.
Sehun menanyakan bagaimana kabar bayi dalam kandungan Baekhyun karena ia ingat beberapa hari lalu perut Baekhyun terbentur. Dan maksud Sehun mengajukan Baekhyun untuk memeriksakan kandungannya tidak lain agar Baekhyun percaya bahwa di dalam sana ada makhluk yang hidup. Ia juga sengaja membawa Baekhyun pada dokter kandungan yang baru. Sehun hanya takut bahwa Baekhyun berpikir bahwa ia membohongi lelaki mungil itu, ia juga tahu betul usia kandungan baekhyun. Hanya saja selama ini Baekhyun tidak pernah mendengar langsung mengenai kandungannya. Sehun begitu bahagia ketika melihat Baekhyun terus bersenandung saat perjalanan pulang. Kebahagiaan Baekhyun sudah membuat Sehun senang tidak ada hal yang lain yang lebih baik selain melihat kekasih hati bahagia.
"Hyung bagaimana tadi kemoterapi ya?" tanya Baekhyun saat memasuki rumah.
"Berjalan seperti biasanya." Sehun tersenyum.
"Apakah itu sakit hyung?" tanya Baekhyun lagi.
"Lebih menyakitkan saat tidak bertemu denganmu bee." Sehun mencuri kecupan di pipi Baekhyun.
"Dasar tukang gombal." Baekhyun mengerucutkan bibirnya.
"Mumpung masih bisa bee." ucapan Sehun menyentak Baekhyun seketika.
"Jangan berkata seperti itu hyung." Baekhyun menangis, begitu menyakitkan mendengar hal seperti akan di tinggal mati.
Sehun menepikan mobil yang dicintainya dan memeluk tubuh mungil suaminya, mencoba untuk menenangkan si mungil yang menangis karena ucapannya "maafkan aku ya, aku janji tidak akan berkata seperti itu lagi". Baekhyun hanya mengangguk dalam pelukan Sehun.
...
Sudah hampir tiga bulan sejak kepergian Baekhyun, dan hari ini adalah hari pernikahan Chanyeol dengan Irene. Chanyeol sudah melewati banyak hal setelah kepergian Baekhyun, mulai dari pekerjaannya yang terganggu, kehilangan beberapa saham, dan media yang tidak henti-hentinya mencari berita mengenai Baekhyun. Kini Chanyeol tengah berdiri di depan altar menunggu pengantin perempuan datang. Berbagai macam pikiran datang menghampiri Chanyeol, ia ingat betul ucapan Jongin dan ayahnya bahwa jangan terlalu percaya dengan Irene. Tetapi rencana yang di buat Irene itu sangat detail. Gadis itu mengatakan bahwa akan ada beberapa orang yang menghadiri pernikahan mereka untuk menghancurkannya dan menculik Irene. Kemudian disaat kegaduhan itu berlangsung Chanyeol berkesempatan untuk membawa ibunya pergi dari sana, karena Irene mengatakan bahwa Shindong akan kalang kabut mencarinya.
Mempelai perempuan berjalan dengan anggun bersama dengan sang ayah, Chanyeol melihat kearah mereka. Sungguh Irene terlihat sangat cantik tetapi bagi Chanyeol kecantikan Irene tidak bisa mengalahkan pesona Baekhyun. Chanyeol mencoba untuk tersenyum layaknya orang yang tengah bahagia.
"Jagalah putriku." Shindong memberikan tangan Irene kepada Chanyeol. Chanyeol meraih tangan itu dan mengangguk.
Tiba-tiba saat pendeta itu akan memulai upacara sakramen pernikahan terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras. Semua mata tertuju pada sumber suara, beberapa orang dengan badan yang besar berjalan kearah pengantin. Dengan sigap para penjaga menghalau orang-orang tersebut. Tetapi mereka tidak berhasil menghalangi para pria berbadan besar itu. Salah satu dari lelaki yang berbadan besar itu berhasil mendekati Irene dan membawanya pergi dari tempat itu.
Chanyeol langsung berlari kearah orang tuanya, dan meraih tangan kedua orang tuanya.
"Mau kemana kau?" Shindong bersama dengan para pengawalnya sudah berdiri di pintu depan menunggu kedatangan Chanyeol.
"Ba..bagaimana bisa?" Chanyeol tidak mengerti. Bukannya berjalan sesuai dengan rencana tetapi sekarang ia bersama kedua orang tuanya terjebak.
"Kau tidak akan pergi sebelum menikahi putriku." sesaat setelah Shindong berkata demikan munculah beberapa orang berbadan kekar lainnya. Mereka semua menyerang para pengawal yang menghalangi Chanyeol dan orang tuanya. Perkelahian pun terjadi, Chanyeol sebenarnya ingin membantu tetapi kedua orang tuanya melarang.
"Chan, kemari.." terdengar suara Jongin dari dalam mobil. Chanyeol yang mendengar dan melihat jongin segera berlari bersama dengan kedua orang tuanya.
Shindong merasa kepalanya akan pecah ketika putrinya terus mengomel sepanjang waktu dan menyalahkannya. Irene menyalahkan karena pengawal dari Shindong tidak bisa menghalangi kepergian Chanyeol. Dan akibatnya pernikahan mereka gagal. Padahal sudah susah payah Irene meyakinkan Chanyeol mengenai rencananya itu. Tetapi bukan Irene namanya kalau tidak punya rencana lain.
"Tunggu saja chanyeol. Kau akan menjadi miliku." batin Irene.
...
Perut Baekhyun semakin membesar, lelaki mungil itu menjadi sedikit kesusahan untuk bergerak. Usia kandungannya sekarang menginjak 35 minggu. Baekhyun selalu di limpahi kebahagiaan dan kasih sayang oleh suaminya setiap hari. Tidak ada hari tanpa canda tawa dari pasangan itu.
"Hyuuuungg..." rengek Baekhyun
"Ada apa sayang?" Sehun yang sedang menonton televisi mengalihkan atensinya kepada Baekhyun.
"Perutku gatal sekali hyung." raut wajah Baekhyun terlihat sangat kesal.
"Jangan di garuk sayang, nanti perutmu akan berbekas." Sehun mengelus kepala Baekhyun.
"Namanya gatal ya harus di garuk. Kalau di diamkan gatalnya tidak akan hilang tau." Baekhyun merasa semakin kesal.
"Ya sudah terserah kau saja, kau tidak pernah mau mendengarkanku. Garuk saja sana sekalian pake garpu agar gatalnya cepat hilang." Sehun memalingkan wajahnya pura-pura marah.
"Hyung jahaaaat. PAKE GARPU? hyung pikir perutku apaan hah?" Baekhyun mengerucutkan bibirnya.
"Makanya nurut sama suami tuh jangan melawan terus." Sehun pun akhirnya mengusap perut Baekhyun dengan lembut mencoba membantu menghilangkan gatal yang suami mungilnya rasakan. Baekhyun yang melihatnya benar-benar merasa bahagia, sungguh Sehun memang sudah memenangkan hati Baekhyun untuk saat ini.
Baekhyun baru saja memejamkan matanya di dalam dekapan suami yang begitu mencintainya. Ia tersenyum dalam tidur membuat Sehun ikut tersenyum melihatnya.
Sehun mengamati setiap pahatan indah yang terukir di wajah Baekhyun, ingin rasanya bisa bersama lelaki mungil itu dalam waktu yang lama. Ia tahu sekuat apapun ia berusaha penyakit yang sudah menggerogoti tubuhnya tidak mundah untuk di sembuhkan, bahkan hasilnya dari hari ke hari semakin menurun. Ia takut membuat Baekhyun terluka saat mengetahui pengobatan yang ia jalani tidak mengalami perkembangan.
Sehun berencanan untuk membawa Baekhyun kembali ke Korea dalam waktu dekat. Bukan hanya untuk mengunjungi kedua orang tua Baekhyun. Tetapi juga ia ingin memastikan informasi yang ia dapatkan mengenai Chanyeol dari beberapa orang suruhannya. Baekhyun hanya mengalami salah paham yang dipicu oleh ketidakjujuran Chanyeol saat ia akan bertemu dengan seorang perempuan yang entah itu siapa. Bagaimanapun Sehun merasa bersalah kepada Baekhyun karena memanfaatkan situasi Baekhyun yang sedang cemburu buta dan membuatnya jauh dari orang yang sebenarnya ia cintai. Bahkan Sehun yang meminta Baekhyun untuk memutuskan segala hal yang berhubungan dengan Chanyeol karena lelaki itu telah mengkhianati Baekhyun.
Sehun bukan orang bodoh yang tidak mengerti Baekhyun, setiap senyuman yang Baekhyun berikan padanya terkadang memberikan rasa sakit. Ia mencintai Baekhyun, tetapi Baekhyun tidak. Baekhyun hanya menyayanginya karena selalu ada disaat Baekhyun merasa kesepian.
"Bersabarlah kalian akan bertemu dengan orang yang seharusnya ada untuk kalian, maafkan aku membuat kalian jauh dari orang itu."Batin Sehun tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi bulat milik Baekhyun, membuat lelaki mungil itu sedikit terganggu.
...
Beberapa bulan berlalu tetapi Irene dan Shindong tetap meneror Chanyeol, ini bukan karena harta yang dimiliki Chanyeol. Tetapi karena Irene yang sudah dibutakan oleh cinta kepada Chanyeol sejak pertama mereka membuat kesepakan dengan beberapa pegawai di perusahaan Chanyeol.
Irene berencana untuk membuat perusahaan yang Chanyeol pimpin sekarang mengalami penurunan saham, sehingga mau tidak mau Chanyeol akan meminta bantuan kepadanya. Irene bahkan tidak peduli dengan kenginan ayahnya yang ingin menguasai perusahan Chanyeol.
"Bagaimana kalau kau mau melakukannya akan aku bayar 10x lipat dari yang kau terima saat bekerja dengan Chanyeol?" wanita berkulit pucat itu menatap nyalang pada lawan biacaranya.
"Ta..tapi.. saya tidak berani Nona. Maaf.." Wendy menolak tawaran kerjasama dari Irene.
"Hah! BODOH kau! Lakukan atau keluargamu akan berada dalam bahaya." Irene mengancam Wendy, karena memang Wendy yang saat ini memegang semua jadwal yang harus dihadiri oleh Chanyeol. Wendy adalah sekertaris pribadi Chanyeol.
"Maaf Nona, saya tidak bisa silahkan cari orang lain saja yang mau bekerja dengan anda. Saya tidak akan pernah mengkhianati atasan saya." Wendy yang tadinya merasa gugup pun akhirnya bersikap tegas, melontarkan ucapan penolakan dan segera meninggalkan wanita di hadapannya.
Irene menggeram menahan amarah, baru kali ini ada orang yang menolak untuk bekerjasama dengannya. Ia tidak akan tinggal diam, kehilangan satu jalan masih banyak jalan yang lain untuk mendapatkan Chanyeol.
Saat Irene hendak keluar dari cafe tidak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
"Ah sialan.." umpat Irene.
"Maafkan saya nona." Lelaki dihadapannya membungkuk berkali-kali. Irene merasa tidak asing dengan lelaki itu.
"Kyungsoo?" tanya Irene membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada wajah wanita yang berada di hadapannya. "Ah benar, kau Kyungsoo." Lanjut Irene.
...
Chanyeol sekarang tengah sibuk menyiapkan beberapa hal untuk boy grup baru yang akan debut. Begitu banyak persiapan yang dibutuhkan oleh boy grup tersebut, meskipun Chanyeol adalah pimpinan di perusahaannya tetapi ia tidak pernah lupa untuk selalu berinteraksi dengan idol dibawah naungannya.
Chanyeol tertawa melihat tingkah anak asuhannya berlatih dance, mereka terlihat menggemaskan bagi Chanyeol. Terlebih ada salah satu dari mereka yang memiliki paras dan perilaku yang hampir sama dengan Baekhyun.
"Okay teman-teman, aku ingin mendengar perkenalan kalian bagaimana." ucap Chanyeol. Para member boy grup melirik satu sama lain dan mengangguk.
"we are one EXO imnida." para member serempak memperkenalkan diri.
"Wah kalian memaukau." Chanyeol bertepuk tangan. "Silahkan lanjutkan kembali latihan kalian, kalau kalian membutuhkan apa-apa bisa langsung menghubungi sekertarisku." Chanyeol berdiri meninggalkan ruang latihan mereka.
"Terimakasih Tuan." jawab Baixian yang merupakan vokalis utama di boy grup tersebut karena belum ada leader yang di tunjuk. Chanyeol membalas ucapan itu dengan senyuman membuat Baixian merasakan panas menjalar di pipinya.
Chanyeol duduk di kursi kerjanya ia tersenyum, mengingat tingkah manis semua anak asuhnya. Hal tersebut membantunya untuk sedikit melupakan sakit kepergian Baekhyun. Ia belum menyerah untuk mencari tahu keberadaan Baekhyun sekarang. Ia masih mengupayakan segala cara agar bisa bertemu kembali dengan Baekhyun, termasuk meminta mata-mata Sehun untuk bekerja sama dengannya.
Ia membuka beberapa berkas yang harus di tanda tangani. Dalam berkas-berkas tersebut terselip sebuah catatan yang bertuliskan bahwa perusahaannya akan segera hancur. Chanyeol mengeraskan rahangnya meremas catatan tersebut.
"Wendy.." Panggil Chanyeol.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap Wendy sopan.
"Kau yang meletakan berkas-berkas ini dimejaku?" tanya Chanyeol.
"Iya tuan, apa ada yang salah?" Wendy sedikit ketakutan.
"Lain kali hati-hati saat memeriksa berkas jangan sampai ada yang seperti ini." Chanyeol menunjukan catatan di tangannya pada Wendy.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tau kalau ada yang seperti ini terselip. Lain kali saya akan lebih hati-hati." Wendy membungkukan badannya.
"Baiklah, kembali bekerja. Aku akan pulang lebih awal ada hal yang harus aku urus. Kau bisa menghubungiku apabila terjadi sesuatu yang mendesak." ucap Chanyeol.
"Baik Tuan." Wendy meninggalkan ruangan Chaneyol. Ia meremas kertas catatan tersebut, ia tahu bahwa ini pasti kerjaan wanita yang bernama Irene agar dirinya kehilangan kepercayaan dari atasannya.
...
Baekhyun sibuk berkutat dengan peralatan masak di dapur, ia saat ini tengah menyiapkan sarapan untuknya dan Sehun. Baekhyun bersenandung kecil, membuat bayi di dalam perutnya melonjak. Ia tersenyum, mengusap perut buncitnya.
"Kau begitu senang didalam sana, ayahmu juga selalu senang saat mendengarku bernyanyi." ucap Baekhyun.
Sehun memperhatikan Baekhyun, ia mendengar dengan jelas yang diucapkan oleh Baekhyun. Meskipun ia meyakinkan diri bahwa ucapan itu di tujukan padanya, tetapi disisi lain "ayah" yang dimaksud oleh Baekhyun adalah Chanyeol. Sehun berjalan mendekati Baekhyun.
"Dor.." Sehun menepuk pelan bahu Baekhyun.
"Ah.. hyung.." Baekhyun tersenyum.
"Sudah selesai? Cepatlah, aku sudah kelaparan." Sehun mengusak rambut Baekhyun.
"Sebentaaaar lagi hyung, tunggu saja di meja makan. okaay~~~" Baekhyun mendorong Sehun agar kembali ke meja makan.
Sehun pun akhirnya menurut dan duduk menunggu Baekhyun. Hidup dengan Baekhyun sangat membahagiakan, bagaimana caranya memberi tahu Baekhyun bahwa sisa umurnya sudah tidak lama lagi? Sehun menggelengkan kepalanya, ia berusaha bersikap seperti biasa saat melihat Baekhyun membawa makanan ke meja makan.
"Ayo kita makan hyung.." ajak Baekhyun. Sehun mengangguk.
Mereka berdua menyantap sarapan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Baekhyun terlalu asik dengan makanannya, sedangkan Sehun terlalu sibuk dengan pikirannya.
"Baek.." Baekhyun menoleh, Sehun memanggil namanya. Sudah sejak lama saat Sehun memanggil nama Baekhyun, biasanya ia menggunakan panggilan sayang.
"Iya hyung." Baekhyun menatap penuh perhatian pada Sehun.
"Bagaimana kalau kita ke korea mengunjungi orang tuamu?" tawar Sehun.
"Tapi hyung bilang kita tidak akan pernah kembali ke korea, hyung bilang kita akan terus tinggal disini." Baekhyun mencoba memikirkan alasan Sehun mengajaknya ke Korea.
"Iya, tapi apa kau tidak rindu orang tuamu. Ada beberapa hal yang perlu aku urus juga disana. Bagaimana?" Sehun kembali menawarkan kepada Baekhyun. Lelaki mungil itu terlihat berpikir dan menangguk ragu.
...
..
.
TBC
.
..
...
hai gaess maafkan aku sempat menghilang dari his fault, sejujurnya aku kehilangan ide untuk melanjutkan cerita ini.
setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan kembali ide.
maaf bagi yang menunggu.
TBC or END? pleaseleave review :)
SALAM CHANBAEK IS REAL!
