Baddest Male
Summary:
Park Chanyeol ialah seorang lelaki tampan yang mapan. Mansion, jaguar, dan wanita adalah hidupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uangnya. Hidupnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna sampai akhirnya Byun Baekhyun mantan kekasihnya datang dan memintanya merawat bayi mereka. Apa kau bercanda?
Rated:
T+ (dianjurkan untuk 15 tahun ke atas)
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other EXO member.
Luhan melihat ke ujung lorong lalu mendesah lega. "Ini dia", gumamnya pelan. Chanyeol berlari ke arahnya dengan ekspresi panik yang terlihat jelas.
"Dimana Baekhyun?"
"Dia baik-baik saja, mengapa kau begitu khawatir? Kau tidak berpikir aku berusaha membunuhnya kan?"
"Aku tidak sedang bercanda."
"Aku juga", jawab Luhan cepat.
Chanyeol mengernyit heran melihat tingkah Luhan yang menurutnya aneh. Luhan melipat kedua tangannya di dada lalu menghela nafas kasar.
"Wanita itu hamil", ujar Luhan pelan.
Chanyeol terkejut beberapa saat, namun ia kembali pada sikap tenangnya. Bagaimanapun juga ia sudah mempersiapkan diri mengahadapi situasi yang seperti ini. Cepat atau lambat Luhan akan mengetahui soal kehamilan Baekhyun, sekalipun itu bukan dari mulutnya sendiri.
"Bagaimana bisa kau menghamili—"
"Tutup mulutmu, kita bicara di tempat lain. Seseorang bisa mendengarmu."
Chanyeol berjalan lebih dulu sedangkan Luhan mengikuti sepupunya itu dengan mulut menggerutu di belakangnya. Mereka sampai di sebuah lorong rumah sakit yang agak sepi.
Chanyeol menatap Luhan lurus-lurus. "Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan."
Luhan mendecih. "Bagaimana bisa kau bersikap sekeren ini disaat aku sudah tahu rahasia besarmu?", sindir Luhan.
"Cepat bicara selagi aku bersedia bicara denganmu."
"Tuan Park Chanyeol, disini kaulah pihak yang bersalah, bagaimana bisa kau bersikap seperti ini padaku?"
"Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan? Apa aku bersalah karena menghamili Baekhyun? Atau karena aku merahasiakan ini darimu?"
"Jadi kau mengaku padaku kalau itu benar-benar bayimu?", Luhan menjatuhkan rahangnya.
Chanyeol menjatuhkan pandangannya ke lantai dan bungkam. Luhan maju selangkah dan menatap wajah Chanyeol tajam. Hanya dengan membaca raut wajahnya, Luhan langsung tahu jawabannya adalah 'Ya' sekalipun Chanyeol tidak mengatakannya secara langsung.
"Ini sulit dipercaya", gumam Luhan. "Bagaimana bisa kau—", Luhan menutup mulutnya. Ia merasa sulit untuk mengeluarkan kata-katanya.
"Kau mencintainya?"
"Apa?"
"Apa kau mencintai Baekhyun?"
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Tentu saja. Kau menghamilinya Chanyeol. Wanita itu mengandung anakmu. Kau dan dia akan punya keluarga. Bukankah kau benci komitmen dan berkeluarga? Lalu bagaimana sekarang? Kau sudah berubah pikiran?"
Chanyeol terdiam. Ia menerawang jauh ke masa kecilnya. Dimana ayah dan ibunya bercerai disaat ia masih kecil. Ia masih ingat saat dimana ia menangis di tanah setelah tidak berhasil mengejar mobil ibunya. Tidak seorangpun mendengarkannya. Ibunya pergi ke Paris setelah perceraian dan tak pernah kembali. Sedangkan ayahnya seperti orang asing bagi Chanyeol. Mereka jarang bertemu ataupun bicara. Bagi Chanyeol, ia dan ayahnya hanyalah rekan bisnis bukanlah keluarga. Memikirkan buruknya kehidupan keluarga yang ia alami, Chanyeol bertekad tidak ingin menikah, karena ia tidak ingin membuat anaknya bernasib sama sepertinya.
Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Luhan. "Sekarang kau ingin menghakimiku? Atau mengadukan ini pada ayahku?"
Luhan tertawa sumbang. "Apa hanya itu yang ada di pikiranmu tentangku? Apa aku ini sepupu yang begitu buruk?"
"Aku akan menutup mulutku", ujar Luhan.
Chanyeol memandang Luhan cukup lama. Berharap agar gadis di depannya tidak bercanda.
"Sungguh! Berhenti menatapku seperti itu!", Luhan mendorong dada Chanyeol pelan.
"Kau aneh sekali, biasanya kau selalu berkata 'Aku akan adukan pada ayahmu' setiap aku melakukan kesalahan."
"Ya, aku akui kalau aku terkadang menyebalkan", Luhan mengangguk pelan saat mengingat tingkah kekanakannya pada Chanyeol. "Tapi aku akan merahasiakan ini jika kau mau."
"Kenapa?", tanya Chanyeol.
"Anggap saja aku membayar hutang lamaku."
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya bingung. "Kau punya hutang apa padaku?"
Luhan menghela nafas dengan cara dramatis. "Kau lupa? Saat dimana kita tinggal di Amerika, setiap detiknya aku berhutang padamu."
Chanyeol mengernyit semakin dalam.
Luhan yang melihat ekspresi itu memutar mata malas. "Aku sudah bilang padamu saat pertama kali kau mengunjungiku di Amerika, aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
Luhan menghela nafas berat. "Kau lupa? Sudah kuduga sebenarnya IQ-mu itu rendah. Apa kau kuliah di Amerika untuk terlihat keren saja?"
"Aku ingat."
"Benarkah?"
"Hari pertama turun salju bukan?"
Flashback…
Hari itu pertama kalinya Chanyeol menginjakkan kakinya di Amerika. Hanya dengan bermodalkan alamat Luhan, ia pergi menggunakan taksi untuk mengunjungi Luhan.
Sudah enam bulan Luhan tinggal sendirian di Amerika untuk kuliah. Luhan juga bekerja part-time untuk menghidupi dirinya sendiri. Hal itu ia lakukan bukan karena tidak mendapat kiriman uang dari orangtuanya. Ayahnya adalah pemilik perusahaan televisi terbesar di Korea, dan ibunya adalah pemilik saham produk kosmetik terkenal. Tidak ada alasan kalau Luhan kehabisan uang.
Luhan selalu membiarkan uang kiriman orangtuanya masuk ke rekeningnya tanpa menggunakannya. Itu karena uang yang diberikan orangtuanya semata-mata untuk membiayai kuliahnya di jurusan bisnis sedangkan Luhan memilih untuk pindah ke jurusan seni musik tanpa sepengetahuan ayah ataupun ibunya. Ia akan merasa bersalah menggunakan uang orangtuanya dengan salah.
Mengikuti gaya hidup di Amerika, Luhan tidak hanya bekerja di coffee shop, malam hari ia juga menghabiskan waktu untuk berpesta dengan teman-temannya. Karena kebiasaan hura-huranya ini, Luhan sering kehabisan uang. Gajinya sebagai pegawai tidaklah cukup. Dengan alasan itu lah, Luhan memutuskan melamar pekerjaan di majalah dewasa setelah mendengar bayarannya yang menggiurkan. Dengan lekuk tubuh sempurna dan wajah asia yang cantik, pekerjaan menjadi model di dapat Luhan dengan mudah. Namun Luhan hanya mampu bertahan dua bulan di majalah Playboy. Entah bagaimana, ayahnya tahu ia muncul di majalah berlogo kelinci itu dan dengan geram menyuruh Luhan kembali ke Korea. Luhan yang keras kepala membantah ayahnya. Alhasil segala fasilitas mewahnya seperti apartemen, uang dan mobil ditarik oleh orangtuanya.
Hari itu adalah malam natal dimana hari pertama turun salju. Luhan mendapatkan kado natalnya. Bukan baju baru, coklat ataupun permen. Tapi seorang santa claus. Bukan benar-benar santa claus, namun Luhan menyebut orang yang hari itu mengetuk pintunya adalah santa claus pelindungnya.
Pasca penarikan segala fasilitas mewahnya, Luhan menyebut hidupnya seperti gelandangan. Kadang ia menginap di rumah temannya ataupun berpindah di pondok kecil. Ia sering kehabisan uang mengingat pekerjaannya di kafe hanya cukup untuk makan dan membayar uang kuliahnya. Bahkan di hari bersalju, ia tidak punya pemanas karena tagihannya yang mahal. Luhan pikir ia akan mati membeku hari itu. Tidak ada buruknya mati di tanggal yang bagus, setidaknya itu malam natal.
Luhan dikejutkan dengan ketukan pintu. Saat itu ia berpikir mungkin saja malaikat mautnya sudah datang. Luhan berjalan ke depan pintu dengan gontai, tepat saat ia membuka pintu, ia melihat wajah Chanyeol dan semuanya buram.
Chanyeol memotong kayu dengan kapak di halaman, padahal hari itu salju turun dengan lebat. Luhan terbangun dengan kepala pusing. Ia terheran mendapati dirinya tidur dalam bungkusan selimut tebal.
"Apa aku di surga atau di neraka?", gumam Luhan. Matanya menoleh ke sekitar mengamati tempat barunya. Namun ia segera sadar ia masih berada di rumahnya dengan api unggun menyala di dekatnya. Api neraka tidak sekecil ini. Jadi dia belum mati bukan?
Luhan mendengar suara ribut-ribut di luar, seperti suara pukulan benda keras. Luhan memaksa bangun dan membuka jendelanya. Ia menyembulkan kepalanya dan melihat Chanyeol sedang membelah kayu bakar.
"Chanyeol!"
Yang dipanggil menoleh. Chanyeol tersenyum melihat Luhan sudah terbangun. Ia megangkat sebelah tangannya, menyapa Luhan.
"Lama tidak bertemu, Luhan."
"Jadi aku tidak bermimpi? Kau benar-benar Park Chanyeol?"
"Santa Clausmu datang tepat waktu bukan?"
Luhan mengerjap beberapa kali seakan tidak percaya. Namun setelah yakin itu Chanyeol, ia tersenyum lebar bahkan nyaris menangis.
Luhan menyodorkan Chanyeol segelas coklat panas. Mereka berdua duduk di depan api unggun mencari kehangatan.
Chanyeol mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kecil tempatnya duduk. Tempat tinggal Luhan tidak bisa dibilang lebar, ini bahkan sesak untuk ditempati sendirian. "Kau tidak punya pemanas? Aku bahkan harus memotong kayu untuk menyalakan api", ujar Chanyeol setelah menyeruput coklat panasnya.
"Tagihannya sangat mahal, aku tidak sekaya dirimu", sindir Luhan dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat.
Chanyeol mengulum senyumnya. Luhan menoleh ke sebelahnya dan menatap Chanyeol dengan mata rusanya.
"Apa yang kau lakukan di Amerika?", tanya Luhan penasaran.
"Aku menerima emailmu."
"Oh itu."
Chanyeol mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Luhan.
"Apa ini?", tanya Luhan bingung. Ia segera merobek amplop itu dan menemukan banyak lembar uang di dalamnya. Ia memandang Chanyeol terheran-heran.
"Isi emailmu bilang kau butuh uang kan? Aku datang untuk memberikan itu padamu."
"Kau—kau datang kesini hanya karena ingin memberikan ini? Apa kau tidak tahu apa itu bank?"
"Kau tidak suka aku datang?"
"Jujur saja ya. Walaupun kita sepupu, aku hanya bertemu denganmu beberapa kali. Rasanya canggung bicara denganmu."
"Benarkah? Kau bahkan menangis terharu tadi."
"Kapan? Aku menangis karena anginnya terlalu keras", bantah Luhan.
Chanyeol hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
"Kau tidak percaya padaku? Aku bilang itu karena angin."
"Ya terserah saja."
"Ngomong-ngomong, terimakasih karena kau datang. Aku berhutang padamu."
"Ini bukan apa-apa."
"Tetap saja, kau sudah menolongku. Kalau kau tidak datang, mungkin aku sudah mati membeku tadi."
Luhan memandang manik mata Chanyeol. "Aku berjanji akan membalas apa yang kau lakukan hari ini suatu saat nanti."
Chanyeol tersenyum, "Kalau begitu aku akan menunggu hari itu tiba."
Chanyeol bangkit berdiri lalu berkeliling di ruangan kecil itu dan memandang gitar di sudut ruangan. "Kau bermusik?"
"Aku kuliah di jurusan seni musik."
Chanyeol mengernyit. "Apa orangtuamu tahu?"
Luhan mengangguk pelan. "Ya, mereka tahu sebulan yang lalu."
"Dan mereka diam saja?", tanya Chanyeol heran. Baginya tidak ada orangtua manapun dari kalangan jetset yang mengijinkan anak satu-satunya menjadi musisi. Mereka pasti akan memilih kampus dan jurusan yang berkelas untuk anak-anaknya. Contohnya kelas bisnis untuk meneruskan bisnis keluarga mereka.
Luhan tertawa sumbang. "Mana mungkin! Kau lihat saja dimana aku tinggal sekarang. Aku kehilangan semuanya."
"Kau tidak mau kembali ke Korea?"
Luhan tampak berpikir sebentar lalu tersenyum kecut. "Kurasa hidup seperti ini lebih baik daripada tinggal di rumah besar yang sesak."
Chanyeol berjalan kearah Luhan dan duduk di sebelahnya. Ia melihat Luhan menghela nafas berat.
"Ayah dan ibuku berteriak satu sama lain setiap hari. Tidak ada kedamaian sama sekali. Rasanya kau seperti tinggal di neraka. Jika mereka tidak saling mencintai lagi, harusnya bercerai saja."
"Berterimakasihlah karena mereka tidak bercerai."
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu ayah dan ibuku bercerai sejak aku kecil, kau tidak akan tahu rasanya bagaimana diejek tidak punya ibu saat kecil. Aku selalu marah setiap harinya dan telingaku panas. Rasanya aku ingin membunuh mereka semua. Saat remaja aku sering memukuli teman-temanku bila mereka membahas perceraian orangtuaku. Aku bahkan masuk ke lembaga remaja bermasalah. Ayahku menganggapku tidak berguna dan mengutukku setiap aku melakukan kesalahan."
Luhan menunduk. "Maafkan aku."
Chanyeol tertawa keras. "Untuk apa minta maaf?"
"Aku tidak tahu kau begitu kesepian karena perceraian orangtuamu, sedangkan aku justru ingin ayah dan ibuku berpisah."
Chanyeol tersenyum lembut. "Kau tidak salah apapun, kau dan aku hanya korban. Iya kan?"
Luhan memilin jari-jarinya sembari mengangguk. "Jujur saja padaku. Apa ada alasan lain kau kesini?"
Chanyeol melihat ke sekeliling ruangan Luhan sekali lagi lalu mengangguk. "Tadinya tidak ada, namun sekarang ada."
"Hm?"
"Kau tinggal sendirian?", tanya Chanyeol penasaran. Luhan mengangguk ragu.
"Kalau begitu pindahlah ke apartemenku."
"Apa?!"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya merasa tempat ini terlalu kecil untukmu. Lagipula kita ini keluarga."
"Kau ini aneh sekali, memangnya kau akan tinggal di Amerika?"
"Aku akan kuliah disini. Dan mulai sekarang aku akan mengawasimu. Jadi berhentilah bekerja di majalah dewasa."
"Aku sudah berhenti di—Tunggu!", Luhan membulatkan matanya. "Kau tahu aku pernah bekerja di majalah dewasa?"
"Edisi dimana kau jadi modelnya sangat laris sampai di Korea."
Luhan menggigit bibir dalamnya dan meringis pelan. "Ya Tuhan memalukan sekali!"
"Kemasi barang-barangmu, kita pergi sekarang."
Sejak saat itu Luhan tinggal dengan Chanyeol. Luhan sangat bergantung pada Chanyeol dalam hal apapun. Chanyeol satu-satunya orang yang mendukungnya bermusik, Chanyeol bersikap sebagai kakak, ayah, teman, ataupun musuh. Mereka tumbuh bersama dan saling memahami satu sama lain. Setelah Chanyeol lulus kuliah, mereka memutuskan kembali ke Korea. Untungnya hubungan Luhan dan orangtuanya sudah mulai membaik berkat Chanyeol. Sejak malam natal itu hingga hari ini Luhan bertekad akan membayar kebaikan Chanyeol.
Flashback end…
Luhan masih berdiri berhadapan dengan Chanyeol. "Kau tenang saja, aku akan membantumu menghadapi masalah ini."
Chanyeol mengangguk. "Kau tidak pulang? Biar aku saja yang menjaga Baekhyun."
Luhan mengulurkan tangan kanannya ke depan wajah Chanyeol.
"Apa?"
Luhan mendecih. "Kau ini tidak peka sekali. Aku kesini dengan ambulance. Bagaimana caranya aku pulang?"
Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet kulitnya. Ia memberikan beberapa lembar uang pada Luhan. "Pergilah cari taksi."
Luhan menurunkan tangannya lalu memasang wajah cemberut. "Aku tidak butuh uang!"
"Lalu?"
"Berikan kunci mobilmu."
"Apa?", Chanyeol mengeraskan suaranya. Alisnya saling bertaut menandakan ekspresi penuh protes. Chanyeol menggeleng pelan. "Tidak, hari ini aku membawa Maserati. Jika itu sampai lecet—", Chanyeol bergidik ngeri membayangkan mobil Maserati GranCabrio-nya yang seharga milyaran ditunggangi secara ugal-ugalan oleh Luhan.
"Cari taksi saja!", seru Chanyeol.
"Baiklah, aku akan cari taksi menuju kantor ayahmu dan memberitahunya kalau putra satu-satunya sudah menghamili seorang wanita."
"Bukankah tadi kau bilang akan merahasiakannya? Kau ini sedang bercanda denganku atau apa?", Chanyeol merasa benar-benar frustasi bicara dengan Luhan.
"Terimakasih atas uang taksinya, semoga ibu dari bayimu itu cepat sembuh. Aku pergi sekarang", Luhan berbalik arah dan akan pergi. Namun Chanyeol segera menahan tangan Luhan. Diam-diam Luhan menahan senyumnya. Ia kemudian berbalik pada Chanyeol, ekspresinya sudah berubah dingin.
Chanyeol mengeluarkan kunci mobilnya dari saku dengan gerakan yang sangat berat. Ia menahan nafasnya saat meletakkan kunci mobilnya di telapak tangan Luhan.
"Kau tahu mobil-mobilku sangat berharga bagiku. Aku mohon padamu kendarai itu dengan hati-hati."
"Hei tenanglah, terakhir kali aku menyetir hanya hancur di bagian bempernya", ujar Luhan santai.
"Apa?!", Chanyeol melebarkan matanya secara spontan.
"Aku bercanda, jangan memelototiku seperti itu", Luhan tertawa. Ia tahu kalimatnya cukup membuat jantung Chanyeol nyaris copot.
"Luhan, leluconmu tidak lucu."
Luhan menepuk pundak Chanyeol sembari tersenyum lebar. "Aku pergi ya."
Luhan berjalan girang meninggalkan Chanyeol. Untuk pertama kalinya ia berhasil mencoba mobil mahal Chanyeol. Sejak dulu Chanyeol tidak pernah mengijinkannya atau siapapun mengendarai salah satu mobil mewahnya. Chanyeol memperlakukan mobil mahalnya seperti bayi kesayangannya dan memanjakan mereka seperti benda hidup.
"Hei!"
Luhan berbalik ke belakang saat mendengar suara Chanyeol memanggilnya.
"Kembalikan uang taksinya!"
Luhan menggeleng, "Aku akan gunakan uangnya untuk berkencan dengan Sehun."
"Apa? Ya Luhan!"
-Baddest Male-
Setelah bertemu dokter untuk membicarakan kondisi Baekhyun, Chanyeol menarik kursi dan duduk di samping ranjang menunggu Baekhyun bangun. Chanyeol bersyukur karena Baekhyun dan bayinya baik-baik saja. Dokter bilang Baekhyun hanya stress dan kelelahan, jadi dokter menyarankan Chanyeol untuk menyuruh Baekhyun lebih banyak istirahat dan mengurangi banyak berpikir demi kesehatannya ataupun kesehatan janinnya.
Chanyeol memutuskan untuk menghubungi Sehun mengingat ia pergi kesini dengan terburu-buru setelah membatalkan pertemuannya dengan clien.
"Sehun, apa di kantor baik-baik saja?"
"Sedikit kacau, tapi aku masih bisa mengatasinya sendiri. Bagaimana keadaan Baekhyun?"
"Kurasa ia baik-baik saja, tapi dia belum bangun. Aku akan menunggunya siuman."
"Syukurlah kalau begitu."
"Aku serahkan semua padamu, urus dengan baik. Oke?"
"Tenang saja, kau bisa mengandalkanku. Kalau begitu kita bicara lagi nanti, aku harus mengurus hal lain."
Chanyeol mematikan ponselnya dan kembali menyimpannya ke saku jas. Ia melihat Baekhyun bergerak gelisah, dahinya berkeringat sedangkan mulutnya menggumam kata 'Ibu' beberapa kali.
"Baekhyun, kau baik-baik saja?", bisik Chanyeol.
Baekhyun mendadak membuka matanya. Pandangannya seperti tidak fokus dan kebingungan. Sepertinya ia baru saja mimpi buruk.
"Kau di rumah sakit", ujar Chanyeol pelan. Baekhyun memiringkan kepalanya dan mendapati Chanyeol duduk di sebelahnya. Dadanya naik turun mencari oksigen. Chanyeol membantu Baekhyun duduk dan mengambil segelas air putih di meja lalu memberikannya untuk Baekhyun. "Minumlah."
Chanyeol membiarkan kepala Baekhyun bersandar di dadanya, ia memegang gelas air untuk membantu Baekhyun minum. Setelah itu Chanyeol membantu Baekhyun untuk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Kau mimpi buruk?", tanya Chanyeol.
Baekhyun langsung teringat ibunya. Matanya berkaca-kaca menatap Chanyeol. Ia mulai menangis membuat Chanyeol kebingungan.
"Ada apa? Katakan padaku."
"Ibuku…", Baekhyun berhenti bicara, ia kembali menangis. "Penyakit jantung ibuku kembali kumat. Aku takut sesuatu terjadi padanya. Aku takut—"
"Tenanglah, ibumu akan baik-baik saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Terakhir kali aku bertemu dengannya, aku berlaku buruk padanya. Apa keputusanku untuk kembali ke rumahmu salah? Ibuku sakit dan itu karena aku", ujar Baekhyun di sela-sela tangisnya.
Chanyeol tergerak untuk meraih Baekhyun dalam pelukannya. Hal itu justru membuat Baekhyun menangis semakin keras.
"Sudahlah, kau tidak bersalah, ibumu pasti baik-baik saja. Kau harus kuat demi bayimu Baekhyun. Jangan menangis lagi, sudahlah",tangan Chanyeol bergerak lembut memberi ketenangan di punggung Baekhyun.
"Ini salahku… ini salahku…", Baekhyun terus menyesali perbuatannya.
Chanyeol melepas pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Baekhyun. Mata mereka bertemu. "Tenanglah, kau harus segera pulih. Lalu kita temui ibumu. Bagaimana?"
"Aku bisa menemuinya?"
"Tentu saja. Karena itu cepatlah pulih. Sekarang berhentilah menangis", Chanyeol menghapus air mata di wajah Baekhyun dengan ibu jarinya. Ia terus berada di sisi Baekhyun dan menunggunya hingga Baekhyun merasa lebih baik.
Hari menjelang malam. Karena kondisi Baekhyun yang tidak memungkinkan untuk ditinggal, maka Chanyeol melakukan pekerjaannya hanya dengan bermodalkan laptop dan koneksi internet. Chanyeol sama sekali tidak mengeluh, ia terlalu cemas untuk bisa mengeluhkan tentang apapun.
Baekhyun berbaring di ranjang dan mengamati Chanyeol yang duduk di kursi. Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawa oleh pegawainya. Kini ia mengenakan jeans dan t-shirt hitam, kaus kaki dan sepatu. Wajahnya berhias bingkai kacamata baca. Ekspresi wajahnya serius menatap layar laptopnya. Sekali lagi Baekhyun jatuh ke dalam pesona Park Chanyeol. Semakin hari sikap Chanyeol berubah semakin baik. Baekhyun semakin tersentuh apalagi setelah kejadian hari ini, saat ia tahu Chanyeol rela meninggalkan pekerjaannya dan menunggunya seharian di rumah sakit. Walaupun Chanyeol begitu serius untuk menyelesaikan pekerjaannya, pria itu langsung sigap bila Baekhyun memanggilnya dan tanpa mengeluh meninggalkan laptopnya beberapa saat. Satu lagi sisi Park Chanyeol yang membuat Baekhyun sulit menolak pria itu.
"Chanyeol."
"Ya?", seperti yang Baekhyun duga, Chanyeol segera meninggalkan pandangannya dari depan laptop dan fokus pada Baekhyun.
"Kau butuh sesuatu?", tanya Chanyeol.
"Kau tidak pulang? Kurasa kau punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kau bisa istirahat di rumah. Aku baik-baik saja, ada banyak perawat disini."
Chanyeol menutup layar laptopnya dan melepaskan kacamata bacanya. Ia berjalan ke ranjang Baekhyun.
"Aku tidak sesibuk itu, lagipula aku tidak mungkin meninggalkanmu di kondisi begini."
"Aku sungguh tidak apa-apa."
"Aku juga tidak apa-apa, sekarang tidurlah. Dokter bilang kau butuh banyak istirahat."
"Kau tidak tidur?"
"Aku akan tidur setelah kau."
Baekhyun mengangguk pelan. Chanyeol menarik selimut menutupi tubuh Baekhyun hingga sebatas dada.
"Selamat malam."
-Baddest Male-
Baekhyun membuka matanya karena merasa haus. Ia mengambil posisi duduk dan mengambil air di meja. Setelah menghabiskan air di gelasnya, Baekhyun berhenti bergerak saat melihat Chanyeol duduk di kursi dengan mata terpejam dan kepala yang nyaris jatuh, namun pria itu kembali menegakkan kepalanya berusaha melawan kantuk walaupun matanya masih terpejam. Baekhyun hanya memperhatikannya tanpa berniat mengganggu.
Lagi-lagi Chanyeol nyaris menjatuhkan kepalanya dan Baekhyun dengan sigap menahan kepala Chanyeol dengan tangannya. Namun Chanyeol segera sadar. Ia membuka matanya dengan ekspresi mengantuk. Baekhyun bisa melihat mata pria itu memerah.
"Kenapa kau bangun?", tanya Chanyeol dengan suara serak.
"Aku haus. Bagaimana bisa kau tidur seperti itu?"
"Aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku. Kembalilah tidur."
Baekhyun menghela nafasnya. "Kemarilah."
Chanyeol memandang Baekhyun dengan ekspresi bingung.
"Tidurlah disini", Baekhyun menggeser tubuhnya dan menepuk bagian kosong yang tersisa di sebelahnya. Tempat tidur rumah sakit memang tidak besar untuk ditempati dua orang, tapi Baekhyun tidak tega melihat wajah kelelahan Chanyeol yang menunggunya seharian di rumah sakit.
"Kau mau aku tidur disana?", Chanyeol menggeleng. "Itu terlalu sempit untuk bertiga, kau tidak akan bisa tidur nyaman."
"Bayiku bilang ia tidak ingin melihat ayahnya tidur dengan posisi tidak nyaman seperti itu."
Chanyeol tersenyum miring, "Benarkah bayinya yang bilang begitu atau justru kau?"
"Cepatlah kemari sebelum aku merubah pikiranku."
"Ku kira kau tidak suka kontak fisik."
"Siapa bilang aku menyukainya? Kau bisa tidur disini tapi jangan menyentuhku."
Chanyeol berpikir tidur di tempat sempit yang empuk lebih nyaman daripada harus tidur di kursi dengan resiko sakit leher saat bangun besok pagi. Chanyeol berjalan ke sisi yang kosong dan berbaring di sebelah Baekhyun. Seperti dugaan mereka, tempat tidurnya terlalu sempit untuk ditempati berdua. Baekhyun menggeser tubuhnya sampai menyentuh pinggiran ranjang, namun Chanyeol menariknya mendekat dan memeluknya. Ia memindahkan kepala Baekhyun di atas lengannya dan mereka tidur dengan posisi yang sangat dekat.
"Apa yang kau lakukan?", protes Baekhyun.
"Kau mau kemana? Kau bisa jatuh jika terus bergeser. Tempat ini terlalu sempit, aku tidak bisa membiarkanmu berguling ke lantai. Sekalipun kau tidak suka kontak fisik denganku, bertahanlah dengan posisi ini. Lagipula jika kau ingin mengusirku, aku tidak akan pergi karena kau sudah memintaku untuk tidur disini."
Baekhyun tidak bisa berkata apapun. Ia mengadahkan kepalanya dan melihat wajah Chanyeol yang terlelap. Tangan pria itu melingkar di punggungnya dengan posesif. Baekhyun tersenyum. Ia kembali meletakkan kepalanya di dada bidang Chanyeol dan bernafas tenang hingga tertidur lelap.
-TO BE CONTINUED-
Hola~ Sudah menunggu lama ya?
Maaf ya, bukan bermaksud jahat. Hanya saja minggu-minggu kemarin saya benar-benar sibuk ospek. Pergi pagi buta, pulangnya malam. Udah gitu masih ada tugas lagi. Beneran deh tidur aja cuma tiga jam, gimana caranya mikir ff? Saya udah blank banget kemarin, yang ada di pikiran cuma selesaiin ospek dan bertepuk tangan.
And… well done. Sekarang sudah bisa nulis lagi walau sebenarnya feel buat ff ini udah agak hancur karena lama gak dilanjut.
Semoga aja ff ini masih tetep menarik buat kalian, kalau udah gak menarik, mendingan saya pensiun dan fokus jadi mahasiswa yang baik dan patuh pada dosen.
Untuk chapter 10, segini dulu ya. Jangan minta panjang-panjang, saya belum dapet inspirasi. Mungkin di chapter 11 akan saya perbaiki lagi.
Btw, siapa kemarin nonton TLP Jakarta? Seru gak? Duh, kalian nonton konser, saya mah masih menderita di plonco kakak-kakak BEM.
Yang jelas sekarang sudah free! Yuhuuu~
Untuk penutupnya, boleh kan minta review?
Terimakasih sudah membaca Baddest Male.
