudah yang keberapa kali, aku selalu terbangun di tengah malam dengan mimpi itu mimpi dimana semua kebahagianku dan kehidupanku telah direnggut. Sebuah memori dimana aku melihat lelaki yang aku cintai bergumul diatas ranjang sembari menggumamkan nama seorang wanita yang mengerang dibawahnya. Aku sangat mengenal mereka, mereka yang berada didalam mimpi menyakitkan itu.

Berulang kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tak membenci mereka, tapi entah kenapa semua itu terasa sulit. Salah satu bagian dalam hatiku benar-benar melawan, membiarkan sedikit rasa benci itu bersarang didalam sana.

Wajah tampan itu selalu menghiasi pandanganku ketika aku terbangun setelah mimpi itu menghampiriku. Dan berakhir dengan diriku yang menangis terisak, mencoba melepaskan semua rasa sakit itu. Semuanya benar-benar menyesakkan.

Aku mengambil ponsel milikku yang terletak diatas nakas, membuka kuncinya dan menggeser layar datar itu dengan pelan. Aku tersenyum ketika foto itu masih tersisa, foto terakhir kami. Foto yang kuambil pada ulang tahun Sehun. Lelaki itu terlihat tampan disana.

"Kau tahu, ini Ayahmu." Aku mencoba berbicara dengan calon buah hatiku, sebelah tanganku yang bebas mengelus lembut perutku yang nampak membuncit.

"Bagaimana ? Ayahmu tampan bukan ?" Aku mencoba berbicara dengan lembut kepadanya, tapi entah kenapa suaraku menjadi bergetar dan rasa sesak itu semakin bertambah.

"Eh ?" Sebuah tendangan kurasakan disana, itu tendangan pertamanya di umur tujuh bulan ini. Aku sedikit terkejut dan kembali membawa usapan lembut kepadanya. Aku bahagia ketika merasakan pergerakan kecil darinya, seolah-olah ia menjawab semua kalimat milikku.

"Kau melihatnya sayang ? Ibu tahu kau merasa senang. Jika sudah lahir nanti, kau pasti akan mewarisi semua yang diturunkan Ayahmu. Tenang saja, lelaki ini milikmu."

Lelaki ini milikmu.

Ya, benar. Aku mencoba menghibur diriku sendiri dan membuat calon buah hatiku tak akan merasa sedih didalam sana. Ia tak perlu tahu, jika Ayahnya bahkan telah membuang Ibunya. Ia juga tak perlu tahu, jika Ayahnya tak mengetahui keberadaannya di dunia.

Isakanku semakin keras, aku tak bisa lagi menahan diriku. Menahan semua kesedihan yang seolah-olah mengatakan kepada mereka jika aku baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan tentangku. Mereka salah, aku hancur. Benar-benar hancur hingga kepingan-kepingan itu tak dapat disatukan. Ada bagian tersulit dimana aku benar-benar berada di titik terlemah. Pada sebuah titik disaaat aku mengkhawatirkan tentang kehidupan calon buah hatiku.

Bagaimana kehidupannya setelah ia dilahirkan di dunia ? Apakah ia akan diperlakukan baik oleh semua orang ? Dan setelah ini, Apakah Sehun akan mencari buah hatinya jika pada suatu saat nanti lelaki itu mengetahui diriku yang mengandung buah hatinya.

Entahlah, semakin lama semakin kupikirkan dan semuanya terasa kacau. Kepalaku hanya semakin terasa pusing tanpa ada sebuah jalan keluar yang berarti.

"Luhan.." Itu suara Kyungsoo, aku tak tahu sejak kapan wanita itu telah berdiri diambang pintu kamarku dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dengan gerakan cepat, aku menghapus air mata yang membekas pada wajahku.

"Ya.." Suaraku terdengar serak ketika wanita itu berjalan dan terduduk di pinggir tempat tidurku, senyumnya mengingatkanku pada senyum ibuku.

"Aku mendengar isakanmu, tak apa menangislah." Kyungsoo membawa tubuhku kedalam pelukannya. Wanita itu menepuk pungguku dengan pelan seolah-olah memberika kekuatan untukku. Aku hanya terdiam beberapa saat dan kemudian terisak pada bahu sempit milik Kyungsoo. Benar, kata orang jika kau harus membagi rasa sakitmu dengan sahabatmu maka rasa sakit itu akan sedikit berkurang. Kemudian, aku memeluk erat Kyungsoo tak membiarkan wanita itu menghilang. Pada saat seperti ini, aku bersyukur telah memiliki Kyungsoo dan Baekhyun bersamaku karena mereka berdua benar-benar tak keberatan menampung segala tentang diriku dan hidupku.

"Kau merindukan Sehun ?" Suara Kyungsoo terdengar hati-hati ketika mengucapkan nama lelaki itu. Aku tahu, ia takut menyakiti hatiku.

"Bagaimana aku mengatakan tidak jika nyatanya rindu ini benar-benar ingin membunuhku. Aku merasa ingin mati karena tak bisa menahannya." Kalimat itu keluar dari bibirku, aku tak bisa mengontrol semua rasa sesak ini.

"Bersabarlah Luhan.." Kalimat lembut milik Kyungsoo malah semakin membuatku terisak, rasa sesak itu benar-benar menyakitkan hingga aku seperti tak dapat bernafas lagi.

"Sampai kapan aku harus bersabar.. Aku ingin membenci lelaki itu, tapi tak bisa. Rasaku padanya mengalahkan semuanya Kyung, aku kalah pada Sehun." Bahkan suaraku terdengar mengerikan pada pendengaran milikku.

Kyungsoo, wanita itu hanya terdiam. Usapan halus miliknya masih terasa pada punggung sempitku. Aku benar-benar tak dapat lagi menahan semua rasa rindu ini, kulepaskan tangisanku tak peduli pada tengah malam. Yang ku inginkan rasa sesak itu bisa sedikit pergi dari dalam dadaku. Seperti ini rasanya rindu, sangat menyakitkan terlebih pada seseorang yang telah menghancurkan hidupku. Dan aku tak bisa membencinya karena perasaanku masih sama seperti dulu. Terlalu mencintainya hingga diriku sendirilah yang harus bertanggung jawab pada rasa sakit ini.

.

.

.

Pagi itu Luhan hanya duduk tanpa menyentuh sarapan yang berada didepan meja makannya, Nafsu makannya mendadak hilang, bahkan firasatnya untuk hari ini benar-benar buruk. Ia berulang kali menghembuskan nafasnya dengan berat. Berharap hari ini akan berjalan semestinya, tak ada hal buruk yang akan terjadi. Tapi, semakin lama firasatnya semakin kuat ketika Baekhyun berjalan kearahnya dengan sebelah ponsel yang menempel pada telinga wanita itu. Kyungsoo hanya terdiam di seberang meja makan, wanita itu seperti menahan nafasnya takut jika nafasnya akan menghancurkan semuanya.

"Dia datang." Baekhyun menatap Luhan yang duduk disampingnya, wanita bermata rusa dengan lingkaran hitam itu tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Baekhyun.

"Luna, Luna akan datang. Untuk melakukan kunjungan rutin." Baekhyun menghembuskan nafasnya dengan berat. Mengucapkan kalimatnya dengan penuh kehati-hatian ketika menyebut nama Luna. Pagi-pagi sekali Sekretaris utama di kantor pusat menelpon Baekhyun untuk memberitahu kunjungan rutin Luna yang akan dilakukan hari ini. Baekhyun sedikit terkejut, karena ia memikirkan bagaimana perasaan Luhan ketika wanita itu bertemu dengan Luna. Baekhyun tahu, Luhan kini telah membenci Luna walaupun wanita itu selalu menutupinya dengan kalimat aku baik-baik saja.

Ketika nama itu keluar dari bibir Baekhyun, Luhan hanya terdiam. Pikirannya mendadak melayang jauh. Luhan yakin, Luna mempunyai maksud lain dibalik alasan tentang kunjungan rutin perusahaan. Kenapa wanita itu datang mengunjunginya disaat ia sendiri yang lebih memilih untuk dibuang berharap agar ia tak perlu melihat saudara kandungnya itu. tak mungkin jika ia tak masuk kerja hari ini. Dan tak mungkin jika ia berdiri dihadapan Luna dengan perut yang membesar.

"Tak apa Luhan, lakukan dengan profesional. Katakan apa yang perlu kau katakan." Baekhyun mengelus pundak sempitnya dengan lembut, meyakinkan Luhan jika tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan wanita hamil itu.

"Tapi, bagaimana jika ia melakukan sesuatu kepadaku ? aku hanya khawatir jika malaikatku ini akan terluka." Luhan benar-benar takut, wanita itu bahkan tak pernah merasa setakut ini pada Luna sebelumnya.

"Tidak. jika wanita itu melakukan sesuatu kepadamu, berteriaklah kami akan berlari secepat angin untuk menghampirimu." Kalimat Baekhyun membuat Luhan sedikit terkekeh, ya Baekhyun mencoba menghibur Luhan. Wanita itu tak boleh berpikir terlalu keras, karena dapat mempengaruhi perkembangan janinnya.

.

.

.

Luhan duduk dibalik meja besarnya, ia sengaja menunggu Luna didalam ruangannya. Sepertinya, tamu pentingnya datang terlambat. Luhan tahu jika rasa takut itu datang lagi pada dalam hatinya, jujur saja wanita itu hampir tak bisa bernafas ketika setiap kali sorot miliknya bertatapan dengan pintu ruangan miliknya. Takut jika tiba-tiba saja pintu itu terbuka, pikirannya kembali melayang membayangkan jika Luna akan datang bersama Sehun. Bukan tak mungkin, tapi bisa saja lelaki itu ikut bersama dengan istrinya. Luhan tak siap dengan itu. Hingga beberapa menit berlalu, sebuah ketukan terdengar pada balik pintu ruangannya dan pintu berwarna abu-abu itu terbuka. Menampilkan sesosok wanita angkuh yang berdiri disana. Luhan mengenal wanita itu.

"Lama tak bertemu Luhan." Luna berjalan pelan dengan suara ketukan hells yang terdengar memenuhi ruangan itu sebelum pada akhirnya wanita itu terduduk di seberang meja milik Luhan.

"Sepertinya, pernikahanmu bahagia." Luhan tak menjawab sapaan kakaknya, wanita itu memilih mengambil topik lain. Pernikahan, walaupun itu terasa menyakitkan pada hatinya. Tapi Luhan tak memungkiri jika Luna tampak terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya.

"Ya, seperti yang kau lihat. Aku bahagia. Terimakasih." Luna tersenyum menanggapi kalimat milik Luhan.

"Ada perlu apa kau datang kemari ?" Luhan tak perlu berbasa basi lagi, ia harus tahu apa alasan sebenarnya wanita ini.

"Kau tak merindukanku ? Well, aku harus melakukan kunjungan rutin yang diperintahkan Ayah." Luna menyilangkan kakinya, duduk dengan tubuhnya yang tegap dan sepasang sorotnya yang menatap lurus pada wanita diseberangnya.

"Jika sudah selesai silahkan keluar." Luhan tak tahan dengan wanita itu, setiap kali melihat wajah Luna ia terbayang dengan kejadian malam itu.

"Kau mengusirku ?"

"Tidak, hanya saja aku memberitahukan jika kau tak perlu berlama-lama disini. Semua berjalan dengan baik. Kau tak perlu khawatir."

"Kau kecewa karena aku tak membawa Sehun ?" Pertanyaan itu membuat suasana diruangan terasa memanas. Luna tahu jika itu adalah hal sensitif untuk Luhan. Dan wanita itu sengaja memancing emosi Luhan.

Luhan hanya terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan Luna. Luhan menyukai nama Sehun, tapi Luhan tak suka jika nama itu keluar dari bibir wanita didepannya.

"Selesaikan urusanmu, dan cepatlah pergi." Luhan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu ruangannya. Berniat meninggalkan iblis itu, Luhan tak peduli lagi dengan tata krama menyambut tamu. Persetan dengan itu semua.

"Kau ?" Luna menatap Luhan tak percaya, wanita itu terkejut ketika melihat perut Luhan yang nampak membuncit.

Luhan berhenti ketika mendengar kalimat tak percaya dari Luna, wanita itu memutar tubuhnya dan mendapati raut wajah terkejut dari Luna.

"Katakan padaku, siapa ?"

"Siapa ? Aku kira kau tak bodoh Luna." Luhan sengaja menekan kata bodoh pada kalimatnya. Ia benar-benar muak dengan wajah pura-pura milik Luna itu.

"Tak mungkin Sehun melakukannya." Suara Luna terdengar lirih, tapi Luhan mampu mendengarnya dengan jelas. Membuat Luhan terkekeh dan menatap Luna dengan nyalang.

"Kau pikir lelaki itu hanya tidur denganmu ? Lalu bagaimana dengan diriku yang selalu berada disisinya selama itu ?" Luhan kesal, benar-benar kesal. Jika Luna yang menjadi one night stand Sehun, lalu bagaimana dengannya yang sealu mendesah dibawah lelaki itu setiap saat ?

"Gugurkan." Luna menatap Luhan dengan tatapan penuh kebencian, Jika Luhan mengandung anak Sehun itu sama saja mengancam posisinya. Luna tak mau melepaskan Sehun secepat ini, Luna benar-benar mencintai Sehun.

"Kau tak mempunyai hak mengatakan itu, Luna. Sampai kapanpun aku akan bersama anak ini." Kalimat itu membuat Luna pada puncak emosinya. Luna bangkit dari tempat duduknya, berjalan mengahampiri Luhan dan dengan keras menampar salah satu pipi Luhan. Luhan sedikit terkejut ketika Luna tiba-tiba menamparnya, ia tak pernah berpikir jika Luna akan bertindak seberani ini.

"Turuti ucapanku ! beraninya kau membantahku !" Luna berteriak keras tepat didepan Luhan yang memegangi salah satu pipinya yang terasa panas karena ulah wanita itu. Dan pada detik ini, Luhan tak akan menganggap Luna sebagai saudara kandungnya. Ia sudah sampai pada titik tertinggi dimana ia harus bertahan untuk mengahadapi wanita itu. dan tamparan yang diberikan Luna kepadanya cukup membuktikan jika wanita itu benar-benar membencinya.

"Aku tak akan lagi mengalah padamu." Luhan serius dengan ucapannya, mulai saat ini ia akan mempertahankan sesuatu yang tak akan ia lepaskan. Termasuk buah hatinya, atau jika perlu Luhan akan mengambil Sehun kembali dari wanita itu.

Ketika Luhan selesai dengan kalimatnya, dan berjalan menuju pintu keluar dengan sengaja Luna mendorong wanita itu dari belakang hingga terjatuh menyentuh lantai dengan cukup keras. Luhan benar-benar merasa kesakitan ketika ia merasakan ada sesuatu yang seperti menekan perutnya. Dan wanita itu kemudian menangis ketika melihat aliran darah yang mengalir dari sela kedua kakinya.

"Itu yang akan terjadi jika kau membantah perintahku." Luna menyeringai ketika melihat cairan berwarna merah pekat dan raut kesakitan yang nampak jelas dari wajah Luhan.

Luhan hanya mampu merintih ketika rasa sakit itu merambati perut bagian bawahnya, wanita itu memegangi perutnya berharap tak ada hal buruk yang terjadi pada buah hatinya. Semakin lama rasa sakit itu melebihi rasa sakit pada hatinya, ia terisak ketika cairan merah pekat itu keluar semakin banyak. Luhan sedikit berteriak ketika ada sesuatu yang mencoba keluar dari bawah sana, wanita itu benar-benar tak ingin kehilangan buah hatinya. Luhan masih dapat dengan jelas menangkap seringai yang tercetak pada wajah Luna sebelum wanita itu pergi meninggalkannya beserta rintihannya. Dan ketika rasa sakit itu memuncak, pandangan Luhan memutih. Wanita itu tak tahu kenapa selanjutnya semuanya menjadi gelap.

.

.

.

-Sehun-

Aku kembali ke apartemen bersama ibu, Aku tahu Luna tak ada di apartemen karena wanita itu sempat menghubungiku jika akan melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Masa bodoh dengan dia, ia ke ujung duniapun aku tak akan peduli.

"Beristirahatlah Sehun, Ibu akan membuatkanmu makan siang." Itu kalimat ibu yang kudengar sebelum aku berjalan menuju kamarku. Hari ini memang sengaja aku tak masuk kantor, karena ibu mati-matian membujukku agar aku tak bekerja terlalu keras. Dan akupun hanya mampu menurutinya. Aku tak dapat memungkiri jika aku selalu mengeluh kepada ibu tentang bagaimana rumitnya permasalahan ini. Aku tahu, ibu kecewa terhadapku karena menyakiti seorang wanita. Dan ya, permasalahan ini memang benar-benar mengahabiskan seluruh waktuku.

Aku melepas jam tangan dan seperti biasa, meletakkannya pada salah satu laci yang terletak pada samping nakas tempat tidurku. Tapi, ketika aku membuka nakas itu ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah amplop coklat yang kurasa itu bukan milikku.

Aku mengambil amplop coklat yang tak terlalu besar dan kemudian duduk dipinggir ranjang, ada tulisan Seoul National University Hospital tertera jelas disana.

Apakah ini milik Luna ? untuk apa wanita itu pergi kerumah sakit ?

Amplop itu kubuka dan kutemukan hasil laporan medis atas nama Luna, aku tak mengerti tentang apa yang ditulis disana. Tapi satu yang aku dapat simpulkan, apakah wanita itu tak bisa mengandung ? Sepertinya, hanya aku seorang suami yang bahagia ketika istrinya tak bisa memberikan keturunan. Setidaknya, itulah jalanku satu-satunya untuk kembali pada Luhan. Aku berjalan keluar kamar, sembari menggenggam hasil medis itu ingin menunjukan pada ibu dan berharap kesimpulanku tak salah.

"Ibu." Wanita itu sedikit terkejut ketika aku memanggilnya, dan ia tersenyum ketika mendapatiku berdiri dibelakangnya.

"Ada apa ?"

"Bisa kau baca ini dan simpulkan hasil akhirnya kepadaku ?" Aku menyerahkan kertas hasil pemeriksaan Luna itu pada Ibu. Beberapa saat, wanita itu nampak serius ketika membaca isi kalimat pada kertas itu, dan setelahnya ia tersenyum menatapku.

"Luna, tak bisa hamil Sehun." Dan ya, kesimpulanku benar. Aku tersenyum ketika mendengar jawaban dari ibu. Wanita itu mengelus sebelah pipiku dengan lembut.

"Kau senang ?"

"Ya, senang sekali. Ini bisa menjadi jalanku untuk membawa Luhan kembali kedalam pelukanku Ibu."

"Mungkin Ibu bisa dikatakan mertua yang jahat karena merasa senang ketika mengetahui jika menantunya tak bisa hamil."

"Tak peduli Ibu dikatakan demikian, karena aku bisa membawakan Ibu seorang menantu yang lebih baik lagi." Aku benar-benar bahagia karena mengetahui kabar ini. Sepertinya, aku perlu berterimakasih atas keteledoran Luna dalam menyimpan hasil pemerikasaannya.

"Biarkan Ibu yang menyimpan hasil pemeriksaan itu, Ayahmu perlu tahu tentang hal ini. Dapat ibu pastikan tak ada penolakan dari Ayahmu. Setelah ini, berkas perceraianmu akan Ibu siapkan."

"Terimakasih Ibu." Satu lagi, malaikat hidupku kembali. Aku benar-benar merasa bahagia dengan selama ini. Setelah ini, hanya satu yang kupikirkan. Bagaimana bisa mendapatkan maaf dari Luhan. Wanita yang kusakiti dari fisik dan batinnya.

Luhan, aku tahu kau masih bisa bertahan.

Tunggu sebentar lagi.

Dan aku akan pulang kepadamu.

.

.

.

.

TBC

Heuheuheu..

Lama ya story ini ga update.

Maapkeun karena Yuri bulan kemaren beneran sibuk dan ga dapet ide buat story ini malah pengennya di Hiatusin aja. Tapi, karena Yuri sayang kalian akhirnya story ini tetep lanjut.

Okay, entah ini Cuma perasaan Yuri ato apa nih ya story yang rated T kemaren kurang peminat kayanya. Entah kenapa sepi review T_T yah walaupun Yuri jarang bales review kalian, Yuri tetep baca karena review kalian itu lucu-lucu dan bisa ngebuat mood Yuri naik.

Oiya, congratulation buat beloved sister Ivena Violensia aka Lolipopsehun karena udah graduate dengan gelar semoga ilmu anuanu dan enaena nya tambah bermanfaat untuk kelangsungan hidup dan reproduksi manusia. Jadi mengutip dari tulisan kaka Catastrophe Reynah, elu mesti cari pasangan buat upacara wisuda. Masa sama ortu mulu kek mo daftar sekolah teka. Hehehe.

Yuri kali ini update barengan kaka unch-unch: BabyAeryHHS akhirnya Yuri ga sendirian lagi. Kaya jomblo aja apa-apa sendiri. Gapapa jomblo strong kok.

Jangan lupa Review ya sayang~

See You~~

-Keep the faith -SL-