.
.
Spica Zoe
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."
.
Akagi - Kaga
.
.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Apa dosaku karena telah merebut Yukimura darimu begitu sulit untuk kau maafkan? Siksa aku! Bunuh jika kau mau! Kau punya wewenang melakukannya sama seperti kau melukai adikku. Tapi, satu hal saja yang kuinginkan darimu Akagi-san. Tolong kembalikan hidup dan diriku yang dulu."
Akagi meremas kedua lengannya. Ia masih diam di tempatnya. Bersandar pada meja kosong, berdiri angkuh sambil kedua tangannya masih terlipat di dadanya.
Tangisan dan permohonan Shoukaku ia dengar dengan jelas. Tapi bukan itu maksud kedatangannya.
Tangisan Shoukaku tak sebanding dengan luka dalam hatinya. Airmata Shoukaku tak sebanyak airmata yang pernah ia keluarkan dalam keadaan paling tersembunyi bahkan Tuhan mungkin pun tak tahu setelah ia terluka.
Kekasihnya.
Pria yang ia cintai dinistai oleh kepercayaan yang telah ia yakini akan wanita di depannya ini. Tapi seperti angin topan yang tiba-tiba memorak-porandakan alam. Begitu juga hati Akagi hancur tak bersisa.
Setelah Akagi mendapati kabar jika dirinya hamil. Batinnya meremuk bagai satu ton kaca yang dihempas dari atas langit.
Hancur berkeping. Tak lagi berbentuk dan berserakan ke segala arah.
Akagi menderita lahir batin.
Tidak lagi bisa ia ungkapkan bagaimana gelisahnya keheningan dalam dadanya.
Dan belum lagi Akagi pulih dari kegelisahaannya, Shoukaku malah ingin bertemu dengannya dengan alasan yang tidak ada bedanya.
"Dan bisa 'kah kau mengembalikan hidup dan diriku yang dulu?" Akagi ingin menangis.
.
Shoukaku menunduk masih begitu sesak. Apapun yang akan ia ucapkan, Akagi tidak akan pernah memenuhi keinginannya untuk keluar dari perusahaan ini. Besar keinginan Shoukaku untuk lari begitu saja, tapi ia telah terikat kontrak dan tidak mungkin bisa ia sembunyikan Zuikaku dari seorang Akagi.
Untuk itu, ia berlutut dan bersujud. Ancaman dari mulut Akagi yang akan ikut mengundurkan diri dari perusahaan pun membuat Shoukaku terbebani.
Dunia mereka tidak akan lagi bisa seindah mimpi yang Akagi pernah ingin raih.
Dan Shoukaku sadar, dosanya pun telah begitu banyak.
"Apa yang terjadi?"
Dan saat itu Akagi tidak pernah menduga jika pertemuan itu adalah bagian dari garis besar kehidupannya.
Kaga memergoki mereka.
.
.
.
"Apa semua orang sudah berkumpul?"
Kaga tidak menoleh ketika bertanya pada salah satu orang yang sedang menungguinya. Beberapa lembar masih harus ia paraf dan selesaikan dengan segera.
"Manager dari bagian keuangan divisi anak belum hadir nona." Balasnya sigap.
Gerakan tangan Kaga terhenti sejenak, namun kembali ia lakoni kegiatannya disaat ia mendengar langkah kaki memasuki ruangannya.
"Lima menit lagi, waktu pertemuan akan tiba. Dan masih ada beberapa direktur tamu yang belum tiba nona." Salah satu dari beberapa banyak orang yang bertanggung jawab sebagai sekertaris pribadi Kaga.
"Jika manager keuangan dari divisi anak sudah tiba, pertemuan akan dimulai."
Akagi masih belum datang juga?
"Tapi, direktur Nagato baru saja menyampaikan pesan jika manager Akagi tidak akan ikut pertemuan."
Kaga mengerutkan dahinya. Akagi adalah manager yang paling dibutuhkan dalam pertemuan ini. Dan satu-satunya manager yang ikut serta dalam setiap pertemuan para direktur. Bagaimana mungkin ia tidak hadir? Manager yang menangani semua keuangan dari anak perusahaan yang tersebar di seluruh Tokyo-Jepang.
Kaga mengumpat.
Ini sudah seminggu sejak permohonan Kaga ditolak oleh Akagi.
"Kau bisa datang, tapi jangan pernah mencoba untuk membawaku pulang."
Kalimat itu masih begitu lekat merekat di otak Kaga. Penolakan itu memang tanpa amarah, namun begitu nyata memukul keyakinan dirinya.
Kaga bangkit dari kursinya. Lima menit yang telah berlalu tidak lagi ia pedulikan. Ditatapnya kedua wanita itu dengan tatapan datar, lalu bergumam berat. "Katakan pada mereka jika aku akan terlambat." Dan setelah itu ia pun melangkah pergi.
.
Akagi boleh menolaknya. Akagi boleh mengabaikannya. Akagi boleh menyakitinya. Akagi boleh melakukan apapun yang ia suka. Tapi Kaga tidak pernah mengijinkan jika Akagi menyepelehkan posisi Kaga yang jelas lebih berkuasa darinya.
Koungo tersentak kaget saat ia mendapati dirinya hampir saja bertabrakan dengan tubuh Kaga di pintu masuk divisi. Secangkir kopi hangat yang ia genggam terciprat tepat ke seragam Kaga tanpa mampu ia cegah dengan cepat.
"A-aku minta maaf Kaga-sama-"
"Akagi-san dimana?"
Kepanikan Koungo berubah menjadi sebuah pertanyaan.
Mutsu mendekati dari arah mana asal keributan berada. Dilihatnya Kaga dan Koungo sudah saling menatap. Blazer gelap Kaga mungkin tak begitu tampak kotor, namun kemeja putih yang terbungkus di dalamnya ternoda cukup jelas dari tumpahan kopi yang Koungo hasilkan.
"Seragammu kenapa Kaga-san? Dan bukannya ada rapat penting saat ini?" tanyanya penasaran.
Kaga tak menggubris.
"Aku ingin bertemu Akagi-san." desaknya mengabaikan kedua wanita itu dan melangkah cepat menuju ruangan Akagi. Ingin menemuinya. Dan memberi Akagi teguran akan siapa yang berkuasa di sana.
.
Kaga membuka paksa pintu ruang Akagi bercampur kesal. Tidak ada siapapun di sana. Hening dan senyap yang ada.
"Dia tidak ada di ruangannya. Beberapa menit lalu ia telah meninggalkan tempat." Jelas Mutsu mendapati ruangan Akagi yang kosong. Berdiri di sisi Kaga yang sudah menoleh padanya.
"Kemana?"
"Kemana? Pertemuan itu, dia harus ada 'kan?" tanya Mutsu bingung.
Ada apa ini. Kenapa Kaga mempertanyakan keberadaan Akagi? Seluruh penjuru perusahaan pun tahu, Akagi akan selalu ikut dalam pertemuan para direktur.
"Tapi Nagato-san bilang, Akagi-san tidak akan ikut pertemuan. Untuk itu aku menyusulnya ke sini. Dan lagi pula, jika Akagi telah keluar beberapa menit lalu, kenapa aku tidak berpapasan dengannya di sepanjang jalan menuju ke sini?" Jelas Kaga penuh tanya.
Mutsu berpikir sejenak. Kaga ada benarnya juga. Tapi, jika Akagi pergi ke tempat lain atau tujuan lain selain pertemuan yang sudah dijadwalkan, Akagi akan menitipkan pesan pada salah satu orang yang ada di ruang divisi sebelum ia pergi.
Mutsu melangkah meninggalkan Kaga, yang telah mengekor tanpa diperintah. Melangkah menuju ruang kerja divisi dan bersuara pada mereka. "Apa Akagi-san menitipkan pesan atau sesuatu pada kalian sebelum ia meninggalkan ruangan?" tanyanya yang disambut dengan tatapan dan kemunculan kepala dari bilik-bilik meja kerja para karyawan.
Musashi bangkit menatap Kaga dan Mutsu yang berjarak cukup jauh darinya.
"Dia dibelakang kalian." ucapnya, membuat Mutsu dan Kaga langsung berbalik cepat.
"Ada apa mencariku?" tanya Akagi menatap mereka datar.
Mutsu tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Hampir saja ia menubruk tubuh Akagi yang telah berdiri menantang menatap mereka. Sedang Kaga masih tetap tenang.
"Rapat telah dimulai dan kau masih berada di sini?" Kaga mulai bersuara.
"Aku sudah berada di ruang pertemuan tujuh menit sebelum jam pertemuan dijadwalkan. Dan kau sebagai pimpinan malah keluyuran di divisi kecil yang seharusnya tidak perlu setiap saat kau datangi." Tukas Akagi membalas.
Kaga meregangkan rahangnya.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Tadi aku mendapat pesan dari Nagato-san jika kau tidak akan hadir dalam pertemuan, untuk itu aku datang ke sini." Intruksi Kaga untuk dirinya sendiri.
"Bukan Nagato-san. Aku yang telah menyuruh sekertarismu untuk mengatakannya padamu jika kau bertanya tentang kedatanganku. Dan aku ke sini untuk menjemputmu."
"Kau ..." Kaga merasa kalah.
Merasa dipermalukan oleh bawahannya di depan bawahan yang lain. Apakah Kaga harus tersenyum meski ia tahu jika Akagi memang sedang ingin bermain-main dengannya?
Mungkin ini hanya perasaan Kaga saja, atau ia yang berlebihan berharap. Dari sisi wajah Akagi yang datar, Kaga rasa ada satu senyuman yang tersembunyi khusus untuknya di sana.
Mutsu mengantisipasi kemarahan lebih lanjut dari salah satu dari dua orang yang berada di hadapannya. Koungo hanya menantikan aksi selanjutnya, sedang yang lain mengintip dengan samar-samar keadaan kerja.
Dan keanehan suasana itu tiba-tiba terusik ketika suara dering telepon yang beberapa kali berdering kini mati dan diganti oleh suara Yamato untuk keduanya.
"Kaga-san. Akagi-san. Nagato-san menelpon dan menyuruh kalian untuk cepat datang ke ruang pertemuan."
Kaga menatap Yamato lembut, lalu berseru "Katakan padanya, lima belas menit lagi kami akan tiba di sana." Sebelum ia menarik tangan Akagi dan menyeretnya dari ruang divisi.
Yamato mengangkat bahunya mengantar kepergian Kaga dan Akagi sambil matanya menatap Mutsu bingung. "Mereka sudah beranjak dari sini baru saja, dan Kaga-san berpesan mungkin mereka akan tiba di sana sekitar dua puluh menitan lagi. Mungkin urusan sepasang kekasih." Terang Yamato dengan sedikit cengiran diakhir kalimat yang ia sampaikan melalui telepon pada Nagato di seberang sana.
Mutsu tersenyum, Koungo apalagi. Semua orang di ruang divisi itu menatap Yamato dengan perasaan berbeda. Dan setelah Yamato menutup telponnya, mereka semua tertawa.
.
.
AN : Ketawa juga ah :D Lucu kalau bayangin eksprei Nagato di seberang sana.
.
.
.
.
Seminggu sudah Akagi menolak Kaga untuk membawanya pulang. Tapi, setelah semua itu terjadi, kenyataan sebaliknya yang terjadi mereka menjadi bahan rumor terbaru di segala penjuru perusahaan, selain rumor-rumor lain seputar masalah pekerjaan.
Akagi memang masih menolak Kaga. Masih mengabaikannya. Masih tetap sama seperti Akagi yang sebagaimana mestinya.
Tapi kepekaan orang lain mungkin jauh lebih bekerja dengan unggul dari pada kepekaan Akagi sendiri tentang perasaan Kaga.
Selama seminggu itu juga, Akagi selalu memergoki Kaga yang semakin gencar mengunjunginya ke ruang divisi. Mempermalukan dirinya sendiri sebagai seorang pimpinan tertinggi dalam perusahaan.
Ketika jam makan siang, semua mata di ruang divisi selalu menonton aksi Kaga yang membawa beberapa bekal untuk ia berikan ke Akagi.
Saat sore hari, ketika para karyawan di ruang divisi melewati pintu utama divisi untuk melangkah pulang, mereka akan mendapati Kaga berdiri di sana entah untuk menunggu Akagi atau malah ingin mengejuti orang lain yang keluar.
Terkadang, beberapa gadis yang bergerombolan akan tertawa dengan cekikikan tertahan ketika mereka baru saja melewati Kaga yang nyaris seperti tak bermartabat hanya untuk menunggu di sana sebab Akagi telah melarangnya masuk.
"Aku tak menyangka direktur utama adalah orang yang selucu itu."
"Ya. Dan terbukti Akagi-san ternyata bisa sekejam itu."
Tawa-tawa mereka yang tertinggal di pendengaran Kaga.
.
.
Semua rumor tentang kegigihan Kaga telah meluasi perusahaan. Berawal dari divisi itu dan menyebar ke divisi lain.
Mereka seperti sepasang insan yang mungkin sedang menghirup harum asmara, menurut Yamato. Sedang Koungo berkata lain, "Kaga-sama tidak tahu apa yang sedang ia perbuat." dengan gaya seperti pemuka agama yang sedang berkhotbah dan itu membuat mereka tertawa.
Mutsu sendiri punya pemikiran lain, setidaknya Nagato telah berpesan padanya untuk tidak menanggapi dengan serius apa yang telah terjadi di antara dua perempuan itu.
Karena Nagato pun tahu siapa sebenarnya Akagi.
"Dia anak kandung dari pemilik." Dan tiba-tiba, Shoukaku mengeluarkan kalimat itu begitu saja. Di depan mereka yang sedang melahap nikmatnya makan siang.
Keadaan tidak begitu cepat berubah. Masih ada sisa-sisa tawa Koungo yang habis-habisan dinasehati Kitakami untuk tidak berpikir berlebihan. Sedang Mutsu mulai ingin mendengarkan.
"Kaga-san? Memang benar 'kan?" tanya Yamato menyatakan.
Shoukaku meletakan garpuya.
Ia menerawang kehampaan di depan pandangannya. Seperti mati rasa, seperti tidak lagi tahu harus berbuat apa.
Rumor-rumor yang ia dengar sepanjang minggu ini hanya tentang kedekatan Kaga dan Akagi membuatnya sedikit tersiksa. Sedang dirinya, Kaga menjatuhi sanksi padanya untuk mengganti semua dana yang telah ia ambil dalam waktu setengah tahun dari perusahaan.
Shoukaku tidak habis pikir, bagaimana ia bisa mengganti uang perusahaan sebanyak itu dalam jangka waktu singkat. Dan biasanya, bukankah Akagi akan membantunya apapun masalah yang ia hadapi? Lalu kenapa sampai hari ini Akagi tidak datang padanya dan bertanya apa-apa.
Apa Akagi sudah mencampakannya karena Kaga telah ada?
Sedikit sesak bagi Shoukaku memikirkannya.
"Akagi-san..." hening sejenak ketika Shoukaku menggantung kalimatnya. Menyebut nama Akagi sebagai awal pembuka kalimat yang membuat orang-orang yang mendengar menanti tak sabar.
Koungo menghentikan tawanya saat Kitakami memaksanya untuk diam. Keadaan dan tatapan semua orang yang berada dalam meja yang sama dengan Shoukaku berubah menjadi tatapan yang penuh tanya dan tuntutan.
"Akagi-san anak kandung pemilik dan pewaris sebenarnya perusahaan. Sedang Kaga-san hanyalah seorang anak angkat yang tidak lain adik angkat Akagi-san sendiri."
Semua hening menyimak.
Hening sampai tanpa mereka duga Kaga hadir dengan sosok yang paling asing bagi mereka di tempat itu, Akagi.
Sudah mendengarkan pembicaraan dari ekpresi wajah Kaga yang Shoukaku tahu.
Membuat Shoukaku merasa terancam.
Keadaan dan kekalutan hati membuatnya terancam. Ia tidak pernah menyangka akan bertatapan muka dengan Akagi di tempat ini. Di tempat yang nyaris tak pernah Akagi singgahi. Bahkan di saat ia baru saja mengatakan tentang satu kebenaran yang mungkin paling ingin Akagi tutupi.
Shoukaku bangkit dari duduknya. Melangkah mundur seakan sedang melihat hantu yang ingin membunuhnya, sedang Akagi tidak berniat melakukan apapun.
Baik Mutsu, Yamato dan yang lainnya yang berada di sana memandang mereka penuh kebingungan. Sedang Kaga mencoba untuk tak semakin memperparah suasana.
Kaga tahu, Shoukaku merasa terancam dengan kehadirannya. Meski Kaga bisa menduga, tangan kanan Akagi ini mungkin tidak akan berniat bicara lebih banyak tentang kebenaran Akagi yang hampir keseluruhannya ia tahu.
Kaga ingin menyakinkan dirinya sendiri dengan pemikiran seperti itu.
Dari sisi hatinya, ia masih mengagumi Shoukaku sebagai orang yang cukup bisa dipercaya. Jika tidak, bagaimana mungkin rumor tentang Akagi diperusahaan ini masih simpang-siur. Jika Shoukaku bermulut besar, bisa saja ia memperjelas semua rumor yang ada dengan kenyataan sebenarnya.
Iya. Shoukaku masih bisa dipercaya.
Kaga masih tetap berkeyakinan, sampai Atago yang tidak begitu paham keadaan mencoba untuk mempertanyakan kehadiran Akagi di tempat itu yang masih tidak biasa.
"Tumben-"
"Dan dia sedang hamil."
Atago menahan kalimatnya ketika kalimat Shoukaku dengan cepat mendahuluinya.
Semua orang terperangah.
Seketika itu kepercayaan Kaga akan keyakinan yang baru saja ia bulatkan pada Shoukaku, hilang sudah.
"SHOUKAKU-SAN!" Kesabaran Kaga telah di ambang batas.
Akagi mendesah berat.
"Apa?"
"Hamil?"
"Bohong!"
Kata-kata lain terus terucap begitu saja, baik dari kelompok meja Mutsu, juga kelompok meja lain.
Suara Kaga. Teriakan Kaga menarik perhatian semua orang yang berada di sana. Keributan yang Kaga hadirkan membuat mata mereka menangkap sosok Akagi yang ditakuti ternyata juga turut serta di sana.
Mutsu langsung bangkit meraih tangan Kaga dengan cepat sebelum langkah kaki gadis itu bertemu dengan posisi Shoukaku yang meringkuk takut. seketika saja semua hal di sana berubah total menjadi menakutkan.
"Tutup mulutmu!" Kaga menggeram mendapati kerah kemeja Shoukaku lebih cepat dalam genggamannya sebelum tangan-tangan Mutsu dan Yamato menahan gerakannya.
Tidak lagi ia pikirkan bagaimana Akagi akan mendengar semua aib itu keluar dari mulut Shoukaku secara langsung. Tidak lagi ia pedulikan Akagi masih di sampingnya atau tidak. Yang ada di kepalanya hanya bagaimana caranya agar Shoukaku menutup mulutnya.
Koungo terpekik kaget ketika meja yang ia tempati bergeser cukup keras mendorong tubuhnya yang masih terduduk. Dorongan tubuh Kaga pada meja itu cukup keras sampai membuatnya bergeser cukup jauh.
"Kaga-san. Hentikan." bisik Mutsu yang sadar sudah banyak mata yang menatap mereka, juga telinga yang telah mendengar segala yang telah bersuara.
Kaga masih menggeram. Mutsu bukanlah orang yang tepat untuk meringankan amarahnya.
"Hentikan Kaga-san." hingga akhirnya Akagi yang bersuara. Diraihnya genggaman tangan Kaga pada kemeja Shoukaku. Berusaha melepas namun cukup enggan.
"Kau masih membelanya?!" Kesal Kaga tak tertahan. Sungguh, jika sedang kesal seperti ini, amarahnya tak bisa ia tahan. Apalagi jika itu berhubungan dengan Akagi yang masih saja ingin melindungi Shoukaku.
"Aku tidak ingin mengulang kalimatku. Hentikan." tekan Akagi berusaha menahan rasa yang bergejolak dalam dadanya.
Kaga tidak tahu, bahwa Akagipun bergejolak.
Semua mata memandang kerasnya jiwa Akagi yang mendorong Kaga untuk menuruti perintahnya tanpa paksa, namun begitu nyata.
Kaga melepaskan genggaman tangannya pada kerah kemeja Shoukaku. Membuat wanita yang terjerat itu mundur beberapa langkah dan terbatuk karena ketakutan. Dan sebelum detik berubah menjadi menit, Akagi menatap Shoukaku dan memerintahnya untuk pergi.
"Pergilah sebentar dari hadapanku. Dan jangan coba-coba untuk menunjukan wajahmu di depan Kaga-san seorang diri, Shoukaku-san."
Dan setelah semua mata melihat Shoukaku berlalu pergi, bisik-bisik memenuhi pendengaran Kaga dan Akagi.
Mungkin setelah ini, rumor itu akan semakin marak dipendengaran.
"Kaga-san ..."
Kaga menepis tangan Akagi kuat tanpa pertimbangan. Meninggalkan semua orang yang berada di sana. Bahkan di saat seperti ini, Akagi lebih membela Shoukaku dari padanya.
.
.
.
AN (+) : Kaga kalau ngambek kayak cewek. Tapi ngamuknya kayak cowok. Sebenarnya kamu itu jenis makluk seperti apa sih, Ga. :'(
.
.
.
"Boleh saja kau menolakku. Mengabaikanku. Tapi, jangan jatuhkan harga diriku sebagai atasanmu di hadapan bawahanku." Kaga menjepit tubuh Akagi ke dinding ruang yang sepi. Ruang yang Kaga tahu begitu jarang di gunakan, tepat di ujung koridor lantai.
Akagi menantang pandang.
"Sudah berapa kali kuperingatkan untuk jangan datang ke divisiku apapun itu. Dan baru aku ingin mengujimu, ternyata kau tidak pernah mengindahkan perintahku." Kesal Akagi menahan amarah.
"Kau boleh mengintimidasiku dimanapun Akagi-san. Tapi aku tetap atasanmu selama kita berada di lingkungan pekerjaan." Kaga menggeram.
"Kau pikir aku peduli?" Akagi membalas sengit.
Kaga tergoda.
"Tapi, kuberi kau keringanan. Khusus ketika kita berdua seperti ini, meskipun dalam lingkungan kerja, kau tetap menjadi penguasa." Bisiknya sambil tangannya menggerayangi tubuh Akagi, semakin menghimpit tubuh wanita hamil itu, menjalar ke sisi terluar dada dan memasuki area punggung. Membuat Akagi menahan amarah dan desah yang bercampur sesaat Kaga mengelitik telinganya dengan lidahnya yang basah.
"Hentikan, mesum! Kita ada pertemuan." Geram Akagi menahan.
"Lima belas menit, aku rasa cukup untuk-AHHH!" Kaga mendapati Akagi mengigit lehernya saat dorongan dari tangannya tak Kaga indahkan.
"Kau suka sekali menggigitku Akagi-san!" rengek Kaga menyentuh lehernya.
Akagi tampak frustasi.
"Dan kau pun harus tahu. Jika dalam lingkungan kerja, aku tidak bisa mengabaikan peranku." Tepis Akagi pada tangan Kaga yang mengukungnya masih menempel di dinding. Didorong Akagi tubuh Kaga dan melangkah pergi. meninggalkan pelecehan sang adik angkat yang tidak pernah jerah menerima amukan darinya. Sampai saat Akagi merasa ada satu hentakan di belakang tubuhnya, dan tangan-tangan Kaga tahu-tahu sudah mendekap tubuhnya. Melingkar di pinggulnya, sedang bibir Kaga telah menyentuh lehernya.
Kaga terpejam.
"Terimakasih Akagi-san." bisiknya lembut, dan Akagi mendengarkan. "Terimakasih. Meskipun kau begitu murka padaku, tapi kau tidak pernah ingin meninggalkanku dalam kesakitan karena pengabaianmu."
Akagi terdiam.
"Terimakasih."
Kaga tidak tahu. Kenapa ia tidak pernah menemukan jawaban tentang Akagi yang selalu saja bisa berkuasa atas dirinya.
.
.
.
.
.
AN..: Akagi begini yang pengen minta diperkosa Kaga sebenarnya. Gemesin. Diperkosa Kaga baru tahu rasa -_-
