Chapter 10: How Did She…

"Jadi ini…" Elycia berdecak kagum melihat tempat yang bernama Odin Temple. Setelah semalaman aku tak bisa tidur mendengar hujatan kalimatnya yang mengataiku playboy, langsung deh aku badmood semalam. Tapi yasudahlah.

"Hati-hati, Elycia." Xenia maju, berusaha melindungi Elycia. Dikeluarkan rapiernya perlahan, dan maju.

"Tetap dibelakangku, kalian berdua." Xenia menatapku dan Elycia. Nichal tersenyum sombong.

"Nah, Nichal, kau yang levelnya paling tinggi disini." Ujar Xenia. Nichal hanya mengangguk dan siap melindungi Xenia, aku dan Elycia.

"Soul Strike-ku yang terhebat." Gumam Nichal sombong. Aku hanya ingin tertawa melihat sikap sombongnya. Tapi jika tidak sombong, bukan Nichal, benar?

Kami pun sampai di Odin Temple Field 1.

"Hati-hati." Ujar Xenia. "Disini ada Breeze, Frus, dan lainnya."

Aku menggengam tangan Elycia kuat-kuat. Aku takkan membiarkannya tersakiti lagi.

"Apa sih, kakak ini? Pegang-pegang aku. Sekuhara!"

JLEB! *Gibson pundung di pojokan*

"Bukan begitu, Elycia… Gibson pasti ingin melindungimu, ya kan?" Xenia tersenyum pada Elycia, mencoba memberi pengertian. Elycia menatap Xenia dengan mata beningnya, dan mempererat genggaman tangan kami.

"Ini hanya karena kakak Xenia yang menyuruh ya!" dengan angkuh Elycia membuang muka. Ya sudah, toh ada bagusnya juga aku bisa menjaganya…

"Tunggu." Nichal meng-cast Sight. "Untuk jaga-jaga."

Xenia tersenyum bangga dan mempersilakan aku serta Elycia masuk ke dalam lingkaran Sight, disusul Xenia dan Nichal mulai melangkah.

"Hati-hati, semuanya." Xenia maju. Aku sedikit iri dengan Xenia. Wanita Paladin yang berwajah tenang, ramah, namun hatinya dingin. Ia begitu kuat karena kepercayaan dirinya. Namun aku yakin, jika ia kehilangan kontrol atas dirinya, ia bukan lagi seorang Paladin yang kami kenal. Segalanya begitu ia simpan, rapat, dan juga berbeda. Ia mempunyai aura tersendiri yang membuat orang-orang tunduk padanya.

Nichal. Seorang High Wizard yang terlihat sombong. Air mukanya 'keras', pembawaannya kuat, namun sebenarnya seseorang yang berhati 'berlawanan' dengan sikapnya. Terlihat pintar, dan bibirnya mampu meluncurkan serangan magis tingkat tinggi dalam waktu yang sempit. Segala perhitungannya begitu matematis, memfaatkan waktunya sebagai seorang Wizard adalah kemampuannya. Segala rapalan mantranya dari jarak jauh dengan 'mata elangnya' sangat presisi, membuat yang lain terkagum-kagum dan iri.

Elycia. Seorang anak yang hidup disebuah keluarga dengan sistim peraturan yang 'lawas'. Ketat dengan perjodohan dan penentuan masa depan yang diatur oleh orang tua. Kehilangan keceriaan dan kebebasannya semenjak ia dipaksa menjadi seorang Thief. Bahkan sampai sekarang pun masih terbayang jelas ketakutannya akan masa lalu, meskipun hal tersebut telah lewat.

Gibson. Bersikap melindungi, ingin menjadi kuat dan peduli pada sesama. Yang ia kejar adalah kekuatan untuk melindungi, bukan hati untuk melindungi. Kehilangan pandangannya akan masa depan, ingin dekat dengan semua gadis (ya, rada playboy) dengan memanfaatkan ketampanannya.

Sapuan hawa bangunan yang sudah lama menyelimuti mereka berempat.

Sampai ada suara raungan sesuatu yang menyegat…


Tuhkan. kebiasaan jelek saya nulis chappie pendek balik. maaf ya, krn saya mengejar waktu aplot utk apdet sekilat mungkin, krn sedang kena entah hiatus atau write's block (baca bio saya). maaf sekali lagi, dan terimakasih sdh membaca.