Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo *treak dari Monas*
The Baby Is My Taichou
Chapter: 10
Ichigo merasakan tangan mungil menepuk-nepuk wajahnya. Lalu dengan malas sang remaja berambut orange membuka mata coklatnya dan bertatapan dengan mata hitam Karin yang besar, "Ohayou... Karin!" sapa sang remaja berambut orange dengan suara mengantuk. Kemudian ia bangun dan meletakan sang batita berambut hitam di pangkuannya.
'Lembab?' kata Ichigo dalam hati ketika menyentuh celana piyama Karin. kemudian sang remaja berambut orange menghela nafasnya frustasi –menyadari ia lupa memakaikan diaper kepada Karin dan Toushiro tadi malam. Nampaknya ia akan sibuk menjemur futon dan mencuci selimut pagi ini.
Lalu dengan masih setengah mengantuk, Ichigo meraih jam bekernya di meja belajarnya. Sang remaja berambut orange mengerutkan dahinya mendapati jamnya masih menunjukkan pukul enam pagi. Karena hari ini hari minggu, ia berniat tidur sampai siang. Namun sayangnya Karin bangun lebih awal dari biasanya. Jika sang batita berambut hitam sudah terbangun, maka ia tidak akan bisa tidur lagi dengan tenang.
Ichigo mencari batita lainnya yang berambut putih. Biasanya, jika Karin sudah bangun maka Toushiro juga akan terbangun. Tetapi kemudian sang remaja berambut orange tersenyum lega mendapati sang batita berambut putih masih tidur sangat pulas sambil memeluk bantalnya dengan erat di atas futonnya. Selimut birunya yang tidak lagi menyelimuti tubuh mungilnya karena sang batita banyak bergerak selama tidurnya. Mulut mungilnya sedikit terbuka dan terdengar hembusan lembut nafasnya. Nampaknya pagi ini sang remaja berambut orange hanya akan direpotkan oleh satu batita berambut hitam.
Ichigo menatap batita berambut hitam di pangkuannya dan menghela nafasnya, "Kenapa kau tidak sepenurut Toushiro, Karin?" tanya sang remaja berambut orange kepada adiknya. Tetapi kemudian ia menyesalinya karena sang batita di pangkuannya melembungkan pipinya marah dan menjambak rambut orangenya. Pipi sang batita yang tembam nampak bulat dan berwarna kemerahan seperti apel.
"Ow...! Hentikan Karin!" kata Ichigo mencoba menyelamatkan rambut orangenya dari kerontokkan. Nampaknya sang batita berambut hitam tidak suka Ichigo membandingkannya dengan batita lainnya.
"Baik... aku mengerti. Kau anak baik Karin! Sekarang lepaskan rambutku, anak baik!" rayu sang remaja berambut orange. Setelah puas, akhirnya Karin melepaskan tangan mungilnya dari rambut orange Ichigo.
'Bagaimana mungkin tangan semungil itu bisa menjambak sesakit ini?' tanya Ichigo dalam hati sambil mengelus-elus kepalanya.
Ichigo memperhatikan sekeliling kamarnya –merasa ada sesuatu yang terlupakan, tetapi ia tidak mengingatnya. Kemudian sang remaja berambut orange bangkit dari tempat tidurnya dan membawa Karin ke kamar mandi. Ia harus memandikan sang batita berambut hitam dan mengganti piyamanya yang basah karena ompol.
~H~
"Ohayou Ichigo!" sapa Rukia ketika ia melihat sang remaja berambut orange masuk ke dalam ruang makan. Sang shinigami bermata violet tengah membuat sarapan dan bubur instan untuk Karin dan Toushiro.
Ichigo yang melupakan keberadaan Rukia di rumahnya, terpejat melihat sang shinigami bermata violet yang seharusnya berada di Soul Society sedang memasak di dapurnya, "Rukia!" kata Ichigo terkejut, "Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak tadi malam, bodoh!" jawab Rukia kesal, "Apa kau lupa, tadi malam aku yang membantumu menidurkan Karin dan Hitsugaya-taichou?" tanya Rukia.
Ichigo menggaruk-garuk belakang kepalanya, "Uh'uh... aku tidak ingat." Kata Ichigo sambil mencoba mengingat-ingat kapan sang shinigami bermata violet datang. Nampaknya ia terlalu mengantuk dan setengah sadar saat ia berbicara dengan Rukia tadi malam hingga ia tidak mengingatnya.
"Dasar bodoh!" kata Rukia kesal. Ia tak percaya bahwa Ichigo melupakkannya setelah ia menyelamatkan waktu tidurnya semalam. kemudian sang shinigami bermata violet kembali melanjutkan apa yang sedang dilakukannya, sementara sang remaja berambut orange menunggu sarapannya dan mendudukan Karin di atas meja makan di hadapannya.
Tak lama, Rukia mengampiri sang remaja berambut orange dan meletakkan sarapannya di hadapannya.
"Uh'uh... apa ini?" tanya Ichigo aneh. Matanya berdenyit-denyit menatap 'benda' mencurigakan berwarna pink yang berbentuk seperti kelinci di hadapannya.
"Itu saparanmu, bodoh!" jawab Rukia kesal, "Bersyukurlah karena aku sudah berbaik hati membuatkanmu sarapan!"
"Uh'uh... apa ini bisa di makan?" tanya Ichigo tidak yakin 'benda pink' di dalam piring di hadapannya adalah makan, " Bentuknya jelek sekali..." protes sang remaja berambut orange.
"Tentu saja itu bisa dimakan, Bodoh!" teriak Rukia kesal, "Dan lagi, bentuknya tidak aneh! Itu adalah seni membuat sarapan. Cepat makan, atau aku akan membekukan tiap sel dalam tubuhmu dengan Sode no Shirayuki!" ancam Rukia sambil mengacungkan pisau dapur kepada sang remaja berambut orange.
Ichigo merinding mendengar ancaman sang shinigami bermata violet yang menatapnya dengan tatapan 'cepat makan atau kau mati'. Akhirnya dengan terpaksa, sang remaja berambut orange memakan masakan Rukia dan sangat terkejut karena rasanya yang sangat enak.
"Aa... kenapa rasanya enak?" kata Ichigo dengan nada tidak percaya.
Rukia meletakkan kedua tangannya di pinggangya, "Tentu saja..." kata Rukia dengan bangga, "karena aku mempelajarinya dari Nii-sama." kata Rukia dengan mata berbinar-binar –mengagumi kakak iparnya. Semetara itu sang remaja berambut orange berusaha tidak tertawa membayangkan Byakuya, taichou kaku dan dingin, divisi enam mengenakan apron dan mengajari Rukia memasak di dapur.
"Ta... ta... ta..." Tiba-tiba Karin mengayun-ayunkan tangan mungilnya di hadapan wajah Ichigo –mencari perhatian sang remaja berambut orange.
"Uh,uh... ada apa karin?" tanya Ichigo kepada adiknya. kemudian sang batita menepuk-nepuk perutnya dengan telapak tangan mungilnya menunjukan kalau ia lapar.
Ichigo mengangkat sebelah alisnya, "Apa kau lapar?" tanya Ichigo. Sang batita berambut hitam mengangukan kepalanya dengan bersemangat . Tak lama Rukia membawakan bubur instan yang sudah dibuatnya dan memberikannya kepada sang batita berambut hitam.
Karin dan Ichigo menatap mangkuk di hadapan sang batita berambut hitam lalu kepada Rukia dengan curiga. Rukia yang menyadari hal itu, melipat kedua tangannya di depan dadanya kesal, "Hei... aku tidak memasukan benda aneh ke dalam bubur seperti Matsumoto-fukutaichou. Jangan menatapku seperti itu!" kata Rukia membela dirinya.
Setelah melihat tidak ada tanda-tanda bahwa sang shinigami bermata violet berbohong, Ichigo menyatakan bubur itu aman dan memberikan sendok bayi kepada adiknya.
"Ah... aku mau melihat Hitsugaya-taichou dulu. Mungkin ia sudah bangun..." kata Rukia. Kemudian ia meninggalkan kakak-adik Kurosaki yang sedang asyik menikmati sarapan pagi mereka .
Ketika Ichigo sudah menyelesaikan sarapannya, Rukia kembali ke ruang makan dengan membawa batita berambut putih yang sudah terbangun di pelukkannya. Mata emerald sang batita berambut putih nampak masih mengantuk sementara tangan mungilnya memeluk boneka chappy yang nampak sangat lembut dan empuk.
"Ohayou... Toushiro!" sapa Ichigo sambil tersenyum kepada sang batita berambut salju. Kemudian Rukia mendudukan sang taichou mungil di atas meja di samping karin. Sang batita yang masih mengantuk mengusap-usapkan wajahnya ke boneka chappy di pelukkannya sehingga yang terlihat hanyalah rambutnya yang tampak serupa dengan bonekanya. Rukia tersenyum melihat pemandangan itu. Sang batita berambut putih nampak sangat manis dan imut.
"Owh iya..." tiba-tiba Ichigo teringat sesuatu. Kemudian mata coklatnya menatap Rukia dengan tatapan yang membuat perasaan sang shinigami bertubuh mungil tidak enak.
"Karena kebetulan kau ada di sini, kau maukan menggantikanku mencuci seprai dan selimut Karin?" minta Ichigo dengan nada memerintah.
"Uh'uh..." Rukia terdiam sejenak –mencari alasan untuk menghindari permintaan sang remaja orange. Kemudian tiba-tiba saja sang shinigami bertubuh kecil itu menepuk kedua tangannya, "Ahh... aku baru ingat harus segera kembali ke Soul Society dan melatih Inoue." Kata Rukia.
Ichigo menatap Rukia dengan tatapan curiga. Tetapi belum sempat sang remaja berambut orange mengatakan sesuatu, sang shinigami berambut hitam sudah menghilang dari hadapannya, "Aaa... dia melarikan diri." kata Ichigo kesal.
"Lalu bagaimana denganku setelah ini?" teriak Ichigo meratapi nasibnya.
Namun nampaknya keberuntungan berpihak pada sang remaja berambut orange karena tak lama kemudian ia merasakan reiatsu seorang shinigami tak jauh dari rumahnya. Lalu sambil menyeringai lebar, ia meraih lencana shinigami dari saku celananya dan menjadi shinigami. Setelah itu, dengan secepat kilat sang shinigami pengganti berambut orange bershunpo menuju shinigami malang, yang tak lain adalah Abarai Renji, dan menyeretnya ke rumahnya.
"Hei apa yang kau lakukan?" teriak Renji kesal sambil mencoba melepaskan lengan Ichigo yang melingkar di sekitar lehernya. Kemudian sang shinigami berambut merah terpejat melihat tatapan murka remaja berambut orange di hadapannya.
"Hei... tenang Ichigo! A-apa yang terjadi?" tanya Renji gugup sambil mencoba menenangkan sang remaja berambut orange.
"'Apa yang terjadi', hah?" tanya Ichigo dengan nada dingin kepada shinigami malang di hadapannya yang mulai panik, "Seenaknya saja kalian meninggalkan aku sendiri bersama mereka!" kata Ichigo sambil menunjuk dua batita yang sedang berguling-guling di atas meja.
"Uh'uh... itu..." kata Renji dengan gugup. Dalam hati ia mengumpat dirinya yang tidak bisa memikirkan sebuah alasan di saat genting seperti ini.
Sang remaja berambut orange menghela nafasnya, "Baiklah... aku mau pergi membeli cadangan makanan dan susu bayi." Kata sang remaja dengan amarah mulai mereda yang membuat sang shinigami berambut merah menghela nafasnya lega.
"Selama aku pergi, cucilah semua pakaian, selimut dan seprai yang Toushiro dan Karin ompoli hari ini!" kata Ichigo dengan nada mengintimidasi sambil menunjuk tumpukan kain dalam keranjang, "Ketika aku kembali, aku tidak ingin melihat satu helai kain pun tersisa dalam keranjang itu. Atau, kau akan merasakan apa yang di sebut Tensa Zangetsu." ancam sang remaja berambut orange yang membuat sang fukutaichou divisi enam merinding.
"Uh'uh... baiklah." Jawab Renji dengan wajah pucat. 'Mencuci ompol' diantara semua shinigami di muka bumi ini, kenapa harus ia yang mengalami hal seperti ini. Entah apa yang akan taichounya katakan ketika ia mengetahui fukutaichounya mencuci seprai bekas ompol batita. Ia merasa harga dirinya sebagai fukutaichou divisi enam hancur berkeping-keping.
"Bagus..." kata Ichigo puas sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Kemudian ia memeriksa dompetnya di saku celana baggynya dan mengambil handphonenya yang ia letakkan di atas lemari es.
Setelah yakin membawa semua yang ia butuhkan, sang remaja berambut orange melambaikan tangannya dengan santai kepada Renji, "Aku minta tolong jaga Karin dan Toushiro juga ya!" kata Ichigo. Kemudian dengan santai ia meninggalkan sang fukutaichou malang yang terpuruk di lantai bersama dua batita imut.
Belum jauh Ichigo pergi dari ruang ia meninggalkan Toushiro dan Karin, sang remaja berambut orange mendengar kedua batita itu menangis keras. Kemudian dengan panik dan khawatir ia kembali untuk memeriksa keadaan kedua batita itu.
Ichigo mendapati Toushiro dan Karin menangis sangat kencang. Tetapi ketika mereka melihat sang remaja berambut orange kembali, tangisan kedua batita itu mereda, "Ichi... Ichi..." kata Toushiro dan Karin sambil mengangkat tangan mereka kepada sang remaja berambut orange menandakan mereka ingin ikut bersamanya.
"Hei... aku tidak bisa mengajak kalian." Kata Ichigo yang membuat kedua batita itu kembali menangis kencang.
"Shhh... jangan menangis Toushiro... Karin!" kata Ichigo sambil mengendong kedua batita itu dan mengayun-ayunkan mereka. Tetapi, kedua batita itu tetap menangis kencang.
Merasa kedua telinganya sakit karena tangisan dua batita di kedua tangannya, akhirnya Ichigo menyerah, "Baik kali ini aku menyerah... kalian boleh ikut." Kata Ichigo pasrah.
Mendengar hal itu, kedua batita di pelukan sang remaja berambut orange berhenti menangis dan tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian Ichigo kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian kedua batita itu dengan pakaian yang lebih bagus dan tidak lupa memakaikan diaper. Karena cuaca musim gugur yang mulai dingin, sang remaja berambut orange memilih pakaian cukup tebal yang membuat kedua batita itu tetap hangat.
Setelah Toushiro dan Karin rapih dan manis, Ichigo mencari sesuatu yang bisa mempermudahnya membawa kedua batita itu berpergian. Dan ia bersyukur karena Rangiku membeli dua tas gendong bayi yang bisa ia pakai untuk membawa dua batita manja itu. Kemudian Ichigo memasukan Toushiro dan Karin masing-masing kedalam tas gendong bayi, lalu menggendong Toushiro di punggungnya dan Karin di dadanya.
Sang remaja berambut orange merasa penampilannya memalukan, tetapi apa boleh buat karena sang kedua batita manja tidak mau ditinggal olehnya. Kemudian dengan langkah malas, Ichigo pergi meninggalkan Renji yang berusaha tidak tertawa melihat penampilan sang remaja berambut orange.
~H~
Ketika Ichigo sampai di pusat perbelanjaan, ia merasa perhatian orang-orang tertuju padanya. Bagaimana tidak jika ia membawa dua batita di punggung dan dadanya. Beberapa kali ia mendapati para gadis senyum-senyum atau berbisik-bisik pada temannya ketika mereka melihatnya. Ichigo merasa wajahnya merona sangat merah. Ia sangat malu dan ingin kembali, tetapi ia sudah terlanjur berada di depan supermarket. Akhirnya sang remaja berambut orange membulatkan tekatnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket.
"Wah... bayi yang manis..." kata seorang ibu muda yang berpapasan dengan Ichigo saat ia sedang memilih diaper untuk Toushiro dan Karin. Ia membawa anak laki-lakinya yang baru berusia sekitar lima tahun dalam troli belanja.
"Uh'uh... terima kasih." Kata Ichigo dengan nada gugup. Dalam hati ia berharap sang ibu muda tidak berpikir yang aneh tentang dirinya dan kedua batita di gendongannya.
"Apa mereka anakmu?" tanya sang ibu muda. Sementara itu tangan anak laki-lakinya meraih telapak tangan mungil Toushiro yang berada di punggungnya dan menggerakannya naik turun.
Mendengar pertanyaan sang ibu muda, Ichigo ingin sekali menghantamkan kepalanya ke dinding terdekat. Ternyata kekhawatirannya menjadi nyata. Pada hal sudah jelas bahwa ia terlalu muda untuk menjadi seorang ayah, ternyata orang-orang memang berpikir bahwa dua batita di gendongannya adalah anaknya, "Bukan! Mereka adikku!" jawab Ichigo dengan nada sedikit kesal.
"Oh... maaf! Kukira mereka adalah anak-anakmu. Ternyata kau memang terlalu muda untuk menjadi ayah, ya?" kata ibu muda itu sambil tertawa pelan.
"Eeek..." teriakan Toushiro membuat sang remaja berambut orange dan sang ibu muda terpejat. Ternyata tanpa sepengetahuan mereka, anak laki-laki sang ibu muda menggigit telapak tangan sang batita berambut putih karena gemas.
"Yuta... apa yang kau lakukan!" teriak sang ibu muda marah kepada anak laki-lakinya. Lalu karena terkejut sang bocah pun melepaskan tangan sang batita berambut putih yang mulai menangis.
Ichigo memindahkan Toushiro ke depan untuk memeriksa seberapa parah bocah itu menggigit tangan sang batita berambut putih, lalu ia sangat terkejut ketika melihat telapak tangan sang batita sangat merah. Nampak cap bekas gigitan sang bocah di telapak tangan mungil sang batita yang nampak sangat menyakitkan.
"Ma-maafkan kelakuan anakku!" kata sang ibu muda dengan panik. Semetara itu anak laki-lakinya menangis karena ia mencubit pipinya.
"Uh'uh... tidak apa-apa, aku bisa mengerti." Kata Ichigo sambil berusaha meredakan tanggisan sang batita berambut putih karena orang-orang dalam supermarket mulai memperhatikan mereka, "Shhh... Toushiro! Sudah tidak apa-apa, sakitnya akan segera hilang!" kata Ichigo sambil meniup-niup telapak tangan mungil Toushiro berharap dengan itu rasa sakitnya akan berkurang.
Sementara itu Karin yang digendong Ichigo di dadanya, mengerutkan dahinya melihat Toushiro menangis. Ia tidak suka melihat sang batita berambut putih menangis kesakitan. Lalu tangan mungilnya meraih sesuatu terdekat dari dalam troli belanja Ichigo yang kebetulan adalah lobak yang cukup panjang. Dengan sekuat tenaga, sang batita berambut hitam menghantamkan lobak itu kepada anak laki-laki yang menggigit tangan Toushiro –membuat sang bocah yang sudah menangis, menangis tambah keras.
"Ka-Karin...!" kata Ichigo terkejut melihat perbuatan sang batita berambut hitam, "Ah... maafkan perbuatan adikku!" kata Ichigo panik kepada sang ibu anak laki-laki tersebut.
Sang ibu menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa... mungkin bayi itu hanya ingin membela saudaranya!" kata ibu itu sambil tersenyum, "Lagi pula ini salah Yuta yang memulai dengan menggigit tangan saudaranya terlebih dahulu."
Ichigo merasa orang-orang yang memperhatikan mereka bertambah banyak. Merasa tidak enak menjadi tontonan banyak orang, sang remaja berambut orange cepat-cepat minta maaf dan meninggalkan ibu muda dan anak laki-laki itu.
Ichigo memeriksa daftar belanjanya. Benda terakhir yang butuh ia beli adalah susu untuk Karin dan Toushiro. Lalu sang remaja berambut orange pun segera menuju tempat bagian susu karena ia segera menyelesai belanjanya dan pulang. Ia merasa sangat lelah. Dalam hati sang remaja berambut orange bertanya-tanya kenapa para wanita sangat suka berbelanja, padahal kegiatan itu sangat melelahkan.
Ichigo menepuk-nepuk punggung batita berambut putih yang tertidur di dadanya sambil mencari bagian susu bayi. Sang remaja berambut orange memindahkan posisi Toushiro dan Karin karena sang batita berambut putih akhirnya berhenti menangis setelah bertukar posisi dengan Karin. Jadi sekarang ini Toushiro berada di dada sang remaja berambut orange sedangkan Karin berada di punggungnya.
Ketika Ichigo sampai di tempat bagian susu, sang remaja berambut orange bingung memilih susu mana yang harus ia beli. Di tempat itu ada berbagai tumpukan kaleng dan kotak susu dengan berbagai merek dan rasa berbeda. Baru kali ini sang remaja berambut orange membeli susu untuk balita. Ia sama sekali tidak mengerti susu seperti apa yang cocok untuk batita.
"Uh'uh... susu yang mana yang harus aku beli?" gumam Ichigo sambil melihat-lihat kandungan dalam susu yang tertera di kotak susu batita. Sementara itu Karin yang berada di punggung Ichigo mencoba meraih sebuah kaleng susu di dekatnya.
"Ta... ta... ta..." kata Karin kesal ketika tangan kecilnya tidak berhasil meraih kaleng susu terdekat.
"Ada apa Karin?" tanya Ichigo –merasakan adiknya banyak bergerak di punggungnya.
"Ta...!" jawab Karin sambil menunjuk sebuah kaleng susu.
"Kau mau susu yang itu?" tanya Ichigo sambil mengambil kaleng susu yang ditunjuk sang batita berambut hitam. Tetapi ketika sang remaja berambut orange melihat harga susu itu, ia meletakkannya kembali ke tempatnya semula karena harganya yang sangat mahal.
"Lupakan Karin! Lupakan..." kata Ichigo sambil pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian tanpa pikir panjang dan memperdulikan adiknya yang merengek, sang remaja berambut orange mengambil susu yang paling murah yang ia lihat saat itu dan segera menuju kasir.
~H~
"Huf... pengeluaranku banyak sekali." Kata Ichigo kesal. Ia membawa dua kantong pelastik besar di kedua tangannya.
Uang yang dikeluarkannya untuk membayar barang yang ia beli, ternyata jauh lebih banyak dari pada yang ia kira. Sang remaja orange menyesal karena telah mengambil susu bayi tanpa pikir panjang, karena ternyata ia salah melihat harga susu itu dengan susu yang lain. Harga susu yang ia ambil ternyata lebih mahal dari pada susu yang Karin inginkan.
"Kurosaki..." panggil seseorang.
Lalu sang remaja berambut orange yang merasa dipanggil namanya, menolehkan wajahnya kepada orang yang memanggilnya yang ternyata adalah guru wali kelasnya.
"Aa... ternyata benar Kurosaki." Kata sang guru, Misato Ochi, sambil melambaikan tangannya.
Tetapi kemudian mata sang guru berdenyit-denyit kesal karena sang siswa berambut orange mencoba melarikan diri begitu melihat darinya, "Hei... mau kemana kau, Kurosaki?" tanya sang guru –membuat sang siswa berambut orange beku di tempat ia berdiri.
"Aku mau pulang." kata Ichigo sambil mencoba tidak menghiraukan tatapan curiga wali kelasnya. Dalam hati ia mengumpat nasibnya hari ini. kenapa ia harus bertemu dengan wali kelasnya dalam keadaan seperti saat ini.
"Ya... aku bisa melihatnya." Kata sang wali kelas. Lalu mata sang guru tertuju pada batita berambut putih di dadanya yang mulai terbangun dan mengusap-usapkan wajahnya di dada sang remaja berambut orange.
"Bayi siapa ini, Kurosaki?" tanya sang wali kelas curiga sambil menatap siswanya tajam, "Aku tidak tahu kalau kau memiliki adik masih bayi atau kerja sampingan sebagai baby sitter."
"Ah... Ini..." belum sempat Ichigo menjelaskan idenditas dua batita di gendongannya, sang batita berambut putih di dadanya memanggilnya dengan panggilan yang dapat membuat wali kelasnya terkena serangan jantung.
"Pa... pa..." panggil sang batita berambut putih dengan mata emerald bulat besar dan berbinar-binar.
Ichigo merasa seperti tersambar petir di tengah hari yang cerah. Sementara wali kelasnya ternganga mendengar panggilan sang batita berambut putih kepada siswa berambut orangenya.
"Bukan... mereka bukan anakku." Kata Ichigo mencoba membela dirinya. Tetapi wali kelasnya terlalu syok untuk mendengarnya.
"Kurosaki... kau..." kata sang wali kelas dengan mata terbelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Belum sempat ia mengintrogasi idenditas bayi tersebut lebih lanjut, sang siswa berambut orange sudah melarikan diri dari tempat itu.
"Pokoknya... mereka bukan anak-anakku." Teriak sang remaja berambut orange sambil berlari menyelamatkan diri dari sesi introgasi yang bisa memakan waktu berjam-jam lamanya. Dalam hati ia bersyukur karena rumahnya hanya tinggal beberapa blok lagi dari tempat itu.
Ketika sang remaja berambut orange tiba di depan rumahnya, ia mendapati seorang gadis berambut hitam, yang ia buntal di belakang kepalanya, berdiri di depan rumahnya, "Uh'uh... ada yang bisa dibantu?" tanya Ichigo kepada gadis itu.
Sang gadis berambut hitam itu terpejat mendengar suara Ichigo. Nampaknya ia tidak menyadari kedatangan sang remaja berambut orange, "Ma-maaf... namaku Hinamori Momo. Aku dengar dari kuchiki-san katanya Shi... maksudku Hitsugaya-kun berada di sini." Kata gadis berambut hitam itu memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan tubuhnya kepada Ichigo.
Kemudian ketika ia mengangkat wajahnya kembali, mata sang gadis berbinar-binar menatap batita berambut putih yang sedang menghisap jempolnya di gendongan Ichigo, "Ah... Shiro-chan..." teriak Hinamori senang. Kemudian ia mengambil Toushiro dari gendongan Ichigo dan memeluknya erat dengan bahagia.
Gomen mina... udah lama banget fic ini ga kusa apdet... ^^'a
Akhir-akhir ini kusa jarang banget apdet karena kusa lagi banyak tugas
Kalau nanti tugas kusa udah berkurang, akan kusa usahain untuk rajin apdet lagi... (~^3^)~
Yosh... chappy yang lumayan panjang...
Mind to review?
-kusanagi-
