Angin musim dingin bertiup pelan pagi itu. Cahaya matahari pagi bersinar dari balik celah-celah awan namun sama sekali tak menyengat. Hari ini hari senin, hari yang biasanya tak pernah dinanti hadirnya oleh kebanyakan orang. Tapi hari ini Iruka sama sekali tak berpikir demikian. Hari ini akan menjadi hari yang begitu menyenangkan karena hari ini mereka akan menjemputnya kembali. Si pewaris yang akan menguak segalanya.
Chouji datang dengan dua gelas kopi yang asapnya masih mengepul. Ia meletakkannya di meja kemudian kembali meraih kripik kentang yang tadi sempat ia tinggalkan karena harus mengambil pesanan kopi mereka pagi ini. Ia kembali duduk di sofa empuk sambil memencet-mencet remot tv mencari acara yang menarik pagi ini.
"Hei, Chouji, cepat bersiap-siap kita harus segera berangkat." Katanya mengingatkan.
"Bukankah aku yang harusnya bilang begitu padamu?"
Iruka hanya tersenyum seolah tak berdosa. Pertanyaan Chouji bukanlah sesuatu yang harus ia jawab. "Chouji, kau tau dimana kunci mobilnya?" tanyanya.
"Tidak. Kau kan yang te kali memakainya." Chouji lebih memilih fokus dengan acara talk show pagi ini ketimbang membantu Iruka yang kewalahan mencari kunci mobilnya. Acra talkshow pagi itu membahas tentang pernikahan artis korea selatan paling anyar tahun ini. Mereka membicarakan tentang drama berjudul DOTS yang menjadi awal kisah cinta mereka dan hal-hal tidak penting lainnya yang selalu ditanyakan kepada pengantin baru seperti apa saja yang kalian lakukan, atau bagaimana kebiasaan tidur pasangan yang baru diketahui setelah menikah. Kalau bukan Song-Song couple yang saat itu sedang di wawancarai Chouji pasti akan merasa jijik dengan acara talk show beginian.
Tiba-tiba acara talk show itu dipotong sepihak oleh pihak stasiun televisi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu digantikan dengan headline news. Chouji berdecak kesal sembari mengutuk pihak-pihak yang menurutknya mengganggu kesenangan dirinya. Sepersekian detik berikutnya Chouji berubah tegang.
Iruka kembali dengan kunci mobil di tangan kanannya. Ia terlihat sumringah karena akhirnya dapat menemukan kunci itu yang menandakan mereka akan segera berangkat.
"Chouji, ayo pergi.", ajaknya.
Yang di tanya sama sekali tak menghiraukan. Chouji bergeming di duduknya sambil menatap layar kaca. Iruka menjadi bingung. Ia mengikuti arah pandang Chouji, dan kakinya tiba-tiba terasa lemas melihat sebuah cuplikan gambar yang menayangkan pemandangan laut yang tampak begitu suram. Serpihan-serpihan sebuah mobil di tarik keluar satu persatu oleh petugas. Jika bukan karena pembawa berita mengatakan kalau itu adalah serpihan mobil orang-orang tak akan tahu apa itu sebenarnya. Kunci yang tadi ia genggam telah jatuh tak mampu melawan gravitasi. Sebuah batu besar tak kasat mata seakan menghantam dadanya setelah membawa headline berita pagi itu
'PEMERAN UTAMA PRIA TEWAS DALAM KECELAKAN MOBIL SAAT SYUTING DI PULAU JEJU'
Namika Arihyoshi
Proudly
.
.
.
Present
.
PROTECTION
Disclaimer : All characters are belongs to Masashi Kishimoto. But the story line is belongs to Me.
Warning : Ditulis oleh author Gaje yang masih baru belajar nulis. Hope u like it!
Chapter 7 : Selamat Datang Tinggal
Rahang Hinata mengeras dan pipinya memerah menahan amarah. Sungguh ingin sekali rasanya ia menampar Hiruzen yang menurutnya hanya mementingkan dirinya sendiri. Namun, Hinata juga tahu ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan pria tua yang berusaha bertahan hidup. Yang membuat Hinata kehilangan simpati pada pria tua itu tidak lain karena dia telah membuat dirinya merasa begitu naif.
"Oh! Bodohnya diriku!", Hinata terduduk lemas di kursi lipat. Memijat-mijat bagian depan kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Maafkan aku, Hinata, aku sungguh tak punya pilihan. Karirku diujung tanduk dan aku butuh uang, ku harap kau mengerti.", Hiruzen berkata jujur. Ia berbicara sambil memegang dadanya, seolah menegaskan kalau ia benar-benar merasa bersalah.
"Tidakkah kau tahu, Pak Tua, keegoisanmu itu membuatku kembali mendapat banyak masalah."
"Memangnya masalah apa yang kau dapat, bukankah kau juga diuntungkan? Lihat kau bisa terkenal kalau film ini sukses nantinya." Hinata tak habis pikir bisa-bisanya Hiruzen mencari celah untuk membuatnya menjadi pihak yang tidak bersalah.
Hinata menatap tajam pada Hiruzen, lagi. Kedua pipinya memerah dan dahinya berkerut. Ia bangkit dari kursinya dan berteriak, "Apa kau buta? Apa kau tidak melihat ini?" Hinata menunjuk luka di lehernya. "Aku berusaha menata kembali kehidupanku. Dan saat semuanya membaik kau dengan bodohnya menerima tawaran bekerja sama dengan pria brengsek yang kau sendiri bahkan tidak mengenal siapa hanya demi menyelamatkan popularitasmu. Tidakkah kau tau kalau bukan karena kecerobohanmu Pak Tua aku tidak seperti ini."
Sai yang berdiri belakang Hinata mengelus punggung Hinata berusaha menenangkannya. Tapi Hinata tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia sudah terlalu kesal dan frustasi. Kalau saja ia bisa berpikir jernih ia tak harus sampai berteriak begitu di depan Hiruzen. Karena Hiruzen hanya orang asing yang tidak menegerti masalah sesungguhnya. Pria tua itu hanya berusaha mempertahankan pekerjaannya dan ia bahkan tak pernah menduga kalau Uchiha Sasuke memiliki hubungan dengan Hinata. Ynag ia pikir selama ini adalah karena pria yang ingin mejadi produser dalam film ini merupakan fans Hinata.
"Tunggu dulu, jadi kau tahu siapa orang yang menyerangmu waktu itu dan kau berpikir ada hubungannya dengan pria yang mendanai film ini? Lantas, kenapa kau bilang tidak mengingat apapun saat polisi meminta keterangmu? Dan, hei, apa kau punya hubungan khusus dengan pria yang mendanai film ini?" Hiruzen mulai bertanya-tanya. Terlalu banyak hal yang ia tak mengerti tapi ia merasa sangat penting baginya untuk tahu.
Mungkin Hinata akan kembali berteriak dan mngeluarkan kata-kata pedas kalau saja Sai tak menahannya dan memberi isyarat untuk duduk kembali di kursinya. "Hinata terikat dengan sebuah perjanjian untuk tidak berhubungan dengan Uchiha dalam bentuk apapun, baik dalam pergaulan maupun hubungan bisnis. Karena itulah akan berbahaya baginya jika pihak-pihak tertentu mengetahui kalau perjanjian itu dilanggar."
Hiruzen masih belum mengerti dengan ini semua terlalu banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Ia membuka mulut ingin menanyakan hal lain yang kiranya masih begitu mengganjal namun Sai seketika menyela alih-alih membuatnya berhenti bertanya, "Ku kira itu sudah cukup jelas untuk menjawab semua pertanyaanmu."
Tentu saja Hiruzen tidak terima. Ia bukan tipe yang suka dibuat penasaran. Dan ketika ia ingin protes, Sai sudah lebih dulu berkata, "lupakan semua hal yang ingin kau tanyakan. hanya itu yang boleh kau ketahui."
Hiruzen menghela nafasnya. Ia berhenti untuk bertanya. Ia mencoba menelan semua rasa penasarannya. Terjadi jeda sejenak. Sai dan Hinata mungkin bisa memaklumi cara kerja otak tua Hiruzen untuk berpikir jernih.
"Lalu apakah itu artinya kau ingin berhenti dan membatalkan kontrak?" tanya Hiruzen akhirnya.
Sungguh Hinata ingin sekali mengatakan 'iya' jika bukan karena memikirkan kerugian yang akan ia tanggung jika membatalkan kontrak secara sepihak. Bukannya ia tak mampu membayar denda tapi kemungkinan dendanya bisa menghabiskan setengah dari tabungannya. Jika dulu ia begitu tak berdaya melawan orang-orang yang menginginkan kematiannya karena ia tak memiliki kekuatan apapun, saat ini keadaanya berbeda. Memang ia uangnya tak sebanyak Uchiha ataupun keluarga Sakura tapi jika ia harus kehilangan setengah dari aset yang ia punya secara tiba-tiba tentu itu akan membuat posisinya lebih tidak aman.
Hiruzen tersenyum, sinar matanya menunjukan binar-binar kemenangan. Meskipun ia tak secara jelas menunjukannya tapi tentu siapa pun bisa membaca gelagat itu. "Kau sungguh lihai memanfaatkan keadaan Mr. Hiruzen."
Hiruzen tertawa penuh kemenangan sementara Hinata hanya bisa mendecih tidak suka. "Maafkan aku nona, bukannya aku ingin mengejekmu tapi ini memang sangat lucu bukan. Seharusnya kau tidak hanya menyalahkanku karena ketidaktahuanku. Aku sama sekali tidak mengerti masalahmu tapi bukankah orang yang seharusnya pantas kau salahkan adalah pria Uchiha yang kau sebut-sebut itu." Hiruzen bicara sambil tertawa hingga membuat Hinata merasa.. kalah. Tapi tentu saja ia tak ingin terlihat kalah.
Hinata menyeringai, "Bukankah karirmu juga di ujung tanduk Mr. Hiruzen, itu berarti film ini sangat berarti untuk kembali menaikan popularitasmu, bukan? Kalau bukan karena aku disini kau juga tidak mendapat apa-apa. Jadi jika pada akhirnya film ini gagal, tentu kau mungkin akan lebih terpuruk dari ini bukan. Kalau memang akan seperti itu mungkin tidak akan terlalu berdampak bagiku tapi kau, ah entahlah."
Hiruzen mengeram kesal. Hinata tertawa puas dan melenggang pergi dari ruangan itu di ikuti oleh Sai. Tapi mungkin tawa itu tak akan bertahan lama.
Bersamaan dengan itu, tanpa keduanya sadari, mereka terikat pada keadaan yang membuat mereka harus bekerja sama meski merasa tak nyaman.
*PROTECTION*
Manusia tak pernah bisa memilih takdir seperti apa yang akan ia dapatkan. Meski tak suka, mau tak mau ia harus menerimanya, karena tak ada yang berubah meski kau berteriak lantang menyuarakan ketidakadilan hidup yang kau jalani.
Seperti itulah yang Hinata pikirkan saat ini.
Berhari-hari ia mengacuhkan orang-orang disekitarnya, terutama Ino. Ia akui kalau kecerobohan Ino yang membuatnya kembali berurusan dengan hal yang berusaha ia hindari, tapi sebenarnya ia sendiri pun merasa kurang nyaman dengan terus mendiamkan orang yang tak tahu duduk permasalahan sebenarnya.
Hinata bukannya tak mau berterus terang pada Ino, Ia hanya tak kuat jika harus mengulang kisahnya lagi. Sama saja seperti membuka kotak pandora yang mengeluarkan racun yang mampu membunuhnya perlahan.
Malam itu, ketika Hinata baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Ino datang membawakan segelas coklat hangat untuk dirinya. Tak ada pembicaraan yang berarti diantara keduanya. Ino hanya menanyakan apakah adalagi yang Hinata butuhkan dan Hinata hanya menjawab singkat atau menolak dengan sopan. Mereka berdua sudah seperti rekan kerja yang baru mengenal satu sama lain.
Meski Ino menyinggung tentang dirinya dan Sai, Hinata dapat merasakan Ino menyembunyikan sesuatu. Sorot mata yang marah sekaligus iba setiap kali ia menatapnya. Entahlah, mungkin Sai sudah mengatakan beberapa hal padanya.
"Berhentilah bersikap seolah kau baik-baik saja." Kata Ino suatu hari, Ia menghampiri Hinata yang sedang membaca naskah peran selanjutnya dengan segelas teh panas yang asapnya masih mngepul.
Hinata mengulurkan tanggannya menerima teh pemberian Ino kemudiaan meletakkannya di atas meja tanpa sedikit pun meminumnya. "Lalu menurutumu aku harus bersikap bagaimana?"
Ino terpaku menatap netra amethys Hinata yang entah sejak kapan tak lagi berbinar ceria. Ino memutar bola matanya. "Jangan menyimpan semuanya sendiri, kau tak harus menanggung semuanya sendiri kau bisa membaginya denganku jika kau mau."
Hinata menolak tawaran Ino dengan selembut yang ia bisa. Takut menyakiti perasaannya.
Tak ada yang salah dari maksud baik Ino. Bukan kali pertama ia berkata demikian. Hinata menghargai itu, tapi sisi lain dari dirinya sangat membenci tawaran Ino. Memangnya apa yang akan ia dapatkan setelah menceritakan kisah menyedihkan hidupnya selain tepukan dipunggung dan kata-kata simpati untuknya. Tak ada yang berubah setelahnya. Ia tetap saja Hinata yang telah tertipu. Hinata yang kehilangan seluruh hidupnya sejak malam bersalju waktu itu. Hinata yang telah di campakan begitu saja oleh satu-satunya orang yang ia percaya. Parahnya, Hinata tetaplah Hinata yang tak pernah jera berharap akan masa depan yang bahagia bersama pria itu.
Hinata menghela nafas berat. Memohon diri pada Ino dan kembali ke kamarnya.
*PROTECTION*
Waktu terus berjalan tanpa pernah peduli seberapa parah lukamu. Tak ada pilihan lain selain terus menjalaninya seolah kau dalam keadaan baik-baik saja. Sudah berbulan-bulan sejak kejadian waktu itu. Pekerjaan tetap dilanjutkan seolah tak pernah ada yang terjadi. Tak ada mempertanyakan lagi siapa yang pelaku penyerangan Hinata. Hinata sendiri pun enggan mempermasalahkannya. Ketika semua mengusulkan untuk menindaklanjutinya tapi Hinata selalu menolak dengan sopan. Dia akan berkata 'itu mungkin hanya fans yang terlalu fanatik. Sudah resiko sebagai public figur.' Atau 'aku khawatir akan merusak citra film ini jika masalahnya membesar.'
Mungkin orang-orang tak mau terlalu ambil pusing akan masalah yang toh pemiliknya tak terlalu memusingkan hal itu. Tak ada penyerangan lagi terhadap Hinata setelahnya. Dan ketenangan ini entah kenapa terasa begitu janggal bagi Naruto. Meskipun Hinata telah memintanya dengan keras untuk tidak ikut campur tapi tetap saja Naruto tak bisa berdiam diri.
Tanpa Hinata sadari, Naruto selalu memperhatikannya dari jauh. Mengawasi kalau-kalau ada orang iseng yang hendak menjahatinya lagi. Ia ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu setidaknya berbincang untuk beberapa jam. Tapi ia selalu tak punya kesempatan. Hanya ketika beradua akting mungkin menjadi momen-momen yang berharga bagi Naruto. berdiri dekat gadis itu dan menghirup aroma samar parfum yang menguar dari tubuhnya.
Hinata tak pernah lagi menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tak berarti baginya. Setelah syuting selesai, Hinata lebih memilih masuk ke kamarnya atau membaca menghafal naskah dan berlatih bersama Ino. Naruto tak begitu mengerti yang terjadi tapi yang ia rasakan adalah Hinata tak lagi menikmati pekerjaanya. Mungkin ia ingin segera menyelesaikannya dan kembali pulang.
Ah, Naruto tertegun. Apa yang akan terjadi setelah ini. Naruto sudah terlanjur terbiasa dengan atensi Hinata meski gadis itu tak merasakan hal yang sama. Apa ia masih bisa melihat gadis itu setelah ini semua berakhir? Naruto mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Ia tak bisa memaksakan perasaannya, ia paham. Tapi sebagai seorang pecinta ia ingin memiliki waktu untuk bisa lebih lama dengan Hinata.
Musim semi hampir berakhir dan pekerjaan mereka juga hampir selesai. Hanya tinggal mengambil beberapa adegan terakhir dan semuanya bisa pulang.
Naruto menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di ranjangnya. Naskah yang sedari tadi ia genggam jatuh dan tergeletak tak berdaya di sisi samping ranjang. Naruto memegang dadanya yang berdebar tak karuan. Ia senang dan juga gugup. Ia tak sabar menunggu datangnya besok. Hari yang ia nanti-nanti akhirnya akan tiba.
Naruto menatap langit-langit kamar dengan bibir terkatup namun sesaat kemudian tertawa. Ia salah tingkah. Di balikannya badannya kesamping, meraih bantal dan menutupi mukanya yang memerah seolah takut orang lain akan melihat padahal dia sedang sendirian di kamarnya.
Naruto mendudukan dirinya. Meraih naskah yang tadi sempat ia abaikan dan mulai membaca lagi. Ia masih tak percaya dan mengatakan kalau ini mimpi tapi kata-kata itu jelas. Ia membaca naskahnya berulang-ulang bukan agar ia dapat menghafalnya tapi ia menikmatinya. Sehingga tak menyadari Kiba yang tiba-tiba masuk dan merebut naskahnya.
"Hei, kembalikan!" Naruto mencoba merebut naskahnya kembali tapi Kiba menghindar dengan lihai sambil mencoba membaca apa yang membuat sahabat kuningnya ini salah tingkah.
Kiba menatap Naruto seolah ia seorang pencuri. Naruto membuang mukanya ke samping. Kiba terkekeh dan meledeknya.
"Jadi ini yang membuatmu salah tingkah sejak tadi?" Naruto merebut naskahnya kembali.
Kiba tak henti-hentinya menggodanya. Tak tahan dengan godaan Kiba, Naruto meraih jaketnya dan keluar kamar.
"Kau tidak memikirkan yang tidak-tidak tentangnya kan, eh, Naruto?" tawa Kiba meledak. Naruto malu.
*PROTECTION*
Hinata menaiki anak menuju rooftop penginapan mereka. Dadanya sesak. Dulu sekali Hinata tak masalah jika ia punya banyak masalah dan orang-orang yang menginginkan kematiannya karena ia punya Sasuke di sisinya. Tapi sekarang ia merasa begitu sendirian seolah berada di tanah yang tiba-tiba saja runtuh dan tak memiliki pijakan juga pilar untuk berpegang.
Belakangan ini terasa begitu tenang baginya. Suatu ketenangan yang bisa saja berarti jebakan. Mungkin karena Sai yang sejak hari itu memilih atau lebih tepat disebut ditugaskan untuk selalu mengawasinya dari dekat. Hinata merasa Sasuke telah salah memilih orang untuk dia awasi. Hinata hanyalah domba kecil yang di incar serigala. Si pemburu harusnya lebih ketat dalam mengawasi serigala dari pada hanya menjadi tameng atau orang yang datang terlambat setelah dombanya sekarat.
Satu pertanyaan Ino membuatnya gundah, "Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Hinata?"
Sebelum Hinata mengetahui kenyataanya mungkin dia akan mudah saja menjawab kalau ia ingin karirnya lebih baik atau menjalani hal-hal dalam bucket list-nya. Tapi kini semua tak lagi sama. Kebebasannya saat ini adalah sebuah ilusi. Ia merasa ada sesuatu yang harus benar-benar ia selesaikan. Ia bisa lagi hanya menurut, sesekali memberontak juga tidak berarti salah.
Angin malam yang dingin menerpa wajahnya begitu ia membuka pintu membuat rambutnya berantakan. Langit malam yang gelap menyambutnya mengingatkannya pada masa lalunya bersama seseorang yang warna matanya sekelam malam. Tak ada bintang disana. Gemerlap cahaya lampu kota telah mengalahkan kemegahan bima sakti.
Hinata terbelalakn ketika menemukan seseorang disana. Naruto. Pria itu berdiri dekat pagar pembatas dengan jakat hitam orange dan rambut yang bergerak-gerak seirama angin. Tangannya memeluk tubuhnya menghalau dingin yang dibawa angin.
Hinata merasa canggung jika harus berada berdua dengan Naruto tanpa ada orang lain atau diluar masalah pekerjaan. Ia masih merasa bersalah dan juga bingung harus bersikap bagaimana di hadapan pria itu. Tanpa pikir panjang Hinata berbalik, memutuskan untuk tak berurusan dengan Naruto.
"Hinata?" suara berat Naruto yang menyebutkan namanya menghentikan langkahnya kembali. Hinata terpaku ditempatnya enggan berbalik. Ia tidak siap dengan seseutu yang diluar rencanya. "Sejak kapan kau disitu?" tanya lagi.
Hinata tak punya pilihan. Ia berbalik. Naruto mendekat dan tersenyum kepadanya. Membalas dengan canggung.
"Baru saja. Kupikir tidak ada orang disini. Maaf. Aku akan mencari tempat lain."
Hinata buru-buru pergi, tapi Naruto menggenggam lengannya. Menghalanginya. Hinata menatap lengannya yang digenggam Naruto. Ia dapat merasakan sentuhan yang posesif dan juga ragu. Naruto buru-buru menjauhkan tangannya dari lengan Hinata dan meminta maaf. Ia menyembunyikan telapak tangannya yang gemetar ke belakang. Hinata tak berkomentar apa-apa.
"Ehm, apa kau mau berlatih akting disini juga?" tanya Naruto akhirnya setelah menemukan Hinata yang juga membawah naskah.
Hinata menatap naskah ditangannya seolah bingung kenapa ia membawa naskah itu bersamanya. Ia sama sekali tidak sedang ingin berlatih, dia hanya ingin sekedar duduk dan menenangkan diri.
Hinata mengendikkan bahu, "tidak, aku hanya berkeliling." Katanya.
Jawaban pasif dan terkesan tidak tertarik membuat Naruto gelisah. Hinata mungkin tak nyaman tapi Naruto menikmatinya. Kali ini, ia tak akan membiarkan momen ini berlalu begitu saja.
Angin bertiup mengisi kekosongan di antara mereka. Hinata mengalihkan pandangannya ke arah sinar lampu kota atau kemana saja selain menatap mata Naruto. Ia mengeratkan jaketnya bukan karena kedinginan tapi hanya gerak refleks karena tak tahu harus bersikap bagaimana. Naruto kemudian berkata, "Kau kedinginan? Tunggulah disini aku akan aku belikan kopi."
Pria itu berlalu pergi tanpa menunggu respon Hinata. Dan entah mengapa Hinata menurutinya. Ia menunggu.
*PROTECTION*
Naruto merutuki kekonyolannya yang dengan tiba-tiba menawarkan kopi untuk gadis itu dan memintanya menunggu di sana. Sederhana saja ia ingin mengobrol lebih lama dengan Hinata dan tiba-tiba ia teringat sebuah iklan kopi yang mengklaim bahwa kopi mereka mampu membuat orang-orang mengobrol dari hati ke hati. Karena itulah ia menawarkan diri membeli kopi hangat untuk Hinata, selain sebagai dalih untuk sedikit mengulur waktu untuk mempersiapkan kata-kata yang berkesan.
Naruto membeli dua gelas kopi yang hawa panasnya mengepul. Ia berjalan sambil mencoba meredam degup jantungnya yang menggila. Juga mengabaikan kemungkinan Hinata tak menunggunya di rooftop.
Naruto menekan tuas pintu dengan lengannya dan bersyukur Hinata masih disitu. Berdiri membelakanginya menatap kemilau cahaya lampu kota. Rambut panjangnya diterbangkan angin membuatnya berantakan, tapi bagi Naruto menakjubkan.
Ia berjalan dengan hati-hati ke arah gadis itu, memperhatikan dengan seksama garis wajah Hinata yang memejamkan mata menikmati hembusan angin. Aroma kopi menyadarkannya bahwa Naruto telah kembali. Ia menoleh ke samping dan menerima segelas kopi yang Naruto ulurkan kepadanya, angin membuat asapnya bak sekumpulan peri-peri kecil yang menari-nari. Gesekan jemari Hinata dengan jemarinya membuatnya serasa ingin melompat.
Hinata mengucapkan terimakasih dan mnyesap kopinya dengan hati-hati. Naruto memperhatikan pergerakan gadis itu yang tampak begitu anggun seolah potongan film yang diputar dengan lambat. Perhatian Naruto jatuh ke bibirnya yang pucat, tiba-tiba teringat adegan yang akan ia perankan dengan Hinata besok. Ia jadi malu sendiri. Mengalihkan pandangannya saat Hinata memergokinya.
"Maafkan aku, Naruto. Aku tak seharusnya bersikap kasar padamu." kata Hinata memulai. Naruto mengerti kemana arah pembicaraan Hinata.
Gadis itu menatapnya, tapi Naruto tak bisa membaca sinar matanya. Tak bisa menemukan jejak rahasia dibalik mata sewarna purnama itu.
Naruto terkekeh menertawakan dirinya sendiri. "Apa aku terlihat konyol? Bodohnya aku harusnya aku lebih bisa mengendalikan sikapku. Kau tak seharusnya minta maaf. Akulah yang salah harusnya aku tak gegabah dan bisa menyadari posisiku. Aku ingin kau menyadari perasaanku tapi sepertinya aku mengambil langkah yang salah."
Hinata tersenyum kearahnya dan mengatakan kalau ia memaklumi sikap Naruto. Lagipula ia juga yang tak seharusnya membuat pria disampingnya berharap terlalu banyak.
"Aku ingin selalu melindungimu, Hinata.", katanya Naruto jujur. Senyum Hinata menghilang. Dahi Naruto berkerut bingung. Namun kemudian Hinata kembali tersenyum ke arahnya seraya berkata, "kau sudah melakukannya Naruto, ingat?" Ia kembali mengingat saat-saat ia datang menyelamatkan Hinata. Suatu malam di Konoha. Saat pertama kali ia berkunjung ke Wammy's House dan ketika Hinata terjebak dalam badai salju. Naruto dapat merasakan ketulusan yang menyentuh hatinya ketika Hinata mengucapkan terima kasih. Dan ketika Hinata berkata, "kau tak perlu mengingnkannya lagi, Naruto." Naruto merasa Hinata saat ini sungguh berbeda dari Hinata yang dulu bertengkar dengannya di rumah sakit. Hinata saat ini, tampak lebih tegar dan kuat tapi juga rapuh.
Ada begitu banyak yang ingin ia katakan. Tapi tak tahu harus mulai dengan yang mana. Hingga suasana kembali senyap. Naruto masih memilih-milih kata apa yang harus diucapkannya sambil menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan. Bagi Naruto, Hinata bagaikan kepingan-kepingan puzle yang sulit sekali di pecahkan. Gadis itu begitu misterius dan ada sesuatu dalam dirinya yang selalu membuat Naruto tertarik dan ingin selalu melindunginya. Ia tidak tahu apa itu.
Tapi kalimat terakhir Hinata membuatnya merasa kalah. "Apa ini artinya aku ditolak?"
"Maafkan aku."
"Aku butuh alasan." Hinata enggan memberi alasan dan lebih memilih menyesap kopinya. Naruto tak puas dengan itu. Ia butuh pembenaran. "Kau mencintai orang lain?"
Hinata mengangguk.
Naruto menertawai kemalangannya.
"Maksudmu si pria berambut hitam berkulit pucat?"
"Sai?" tanyanya memastikan. Naruto mengangguk. Hinata menggeleng. "Rambutnya juga hitam. Tapi mereka orang yang berbeda."
Naruto menyesap kopinya. Menatap setitik cahaya bintang yang berhasil bertahan melawan kemilau lampu kota. Sesuatu terasa memberatkan hatinya, seolah-olah sebongkah batu baru saja menimpa jantungnya dan membuatnya sesak. Hinata ada disini, disampingnya, tapi ia merasa gadis itu begitu jauh. Dalam diamnya ia mencoba menghibur diri bahwa ia akan segera melupakan Hinata secepat ia melupakan loper koran yang menabraknya di stasiun yang padat dipagi hari.
"Kau tahu, aku suka karakter Zack." Katanya tiba-tiba.
Hinata tersenyum remeh, "Meski ia berakhir dengan menyedihkan?"
"Kau benar. Tapi menurutku Zack adalah orang yang beruntung. Meskipun pada akhirnya ia terbunuh, tapi ia punya Aerith yang mencintainya. Dan bagian terhebatnya adalah Zack tidak mati sia-sia, dia mampu mengubah cara Aerith memandang dunia dan menghargai hidupnya."
Naruto melemparkan cangkir kopinya ke tong sampah di sudut dan berjalan ke arah pintu. Ia mengucapkan selamat malam pada Hinata dan meninggalkan gadis itu di sendirian di rooftop.
*PROTECTION*
Matahari bersinar cerah dan bunga-bunga bermekaran. Nyanyian burung-burung kecil menambah kesyahduan pagi itu. sebuah pagi yang baru namun juga begitu mendebarkan bagi Aerith. Kabar jika Zack akan berangkat untuk mengatasi pemberontakan di utara membuatnya jantungnya berdebar tak tenang.
Aerith tahu bagaimana mengerikannya keadaan di utara. Ia tahu perang bukanlah sebuah permainan. Tempat itu pastilah mengerikan dan penuh dengan bau busuk mayat-mayat korban perang. Aerith tak suka permusuhan, ia tak suka perang dan ia yakin semua orang merasakan hal yang sama. Perang telah membuatnya begitu terluka hingga ia tak mengizinkan hatinya terisi semenjak ibunya terbunuh akibat perang. Aerith takut kehilangan dan membiarkan hatinya kosong adalah satu-satunya cara yang ia tahu agar hatinya tak terluka. Agar ia tak merasa sakit.
Sampai suatu hari ia bertemu Zack, soldier yang tiba-tiba saja terjatuh di atas taman bunganya. Zack satu-satunya yang mampu membuat ia kembali membuka hatinya untuk orang lain. Ia mencintai Zack dan membiarkannya mengakar kuat dalam hatinya bak akar pohon tua yang menancap jauh di dalam tanah. Namun pagi ini, Aerith disergap ketakutan.
Ia berlari menuju taman tempat ia biasa bertemu dengan pria itu. Zack tersenyum ke arahnya begitu mendengar suara langkah kaki teburu-buru khas Aerith. Aerith berhenti tepat di depan pria itu. Wajahnya berkeringat dan napasnya tersengal-sengal. Rambutnya yang biasa ia tata dengan rapi ketika akan bertemu Zack kini berantakan, alisnya bertaut dan gurat-gurat cemas dan takut tergambar jelas dari raut wajahnya.
"Kau akan pergi?"
"Ya."
Aerith menggengam kedua tangan Zack. "Bahkan jika aku melarangmu pergi?" tanyanya masih dengan nada penuh kecemasan.
"Ya." Jawaban Zack telah membuatnya kedua kakinya melemah. Ia jatuh terduduk di hadapan pria itu dengan tidak melepaskan pegangan tangannya.
"Tidak. Kumohon." Aerith menangis, memohon.
Zack berjongkok dihadapannya. Merapikan helaian helaian indigo yang jatuh berantakan di wajah gadis itu dan menyematkannya ke sisi telinganya. Zack menangkup pipi gadis itu dan menghapus air matanya dengan ibu jari dan membuat Aerith menatap langsung ke matanya.
"Apa kau mencintaiku, Zack?"
"Lebih dari apapun." jawabnya.
"Kalau begitu tetaplah disini." Pintanya.
Zack menggeleng, "Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena kau tidak mencintaiku. Kau hanya mencintai dirimu sendiri, Aerith." Aerith menggeleng, ia bingung. Tak mampu harus menanggapi bagaimana. "Kau tak ingin aku pergi bukan karena mencintaiku, kau hanya tak ingin hatimu terluka, Aerith. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Ta-tapi..."
"Maaf, pada akhirnya aku menjadi orang yang membuatmu terluka. Seperti yang kau bilang harusnya aku tak memaksa garis takdir kita untuk bersilangan. Harusnya aku melupakan wajah gadis yang kuselamatkan malam itu, harusnya aku tak menurutimu untuk bersikap seperti orang asing yang tak sengaja bertemu dipersimpangan jalan."
Hiruzen menyadari adanya ketidaksesuaian dialog yang naskah inginkan dengan yang Naruto ucapkan sebagai Zack. Ketika ia hendak memotong adegan, Yamato menghentikannya dengan isyarat tangan dan memintanya melihat dulu apa yang akan terjadi.
"Mau kah kau memakai baju berwarna biru muda saat aku kembali nanti?"
Hinata sebagai lawan main Naruto sedikit bingung dengan dialog Naruto yang bergeser dari seharusnya. Taapi Hiruzen belum memberi aba-aba berhenti.
"A-apa maksudmu?"
"Karena hitam tak cocok denganmu. Aku ingin kau kembali mewarnai hidupmu, Aerith."
Aerith terkekeh, "Tidak, Zack. Seluruh warna dihidupku telah lenyap ditelan kegelapan malam itu. Hingga tak ada apa-apa lagi yang tersisa."
"Seberapa keras aku mencoba, tetap ada sesuatu dalam dirimu yang tidak bisa ku pahami. Setiap kali aku bersamamu selalu ada sesuatu yang menggangguku. Di malam gelap tanpa bintang waktu itu, aku mengerti hatimu tidak tidak untuk untukku. Hatimu adalah milikmu sendiri."
Aerith menatapnya marah. "Ya. Kau benar aku hanya mencintai diriku sendiri. Aku terlalu egois. Lalu apa artinya semua ini, Zack? Kau ingin membalasku, begitu."
"Tidak. Sungguh. Aku paling ingin melindungimu. Tapi kita juga tak bisa selamanya begini. Anak-anak di utara menungguku, mereka butuh bantuan, ada banyak yang harus diselamatkan."
"Lalu bagaimana denganku?"
"Kau selalu tahu aku mencintaimu Aerith, lebih dari apapun." Itu bukan jawab yang ingin Aerith dengar. Sama sekali tak menjawab pertanyaan darinya.
Zack tersenyum, mengusap bibir merah muda Aerith. Gadis itu menggenggam tangan Zack, memenjamkan matanya, dan merasakan setiap sentuhan pria itu diwajahnya seolah ia akan benar-benar kehilangannya. Aerith dapat merasakan hangat napas Zack menyentuh kulit wajahnya. Zack mengecup keningnya dalam.
Zack melepaskan genggamannya dan bangkit berdiri. Membiarkan Aerith yang masih terduduk dalam diam. Zack menatapnya sebentar sebelum akhirnya mamksakan hatinya untuk pergi meninggalkan gadis yang begitu berharga baginya.
"Bawa aku bersamamu, Zack!" pinta Aerith lirih.
"Tidak. Tetaplah disini dan tunggu aku kembali. Jika nanti kau mengenakan baju biru muda saat aku kembali, saat itu aku yakin kau sudah benar-benar mencintaiku. Aku pergi, Aerith."
Zack berjalan menjauhinya. Angin menerbangkan helaian blonde miliknya. Aerith memincingkan matanya silau karena pantulan cahaya matahari dari pedang di punggung Zack membuat tubuhnya seolah-olah bersinar seperti ia akan hilang dalam cahaya. Aerith hanya mampu menatap kepergiannya dengan harapan ia akan kembali.
"Zack..."
*PROTECTION*
Hinata membereskan barang-barangnya ke koper. Ia bersiap-siap untuk kembali ke Amerika bersama Ino dan Sai karena pekerjaannya telah selesai. Ia sudah boleh kembali dan hanya perlu datang saat launching film saja.
Hinata tiba-tiba merasa haus. Ia berjalan ke dapur dan meminum beberapa gelas air dingin. Hinata tersentak kaget ketika gelasnya jatuh ketika ia hendak meletakkannya di meja. Gelas itu melayang bebas dari tangannya dan hancur berserakan dilantai disertai bunyi berdenting.
Bersamaan dengan itu, Ino masuk dengan tergesa-gesa menghampirinya dan mengatakan, "Naruto mengalami kecelakan saat syuting adegan terakhirnya."
To be Continued-
