Jaejoong sudah bersiap berangkat kesekolah. Sementara Changmin bersiap keluar dari rumah remaja kaya itu. Jaejoong melambaikan tangan dari jendela bus pada Changmin. Ia masih menunggu bus menuju rumahnya dihalte sambil membawa gitar baru pemberian Kibum. Mereknya lebih bagus dari gitar miliknya terdahulu. Kibum pun membekalinya dengan tiga juta won sebagai ganti semua barang-barangnya yang hilang. Changmin terdiam sesaat. Bus Jaejoong sudah hilang dipersimpangan.

Changmin kemudian berbalik. Melihat jalan yang telah ia lalui beberapa saat lalu. Ia menghembuskan nafas. Berfikir sambil memandang langit.

...

"Ya! Lepaskan! Berengsek!"

Junsu merapikan jasnya ketika keempat bodyguard berpakaian preman melepas tangan kekar mereka dari tubuhnya. Junsu kemudian tersenyum angkuh dan berjalan kearah pria asing berbadan atletis yang kini menunggunya disalah satu meja restoran sebuah resort mewah di pinggir kota. Pria asing itu hanya menatapnya penuh kekesalan.

"Aku tidak ingin berbasa-basi. Berikan semuanya dan aku tidak akan mengganggumu." Ujar Siwon. Ini adalah buntut dari permasalahan tadi pagi yang membuatnya pusing setengah mati. Kali ini ia tidak ingin berlama-lama bersama pria yang pernah tidur dengannya itu.

Junsu menarik kursi dan mendudukinya. "Ch, setelah ku pikir lagi. Mungkin kau memang benar. Aku butuh uang." Ujar Junsu.

Siwon memutar bola matanya. Ia tahu ini akan berakhir dengan Junsu yang meminta uang tutup mulut. Sejak pertemuan mereka di pesta perayaan brand parfum dimana ia berinfestasi, Siwon sudah mencari semua informasi tentang pria itu. Latar belakang yang tidak diketahui dan berbagai gosip miring yang mengatakan bahwa Junsu adalah pemeras ulung membuatnya mengambil langkah pencegahan dengan memberikan sedikit goncangan pada agensi milik pria itu. Langkahnya semakin keras ketika ia kembali bertemu dengan pria itu di pesta pernikahan rekan bisnisnya beberapa hari lalu. Sayang, Siwon kurang waspada kemarin dan semua berakhir seperti ini. Ia tidak punya pilihan selain berdamai. "Berapa?"

"Lima juta dollar." Jawab Junsu yakin.

Siwon membulatkan matanya. Junsu benar-benar ingin memerasnya.

"Kenapa? Lima juta dollar bukanlah uang yang banyak untukmu. Kau bisa mendapatkannya dalam satu hari." Junsu berkata dengan wajahnya yang terlihat memuakkan bagi Siwon.

"Lima juta dollar adalah gaji seluruh pegawaiku." Ujar Siwon.

"Kau pikir aku tidak mengeluarkan uang karena tingkah aroganmu. Aku pun tidak memintanya cuma-cuma. Anggap ini kompensasi dan investasi untuk agensiku."

"Apa yang bisa diharapkan dari agensi teri seperti itu." Ujar Siwon meremehkan. Ia membakar cerutunya.

Junsu tersenyum walau dihatinya ia ingin sekali memaki. "Memang kau ada pilihan?" Ia tahu kalau sindiran Siwon tidak bisa dibantah maka dari itu, ia balik menyindir.

Siwon mendecak. Setajam apapun ucapannya. Ia tetaplah berada di pihak yang kalah. "Kau tahu aku bisa membunuhmu, bukan?"

Junsu mengangguk. "Aku tahu tetapi aku sarankan kau tidak melakukannya."

"Kenapa?"

"Karena aku lebih menguntungkan jika tetap hidup." Ujar Junsu penuh teka-teki. Siwon mengerutkan keningnya. Sebagai orang yang diancam sewajarnya Junsu akan balik mengancam dengan raut wajah yang was-was seperti dahulu tetapi pria berambut blonde itu terlihat begitu percaya diri. Siwon tidak ingin kembali melakukan kesalahan.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Siwon mengeluarkan ceknya. Ia menuliskan nominal angka yang diminta Junsu kemudian memberikannya. Junsu langsung menampakan senyumnya.

Siwon hanya mendecih. "Aku harap ini yang terakhir."

Junsu hanya tersenyum. "Terima kasih atas uang yang kau berikan." Junsu berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Pastikan mulutmu terkunci." Ancam Siwon. Junsu menarik tangannya dan memasukkannya kesaku.

"Aku harap pernikahanmu langgeng." Sindir Junsu. Ia pun kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Siwon yang menghembuskan nafas berat.

"Pastikan semua berjalan lancar." Ujar Siwon pada salah seorang bodyguardnya.

...

Kibum hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya melihat Heechul yang keluar dari ruang ganti sambil memamerkan gaun hitamnya. Wanita paruh baya itu terlihat begitu antusias kembali mencoba gaun lainnya. Kibum kembali menghembuskan nafas ketika Heecul menghilang lagi dibalik ruang ganti. Sudah tiga jam Kibum menemani Heechul berbelanja dimall dan mencoba berbagai pakaian di beberapa outlet terkenal disana tetapi wanita paruh baya itu belum cukup lelah untuk sekedar beristirahat.

Kibum memijat keningnya pelan. Kepalanya sakit. Akhir-akhir ini ia selalu mual dan pusing. Masalah Jaejoong kemarin seakan memperburuk keadaanya. Bagaimana bisa Jaejoong membawa seorang pria kekamarnya? Sudah tahu bahwa remaja itu bisa hamil. Kalau Jaejoong hamil diusia muda, Kibum yakin putranya tidak akan sanggup bertahan. Lagi pula, Kibum tidak suka dengan remaja bengal itu –Changmin-.

Bukannya ia mengagungkan Yunho, calon menantu pilihannya, tetapi setidaknya ia sudah lama mengenal Heechul dan Hanggeg. Mereka berdualah yang membantu Kibum ketika diusir keluar dari rumahnya sebelum kembali bertemu Siwon yang dideportasi karena masalah visa yang telah habis. Sekarang, kenyataanya, Heechul ataupun Yunho mungkin saja berbohong karena tidak enak hati pada Kibum yang terkesan memaksa menjodohkan mereka berdua tetapi yang pasti Kibum sudah menyerah. Biar nanti Jaejoong yang memilih masa depannya.

Sejam kemudian Heechul mengaku kelelahan dan Kibum pun membawanya ke dalam restoran.

"Nunna, ada yang ingin aku bicarakan tetang anak kita." Ujar Kibum.

"Ada apa?" Tanya Heechul. Ia terlihat antusias mendengarkan karena berfikir Kibum akan membahas kelanjutan hubungan anak mereka.

"Jaejoong sudah mengatakan semuanya. Aku rasa kita harus membatalkan perjodohan ini." Ujar Kibum.

"Ke-kenapa?" Tanya Heechul panik.

"Yunho sudah memiliki kekasih. Aku pikir tidak baik untuk memaksakannya."

"Ta-tapi –"

Kibum menggenggam tangan Kibum erat. Heechul terlihat panik dan salah paham bahwa Kibum tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Kibum menyadari itu.

"Nunna, dengarkan aku. Aku tidak marah. Aku memang kecewa tetapi bukan berarti aku menyalahkanmu." Kibum berusaha menenangkan Heechul yang terlihat tidak tenang.

"Hubungan Yunho dengan wanita itu sudah berakhir. Jadi itu tidak mungkin." Ujar Heechul beralasan.

Kibum hanya terenyum. "Nunna." Ujar Kibum menenangkan. Heechul langsung terdiam.

Kibum melepaskan genggaman tangannya pada Heechul. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit.

"Kau baik-baik saja?" Heechul yang melihat itu berubah khawatir.

Kibum mengangguk sambil memijat keningnya. "Aku hanya kurang istirahat akhir-akhir ini. Aku ke toilet sebentar." Ujarnya.

Kibum pun berjalan menuju toilet dengan pandangan yang kabur. Belum sampai beberapa langkah dari mejanya, ia pun jatuh pingsan.

...

Heecul langsung membungkukkan setengah badan seraya mengucapkan salam saat kedatangan Siwon yang terlihat pucat dan berkeringat. Ini pertama kalinya mereka bertemu tetapi Siwon terlihat tidak suka padanya, terlihat jelas dari pandangan mata pria asing itu yang terlihat tajam dan menusuk. Belum lagi pandangan muaknya melihat kantong-kantong bermerek, belanjaan Heecul. Heechul terlihat malu dan segan.

Walaupun begitu didalam hatinya tak dipungkiri ia begitu memuja ketampanan Siwon. Pria itu terlihat tampan dan gagah dengan stelan jam hitam bergarisnya. Wanginya pun sangat segar. Bukan hanya Heechul yang menyadarinya tetapi semua penghuni ruang UGD pun langsung menyempatkan diri melihat pria asing itu dengan pandangan yang terkagum-kagum.

Pria itu terlihat sangat khawatir mendapati Kibum yang tergeletak tak sadarkan diri di ranjang dengan infus yang menggantung. Mata Heechul membulat tak percaya tatkala tanpa sengaja melihat jam tangan yang tersingkap dari pergelangan tangan Siwon, sebuah jam tangan merek HUBLOT yang berharga lima juta dolar. Heechul bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa memakai jam tangan tersebut di depan umum yang bisa mengundang para kriminal mendekat.

Siwon berjalan menemui dokter yang berjaga untuk mengetahui kondisi Kibum. Ia terus mengerutkan kening mendengar penjelasan dokter tersebut. Sebenarnya, Heechul ingin memberi tahu kondisi kesehatan Kibum tetapi Siwon terlihat enggan untuk melihatnya. Menurut dokter, Kibum mengalami gejala penyakit tifus dan ia harus dirawat beberapa hari sampai kondisinya membaik.

Setelah Siwon kembali, Heechul kemudian pamit sambil memberikan ponsel dan dompet Kibum padanya.

Selang beberapa waktu kepergihan Heechul, Jaejoong yang baru pulang sekolahpun langsung datang kerumah sakit setelah diberi kabar oleh Siwon. Remaja itu pun tidak henti menangisi Kibum yang membuat Siwon terpengaruh untuk panik dengan keadaan suaminya.

Kibum yang mendengar suara Jaejoong yang mengganggu, terpaksa terbangun. Ia melihat lengannya basar oleh air mata Jaejoong. Putranya terlihat bodoh walau usianya sudah menginjak 17 tahun. Siwonpun langsung menciumnya dengan wajah yang lega.

"Siwon hentikan!" Maki Kibum. Ia sangat malu ketika semua orang memperhatikan keluarga mereka, para laki-laki. Apa lagi suara Jaejoong yang keras memanggilnya dengan sebutan 'mom'. "Aku kenapa?" Tanya Kibum. Kepalanya masih pusing.

"Kau kena tipus." Jawab Siwon. Siwon tidak berhenti mengelus pipi Kibum penuh rasa cinta.

"Sudah ku duga." Ujar Kibum.

"Apa kau haus?" Tanya Siwon. Ia memberikan air minum pada Kibum.

Kibum langsung meminum air pemberian Siwon. Tenggorokannya kering.

"Jaejoong kau pulang biar daddymu yang menjagaku." Perintah Kibum. Jaejoong mengangguk. Remaja itu pun pergi meniggalkan rumah sakit dengan diantar oleh supir Siwon.

Kibum kemudian dipindahkan di ruang rawat VIP. Disana ada sofa juga televisi dan hanya dihuni olehnya seorang. Seorang suster tersenyum canggung pada Siwon ketika pria asing itu menanyakan perkembangan Kibum dan karenanya Kibum langsung mendecak, kesal.

Ponsel Kibum berbunyi ketika itu. Siwon lah yang menjawabnya. Panggilan itu dari seorang pria bernama Top. Siwon sempat kembali cemburu dan ingin memutuskan panggilan tetapi Kibum terlihat marah karena hal itu. Ia pun dengan terpaksa memberikan ponsel itu pada Kibum.

Mereka tidak begitu lama menelfon. Setelahnya Kibum berkata bahwa pria itu orang yang akan menyewa gedung di gangnam.

...

Kibum sibuk mengecek email berisikan data-data seseorang dari ponsel miliknya. Beberapa foto diambil secara jelas dari berbagai sudut. Begitupun cek berisikan lima juta dolar yang diberikan suaminya pada seorang pria bernama Kim Junsu dapat terlihat jelas. Kibum sudah tahu jika Siwon memiliki berbagai hubungan dengan beberapa pria diluar sana. Setiap malam ia membawa pria berbeda ke dalam hotel ketika bertengkar dengan Kibum. Kibum tidak ambil pusing selama Siwon melakukannya sebagai pelampiasan tetapi tidak sebulan belakangan. Saat Kibum mencari kunci monster kesayangan Siwon, ia tanpa sengaja melihat berkas tentang seorang pria muda bernama Kim Junsu, CEO sebuah agensi artis. Kibum tidak ambil peduli mungkin saja suaminya ingin berbisnis di bidang itu.

Kemudian, Kibum begitu saja melupakannya. Ia pun tidak menyadari pria yang mendapatkan buket di pesta pernikahan temannya adalah orang yang sama. Sampai saat Kibum mendengar nama Kim Junsu disebut-sebut dalam percakapan Siwon dengan Thomas, pria berumur enam puluhan yang sangat setia melayani Siwon walaupun orang tersebut telah pensiun sekarang. Kibum curiga apalagi Siwon sudah menganggap Thomas sebagai ayahya.

Kibum mulai menyelidiki. Mendapati Junsu yang hanya seorang CEO dari agensi yang berpenghasilan kecil membuat kecurigaan hubungan mereka serius pun beralasan. Siwon tidak pernah peduli dengan orang lain walaupun dari luar ia terlihat ramah. Bahkan pada putranya sendiri. Kalau bukan karena Kibum yang selalu menomor satukan Jaejoong. Pria itu tidak akan mau berperan seperti malaikat penolong ketika Kibum bersikat tegas dan galak.

"Mom. Apa kau sudah sehat?" Tanya Jaejoong yang baru saja datang bersama Siwon. Mereka berdua membawa beberapa belanjaan yang isinya adalah roti, susu, air minum dan juga kopi untuk Siwon. Kibum hanya mengerutkan keningnya dan memastikan ini masih siang untuk Jaejoong pulang sekolah.

"Kau membolos?" Tanya Kibum jengkel. Kalau ia sehat, sudah ia pukul betis Jaejoong dengan rotan. Jaejoong yang tadinya berlari ingin memeluk Kibum langsung terdiam ditempat sambil menundukkan kepala.

"Sudahlah jangan marahi dia lagi. Ia hanya khawatir padamu jadi ia bolos, ya kan Jae?" Siwon membela. Ia kembali berperan sebagai malaikat penolong.

Jaejoong mengangguk. Ia pun langsung bersembunyi dibelakang daddy-nya. Enggan dekat dengan Kibum. Takut telinganya akan ditarik.

Kibum mendecak. "Awas kalau peringkatmu menurun!" Ancam Kibum. Jaejoong mengangguk.

Selesai meletakkan barang belanjaan disofa, Siwon menghampiri Kibum. "Kau sudah lebih baik?" Tanyanya khawatir. Ia pun mencuri ciuman dari bibir Kibum beberapa kali.

Kibum tidak menolak. Anggap saja itu bayaran karena mau menjaganya yang sedang sakit.

Sebuah ketukan di pintu membuat Siwon menghentikan tindakannya. Jaejoong pun membuka pintu. Seorang pria berbadan tegap dengan kulitnya yang coklat membawa bingkisan buah dan buket bunga berdiri di depan.

"Selamat siang, aku Jung Yunho." Ujar pria itu. Jaejoong mempersilakannya masuk dan mengambil bingkisan buah juga buket yang berikan pria bernama Jung Yunho. Pria itu memberikan hormat –sapaan- pada Kibum dan Siwon. "Bagaimana kabar Anda, Kibum ssi?" Tanyanya.

"Aku sudah lebih baik. Terima kasih." Jawab Kibum. Siwon hanya memandangi pria itu dari bawah sampai atas. Pria itu memang tampan walaupun terlahir dari perempuan yang ia tidak suka.

"Aku minta maaf untuk semua yang telah aku sebabkan." Ujar Yunho lebih terdengar seperti permintaan.

Kibum hanya tersenyum tulus. Ia sangat prihatin ini semua terjadi, melihat bagaimana wajah tampan itu tertutupi oleh plester disalah satu pipinya. Heechul pasti menyalahkan anaknya karena perjodohan itu batal.

"Sudahlah jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja. Duduklah. Jae tawari ia makanan." Tanya Kibum. Ia tidak ingin menganggap Heechul akan memutuskan hubungan baik diantara mereka.

Jaejoong mengangguk. Ia pun mengambil air kemasan dan beberapa snack dari belanjaannya.

"Maaf yah, hanya ini yang tersedia. Tidak perlu sungkan." Ujar Kibum.

Yunho mengangguk. Ia pun duduk di samping Jaejoong.

"Bagaimana ibu dan ayahmu?" Tanya Kibum. Siwon langsung memutar bola matanya bosan.

"Mereka baik-baik saja." Jawabnya.

"Oh yah, perkenalkan ini Choi Siwon. Walaupun aneh, dia suamiku dan Jaejoong adalah anak kandung kami. Kau tahukan bahwa aku male pregnant?" Tanya Kibum. Ia ingin membangun hubungan senatural mungkin dengan anak Heechul.

"Iyah aku tahu. Apa kabar Siwon ssi?" Berbeda dari bayangannya, Siwon tidak seperti pria asing berambut pirang. Ia terlihat lebih asia dengan rambut coklatnya. Kulitnya pun tidak pucat malah kecoklatan. Entah apa benar Siwon ini sama dengan Andrew berambut pirang yang ia lihat di internet.

"Apa kabar." Jawab Siwon.

"Aku sangat berhutang budi pada orang tuamu dulu. Mereka sangat baik padaku yang sedang mengandung. Apa lagi Hanggeg yang suka membuatkan sup ayam buatku –"

"Kau tidak pulang. Jam makan siang sudah hampir habis. Aku dengar orang korea sangat disiplin dalam bekerja." Siwon memotong ucapan Kibum. Ia pun menyindir Yunho untuk segera pulang karena muak dengan Kibum yang terlalu membanggakan orang tua pemuda itu. Ia tidak perduli Kibum melotot padanya.

Mendengar sindiran itu, Yunho pun mohon pamit.

"Jae, antarkan Yunho kedepan." Perintah Kibum. Ia pura-pura tersenyum walau tahu hatinya dongkol. Jaejoong pun mengangguk. Sebelum pergi Kibum memanggil Jaejoong kembali, ia memberikan kartu visanya agar Jaejoong meneraktir Yunho makan siang. Remaja itupun senang bukan main karena ia bisa sekaligus berbelanja sepuasnya sebelum mengembalikan kartu itu pada Kibum.

...

"Tada!" Jaejoong langsung berbinar-binar mendapati Yukgaejang, makanan korea yang berupa sup daging pedas, tersedia dimejanya begitu pun dengan Yunho. Kedua orang itu memesan makanan yang sama karena cuaca yang dingin sekarang. "Jangan dipikirkan perkataan daddy. Ia hanya cemburu." Ujar Jaejoong pada Yunho sambil mengunyah daging dimulutnya.

Yunho hanya tersenyum. Dia pikir Jaejoong akan marah padanya karena tempo hari ia lebih memilih pacarnya dibandingkan Jaejoong saat itu. Remaja itu terlihat tak mendendam padanya sampai saat ini.

"Makan yang banyak. Aku yang traktir." Kata remaja itu bangga sambil mengacungkan kartu visa milik Kibum. Orang kaya memang berbeda, bahkan mereka tidak menggunakan kartu kredit untuk membayar sesuatu.

"Ngomong-ngomong pekerjaanmu apa?" Tanya remaja itu. Ia meniup-niup kuah sup miliknya.

"Aku memiliki perusahaan otomotif." Jawab Yunho.

"Mobil? apa yang kau hasilkan?" Tanya Jaejoong kembali.

"Mobil keluarga yang biasa kami produksi dan beberapa mobil umum tetapi kami jarang memproduksinya."

"Benarkah? Hebat sekali." Ujar Jaejoong bangga. Ia hanya tahu bahwa dad-nya berbisnis dibidang sumber energi alam, pendidikan dan yang berhubungan dengan software komputer.

"Kau hanya merendah. Bisnisku kurang lancar akhir-akhir ini." Yunho berfikir remaja itu merendah. Bagaimanapun usahanya masihlah kecil dibandingkan pengusaha sukses seperti ayah Jaejoong.

"Oh, benarkah? Bukankah krisis global tidak menghambat pasar Asia?" Ujar Jaejoong sebelum kembali melanjutkan makan.

"Hm tetapi walaupun begitu krisis global membuat pola pikir masyarakat berubah." Jawab Yunho.

"Oh, kalau begitu kenapa tidak menjual pada target yang lebih tinggi." Cetus Jaejoong.

Yunho yang baru saja memegang sumpitn langsung menghentikan kegiatannya. Ia mengingat sebuah artikel mengatakan barang mewah limited adition 20% nya dipesan oleh pengusaha Asia. Kenapa ia tidak sadar sejak awal. Kembali ia melihat Jaejoong yang terlihat bingung melihatnya.

"Kenapa?" Tanya remaja itu.

"Aku harus pergi. Terima kasih." Ujar Yunho. Ia pun bergegas pergi meninggalkan Jaejoong yang masih bingung. Jaejoong kembali melihat mangkuk Yunho yang belum disentuh. Ia pun tersenyum dan tanpa sungkan menarik mangkuk itu mendekatinya.

...

Jung Yunho, pria berumur tiga puluh tahun itu langsung saja kembali kekantornya. Memaksa sang sekertaris yang baru saja selesai makan siang untuk cepat kembali kekantor. Pria itu tidak sabar untuk menceritakan ide yang ia dapat setelah berbicara dengan Jaejoong. Remaja berumur tujuh belas tahun itu memang brilian. Tidak salah jika ia merupakan keturunan pengusaha sukses Choi Siwon. Kenapa Yunho bisa begitu bodoh tidak menyadari hal itu sejak dulu. Ia terlalu fokus di dalam kotaknya dan tidak melihat dunia luar sampai akhirnya remaja itu mengetuk kotaknya.

"Bagaimana?" Tanya Yunho pada Yoochun sambil memperlihatkan bukti-bukti beberapa artikel yang ia yakini kebenarannya.

"Jika itu memang benar, tidak salah jika kita mencobanya. Hanya saja dana kita tidak cukup untuk hal itu walaupun kau sudah menjual aset dan semua sahammu." Ujar Yoochun.

Yunho kembali memutar otaknya.

"Satu-satunya jalan hanya merger." Ujar Yoochun kemudian.

Yunho terlihat tidak setuju.

"Kita memerlukan banyak dana untuk memproduksi mobil ekslusif yang ketersediaanya terbatas. Kita pun bukan berada di bidang itu. Kita perlu tenaga ahli untuk membuatnya dan itu mengakibatkan cost yang sangat besar. Walaupun jika ini berhasil, sekain nama kita akan semakin besar tetapi juga keuntungan yang kita dapat sangat besar pula karena diasia hanya kita yang membuatnya."

Yunho kembali berfikir. Ia harus berani bertaruh saat ini. "Baiklah. Cari perusahaan yang cocok untuk proyek ini." Putus Yunho diakhir.

Yoochun mengangguk. Ia pun kemudian sibuk dengan urusannya.

...

Note: Ini cerita Male Pregnant. Ada tiga pair disini tetapi saya tidak akan memberi tahu. Jaejoong masih terlalu remaja untuk jatuh cinta yang terlalu berlebihan, menurut saya. Memang porsinya saya banyakin Siwon dan Kibum abis mereka yang membuat hubungan dengan pair yang lain. Seperti yang saya katakan mungkin fic ini akan panjang tetapi frekwensi updetnya akan sering, sering menurut saya loh. Yang pasti tidak akan hiatus. Keep Reading.