JUST YOUR ORDINARY ROMCOM STORY

A Beelzebub Fanfiction Story by Maplerivers

Chapter 10

Pastikan anak-anak anda selalu di bawah pengawasan anda, dan jangan lupa selalu memakai sabuk pengaman.

~00~

Hari ini adalah hari Jum'at, hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Furuichi. Karena hari ini dia akan pergi berkencan. Memang sebuah kenyataan mengejutkan, tapi ternyata di Ishiyama ini masih ada yang mau dengan pemuda rambut putih itu. Dengan baju yang sudah rapi dan tentu saja wangi, Furuichi menunggu bus yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya dengan bersiul dengan riang. Kali ini dia yakin hari ini akan berjalan dengan lancar karena dia sudah memastikan bahwa seseorang yang dia kenal sedang sibuk menjaga bayinya yang berambut hijau itu. Furuichi yakin 100% bahwa kencannya kali ini akan berhasil bukan saja karena Tatsumi Oga tidak akan menghalangi jalannya tapi juga berandalan-berandalan kurang kerjaan lainnya yang bisa saja muncul tiba-tiba telah dipastikan tidak akan menganggunya, dia sudah memilih tempat khusus untuk kencannya kali ini.

Furuichi mengecek ponselnya sekalian melihat jam, busnya akan datang dalam beberapa menit lagi. Pemuda itu masih terlihat riang gembira tidak menyadari bahwa nasibnya akan berubah drastis beberapa saat lagi. Dia tidak tahu apa yang akan sebentar lagi menimpanya dan menghancurkan hari sempurnanya. Bukan, bukan ternyata teman kencannya adalah penipu yang akan menguras dompetnya dan ternyata adalah operator Mama minta pulsa, Author masih punya belas kasihan untuk tidak menambah penderitaan Furuichi.

...

Kalau bisa dibilang dan ada yang mau berbagi cerita dengannya, pasti pria paruh baya berkacamata itu akan bilang bahwa hari ini adalah hari teraneh sepanjang hidupnya. Yah meskipun memutuskan untuk mengadu nasib di Ishiyama berarti menyerahkan hidupmu dengan semua keanehan didalamnya, tapi supir bus yang sudah bertahun-tahun menjelajahi jalanan Ishiyama itu sangat yakin hari ini adalah yang paling aneh.

Keanehan pertama adalah, hari ini jalanan sepi. Dia sudah mengecek kalender dan memastikan ini bukan tanggal merah, bukan pula hari ini akan ada acara besar di salah satu sudut Ishiyama.

Keanehan kedua adalah penumpangnya sangat sedikit, biasanya pada jam-jam tertentu bus akan penuh dengan penumpang yang pulang sekolah, atau mau pergi kencan. Mungkin karena efek jalanan sepi, bahkan anak-anak berandal yang biasanya berulah di busnya juga tidak ada, itu sangat aneh. Mengingat salah satu sekolah dengan rating 120% anak nakalnya ada di kota ini.

Keanehan ketiga adalah penumpang yang sekarang ada dalam busnya. Sepasang Ibu dan anak dengan warna rambut seperti permen kapas, Pak supir itu mengira mereka adalah Minky Momo dan Mamanya. Dan sekelompok orang dengan pakaian serba hitam dan berkacamata hitam yang naik bersama dengan pria seumurannya dengan rambut hijau gelap. Pak Supir itu kadang heran dengan apa yang akan terjadi pada Jepang kalau orang tua saja juga ikut-ikutan main cosplay.

Pria rambut hijau itu duduk di bangku yang ditengah, sementara gadis kecil berambut pink dan ibunya duduk di bangku paling belakang. Para Bodyguard dari pria rambut hijau itu tersebar di semua tempat duduk bus. Pak Supir itu terheran-heran dengan fakta bahwa ada orang sepenting itu yang masih mau naik bus.

"Waah, naik bus ternyata menyenangkan ya, bisa melihat pemandangan sepanjang jalan," pria dengan rambut hijau itu berkata. Sebenarnya dia ngomong sendiri, para bodyguarnya sedang sok sibuk dengan tugas masing-masing.

"Kalian tahu sudah lama sekali aku naik bus sejak aku memulai bisnisku dari bawah, sejak kapan ya?" Suara pria rambut hijau itu sedikit lebih keras dari yang seharusnya, "ah aku tidak ingat, eits tunggu, aku memang tidak pernah memulai dari bawah, Hahahahah, makanya aku tidak ingat. Yah aku memang terlahir kaya sih, kalian kan tahu itu," Pak Supir itu 'sweatdrop' dalam hati.

Tiba-tiba terdengar nada dering polyponik dari lagu 'Kokoro no Tomo'. Pria itu kemudian melihat siapa yang menelponnya. "Angkat ini, pasti si orang tua itu, mau ngomel-ngomel lagi,"

"Dengan segala hormat, Master. Tapi saya tidak berani," Bodyguardnya yang duduk disebelahnya menolak. Apapun yang pasti jangan langsung mengambil apa yang diberikan Masternya langsung dari tangannya. Itu lebih bahaya daripada jebakan tikus.

Tidak ada yang tahu pasti bisnis mengerikan apa yang dijalankannya, hanya rumor yang beredar bahwa Pria berambut hijau itu sangat berbahaya.

"Ah gak asik lo, kupecat loh nanti," katanya, masih dengan nada tinggi. Dia kemudian menjawab teleponnya.

"Moshi-moshi, Kuis siapa cepat dia dapat, katakan Passwordnya," dengan suara yang dibuat-buat Pria itu menjawab. Bahkan Pak Supir itu yakin, bodyguarnya juga sudah 'sweatdrop' berjamaah.

'Master tolong katakan di mana anda sekarang, dan kami akan menjemput anda. Anda tidak seharusnya pergi kesembarang tempat, anda tahu anda orang yang penting,' Pria berambut hijau itu berkomat-kamit, bibirnya menirukan omongan orang diseberang telepon.

"Ya..ya, aku tahu kamu akan berkata seperti itu, aku juga sekarang menuju hotel, jadi jadilah anak yang baik dan tunggu ayah pulang ya," Pria berambut hijau itu lalu menutup teleponnya, tidak menunggu respon dari manajernya yang sudah kebingungan dari tadi mencarinya. Heran deh, kenapa sih orang-orang itu bawel sekali, dia adalah orang yang berada di belakang segala 'bisnis'-nya, apa yang mereka takutkan sih sebenarnya.

Dan gak kaya dia butuh semua bodyguardnya ini juga, kalaupun dia butuh, dia membutuhkan bodyguardnya untuk melindungi orang-orang awam dari orang sepertinya. Pria itu menghembuskan nafas, alasan satu-satunya kenapa dia mau ke kota kecil ini untuk mengurusi 'bisnis'-nya adalah karena juga dia ingin mencari seseorang. Dia orang besar dan penting dia bisa saja mengutus bawahannya untuk mengurusi 'bisnis'nya ini dan bermain Nintendo Wii, tapi dia ingin turun tangan kali ini untuk memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Pria berambut hijau itu menyenderkan kepalanya, melihat pemandangan yang berjalan. "ah, aku bukan kakek yang baik.." gumamnya sebelum menutup mata, melewatkan Oga dan Baby Beel yang berjalan di pinggiran pertokoan.

...

"Ma, bukannya kita harus bersiap-siap turun mulai sekarang?" tanya gadis kecil berambut pink kepada ibunya. Ibunya tersenyum dan mengangguk, bangga dengan kecerdasan Lamia. Namun meski demikian Laymia terlihat enggan untuk bersiap-siap turun. Alasannya satu, dia tahu siapa pria berambut hijau itu.

"Ayo Ma, udah deket halte loh..!" Lamia sudah mulai menarik-narik ibunya supaya bergegas. Dan karena anaknya itulah, bodyguard-bodyguard Pria berambut hijau itu malah menoleh ke arahnya, padahal dia benar-benar berharap bahwa dia bisa keluar dari bus itu tanpa diperhatikan.

"Hey.. Laymia-san, hey hey! Ohisashiburi... wah kebetulan kita bertemu di sini.." suara riang dari pria yang benar-benar ingin dihindarinya itu malah semakin membuat para bodyguardnya semakin memojokannya.

"Ah,, Hisashiburi.."

"Wah, kok bisa ya kebetulan bertemu disini, jangan-jangaan..." Pria itu sengaja menggantung kalimatnya

"Ah, t-tidak.. Saya kesini bukan untuk bekerja, saya tidak menemui Behemoth-san kok, sa-saya.."

"Heh? Padahal kan aku mau bertanya jangan-jangan kamu mau ke Ishiyama Land bersama dengan anakmu.. Ehm, apa itu berarti Behemoth-san juga ada kota ini?"

Kalau saja hatinya bisa berteriak dengan keras, pasti Laymia sudah berteriak 'Shimatta..!'. Wanita paruh baya itu kurang berhati-hati dalam bicara, dia harus sering mengingatkan seberapa berbahayanya Pria berambut hijau ini. Kemampuan menginterogasinya diatas rata-rata.

Sekretaris Behemoth itu hanya bisa tergugup tidak bisa menjawab pertanyaan dari Pria itu.

"Kalau dia disini bisa aku ajak main mahjong. Oh iya, ini anakmu ya? Awh, lutunya.."

Lamia sudah tahu pria ini tidak seperti pria normal kebanyakan ketika melihat ibunya yang biasanya tenang itu berbicara dengan tergugup dengannya, namun dia tidak mengira dia se-abnormal ini.

"Kalau begitu s-saya harus segera bersiap-siap, saya turun di halte berikutnya," kata Laymia, namun para bodyguard itu bergeming. Laymia sedikit terheran-terheran.

Sementara, para bodyguard itu dengan tenang tetap di posisi masing-masing, tidak berniat mempersilakan wanita berambut merah muda itu. Mereka telah dibriefing oleh manajer sebelumnya bahwa orang bernama Behemoth itu mungkin merencanakan sesuatu yang berbahaya bagi Master mereka, jadi mereka tidak akan dengan mudah mempersilakan pergi orang yang jelas-jelas mengetahui posisi Behemoth. Meskipun Master mereka sepertinya tidak tahu bahaya yang mengancam, atau memang dia pura-pura tidak tahu.

Bus sudah berhenti di Halte. Seorang penumpang terlihat memasuki bus itu, meskipun Pak Supir sudah berusaha keras memperingati penumpang itu untuk tidak usah ikut naik, namun sepertinya tidak berhasil. Pak Supir harusnya lebih tahu bahwa memperingati orang dengan membatin perkataannya sama sekali tidak efektif.

Furuichi Takayuki bermata bola ketika menyadari situasi macam apa yang telah dimasukinya. Bodyguard pria berambut hijau yang seluruhnya berjumlah 6 orang itu seketika melotot memperhatikan Furuichi yang cengoh itu.

Melihat adanya sedikit kesempatan untuk segera meninggalkan bus itu, Laymia dan anaknya akhirnya memutuskan untuk kabur dari tempat itu. Tapi karena satu dan lain hal yang author sendiri tidak punya kekuatan untuk menuliskannya, Lamia terjatuh dengan posisi yang aneh sekali. Melibatkan Furuichi yang tangannya kemana-mana( maksudnya menempel di dada Lamia yang rata itu) dan para bodyguard yang tangannya menodongkan senjata api.

"LAMIA..! KESUCIANMU TELAH TERNODA NAK...!"

Furuichi tahu dia seharusnya tidak boleh merutuki Oga terlalu sering.

...

Hari ini Oga Tatsumi merasa sangat senang. Mungkin karena sudah weekend dan banyak hal berjalan lancar selama beberapa minggu ini.

Dia mengambil rute pulang yang lebih jauh dari biasanya, sekalian mengajak Baby Beel berjalan-jalan dan melihat-lihat kota. Bayi itu terlihat semakin menggemaskan saja, pipinya terlihat lebih chubby dan dia sangat riang. Dan Oga senang bayi itu sudah tidak membuat ulah macam-macam lagi.

Setelah membeli kroket tinju kesukaannya dia kemudian berhenti di sebuah kios majalah. Dia kemudian mengambil sebuah majalah anak-anak. Satu hal menggembirakan lagi dari Baby Beel, bayi itu memang tambah pintar.

"Naa Baby Beel, bagaimana bunyi neko?" tanya Oga sambil menunjuk gambar kucing.

"Nya~n..nya~n.."

"Pinter!" Oga kemudian mengusap-usapkan hidungnya ke hidung mungil anaknya. "Kalau... Inu..?"

"Wan!"

"Pinternya anak ayah!" Oga mengusap-usap hidungnya ke perut Baby Beel membuat bayi itu kegelian. "Kalau kuma..?"

Baby Beel terlihat mencopot kempongannya lalu mengerucutkan bibirnya, membuat Oga sedikit keheranan. Bayi itu lalu mengangkat tangannya dan menirukan gerakan beruang yang ingin mencakar, "Raw..!" hentak bayi kecil itu. Oga tertawa gemas melihat ulah anaknya.

Oga kemudian meletakkan majalah anak-anak itu ketempat semula, dia lalu mengayun-ayunkan Baby Beel membuat bayi itu kegirangan. Namun, sekilas Oga seperti melihat bayangan Hilda yang berontak dari dalam sebuah mobil hitam. Oga memperhatikan dari kaca etalase sekelebat rambut pirang yang sangat dia kenal. Dia lalu menoleh dan sempat melihat gambaran mobil sedan yang kemudian berbelok di sebuah tikungan.

"Hilda!" tanpa basa-basi lagi Oga langsung berlari mengejar sedan hitam itu setelah meletakan Baby Beel di gendongan belakangnya. Dia punya firasat buruk tentang hal ini.

Oga terus berlari tak menghiraukan apapun yang menghalangi jalannya. Dia tidak ingin kehilangan jejak sedan itu. Tidak mau lagi kehilangan jejak Hilda.

Pemuda itu berlari sekencang mungkin tanpa menyadari sekelilingnya, bahkan dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berada di jalannya. Tabrakan pun tak bisa dielakan. BRUK!

"Woi lihat-lihat dong, punya mata buat apa? Kamu mau ngajak berantem apa, hah?" Demi apa Oga harus bertemu manusia ini di situasi genting macam ini. Tojo Hidetora yang kebetulan sedang mengusung kayu-kayu dari tempatnya bekerjalah orang yang Oga tabrak.

"Woa! Kebetulan ini Oga, ayo kita selesaikan sekarang saja Oga..!" serunya.

"Enggak Tojo, aku lagi buru-buru," kata Oga sambil berusaha melewati Tojo.

"Oh kamu sekarang jadi penakut, Hah jadi ini aslinya Oga..." kata Tojo meremehkan, berusaha memancing emosi Oga.

"Sialan, siapa bilang aku penakut, aku bisa saja meladenimu sekarang, tapi tidak. Aku harus mengejar sedan itu...!" jawab Oga sedikit terpancing emosinya, sungguh dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni omong kosong ini.

"Memangnya kenapa dengan sedan itu, dia jualan eskrim apa?" tanya Tojo, masih tidak mengerti kalau Oga terburu-buru.

"Istr-eh, belum. Paca-eh bukan juga. Hild-eh kamu ga kenal pasti. Err.. Ibu Baby Beel diculik, sialan. Susah banget sih mau nyebut Hilda saja," kata Oga meracau gak jelas.

"HAHHH? DI-CU-LIK..?" tanya Tojo benar-benar terkejut, meskipun ekspresi berlebihannya mirip dengan pemain sinetron baru tapi Tojo benar-benar kaget. "Kalau begitu kita harus mengejarnya Oga!" Oga yang diajaknya malah heran. Kenapa dengan Tojo, dia pikir dia punya kekuatan super apa, punya kewajiban menolong orang yang sedang kesusahan.

Oh oke, mungkin memang aku perlu bantuan mengatasi ini, Tojo mungkin memang bisa berguna, pikir Oga sambil mulai berlari mengejar Tojo yang sudah berlari duluan. Oga berusaha keras mengejar Tojo yang berlari kencang didepannya, pemuda itu keheranan ketika lama-kelamaan dia merasa lebih berat beban yang dibawanya. Perasaan Baby Beel tidak pernah seberat ini. Baby Beel memang akhir-akhir ini banyak makan tapi gak kaya Baby Beel abis makan beton sampai seberat ini, pikir Oga. Pemuda itu akhirnya menoleh memastikan Baby Beel belum berevolusi menjadi makhluk lain.

Oga menghembuskan nafas ketika Baby Beel masih seperti sedia kala, tapi kemudian dia menoleh untuk kedua kalinya untuk memastikan tali apa yang sepertinya terikat digendongan Baby Beel. Ternyata tali itu adalah tali yang terikat ke dua buah ban yang entah sejak kapan terikat di gendongan itu.

"Baby Beel apa ini...?"

"Abuhabuu.." Oga yang sekarang sudah lumayan mengerti apa maksud celotehan Baby Beel memandang dengan tatapan tidak percaya ke bayi itu. 'Bannya ingin ikut, jadi kuajak,' mungkin seperti itu, kurang lebih artinya.

"Wat." Oga yang tahu dia sudah ketinggalan jauh dengan mobil dan Tojo langsung buru-buru melepas tali itu. Mengabaikan rengekan Baby Beel. Dia kemudian meneruskan pengejarannya. Namun karena sudah ketinggalan jauh, Oga jadi tidak mengetahui arah mana yang seharusnya dia tuju.

"Baiklah Baby Beel, aku mengandalkanmu.." dia kemudian mengambil Baby Beel dari gendongannya dan memulai ritualnya, menjadikan Baby Beel radar. Bayi itupun segera mengeti maksud ayahnya. Dia kemudian merentangkan tangannya dan menutup kedua matanya, berkonsentrasi dengan semua tanda-tanda alam –yang hanya bayi itu yang tahu.

"Abuuh!" dengan pasti bayi itu menujuk arah selatan.

"Baiklah ayo kesana," kata Oga, tidak menyadari dia berbalik arah dari yang seharusnya. Baru beberapa langkah Oga tersadar, "Baby Beel kamu yakin? Kita balik arah loh ini.." tanyanya.

"adahbujah.. da.."

Kembali Oga menatap putranya itu dengan tatapan tidak percaya, 'kita ambil lagi dulu bannya ya?' begitu kira-kira maksud Baby Beel.

"Baby Beel..! ah terserah!" jerit Oga frustasi lalu berbalik arah, mengira-kira sendiri arah perginya mobil dan Tojo. Setelah kira-kira berlari cukup jauh dan tidak ada tanda-tanda Tojo maupun mobil hitam itu, Og berhenti sebentar untuk sekadar menghirup nafas, dia terengah-engah dan paru-parunya serasa ingin terbakar. Dipejamkannya matanya saking frustasinya dengan kebodohannya yang tak mampu mengejar penculik itu.

"Yo Oga," sapa seseorang. Oga memutar matanya menyadari siapa yang memanggilnya. Himekawa Tatsuya dan tunangannya yang crossdressing itu, Oga agak lupa namanya. Ternyata Oga telah berhenti didepan Hotel & Apartement milik Himekawa. Oga agak tidak mengenali gedung itu, setelah hampir menghancurkannya dulu, gedung itu direnovasi sehingga Oga tidak mengenali bentuknya.

"Kamu kenapa kok ngos-ngosan gitu?" tanya Himekawa.

"sudah lah tidak usah ikut campur," jawab Oga dingin.

"Oh, oke. By the way, kamu lagi kejar-kejaran ya sama Tojo, aku tadi juga ketemu dia di basement, ngos-ngosan juga"

"KUBILANG TIDAK USAH IKUT CAMPU-Eh apa? Kamu ketemu Tojo?"

"Iya." Jawab Himekawa singkat, saking singkatnya membuat Oga tidak percaya dengan omongan Himekawa.

"Kalau kau tidak percaya dengan Tatsuya, aku juga melihatnya, manusia mirip beruang itu kan? Dia bertanya apa aku melihat mobil mencurigakan yang seperti truk jualan eskrim," kata Kugayama Ushio meyakinkan Oga. Memang benar sih, kebanyakan truk jualan eskrim mencurigan tapi kan mobil yang dicari Oga itu Sedan, Sedan Mercedes Benz hitam mengkilap yang bisa kau gunakan untuk mengaca.

"Wat. Dasar bodoh, dia tidak akan menemukannya, ah aku benar-benar kehilangannya sekarang, kukira Tojo berhasil mengejarnya.." gerutu Oga.

"Apa sih?" tanya Himekawa sedikit penasaran dengan permainan kejar-kejaran Oga dan Tojo.

"jadi gini, aku lagi mengejar mobil yang... menculik Hilda, mattaku, emangnya aku bilang yang menculik truk eskrim ya," kata Oga, dia masih ngos-ngosan.

"menculik?" Kugayama sedikit terlonjak dengan kalimat dari Oga, "Tatsuya, jangan-jangan... mobil yang tadi..."

"Apa kalian tahu sesuatu? Atau malah kalian melihat sedan hitam yang seperti mencurigakan?"

"Sedan hitam? Benar Tatsuya, dan sepertinya gadis yang berontak itu yang dimaksud Oga ini," kalimat dari Kugayama itu langsung memberikan secercah harapan bagi Oga.

"Umm... kami tadi di basement lihat ada gadis yang diseret-seret gitu dari Mercy," kata Himekawa

"Be-benarkah? Benarkah itu Himekawa, ka-kau bisa- kau, bisa melacaknya kan? Iya kan?" tanya Oga terbata-bata, saking senangnya dengan penemuan ini.

"Um.. gimana ya..." nada yang sangat mengesalkan keluar dari mulut Himekawa, hampir saja Oga menonjoknya kalau saja Oga tidak ingat Himekawa adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya, "katanya gak usah ikut campur.." kata Himekawa sedikit mengetes kesabaran Oga.

"aa.. wat.. em, oke kuminta kali ini Himekawa, bantu aku. Tolong,"

"Da bu da," Baby Beel tiba-tiba menarik-narik baju Oga, sepertinya Baby Beel ingin menunjukan sesuatu.

"Bentar Baby Beel, ya Himekawa.. em" Oga bener-bener gak ahli soal minta tolong, "oke, aku janji gak bakalan menghancurkan gedung ini deh, kalo sesuatu terjadi nanti,"

"He? Karena kamu malah bilang gitu, aku malah semakin gak mau bantu. Aku yakin masalahmu ini pasti sangat gawat ya kan? Aku gak mau gedung ini rusak lagi.." kata Himekawa.

"Oh ayolah Himekawa, aku kan udah janji gak menghancurkannya, bentar dong Baby Beel," kata Oga, Baby Beel masih ngotot ingin menunjukan sesuatu. Ternyata bayi itu melihat sosok seseorang yang bersembunyi di pojokan lorong.

"Abuh da bubuh daah buu~" ucap Baby Beel, bermaksud memberitahu Oga bahwa ada orang yang mungkin bisa membantu menolong mereka menemukan Hilda dan penculiknya, Alaindelon.

"Please Himekawa.. bentar Baby Beel, kamu anak nakal. Diamlah sebentar"

"Emang siapa sih si Hilda ini sampai kamu meminta-minta gini?"

"Ibu Baby Beel," jawab Oga cepat-cepat

"Tatsuya, bantuan kenapa, kamu gak kasihan?" bujuk Kugayama, merasa kasihan dengan Oga.

"ini yang kubenci dari wanita," gumam Himekawa sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. "periksa CCTV, cari tahu mobil milik siapa yang tadi sempat membuat keributan di Basement," perintah Himekawa singkat, dan tak butuh waktu yang lama dia mendapat jawabannya.

"Orang yang kamu cari ada di penthouse lantai paling atas, kamu harus berterima kasih Oga," katanya lalu berbalik meninggalkan Oga dan bayinya diikuti oleh Kugayama yang langsung menempel dilengannya.

"ya emang aku kelihatan keren, gak usah deket-deket," kata Himekawa, Kugayama hanya cekikikan.

"Enak banget ya jadi orang kaya, tinggal pencet bla-bla-bla langsung ketemu, haahh," Oga menghembuskan nafas lalu menuju lift. Namun baru beberapa langkah dia berhenti. Baby Beel mengira ayahnya akan mendengarkannya kali ini. Dia yakin, Alaindelon punya saesuatu yang ingin diberitahukan, om-om besar itu dari tadi melambai-lambaikan tangannya pada bayi itu. Dia sempat berseri-seri, bayi itu janji tidak akan mengerjai ayahnya lagi.

"Tunggu, emang penthouse itu apakah ya?" gumam Oga. Baby Beel sweatdrop. "Yah, menuju lantai paling atas aja deh, nanti pasti ketemu. Yuk Baby Beel," hilang sudah harapan Baby Beel

"Deyooooo," Bayi itu merengek dengan dramatisnya melihat Alaindelon yang juga menggapai-gapai tangannya meskipun dia tetap berusaha tidak ketahuan. Bayi itu lalu memukul-mukul ayahnya karena kesal, Oga yang telah memasuki lift itu langsung heran dengan tingkah Baby Beel.

Saat pintu lift akan tertutup terdengar suara nyaring yang sepertinya memanggil orang didalam lift untuk menunggunya.

"Ah.. untung gak kejepit," kata orang itu. Oga yang tadi telah memencet tombol tunggu sedkit keheranan dengan penampilan Pria paruh baya itu, rambutnya hijau seperti milik bayinya. "Wari-wari, aku juga terburu-buru. Gak mau aku kelamaan nunggu lift selanjutnya, mangaf ya." Meskipun kata-kata dari pria paruh baya itu terdengar sangat menyebalkan di telinga Oga, pemuda itu tetap balas membungkuk ketika Pria berambut hijau itu membungkuk minta maaf.

Saat pria paruh baya berambut hijau itu kembali tegak, pria itu sedikit terlonjak dengan tatapan bayi yang memelototinya. Bayi yang punya warna rambut sama dengannya itu sepertinya sedang kesal.

"Beelze..."

..bersambung.


Muahahahaha. Ini chapter gantung, hahaaha.

Oke author mengaku kemarin-kemarin sempet blank dan ngambek ga bisa nerusin, tapi karena banyak yang ninggalin review positif, author kembali menghajar otaknya, maksudnya berfikir demi kelangsungan fik ini. Honto ni Arigato Gozaimasu, minna-san.

Buat Aika Nara-san dan Miyuki-chan, sayang saya gak bisa PM untuk menghaturkan rasa terimakasih saya. Buat para residen reviewer juga, muucih bingit. Eh serius loh, ini chapter yang sulit so far. Semoga gak ada yang bingung dengan alurnya, kalo bingung review aja (modus)

Oke, seeya next time minna-san.