"Mereka. . . Kekasih kami. . . "
Kekasih. . .
Kekasih. . .
Kekasih. . .
Kata itu terus berulang dalam pikiran Kyuhyun dan Siwon. Sejak Kibum mengatakan hal itu, kata itu selalu tiba-tiba terngiang dalam ingatan mereka. Terlebih Kyuhyun.
Baik Siwon maupun Kyuhyun belum sempat menanyakan prihal perkataan Kibum, karena Kibum keburu menarik Changmin meninggalkan mereka. Meninggalkan Kyuhyun dan Siwon dengan suasana hati yang tidak menentu.
"Ke. . . Kasih?"
.
.
A Little of Help
A/N: Cerita ini ada kemungkin membuat suntuk karena terelalu panjang (9k+). Alur dipercepat.
Maaf untuk perubahan Gendernya (_^_)
Maaf untuk update (sangat?) Lama.
Happy Reading^^
.
.
BRAK
Changmin menutup pintu apartemennya dengan penuh emosi. Dia tidak memperdulikan Kibum yang sedang mengedor pintu apartemenya, berteriak memanggil Changmin. Changmin tidak peduli jika pintu apartemennya didobrak Kibum sekalipun, ia juga tidak peduli jika suara Kibum serak akibat berteriak memanggil namanya selama seminggu ini.
Changmin tidak peduli. . . Karena ia sangat marah pada Kibum.
Changmin menulikan telinganya, memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Badannya terasa remuk. Seharian bekerja, setelah bekerja ia pergi menemui Kyuhyun di rumahnya.
Sekarang Changmin memang bebas menemui Kyuhyun kapan saja. Changmin tidak perlu khawatir Siwon akan curiga, karena Siwon akhir-akhir ini sering lembur (benar-benar lembur). Changmin datang bukan untuk bermain, melainkan menjelaskan kesalahpahaman.
Kesalahpahaman karena ulah Kibum.
Sejak seminggu lalu, sejak Kibum mengatakan bahwa Key dan Amber kekasih mereka, Kyuhyun sangat marah pada Changmin. Kyuhyun tidak mau bertemu dengannya, telpon tidak pernah diangkat, dan pesan pun tidak dibalas. Saat ke rumah Kyuhyun pun, Kyuhyun tidak memperdulikan Changmin.
Changmin benar-benar marah pada Kibum! Karena ulahnya Kyuhyun tidak mau menemuinya, sama seperti dulu. Seperti Changmin berencana melamar Kibum, namun kali ini lebih parah.
Setiap pulang kerja, Changmin langsung melesat ke rumah Kyuhyun. Tidak peduli seberapa lelahnya ia setelah bekerja, karena yang dipikirkan Changmin adalah menjelaskan kebenarannya. Keadaan Changmin tiap menemui Kyuhyun sama persis degan keadaan Kibum saat ini, menggedor pintu dan memanggil-manggil nama sang penghuni rumah tanpa lelah berharap sang penghuni rumah mau mendengar penjelasannya.
.
.
A Little of Help
Disclaimer: Themself
.
.
"Changmin! Kumohon dengarkan aku!"
.
"Kyuhyun! Aku mohon, kau salah paham. Dengarkan aku, aku bisa mejelaskannya!"
.
"Aku sungguh tidak berniat seperti itu. Aku binggung harus menjawab apa saat itu, dengarkan aku, Changmin. "
.
"Kyu, aku dan Key tidak seperti yang Kibum katakan. Kumohon, Kyu. . . "
.
"Minnie! Buka pintunya! Aku bisa jelaskan!"
.
"Kyu, aku mohon buka pintunya. Dengarkan aku, Kyu. "
.
"Minnie, maafkan aku. Aku akan jelaskan pada Kyuhyun, keluarlah. "
.
"Kyu, keluarlah. . . Aku mohon. "
.
"Minnie. . . Dengarkan aku, please. Aku melakukan itu untuk kebaikanmu juga. "
.
"Kyu. . . Apa yang harus kulakukan agar kau percaya?"
.
"Aku lakukan itu untuk menutupi hubunganmu dengan Kyuhyun. Percayalah, Changmin. "
.
"Key sudah kuanggap adikku, mana mungkin aku menjalin hubungan dengannya!"
.
"Aku hanya tidak ingin kalian tersakiti lagi. Aku tahu menutupi hubungan kalian dengan mengkambing hitamkan Key adalah kesalahan, tapi ini demi kalian. . . Demi diriku. . . ku mohon, Min…"
.
"Kumohon, Kyu. . . Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi. "
.
"Minnie. . . Maafkan aku. . . "
.
"Kyuhyun. . . Aku mohon dengarkan aku. "
.
"Changmin. . . "
.
"Kyuhyun. . . "
.
.
A Little of Help
Pairing: ChangKyu, SiBum
.
.
Selama seminggu ini, Changmin menghindari Kibum dan hal itu membuat Kibum merasa bersalah. Sungguh, Kibum tidak memiliki maksud apapun dengan perkataannya.
Kibum hanya binggung, karena suasana hatinya saat itu yang sangat kecewa dengan kata-kata Siwon. Karena ucapan Siwon, Kibum merasa sakit hati dan saat ditanya siapa Amber dan Key, jawaban itulah yang keluar.
Jawaban yang terlontar karena Kibum sudah merasa cukup disakiti Siwon. . . Ah, sebenarnya hal itu terjadi karena dirinya sendiri. Karena Kibum yang selalu ingin melihat dan bersama Siwon, walau hanya dalam sebuah ikatan persahaatan. Setidaknya jika Kibum tidak bisa mendapatkn Siwon, ia ingin tetap dapat melihat Siwon walau akan terasa sakit.
Kibum berharap Siwon akan bereaksi sedikit ketika ia megatakan hal itu, tapi ternyata harapan itu pupus. Siwon tidak memberi respon apapun, ia hanya diam dan hal itu membuat Kibum tersadar. . .
Ia harus menyerah.
Menyerah untuk mendapatkan Siwon, menyerah untuk terus berada disisi Siwon walau sebagai sahabat. Kibum menyerah. . . Kali ini ia sungguh-sungguh menyerah.
Saat ini yang Kibum utamakan adalah memperbaiki hubungan Kyuhyun dan Changmin yang memburuk akibat ulahnya. Ia tidak peduli tindakannya itu salah, ia hanya ingin Kyuhyun dan Changmin kembali bersama. Ia tidak ingin mereka merasakan sakit sepertinya, terlebih Changmin. . .
Kibum tidak ingin membuat Changmin menderita. Kibum tidak ingin adiknya hidup sepertinya, merasakan sakit hati.
Adik. . .
Ya, Kibum telah mengetahui bahwa Changmin adalah adik kandungnya. Kibum mengetahui hal itu langsung dari mulut Yunho.
Saat itu Kibum terheran-heran ketika tiba di café Yunho, ia melihat Hangeng sedang berbicara dengan Yunho dari luar café. Kibum masuk ke café meninggalkan Changmin dan pergi ke halaman belakang café bermaksud menyapa mereka, namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati Heechul berdiri tak jauh dari Hangeng dan Yunho.
Kibum berniat menyapa Heechul terlebih dahulu, namun kembali langkahnya terhenti ketika ia mendegar teriakan Yunho. Sebuah teriakan yang membuatnya sangat syok ketika mendengar sebuah kenyataan bahwa Changmin adalah adik kandungnya.
Saat itu tubuh Kibum membeku, perkataan Yunho selanjutnya mengenai Changmin tidak ia dengar. Kepalanya terasa sakit, ingatannya mengenai kejadian 18 tahun lalu berputar seperti kaset rusak. Berbagai ingatan acak menghampirinya.
Hatinya seperti hancur dan menjadi debu. Baru saja ia menelan pil pahit dari Siwon, sekarang ia kembali menelan pil pahit lagi dari masa lalunya. Kenapa Kibum harus merasakan sakit hati dan rasa bersalah secara bersamaan? Ia tidak mengerti. . . Kenapa hidupnya selalu membuat hatinya menjadi debu. Kibum tidak megerti. . .
.
Beban Kibum kini bukan hanya untuk memperbaiki hubungan antara Kyuhyun dan Changmin, tapi juga ia harus menebus kesalahannya dulu.
Kibum akan menebus kesalahannya dengan membuat Changmin bahagia, yaitu menyatukan kembali Kyuhyun dan Changmin.
Tidak peduli dengan cara apapun, termasuk merebut Kyuhyun dari Siwon. Merebut yang berarti memisahkan mereka dan membuat Kyuhyun kembali pada Changmin.
Dan Kibum Serius akan melakukan hal itu.
.
.
A Little of Help
Genre: Romance, Drama, Family, Hurt
.
.
Heechul dan Hangeng tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja Hangeng. Raut wajah mereka ketika memeriksa setiap lembar berkas itu begitu serius. Sesekali mereka berdiskusi bahkan berdebat ketika mereka menemukan sesuatu dalam berkas tersebut.
Dua jam berkutat dengan berkas-berkas itu, baru 6 berkas yang mereka pisahkan dari berkas lainnya. Berkas yang mereka periksa mulai menipis, tinggal sedikit lagi dan selesailah pekerjaan mereka.
15 menit berlalu, kini masing-masing tangan Heechul dan Hangeng memegang berkas terakhir. Raut wajah Hangeng yang masam, menjadi semakin masam begitu berkas tersebut selesai ia periksa. Sedangkan Heechul, raut wajahnya semakin cerah ketika berkas tersebut ia baca sampai akhir.
"Hannie!" pekik Heechul girang. Tangannya menunjukkan berkas yang diperiksanya tadi pada Hangeng.
Hangeng dengan wajah masamnya menatap Heechul risih, pekikan Heechul memperburuk suasana hatinya. "Apa!" ketus Hangeng
Heechul tidak memperdulikan sikap ketus Hangeng. Ia malah berdiri dan menghampiri Hangeng, berdiri disampingnya dan meletakkan berkas itu di meja. "Coba lihat ini!" perintahnya antusias.
Hangeng menurut, dilihatnya berkas tersebut dan membacanya dengan seksama. Semakin ia baca, raut wajahnya semakin cerah dan menunjukkan senyuman. "Kau pintar!" puji Hangeng. Hangeng mengacak rambut Heechul gemas, "Darimana kau dapat?" tanyanya.
Heechul melepas tangan Hangeng, "Dari panti asuhan." Jawabnya. Heechul mengambil berkas itu dan menumpuknya dengan 6 berkas lainnya.
Hangeng menatap Heechul tidak percaya, "Kau… ke panti?" tanyanya.
Heechul menggeleng dan kemudian tersenyum, "Jaejoongie yang mengambilnya." Jelas Heechul.
"Eh, Jaejoong mau membantu kita?"
"Ne, Joongie bilang ia sangat bahagia jika benar kita adalah orang tua Minnie."
"Bagaimana dengan Yunho?"
Pertanyaan Hangeng membuat Heechul terdiam, wajahnya berubah sedih. "Yunho… dia tidak mau membantu kita. Jaejoong saja harus diam-diam membantu kita." Jelas Heechul sedih.
Hangeng memeluk pinggang Heechul dari samping, "Biar aku yang meyakinkan Yunho. Bagaimanapun selama ini Yunho lah yang merawat Changmin, jadi wajar Yunho bersikap seperti itu." Hangeng mengelus punggung Heechul, mencoba menenangkan istrinya.
Heechul mengangguk, "Aku juga akan berusaha. Kita juga sudah punya bukti." Senyum Heechul kembali merekah. Matanya menatap pada ke 7 berkas yang tertumpuk di samping kiri Hangeng.
"Kalau semua bukti telah terkumpul, kita akan memberitahu Kibum dan Changmin." Ucap Hangeng.
"Ne, aku sudah tidak sabar memberitahukan hal ini pada Minnie dan Bummie."
.
.
A Little of Help
Warnin': GS (Leeteuk, Heechul, Jaejoong, Taemin), Yaoi, Typo(s) bertebaran, ooc(?), alur cepat.
.
.
Sudah berapa hari terlewati? Apakah sudah seminggu lebih? Entahlah, ia sudah tidak pernah menghitung hari-hari yang ia lewati.
Ia sudah tidak peduli berapa lama waktu yang ia buang dalam ruangan yang terasa sempit. Ia tidak ingin mengetahui apa saja yang telah terjadi selama ia mengurung diri, menyibukkan diri dengan pekerjaannya…
Rasanya hari-hari yang ia lewati sama saja. Yang berbeda adalah suasana hatinya dan kegiatan yang ia lakukan. Entah kenapa suasana hatinya terasa tidak nyaman, perasaannya tidak menentu, dan ia tidak tahu penyebab kenapa suasana hatinya jadi seperti itu.
Ia bahkan lebih menikmati hidupnya yang berkutat dengan dokumen-dokumen yang tiada habisnya. Bagaimana dokumen itu mau habis? Ia bahkan membutuhkan waktu setengah hari hanya untuk memeriksa tiga dokumen. Jumlah yang sedikit, tentu saja jika suasana hatinya tidak seperti sekarang, satu jam pun sudah ia selesaikan. Tapi kali ini…
Sungguh ia tidak mengerti kenapa hatinya terasa hampa.
Hatinya merasakan ketidak tenangan ketika seorang Kim Kibum menyatakan telah memiliki kekasih. Bukankah hal itu membahagiakan?
Seharusnya ia bahagia karena sahabatnya telah memiliki seorang kekasih, seharusnya ia memaklumi jika seorang Kim Kibum memiliki kekasih, seharusnya ia merasa lega karena akhirnya Kim Kibum sudah tidak sendiri lagi…
Seharusnya…
Seharusnya… perasaan seorang Choi Siwon tidak seperti ini.
Seharusnya… perasaan Choi Siwon tidak seburuk ini.
Seharusnya… choi siwon tidak merasa Kehilangan.
Seharusnya…Siwon tidak terpuruk seperti ini.
Ada apa denganya?
Ia sendiri tidak mengerti.
Siwon bahkan tidak mengerti, kenapa ia tidak bersemangat pulang kerumah? Padahal Kyuhyun selalu berada di rumah. Ia malah lembur dengan berkas-berkas yang sama dan semakin bertambah.
Apa yang sebenarnya yang dirasakan seorang Choi siwon? Sungguh, Siwon sendiri tidak mengerti…
.
.
A Little of Help
(Chapter 9)
.
.
10:00 PM
Jarum jam menunjukkan waktu istirahat telah tiba, namun baginya berapapun waktu yang terlewati ia tidak peduli.
Baginya tiada waktu istirahat, karena pada saat ia ke alam mimpi pun rasa lelah terus menghantuinya. Bukan fisik yang lelah, melainkan hati. Hatinya sangat lelah. . .
Ia lelah dengan hatinya yang tidak hentinya merasakan sakit. Ia lelah dengan hatinya yang selalu bersabar, ia lelah dan kecewa karena penantiannya sia-sia. . .
Ia sangat lelah. . . Hatinya sangat lelah menerima kenyataan bahwa ia telah dikhianati.
Untuk apa ia bertahan kalau pada akhirnya kekecewaan yang ia terima? Ia sangat kecewa dan marah sehingga menumbuhkan rasa benci. . . Ia marah karena sang terkasih mengkhianati penantiannya, ia kecewa pada sang terkasih yang telah berpaling darinya. Ia merutuki janji manis sang terkasih. . .
Cho(i) Kyuhyun membenci Kim Changmin.
Saat ini Kyuhyun sangat membenci Changmin. Sangat benci karena dikhianati. Bertahun-tahun Kyuhyun memegang janji Changmin, namun yang dia dapat adalah pengkhianatan. Janji manis yang di ucapkan Changmin tidak lebih dari sebuah kata.
Tapi meski sangat membenci, marah, dan kecewa. . . Kyuhyun tidak begitu saja menghapus Changmin dari hatinya. Changmin telah mengukirkan namanya di hatinya, mengukirnya dengan begitu dalam dan sulit untuk di hapus.
Kyuhyun saat ini memang membenci Changmin, tapi cintanya terlalu mendominasi sehingga rasa benci itu tidak lebih dari sekedar rasa kecewa. . . . Hanya kekecewaan.
Kyuhyun membutuhkan ketenangan, ia membutuhkannya untuk menata kembali hatinya yang lelah. Ia harus menatanya kembali dan mengingat kembali kepingan-kepingan kebahagiaannya. Ia ingin melakukan itu untuk kembali mempercayai Changmin. . . Tapi hal itu tidak bisa walau ia telah mencobanya.
Pikirannya ingin mempercaiyai Changmin, mempercayai usaha Changmin selama seminggu ini yang terus mengejarnya, menjelaskan ucapan Kibum. Hanya saja hatinya tidak mengizinkannya untuk percaya begitu saja. Hatinya telah terluka karena kecewa.
Mungkin ketika hati dan perasaannya sudah sedikit tenang, ia akan memberikan kesempatan ke dua bagi Changmin. Memberi Changmin kesempatan untuk menjelaskannya dan akan mempercaiyainya kembali.
.
.
Suasana makan malam kali ini terasa sunyi. Tidak ada yang membuat keributan sedikit pun, hanya suara peralatan makan yang berdenting. Suasana yang mengingatkan Shindong ketika ia Wamil, tidak ada suara, sangat hening, bahkan jika ada jarum jatuh pun pasti akan berdenting keras. Shindong tidak nyaman dengan keadaan ini!
"Amber. . . " panggil Shindong.
Tidak ada sahutan.
"Key. . . " beralih memanggil Key.
Masih tidak menyahut.
"Kibum. . . " Shindong berharap kali ini Kibum menyahut panggilannya.
Ting
Ck, yang menyahut malah bunyi sendok yang beradu dengan piring!
Shindong mendengus. Matanya beralih pada piringnya yang masih kosong. Padahal biasanya sebelum Amber mengisi piringnya, Amber akan mengisi piring Shindong terlebih dahulu. Sekarang Amber tidak melakukan kebiasaannya, terlebih Amber langsung makan begitu saja yang diikuti Key dan Kibum.
Bukannya Shindong ingin diambilkan makan, ia hanya merasa aneh dengan ketiga anaknya. Terlebih tidak biasanya Changmin tidak datang, padahal Changmin paling semangat jika diundang ke rumahnya. Apa mungkin karena Changmin tidak ada? Suasana makan kali ini begitu hening, sangat hening, bahkan terlalu hening. . .
Shindong menghela napas dan mengisi piringnya sendiri. Dengan malas Shindong memakan makan malamnya, tidak memperdulikan suasana aneh yang mengelilingi ruang makan keluarga Shin.
Sepertinya setelah makan ia akan meuntut penjelasan.
.
Shindong menatap satu persatu anaknya yang duduk bersebelahan di sebrang tempat duduknya. Mata Shindong menatap dengan pandangan memaksa, memaksa mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Shindong menatap Amber dan Kibum dan berkata, "Jadi. . . Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Shindong. "Bertingkah aneh hampir seminggu ini, awalnya kupikir kalian hanya sedang malas bertingkah. Tapi malam ini, tingkah kalian benar-benar membuatku khawatir."
Amber menundukkan kepalanya, Kibum memalingkan wajahnya.
Shindong mencoba bersabar. Ini kesekian kalinya ia bertanya sejak seminggu lalu, tingkah Amber dan Kibum ketika pulang dari café Yunho sangat aneh. Tanpa memberi salam Amber langsung masuk ke kamar, Kibum sendiri berlalu begitu saja. Benar-benar! Tidak menghargai Shindong yang menyambut ramah mereka. Hanya Key yang membalas sambutan Shindong.
"Katakan padaku! Kenapa kau jadi pendiam begini, Amber?" paksa Shindong pada Amber.
Amber menggeleng.
Shindong beralih pada Kibum, "Kau juga. Kenapa jadi semakin diam?"
Kibum masih betah memalingkan wajahnya. Melihat ke arah lain, asalkan tidak pada Sindong.
Kali ini Shindong pasrah. Ia senderkan punggungnya pada sofa, memijit pelipisnya. Suasana hening cukup lama terjadi, sampai Shondong mengingat sesuatu. . . Err tepatnya seseorang. Dengan gerak cepat ia meegakkan tubuhnya dan menatap tajam Key.
"Key!" seru Shindong membuat Key yang sedang memainkan ponselnya terlonjak. Amber dan Kibum tersentak dan langsung memutar kepala mereka ke arah Key.
"Ish. . . Appa!" kesal Key mendelik pada Shindong.
Shindong tidak memperdulikan hardikan Key, ia malah menatap tajam pada Key.
Ditatap seperti itu, Key merasa gugup. "A-Apa?" tanyanya sedikit galak.
Shindong mmicingkan matanya, "Key. . . " sebut Shindong. Key menelan ludahnya, Shindong sungguh aneh!
"Kau. . . Kau juga sama seperti mereka!" Shindong menunjuk Amber dan Kibum. Yang ditunjuk menatap Shindong tidak mengerti.
"Sejak tiga hari lalu tingkahmu sama seperti mereka. Apa yang terjadi?" tanya Shindong tidak sabar.
Key menghela napas. Ia menatap Shindong malas, kemudian dengan lemas mengatakan sesuatu yang membuat Amber dan Kibum terkejut dan tidak percaya.
"Aku. . . Patah Hati."
Hening. . .
Hening. . .
Hening. . .
Hen-
"APAAA?!"
Dan tiga suara yang berbeda sukses membuat sebuah harmoni yang memekakkan telinga.
.
.
"Yun. . . "
Sudah sedari tadi Jaejoong memanggil Yunho, namun tak juga mendapat respon. Yunho sibuk membersihkan piring-piring dan gelas-gelas kotor, pura-pura tidak mendengar panggilan Jaejoong.
Jaejoong menghela napas, "Maafkan aku, Yun." sesal Jaejoong. Kepala Jaejoong tertunduk, jari-jari tangannya memainkan pakaiannya.
Jaejoong tidak berani mendekati Yunho, ia tetap berdiri di belakang Yunho dengan jarak satu meter. Jaejoong tahu, saat ini Yunho marah padanya. Sangat marah.
"Yun. . . Aku mohon maafkan aku." mohon Jaejoong lagi.
Yunho tidak memperdulikan permohonan maaf Jaejoong. Ia marah, sangat marah pada Jaejoong karena telah membantu Hangeng dan Heechul.
Yunho tahu tidak semestinya ia bersikap egois dengan menghalangi kenyataan bahwa Changmin keturunan keluarga Kim. Tapi. . . Ada perasaan tidak rela dalam hatinya. Ia memang menyayangi Changmin seperti adik kandungnya, Yunho tahu reaksi apa yang akan terjadi pada Chamin jika mengetahui kenyataan ini. Ia sangat tahu Changmin, begitupula Jaejoong.
Seharusnya Jaejoong tahu seberapa sakit hatinya Changmin, tapi kenapa Jaejoong malah membuat keputusan yang akan menambah rasa sakit Changmin. Seharusnya Jaejoong tahu. . .
"Yunho. . . "
Kembali Jaejoong memanggil Yunho.
Yunho membersihkan gelas terakhir dan akan membasuhnya. Baru saja ia hendak mmbasuhnya, tangan kiri Yunho ditarik Jaejoong. Beruntung gelas itu tidak jatuh dan aman di tangan kanan Yunho. Yunho menatap Jaejoong kesal.
"Jangan berpura-pura!" sentak Jaejoong. Ia sudah sangat kesal dengan tingkah Yunho.
"Lalu aku harus apa!" Yunho berbalik membentak Jaejoong.
Tangan Jaejoong melepas lengan Yunho. Tangannya lemas. . . Baru kali ini Yunho membentaknya dan itu membuatnya syok. Semarah itukah Yunho padanya?
"Aku benar-benar marah padamu, Jae. "Mata Yunho menatap tajam. "Kau tahu Changmin itu seperti apa, tapi kau malah. . ." Yunho tidak melanjutkan ucapannya. Ia membuang mukanya, tidak ingin melihat wajah istrinya yang hampir menangis.
"Tapi, Changmin harus tahu. . . Bagaimanapun Changmin putra mereka."
Yunho mendengus. "Kalau begitu, kenapa tidak dari dulu mereka mencarinya?" sinis Yunho.
"Mereka mencari! Hanya saja baru sekarang. . ."
"Sekarang? Tidakkah ucapanmu menunjukkan bahwa mereka telah membuangnya?"
"Kenapa kau begini?" Jaejoong menatap Yunho menyelidik. "Kenapa kau bertindak seakan tidak ingin mereka bersatu?" tanya Jaejoong.
Yunho terdiam.
Jaejoong tersenyum getir. "Aku mengerti. . ." lirih Jaejoong. Ia mengepalkan tangannya.
"Kau iri!" Jaejoong kembali menyentak Yunho.
"Kau iri karena Changmin memiliki keluarga utuh, sedang kau tidak." Bibir Jaejoong bergetar.
"Kau iri. Kau tidak rela Changmin kembali pada keluarganya karena kau kecewa, kecewa karena bukan kau lah anak yang mereka cari."
Air mata Jaejoong jatuh. . . Ia mengetahui perasaan Yunho. Ia sangat mengetahuinya, ketika Yunho diusir dari keluarga Jung bersamanya. Betapa hatinya hancur karena ia hanya seorang anak angkat yang dibuang kembali. Jaejoong tahu seberapa beratnya Yunho memilih antara keluarga Jung dan dirinya. Jaejoong tahu hancurnya hati Yunho ketika ia tidak dapat memilih dan berakhir dengan diusirnya mereka.
"Kau melakukan itu karena perasaan kecewamu. Kau egois! Mengiginkan orang lain merasakan apa yang kau rasakan. Kau. . . KAU SUNGGUH TIDAK BERPERASAAN!"
"Ya. . . AKU MEMANG TIDAK BERPERASAAN! AKU INGIN CHANGMIN MERASAKAN APA YANG KURASAKAN! AKU EGOIS! LALU KENAPA!?"
PRAANGGG
Yunho melempar gelas yang ia pegang hingga pecah membentur dinding di belakang Jaejoong. Hampir saja gelas itu mengenai Jaejoong.
Jaejoong tersentak, tubuhnya jatuh terduduk. Ia tidak mengira Yunho akan berteriak padanya dan mengakui apa yang ia ucapkan. Terlebih Yunho sampai melempar gelas, air mata Jaejoong megalir deras. . .
"Yu. . . Yunho. . ."
"Aku memang iri padanya!Aku merasa sangat iri karena ternyata Changmin tidak sepertiku." dengan Lirih Yunho mengakuinya.
"Apa aku salah?" tanya Yunho dengan suara yang serak. Mata Yunho berkaca-kaca, tubuhnya ambruk dan bersender pada dinding washtafel.
"Aku. . . Aku hanya ingin memiliki keluarga. Aku ingin seperti keluarga lain, memiliki orangtua, mengadu pada mereka saat kita kesulitan." Yunho mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak tega melihatmu selalu sendiri saat aku keluar, aku ingin kau juga bisa bermanja pada orang tua saat kau mengandung. Aku ingin keluarga kita lengkap. . . Tidak hanya kau dan aku saja. Aku butuh keluarga lain, orangtua yang akan menemanimu saat kau kesulitan, karena aku mungkin tidak akan selalu berada disismu."
Yunho menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya yang ditekuk. "Aku. . . Aku menginginkan sosok orang tua yang akan selalu mendukungku, seperti dulu. . ." Air mata Yunho megalir. . .
Jaejoong terpaku mendengar penuturan Yunho. Tidak hanya untuk Yunho sendiri, tapi juga mmikirkan Jaejoong. Jaejoong bangkit dari duduknya, tangan kanannya memegang perutnya. Menghampiri Yunho dan memeluknya begitu sampai.
"Tanpa orang tua, aku sudah bahagia. Asalkan kau ada untukku. Bukankah sejak awal kita sudah seperti ini?" Jaejoong mengusap punggung Yunho.
"Aku tidak perlu orangtua, karena kita akan menjadi orang tua untuk anak-anak kita kelak." tangan Jaejoong meraih tangan Yunho dan menuntunnya ke perutnya, menguspkan lengan Yunho pada perutnya.
"Kita akan menjadi orang tua. Akan merawat mereka, memberikan merka kasih sayang, kasih sayang yg berlimpah." bisik Jaejoong. Tangan Jaejoong yang mengusp punggung Yunho, beralih membeli rambut Yunho.
"Kita. . . Jadi orang tua?" Yunho tersentak. Kenapa ia bisa lupa, Jaejoong tengah mengandung anaknya. Yunho mengangkat wajahnya dan memundurkan wajahnya agar bisa menatap Jaejoong.
"Ne. Kau akan menjadi appa." sebuah senyum tulus ia berikan.
Yunho yang melihat senyum itu, ikut tersenyum. "Dan kau akan menjadi umma. " ucap Yunho senang.
.
.
"Jadi. . . Kalian bertiga bertingkah aneh karena. . . Patah hati?"
Shindong menatap ketiga orang dihapannya. Ketiga orang itu serempak megangguk.
"Key patah hati karena ditolak Changmin. . . Tiga hari lalu." Shindong menatap Key tidak percaya.
Shindong begitu terkejut ketika mendengar cerita Key yang mengungkapkan perasaannya pada Changmin. Shindong tidak menyangka putranya akan seagresif itu, mengungkapkan terlebih dahulu. Tidak hanya Shindong yng terkejut, Amber dan Kibum pun sama. Mereka tidak menyangka Key akhinya mengungkapkan perasaannya, walau pada akhirnya ditolak.
Shindong menatap Amber dan Kibum, "Kenapa kalian bisa patah hati bersamaan? Pantas saja pulang dari café Yunho kalian murung."
Begitu Key bercerita ia patah hati, tiba-tiba Shindong mendapat pencerahan. Ia bertanya pada Key dan Amber apakah hal serupa juga mereka alami. Anggukan Kibum dan Amber menjawab pertanyaannya.
"Tidak tahu." Jawab Amber cuek.
"Saya juga tidak mengerti, patah hati pada waktu yang sama dan di tempat yang sama." tambah Kibum.
"Mungkin kalian berdua berjodoh."
Ucapan Key yang spontan itu sukses membuat Shindong, Amber, dan Kibum menatapnya terkejut.
"Jodoh?" tanya mereka serempak.
Key menatap satu per satu dari mereka, "Ya! Aku yakin kalian berdua berjodoh!" ucap Key semangat. "Nasib kalian kan sama." tambah Key dengan wajah yang menyebalkan.
PLETAK
Ucapan Key berhadiah jitakan dari tiga orang itu.
"YA! Apa yang kalian lakukan?!" bentak Key. Ia mengusap kepalanya yang menerima tiga jitakan sekaligus.
"Hanya membuat peredaran darah di kepalamu lancar." ucap Kibun datar.
"Ya, kepalamu butuh relaksasi." tambah Amber.
"Memperbaiki kerja otakmu yang rusak." Shindong mengakhiri.
"Kalian menyebalkan!" teriak Key frustasi.
.
.
Changmin bergerak-gerak gelisah. Mondar-mandir tidak jelas, kemudian duduk di sofa dan melakukan gerakan absurd, berdiri lagi, mondar-mandir lagi, duduk lagi, dan begitu seterusnya.
Changmin melihat jam dinding dengan cemas. Ia mengigit ibu jarinya untuk mengurangi rasa gugup dan gelisahnya. Hatinya sungguh tidak tenang, ia sangat takut ketika jarum jam itu menunjukkan waktunya ia akan mendapatkan sebuah kekecewaan dan sakit hati.
Changmin kembali mondar-mandir, mengacak rambutnya dengan frustasi. Bibirnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.
TING TONG
Suara bel menghentikan kegiatannya.
Changmin menelan ludahnya dan menatap pintu apartemennya takut-takut. Dengan langkah perlahan ia mendekati pintu dan membukanya.
Changmin melihat sosok itu dengan tegang. Ia sangat gugup dan hanya terpaku pada sosok yang berdiri dihadapannya. Sosok yang ia tidak sangka akan menemuinya terlebih dahulu.
Kyuhyun…
Sosok yang sedari tadi ia nantikan dengan perasaan cemas.
Semalam Changmin mendapat pesan dari Kyuhyun yang mengabarkan bahwa ia akan ke apartemen Changmin. Mendapat pesan seperti itu bukan bahagia yang ia rasakan, tapi kecemasan dan ketakutan. Changmin sangat takut Kyuhyun akan memutuskan hubungan mereka.
Apalagi yang akan dikatakan seorang kekasih pada kekasihnya saat berselisih paham selain kata putus? Changmin berpikir Kyuhyun akan memutuskannya karena kesalahpahaman.
Changmin masih terpaku di depan Kyuhyun, Kyuhyun sendiri mulai jengah karena tidak dipersilahkan masuk. Tidak memperdulikan Changmin, ia masuk begitu saja melewati Changmin.
Kyuhyun mendudukkan diri di sofa, menyandarkan punggung pada sofa. Ia melirik Changmin yang masih diam di depan pintu. Berdecak kesal, kemudian memanggil Changmin.
"Kim Changmin!"
Changmin terkejut dengan panggilan Kyuhyun yang begitu keras. Dengan gerak cepat Changmin menutup pintu dan menghampiri Kyuhyun. Duduk di samping Kyuhyun dengan jarak 90 cm, menundukkan kepalannya dan bergerak-gerak geisah.
Kyuhyun mendengus sebal, merasa risih dengan kelakuan Changmin yang aneh. Kyuhyun menghadapkan tubuhnya pada Changmin.
"Kau kenapa sih!?" kesal Kyuhyun.
Changmin menggeleng, ia tidak berani menatap Kyuhyun.
Kyuhyun menggeser tubuhnya mendekati Changmin, tapi Changmin malah ikut bergeser juga. Alis Kyuhyun bertaut heran, 'Dia kenapa sih?' heran Kyuhyun dalam hati. Kyuhyun kembali menggeser, Changmin ikut bergeser. Kepala Kyuhyun berkedut, kesal!
"Berhenti melakukan itu!"
Changmin kini menatap Kyuhyun, "Kau juga berhenti!" pinta Changmin, yang lebih ke perintah.
Bagaimana aku bisa berhenti kalau kau terus menjauh!" sebal Kyuhyun. Dengan gerak cepat Kyuhyun meraih lengan Changmin dan mendekapnya. Membuat jarak mereka kini sangat dekat, bahkan merapat.
Kyuhyun menyenderkan kepalanya di pundak Changmin. Hampir saja Changmin kembali menghindar kalau saja Kyuhyun tidak segera menahannya.
Suasana hening sejenak. Changmin entah kenapa merasa canggung dengan situasi ini. Aneh… kenapa keadaannya jadi seperti ini?padahal changmin pikir akan ada pertengkarang hebat lagi. Yang terjadi saat ini malah kebalikannya, seperti tidak terjadi apapun diantara mereka.
"Kyu, sebenarnya kau mau apa?" tanya Changmin memecah keheningan.
Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menatap Changmin, "Hah?" respon Kyuhyun tidak mengerti.
"Kau. . kesini ada tujuan apa?" tanya changmin lagi. Ini sungguh situasi yang sangat aneh. Apa mungkin Kyuhyun sengaja bertingkah seperti ini kemudian ia memutuskan changmin?
Alis Kyuhyun berkerut, ia menatap changmin heran. "Tujuan?" Kyuhyun menguang pertanyaan Changmin. changmin mengangguk.
"Tentu saja menemui kekasihku!" Kyuhyun memukul lengan Changmin, "Kau itu bagaimana sih!"
Changmin melonggo. Kekasih? Tunggu!
"Lho? Bukankah kau mau memutuskanku?" tanya Changmin dengan tampang bodoh.
Kyuhyun menyipitkan matanya mendengar ucapan Changmin. "Kau mau kita putus?" desis Kyuhyun. Kyuhyun menatap tajam Changmin, memberi tatapan mengintimidasi.
Changmin menelan lidahnya gugup, "Bu-bukan begitu…" sangkal Changmin.
"Aku pikir kau kesini untuk meminta putus. Sembilan hari ini kan kita… kita bertengkar karena Kibum. Kau juga tidak mau mendengar penjelasanku, lalu tiba-tiba ingin ke apartemenku, menemuiku. Jadi kupikir… kau mau minta putus…" jelas Changmin. Wajahnya tertunduk.
Kyuhyun melonggo mendengar penjelasan Changmin, satu detik kemudian Kyuhyun tertawa terbahak.
Changmin tersentak mendengar tawa Kyuhyun, ia lihat Kyuhyun tengah memegang perutnya menahan tawa. Melihat itu Changmin kesal juga, "YA! Kenapa tertawa!"
"Ahahhahaha… kenapa kau berpikiran begitu?" tanya Kyuhyun disela tawanya. "Apa kau tidak membaca pesanku semalam?" tanya Kyuhyun lagi. Tawanya mulai reda.
Changmin mengernyit heran, "Pesan?"
Kyuhyun mengangguk, "Ne. semalam aku kan mengirimu pesan lagi. Periksa saja. " Titah Kyuhyun menunjuk ponsel changmin di atas meja.
Changmin mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Kyuhyun. Changmin mengerjap, memeriksa kembali isi pesan Kyuhyun… Tidak Ada.
Changmin menunjukkan ponselnya ke depan wajah Kyuhyun, "Tidak ada. " Kata Changmin.
Kyuhyun meraih ponsel Cahngmin dan memeriksanya. Wajah Kyuhyun berubah heran… Tidak Ada. Kyuhyun meronggoh saku celananya, mengambil ponselnya dan membuka pesannya. Mata Kyuhyun berkedip kemudian menatap Changmin, memberikan senyum malu dan menunjukkan ponselnya.
"Tidak… terkirim…"
Changmin menatap Kyuhyun tidak percaya. Tangan Changmin terangkat dan…
PLAK
Changmin memukul kepala Kyuhyun…
"KAU!" geram Changmin.
"Aishh… jangan memukul kepalaku!" protes Kyuhyun.
"Salah sendiri! Semalaman aku tidak tidur gara-gara memikirkanmu! Aku kira kau mau ke apartemenku karena memang ingin putus denganku. Tenyata… Aishh! Kau benar-benar!" kesal Changmin.
Kyuhyun mencibir, "Siapa yang suruh!"
Tangan Changmin hampir saja akan memukul Kyuhyun kembali, tapi tidak jadi. Changmin malah merebahkan diri di pangkuan Kyuhyun yang menuai protes. Changmin tidak memperdulikan ocehan Kyuhyun, ia menutup matanya dan meletakkan tangannya di keningnya.
"Jangan berisik. Aku mau tidur." Gumam Changmin.
Kyuhyun berhenti mengoceh dan menatap Changmin yang terpejam. Bibirnya tersenyum, tangannya membelai rambut Changmin, kemudian mengecup singkat pipi Changmin.
"Mimpi indah…"
.
.
Minnie, Kibum Hyung sudah menjelaskan semuanya padaku.
Maafkan aku, aku tidak memberi kesempatan padamu untuk menjelaskan.
Maafkan aku juga yang tidak mempercayaimu. Kita masih bersama kan? Aku menyayangimu.
Saranghae…
Ps: aku tidak sabar bertemu denganmu besok ;-)
.
.
Sembilan hari…
Sudah Sembilan hari Amber menghindari Jonghyun. Sebisa mungkin menjauhi Jonghyun yang selalu menghampirinya. Sejujurnya Amber heran, kenapa sejak kejadian di taman itu Jonghyun terus saja mencarinya. Memang Amber dan Jonghyung sahabat dekat, tapi tidak biasanya Jonghyun mencarinya seperti seorang stalker.
Ah, mungkin karena Amber juga yang menghindarinya sehingga Jonghyun begitu gencar mencarinya. Padahal Amber sudah berusaha untuk melupakan Jonghyun, tapi sialnya Jonghyun selalu menguntilnya. Kalau seperti ini bisa-bisa Amber gila!
Selain itu. . . Amber sangat yakin kenapa Jonghyun selalu mencarinya. Pasti Jonghyun akan curhat padanya atau mungkin akan pamer kekasih lagi! Dan kalau benar, dapat dipastikan Jonghyun akan mengejeknya, karena sampai usia 20 tahun Amber belum pernah berpacaran.
Amber lebih baik menghindar daripada harus sakit hati mendengar curhatan Jonghyun tentang kekasih-kekasihnya. Kali ini Amber sudah tidak mau lagi merasakan rasa itu, rasa sakit karena melihat orang yang ia cintai memamerkan kebahagiaannya, kemudian mengejeknya.
Meskipun banyak yang mengatakan Amber itu tegar, cuek, dan masa bodo karena sifatnya yang boyish, tetap saja ia seorang perempuan.
Amber menghela napas. Menatap langit malam tanpa bintang, hanya bulan yang bersinar. Sepertinya menyendiri di gazebo bukan pilihan yang buruk. Setidaknya angin malam memberinya ketenang, membuatnya terbuai dengan tentramnya malam.
Terlalu terbuai suasana malam, Amber sampai tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sosok yang duduk di sampingnya.
Amber tersentak saat pipinya ditempeli sesuatu yang hangat. Amber menoleh dan mendapati sebuah mug tepat di depan matanya.
"Serius sekali."
Sebuah suara yang sangat Amber kenali. Amber tersenyum geli ketika melihat sebuah kepala menyembul dari balik mug di depannya.
"Kau mengagetkanku, Oppa." kata Amber sambil mengambil mug yang disodorkan.
Sosok itu tersenyum, "Masuklah." perintahnya.
Amber menggeleng, "Disini sangat nyaman."
"Hmm. . . Benar juga. Tenang sekali, pantas saja kau sering menyendiri disini."
Amber menatap sosok itu serius, "Apa belum berbaikan?" tanyanya. "Ini hampir dua minggu. Aku tidak suka melihat Kibum Oppa yang kusut."
Kibum tersenyum pedih, "Belum. Changmin sangat marah padaku." jawabnya.
"Yahh. . . Wajar saja. Salah oppa sendiri mengatakan hal itu di depan kekasih Changmin Oppa." Amber memandang lurus. Menyesap cappuchinno yang disodorkan Kibum.
"Mau bagaimana lagi, Spontanitas." Kibum ikut menyesap kopinya.
"Ish. . . Lalu kenapa harus aku dan Key?" sungut Amber.
Kibum terkekeh, "Mungkin karena aku ingat Key yang menyayangi Changmin."
Mendengqr itu Amber cemberut, "Jadi aku sisa?" sebalnya.
Kibum tertawa dan mengacak rambut Amber yang mulai memanjang, "Aku tidak mengatakannya lho~"
"Tapi. . . Kalau sisanya untuk oppa, aku tidak akan keberatan hihihi." kikik Amber.
"Hei hei kau mau mengodaku?"
"Oppa mau ku goda?" tanya Amber sambil mengedipkan sebelah matanya, bermaksud mengoda.
"Ish. . . Sepertinya kau sudah terkontraminasi Jonghyun." Kibum menggeleng.
Seketika Amber terdiam ketika mendengar nama Jonghyun. Hatinya yang tadi tenang, kini menjadi tidak karuan. Amber menundukkan kepalanya, matanya melihat ke dalam isi mug.
Kibum melirik Amber, tidak biasanya Amber tidak membalas ucapannya. Kibum menghela napas menyadari kesalahannya.
"Maaf. . . Aku tidak bermaksud menyinggungnya." sesal Kibum.
Amber menggeleng, "Tidak apa." lirihnya.
Kibum meyenderkan pungungnya, "Apa kau serius akan menyerah?" tanya Kibum tanpa melihat Amber. Kibum menatap langit malam.
Amber tersenyum miris, "Ya. . . Aku sudah lelah. Sama seperti oppa, aku pun memilih untuk menyerah. Padahal aku sudah mulai menunjukkan perasaanku, tapi sepertinya aku tidak lebih dari seorang sahabat."
"Kita. . . Benar-benar senasib ya. . ." kekeh Kibum.
"Ya. Mencintai seorang yang bodoh!" maki Amber menyahuti perkataan Kibum.
"Bodoh karena tidak menyadari perasaan kita. Tapi. . . Kita juga pengecut."
"Pengecut yang tidak berani mengatakan perasaan. . . Karena takut ditolak."
"Dan kita ditolak sebelum menyatakan. . . "
Amber dan Kibum menghela napas dan kemudian. . .
"Menyedihkan. . . "
Mengucapkan hal yang sama secara bersamaan.
Beberapa saat mereka terdiam, kemudian saling menatap, dan tertawa bersama.
"Haahahha sepertinya kita memang berjodoh." canda Amber disela tawanya.
"Benar kata Key. Kalau tidak, kenapa kita bisa senasib begini?" Kibum membalas candaan Amber sambil tawa geli.
Amber terdiam, memikir sesuatu yang tiba-tiba terlintas. Ia menatap Kibum yang masih tertawa geli.
"Apa?" tanya Kibum masih dalam tawanya.
Amber menatap Kibum dengan penuh keyakinan, pemikiran sepintasnya sepertinya patut dicoba.
"Oppa. . . " panggil Amber. Kibum menatapnya seolah berkata 'Ya?'.
Amber menghela napas, setelah tenang ia berkata. .
"Bagaimana kalau kita mencobanya? Menjadi sepasang kekasih. "
Kibum terdiam.
"Bukankah kita sama-sama sakit hati? Tidak mendapat balasan perasaan, menderita bertahun-tahun hanya untuk sebuah penantian kosong. Sekarang kita telah menyerah, jadi kupikir. . . Tidak ada salahnya mencoba. Kita yang sama-sama menderita, bisakan bersama?"
Kibum benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Yang dikatakan Amber benar, Kibum pun pernah berpikir hal yang sama. Pemikiran itu muncul ketika medengar ucapan Key.
Tidak apakah? Apa ini benar? Menjadi sepasang kekasih karena bernasib sama? Miris sekali hidup mereka.
Tapi. . . Bukankah hal seperti itu ada? Jadi apa salahnya mencoba? Mungkin ini salah satu cara untuk melupakan cinta tak sampai mereka. . .
"Baikah. Kita coba. " putus Kibum.
Amber tersenyum. Namun bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kepedihan.
"Jadi. . . Mulai malam ini kita Kekasih?" tanya Amber memastika.
Kibum tersenyum, "Ya. Kita sepasang kekasih. . . Sekarang. "
"Terima kasih. " ucap Amber kali ini tersenyum manis.
Kibum memgacak rambut Amber. "Kembali. "
.
.
"Amber. . . "
"Ya?"
"Berapa lama kau memendam perasaan pada Jonghyun?"
"Harus kujawab?"
"Ya. Kau sudah tahu aku berapa lama menyukai Siwon Hyung, jadi bagaimana denganmu?"
"Tidak selama oppa, kok. "
"Jawab saja. "
"sepuluh. "
"Hah?"
"Sepuluh. . ."
"Ya?"
"…Tahun. . . "
". . . "
". . . "
". . . "
". . . "
"WHAT!"
.
.
"Bagaimana?"
Pertanyaan yang menuntut jawaban dengan segera di keluarkan oleh Heechul. Ia melirik Yunho dan Jaejoong.
"Semuanya… sempurna. " Jawab Jaejoong yakin.
Hangeng dan Heechul menghela napas lega. "Jadi… Changmin benar putra kandungku?"
"Ya. Dari semua data yang kalian berikan, semuanya pas. Waktu Changmin tiba di panti dan menghilang saling berhubungan." Jawab Yunho.
"Aku dengar dari kepala panti, Changmin mengatakan ia tersesat dan waktu yang ia katakan sama dengan tanggal dimana kalian kehilangan Changmin." Tambah Jaejoong.
"Kalung ini pun," Yunho mengambil kalung yang berada di meja dan memberikannya pada Heechul. "Diberikan oleh kepala panti kepadaku saat Changmin memutuskan keluar dari panti. Changmin tidak mengingat tentang kalung ini, karena…"
"Changmin mengalami kecelakaan setelah satu bulan di panti dan mengakibatkan hilang ingatan secara… permanen." Jaejoong melanjutkan dan mengejutkan mereka yang berada di ruangan itu.
"Jadi… sampai kapanpun Changmin tidak akan mengingat kita…"
Sebuah kesimpulan keluar dari mulut seseorang, kedua Suami-istri bermarga Kim itu menoleh kearah suara.
"Kibum…" sebut Heechul terkejut.
Tidak hanya Heechul, ketiga orang lain disana pun sama terkejutnya. Bagaimana bisa?
Kibum melangkah mendekati mereka, duduk di samping Heechul dan tersenyum.
Aku sudah mengetahui semuanya. " Kata Kibum begitu melihat raut wajah penghuni ruang tamu keluarga Kim itu.
"Kapan?" Tanya Hangeng.
"Di café Yunho Hyung. " Singkatnya.
Jaejoong mengerjapkan kepalanya. Ah, ia ingat ketika itu Jaejoong melihat Kibum yang berlari dari taman belakan café. Jaejoong tadinya mau bertanya ada apa, tapi tidak jadi karena ia lebih melihat ke taman belakang.
Jadi karena itu kenapa Kibum berlari dari taman belakang. Jaejoong memperkirakan Kibum menemui Changmin.
Waktu itu Kibum memang langsung berlari begitu mendengar perkataan Yunho. Kibum berlari bermaksud menemui Changmin, namun sayang ketika tiba di meja tempat mereka berkumpul Changmin tidak ada.
Saat Kibum bertanya pada Key, Key hanya berkata bahwa Changmin tiba-tiba berlari keluar café. Tanpa mendengar penjelasan Key lebih lanjut, Kibum berlari keluar café menyusul Changmin.
Tidak ada jejak Changmin… Kibum berpikir keras kemana Changmin pergi saat itu. Beberapa menit berpikir, ia tahu kemana Changmin.
Mecari Kyuhyun… Ya, Changmin pasti menemui Kyuhyun untuk menjelaskan perkataan Kibum. Merasa percuma kalaupun mengejar, Kibum kembali lagi ke café untuk mengantar Key dan Amber pulang. Setelahnya baru ia akan pergi ke apartemen Changmin.
Namun… rencananya tidak sesuai dengan harapannya. Ketika tiba di apartemen Changmin, Kibum disambut oleh makian, teriakan, dan pukulan dari Changmin. dan hal selanjutnya yang terjadi adalah kemarahan Changmin pada Kibum.
"Kau ke café?" tanya Heechul.
Kibum mengangguk, "Changmin juga disana." Kata Kibum mengejutkan Heechul dan Hangeng. "Tapi… langsung pergi. Changmin tidak mengetahui perihal ini. "
"Kalau begitu… bagaimana kalau besok kita beritahu?" kata Heechul semangat.
"Apa tidak terburu-buru?" tanya Yunho tidak yakin.
"Sebaiknya kalian jangan tergesa, aku yakin Changmin tidak akan percaya begitu saja. " Saran Jaejoong.
Hangeng menggeleng, "Lebih cepat, lebih baik. Kalau Changmin tidak percaya dengan bukti yang kita bawa, kita lakukan tes DNA." Usul Hangeng.
"Tes DNA… itu akan lebih akurat." Ucap Kibum menyetujui.
Aku tidak sabar menunggu esok!" seru Heechul ceria.
Hangeng dan Kibum tersenyum melihat keceriaan Heechul. Sedangkan Jaejoong dan Yunho, mereka terlihat gelisah…
Semoga saja kegelisahan mereka bukan pertanda apapun.
.
.
Kibum menatap cappuchinno-nya dengan malas. Seharusnya Kibum membuat janji 30 menit sebelum waktu yang ditentukan, jadi ia tidak perlu menunggu seperti ini.
Kenapa juga Kibum melupakan kebiasaan siwon yang selalu terlambat? Akh, pikiran dan hatinya yang kacau sampai mempengaruhi daya ingatnya.
Sebenarnya, Kibum sangat gugup mengingat hari ini akan bertemu siwon setelah sekian lama. Walaupun ia sudah menjalin hubungan dengan Amber, tapikan baru satu hari. Jadi mana mungkin hatinya akan tenang meginggat Siwon akan datang menemuinya.
Kibum menghela napas, pada akhirnya ia menyesap cappuchinnonya. Setelah cappuchinno itu lolos ke tenggorokannya, ia meletakkan kembali ke meja. Bertepatan dengan gelas itu diletakkan, orang yang ia tunggu tiba.
Kibum menatap Siwon malas bercampur kesal, "Kenapa kau selalu terlambat?" tanyanya.
Siwon tidak langsung menjawab, ia duduk terpaku melihat Kibum.
Sesungguhnya, Siwon sangat merindukan Kibum. Ia akui hal itu, ia sangat merindukan sahabatnya ini. hampir dua minggu tidak bertemu entah kenapa membuatnya seperti kehilangan seperempat nyawanya.
Sebenarnya bisa saja ia menemui Kibum kapanpun, tapi karena perasaannya yang sedang tidak karuan, ia tidak bisa. Ia merasa jika bertemu Kibum aka nada perasaan yang menyakitkan, selain itu Kibum sendiri tidak pernah menghubunginya.
Pernah satu waktu ia menelpon Kibum, namun tidak diangkat. Sekalinya diangkat, Kibum berkata sedang sibuk dan jangan menganggunya sampai Kibum sendiri yang menghubungi.
Padahal jika dengan Kyuhyun, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. entah kenapa tingkah mereka seperti sepasang kekasih.
Siwon baru menyadarinya. Selama ini hubungan mereka lebih seperti sepasang kekasih daripada sahabat. Kemana-mana selalu berdua, makan malam berdua, membeli sesuatu berdua. Siwon tidak pernah melakukan itu dengan Kyuhyun yang sudah jelas telah ia nikahi.
Hati Siwon bimbang… ia menyangkal segala pemikirannya.
"Maaf. Aku lupa hari ini ada rapat. " Kata Siwon member alasan. Tidaklah bohong, Siwon benar-benar menghadiri rapat.
Kibum menghela napas lagi, "Sudahlah, sebaiknya aku langsung saja kepermasalahan." Langsung Kibum tidak mau bertele-tele.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Siwon penasaran. "Aku juga ada yang ingin kutanyakan." Tambahnya.
"Sebaiknya hyung dulu." Kibum mempersilahkan.
Siwon menatap Kibum tepat di matanya, membuat Kibum sedikit gugup. "Apa kau… benar-benar memiliki kekasih?" tanyanya langsung.
"Ya. Dan kurasa itu bukan urusanmu." Ketus Kibum.
Siwon menatap Kibum tajam. "Bukan urusanku?" katanya mengulang ucapan Kibum. Siwon mendengus, "Tentu saja itu urusanku!" kata Siwon tidak terima, nada suaranya meninggi.
Kibum mendecih, "Kenapa harus jadi urusanmu?"
"Aku sahabatmu!" lantang Siwon.
Ah, dada Kibum kembali sakit. Siwon bena-benar kejam.
"Kita bersahabat sudah lama. Seharusnya kau bercerita padaku, aku selalu bercerita padamu tentang apapun." Ucap Siwon tidak sabar, "Apa hanya aku yang menganggapmu sahabat?" lirih Siwon.
Seandainya Siwon tahu, rasanya ingin sekali Kibum berteriak… 'Ya! Aku tidak pernah menganggapmu sahabat, karena aku Mencintaimu lebih dari seorang sahabat!'
"Apa aku pernah memintamu bercerita padaku?" sinis Kibum. Berkata seperti itu hanya untuk menenangkan hatinya yang kembali hancur. Ternyata Siwon memang menganggapnya hanya seorang sahabat.
Siwon terdiam mendengarnya. Benar, Kibum tidak pernah meminta. Siwon sendirilah yang selalu mengatakannya tanpa melihat Kibum mau mendengarnya atau tidak.
"Tidak pernah, kan? Asal kau tahu saja. Selama ini aku merasa risih dengan segala curahan hatimu. "
Benar. Kibum snagat risih karena hal itu akan membuat suasana hatinya gelap.
"Aku muak dengan segala keluh kesahmu. "
Ya. Kibum sangat muak karena setiap kali bertemu hanya rasa sakit yang ia rasakan.
Aku benci kau jadikan TEMPAT SAMPAH!"
Tepat. Kibum merasa dirinya adalah tempat sampah. Menampung segala cerita Siwon, baik itu hal yang menyenangkan atau tidak. Ia menjadi tempat terakhir yang menampung segala emosi Siwon. Kibum merasa tempat sampahlah sebutan yang cocok. , karena setelah puas bercerita Siwon akan meninggalkannya begitu saja.
Siwon terkejut mendengar kaliamat terakhir Kibum.
DEG
Kenapa hatinya sesakit ini? Kenapa hatinya menjadi tidak menentu mendengar ucapan Kibum?
Tidak sedikitpun Siwon bermaksud menjadikan Kibum tempat sampah. Ia murni mencurahkan isi hatinya pada Kibum karena ia merasa nyaman dengan Kibum. Tapi kenapa?
"Apa yang kau katakan?" bibir Siwon bergetar. "Sedikitpun aku tidak pernah menganggapmu sehina itu."
Kibum tersenyum sinis, "Ah, bahkan sekarang kau menganggapku hina."
Siwon melotot, dia salah memilih kosa kata. "Bummie… ada apa denganmu? Kenapa kau jadi begini?" Siwon bermaksud meraih tangan Kibum, tapi ditepis dengan kasar oleh Kibum.
"Aku begini karena dirimu…" lirih Kibum. Kepalanya tertunduk, ia tidak menyangkan akan mengatakan hal itu.
"Aku?" tanya Siwon tidak percaya.
Kibum menatap Siwon dan tertawa miris, "Ya. Semuanya karena kau! Kekacau ini juga karena kau! Semuanya karena kau yang tidak menyadari situasi yang sesungguhnya!"
Akhirnya… Kibum mengatakan apa yang selama ini ingin ia katakan.
Siwon tepaku. "Aku sungguh tidak mengerti."
"Aku tidak memintamu untuk mengerti, tapi aku hanya ingin kau melihat sekelilingmu. Jangan selalu mementingkan dirimu saja, kalau kau seperti itu terus… penderitaan ini tidak akan berakhir." Lirih Kibum.
Kibum tersenyum sebelum melanjutkan, "Kalau kau benar-benar mencintai Kyuhyun. Jagalah ia, jangan kau sia-siakan seperti sekarang." Kibum member jeda sesaat, "Karena kalau tidak… kupastikan kau akan kehilangan Kyuhyun."
Inilah alasan kenapa ia ingin bertemu Siwon. Kibum akan merebut Kyuhyun untuk Changmin, ia tidak peduli jika menjadi orang jahat, kerena ia ingin menebus keslahannya di masa lalu.
"Aku akan merebut Kyuhyun darimu… untuk Changmin." mata Kibum memancarkan tekad yang kuat. Ia sungguh-sungguh, bukan masalah jika hal itu akan menyakiti Siwon. Kibum ingin bersikap egois, ia ingin Siwon merasakan sakit yang sama sepertinya.
"Apa… maksudmu dengan untuk Changmin?"
"Sebaiknya kau turuti perkataanku tadi. Lihatlah sekelilingmu. Lihatlah sebuah kenyataan dari setiap sisi, jangan selalu melihat dari sisimu saja."
Siwon terdiam untuk mencerna perkataan Kibum. Benarkah? Selama ini ia hanya melihat kenyataan berdasarkan dirinya saja?
"Itulah yang ingin kukatakan. Kalau kau memang sangat mencintai Kyuyhun, pertahankan dia. Aku tidak akan segan-segan merebutnya darimu."
Setelah mengatakan itu, Kibum beranjak dari duduknya dan melangkah tepat ke samping Siwon. Kibum berdiri diam disana dan membisikan sesuatu yang membuat Siwon merasakan suatu kesakitan. Selesai dengan bisikannya, Kibum melangkah meninggalkan Siwon yang terpaku.
Meninggalkan Siwon dengan luka hati yang semakin dalam. Luka hati yang ia buat sendiri.
Kenapa jadi begini?
.
.
"Tempat sampahmu yang ini sudah rusak dan tidak berguna. Sebaiknya kau cari lagi tempat sampah yang lebih bagus, kalau perlu terbuat dari baja sehingga tidak akan melukai hatinya. Nah, ucapkan selamat tinggal pada tempat sampah lamamu."
.
.
Ruang tamu di kediaman Yunho begitu sunyi. Padahal ada enam kehidupan yang menghuni ruangan ini.
Kesunyian itu tercipta sesaat setelah Heechul berkata dengan antusias mengenai kenyataan bahwa Changmin adalah putra kandungnya. Satu respon yang di harapkan oleh sepasang suami-istri dan anaknya tak terkabulkan. Yang mereka dapatkan malah kesunyian yang entah kenapa terasa begitu menegangkan.
Jaejoong mengenggam erat tangan Yunho. Kegelisahannya kembali muncul. Yunho memeluk Jaejoong mencoba member ketenangan, walau dalam kenyataannya Yunho pum merasa gelisah.
Kibum menatap penuh harap pada Changmin yang sedari tadi diam.
"Minnie…" panggil Kibum mencoba menarik perhatian agar Changmin memberi respon.
Bukan sebuah kata yang mereka dengar dari mulut Changmin untuk merespon, melainkan sebuah gelengan kepala.
"Bo. . hong…" lirih Changmin.
Hangeng menatap Changmin, "Kau mengatakan apa?" tanyanya kerena tidak mendengar ucapan Changmin.
Changmin tiba-tiba berdiri dan menatap Heechul, kemudian Hangeng, dan Kibum. Changmin menggeleng, "Kalian Bohong!" teriak Changmin.
Teriakan Changmin mengejutkan Hangeng, Heechul, dan Kibum. Sedangkan Jaejoong memeluk erat Yunho.
"Ak-aku tidak percaya! Kalian pasti bohong!" teriak Changmin lagi.
"Kami tidak berbohong. Kau putra kami, Changmin." Heechul membenarkan.
"Kau putra kami, percayalah. Bukti-bukti ini sudah kau lihatkan?" Hangeng meraih bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Changmin adalah putra mereka.
"Kalau kau masih tidak percaya, kita lakukan tes DNA." Kata Kibum lembut.
Changmin mengigit bibir bawahnya. Tidak! Ia tidak ingin mempercayainya. Ia tidak ingin melakukannya, karnea hal itu akan membuatnya sakit.
"Aku…" mata Changmin mengabur. Air mata yang ia tahan sejak tadi mengalir.
Melihat Changmin mengalirkan air mata, membuat mereka tersentak. Heechul dengan cepat bangkit dari duduknya dan menghampiri Changmin yang berada di sebrangnya. Tangan bermaksud menghapus air mata Changmin, namun ditepis kasar oleh Changmin.
Heechul menatap Changmin tidak percaya, "Minnie… kau kenapa?"
Changmin menatap Heechul marah. "JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!"
Heechul terlonjak disentak Changmin seperti itu. Air matanya ikut mengair… "Minnie…" syok Heechul.
"KUBILANG JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!" teriaknya marah. "KAU BUKAN IBUKU!"
"Jangan membentak umma!" peringat Kibum. Walaupun changmin adik kandungnya, ia tetap tidak terima jika Heechul di bentak begitu.
"Bukan urusanku!" hardik Changmin.
"Kau membentak umma!" balas Kibum menghardik.
"Apa peduliku!" sinis Changmin.
Kibum membelalak, "Kau… kenapa kau berkata begitu?" geram Kibum. "Sopanlah pada ummamu!" tuntut Kibum.
Changmin tertawa sinis, "aku tidak memiliki umma." Nada suaranya bergetar. "Aku tidak memiliki orang tua. ORANG TUAKU MEMBUANGKU!" teriak Changmin kembali.
"Changmin…" Heechul meneteskan air mata. Kata-kata Changmin menusuk hatinya, kenapa Changmin berkata seperi itu?
"Kami tidak membuangmu, Changmin…" kata Hangeng lembut, mencoba menenangkan Changmin.
"BOHONG!" tuding changmin.
"KAU SENDIRI YANG MENGATAKANNYA!"
Teriakan Changmin sukses membuat Hangeng bungkam. Rasa sakit itu kembali muncul, rasa bersalah itu kembali menghatam. Hangeng menatap Changmin yang berurai air mata, sebuah tatapan permohonan maaf.
"Appa tidak bermaksud…" Hangeng tidak tahu haus berkata apa, karena ia tidak menyangka akan serumit ini. kejadian beberapa tahun lalu sungguh karena tersulut emosi, lagipula saat itu ia tidak mengetahui siapa Changmin.
"Kau bukan Appaku!" geram Changmin.
Kibum melihat Changmin dan Hangeng, ia tidak mengerti apa yang mereka katakan. Membuang? Kapan Hangeng mengatakannya? Rasanya tidak mungkin Hangeng tega mengatakan itu, karena Kibum tahu seberapa besar orangtuanya menyanyangi Changmin.
"Changmin… dengarkan umma, ne. " pinta Heechul. "Kami tidak membuangmu, justru kami kehilangnamu. " Jelasnya.
Changmin menatap benci Heechul, "Kalau kalian memang kehilanganku… kemana saja kalian selama ini?" sindirnya.
"Kami mencarimu. Kami selalu mencarimu. " Ucap Hangeng. Itu memang benar, mereka bertiga masih mencari changmin. mereka tidak menyerah sedikitpum, namun entah kenapa hanya sedikit petunjuk yang mereka dapat.
"Cukup! aku tidak mau mendengar omong kosong ini lagi!"
Changmin berlalu meninggalkan ruangan tamu kediaman Yunho, sebelum begitu jauh Changmin menghentikan langkahnya dan berkata, "Jangan temui aku lagi. " Setelahnya ia benar-benar pergi meninggalkan kediaman Yunho.
.
.
Waktu berlalu begitu saja. Begitu banyak perubahan yang dirasakan Kyuhyun, walau waktu yang ia lalui tidak sepanjang yang ia kira.
Satu bulan setelah hari dimana ia berbaikan dengan Changmin, Kyuhyun merasa waktunya menemui Changmin lebih banyak. Kyuhyun harus berterima kasih pada Kibum, berkatnya ia bisa menemui Changmin kapanpun dan sesering apapun.
Kyuhyun juga kini merasa bebas, ia merasakan kebebasan sejak tiga hari lalu. Kebebasan yang ia nanti.
Satu minggu lalu, Kyuhyun bertengkar (walau tidak bisa di katakana bertengkar) dengan Siwon. Mereka bertengkar karena tidak tahan dengan kelakuan Siwon yang semakin menjadi.
Awalnya Kyuhyun ceuk-cuek saja, tapi lama-lama ia merasa muak. Puncaknya ia menumpahkan segala emosinya pada Siwon.
Kyuhyun sungguh tidak tahan melihat Siwon yang frustasi. Keadaan Siwon sungguh menyedihkan. Kyuhyun mengetahui apa yang terjadi diantara Kibum dan Siwon, karena Kibum sendiri yang bercerita. Kibum bahkan mengatakan niatnya untuk menyatukannya dengan Changmin, Kibum juga bercerita akan status Changmin yang adik kandungnya.
Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana ketika mengatakan Changmin tidak mau mengakuinya kakak. Changmin juga tidak mau mengakui Hangeng dan Heechul sebagai orang tuanya. Changmin malah semakin membenci Kibum.
Kyuhyun tahu, meski Kibum kini menjalin hubungan dengan Amber, tapi ia yakin hati Kibum tetap untuk Siwon.
Tindakan Kibum dan dirinya bisa dikatakan kejam, karena mereka tega membuat Siwon seperti itu. Kyuhyun memang bahagia bersama Changmin, tapi tidak dnegan Siwon, Kibum, dan Amber. Mereka bertiga merasakan sakit yang sama.
Karena itu satu minggu lalu Kyuhyun menyadarkan siwon…
"Hyung! Cukup, aku sudah tidak tahan melihatmu seperti ini. " Kyuhyun mengebrak meja kerja Siwon.
"Pergilah…" usir Siwon.
Kyuhyun mengepalkan tangannya, "Cukup! tidakkah hyung sadar? Kelakuan hyung sudah diluar batas. "
Siwon menatap tajam Kyuhyun, "Kau tahu apa?" desis Siwon.
Kyuhyun menatap Siwon meremehkan, "Aku tahu semuanya! Bahkan hal apa yang tidak kau sadari pun aku tahu. " Lantang Kyuhun.
Siwon berdiri dan mencengkram kerah Kyuhyun, "Kau tidak tahu apapun!" geram Siwon.
Kyuhyun menepis cengkraman Siwon, "Apa hyung sadar? Apa hyung menyadarinya, kenapa hyung seperti ini?" tanya Kyuhyun.
Siwon diam.
Itulah yang sedang dicari Siwon. Ia tidak tahu mengapa ia bisa seperti ini. ia frustasi karena Kibum yang mengabaikannya, tidak menghiraukannya bahkan berpura-pura tidak mengenalinya. Hatinya sakit ketika melihat Kibum bersama Amber, apalagi Kibum tersenyum. Selama bersamanya, Kibum tidak pernah tersenyum seperti itu.
"Tidak kan? Biar ku beri tahu…" Kyuhyun menatap Siwon tajam.
"Kau mencintainya. Kau mencintai Kibum Hyung, bukan aku!"
Siwon tersentak. Benarkah? Tapi Siwon mencintai Kyuhyun, kalau tidak untuk apa ia menikah dengan Kyuhyun?
"Tidak mungkin…" bisiknya.
"Jangan mengatakan hal tidak mungkin seperti itu! Kibum Sahabatku!" sangkal Siwon.
"Sahabat?" sinis Kyuhyun. "Sahabat macam apa yang kau maksud? Kalau kau memang menganggapnya sahabat, kau tidak akan lebih mementingkannya melebihi aku!"
Siwon terdiam. Benar, ia lebih mementingkan Kibum dari pada Kyuhyun.
"Kau bahkan melupakanku, kau lebih memilih berduaan dengannya. tidakkah kau sadari bahwa kau membutuhkannya karena kau mencintainya?"
"…"
"Sekarang lihat dirimu. Penampilanmu jauh dari kata baik, apa kau menyadarinya kelakuanmu itu karena kau mengetahui Kibum Hyung memiliki kekasih?"
Benar… tingkah Siwon menjadi aneh karena Kibum yang mengatakan ia telah memiliki kekasih, dan ia tidak rela.
"Kau patah hati, hyung…" lirih Kyuhyun.
"Cukup! jangan katakan apapun lagi. Aku yang paling tahu diriku." Walau Siwon merasa benar dengan ucapan Kyuuhyun, tapi ia tetap menyangkalnya.
"Begitukah?" sangsi Kyuhyun.
Kyuhyun mengehea napas, ternyata sulit meyakinkan Siwon. Sejujurnya, Kyuhyun tidak tega melihat Siwon seperti ini. ia tidak suka orang yang ia anggap kakak setelah Kibum jadi kacau. Kyuhyun ingin menyadarkan Siwon, siapa sebenarnya orang yang ia cintai.
"Hyung, apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Kyuhyun.
Siwon mengangguk, "Tentu. Hal itu tidak perlu dipetanyakan." Tegasnya.
"Kalau begitu… kenapa hyung tidak menghiraukanku, mendiamkanku? Sibuk dengan dunia sendiri padahal Kibum hyung sudah memperingatimu, ia akan merebutku untuk Changmin." tanya Kyuhyun lagi.
Siwon terkejut. Ia menatap Kyuhyun tidak percaya, kenapa Kyuhyun mengetahuinya?
"Terkejut, eh? Asal Hyung tahu saja, selama ini aku memiliki hubungan dengan Changmin. Lebih dari sekedar sahabat. Kami saling mencintai."
Siwon kembali dikejutkan dengan kenyataan itu. Bibirnya bergetar, ingin mengatakan sesuatu hanya saja ia tidak sanggup. Terlalu mengejutkan baginya.
"Kibum Hyung memberitahukan semuanya padaku…" Kyuhyun terdiam sesaat. Melihat reaksi Siwon dan seusai dugaannya, Siwon syok.
"Aku ingin kita semua bahagia. Lepas dari kesalahpahaman ini." lirih Kyuhyun.
Kyuhyun mendekati Siwon, "Hyung… Kibum Hyung mencintaimu."
DEG
Jantung Siwon seakan berhenti selama satu detik. Siwon menatap Kyuhyun tidak percaya, meminta penjelasan.
"Aku tidak bohong. Sebaiknya hyung renungkan ini, apa arti Kibum Hyung bagimu dan siapa sebenarnya yang kau cintai."
Kyuhyun menepuk bahu Siwon yang terkulai lemas. Sebelum meninggalkan ruang kerja Siwon, Kyuhyun berkata…
"Kibum Hyung sangat menderita karena mencintaimu. Mencintai orang yang tidak peka sama sekali, Kibum Hyung sangat terluka karena mencintaimu."
.
Dan sejak kejadian itu, Siwon benar-benar merenungi bagaimana perasaannya pada Kibum sebenarnya. Sedikit demi sedikit Siwon mulai menyadari perasaannya terhadap Kibum. Yang menjadi masalahnya adalah… statusnya dan Kibum, sama-sama telah terikat dengan orang lain.
.
Kyuhyun bersenandung riang. Sepanjang perjalanan ke restoran tidak hentinya ia menghumbar senyum.
Kelakuan Kyuhyun membuat Kibum yang sendang mengendari mobil menatapnya heran. "Kau kenapa? Sepertinya senang sekali." Heran Kibum.
Kyuhyun cengegesan ditanya seperti ini. "Aku sedang bahagia." Ungkapnya semangat.
Kibum ikut tersenyum melihat Kyuhyun yang bahagia. "Changmin?" tebak Kibum.
Kyuhyun mengangguk semangat, "Ne. malam ini setelah acara makan malam kita berakhir, aku memiliki sebuah rencana bagus!" ucapnya.
Kibum melirik Kyuhyun sekilas, "Rencana? Kau tidak bermaksud membeberkan hubunganmu dengan Changmin di depan mereka kan?" selidik Kibum.
Kyuhyun terkekeh, "Aku tidak sebodoh itu, hyung. Mana mungkin aku membeberkannya di depan orangtuaku dan mertuaku, bisa-bisa aku dijadikan hidangan makan malam kali ini." canda Kyuhyun.
Kibum ikut terkekeh, "Lalu… apa rencanamu? Apalagi berhubungan dengan adikku."
Kyuhyun tersenyum misterius, "Ra-ha-si-a."
Kibum berdecih, "Ck, pelit sekali. Kalau kau tidak memberitahukannya padaku, aku tidak akan merestuimu menjadi adik iparku." Ancam Kibum.
Kyuhyun gelagapan, "Ya! Kenapa begitu? Ishh.."
"Makanya, ayo katakan pada kakak iparmu ini." goda Kibum.
Wajah Kyuhyun memerah mendengar kata kakak ipar, "Jangan menggodaku!" kesal Kyuhyun.
"Aku tidak menggodamu. Kau memang akan jadi adik iparku."
"Ishh… baiklah, baiklah, aku menyerah! Nanti hyung juga tahu apa rencanaku." Sungut Kyuhyun.
Kibum tersenyum mendengarnya.
Malam ini, keluarga Kim, Choi, dan Cho mengadakan makan malam bersama. Melepas rasa rindu, bisa dikatakan sebagai reuni kecil. Mereka mengadakan reuni kecil itu di sebuah restoran yang bisa dikatakan mewah.
Kyuhyun memang tidak pergi bersama Siwon, karena Siwon ada urusan yang idak bisa di tinggalkan. Karena itu Siwon akan menyusul mereka setelah selesai.
Kibum sejujurnya tidak ingin menghadiri acara makan malam ini, ia malas bertemu Siwon. Selain itu malam ini Kibum ada janji dengan Amber, untunglah Amber bisa mengerti.
Tidak terasa mereka telah sampai, dengan segera mereka turun dan memasuki restoran tersebut.
Mata mereka melihat para orang tua teah berkumpul, Kibum dan Kyuhyun segera menghampiri mereka dan duduk.
"Kemana Siwon?" tanya Jung Soo begitu melihat hanya ada Kibum dan Kyuhyun.
"Siwon Hyung ada perlu sebentar, katanya ia akan menyusul." Jawab Kyuhyun.
Tanpa menunggu Siwon, mereka segera memesan makanan karena tidak dipungkiri perut mereka ingin segera diisi.
Suasana restoran cukup ramai. Kyuhyun memperhatikan sekitar mencari-cari sesuatu. Kyuhyun tersenyum ketika matanya menangkap sosok yang ia cari.
Changmin.
Kyuhyun melihat Changmin duduk cukup jauh dari tempatnya. Changmin bersama dengan Shindong, Key, dan Amber. Kyuhyun menatap Changmin berharap Changmin akan melihatnya.
Harapannya terkabul. Meskipun tidak begitu jelas, tapi Kyuhyun samar melihat Changmin tersenyum padanya. Changmin mengangkat gelasnya member gesture bersulang, Kyuhyun pun membalasnya.
Kibum melirik kelakuan Kyuhyun yang aneh. Matanya mengikuti arah pandang Kyuhyun, dan sebuah senyuman ia keluarkan. Pantas saja Kyuhyun begitu senang, ternyata Changmin juga berada disini.
Kibum melihat dengan siapa Changmin datang, senyum Kibum melembut begitu melihat Amber yang membelakanginya.
"Maaf aku terambat."
Sebuah suara yang tentu mereka kenali menghentikan acara tatap-menatap Kyuhyun dan Kibum. Mereka sontak melihat ke arah sumber suara.
"Umma kira kau tidak akan datang." Kata Taemin pada putranya.
Siwon duduk disamping Taemin yang bersebrangan tepat dengan Kibum. Mereka saling menatap sebentar, namun Kibum segera mengalihkan pandangannya.
Siwon tersenyum kecut. Hubungan dengan Kibum sekarang malah memburuk. Tapi Siwon bermaksud akan mengakhiri semuanya malam ini, ia ingin berbaikan dengan Kibum dan mengungkapkan perasaannya yang baru ia sadari.
Acara makan malam itu berjalan dengan keakraban yang hangat, saling bercanda tawa namun dan mengenang masa-masa para orang tua ketika muda.
Selama acara makan malam berlangsung, Siwon tidak melepas pandangannya dari Kibum. Ketika Kibum tersenyum, ia ikut tersenyum. Namun senyum Siwon akan sedikit memudar begitu tahu senyum itu bukan untuknya.
Kibum hanya tersenyum pada Kyuhyun dan keluarganya.
Sejujurnya Kibum sangat risih dengan pandnagan Siwon yang tidak pernah lepas darinya, karena itu ia menyibukkan diri dengan mengobrol bersama para orang tua. Sesekali menggoda Kyuhyun dan matanya sesekali tertuju pada Changmin dan Amber.
Kyuhyun menatap Changmin yang tengah asyib bercanda dengan keluarga Shin. Sesekali saling mencuri pandang mereka lakukan dan berbagi senyum.
Para orang tua tidak menyadari kehadiran Changmin dan keluarga Shin, karena mereka siuk dengan kenangan masa lalu mereka.
Obrolan para orang tua terhenti ketika dengan tiba-tiba Kyuhyun berdiri. Mereka melihat kea rah Kyuhyun.
"Aku permisi ke toilet." Pamit Kyuhyun dan pergi begitu saja.
.
.
Kyuhyun berajalan dengan langkah cepat ke arah toilet. Begitu sampai di toilet, Kyuhyun menemukan Changmin sedang mencuci tangannya.
Ya, alasan Kyuhyun ke toilet karena melihat Changmin pergi ke luar. Sebenarnya Kyuhyun tidak tahu Changmin pergi kemana, tapi ia menduga ke toilet dan benar saja.
Kyuhyun menghampiri Changmin dan memeluknya dai belakang. Changmin tidak terkejut mendapat peluukan tiba-tiba itu, karena ia melihat dari kaa sosok Kyuhyun.
"Kau benar-benar datang." Ucap Kyuhyun. Kepalanya ia sandarkan pada punggung Changmin.
Changmin terkekeh, "Kebetulan Shindong Appa megajak makan malam disini, jadi yah… sekalian saja." Ucap Changmin.
Kyuhyun melepas pelukannya dan membalikkan badan Changmin, berhadapan. "Jadi bukan karena aku?" ngambek Kyuhyun.
Changmin mencubit pipi Kyuhyun gemas, "Tentu karena kau. Kalau tidak ada kau mana mau aku dan Amber ikut kesini." Katanya dengan senyum khasnya.
Kyuhyun melepas cubitan Changmin, "Ah, begitu." Ucapnya mengerti. Ia tahu Amber kesini juga karena ada Kibum, namun ia tidak mau menyebut nama Kibum di depan Changmin. hal itu akan membuat Changmin Bad Mood.
Kyuhyun meraih tangan kanan Changmin dan menariknya ke luar toilet. Kyuhyun berjalan berlawanan arah dengan tempat mereka menikmati makan malam, Changmin mengernyit binggung.
"Kyu, salah jalan." peringat Changmin.
Kyuhyun tidak menghentikan langkahnya, malah mempercepat angkahnya. Changmin menghentikan langkahnya ketika berada di luar restoran.
"Kyu, kenapa kita kesini?" tanya Changmin binggung.
Kyuhyun membalikan tubuhnya menatpa Changmin, ia tersenyum manis. Tangannya melepas genggamannya dan membuka kancing atas kemejanya. Changmin semakin dibuat binggung dengan tingkah Kyuhyun.
"Kyu…"
Belum sempat Changmin berkata, Kyuhyun menunjukkan benda yang menjadi bandul kalung Kyuhyun dan membuatnya bungkam seketika. Changmin terpaku melihat benda itu.
Cincin.
Dua buah cincin yang dulu Changmin gunakan untuk melamar Kyuhyun.
Bibir Changmin bersiap untuk berkata, namun gagal karena telinganya menangkap ucapan Kyuhyun yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.
Bersaman dengan kalimat itu terucap, Kyuhyun kembali menarik Changmin untuk berlari meninggalkan restoran itu…
"Kita menikah!"
.
.
To Be Continued
.
.
Thanks to:
Park YUIrin — eL-ch4n — yooshi704 — Meong — Mhiakyu — Blacknancho — rhiee — Evil baby magnae — Rose — Snowysmile — Wonniebummie — Lee — Choi Jimin — Yuki-Onna — rizkyeonhae — lovinkyu — ryu — choikyuhae — Fitri MY — magnaeGyu — Iruma-chan — Kyuminjoong — Gyurievil — woniewon — KMaknae — Yukina Itou Sephiienna Kitami — Rilianda Abelira — Jung Jisun — Fujoshidae-YoonJae — kyukyu712 — SBS — Kyu — Yeye — Kim JiSang — mitade13 — KyuLuphChangHanWonMi — frosyita — cyara — Viivii-ken — DewiDestriaPutri — Babykyupa — EvilmagnaeMin — Guest — kiinekii — ShikiTeito — MissChoi — ecca augest — arie kim imyut2 — Han Ji Gun — Yuki chan — Cho97 — fikha — CassieCiel — rizuka jung — Sunny — ChangKyuuu — cha chaku felice — anin wonkyushipper — Jung Ryuhee — Seo Shin Young — leenahanwoo — minfujo — Aya'Kyu —
And You, Silent Reader.
.
.
Terimakasih semuanya^^
Wah banyak yang simpati sama Kibum, ya. Tapi maaf, Kibum masih menderita :) chapter-chapter akhir mungkin bahagianya :-p
Banyak juga yang gemes sama Siwon, ya…
Selamat datang pada Reviewer and Reader baru^^
Sebelumnya, saya minta maaf. Chapter ini saya percepat, jadi ceritanya berantakan dan ada yang dipotong serta saya lewatkan. Saya berharap tidak terlalu mengecewakan (_'_)
Dan chapter ini menjadi sangaaattt panjang (9k+ *sama dengan chapter ini: Chap 9*)… semoga kalian tidak bosan membacanya^^
Maaf update nya telat dan jika tidak sesuai harapan (_'_)
Ini terjadi karena saya tidak nyaman jika mengetik ada orang lain. saya harus sendirian. Selain itu, computer dikuasai adik-adik saya (bermain game dan nonton anime *yang ini saya juga :p*). Mengetik di laptop ada sedikit masalah, dan di handphone… ibu jari saya akan sakit jika terlalu lama ngetik di ponsel.
Saya juga sempat tidak melanjutkan karena teralihkan oleh YJ, One Piece, dan AFA :-p
#Terima kasih kepada Shipper lain yang menghargai karya saya ^^ *Hug* saya tersanjung~
.
Review?
