Ehm, Ohayou, konnichiwa, kombanwa minna-san. Hehe, dengan wajah tanpa dosa kami kembali setelah mencampakkan story ini begitu lama. Maaf bagi reader-sama yang sudah kelamaan nunggu sampai-sampai feelnya jadi kurang berasa. Bagi yang lupa-lupa ingat sama story yang satu ini, harap re-read lagi ya chapter sebelumnya. Karena untuk meneruskan story ini pun para author harus baca lagi chapter 9 gegara lupa sama ceritanya :D
Sudah-sudah abaikan saja ocehan kami, happy reading minna-san!
Naruto is belongs to Masashi Kishimoto
Confused is belongs to Ayume Megumi
Don't like don't read, if you don't like but you read it, die first please.
3
2
1
Chapter 10 …
… is start from now on
.
.
.
.
Malam yang dinanti oleh seluruh mahasiswa Konoha University pun tiba. Dimana ospek hari pertama mereka dimulai. Tepat pukul 19.15 semua mahasiswa diwajibkan berkumpul di lapangan utama kampus.
Ospek kali ini masih ospek keseluruhan Konoha University, jadi seluruh mahasiswa baru di semua jurusan akan dijadikan satu tanpa ada penyekat antar jurusan. Tujuannya adalah agar mereka saling kenal. Karena meskipun mereka beda jurusan, tetap saja mereka dalam satu naungan di Konoha University. Setidaknya anggap saja keluarga baru, toh tidak ada salahya dan tidak ada ruginya mengenal teman satu kampus. Tidak hanya mahasiswa baru saja, panitia dari ospek ini juga diambil dari perwakilan semua jurusan yang ada di Konoha University.
Seluruh panitia ospek sangat menantikan saat-saat ini. Motif mereka mau repot-repot jadi panitia di ospek tentu sangat berbeda. Ada yang berniat membalas dendam mereka setelah dikerjai saat ospek tahun lalu, ada juga yang benar-benar berniat ingin menyumbang tenaga kepada pihak kampus, dan yang paling sering dijumpai adalah para senpai tampan yang haus akan kouhai barunya. Bagi mereka, siapa tahu ada kouhai yang menarik. Dan para kouhai tentu saja juga berpikir sebaliknya, siapa tahu ada senpai yang melirikku.
Tak salah jika mereka berpikir demikian, karena memang benar lumayan banyak juga senpai yang bisa dilirik. Terutama ketiga senpai hot yang katanya bersaudara itu. Karena ini adalah ospek keseluruhan kampus dan beredar kabar kalau ketiga senpai super cool itu jadi panitia ospek, para gadis yang menjadi peserta ospek sangatlah bersemangat menantikan waktu ospek tiba. Yaah, mungkin tidak semuanya menantikan malam ini, ada beberapa gelintir gadis yang takut setengah mati menghadapi malam ini. Tentu saja mereka takut karena pada pagi hari sebelumnya mereka telah membuat masalah di kampus. Gadis-gadis ini berasal dari fakultas kedokteran, jurusan yang seharusnya tidak boleh dan tidak pernah memberikan noktah merah.
Udara malam yang menusuk memasuki jendela ruang kamar tiga orang gadis, kamar ini adalah kamar milik Haruno Sakura, Hyuuga Hinata, dan Yamanaka Ino. Ketiganya memiliki kamar yang sama. Asrama putri kamar nomor 043, entah kebetulan atau tidak mereka disatukan dalam satu ruangan. Itu membuat Sakura sedikit lega, karena gadis ini mengira akan tinggal sendirian di Konoha namun kebijakan kampus yang menginginkan semua mahasiswanya tinggal di asrama kampus membuat bebannya sedikit berkurang.
Sakura, nama gadis bermahkota pink lembut itu masih tertidur pulas di kasurnya. Padahal jendela kamar telah terbuka lebar dan gorden pun disibakkan. Sosok gadis yang namanya tidak asing di Negara Jepang tersebut masih saja meringkuk di kasur membuat temannya, si rambut pirang panjang dan dikuncir ke belakang, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Forehead, bangun!" teriak Ino kencang tepat di telinga Sakura.
Sakura menggeliat pelan, ia meregangkan tubuhnya yang kaku sembari menatap polos sosok Ino yang sudah kesal setengah mati. "Ah jam berapa ini?"
"Jam 18.55, dan kau tahu, masa ospek kita akan dimulai 20 menit lagi, tapi kau masih kusut dan bau seperti ini. Cepat mandi!" tegas Ino seraya meninggalkan Sakura yang mengerjap-ngerjapkan mata, ia tampak begitu kelelahan. Kemudian Sakura segera beranjak turun dari kasurnya dan bergegas mandi serta mempersiapkan perlengkapan ospek.
.
.
.
.
18 menit kemudian….
"Ino, dimana Hinata?" tanya Sakura ketika ia selesai berbenah dan mendapati Ino sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan berdiri di pinggiran pintu.
"Hinata menunggu di depan, kau terlalu lama. Kita bisa terlambat dan dihukum gara-gara kau, Forehead." jawab Ino ketus.
Tak menunggu lama, Sakura langsung berlari kecil menuju arah sahabatnya sejak SMA itu. "Gomen ne, aku benar-benar lelah. Kau tahu kan, aku jauh-jauh dari suna ke konoha. Dan aku belum istirahat sama sekali, Pig."
"Sudahlah, ayo! Hinata sudah menunggu di depan. Masih ada 2 menit lagi sebelum kita benar-benar terlambat." seru Ino menarik lengan Sakura cepat dan terkesan buru-buru. Sakura dengan sigap langsung menyejajarkan langkah kakinya dengan Ino.
Dan bunyi suara 'bummm' pada pintu menandakan kedua gadis itu telah keluar dari kamarnya menyusul satu teman lagi yang sudah menunggu di depan kamar.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan langkah yang tergesa-gesa dan sedikit dipaksakan, mereka bertiga berjalan di lorong-lorong kampus yang gelap, perjalanan tersebut terasa begitu panjang bagi ketiganya. Di tengah perjalanan menuju lapangan utama kampus, tiba-tiba terlihat wajah Hinata yang pucat pasi. Hal itu sontak membuat Sakura dan Ino sedikit khawatir dengan keadaannya.
"Kau kenapa, Hinata? Kau sakit?" tanya Sakura.
"A-aku tidak apa-apa kok, Sakura-chan." jawab Hinata lemas. "Kita harus cepat, karena sepertinya kita sudah terlambat. Ayo pergi." timpal Hinata lagi.
"Cih, salahkan ruangan asrama ini yang jauh dari lapangan utama. Kita kan jalan kaki, kalau saja ada lift otomatis disini." cerca Sakura tidak jelas sambil berjalan cepat. Gadis ini terlihat begitu kesal karena acara istirahatnya terganggu hanya karena kegiatan ospek yang menurut Sakura hal itu tidak begitu penting
"Kau ini ngomong apa, Forehead? Kita kan terlambat gara-gara kau. Dan lagi kita sudah membuat masalah tadi pagi. Aku yakin para iblis tampan itu tidak akan melepaskan kita, mereka akan membuat perhitungan dengan kita." omel Ino sambil menyeret tangan Hinata agar bias berjalan lebih cepat dan sebanding dengan Sakura.
Di benak gadis berambut pirang ini terngiang-ngiang kembali kejadian tak menyenangkannya dengan Sasori, salah satu mahasiswa yang paling berkuasa di kampus.
"Kau takut, Pig? Salahmu sendiri bisa-bisanya kau menampar pipi Sasori."
"Karena ia sudah keterlaluan, aku melakukan itu karena membelamu. Dasar kau tidak tahu berterimakasih forehead."
"Iya iya, gomen pig. Tapi kau tidak perlu menamparnya begitu, sampai saat ini aku masih menganggapnya sebagai kakakku."
"Kakak? Orang seperti itu kau anggap kakak?"
"Sudah-sudah jangan bertengkar, lebih baik kita cepat ke lapangan uta-" kata-kata Hinata terpotong oleh sesosok di depan mereka yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana.
Sontak saja ketiganya speechless, sampai sosok tadi berjalan mendekat. Tunggu, semakin dekat siluet orang itu sepertinya Sakura kenal.
"Kalian benar-benar tidak bisa berhenti berbuat masalah, hah? Bagaimana bisa kalian masih ada disini?" suara baritone yang sangat dikenali Sakura mampir begitu saja ke gendang telinganya.
Kaget, ketiganya pun langsung menegang melihat siapa orang yang berdiri di depan mereka saat ini. Sang pemilik uchiha airlines terlihat kesal sembari meletakkan kedua tangannya di depan dada.
"I-itachi, e-etto, kami…." mata Sakura melirik ke kanan dan ke kiri berusaha mencari alasan yang tepat.
"Aku bertugas untuk mengecek siapa saja mahasiswa yang terlambat pada malam ini, dan aku tidak menyangka akan ketemu kalian disini." ujar kakak dari Uchiha Sasuke sekaligus adik dari Akasuna Sasori ini.
"Gomenasai, senpai." ujar Hinata
"Aku mungkin bisa berlaku baik pada kalian tadi pagi, tapi tidak malam ini. Aku berusaha profesional disini. Kalian mahasiswa baru, dan harus menaati peraturan yang telah ditentukan. Aku tidak akan pilih kasih, sekalipun aku harus menghukum orang yang kusukai selama ini. Itu akan ku lakukan." ujar Itachi sembari menatap lurus ke arah mata Sakura. Hal itu membuat Sakura memalingkan wajahnya sesaat untuk menghindari tatapan langsung dengan onyx kelam tersebut.
Ketiga gadis di depan Itachi hanya bias diam. Benar juga, saat ini dia adalah panitia ospek, tidak mungkin dia mengampuni mereka. Sebab di awal ospek saja mereka sudah terlambat. Sakura memang paham karena selama ini keluarga besar Uchiha selalu profesional. Karena itu sudah ditanamkan oleh ayah mereka sejak kecil.
"Aku tanya jam berapa sekarang?" ujar Itachi kembali, sedikit ada penekanan pada kata 'jam berapa' di kalimatnya tadi.
"19.20 senpai."ujar Hinata.
"Jam berapa kalian disuruh berkumpul?"
"19.15 senpai."Ino segera menjawab.
"Sekarang kalian tahu apa kesalahan kalian?"
"Kami terlambat, tapi kami hanya terlambat 5 menit, Itachi." kata Sakura tegas.
"Itachi? Itachi kau bilang? Aku ini sebagai senpaimu di sini Sakura. Tidak sopan sekali kau memanggil namaku begitu saja." Itachi Nampak geram.
"Ta-tapi Ita… eh maksudku sen…" perkataan Sakura terpotong begitu saja.
"Jongkok sekarang juga! Lalu letakkan kedua tangan kalian di telinga. Cepat!" perintah Itachi.
Sakura dan yang lainnya pun segera mengikuti apa yang diperintahkan itachi tanpa membantah.
'Sial, kenapa harus hukuman fisik sih.' batin Sakura.
"Tidak kusangka mahasiswa kedokteran sangat tidak disiplin disini, kalian benar-benar mencoreng kredibilitas seorang dokter. Baiklah ikut aku ke lapangan utama tanpa merubah posisi, tidak ada yang ku izinkan jalan dengan berdiri." titah Itachi
"Apa? Kau keterlaluan, Nii-san. Kalau kita jalannya seperti ini kita akan semakin terlambat."
"Nii-san? Ku tegaskan sekali lagi padamu nona Haruno Sakura. Aku bukan kakakmu lagi. Ingat itu! Dan seperti yang kukatakan, kita sedang dalam masa ospek. Kau tahu harus memanggilku apa kan?" celoteh Itachi.
"Ck, ada apa dengannya? Padahal tadi pagi dia baik-baik saja dan membela kita. Sempat aku mengira ada seorang malaikat diantara para iblis, ternyata mereka sama saja." Gerutu Ino kesal.
"Aku dapat mendengarmu, nona Yamanaka."
"I-iya senpai, gomenasai."
"Hn." Itachi sedikit menyunggingkan bibirnya. Tersenyum, itulah yang terlihat dari mimik wajahnya saat ini. Entah apa arti dari senyuman Itachi itu, hanya Kami-sama yang tahu. "Aku akan berjalan di belakang kalian, untuk memastikan bahwa tidak ada satupun dari kalian yang berdiri. Ayo sekarang cepat jalan!" perintah Itachi kembali.
"Baik, senpai". Jawab ketiganya serempak.
"Ahh… Jika kau merasa kami semua ini iblis, nona Yamanaka Ino, maka berdoalah agar iblis berubah menjadi malaikat."
"Cih!" decak Ino kesal.
.
.
.
.
.
.
Setelah kurang lebih selama 15 menit yang cukup melelahkan bagi Sakura. Akhirnya ia pun sampai dilapangan utama. Begitu sampai ia dihujam dengan beribu pasang mata. Itu membuat ia sedikit risih. Memangnya kenapa? Apa mereka semua tidak pernah melihat orang dihukum sebelumnya? Itu membuat Sakura sangat kesal.
"Plok... Plok... Plokk.." suara tepukan tangan yang berasal dari dua orang yang tak jauh dari Sakura berada.
"Terlambat, hn?" ujar Sasuke dengan nada sinis. "Ngomong- ngomong berapa lama mereka terlambat Sasori-nii?"
"Sekarang sudah pukul 19.35 jadi mereka terlambat 20 menit." sahut Sasori yang matanya melirik ke jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
"Sebenarnya kita hanya terlambat 5 menit, tapi tindakan Itachi membuat kita semakin lama untuk sampai disini." berang Ino
"Membantah lagi nona Yamanaka? Mau 5 menit atau 20 menit tetap saja itu namanya terlambat." ujar Sasori berjalan kearah Ino. "Itachi berhak melakukan apa pun yang dia suka disini. Jadi kau tidak berhak memprotes apa pun itu."
"Aku yang menyebabkan Ino dan Hinata terlambat. Aku yang bersalah disini. Jadi kalian kalau mau menghukum, hukum saja aku, jangan mereka." kata Sakura dengan nada rendah.
"Tentu kau akan dihukum, tapi saat ini bukan waktunya untuk sok jadi pahlawan, Sakura." sahut Sasuke. Sepertinya ia pikir ini akan menjadi sedikit menarik, karena bisa mengerjai MANTAN adiknya.
"Aku tidak bermaksud menjadi pahlawan Sasuke. Aku tidak berbohong, akulah yang menyebabkan mereka terlambat. Percayalah padaku."
"Sudahlah kalian berlima diamlah dulu, dan untuk kalian semua dengarkan aku." Sasori langsung membuang mukanya dan menatap para mahasiswa baru yang berbaris rapi sambil berharap-harap cemas kira-kira apa tugas ospek pertama mereka.
"Tugas pertama kalian adalah kalian harus mendapatkan 100 tanda tangan dari senior kalian di dua belas jurusan yang ada di kampus ini. Lalu setelah kalian dapatkan ke-100 tanda tangan, setelahnya kalian harus mendapatkan tanda tangan dari semua panitia ospek ini." jelas Sasori dengan lantang yang diikuti suara mengeluh dari kebanyakan mahasiswa baru.
"Kalian tahu kan siapa kami, para panitia di ospek ini?" tanya Sasuke dengan nada sombong.
"Akatsuki" jawab peserta ospek serempak.
"Berapa jumlah kami?" Sasuke tetap mempertahankan nada sombongnya.
"Dua belas orang" dan peserta ospek pun tetap menjawab dengan serempak walau di antara mereka nampak ada wajah ketidaksukaan terhadap senpainya yang satu ini. Tapi tampangnya cakep sih, jadi jawab aja~~ :D
"Bagus. Lakukan apa pun yang mereka perintahkan. Kami bertiga tidak akan menandatangani buku kalian jika jumlahnya belum sampai angka 100. Batas waktu hanya sampai pukul 9 malam. Jika ada yang gagal, kami tidak segan-segan merekomendasikan kalian untuk dikeluarkan dari kampus ini." perintah tegas Sasori bagai petir yang menyambar para mahasiswa baru. Keadaan pun semakin riuh.
"Apa ada pertanyaan?" sekarang giliran Itachi yang mengeluarkan suara dan itu sukses membuat peserta ospek diam. Terlihat beberapa dari mereka mengangkat tangan menandakan ada pertanyaan.
"Tidak ada pertanyaan! Cepat selesaikan tugas kalian dan kalian bias beristirahat dengan tenang." jawab Itachi seenaknya.
"Sekarang kalian semua boleh membubarkan diri kecuali kalian bertiga," ujar Sasori sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Sakura, Hinata, maupun Ino. Yang dibalas dengan tatapan tidak suka dari ketiganya.
Tanpa babibu lagi semua peserta ospek (minus tiga gadis korban jalan jongkok) segera membubarkan diri. Tak ada gunanya mereka mengeluh atau membantah, sebab mereka tahu seberapa besar kuasa Akatsuki terhadap kampus ini.
Semua mahasiswa di Konoha University dididik untuk disiplin dan menaati peraturan. Pada tahun lalu ada berita yang sempat menjadi trending topik karena Konoha University mengeluarkan empat mahasiswa barunya yang berani melawan saat masa ospek. Untuk ospek pastilah Akatsuki yang bertanggung jawab. Pihak kampus sudah benar-benar menyerahkan wewenang ospek terhadap Akatsuki. Untuk itulah tidak ada yang berani melawan lagi jika mengingat kejadian tahun lalu.
Sebenarnya Akatsuki adalah mahasiswa yang benar-benar dipilih dan dilatih untuk menjalankan ospek di Konoha University. Mereka terdiri dari mahasiswa pilihan di semua jurusan yang ada. Karena jumlah jurusan ada dua belas, maka anggota Akatsuki juga berjumlah dua belas orang tiap tahunnya. Walau hanya berjumlah dua belas orang, mereka mampu menghandle acara ospek selama satu minggu dengan baik. Mahasiswa pilihan yang tergabung di Akatsuki semuanya memiliki kemampuan yang hebat, melebihi kemampuan rata-rata mahasiswa lain. Dan untuk tahun ini rupanya ketiga MANTAN kakak Sakura terpilih menjadi anggota Akatsuki.
.
.
.
.
.
.
"Hinata, sekarang kau boleh berdiri." ujar Itachi kepada Hinata yang sedari tadi belum juga beranjak dari posisi jongkoknya.
"Ka...kakiku sakit senpai, aku jadi tidak bisa berdiri." Jawab Hinata sambil memegang pergelangan kakinya.
"Benarkah? Coba kulihat." Itachi yang merasa bertanggung jawab pula akan kondisi juniornya itu pun juga ikut berjongkok, dan ia melihat ada sedikit memar di pergelangan kaki Hinata. Kemudian pemuda Uchiha itu mengoleskan krim pereda nyeri di pergelangan kaki Hinata sambil memijat sedikit pergelangan kaki tersebut. "Sudah merasa baikan?" ujarnya kembali yang hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh pemiliknya.
"Dasar cari perhatian." ketus Sasuke.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu, Sasuke. Dia juga tanggung jawab kita. Kalau begitu kau boleh istirahat Hinata." dengan perlahan Itachi memapah Hinata dan mendudukkannya pada sebuah kursi tak jauh dari mereka berada.
"Cih, cari muka." cibir Sasuke setelah Itachi dan Hinata menjauh.
"Kau... Dasar Uchiha! Buta ya? Hinata itu sedang sakit." sentak Ino sambil mengepalkan tangannya di depan wajah Sasuke
"Kau mau mencari masalah lagi rupanya?" Sasori angkat bicara. "Urusanku denganmu belum selesai, Yamanaka. Apakah kau mau mencari masalah lagi dengan Sasuke?" Ino pun terdiam.
"Baiklah hukuman apa yang sebaiknya kita berikan untuk Sakura dan Ino?" tampak kening Sasori berkerut menandakan ia sedang berpikir keras.
"Kita tidak perlu menyusahkan mereka, cukup saja lari mengitari lapangan utama sebanyak waktu keterlambatan mereka." ujar Itachi yang kembali bergabung.
"Apa maksudmu, Nii-san?," tanya Sasuke meminta penjelasan dari kakaknya.
"Setiap menit keterlambatan mereka hukumannya adalah 1 kali putaran. Jadi 20 menit keterlambatan maka hukumannya adalah 20 kali putaran, cukup adil bukan?" tak pelak perkataan Itachi membuat dua orang gadis di depannya ini mematung tidak percaya. Kedua mata mereka tak kunjung juga berkedip. Sasori sendiri hanya tersenyum dan menggelengkan kepala atas usul dari Itachi tersebut.
'Apa Itachi gila? Lapangan utama sangat luas? Dan...dan... aku harus mengitarinya? Yang benar saja, bisa-bisa sebelum jadi dokter aku sudah mati disini.'
"Sakura...! Hey forehead, kau tidak apa-apa?" Ino mengguncang-guncangkan bahu sahabatnya yang mematung di sebelahnya.
"Apakah ini mimpi Ino?" tanya Sakura ngelantur
"I-ittaai!" rengek Sakura. "Kenapa kau mencubit pipiku pig? Sakit tau!"
"Agar kau tahu kita tidak sedang bermimpi, dan berhentilah melamun." cibir Ino.
"Apa hukumannya tidak bisa dikurangi?" ujar Sakura memandang ke arah Sasori.
"Kurasa tidak. Benar kan, Sasuke?" jawab Sasori sambil mengarahkan pandangannya menuju Sasuke.
"Hn." sahut Sasuke singkat dan padat.
'Ah dasar kalian bertiga semuanya iblis bertampang malaikat. Oh Kami-sama, kenapa aku bisa bertemu dengan mereka lagi di sini. Aku serasa di neraka. Tolong aku... Huwaaaa Garaa-nii, kenapa kau mengirimku pada iblis-iblis sialan ini.' batin Sakura menjerit.
"Baiklah, bagaimana kalau langsung dimulai saja hukumannya. Kurasa lebih cepat akan lebih baik." ujar Sasori membuyarkan lamunan Sakura.
"Tunggu!" tiba-tiba Sasuke menyela.
"Ada apa lagi, sih? Aku segera ingin menyelesaikan hukuman ini dan beristirahat." gerutu Ino.
"Hm... 20 menit 20 putaran. Jika kalian melebihi waktu yang ditentukan, maka kita mulai lagi dari awal." Sasuke membuat peraturan tambahan dengan seringai yang menawan menghiasi bibirnya.
"Tu-tunggu, lalu Hinata? Kalian tidak menghukumnya?" Sakura menunjuk Hinata yang sedang duduk dan memijat kakinya.
"Kenapa kau melakukan itu, Forehead?"
"Aku tidak ingin dihukum sendiri, Pig. Enak sekali Hinata hanya duduk-duduk seperti itu memperhatikan kita lari. Kita kan semuanya terlambat."
"Kau lupa, kan kau sendiri yang membuat kita terlambat. Lalu mana kata-kata yang kau ucapkan tadi kalau lebih baik kau saja yang dihukum? Nyatanya sekarang kau mengumpankan Hinata."
"He…he...he…. Kutarik kata-kataku tadi. Mana aku tahu kalau kita akan dihukum seperti ini? Aku kira mereka tidak akan tega, bagaimanapun juga aku kan mantan adik mereka. Tapi ternyata dugaanku salah, mereka tetaplah kejam." cengir Sakura tanpa merasa berdosa.
"Kalian berdua berhenti berbisik-bisik. Cepat lari!" perintah Sasuke.
"Sakura tidak akan sanggup, Sasuke. Dia akan melebihi dari batas yang kau tentukan." ujar Itachi.
"Aku yakin dia bisa, Nii-san. Mau bertaruh, hm?"
"Apa maksudmu?" Itachi terlihat kebingungan.
"Kita lakukan seperti yang Sakura lakukan dulu. Kau masih ingat kan, adikku yang manis?" Sasuke menatap kearah Sakura di akhir kalimat.
'Apa yang mereka lakukan sih?' batin Sakura bingung melihat tatapan Sasuke.
"Aku ikut, sepertinya bakal menarik." ujar Sasori ikut dalam pertaruhan Sasuke.
"Kau yakin ikut, Sasori-nii? Hm, baiklah. Sekarang bertaruhlah padaku. Apa menurutmu Sakura akan melebihi batas waktu yang sudah kutentukan?"
"Tentu saja, dia akan melebihi batas waktu yang kau tentukan. Kita bertiga mengenalnya sedari kecil dan kita tahu kemampuan berlari Sakura sangat payah."
"Bicara apa kau, Sasori? Kata siapa kemampuan berlariku payah, hah?" geram Sakura tidak suka.
"Memang kau payah, kau selalu mendapat nilai C untuk pelajaran olahraga. Apa aku salah?" timpal Itachi.
"Cih!" umpat Sakura.
"Fuh... Berarti kau satu kubu dengan aniki, Sasori-nii. Jika aku yang kalah maka kalian boleh meminta apa pun dariku, termasuk permintaan untuk tidak mendekati Sakura selama tiga hari ke depan." ujar Sasuke berbisik ke arah Sasori dan Itachi.
"Lalu jika kau yang menang?" tanya Itachi memastikan kesepakatan taruhan.
"Kalian tidak boleh mendekati Sakura selama tiga hari. Aku yang akan mengurusnya dan memberikan hukuman apa pun yang aku suka."
"Deal!" ucap Sasori mantap.
"Bagaimana Itachi-nii apa kau setuju?" Sasuke melirik Itachi yang tampak keberatan dengan kesepakatan itu.
"Tenang saja Itachi, kita yang akan menang. Kau dan aku tahu benar kalau kemampuan berlari Sakura di bawah rata-rata." ujar Sasori sambil merangkul pundak Itachi, berniat untuk meyakinkan.
"Tapi keseriusan dan keyakinan Sasuke tidak bisa kita anggap enteng, Nii-san." Itachi tampak masih ragu.
"Meskipun Sasuke yang menang, dia hanya tiga hari bersama Sakura. Tiga hari itu tidak lama, Itachi."
"Bagaimana kalau dalam tiga hari itu Sasuke dapat membuat Sakura jatuh cinta padanya, bagaimana?"
"Kau takut, Nii-san? Fuh, tidak kukira kau sekhawatir itu, aku tidak akan memaksamu mengikuti permainan ini. Jika kau ingin keluar, biar aku saja yang bertaruh dengan Sasori-nii."
"Deal!" ujar Itachi tiba-tiba.
"Apa?" tanya Sasuke.
"Aku bilang, aku setuju dengan semua persyaratan permainanmu itu."
"Bagus!" ucap Sasuke senang. Kemudian ia berbalik, ke arah Sakura. Sasuke terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya ia berada tepat di hadapan gadis bersurai merah jambu tersebut. Setelah sampai di hadapan Sakura, Sasuke mengangkat tangan kanannya dan mendaratkannya di puncak kepala Sakura dan membelainya secara perlahan. Hal itu membuat Sakura menatap ke arah Sasuke. Adu pandangan antara emerald dan onyx tidak dapat terelakkan kembali. Tidak ada kata yang terucap di antara keduanya. Hening. Semuanya menjadi hening untuk sesaat. Sampai Sasuke sedikit membungkukkan tubuhnya dan merapalkan sebuah kalimat dari bibirnya, "Jika memang kau tidak ingin lari lebih banyak lagi, maka berlarilah sekuat yang kamu bisa. Tunjukkan pada kedua kakakku bahwa kau mampu. Hanya 20 menit Sakura, hanya 20 menit dan penderitaanmu atas hukuman ini akan segera berakhir." ujar Sasuke yang dibalas anggukan oleh kepala Sakura.
.
.
.
.
.
.
.
Bersedia!
Siaaap!
Pritt!
Akhirnya peluit tanda dimulainya hukuman berlari pun berbunyi. Dengan sekuat tenaga Ino dan Sakura berlari mengitari lapangan kampus mereka. Ino yang sedari dulu memang mahir dalam olahraga lari, tampak tidak kesulitan menyelesaikan hukumannnya. Beda halnya dengan Sakura yang sudah terengah-engah, padahal belum sampai separuh ia menyelesaikannya. Ino dan Sakura terus berlari dan berlari, sampai tak terasa tinggal 5 menit waktu yang tersisa bagi keduanya.
"5 menit lagi!" teriak Sasori di tepi lapangan.
Sontak saja membuat keduanya mempercepat langkah kaki mereka. 'Sial!' batin Ino dan Sakura. Kedua gadis ini tentu tidak ingin mereka memulai hukumannya dari awal kembali. Sampai pada akhirnya Ino sudah menyelesaikan hukumannya dan terlihat kelelahan di tepi lapangan.
"Hosh… hosh… AYO SAKURA KAU PASTI BISA!" teriakan Ino menyemangati Sakura setelah ia duduk di tepi lapangan.
Sedangkan Hinata hanya menggenggam kedua tangannya erat sampai terlihat memerah. Sepertinya ia juga khawatir sekali kalau saja Sakura melewati batas yang ditentukan yakni selama 20 menit.
Sakura terus berlari dan berlari. Dipikiran gadis ini hanya berlari dan berlari, lalu tiba-tiba dalam benaknya ia mengingat kata-kata Sasuke, 'Tunjukkan pada kedua kakakku bahwa kau mampu. Hanya 20 menit Sakura, hanya 20 menit dan penderitaanmu atas hukuman ini akan segera berakhir.' Kata-kata itu terus terngiang dalam benak Sakura.
'Kau bisa Sakura, kau bisa!' batin Sakura. Dengan tekad membaja, Sakura yakin bahwa kali ini ia tidak kalah, ia bisa melewati 20 menit yang terasa seperti di neraka baginya.
10
.
.
9
.
.
8
.
.
7
.
.
6
.
.
5
.
.
4
.
.
3
.
.
2
.
.
1
Prittt…..
Peluit tanda waktu telah berakhir telah dibunyikan oleh Sasori, nampak Sakura yang jatuh tersungkur di garis finish.
"Yeay! Kau berhasil, Forehead!" Ino langsung saja berlari menghampiri Sakura. Ia membantu Sakura berdiri dan memeluknya.
Terlihat dari tepi lapangan Hinata dan Sasuke yang tersenyum melihat keduanya. Namun berbeda halnya dengan Itachi dan Sasori yang memasang ekspresi dingin di wajah tampan mereka.
"Kau berhasil, Forehead! Kau memang hebat!"
"Be-benarkah?" ujar Sakura nampak tak percaya. Ia pun kembali memeluk Ino.
"Iya! Kau sampai di garis finish tepat peluit itu berbunyi, kau benar-benar hebat." ucap Ino kembali. Kemudian ia memapah Sakura sampai ke tepi lapangan, ada sedikit lecet di kakinya dikarenakan ia sempat jatuh tersungkur di putaran terakhir.
"Sudah kubilang dia bisa kan? Sekarang dia milikku, Nii-san." senyum kemenangan terhias di wajah Sasuke sambil menatap kearah kedua kakaknya, yang hanya ditanggapi keduanya dengan memalingkan wajah mereka.
Sasuke segera menghampiri Sakura dan Ino yang berjalan tertatih-tatih ke tepi lapangan.
"Kau hebat, Sakura!" ucap Sasuke senang.
"A-arigatou." ujar Sakura terbata-bata dengan pipi yang sedikit merona. Entah kenapa dia senang dipuji oleh Sasuke.
"Ikutlah denganku, akan kuobati luka di kakimu itu." Sasuke yang tanpa permisi langsung menarik pergelangan tangan Sakura dan sontak membuat gadis itu kaget. Namun hal itu tidak dihiraukan Sasuke, ia terus menarik Sakura menjauhi lapangan utama.
"H-hey! Sasuke! Dasar pantat ayam menyebalkan!" protes Ino terhadap kelakuan si bungsu uchiha itu.
"Kau masih ada urusan denganku, Yamanaka." ujar Sasori. Sama halnya yang dilakukan Sasuke, pewaris Uchiha Corporation itu pun menarik pergelangan Ino dan membawanya menjauh dari lapangan utama.
"Yakk! Yakk! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Ino meronta-ronta. Namun percuma saja, dia pasti kalah tenaga dibandingkan Sasori.
Dengan angkuhnya, Sasori menyeret gadis itu entah kemana. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah Uchiha Itachi dan Hyuuga Hinata yang masih berada di lapangan. Nampak itachi mengepalkan kedua tangannya erat, dan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat kesal. Pemuda itu hendak meninggalkan lapangan sampai suara seorang gadis menghentikan langkahnya.
"A-aku menyukaimu, Senpai!" ucap Hinata sedikit berteriak.
"Apa?" Itachi langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Hinata. Tampak di kedua sudut mata Itachi, Hinata berjalan tertatih-tatih menghampirinya.
"Aku menyukaimu, Itachi-senpai!"
"Hn. Lelucon macam ini, Hinata?"
"Aku tidak bercanda, aku menyukai senpai sejak dulu. Bahkan aku menjadi kekasih Sasuke-kun hanya karena ingin dekat denganmu, Itachi. Sejak kecil, waktu kau menolongku, sejak saat itu juga aku menyukaimu."
"Apa yang kau katakan? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Berhentilah bicara omong kos…."
Belum sempat Itachi menyelesaikan ucapannya, Hinata telah mendaratkan bibirnya ke bibir Itachi. Sebuah kecupan ringan menyapu bibirnya sontak membuat Itachi membeku beberapa saat sampai ia dapat mengembalikan kembali kesadarannya. Pemuda itu menatap tajam gadis di depannya. Sedangkan yang ditatap hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia malu, sangat malu karena telah melakukan hal di luar batasannya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa seberani itu? Yang ia tahu ia menyukai Itachi, itu saja. Gadis bersurai indigo yang indah itu tidak akan mengira tubuhnya reflek bergerak sendiri untuk mencium bibir pemuda di depannya ini.
"Kau gila, Hyuuga!" perkataan Itachi memecah keheningan di antara keduanya. Tanpa aba-aba lagi ia membalikkan badannya dan menjauh dari tempat itu. Tampak Hinata yang melihat punggung pemuda yang disukainya itu berjalan menjauh menyisakan sesak di dadanya.
.
.
.
.
.
.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Dasar Sasori bodoh!" Ino terus saja meronta-ronta, namun Sasori tak kunjung juga melepaskan pergelangan gadis bermahkota pirang panjang itu. Sampai akhirnya Sasori menghentikan langkahnya di sebuah gudang kosong yang gelap dan lembab. Sasori menghentakkan tangannya hingga Ino terdorong berbalik dan menatap tembok di depannya.
"Apa maumu, hah? Berhentilah menggangguku." berang Ino.
"Apa kau masih menyukaiku, nona Yamanaka?" tanpa menghiraukan pertanyaan dan tatapan tidak suka dari Ino, Sasori terus saja melangkahkan kakinya mendekati gadis tersebut. Hingga akhirnya Ino merasa terhimpit karena tidak ada ruang untuk tempatnya menghindar.
"Tidak, tentu saja tidak! Untuk apa aku menyukai iblis sepertimu? Kau pikir aku sudah gila!" bentak Ino sembari matanya menatap tajam ke arah Sasori.
"Jadi pernyataan cintamu padaku di club waktu itu hanya bohong belaka?" tanya Sasori.
"Tidak, aku tidak berbohong. Aku memang mengungkapkan apa yang ada di hatiku. Tapi itu sudah lama. Dan sekarang aku sudah tidak menyukaimu lagi, aku akan melupakan mu. Ah bukan, bahkan aku TELAH melupakanmu," ucap Ino tegas.
"Coba saja, kalau kau bisa melupakanku..." Sasori mendekatkan wajahnya ke gadis berambut pirang tersebut, tidak menunggu waktu lama hingga Sasori menempelkan bibirnya pada bibir ranum Ino. Perlakuan Sasori itu sontak membuat Ino menegang dengan tatapan yang sulit diartikan, sampai akhirnya Sasori telah melepaskan pagutannya pada bibir Ino. Namun gadis itu masih saja belum mendapatkan kesadarannya kembali.
"Sekarang, apa kau masih bisa melupakanku?" ujar Sasori dengan senyum mengejek ke arah Ino dan pergi begitu saja.
Langkah kaki Sasori yang semakin menjauh dari gudang meninggalkan Ino yang masih tidak percaya apa yang telah dilakukan oleh pemuda Akasuna itu. Sambil memegangi bibirnya Ino merosot jatuh terduduk di tempatnya sambil bergumam, "A-apa yang baru saja iblis itu lakukan kepadaku?"
.
.
.
.
.
.
Sementara itu…
Sasuke membawa Sakura ke ruang UKS kampus mereka. Adik dari Uchiha Itachi ini mendudukkan Sakura di atas tempat tidur UKS, dengan sigap Sasuke mengambil obat merah dan beberapa plester untuk menutupi luka lecet di kaki Sakura.
"Auw… Sakit…." rintih Sakura ketika Sasuke memberikan obat merah pada lukanya.
"Nah, sudah beres." ujar Sasuke ketika selesai mengobati luka gadis bersurai merah jambu tersebut. Kemudian ia duduk disamping gadis itu sambil tangan kirinya mengacak-acak rambut merah jambu itu.
"Kau sangat manis, Sakura." kembali pipi Sakura dibuat merona oleh perkataan Sasuke, dan membuat Sakura memalingkan wajahnya dari wajah tampan Uchiha Sasuke.
'Sial, kau semakin tampan saja setelah tiga tahun tidak bertemu, Sasuke.' inner Sakura.
"E-etto, ayo kita pergi. Aku sudah tidak apa-apa, Sasuke-kun," ujar Sakura mengatasi kegugupannya saat ini.
"Sasuke-kun katamu?" nampak Sasuke yang sedikit tertawa, "Aku menyukai panggilan itu Sakura, terus panggil aku seperti itu. Kau mengerti?" pinta Sasuke sembari kembali membelai surai merah jambu milik Sakura.
"I-Iya baiklah. Ayo pergi, Sasuke-kun." ajak Sakura sambil ia turun dari tempat tidur UKS, namun sebelah tangan Sasuke sukses menghentikan langkahnya.
"Maukah kau menjadi kekasihku, Sakura?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue
Selesai juga akhirnya chapter 10 ini. Bagaimana minna, apa masih kependekan ceritanya? Atau kepanjangan? Masih ada typo? Mohon dimaafkan dan dimaklumi ya.
Rate fict ini masih tetap T kok, tidak akan berubah jadi M meskipun di akhir cerita jadi seperti itu :D
Review please~~
