TAKE MY HEART

EXO Fanfiction

HunKai

Cast : EXO member and other

Rating : T

Warning : BL, Typo

Romance, Humor, Drama, or call it what you want

Previous

"Kakek selalu mengatakan pada kita berdua, saat kau berenang melawan arus...,"

"Kau mungkin akan tenggelam." Sambung Sehun.

Jungkook mengangguk pelan lantas berdiri dari kursinya. "Istirahatlah Hyung. Dan kurasa Kakek belum pernah memberitahu bagian ini."

"Bagian apa?"

"Saat kau berenang melawan arus kau mungkin akan menemukan daratan baru." Jungkook tersenyum lebar di akhir kalimat kemudian berlari pergi meninggalkan Sehun.

Sehun tertawa pelan setelah kepergian Jungkook. "Daratan baru dan tenggelam, resiko yang sepadan."

BAB SEPULUH

Jongin membuka kedua matanya, ia terjaga meski sebenarnya masih mengantuk. Suara ponsel yang terus berdering membuatnya risih, mau tidak mau dia harus menjawab panggilan entah dari siapa itu untuk menghentikan semua gangguan menyebalkan rencana tidur sepuasnya hari ini.

"Sehun? Apa dia tidak bisa masuk?" Jongin bertanya seorang diri, tanpa menjawab panggilan Sehun di ponselnya, Jongin menyingkap tirai penutup melangkah turun dari ranjang dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi utama yang kemarin belum sempat dia periksa.

Kamar mandi utama seperti dugaannya, berukuran luas dengan pancuran air dan bak berendam, semuanya bernuansa putih, keramik pada dinding, dan marmer pada lantai semuanya berwarna putih. Jongin tersentak ia bergegas menuju wastafel untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Semua yang Sehun katakan benar, tentang seluruh kebutuhannya yang sudah dipenuhi di tempat ini.

"Kuharap dia tidak bosan menunggu." Ujar Jongin kemudian berlari tergesa keluar dari kamar mandi.

Memutar anak kunci, beruntung Jongin meninggalkan anak kunci di dalam lubang kunci atau dia akan kesusahan mencari, mengingat dirinya termasuk orang yang ceroboh dan pelupa. Memutar anak kunci dan menekan kombinasi angka pengaman, menahan senyum ketika mengetik tanggal, bulan, dan hari lahirnya.

"Hai." Ujar Jongin singkat. Ia gugup, tentu saja melihat Sehun berdiri di hadapannya dengan pakaian sempurna dan tentu saja wajah sempurna, meski Jongin tidak akan mengatakannya keras-keras.

"Selamat siang."

"Siang?" kening Jongin berkerut. "Ini masih pagi...,"

Jongin tak sempat menyelesaikan kalimat ketika Sehun menyodorkan arlojinya. Pukul satu siang. "Baiklah, selamat siang." Ujar Jongin salah tingkah.

"Kau tidak mempersilakanku masuk?"

"Ah maaf, silakan masuk." Jongin menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Sehun masuk sembari merutuk di dalam hati kenapa dia bisa sangat bodoh berhadapan dengan Sehun sekarang, apa yang salah dengannya?

"Aku yakin kau belum sarapan."

"Aku—bangun siang." Ujar Jongin sembari menggaruk tengkuk canggung dan tersenyum malu.

"Aku membawakanmu sereal. Makanan kesukaanmu, Taehyung yang memberitahuku."

"Terimakasih." Jongin tersenyum singkat sebelum tatapannya berubah sendu. "Taehyung—apa kau berbicara banyak dengannya?"

"Tidak, aku tidak pintar berbasa-basi. Apa kau merindukan adikmu?"

"Ya."

"Hubungi dia atau aku bisa mengajak Taehyung menemuimu."

"Tidak!" pekik Jongin. "Maksudku—aku tidak bisa menghubungi Taehyung tanpa menangis dan—dan...," Jongin ragu apa harus mengatakan semuanya pada Sehun.

"Dan apa?"

"Maaf aku membuatmu menunggu cukup lama, aku sudah lapar." Ujar Jongin sembari menepuk pelan perutnya.

"Jongin." Tangan kiri Sehun menahan lengan kanan Jongin. "Kau berusaha kabur, katakan semuanya."

"Tidak ada yang perlu dikatakan."

"Jika kau tidak bisa membuka dirimu padaku sebagai teman atau sebagai calon suamimu, katakan semuanya padaku atas dasar perintah. Aku sebagai Pangeran dan sebagai Calon Raja tidak bisa ditolak."

"Taehyung—dia akan mendapat masalah jika berurusan denganku."

"Masalah dari ibumu?" Jongin mengangguk pelan. "Ibumu bukan masalah besar jika aku mau bertindak."

"Sehun...," gumam Jongin menggantung kalimatnya, dia mengingat bagaimana ibunya yang penyayang bisa berubah kejam dalam waktu singkat. "Kau tidak tahu siapa Nyonya Kim, percayalah padaku. Jangan berurusan dengannya."

"Aku bisa meminta pasukan keamanan untuk mengamankan ibumu."

"Sehun kau tidak mengerti!" bentak Jongin frustasi. "Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku ke kamar mandi."

"Pergilah. Setelah ini mungkin kau bersedia menemui Stone."

"Stone?!" suara Jongin berubah ceria. "Kau sudah membawanya dari ru—dari kediaman Keluarga Kim?" Jongin nyaris menyebut rumah, sekarang dia tidak sanggup lagi memanggil tempat itu sebagai rumah. Tidak ada yang tersisa untuknya di sana.

"Aku membawa Stone dari rumahmu." Sehun melihat tatapan enggan Jongin. "Kau pernah menjadi bagian dari tempat itu, ayahmu menyayangimu, Taehyung menyayangimu, tidak semuanya kenangan buruk, jangan menghapusnya, apa kau mengerti ucapanku?"

"Aku mengerti." Gumam Jongin merasa sedikit tertusuk dengan ucapan tepat Sehun. "Aku akan bersiap-siap dengan cepat. Aku tidak akan membuatmu menunggu lama lagi."

"Tentu." Balas Sehun kemudian tersenyum tipis.

.

.

.

Jongin dan Sehun duduk bersama di kursi penumpang belakang, Jongin memakan serealnya sebagai camilan dengan wajah ceria. Sehun hanya bisa menahan senyum ketika melirik Jongin. "Kau mau?" tawar Jongin sembari menyodorkan karton sereal ke hadapan Sehun.

"Tidak, terimakasih." Ujar Sehun, menolak sopan. "Apa begini caramu menikmati sarapan?"

"Kurasa iya. Kau belum pernah memakan sereal seperti ini? Menjadikannya camilan? Cobalah, sebelum mencoba bagaimana bisa kau memutuskan untuk tidak suka?"

"Baiklah...," ujar Sehun menyerah dengan bujukan Sehun.

Tangan kanan Sehun terjulur memasuki karton sereal rasa cokelat yang Jongin sodorkan. Meraup sereal di dalamnya kemudian memasukan satu persatu ke dalam mulut. Jongin mengerutkan kening melihat cara makan Sehun yang kelewat sopan dan menurutnya membosankan.

"Kita di luar Istana, bisakah kau bersikap sedikit normal?"

"Normal?"

Jongin mengangguk pelan. "Seperti—makan sedikit serampangan, tertawa sedikit keras, seperti itu. Apa kau mengerti?"

"Aku sudah terbiasa seperti ini, maafkan aku." Sehun meminta maaf karena berpikir jika Jongin pasti benar-benar bosan menghadapinya.

"Untuk apa?!" pekik Jongin. "Untuk apa meminta maaf? Kau tidak perlu melakukannya, aku tidak berhak memintamu melakukan apapun."

"Aku akan berusaha bersikap normal."

"Kau tidak perlu melakukannya Se...," kalimat Jongin terhenti melihat Sehun memasukan seluruh sisa sereal dalam genggaman tangannya ke dalam mulut. Mulut Sehun menggembung dan dia terlihat sedikit kesusahan mengunyah.

"Kau lucu sekali!" pekik Jongin tanpa sadar menubruk sisi kanan tubuh Sehun, memeluk Sehun erat.

Uhuk! Uhuk! Sehun terbatuk akibat perbuatan Jongin, bukannya bersimpati Jongin justru tertawa dengan keras. Setidaknya dia tidak perlu canggung dan menjelaskan perbuatannya ketika Sehun terbatuk sekarang. Pikir Jongin.

"Kau membuatku nyaris tercekik!" protes Sehun yang diabaikan Jongin, dan laki-laki manis itu masih terus tertawa dengan puas. Sehun mencebik ia langsung membalas dendam dengan menggelitik rusuk kiri Jongin.

"Sehun!" Jongin berteriak dengan suara melengking. "Kau!" protes Jongin ketika kotak serealnya terjatuh. "Berhenti!"

Sehun mengabaikan protes Jongin, dia terus menggelitik Jongin bahkan kini menggunakan kedua tangannya. Jongin tertawa lepas membuat Sehun tanpa sadar juga ikut tertawa dengan keras bersamanya. Sehun menghentikan serangan gelitikannya, namun dengan cepat ia tarik tubuh Jongin ke arahnya. Punggung Sehun kini bersandar pada pintu mobil, dan setengah tubuh Jongin berada di atas tubuh Sehun.

"Se—Sehun." Jongin terbata menyebut nama Sehun ketika posisi mereka terlalu intim. Dan Sehun menatapnya dengan tajam. "Aku—Aku..," Jongin tidak bisa menemukan kalimat tepat, ia bermaksud menarik tubuhnya dari Sehun namun dia ditahan.

"Kau mempunyai senyum dan suara tawa yang indah." Ujar Sehun, Jongin bungkam tidak tahu harus merasa tersanjung atau tidak atas ucapan Sehun.

Sehun menegakan tubuh dengan cepat, mengecup singkat bibir penuh Jongin sebelum mendudukan dirinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah sopir dan pengawalnya yang duduk di kursi depan menghilang.

"Kau...," geram Jongin sembari menundukan wajah. Ia menggeser duduknya menjauhi Sehun namun Sehun justru mengikuti tindakannya dengan menggeser tubuh. "Sempit!" protes Jongin.

Sehun melirik dengan cara yang menyebalkan dan jangan lupakan jika Pangeran itu sempat menjulurkan lidah untuk menggoda. Jongin sebenarnya ingin membalas Sehun dengan cara apapun untuk membuatnya sebal, namun niatnya gagal ketika dirasakannya laju mobil yang melambat.

"Dimana?" Jongin langsung bertanya ketika dilihatnya mobil memasuki jalan tanah.

"Vila."

"Vila?"

"Hmm, tempat istirahatku dan Kakek."

"Kakek? Apa kau tidak dekat dengan ayahmu? Raja Korea?"

"Tidak." Balas Sehun sembari melirik Jongin tajam, mengisyaratkan kepada Jongin untuk tidka bertanya lebih jauh.

"Maaf." Balas Jongin dengan kepala yang sedikit ditundukan.

Sehun memimpin Jongin keluar dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak. Jongin menoleh ke belakang dan mendapati mobil yang membawa mereka pergi. "Akan ada mobil lain yang menjemput kita." Terang Sehun.

Jongin lantas memerhatikan keadaan sekitar, bangunan Vila yang Sehun sebut lebih mirip pada rumah pertanian di Amerika. Terbuat dari kayu, pekarangan lebar, jalan setapak, kincir angin, dan tentu saja lumbung penyimpanan.

"Kakek tinggal cukup lama di Amerika, dan membangun tempat ini seperti rumah pedesaan di sana sedikit mengobati rasa rindunya." Terang Sehun.

"Hmm." Jongin hanya membalas dengan gumaman.

"Aku minta maaf atas sikap tidak sopanku tadi."

"Sikap yang mana?" Jongin bertanya dengan tatapan bingung.

"Melirikmu tajam saat kau bertanya kedekatanku dengan Raja."

"Ah itu, tidak masalah."

"Kau harus tahu membicarakan Raja tidak bisa sembarangan, bahkan jika kau membicarakannya dengan anak kandung Raja itu sendiri."

"Itu—sangat kaku." Tanggap Jongin.

"Ya, dan sangat formal. Bahkan aku bisa menghitung dengan jari berapa kali aku memanggil Raja dengan Ayah."

"Ah." Jongin benar-benar kehilangan kata-kata, hubungan seperti itu mengerikan menurutnya. Dan dia mulai membayangkan masa depannya dengan Sehun meski dia tidak akan mengatakannya terang-terangan.

"Aku ingin mengubahnya." Ucap Sehun, Jongin menoleh dan mendapati Sehun memejamkan kedua matanya sembari berjalan pelan, kepalanya mendongak ke arah langit. "Ada banyak hal yang ingin aku ubah, dan aku tidak tahu apa aku bisa melakukan semua rencanaku dengan baik."

"Kau pasti berhasil." Jongin tidak tahu bagaimana dia bisa mengatakan hal itu dengan sangat yakin.

"Benarkah?" Sehun bertanya diselingi senyuman.

Jongin mengangguk cepat, menahan napas. "Selama itu adalah tujuan baik, aku akan mendukungmu, dan kau pasti berhasil. Jika semua orang menentangmu, aku tetap mendukungmu, jadi lihatlah aku, hanya padaku." Jongin memalingkan wajah dengan cepat setelah berhasil menyelesaikan kalimat bodohnya.

"Terimakasih."

"Apa?!" Jongin terkejut bagaimana bisa Sehun berterimakasih atas racauannya.

"Aku akan merasa cukup hanya dengan dukungmu."

Jongin memalingkan wajah, tidak ingin Sehun melihat mata sembabnya, mendengar seseorang mengatakan ucapan terimakasih, dan merasa cukup atas kehadirannya, membuat Jongin benar-benar terharu.

"Aku akan membawamu menemui Stone." Ajak Sehun menggenggam telapak kanan Jongin. "Jongin?!" suara Sehun terdengar cemas melihat kedua mata sembab Jongin. "Apa kau menangis?"

"Ah! Tidak!" Jongin menjawab cepat. "Mataku kemasukan debu." Alasan yang terlalu murahan Jongin ucapkan.

"Kau ingin tahu apa yang biasa aku dan Jungkook lakukan saat kami berlibur ke sini?" Sehun mencoba menghibur Jongin.

"Apa?" Jongin terlihat tertarik meski kedua matanya masih merah.

Sehun tersenyum lembut kemudian mengeringkan sisa air mata di kedua pipi Jongin. "Siapa yang lebih cepat mencapai kincir angin!" teriak Sehun sambil berlari kencang ke arah kincir tentu saja setelah menepuk bagian belakang kepala Jongin.

"Sehun!" geram Jongin berlari mengejar Sehun. "Aku akan membalasmu! Berhenti kau Oh Sehun! Kurang ajar kau memukul kepalaku!" Jongin berteriak sekuat tenaga, Sehun hanya tertawa dan terus berlari menjauhi Jongin.

Menahan geram, Jongin memaksa kedua kakinya untuk bergerak lebih cepat mengejar langkah Sehun. Usaha Jongin tidak sia-sia ketika dirinya kini berhasil menyusul Sehun, kedua tangan ia julurkan ke depan. "Dapat!" Jongin memekik girang sembari meraih kedua bahu Sehun.

Seharusnya Jongin menarik kedua bahu tegap itu agar berhenti, namun yang Jongin lakukan justru melompat ke atas punggung Sehun. Spontan saja Jongin melakukannya karena punggung tegap itu terlihat nyaman sebagai tempat untuk bersandar. Sehun hanya tertawa merasakan beban berat di punggungnya.

"Ma—maaf." Ujar Jongin terbata, dia benar-benar malu dengan tindakannya dan berusaha untuk turun dari punggung Sehun.

"Aku akan mengantarmu bertemu dengan Stone." Sehun menahan kedua kaki Jongin, agar laki-laki manis itu tetap berada di punggungnya.

Jongin menelan ludah kasar kedua tangannya melingkari leher Sehun longgar. Mengamati tengkuk putih Sehun dan anak rambut di belakang lehernya membuat jantung Jongin berdetak tak karuan. Jongin hanya berharap Sehun tidak merasakan detak jantungnya yang mengganggu sekarang.

.

.

.

"Stone!" pekik Jongin girang dan kali ini bahkan Sehun tidak bisa mencegah kepergian Jongin, berlari menghampiri palang kandang Kuda dan mengusap kepala Kuda kesayangannya. Senyum lebar terlihat pada wajah manis Jongin.

Jongin menoleh ke belakang menatap Sehun penuh arti lantas tersenyum. "Terimakasih." Ucapnya.

"Tidak masalah."

Jongin kembali tersenyum kepada Sehun sebelum perhatiannya kembali kepada Stone. Lalu Jongin baru sadar jika ada Kuda-Kuda lain di kandang besar ini. "Wow!" ujar Jongin takjub. Kali ini giliran Sehun yang tersenyum lantas melangkah mendekati Jongin.

"Bagaimana menurutmu?"

"Menurutku? Apanya? Kuda-Kuda di sini?"

"Ya." Sehun mengangguk pelan.

"Mereka luar biasa, terawat dan terlihat tangguh."

"Apa kau mengenali mereka?"

Jongin tertawa pelan dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Sehun, mungkin Sehun sedikit mengujinya. "Yang berwarna cokelat tua dengan surai hitam pekat jenis Mustang, cokelat muda dengan surai panjang berwarna pirang jenis Black Forest dari Jerman."

"Dan kudamu?"

"Friesian."

"Itu menakjubkan." Puji Sehun.

"Kau tidak tahu sama sekali?"

"Mereka tidak memasukan kurikulum Kuda di pelajaran Tata Negara dan Tata cara hidup di istana."

"Baiklah...," balas Jongin sepintas lalu sebelum memulai petualangannya menjelejahi Kandang Kuda luas milik Keluarga Istana.

Jongin berlari dengan antusias membawa pelan di kedua tangannya ia jatuhkan pelana itu di atas tanah kemudian membuka palang pintu kandang Stone, Sehun melangkah mundur dia belum pernah bersinggungan dengan Kuda milik Jongin, bisa saja Kuda itu berbahaya. Stone menundukan kepala membiarkan Jongin mengelusnya, Jongin dengan cekatan memasang pelan, dan Sehun hanya bisa diam, memerhatikan, dan merasa takjub.

Detik berikutnya Jongin sudah berada di atas punggung Stone, dan memerintahkan Kuda itu untuk melangkah perlahan mendekati Sehun. Jongin mengulurkan tangan kananya kepada Sehun dari atas punggung Stone. Sehun mengamati uluran telapak tangan Jongin untuk beberapa detik, sebelum ia putuskan untuk menggenggam telapak tangan itu. Jongin tersenyum lebar, menarik tubuh Sehun ke atas untuk duduk bersama pada punggung Stone.

Sehun melingkarkan tangannya pada perut rata Jongin. matahari bersinar cerah, berkuda di sekitar ladang gandum, tanpa gangguan, dan sejenak melupakan statusnya sebagai seorang Calon Raja membuat senyuman muncul pada wajah Sehun tanpa dia sadari.

"Terimakasih sudah membawa Stone untukku."

"Hmm." Gumam Sehun pelan.

TBC