Childish

Presented by: Hikari-me

Disclaimer by: Yamaha, Crypton

Pair: LenKa (Len x Luka)

Warnings: Author masih belajar, banyak typo, alur sepertinya lambat

Don't like don't read.

Please, enjoy it

"Apa-apaan ini Rin!?"

Diatap sebuah sekolah SMP yang tenang karena sekarang sedang jam pelajaran, apalagi baru jam pelajaran pertama jadi wajar kalau sepi. Terdengar suara seseorang yang terdengar kesal , seseorang dengan rambut berwarna kuning dan bermata biru sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya, dia menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas diatap itu, siapa lagi kalau bukan Kagamine Len yang baru terkejut karena kedatangan seseorang yang tidak akan diduganya kesekolahnya.

"Oh, Luka chan sudah sampai ya? Cepat juga dia sampainya."

Terdengar jawaban santai dari seberang telepon. Len yang mendengarnya merasa cukup heran dengan jawaban Rin yang santai itu.

"Bukan itu! Kenapa Luka bisa datang kesini?" tanya Len lagi.

"Tidak apa-apa kan? Luka chan bilang dia ingin tahu sekolah kita, lagipula, toh nggak bakal ketahuan sama sensei dan yang lain."

Lagi-lagi Rin menjawab dengan santai.

"Dia kesininya sendiri kan? Bagaimana dia tahu alamat sekolah kita?"

"Tenang saja, aku sudah memberikan peta yang detail padanya."

"Kalau ada sesuatu dijalan bagaimana?"

"Kau ini khawatiran sekali, begitu-begitu juga Luka kan sudah 16 tahun, lagipula dia sampai disana dengan selamatkan?"

"Kau ini, kalau soal begini setidaknya bilang dulu padaku." Len menghela napas panjang.

"Kalau kau tahu nanti jadi nggak seru kan?"

Terdengar tawa Rin dari seberang telpon, sepertinya dia senang sekali kalau soal mengisengi Len.

Tanpa memperdulikan tawa saudara kembarnya itu, Len melirikan matanya kearah seseorang yang ada disampingnya, seorang gadis dengan rambut softpink panjang yang diikat twintail tengah duduk santai, dia mengenakan seragam sailor warna putih lengan pendek dengan pita merah didadanya, ada garis pita hitam yang mengelilingi ujung lengan seragam dan rok hitam yang ada garis pita putih di sekeliling ujungnya itu. Lalu tidak lupa sepatu kets warna putih yang dipakainya. Len sudah tahu, itu pasti bajunya Rin, siapa lagi yang punya seragam sekolahnya dirumah sakit Crypton itu.

"Kenapa kau pinjamkan seragammu Rin?" len mengalihkan pandangannya kearah telepon genggamnya.

"Ya biar nggak ketahuan lah. Kalau dia pakai bajunya yang biasa sudah pasti akan ketahuan."

Jawab Rin dengan nada tinggi.

"Itu bajuku yang waktu itu sedikit kebesaran. Bagaimana? Cocok kan?"

Lanjutnya, Len yakin kalau sekarang Rin sedang tersenyum dengan senyum usilnya.

Len lagi-lagi melirikkan matanya kearah Luka. Len yang biasanya melihat Luka mengenakan baju terusan selutut yang kadang kebesaran, tapi hari ini dia terlihat berbeda.

Baju atasan yang benar-benar pas atau bahkan bisa dibilang sempit, lalu rok hitam yang terlihat lebih pendek dibanding lainnya. Walau Rin bilang sedikit kebesaran untuknya tapi kalau Luka yang pakai masih saja terlihat sempit, memang cocok juga kalau dipakai Luka, tapi baju itu membuat Luka terlihat sedikit... ehm seksi...

Menyadari hal yang ada dipikirannya sekarang, dengan cepat Len mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan wajah memerah tentunya.

"Eeh yaaahh... begitulah..." jawab Len Sambil menggaruk pipinya denga gugup.

"Kenapa nada bicaramu begitu Len?" Rin bingung sesaat dengan nada bicara Len yang aneh, lalu beberapa saat kemudian dia menyadari penyebabnya.

"Hmmm... Hayoo... Jangan aneh-aneh Len..." lanjutnya dengan nada iseng, Len merasa wajahnya semakin panas begitu mendengar ucapan saudaranya itu.

"Kau yang jangan aneh-aneh!" ucapnya panik. Lagi-lagi terdengar suara tawa dari telponya.

"Ah iya, kalau Dokter Kaito menanyakan Luka, bilang saja kalau Luka bersamamu dan jangan bilang kalau kau sekarang disekolah." Rin memperingatkan Len.

"Eh? Memangnya Luka kesini tidak bilang pada siapapun?" tanyanya heran.

"Tidak." Jawab Rin singkat.

"Lalu..." Len menjedanya beberapa saat. "Bagaimana dengan Luki san...?" tanyanya dengan ragu.

"Eh? Itu..."

"..."

"..."

Kalau hal yang berurusan dengan Luka, Luki pasti jadi sangat overprotek, saat dia datang kerumah sakit dan Luka tidak dikamarnya dengan cepat dia pasti mencarinya, apalagi kalau Luki tahu Luka sekarang tidak sedang berada dirumah sakit dan berjalan-jalan sendirian ditengah kota, Mereka sudah bisa membayangkan bagaimana wajah seramnya Luki dengan aura gelap disekitarnya saat tahu kalau Luka meninggalkan rumah sakit lalu berjalan sendirian kesekolah mereka itu.

Untuk beberapa saat mereka saling diam, sampai Len menyambung pembicaraan mereka.

"Rin...?"

"Eh, Itu..." suara Rin terdengar gugup. "Dipikirkan nanti saja. Sudah ya..." Lalu dengan cepat Rin memutuskan sambungan teleponnya.

"Tunggu Rin! Halo! Rin...!" Len mencoba mencegah Rin memutuskan sambungan tapi terlambat, suara telpon terputus sudah terdengar di handphonenya. Len hanya bisa menghela napas panjang menghadapi Rin yang begitu. Dia bergerak duduk tepat didepan Luka.

"Kenapa Luka mau kesini?" tanyanya dengan pandangan selidik.

"Luka penasaran..."

"Penasaran apa?"

"Luka penasaran tentang sekolahnya Len nii-chan, habis kemarin Len nii-chan dan teman-teman yang lain kelihatan senang sekali." Jawabnya dengan nada sedih. "Luka menggangu ya?" tanyanya dengan tatapan menyesal. Len yang melihat pandangan Luka jadi tidak tega untuk memarahinya.

"Bukannya menggangu tapi kalau Dokter kaito dan Onii chanmu tahu kalau kau nggak ada mereka pasti panik." Len mencoba membujuk Luka untuk pulang. "jadi ayo pulang..." sambil meraih tangan Luka, Len berdiri dari duduknya.

"Nggak mau, Luka masih mau disini..." Tolak Luka sambil menahan tangan Len.

"Tidak, nanti mereka khawatir..." kata Len sambil menarik Luka menuju pintu kedalam. Luka hanya menurutinya walau dengan wajah cemberut. Mereka berjalan menuruni tangga untuk sampai ke pintu keluar, saat berada di tangga lantai 2 tiba-tiba mereka dipanggil seseorang dari belakang.

"Aaahhh... Disini ternyata..." tegur Yuzuki saat melihat mereka. Luka dan Len berhenti lalu menoleh kearah asal suara tersebut.

"Ada apa?" Tanya Len bingung.

"Kalian ini bagaimana? Pelajaran ketiga sebentar lagi bakal dimulai, Ayo ke kelas..." Omel Yuzuki sambil menarik tangan Luka menuju kekelasnya, Luka hanya bisa bengong menanggapinya tanpa menolak sama sekali.

"Hei, Tunggu Yuzuki...!" belum sempat melanjutkan kata-katanya, Yuzuki sudah belari cepat sambil menarik Luka, melihatnya Len segera menyusul mereka yang sudah berjalan didepan terlebih dahulu.

Sekarang adalah jam pergantian mata pelajaran, guru yang tadinya mengajar dikelas itu sudah meninggalkan ruangan dan mulai bersiap untuk mengajar dikelas lain. Guru yang seharusnya mengajar pelajaran berikutnya sepertinya terlambat untuk beberapa saat, Jadi tidak heran kalau suasana kelas 2-3 cukup ramai denga suara-suara murid kelas itu.

SRRAAAKK!

Suara gesekan pintu geser terdengar saat yuzuki mebuka pintu geser kelas mereka, otomatis semua mata tertuju pada pintu geser tersebut dan mendadak suasana menjadi hening sesaat, mereka memperhatikan 3 orang yang baru memasuki kelas tersebut, sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan Luka, dan ada beberapa orang yang sepertinya tidak ikut mengerjakan PR bersama kemarin berbisik menanyakan tentang Luka.

"Luka chan, dari mana saja?" Gumi yang memecah keheningan segera berjalan menuju kearah mereka, lalu mengajak Luka untuk kedepan kelas.

"Len nii-chan..." Luka menoleh kearah Len, dia seperti meminta ijin pada Len.

"Hei tunggu dulu! kenapa kalian bisa setenang ini?" tanya Len yang heran melihat teman-temannya yang seakan sudah tahu kalau Luka datang, padahal saat dia ijin dengan guru tadi mereka semua seperti tidak menyadari Luka didekat kelasnya.

"Rin tadi sudah kirim pesan pada kami semua, walau kami tadi cukup kaget melihat Luka didepan kelas kita." Jelas Yuzuki sambil menunjukkan pesan dari Rin, tulisan pesan itu sama dengan yang dikirim Rin padanya.

"Teman-teman! Bagi yang nggak ikut kemarin, ini dia yang namanya Luka...!" Teriak Gumi didepan kelas. Beberapa anak memandang luka dengan tatapan kagum melihat seseorang gadis cantik tengah berdir disana, satu per satu murid kelas itu mulai memperkenalkan diri mereka pada Luka. anak-anak yang kemarin datang dan sudah mengenal Luka hanya melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Luka yang tidak biasa begini hanya tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah lalu membalas salam mereka.

"Nah, sekarang ayo duduk, sebentar lagi gurunya datang..." dengan pelan Gumi mendorong punggung Luka kearah bangku kosong yang ada di deretan tengah nomor 2 dari belakang.

"ini mejanya Rin, karena dia tidak masuk sekolah jadi Luka duduk disini saja." Jelas Gumi.

"Hei, tunggu dulu..." Len mencoba mencegahnya.

"Sudalah Len, biarkan saja..." jawab yuzuki dengan santai.

"Hai Luka, kita sebelahan ya..." sapa Aoki yang duduk di samping kanan Luka. "Kalau ada sesuatu bilang saja." Lanjutnya dengan tersenyum.

"Baik..." Luka menjawabnya dengan senyum kekanakannya.

"Yo, Luka. Kau benar-benar datang ya kesini." Sapa Ted yang duduk dibelakang Luka, Luka menolehkan badannya kebelakang.

"Luka mengganggu ya?" tanyanya, Ted tertawa mendengarnya.

"Tidak kok." Jawabnya singkat.

Beberapa anak mulai berkumpul disekitar Luka dan mengobrol dengannya. Len hanya mengamati mereka dengan heran. Sikap teman-temannya menghadapi Luka seperti sudah tahu saja dengan sifat Luka yang kekanakan. Kalau orang yang pertama kali bertemu Luka biasanya mereka bertanya dulu tentang Luka ketika pertama kali bertemu, tapi ini seakan mereka sudah tahu semuanya, padahal dia tidak pernah mengatakan apapun pada mereka, atau Rin yang sudah menceritakannya?

"Hei Len, kau mau bengong sampai kapan? Sebentar lagi gurunya datang." tegur Piko, Len yang dari tadi melamun akhirnya tersadar juga.

"Hei Piko, apa Rin menceritakan sesuatu tentang Luka pada kalian semua...?" Tanya Len pada Piko yang sudah duduk dibangkunya, Piko menolehkan kepalanya sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.

"Dia tidak cerita apapun, dia Cuma bilang jangan tanya apapun kalau sudah tahu sikap Luka nanti. Yah, awalnya kami juga bingung tapi ternyata mengasyikan juga." Jelasnya.

Len tersenyum lega begitu mendengar penjelasan Piko, ternyata saudara kembarnya itu walau bisa dibilang cerewet, tapi dia bisa menyimpan rahasia.

SRRAAAKK!

Lagi-lagi terdengar suara pintu eser yang dibuka, kali ini seorang laki-laki yang terlihat cukup tua dengan rambut yang hampir berwarna seluruhnya putih, dia mengenakan kacamata tebal dan baju yang rapi khas seorang guru, dia membawa beberapa map ditangannya. Begitu melihat siapa yang memasuki kelas mereka dengan cepat mereka kembali duduk dibangku mereka masing-masing.

Kecuali Len, dia terlihat panik saat guru itu masuk kekelasnya, dia melirikkan matanya kearah teman-teman sekelasnya yang sudah duduk diam dibangku masing-masing. Dia heran melihat teman sekelasnya begitu tenang seperti tidak ada hal yang gawat yang akan terjadi padahal Luka masih ada dikelasnya.

Guru itu melihat kearah Len yang masih berdiri ditangah kelas.

"Silakan duduk dibangku masing-masing." Tegurnya dengan nada tegas.

Len yang menyadari kalau yang dimaksud guru itu adalah dirinya segera dia berjalan kebangkunya yang didekat jendela.

"Baiklah, kita mulai pelajarannya, silakan buka buku halaman 38." Ucap guru itu setelah melihat semua siswa duduk tenang.

Sudah beberapa menit pelajaran bahasa inggris dikelas itu berlangsung dengan tenang, guru itu menjelaskan didepan kelas sambil sesekali menuliskan sesuatu dipapan tulis, Gumi dan yang lainnya mengikuti pelajaran dengan tenang, tapi sepertinya ada seorang yang tidak bisa merasa tenang dikelas itu, siapa lagi kalau bukan Len. beberapa kali dia menoleh kearah Luka yang terlihat tenang-tanang saja dibangkunya.

"Baiklah, halaman selanjutnya tolong ditejamahkan oleh..." Guru itu memperhatikan murid seisi kelas dengan seksama, beberapa murid berusaha agar diri mereka tidak menjadi fokus dari guru bahasa inggris mereka, guru itu masih saja menelusuri kelas dengan matanya, sampai pandangannya berhenti pada seseorang yang belum dilihatnya.

"Lho? Sepertinya saya belum pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu benar-benar murid kelas ini?" tanyanya sambil menatap kearah Luka.

'Gawat, Ketahuan!?' batin Len dengan paniknya.

Luka terlihat bingung dengan pertanyaan dari guru didepan kelas itu, dia menlehkan kepalanya pada Aoki dan menatapnya dangan tatapan yang seperti menanyakan jawabannya, Aoki balas menatap Luka, dia tersenyum lalu mengatakan sesuatu dengan suara berbisik.

'Tenang saja...'

"Dia murid pindahan Sensei...!" tiba-tiba Yuzuki mengatakannya dengan suara yang cukup besar, teman-teman sekelasnya membantunya dengan mengiyakan perkataan Yuzuki, Len hanya bisa bengong dengan perkataan teman sekelasnya itu, mana mungkin sensei percaya begitu saja, pikirnya.

"Murid pindahan...?" guuru itu masih menatap pada Luka dengan pandangan setengah percaya.

"Iya, murid pindahan, masa' Sensei nggak tahu...?" ucap Yuzuki lagi.

Len masih tidak tenang mendengar jawaban yang diberikan temannya itu, kalau Sensei sampai tahu kalau mereka semua bohong maka tidak diragukan lagi kalau mereka akan mendapat hukuman satu kelas, tapi kalau hanya itu masih mending, dia takut kalau nanti Luka juga akan dimarahi oleh guru itu.

"Hmmm, murid pindahan...?" guru itu masih menimbangnya.

Dengan perasaan yang benar-benar kacau Len menunggu reaksi guru tersebut.

'Tuhkan, pasti ketahuan...' ucapnya dalam hati.

"Ya sudah kalau begitu..."

JDUUKK!

Sesaat setelah sang guru mengetakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras, refleks semua menoleh kearah sumber suara itu, yang ternyata suara itu berasal dari Len yang entah sengaja atau tidak sudah merantukkan kepalanya dengan cukup keras dimejanya. Melihat hal itu Gumi dan teman sekelasnya yang lain mati-matian menahan tawa, sedangkan Luka terlihat panik dibangkunya. Guru didepan kelas mereka menatap tajam kearah Len.

"Apa ada sesuatu Kagamine-san?"tanyanya dengan nada tegas.

"Maaf Sensei, Tidak ada apa-apa." Jawabnya sambil mengusap dahinya yang tadi terantuk meja. Len bisa mendengar dengan jelas suara terkikik geli dari taman sekelasnya.

"Ya sudah, kita lanjutkan! Kagamine san, terjemahkan yang tadi." Perintahnya pada Len

"Baik..." jawab Len cepat.

Pelajaran dilanjutkan kembali setelah kejadian tadi, guru itu kembali menjelaskan hal yang ada dibuku teks bahsa inggris sampai bel berbunyi untuk kedua kalinya setelah bel masuk tadi, bel tanda istirahat pertama. Mendengar suara bel itu, guru bahasa segera membereskan bukunya lalu meninggalkan kelas Len setelah mengucapkan salam. Beberapa anak mulai berjalan kelura kelas, ada juga beberapa dari mereka yang mengajak Luka untuk istirahat bersama, tapi ditolak Luka dengan alasan akan menyusul nanti.

"kalian ini, kalau yang tadi itu ketahuan kan bisa gawat...!" omel Len pada Yuzuki dan yang lainnya yang ditanggapi dengan santai oleh mereka.

"Sudahlah, nggak bakal ketahuan kok. Nanti Senseii juga bakal lupa." Balas Yuzuki santai.

"Tapi..." belum selesai Len melajutkannya, Luka sudah menarik tangannya lalu menatapnya.

"Len nii-chan, dahinya tidak apa-apa...?" Tanya Luka dengan pandangan khawatir, tangan Luka bergerak kearah poni Len lalu menyingkirkannya.

"Tidak apa-apa kok." Jawabnya, teman-teman len yang masih dikelas itu hanya menonton mereka berdua sambil tersenyum iseng. Begitu menyadari temannya menonton mereka dengan senang Len jadi salah tingkah dengan wajah yang memerah.

"Benar kata Rin, kalian benar-benar mesra..." Ucap Gumi sambil tertawa.

"Ah sudahlah... Ayo kekantin..." ajaknya untuk mengalihkan perhatian, dia meraih tangan Luka lalu mengajaknya berjalan keluar kelas diikuti yang lainnya.

Selama menyusuri lorong menuju kantin mereka jadi pusat perhatian terutama Luka, beberapa di antara mereka bahakan memperhatikan Luka dengan seksama. Bagaimana tidak, seorang gadis cantik dengan rambut panjang diikat twintail, mengenakan seragam sailor yang cukup ketat yang menampilkan bentuk tubuhnya dengan bagus, lalu rok dan lengan baju yang pendek menunjukkan kulit putihnya, serta senyum cerianya yang selalu ditunjukkannnya berjalan sambil menggandeng tangan seseorang dengan erat seperti anak kecil. Pastilah semua siswa disekolah itu terpesona olehnya. Para siswi juga memperhatikannya dengan tatapan kagum.

Awalnya, Len yang tahu kalau mereka jadi pusat perhatian tidak ambil pusing, tapi lama kelamaan dia jadi sadar kalau mereka terutama para siswa memperhatikan Luka karena satu sebab, walau Luka sama sekali tidak menyadarinya, dan Len merasa sangat tidak suka karena hal itu. Dia berbalik melewati jalan yang tadi tentu saja sambil mengajak Luka. Teman-teman yang berjalan bersama mereka bingung karena Len yang tiba-tiba memutar arah.

"Mau kemana Len?" tanya Gumi dengan setengah berteriak karena Len dan Luka sudah berjalan cukup jauh.

"Kekelas! Kalian duluan saja, nanti kami menyusul." Jawabnya tanpa menoleh. Gumi dan yang lain hanya bisa mendengus mendengar jawaban Len.

Saat mereka sampai di kelas, Len segera menuju tempat duduknya lalu dia merogoh loker yang ada dimejanya.

"Cari apa Len nii-chan?" tanya Luka yang daritadi sudah bingung dengan tindakan Len.

"Ini, pakailah." Len menyodorkan jaket warna biru gelap yang sepertinya dia pakai saat pergi sekolah tadi. Luka mengambilnya lalu menatapnya dengan bingung.

"Kenapa? Kan tidak dingin?" tanyanya sambil memakai jaket itu.

"Itu..." Len menjeda kata-katanya, sepertinya dia tidak tahu harus bilang bagaimana. "Karena aku tidak mau kau diperhatikan begitu oleh orang lain..." ucap Len dengan gugupnya.

"Diperhatikan bagaimana?" tanya Luka lagi yang semakin bingung dengan jawaban Len.

Mendengar pertanyaan Luka, Len hanya bisa memijit pelipisnya dengan sedikit kesal, karena sepertinya anak satu ini sama sekali tidak sadar dengan maksudnya.

"Ah, Lupakan." Ucapnya sambil menahan kesal.

"Ayo kita susul mereka." Len mengulurkan tangannya pada Luka.

Suasana dikantin di jam istirahat seperti ini pastilah benar-benar ramai. Apalagi kantin sekolah ini adalah kantin gabungan seluruh angkatan disekolahnya. Memang kantin ini cukup luas dan ada di luar gedung serta penjual yang ada disana tidak hanya satu, tapi tetap saja terlihat ramai walau ini baru jam istirahat pertama. Len dan Luka yang baru sampai disana terlihat bingung mencari kelompok kelas mereka.

"Len, Luka chan!" terdengar suara beberapa orang memanggi mereka ditengah keramaian ini, mereka menolehkan kepala untuk mencari asal suara mereka.

"Disini...! di sini...!" lagi-lagi terdenga suara penggilan mereka, kali ini mereka bisa menemukan mereka yang duduk di salah satu sudut kantin. Mereka segera berjalan dan bergabung kesana. Di sana ada Ted, Gumi, Yuzuki, Aoki, Piko dan beberapa teman sekelas lainnya.

"Kalian lama sekali..." Gerutu Gumi.

"Kalian tidak makan?" Tanya Len tanpa peduli gerutuan Gumi.

"Kan baru istirahat pertama, makannya istirahat kedua saja..." Ucap Ted.

"Oh..." tanggap Len singkat.

"Nah, kalian mau pesan apa...? biar sekalian kupesankan," tanya Yuzuki sambil berdiri dari kursinya, mereka menyebutkan pesanan mereka satu per satu, mereka hanya memesan minuman dan beberapa makanan kecil. "Baiklah, Tunggu ya..." ucap Yuzuki setelah mereka semua selesai meyebutkan pesanan mereka.

"Luka ikut..." Luka segera berjalan cepat kearah Yuzuki.

Sambil menunggu Yuzuki dan Luka mereka mengobrol soal pelajaran tadi, tidak lupa mereka membahas reaksi Len saat guru mereka percaya kalau Luka murid pindahan yang membuat mereka tertawa, Len hanya bisa kesal menanggapinya. Tidak berapa lama Yuzuki dan Luka datang sambil membawa pesanan mereka dengan menggunakan nampan berbentuk persegi untuk membawanya, mereka meletakkan pesanan mereka diatas meja dengan hati-hati lalu mebagikannya sesuai pesanan masing-masing.

"Oh, aku lupa ambil sedotannya." Ucap Yuzuki sambil membagikan pesanan. "Bisa kau ambilkan Luka chan...?" Pintanya.

"Iya tentu..." jawab Luka dengan ceria. "tunggu sebentar ya..." luka berjalan cepat kearah tempat dia memesan minuman tadi.

"Tadi kalian ngobrol apa...?" tanya yuzuki menyambung pembicaraan mereka.

"Oh itu, soal pelajaran tadi..."Jawab Piko, berkat pertanyaan Yuzuki tadi, lagi-lagi topik yang sama muncul, mereka tidak hentinya membicarakan hal itu selama beberapa menit.

"Sepertinya Luka terlalu lama ambil sedotannya." Ucap Gumi sambil menolehkan kepalanya kearah meja kantin. "Hei, lihat itu..." Gumi menunjuk kesatu arah, yang lainnya segera mengikuti arah yang ditunjuk Gumi.

Disana terlihat Luka sedang berbicara dengan seseorang, seorang cowok dengan rambut berwaarna ungu panjang diikat gaya samurai kuno, sepertinya dia murid bagian SMA, walau dari jauh mereka bisa melihat Luka yang sepertinya sedang kerepotan dan berusaha menghindari dari orang itu.

"Oh, itu kan..." belum selesai mendengar perkataan Gumi.

Dengan wajah kesal Len sudah berdiri dari kursinya lalu berjalan cepat kesana, kearah Luka, di kantin yang ramai itu dia berjalan menabrak beberapa siswa lainyang tidak dipedulikannya.

"Len nii-chan..." panggil Luka saat melihat Len berjalan kearahnya.

Saat sudah didekat Luka, Len segera menarik tangan Luka dan menempatkan Luka di belakangnya. Dia menatap tajam seseorang yang sekarang ada didepannya sekarang.

"Jangan mengganggunya, Kamui senpai!" tegas Len.

~~~ To Be Continue~~~

Hikari's note:

Hai semua apa kabar...?

Nggak terasa ya sudah sampe chapter 10, aku jadi terharu bisa mengetik fic sepanjang ini, tentu saja ini berkat dukungan kalian para reader sama, baik yang review maupun yang silent reader, aku sangat berterima kasih...

Untuk chapter 10 ini eku ngetiknya cukup cepat, Cuma butuh waktu 2 hari (2 hari cepet!?)

Entah kenapa ideku lagi lumayan banyak, mungkin karena ini tema sekolah ya ato karena ganti setting,,,? Au ah... karena itu chapter ini lumayan panjang dari chapter-chapter yang biasanya...

Aku coba buat sekolah Len jadi seheboh mungkin, tapi sepertinya rada gagal ya, nggak bisa buat yang heboh-heboh sih. Juga penjelasan tentang bagaimana seragam yang dipakai Luka, terlalu seksi kah? Terlalu nggak jelas kah...? atau terlalu ribet kah...? ato... #plak! (atau, atau melulu...), selain itu aku lumayan bingung mau munculin gackpo? bingung siapa yang lebih baik muncul, akhirnya yang kupilih gackpo juga (#nggak kreatif milih karakter)... XD

selain itu, aku juga ngerasa aneh kalau gurunya sampe bisa di bohongi begitu, sepertinya seru juga kalo bisa begitu ya... heheheh.. (don't try this at school)...

Sudah ah ngomongi guru mulu, ntar kena kutuk... (?)

Oke...

Sekian salam dariku...

Jika ada kritik, saran, perbaikan, typo, dan sejenisnya(?) silakan sampaikan lewat review...

Karena kata yang kalian sampaikan direview sangat membantu semangatku yang naik turun dalam pembuatan ceirta ini...

Sampai jumpa lagi...