Summary: Sakura adalah seorang murid cantik, cerdas dan enerjik. Tak heran kalau semua murid, termasuk Sasuke si jenius jatuh hati padanya. Yang Sasuke tidak tahu, adalah setiap 'permata' pasti dijaga dengan ketat. Apakah Sasuke dapat melewati semua halangan untuk memenangkan hati Sakura?

Warning: AU dan OOC, terutama Ino ama Hinata. Kyuubi bakal jadi kakak Naruto. Juga ada beberapa OC buat perkembangan cerita

Hai semua~ bagaimana kabarnya?

Maaf buat readers semua yang udah nunggu lama… alasan saya baru update adalah: 1. saya pulang ke rumah, dan disana ga ada komputer(saya ngekos). 2. males ngetik di rental/warnet. Tapi, sekarang saya udah balik lagi... Silakan membaca!

Baka Tantei Seishiro Amane present...

FALLING FOR CHERRY BLOSSOM

CHAPTER 7: CONFESSION FROM HEART

'Dimana ini? Nyaman dan… hangat?' Yuri yang sedang berbaring membuka matanya. Dia langsung berhadapan dengan wajah tidur Kotaro. Dia terdiam sesaat, mengingat apa yang terjadi semalam. 'Oh iya... Dia menginap disini kemarin...' dia tersenyum. Dia membelai wajah Kotaro. Dia segera terbangun merasakan belaian itu. "Oh! Maaf, kau terbangun ya?" Kata Yuri.

Dia bangkit dari tempat tidur. "Tidak... Tidak apa-apa. Selamat pagi, Yuriku," Katanya tenang. Yuri masih terlihat merasa bersalah. " kamu adalah hal pertama yang aku pikirkan ketika aku terbangun dan hal terakhir yang aku pikirkan ketika aku pergi tidur, memastikan bahwa aku memiliki hari yang menyenangkan dan mimpi yang indah. Jadi, buat apa aku marah padamu?" Godanya. Yuri merengut dengan wajah bersemu.

Matanya melihat sesuatu yang tergeletak di tempat Kotaro tidur tadi. Sebuah kotak kecil berwarna hitam. 'Apa ini?' Pikirnya, seraya mengulurkan tangan untuk mengambil benda itu. Namun, sebelum jarinya menyentuh kotak itu, Kotaro keburu mengambilnya terlebih dahulu. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. "Apa itu, Kotaro..." Kata Yuri dengan nada mengancam.

Kotaro hanya menggaruk-garuk kepala. "Ehehe... Ini... Ehm, benda penting. Yah, pokoknya untuk sementara ini rahasia..." Yuri terlihat berpikir sesaat.

Dia lalu menyeringai. "Aku tetap mau lihat apa isinya," Kotaro menepuk keningnya dan mengerang. Dia mengamati sekitar ruangan. "Jangan coba-coba lari, Kota-kun..." Dia mendekat dengan hati-hati. Kotaro memberinya tatapan 'jangan macam-macam', namun tidak dipedulikan. Yuri merangsek maju, membuat Kotaro yang tidak siap segera jatuh terjerembab ke lantai. Yuri mencoba mengambil kotak itu, namun Kotaro keburu menyelipkannya di kantong dalam jeansnya. (A/N: di celana jeans lama, ada kantong yang terletak di bagian dalam celana. Di celana kain juga ada.)

Dia segera melemparkan selimut ke wajah Yuri, dan menghindari 'genggaman besi' Yuri. Dia menuju ke pintu, namun tersandung kaki Yuri. "Hah... hah... Heheheh... Kamu pikir kamu bisa lari dariku, Kotaro Itsuki?" Kotaro hanya membalas dengan gumaman pelan. Dia beringsut ke atas kasur. Disana, dengan sigap dia memiting Yuri.

"Aku tak semudah itu ditaklukan, Nona kecil. Serangan level dua!" Dia mulai menggelitiki Yuri. Yuri mulai tertawa-tawa sambil menggelepar. Dia menggapai semua barang yang dia sentuh untuk memukul Kotaro. Sial untuk Kotaro, dia meraih weker kuno dari besi yang biasa dia gunakan dan memukul kepala Kotaro. Dia segera terkapar di sebelah Yuri lemas.

Saat matanya kembali fokus, tangannya diikat di pinggir tempat tidur. Yuri duduk di atas tubuhnya, tersenyum penuh kemenangan. "Hehehe... Ter-tang-kap~". Kotaro hanya menghela napas panjang.

Matanya menangkap sesuatu, yang membuatnya panik. "Yuri, hentika sekarang!" Katanya, berusaha melepaskan diri. Yuri yang sedang melepas kancing celana jeans Kotaro hanya menatapnya bingung.

"Kenapa?" tanyanya, masih berusaha melepas kancing celana Kotaro untuk mengambil kotak kecil yang membuatnya penasaran itu. Kotaro menghela napas panjang.

"Sakura melihat kita... Sial," Yuri langsung melihat ke arah pintu. Disana, Sakura dengan mulut ternganga berdiri. Dia langsung sadar akan posisi mereka. Kotaro yang terikat tak berdaya dan dia yang sedang membuka celananya. Yuri langsung semerah tomat segar. Kotaro berusaha menjelaskan dengan tenang. "Err... Sakura? Ini tak seperti yang kamu pikirkan..."

Sakura hanya diam sesaat. Lalu, dengan wajah yang sama merahnya dengan Yuri, dia berkata, "Maaf, Aku... Err... Silahkan diteruskan..." Dia menutup pintu kamar. Yuri segera mengejar Sakura. Kotaro menghela napas panjang.

"Ini benar-benar pagi yang heboh..."

30 menit kemudian...

Mereka semua duduk di meja makan. Yuri menyembunyikan wajahnya yang masih memerah dengan rambutnya. Sakura menatap tak percaya, sedangkan Kotaro memandang ke jendela. "Apa benar hanya itu yang terjadi? Kalian tidak terlihat seperti sedang berkelahi kecil tadi."

Kotaro memberi tatapan 'aku bicara sebenarnya' pada Sakura. "Oke-oke, aku percaya. Lalu, kotak kecil yang jadi sumber bencana itu sekarang dimana?" Yuri memandangi Kotaro. Kotaro terlihat berpikir serius. Sakura memandangnya sejenak dengan bingung, lalu menunjukkan ekspresi mengerti. "Oh... 'itu' ya?"

Kotaro menatap Sakura lekat-lekat, lalu mengangguk. Yuri langsung 'meledak'. "Kotaro...! Apa yang kau sembunyikan dariku, hah! Kenapa Cuma aku yang tidak boleh tahu!" dia berjalan pergi dengan marah. Kotaro terlihat benar-benar bimbang.

Sakura menghela napas panjang. "Kotaro, kejar dia. Lalu, katakan yang sebenarnya," Kotaro menatap Sakura, terlihat masih bimbang. "Aku tahu, kakak mungkin akan bingung atas apa yang akan kau katakan, saat kamu memberikan itu... Tapi, kamu menginginkannya kan? Hingga tanpa pikir panjang membeli itu... Bagiku, Itu adalah bukti bahwa kamu mencintainya. Kejar dia, Kotaro." Sakura mendorong bahu Kotaro dengan halus.

Kotaro mengangguk, lalu segera berlari mengejar. Dia mendapati Yuri sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya. "Kenapa? Kenapa kamu merahasiakan sesuatu dariku? Apa aku sudah tak dapat dipercaya lagi, Kotaro..." Kata Yuri saat Kotaro berdiri di sebelahnya.

Kotaro menghela napas. "Bukan... Ini... Sebenarnya kejutan untukmu... Hanya saja, akulah yang tak memiliki cukup keberanian untuk memberikannya untukmu..." Yuri memandangnya. Wajah Kotaro sedikit memerah. Yuri kemudian melihat ke bawah, dia melihat kotak kecil tadi. Kotak itu telah terbuka.

Kotaro memegang tangan Yuri. Dia mengeluarkan sepasang cincin perak dengan sepasang batu yang membentuk lingkaran. "Aku... Maukah kamu menikah denganku...?" Yuri sangat terkejut hingga hanya dapat terdiam untuk beberapa saat.

Dia akhirnya berbicara. "Tapi... Apa kita tak apa-apa begini saja? Aku... Takut memulai sesuatu yang baru... Khawatir semua tak berjalan sesuai harapan, dan akhirnya kita..." Kotaro menatapnya, lalu membelai kepalanya.

"Kita... Tak akan memulai sesuatu yang baru, hanya melanjutkan apa yang telah kita jalani. Dan percayalah, apapun yang terjadi nanti, tak ada satupun dari kita yang akan menghadapinya sendirian." Dia mencium kening Yuri. Lalu, dia mengulurkan tangannya.

Yuri terdiam sesaat, lalu mengulurkan tangannya juga. Kotaro menyematkan cincin itu di jari manis Yuri. "Ada nama kita dalam lingkarannya... Kenapa lingkaran?" Tanya Yuri.

Kotaro tertawa. "Aku pernah membaca sebuah kata mutiara. 'jika kau mencintai seseorang, taruh namanya dalam lambang lingkaran, bukan hati. Hati dapat hancur, sedangkan lingkaran akan tetap abadi selamanya.' Aku percaya itu, jadi aku... Yah, kamu tahu kan?" Yuri tertawa mendengarnya.

Dia lalu bersandar di bahu Kotaro. "Jadi... Kapan?" Kotaro terlihat kaku untuk beberapa saat. "Aku tahu tidak dalam waktu dekat... Tapi, beri kepastian dong..." Goda Yuri. Kotaro terlihat sedang menghitung-hitung. "Sudah-sudah. Ayo, kita sarapan." Mereka membuka pintu kamar, mendapati Sakura sedang merekam dengan handycam.

Keributan pun kembali terjadi.

45 menit kemudian.

"Kalian tidak apa-apa pergi telat?" Seru Yuri dari dalam dapur. Mereka telah sarapan, dan Kotaro sudah berganti pakaian seragam.

"Sedang ada persiapan festival, tidak apa-apa..." Jawab Sakura Dari kamarnya. Kotaro sedang duduk di ruang keluarga sekarang.

"Sakura, cepatlah... Kita akan tetap kena marah kalau... Sebentar." Dia mengangkat ponselnya. Dia terdiam sesaat. Sakura dan Yuri melihat ekspresinya berubah.

"Ada apa?" Tanya Sakura was-was. Kotaro memegangi kepalanya seakan dia baru saja dihantam palu.

"Apa ini... Bukan hal jelek katanya... Kenapa bikin ribut di saat begini... Sakura! Kita berangkat! Yuri, kalau mau tahu tanya kakakmu." dia segera pergi. Sakura mengikuti dengan segera.

Sasuke, di tempat lain...

Sasuke berjalan dengan tenang melewati lorong sekolah. Dia berencana untuk meminjam rancangan kedai yang dibawa oleh Lee untuk ditinjau, saat dia melihat kerumunan siswa berkumpul di depan papan pengumuman. 'Ada apa? Semuanya kok terlihat resah dan kesal?' dia ikut masuk kerumunan.

Saat akhirnya berdiri cukup dekat, dia melihatnya. Itu bukan pengumuman, melainkan poster. 'Survival war? Memperebutkan 'best spot'... Oh, pantas saja... Alih-alih memilih dari sekian banyak kandidat, pihak sekolah malah mengadu mereka, ya... Pintar juga...' Sasuke membaca lebih jauh. '...Seperti pertarungan antar tim, dengan menggunakan senjata sejenis paintball...' dia kembali melanjutkan.

Tim utama: 1. Tim Alpha. Pemimpin, Hyouga Fuyuno, Kagerou Natsuno

2. Tim Omega. Pemimpin, Kotaro Itsuki, Sasuke Uchiha

Tetap diperbolehkan membentuk tim diluar tim utama.

Sasuke tidak meneruskan membaca. Dia mengulang membaca bagian tim, berharap dia salah lihat. Tiba-tiba, dia merasakan pandangan seluruh orang tertuju padanya. Dengan instingnya, dia segera berlari menghindar. Dan, seperti perkiraannya, sisa pelajar disana mengejarnya dengan ratusan pertanyaan.

Setelah lepas dari pengejarnya, Sasuke segera menghubungi satu-satunya orang yang dia tahu juga terlibat. "Kotaro Itsuki... Cepat angkat telponnya... Aku sekalipun, cepat atau lambat pasti akan tertangkap..."

Akhirnya, mereka bertemu. "Sori, Aku sedang naik motor. Dari ekspresimu... Kamu juga sudah tahu ya?" Kata Kotaro. Mereka kini ada di atap sekolah, bersembunyi. Sakura, yang telah diberi tahu dalam perjalanan, menatap iba pada Sasuke.

"Aku dikejar-kejar orang seluruh sekolah, karena poster sial itu. Apa yang mereka rencanakan..." Sasuke menghela napas dan bersandar pada pagar besi.

"Walau kita protes sekalipun, rencana ini sudah disahkan kepala sekolah... Dan lagi, nama kita sudah tertera di poster di seluruh sekolah. Pilihannya, tinggal ikuti permainan mereka. Kau tahu itu kan, Sasuke?" Kata Kotaro, seraya mengintip ke bawah lewat pintu.

Sasuke terdiam sesaat. Dia tenggelam dalam pikirannnya. "...Aku tahu. Kamu... Oh, kamu pasti bisa pakai senjata api ya..." Akhirnya, Sasuke berbicara. Kotaro menyeringai kecil, mendatangi Sasuke. Sakura ikut mendekat.

"Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Kotaro. Sasuke terdiam sebentar.

"Di peraturan tidak dituliskan bahwa orang yang direkrut harus dari sekolah. Mungkin... Kalau kita bisa mendapat orang yang mahir dari luar... Soalnya, mereka juga pasti memakai orang yang terbiasa turun dalam perang. Veteran atau semacamnya..." Sasuke berbicara sambil berpikir cepat.

Kotaro menyeringai makin lebar. "Yang mereka lupakan, kenyataan bahwa kau adalah orang pintar. Dan aku yang memiliki koneksi untuk semacam itu. Tenang saja, soal rekrutan dari luar, serahkan padaku. Kau urus untuk yang di dalam sekolah."

Diskusi mereka terpotong oleh pengumuman yang memberitahu mereka untuk berkumpul di ruang pertemuan kepala sekolah. Dengan enggan, mereka melangkah menuju ruang kepala sekolah.

Ruang pertemuan kepala sekolah.

"Baik, karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai rapatnya," Suara tegas Tsunade menghentikan pembicaraan anggota rapat. Selain para guru, semua yang terliat dalam acara tersebut juga hadir. "Seperti yang kalian ketahui, acara ini bukanlah sesuatu yang biasa perguruan ini lakukan tiap tahunnya. Namun, karena keluhan para guru tentang para pelajar yang mulai memanas membuat saya selaku kepala sekolah harus mengambil tindakan segera.

Untungnya, Saudara Kagerou, penyelenggara acara ini, menawarkan ide menarik. 'kalau mereka sangat menginginkannya, kenapa tidak dipertandingkan saja.?' Ide brilian ini langsung saya sambut dengan tangan terbuka. Tak ada yang akan protes jika kalah, karena pertandingan ini diselenggarakan secara adil. Ditambah lagi, ini cukup baik sebagai pelepas stress mereka. Atas dasar alasan itulah, saya bekerja sama dengan Four Season Corp. Untuk menyelenggarakan 'Survival War: Can You be The Last?'" Semua bertepuk tangan atas sambutan Tsunade.

Setelah itu, pembicaraan lebih kepada persiapan tempat, akomodasi dan peralatan, hingga Hyouga tiba-tiba berkata "Kotaro, siapa saja yang ada di tim bertahan Omega?" Kotaro menatapnya bingung. "Kamu tidak menyimak ya? Sistem permainannya attack at the base. Tim kami, Alpha akan merebut markas secara gerilya, sedangkan tim Omega akan mempertahankan markas." Sasuke nyaris menumpahkan jus yang diminumnya.

Kotaro dan Hyouga saling tatap beberapa saat. "…Sialan. Ini yang kau incar ya?" Jawab Kotaro dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Hyouga menyeringai. "Siapa saja?" Tanya Kotaro.

Hyouga terdiam sejenak. "Beberapa orang tua… Kau kenal baik mereka… Dan sepertinya, sebagian besar dari siswa disini." dia menjawab dengan seringai anehnya. Kotaro menghela napas panjang. Dia segera minta waktu sebentar. Sakura dan Sasuke ikut bersamanya.

Sesampainya diluar, dia segera membuat conference call dengan menggunakan komputer sekolah. Dia hanya mengatakan satu hal. "Aku butuh bantuan kecil. Kumpul di tempaku." Sasuke bertanya, namun dia hanya menjawab "Kawanan kecil."

'Kawanan kecil?' pikir Sasuke. 'Ah, terserah dia saja.' Sepertinya, orang-orang itu cukup penting, karena air muka Hyouga berubah saat Kotaro mengumumkannya di rapat.

"Terima kasih atas partisipasinya. Mengenai jumlah orang yang nantinya akan bergabung, dapat dikonfirmasikan sebelum tanggal 15." Tsunade menutup rapat dengan senyum manis yang jarang dia tunjukkan, yang justru membuatnya terlihat menyeramkan.

Sasuke akan segera pulang saat Sakura menarik lengannya. "Err... Sasuke, kamu mau datang nanti sore? Di rumah ada pesta perayaan, jadi..." Sakura berkata dengan wajah tersipu. Tangan Sasuke, yang melawan pikirannya sendiri, nyaris mengelus kepala Sakura. Menenangkan diri, dia bertanya. "E-ehm, Pesta perayaan apa?"

"Selamat Atas pertunangan kalian!" Semua bersorak saat Kotaro pulang. Dia erdiam sesaat, lalu tersenyum. Seluruh anggota keluarga Sakura plus para sepupu, anggota klub chinese martial arts, juga teman kecil Sakura, yang juga teman Kotaro berkumpul di kediaman Haruno.

Mereka mendorong Yuri yang malu-malu untuk mendekat kepada Kotaro. "Pose mesra! Pose mesra!" Kata wanita berambut merah yang memegang kamera itu. Yuri yang sudah bersemu merah membenamkan wajahnya ke tubuh Kotaro. Semua Wanita ber'Aaawww...' ria.

Naruto segera mendekati wanita itu. "Nanti saja, kak Hotaru. Kita makan dulu." Hotaru Uzumaki diam sejenak, lalu memberi tatapan hina pada Naruto. "Kenapa? Aku lapar berat!" protes Naruto.

Mereka pun akhirnya memulai pesta. Seperti yang diduga, kehadiran sepasang Uzumaki membawa keributan sekaligus tontonan menarik. "Kakak, Dia bisa mati..." Hinata dengan sabar melerai mereka, saat Hotaru memiting Naruto hingga wajahnya menjadi keunguan. Nadeshiko segera memanggil Hotaru untuk proyek fotografi, sementara Hinata mengurus Naruto.

"Ramai sekali, ya?" Kata Sasuke pada Sakura. Sakura mengangguk. Mereka duduk di sudut ruang keluarga yang telah disulap menjadi ruangan pesta. "Eh, lihat!" Kata Sasuke. Mereka melihat Yuri dan Kotaro berdua di halaman samping, duduk di kursi berlengan panjang yang dinaungi pepohonan.

Yuri bersandar pada bahu Kotaro. Mereka hanya berbicara, namun seakan ada atmosfer khusus yang membuat orang-orang yang melihatnya tak mampu melepas pandangan mereka. Tanpa sadar, Sasuke dan Sakura saling mendekat. Saat menengok, wajah mereka sudah berjarak beberapa senti lagi. Sasuke menelan ludah, dia semakin tak mampu membendung keinginan hatinya yang berlawanan dengan akal pikirannya.

Sakura sendiri malah bersemu merah. Jantung keduanya berdetak kencang. Lalu, hal itu pun terjadi. Naruto berkelahi lagi dengan Hotaru, menendang segala macam benda. Salah satunya, teko melamin kosong melayang menghantam kepala Sasuke.

DHUUK

"Ukh!"

"Sasu-mph!" Mereka terjatuh berdua. Sakura terdiam, dia tak mampu melakukan apa-apa setelah apa yang terjadi. Dia hanya mampu menatap wajah putih pucat yang tak sadarkan diri itu dengan pandangan kosong.

'Lembut... Apa ini...?' Sasuke kembali ke kesadarannya. Saat dia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah sepasang mata emerald yang menatapnya tidak fokus. Dia pun menyadari, sesuatu lembut yang dirasakan bibirnya adalah bibir Sakura. Dia segera bangkit, lalu membantu Sakura yang masih diam untuk duduk di teras samping. Dia memandang sekeliling. 'Syukurlah tak ada yang tahu...'

Sakura menghela napas panjang, membuatnya tersada dari lamunannya. "Sakura, kamu tidak apa-apa? Maaf, tadi..." Sasuke tak bisa melanjutkan, dia hanya terdiam dengan wajah merah.

"...Apa kamu menyesal, berciuman denganku?" Tanya Sakura tiba-tiba. Sasuke langsung panik.

"Tidak! Eh, maksudku... Err... Anu... Itu... ...Tidak..." Dia memalingkan wajahnya yang semerah tomat. Sakura tertawa kecil.

Dia berbisik pada Sasuke. "Kita rahasiakan ini dari kakak, oke?" Sasuke mengangguk. Dia lalu memegang bahu Sakura.

"Sakura... Err... Bagaimana kalau kita pacaran? Aku-aku... Suka kamu..." 'Akhirnya kukatakan juga!' Kata Sasuke. Sakura terkejut, dia terdiam sesaat. 'Tolong jawab ya!' batin Sasuke.

"...Baiklah... Tapi, sebaiknya tidak memberitahu yang lain dulu, ya? Mereka suka usil..." Sakura menjawab dengan senyum lembut. Sasuke, untuk pertama kalinya, tersenyum lembut.

Dari kejauhan, Hotaru memotret mereka. Hinata dan Naruto juga melihat mereka. "Instingku bagus, kan kak?" kata Naruto bangga. Hinata tertawa kecil mendengarnya.

"Berat kuakui... Tapi, kamu memang cukup peka dalam beberapa hal, bocah. Aku jadi ingin tahu, hubungan macam apa yang bakal terjalin..." Kata Hotaru, memasukkan film baru ke kameranya.

"Hubungan rahasia, kalau dilihat dari tabiat kakak-kakak Sakura." Hinata menjawab. Hotaru mengagguk-angguk.

"Sudah ah. Ayo Hinata, Kita pulang. Aku bisa dibunuh Neji kalau mengantarmu pulang telat hari ini." Naruto mengamit lengan Hinata, dan melenggang pergi. Hotaru mengambil satu foto lagi, lalu mengikuti Naruto pergi.

Akhirnya, Sasuke dan Sakura Jadian~!

Halangan apa yang menghadang mereka?

Tungguin chapter berikutnya...

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.