Muth: Akhirnya, chapter 10, dengan begini, cerita ini selesai! *bersorak ria sambil menari flamenco keliling ruangan*
Rina: Akhirnya... mari kita buat cerita baru! *penuh semangat pagi*
Muth: Yoi! tapi, baca dulu ya!
Eliza terus menangis dan memeluk tubuh Roderich erat-erat. Dia kembalikan lagi Mariazell-nya, dan ia pakaikan lagi kacamatanya. Ia menggenggam tangan Roderich sambil mengingat kembali apa yang ia dilakukan bersama Roderich.
Mereka telah melalui banyak waktu bersama. Seperti bernyanyi bersama, berpetualang bersama, latihan bersama, makan bersama, terjun bersama, minum kopi bersama, dan hal-hal seru lainnya yang mereka lakukan bersama.
'Sepertinya dari dulu dia sudah menyukaiku. Itu pasti. Mengapa dia tidak memberitahukan aku bahwa aku adalah putri yang hilang? Aku merasa bersalah. Aku yang salah atas semua ini. Roderich, kenapa kau tidak hidup saja? Kenapa kau mati? Kenapa tidak aku saja yang mati? Kenapa?' pikir Eliza sambil melihat pundak kirinya.
Tanpa disengaja, salah satu air mata Eliza jatuh dan mengenai lukanya Roderich. Secara ajaibnya dan sungguh-sungguh ajaib juga benar-benar ajaib, luka itu sembuh dan Roderich hidup lagi. "Aduh… rasanya tadi terjadi sesuatu deh…" kata Roderich agak linglung. "Roderich? Roderich! Kau kembali? Bagaimana caranya?" tanya Eliza senang sambil memeluk Roderich lebih erat lagi. "Eliza? Memangnya, apa yang terjadi, sih?" tanya Roderich yang tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi. "Ceritanya panjang Roderich. Oh, aku sungguh minta maaf. Aku yang salah telah membawamu ke kota saat ibuku juga ada di sini. Aku minta maaf Roderich. Maafkan aku." Ucap Eliza sambil memeluk Roderich. "Kurasa, itu bukan salahmu Eliza. Itu bukan salahmu. Salahku juga sudah memaksakan untuk pergi ke kota. Aku juga meminta maaf, Eliza." Kata Roderich yang masih mengingat sedikit apa yang terjadi.
"Sekarang, ayo kita pergi ke kerajaan seberang." Kata Eliza. "Memang, untuk apa?" tanya Roderich yang tidak ingat bangian itu. Eliza hanya diam dan menunjukkan tanda wajan yang ada di lengan kirinya itu. "Oh… aku ingat sekarang! Ayo kita pergi." Kata Roderich yang tiba-tiba ingat seluruh kejadian yang ia alami bersama Eliza. Sangat mengingatnya.
Mereka menaiki kuda milik mereka sendiri (yang dikasih sama feliks itu loh…) yang sudah diikatkan dengan gerobak yang diberikan oleh Toris dan Raivis. Mereka pun pergi ke kerajaan seberang.
"Eliza, sebenarnya yang terjadi tadi itu apa? kok kita dikerubungin semut eh, orang banyak, tadi?" tanya Roderich yang sama sekali tidak mengingat kejadian saat dia mati. "Tadi itu, kamu hampir mati. Atau mungkin juga sudah mati sih. Tapi, entah kenapa kamu hidup lagi." Jawab Eliza. "Oh. Eliza, aku mau mem-" kata-kata Roderich terputus karena Eliza tiba-tiba memeluknya erat. "Tadi itu, aku khawatir sekali Roderich. Kupikir kau memang benar-benar mati." Ucap Eliza. Roderich pun langsung blushing berat.
"Kau pasti sudah menyukaiku sejak awal 'kan, Roderich?" tanya Eliza. "Eh, i-itu benar. Haha…" jawab Roderich malu-malu (no cat!).
Sementara itu di kerajaan seberang, ratu Kartika masih bersedih akan hilangnya anaknya. Ia sedang berada di perpustakaan, duduk sambil membaca buku 'Totally Secret Agents' (waduh, author mulai promosi nih.) dengan segelas teh sar*w*ngi di mejanya.
Semenara sang ratu di perpustakaan kerajaan, raja Badrol sedang makan dimeja makan tanpa istrinya. Ia menyendoki supnya dengan tidak bersemangat. Tiba-tiba, seorang pengawal kerajaan datang dan mengabarkan, "Yang Mulia raja, Putri sudah ditemukan!"
Raja pun langsung lari ke perpustakaan. "Emmm… Yang Mulia, kenapa anda perginya ke perpustakaan? Bukannya seharusnya ke gerbang?" tanya pengawal itu. "Ya, saya kan harus mengabari istri saya dulu." Kata sang raja sambil melanjutkan larinya ke perpustakaan.
Saat Eliza dan Roderich sudah sampai di kerajaan seberang, ternyata mereka malah dicegat di gerbang istana. "Dasar, kok malah dicegat sih? Bosan aku!" gerutu Roderich sambil membaca buku 'Totally Secret Agents' (promosi lagi). "Roderich, sabarlah sedikit. Pasti nanti mereka datang." Ucap Eliza. "Hehe… kalau kamu yang nyuruh aku biar nggak bosan, aku turutin kemauanmu deh." Ucap Roderich.
Raja dan ratu segera berlari ke gerbang istana dan menolak semua tumpangan yang diberikan penduduk sekitar. Saat mereka melihat Eliza berada di depan gerbang istana dan tidak diperbolehkan masuk, ratu langsung berteriak. "Biarkan mereka masuk!" "Ta-tapi Yang Mulia, mereka orang asing." Jawab sang penjaga. "Tidak! Mereka orang yang sangat kita kenal! Cepat buka gerbangnya!" perintah sang ratu. "Ba-baik Yang Mulia." Kata sang penjaga gerbang yang langsung membukakan gerbang agar Eliza dan Roderich bisa masuk. Eliza dan Roderich menuntun kuda mereka dan masuk ke gerbang istana. "Apa benar kau ini Elizaveta?" tanya sang ratu. "Kalau aku bukan Eliza, berarti, tanda ini hanya coretan dong." Kata Eliza sambil menunjukkan tanda itu.
Satu-satunya hal yang ratu ingat dari anaknya hanyalah tanda lahirnya yang berbentuk wajan itu. begitu melihat tanda itu, sang ratu langsung memeluk Eliza. "Elizaveta nak! Ini benar-benar kau! Kemana saja kau selama ini? Ibu tidak bermimpi kan? Tolong cubit ibu nak!" ucap sang ratu. Karena ratu berkata begitu, Eliza langsung mencubitnya. "Aww…! Sakit. Wah berarti ini bukan mimpi!" kata sang ratu.
"Nak, siapa yang kau bawa ini?" tanya sang ratu. "Ini Roderich, bu. Pangeran kerajaan saberang. Pacarku." Jelas Eliza. "Dan aku mau menikah dengannya." tambah Roderich. Eliza mengangguk. "Apakah kau yakin nak? Ibu dengar dia selalu bosan." Kata ibunya. "Memang. Tapi, aku bisa mengatasinya. Lagipula dia baik." Ujar Eliza. "Baiklah kalau begitu. Untuk kebahagiaanmu nak. Kamu yakin kan nak?" tanya sang ratu sekali lagi untuk memastikannya. "Ya." Jawab Eliza singkat, padat dan jelas. "Kalau begitu, papa akan membuat suratnya." Kata sang raja.
Sang raja sagera menuliskan surat untuk dikirimkan ke kerajaan seberang. Dan mengirimkan surat itu dengan burung elang. Isi surat itu kira-kira begini:
YTH raja gaje kerajaan Auahgelap,
Putra anda yang berandalan itu bernama rode yang kaya (iya kan? Bukannya rode=rode rich= kaya) ingin menikahi putri kami yang hilang 20 tahun lalu bernama Elizaveta. Jika anda menerima tawaran ini, kabari saya dengan menggunakan burung elang yang saya gunakan untuk mengirimkan surat ini kepada anda. Bila tidak, silahkan datang kemari sendiri, dan jelaskan mengapa tidak boleh.
(P.S. : saya carikan humor lucu bila anda menerima!) tertanda, raja aneh kerajaan Apaajabolehyangpentingoke
Sesampainya burung itu di kerajaan Auahgelap, sang raja tersebut langsung membaca surat itu. "Oh, kudengar Elizaveta adalah anak yang baik. Terima saja tawaran itu." komentar sang ratu. "Hmm… boleh juga sih. Anak kita itu kan selalu bosan. Mungkin, putri Elizaveta bisa menangani penyakit 'sindrom bosan kronis'-nya itu." kata sang raja yang langsung beranjak untuk menulis surat balasannya.
Keesokan harinya, burung elang yang dikirimkan kemarin untuk surat ke kerajaan seberang oleh raja Badrol kembali ke kerajaan Apaajabolehyangpentingoke. Raja Badrol yang melihat burung itu segera mengambil surat balasannya yang ada di kaki si burung. Isi suratnya seperti ini:
YTH, raja aneh Badrol,
Kami menerima tawaran pernikahan itu. kami juga mau datang tentunya. Silahkan pikirkan tanggal pernikahannya sendiri, serta semua persiapannya. Saya akan membantu dananya. Sebentar lagi, akan saya kirimkan dengan menggunakan rekening ATM. Mohon ditunggu. Saya akan mentransfer uangnya hari ini juga. Terima kasih.
(P.S.: cari humornya yang bagus ya… ) Tertanda, raja gaje kerajaan Auahgelap.
Setelah membaca surat itu, raja Badrol segera memerintahkan para prajuritnya untuk mempersiapkan acara pernikahannya.
Sementara para prajurit mempersiapkan acara pernikahan, raja Badrol segera menunggu di ATM terdekat. Setelah mendapatkan uang transfer dari raja kerajaan Auahgelap, raja Badrol segera pulang kembali ke rumahnya eh, maksudnya istananya.
Esok harinya setelah persiapan selesai, Eliza dan Roderich menikah. Eliza nampak cantik dengan gaun sederhananya yang dimodifikasi oleh desainer terkanal, maka gaun itu menjadi indah nian rupawan. Eliza juga dibawa ke salon. Dia memotong rambutnya yang (sangat) panjang itu sampai pendek sepunggung. "Hey, kau nampak lebih cantik dengan gaya seperti itu Eliza." Komentar Roderich.
Sementara itu, Roderich nampak keren, cool juga gagah dengan baju kerajaan resminya. Para wanita lain yang melihatnya bahkan sampai ingin pingsan saking kerennya Roderich (tapi nggak jadi pingsannya).
Setelah pernikahannya selesai, dengan begini, kerajaan Auahgelap dan kerajaan Apaajabolehyangpentingoke bersatu.
Beberapa hari kemudian…
Roderich mengajak Eliza pergi ke istananya. Roderich hendak mengenalkan Eliza pada orangtuanya. Setelah perkenalan itu, ratu berkata. "Baiklah, sekarang waktunya eksekusi." "Hah? si-siapa yang di eksekusi?" tanya Roderich. "Oh, yang dieksekusi itu, dua orang pengawal yang menemanimu jalan-jalan di hutan waktu itu. pengawal bernama Alfred dan Arthur." Jelas sang ratu. "Oh. Lalu, bagaimana cara eksekusinya?" tanya Roderich. "Tentu saja dipancung kepalanya nak." Kata sang ratu.
Kami langsung terkejut setengah mati. Eliza saja hampir pingsan. Tapi nggak jadi.
"Pengawal, segera bawa dua orang yang akan dieksekusi hari ini." Perintah sang ratu pada pengawalnya. "Baik, Yang Mulia." Jawab sang pengawal.
Beberapa menit berlalu. Tapi, sang pengawal tak kunjung datang membawa dua orang itu. Tiba-tiba sang pengawal datang. Tapi, tanpa dua orang itu. "Yang Mulia, dua orang yang akan dieksekusi itu tidak ada di sel mereka!" kata sang pengawal. "APA? bagaimana bisa?" tanya sang ratu. "Entahlah, kami tidak tahu Yang Mulia." Jawab sang pengawal. "Cari mereka!" perintah sang ratu. Para pengawal langsung mencari mereka.
Sementara itu, Alfred dan Arthur ternyata sedang kencan dengan pacar mereka masing-masing. Arthur sedang kencan bersama Lily. Sementara Alfred sedang kencan bersama Natalia. Ivan yang mendengar berita itu, langsung syukuran tujuh hari tujuh malam.
"Oh Lily, kau sangat cantik bagaikan bunga Lily. Indah sekali." Ucap Arthur dengan gaya gentleman bersama Lily di kafe yang ada di dekat istana. "Ah, kau bisa saja Arthur." Ucap Lily malu-malu. Mereka berkencan sambil minum cappuccino satu gelas berdua.
Sementara itu Alfred…
"Hei Natalia, bolehkah aku pinjam pisaumu?" tanya Alfred pada Natalia. "Boleh," kata Natalia lembut sambil memberikan salah satu pisaunya. "Lihat ini." Kata Alfred sambil bergaya (sok) keren. Alfred melempar pisau itu. pisau itu melesat ke arah papan dart yang dipasang di dinding, dan… dengan akurasi tinggi, mengenai titik tengah yang diameternya hanya 12 mm. dan sebagai fakta, itu adalah satu-satunya hal yang belum dilakukan Natalia dengan pisaunya. "Wow, keren!" puji Natalia. "Tentu saja. Hero kan bisa melakukan semuanya."
Tiba-tiba, seorang pelayan menghampiri mereka dan berkata, "Selamat, anda adalah orang pertama yang bisa melempar pisau dengan tepat ke titik tengah papan dart dari jarak 5 meter!" Natalia pun semakin kagum. "Alfred hebat!" puji Natalia. "Tentu saja!" kata Alfred.
Okeh, cukup dengan Arthur dan Alfred-nya. Mari kita kembali ke kerajaan dimana para pengawal sedang pusing tujuh keliling mencari mereka berdua.
Karena para pengawal terlalu lama mencarinya, Eliza memutuskan untuk membantu. "jurus Bya-piiip-gan!" serunya. Dan kali ini, berhasil. Tapi hanya Arthur yang berhasil dilacak. Akhirnya, Eliza pun menggunakan jurus-jurus lain seperti mari melacak, ayo mencari, dan jangan biarkan ia lari. Tapi, tetap saja tidak berhasil.
Akhirnya, Roderich membantu dengan menggunakan jurus Bya**gan. Dan Roderich berhasil melacak posisi Alfred. Roderich segera memanggil 4 orang pengawal. "Pengawal! Cepat kemari!" "ada apa, Yang Mulia?" tanya seorang pengawal. "Saya dan istri saya sudah mengetahui posisi Alfred dan Arthur!" kata Roderich. "Yang benar saja, Yang Mulia, anda tidak beranjak dari tempat anda sedikitpun! Istri anda juga sama!" kata sang pengawal bingung. "Itu bukan urusanmu. Udahlah, percaya gak nih?" tanya Roderich. "Eh, i-iya, Yang Mulia! dimana posisi mereka? saya dan ketiga teman saya akan pergi ke sana secepatnya!" kata sang pengawal. "Posisi Alfred ada di Pub terdekat, sementara Arthur berada di kafe terdekat! Iya kan, sayang?" tanya Roderich pada Eliza karena kurang yakin akan posisi Arthur. "Benar, kok." Kata Eliza.
Para pengawal segera pergi secepat mungkin ke tempat yang disebutkan.
Setelah mereka mendapatkan kembali Alfred dan Arthur secara paksa, dan pacar-pacar mereka ikut juga. Ratu hampir memulai eksekusi, tapi Roderich mencegahnya. "Jangan lakukan eksekusi itu!" kata Roderich. "Iya, benar! Kasihan mereka!" timpal Eliza. "Tapi, kenapa?" tanya sang ratu bingung. "Eksekusi itu terlalu kejam! Lebih baik, lakukan eksekusi pilihan kami!" kata Eliza. "Memangnya, pilihan kalian apa?" tanya sang ratu. "Suruh mereka mendengarkan Fantaisie-Impromptu Chopin tujuh hari tujuh malam nonstop!" ucap Roderich. "APA?" teriak Alfred dan Arthur.
"Hmm… eksekusi pilihan kalian bagus juga. Dengan itu, saya, sebagai ratu menyatakan bahwa mereka harus mendengarkan Fantaisie-Impromptu Chopin tujuh hari tujuh malam nonstop!" kata sang ratu mengumumkan. "TIDAAAAKK!" teriakan Arthur dan Alfred terdengar sampai ke menara di tengah hutan.
END
Rina: Selesai!
Muth: HORE!
Kartika: Kenapa gue mesti dipasangin sama si malingsial itu!
Rina: 'Cuz the script says so.
Kartika: Dasar script sialan! gue robek tuh!
Ivan: Thankyou udah bikin natalia dipasangin ama alfred!
Muth: Sama-sama.
Gilbert: Yah, gak awesome. tadi udah bagus roderichnya mati. eehh... malah idup lagi!
Rina: Yah, script-nya bilang gitu. mo gimana lagi?
Muth: Udahlah, yang penting cerita ini...
Rina: AWESOME!
Gilbert: Eh, catchphrase gue!
Rina: Biarin... week..
Gilbert: Awas lu! *ngejar Rina*
*Gilbert dan Rina kejar-kejaran*
