"Terimakasih Tuan."
Chanyeol menerima amplop cokelat pemberian salah seorang tetangganya yang bernama tuan Hong yang memintanya untuk memperbaiki mesin pompa air di pabrik tahu miliknya.
"Sama-sama, kau benar-benar berbakat Chanyeol ah. Kinerjamu sangat bagus."
Chanyeol tersenyum. "Senang bisa membantu."
"Ngomong-ngomong, untuk apa semua uang itu? Kau bekerja sangat keras, apa kau sedang butuh banyak uang?"
"Ah tidak seperti itu, aku hanya ingin menyenangkan istriku saja. Kau pasti tau, istri-istri kita tidak bisa jauh dari yang namanya kosmetik."
Tuan Hong tertawa, ia menyetujui perkataan Chanyeol. "Kau benar-benar suami yang baik Chanyeol ah."
Chanyeol tersenyum lagi. "Yasudah, kalau begitu aku pamit pulang. Ini sudah larut."
"Ne, sekali lagi terimakasih Chanyeol ah. Kau benar-benar membantu."
.
.
.
Chanyeol membelah jalanan ibukota Seoul dengan menggunakan motor jadul kesayangannya setelah selesai memperbaiki mesin pompa air milik tuan Hong di pabrik tahu miliknya. Jam sudah menunjukan pukul 23.30, sudah satu minggu berlalu semenjak ia mencari pekerjaan tambahan untuk membeli alat-alat kecantikan istrinya. Chanyeol bersyukur karena sekarang uangnya sudah terkumpul. Selama satu minggu kemarin harus Chanyeol akui ia melewati hari-hari yang berat. Ia harus bangun pagi dan bekerja di proyek pembangunan restoran milik Sehun, lalu setelahnya ia berkeliling ibukota Seoul untuk mencari pekerjaan tambahan sampai larut malam. Segala macam pekerjaan ia lakukan agar bisa mendapat uang tambahan. Mulai dari mengangkut beras, memasang baliho, memperbaiki gardu listrik, memperbaiki mesin pompa air dan berbagai macam pekerjaan berat lainnya. Chanyeol tersenyum. Besok adalah hari minggu dan waktunya ia untuk istirahat seharian. Ia sungguh lelah, tubuhnya serasa remuk semua. Tapi Chanyeol tetap tersenyum senang. Ia senang karena bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak peduli soal apakah ia mencintai Baekhyun atau tidak, yang terpenting baginya sekarang adalah ia tidak melalaikan tanggung jawabnya terhadap Baekhyun sebagai istrinya.
"Menjauh dariku atau aku akan berteriak."
Chanyeol memberhentikan laju motornya ketika ia mendengar suara seorang wanita.
"Berteriak saja, disini tidak ada siapapun. Tidak akan ada yang menolongmu."
Chanyeol melepas helmnya pelan. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh tempat. Ia mendapati perempuan yang ia tolong minggu lalu tengah disudutkan oleh dua orang pria di dekat pohon. Chanyeol mengalihkan lagi tatapannya kearah baliho yang satu minggu lalu ia pasang disini. Kenapa perempuan itu datang lagi kemari?
"Jangan mendekat.. Hiks.. "
Chanyeol langsung turun dari motornya dan berjalan cepat menuju arah perempuan itu.
"YA!"
Ia berteriak lantang hingga mereka berbalik dan terkejut melihat Chanyeol.
"Lepaskan perempuan itu, jangan ganggu dia."
Kedua pria itu tampak berdecih pelan. "Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami."
"Hanya pria pengecut yang menyerang perempuan. Jika kalian berani, ayo hadapi aku."
"Brengsek! Berani sekali kau menantang kami. Kau pikir kau siapa?"
Kedua pria itu tampak murka dan langsung menerjang tubuh tinggi Chanyeol, untungnya pria bertelinga lebar itu dengan sigap menghindar. Chanyeol dengan cepat melayangkan tinjunya pada salah satu pria hingga pria itu tersungkur di aspal jalan.
BUGH
KRAKK
Terdengar bunyi retakan yang cukup nyaring yang berasal dari rahang pria tadi, perlu kalian ketahui, Chanyeol adalah seorang ahli tinju yang sering menjawarai kompetisi tinju yang diadakan dikampungnya. Itulah alasan kenapa rahang pria itu bisa langsung patah hanya dengan satu pukulan dari tangan kekarnya saja. Bukan hanya itu, Chanyeol juga merupakan pemegang sabuk hitam Taekwondo semenjak ia masih duduk di bangku SMP. Ia sangat menyukai berbagai jenis beladiri dan ia sangat pandai berkelahi. Adalah suatu kesalahan besar jika kedua pria tadi mengajak Chanyeol untuk berduel.
Melihat temannya tergeletak tak berdaya sambil meringis kesakitan membuat pria yang satunya lagi kalap, ia dengan cepat langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celananya.
"AWAS."
Chanyeol langsung berbalik ketika perempuan itu berteriak.
SYUTT
Chanyeol dengan sigap menghindar ketika pria itu hampir menyayat tubuhnya dengan pisau. Ia lantas langsung mematahkan pergelangan tangan pria itu hingga pisau ditangannya terjatuh. Setelahnya ia langsung memutar lengan pria itu hingga menyentuh belakang punggungnya.
KRAAKK
"ARRRGHH."
Terdengar suara patahan lagi yang membuat perempuan diseberang sana meringis ngilu.
BUGH
Chanyeol menendang tubuh pria itu hingga membentur tiang listrik.
"Bagaimana, apakah masih belum cukup?"
Kedua pria itu tampak gemetar ketakutan. Tanpa perlu menjawab pertanyaan Chanyeol, mereka langsung berlari pergi dengan terpincang-pincang sambil meringis menahan sakit.
Chanyeol berdecih remeh, ia paling benci dengan pria-pria banci yang hanya berani menyerang perempuan lemah.
Ia lantas berbalik dan berjalan pelan menghampiri perempuan berambut pendek yang ia tolong satu minggu yang lalu.
"Kau tidak apa-apa?"
Perempuan itu mengangguk. "Terimakasih, kau menyelamatkanku lagi."
"Apa yang kau lakukan disini? Sepertinya kau suka sekali keluar malam."
"T-tidak, bukan begitu. Aku tidak suka keluar malam." ia menggeleng cepat.
"Lalu?"
"A-aku kesini untuk mencarimu, sudah satu minggu aku sering mampir kesini dengan harapan aku bisa bertemu denganmu. Tapi sayangnya kau tidak pernah datang lagi kemari."
Chanyeol terdiam, lebih tepatnya ia mengernyitkan alisnya bingung. "Kau ingin bertemu denganku?"
Perempuan itu mengangguk polos.
"Kenapa? Ada urusan apa kau denganku?"
"Hanya ingin bertemu saja, apa tidak boleh?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya heran, hanya ingin bertemu saja dia bilang? Sungguh alasan yang konyol.
"Kau membahayakan nyawamu sendiri hanya karena ingin bertemu dengan ku? Aku tidak bekerja disini, waktu itu aku hanya diminta untuk memasang baliho. Setelahnya aku tidak punya urusan lagi untuk kembali kesini. Sebaiknya sekarang kau pulang, ini sudah larut."
Chanyeol langsung membalik tubuhnya, Chanyeol merasa perempuan ini sangat aneh. Bagaimana bisa ia datang kemari selama satu minggu penuh hanya untuk bertemu dengannya padahal mereka tidak saling mengenal.
"T-tunggu tuan Park Chanyeol."
Chanyeol langsung menghentikan langkahnya, ia berbalik dan memandang perempuan itu dengan bingung.
"Antarkan aku pulang, aku tidak bawa mobil. Handphone ku juga ketinggalan dirumah."
Chanyeol terdiam, kemudian ia menghela nafasnya pelan. "Yasudah, ayo aku antarkan."
.
.
.
Perempuan itu dengan berani memeluk tubuh kekar Chanyeol dari belakang, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah si perempuan. Sedari tadi ia sudah berusaha menahan diri untuk tidak memeluk tubuh pria tinggi dihadapannya, tapi ia tidak bisa. Tubuh Chanyeol yang sangat kekar dan bahunya yang lebar serta kokoh seolah sangat mengundang perempuan itu untuk memeluknya dari belakang. Wanita manapun pasti akan meneteskan air liurnya begitu melihat tubuh proporsional Chanyeol. Masih memakai baju saja sudah terlihat sangat sexy, bagaimana jika ia melepas bajunya? Mungkin perempuan berambut pendek ini akan langsung pingsan detik itu juga.
"Ya, lepaskan pelukanmu atau aku akan menurunkan mu di tengah jalan."
Perempuan itu sontak terkejut dan langsung melepas pelukannya. "Iya-iya aku minta maaf, galak sekali sih." ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dimana alamat rumahmu, kita sudah berkeliling lebih dari 5 kali. Aku harus segera pulang. Istriku sedang menungguku dirumah."
"Kau sudah menikah?" tanya perempuan itu yang tampak begitu terkejut.
"Tentu saja, umurku sudah 31 thn. Aku memang sudah seharusnya berkeluarga."
Perempuan itu tampak mengangguk singkat, meskipun sebenarnya ia masih sangat terkejut.
"Sekarang beritahukan alamat rumahmu, biar aku bisa segera mengantarmu pulang."
Perempuan itu menghela nafasnya pelan. "Aku tinggal di perumahan Seoul City World, komplek 8A nomor 124 distrik Gangnam Selatan."
Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya. Seoul City World? Astaga, itu adalah salah satu perumahan paling elit yang ada di Seoul.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana. Tapi sebelum itu aku harus mengunjungi suatu tempat dulu."
"Kemana?"
"Kau akan tau nanti."
BRUUUMMM
Chanyeol melajukan sepeda motornya menuju toko kecantikan yang waktu itu ia kunjungi. Setelah sampai disana ia justru mendengus kecewa karena tokonya sudah tutup. Wajar saja memang, sekarang jam sudah menunjukan pukul 00.00 tepat. Toko kecantikan mana yang masih buka jam segini?
"Beauty+? Untuk apa seorang pria seperti mu mengunjungi toko kecantikan seperti ini?"
"Aku ingin membeli sesuatu untuk istriku, sudahlah. Besok aku bisa datang lagi kemari."
"Oh untuk istrimu rupanya.. "
Chanyeol kembali memakai helmnya dan menjalankan kembali motornya menuju perumahan Seoul City World.
.
.
.
"Ayo masuklah.. "
"Kau yakin? Biar bagaimana pun aku ini orang asing."
"Ck, sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Dirumahku tidak ada siapapun. Aku punya sesuatu untukmu."
Chanyeol agak ragu, untuk apa ia masuk kedalam rumah perempuan ini? Chanyeol tidak pernah masuk ke rumah yang bahkan lebih luas dari lapangan golf.
"Ayo cepat masuk."
CKLEK
Perempuan itu membuka pintu rumahnya pelan, dan seketika beberapa pelayan langsung berlarian untuk menyambut majikan mereka. Mereka sedikit terkejut ketika melihat Chanyeol ikut berjalan dibelakang majikan mereka.
"Dia temanku, kalian tidak perlu khawatir."
Perempuan itu langsung berjalan keatas tangga dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di pojok ruangan lantai 2.
"Kau ingin aku masuk kedalam kamarmu?"
Perempuan itu mengangguk. "Iya, kenapa memangnya?"
"Apa kau gila? Aku tidak mungkin masuk kedalam kamar wanita."
Perempuan itu memutar bola matanya malas. "Aku juga tidak secara sembarangan memasukan pria asing kedalam kamarku. Sudahlah, hanya sebentar saja. Aku ingin memberikan sesuatu."
Chanyeol lantas terdiam, dengan ragu ia melangkahkan kakinya kedalam kamar bernuansa merah muda yang sangat luas dan megah ini.
Perempuan itu lantas berjalan menuju lemari besar di pojok ruangan dan membukanya.
Chanyeol sedikit terkejut melihat isi dari lemari itu. Lemari besar itu diisi oleh berbagai jenis alat kecantikan dari toko Beauty+ yang tadi ia kunjungi.
"Aku punya banyak alat-alat kecantikan disini, semuanya di import langsung dari luar negeri dan semua barang-barang ini juga di jual di toko Beauty+. Perlu kau ketahui tuan Park Chanyeol, aku adalah pelanggan tetap di toko kecantikan itu. Dan yang pasti semua barangnya masih baru. Kau bisa membawanya pulang jika kau mau."
"Benarkah?" Chanyeol tampak terkejut.
"Tentu saja, anggap saja ini sebagai balas jasa dariku."
Chanyeol tersenyum. "Baiklah kalau begitu, berapa semuanya? Biar aku bayar."
"Aku tidak memerlukan uang mu tuan Chanyeol, aku memberikannya secara gratis."
"Tapi sayangnya aku bukan orang yang suka diberi sesuatu secara cuma-cuma."
Chanyeol mengeluarkan amplop cokelat dari dalam saku celananya dan langsung menyimpannya di meja nakas milik perempuan itu.
"Ini, 5 juta won. Aku harap ini cukup."
Perempuan itu tampak tersenyum kecil, Chanyeol memang benar-benar pria yang unik.
"Aku bawa beberapa saja, aku tidak butuh semua."
Chanyeol mengambil beberapa barang yang sekiranya memang Baekhyun butuhkan dan memasukan semuanya kedalam sebuah kantung kecil.
"Terimakasih, kalau begitu aku permisi."
"Tunggu sebentar." perempuan itu langsung berseru ketika Chanyeol hendak berbalik pergi.
"Aku boleh minta nomor ponselmu?"
"Untuk apa?"
Perempuan itu tampak menggaruk tengkuknya pelan. "S-siapa tau saja nanti aku butuh seseorang untuk memasang baliho."
"Untuk apa kau memasang baliho?"
"Keluargaku punya banyak bisnis sampingan, mungkin saja suatu saat kami butuh baliho untuk mempromosikan bisnis kami."
Chanyeol terdiam sebentar, ia kemudian merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel miliknya.
"Ini nomorku, kau bisa menyimpannya."
Perempuan itu tampak bersorak senang. Ia mengambil ponsel milik Chanyeol dan memasukan nomor telepon pria tinggi itu kedalam ponselnya.
"Ini." Chanyeol menerima kembali ponsel miliknya.
"Perkenalkan, namaku Jung Soojung. Kau harus mengingat baik-baik namaku." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Chanyeol menerima uluran tangan itu dan berjabat tangan dengan pelan.
"Kalau begitu aku pergi, sekali lagi aku ucapkan terimakasih."
Soojung mengangguk. "Hati-hati di jalan, Chanyeol oppa."
Chanyeol sama sekali tidak menghiraukan ucapan Soojung, ia bahkan tidak sadar perempuan cantik itu baru saja memanggilnya oppa. Ia langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamar.
Diam-diam Soojung tersenyum, tersenyum dengan sangat senang. Bahkan ia sampai berjingkrak pelan saking senangnya.
.
.
.
Pukul 00.30 pagi Baekhyun dan Heechul masih duduk di ruang tengah keluarga dengan perasaan cemas. Kurang lebih selama 1 minggu belakangan ini mereka berdua terus diliputi rasa cemas karena Chanyeol yang sering pulang larut.
"Sebenarnya Chanyeol itu bekerja dimana Baekhyun ah? Kenapa ia jadi sering pulang larut begini? Eomma kadi khawatir."
Baekhyun menggeleng pelan. "Aku juga tidak tau eomma, yang aku tau Chanyeol sudah tidak bekerja lagi di jalan tol. Ia sudah mendapat pekerjaan baru. Tapi Chanyeol juga tidak pernah bercerita tentang pekerjaannya pada Baekkie."
Jujur Baekhyun agak sedikit kecewa karena Chanyeol tidak menceritakan secara detail tentang pekerjaan apa yang ia lakukan sekarang. Padahal Baekhyun sendiri tidak pernah mempermasalahkan soal pekerjaan apapun yang suaminya itu lakukan. Selama Chanyeol tidak menjadi seorang kriminal, Baekhyun akan tetap menerima dengan sepenuh hati.
CKLEK
Pintu rumah terbuka, Baekhyun dan Heechul pun sontak berdiri dan berjalan pelan menuju ruang depan. Chanyeol tampak sedikit terkejut ketika istri dan ibunya tiba-tiba muncul ketika ia baru membuka pintu.
"Eomma, Baekhyun ah, kenapa kalian belum tidur?"
"Kenapa kau baru pulang? Kau lembur lagi?"
Chanyeol mengangguk. "Iya, aku lembur lagi."
Baekhyun dan Heechul saling berpandangan untuk sejenak, bagaimana pun kerja lembur selama satu minggu penuh itu sangat tidak masuk akal. Apalagi Chanyeol itu hanya seorang pekerja kasar, bukan seorang pekerja kantoran.
"Yasudah, biar aku panaskan makanan lagi untukmu ya?"
"Tidak usah, aku mau mandi saja. Setelah itu aku mau langsung tidur."
Baekhyun mengangguk pelan, ia langsung berbalik dan berjalan pelan menuju dapur.
.
.
.
"Chanyeol.. "
Chanyeol yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk ditangannya langsung menoleh ketika Baekhyun memanggil namanya.
"Ada apa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?"
Baekhyun menarik nafasnya dalam.
"Belakangan ini kau sering sekali pulang larut, sebenarnya sekarang kau bekerja dimana Chanyeol ah? Aku tidak bermaksud untuk menghinamu, tapi agak aneh rasanya ketika seorang pekerja kasar seperti mu bekerja lembur selama satu minggu penuh."
Chanyeol terdiam. "Kau mencurigaiku?"
Baekhyun sontak menggeleng cepat. "Tidak Chanyeol, tentu tidak. Aku hanya merasa sedih."
"Sedih kenapa?"
Baekhyun mengusap airmatanya yang tiba-tiba saja keluar tanpa bisa ia tahan.
"Aku merasa menjadi istri yang tidak berguna. Aku malu ketika eomma bertanya dimana suamiku bekerja, aku malu karena aku bahkan tidak mengetahuinya. Aku malu karena aku tidak mengetahui apapun tentang suamiku. Aku malu karena suamiku tidak mau menceritakan apapun padaku. Aku malu karena aku bukan istri yang baik. Aku malu Chanyeol, aku minta maaf hiks."
Chanyeol tertegun, astaga. Apa yang sudah ia perbuat?
Ia lantas menarik tubuh mungil itu lembut hingga bersentuhan langsung dengan dada telanjang Chanyeol yang hangat. Ia usap rambut sang istri dengan lembut dan penuh perasaan.
"Maafkan aku, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku yang salah karena tidak berterus terang padamu. Kau mungkin bukan istri yang sempurna, tapi kau adalah istri yang baik untukku. Istri yang baik bukan hanya tentang mereka yang mengetahui segala sesuatu tentang suaminya. Tapi mereka yang selalu setia berada disamping suaminya adalah istri yang terbaik, dan kau melakukan itu Baek. Kau selalu ada ketika aku lelah, kau selalu ada ketika aku membutuhkanmu. Bahkan kau tidak pergi meskipun kau tau suamimu ini hanya seorang pria miskin yang tidak punya apa-apa, kau selalu setia berada disampingku dalam kondisi apapun dan itu sudah lebih dari cukup untukku. Jangan pernah merasa kau bukan istri yang baik untukku. Karena memilikimu dalam hidupku adalah sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kita menikah memang bukan atas dasar cinta, tapi aku yakin dan percaya jika Tuhan pasti punya alasan kenapa kita dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan."
Baekhyun masih menangis, airmatanya bahkan sampai membasahi dada bidang Chanyeol. Chanyeol lantas menangkup wajah Baekhyun dengan tangannya dan mengusap jejak airmata di wajah cantik istrinya.
"Hapus airmatamu, kau jelek jika terus menangis."
Baekhyun mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, Chanyeol kemudian berjalan kearah meja nakas dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Ia menyerahkan bungkusan ditangannya pada Baekhyun dan langsung diterima Baekhyun dengan alis yang sedikit bertaut. Ia membuka bungkusan itu dan sontak saja dirinya langsung tertegun.
"Ini.. "
"Aku bekerja sebagai kuli bangunan disebuah proyek pembangunan restoran baru, dan selama seminggu ini aku mencari pekerjaan tambahan agar aku bisa membeli barang-barang itu untukmu. Aku mengantar beras keluar kota, memasang baliho, memperbaiki gardu listrik hingga memperbaiki mesin pompa air. Aku bekerja sampai larut malam dan uang yang aku dapatkan aku gunakan untuk membeli semua itu."
Baekhyun sontak menangis lagi, kali ini bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Ia sampai menutup mulutnya sendiri. Dadanya bahkan terasa sangat sesak mendengar semua penuturan Chanyeol.
"K-kenapa kau melakukan ini Chanyeol ah.. Hiks.. Kau tidak perlu sampai melakukan ini. Aku bukan orang yang kau cintai hingga kau sampai harus melakukan ini."
"Ini bukan tentang aku mencintaimu atau tidak, tapi ini tentang bagaimana tanggung jawabku sebagai seorang suami. Aku berkewajiban memenuhi nafkah lahir dan batinmu sebagai istriku. Kau tau Baek? Hatiku sangat sakit ketika melihat kotak bedak istriku habis, rasanya seperti orang bodoh ketika aku tidak bisa memenuhi kebutuhan istriku sendiri."
Baekhyun lantas memeluk tubuh suaminya itu erat, sambil menangis ia ciumi dada bidang suaminya itu dengan perasaan terharu luar biasa.
"Terimakasih Chanyeol hiks, terimakasih. Kau adalah orang pertama selain aboeji yang rela melakukan apapun untukku. Terimakasih hiks, sekali lagi terimakasih."
Chanyeol tersenyum kecil, ia balas memeluk tubuh kecil istrinya dengan lembut. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Hanya sebuah pelukan hangat nan protektif yang ia berikan sebagai pertanda bahwa ia begitu ingin melindungi pria kecil ini, ia hanya ingin menunjukan bahwa keberadaan pria kecil ini sudah cukup berarti untuknya. Tidak peduli soal perasaan cinta atau tidak. Yang pasti, Chanyeol sudah mulai merasa nyaman dengan keberadaan pria kecil ini di sekelilingnya.
Diluar, Heechul tak mampu menahan airmatanya untuk keluar. Sedari tadi ia mengintip dua sejoli itu dari balik pintu yang sedikit terbuka. Heechul tersenyum di dalam tangisnya, Chanyeol putranya adalah seorang pria dewasa. Ia sudah mengerti akan tanggung jawabnya yang baru, ia juga sudah bisa merubah sedikit demi sedikit sifat jelek Baekhyun menjadi lebih baik. Di surga sana mendiang ayahnya pasti sedang tersenyum bangga melihat putranya kini telah menjelma menjadi sosok pria yang dewasa dan bertanggung jawab.
"Hankyung ah, bukankah mereka sangat lucu? Mereka sudah saling mencintai. Tapi sayangnya mereka masih terlalu polos, bahkan hanya untuk sekedar menyadari perasaan mereka masing-masing."
.
.
.
Hari minggu, setelah olahraga pagi dan pergi ke gereja, Baekhyun duduk bersama ibu mertuanya di kursi dapur. Chanyeol tidak dirumah karena ia langsung pergi lagi untuk melakukan kerja bakti bersama para pemuda kampung lainnya.
"Minum ini Baek, ini ramuan turun temurun dari keluarga eomma."
Baekhyun menatap secangkir minuman berwarna agak kecoklatan itu dengan alis sedikit mengernyit. "Apa ini eomma?"
"Ini biji ketumbar, daun seledri, sedikit lengkuas dan sebutir buah mengkudu yang sudah dihaluskan."
Baekhyun mengernyit jijik. "Mengkudu?"
"Iya, keluarga eomma percaya ramuan semacam ini bisa membuat lubangmu lebih rapat, kesat dan jugahangat."
"Lubang? Lubang apa eomma?" tanya Baekhyun tidak mengerti.
"Tentu saja lubangmu, lubang yang Chanyeol terobos sampai berdarah-darah."
BLUSSH
Baekhyun langsung merona parah mendengarnya. Astaga, eomma nya ini benar-benar.
"Kenapa Baekkie harus minum itu eomma?"
"Tentu saja harus, dengar ya sayang. Keharmonisan rumah tangga suami-istri itu tergantung dari seberapa ketat sarang dari burung para suami. Jika lubangnya saja sudah tidak nyaman, otomatis burung mana pun akan mencari sarang yang baru."
"Apa? Pemikiran konyol macam apa itu eomma?"
"Itu bukan pemikiran konyol, eomma sudah jauh lebih berpengalaman darimu. Jelas saja eomma tau kebiasaan para lelaki, mereka sangat rentan terhadap godaan para betina diluar sana. Jadi, kita harus menjaga burung kita dengan baik dengan cara merawat sarang yang kita punya dengan baik pula."
Baekhyun sweatdrop, ia tidak menyangka ibunya punya pemikiran sampai sejauh ini. "Tidak perlu sepert itu eomma, Baekkie tau Chanyeol itu pria yang setia. Ia tidak mungkin mengkhianati Baekkie."
"Tetap saja kau harus sedia payung sebelum hujan, sebaik apapun Chanyeol dia tetaplah seorang laki-laki. Apalagi sampai sekarang Chanyeol masih memiliki perasaan lebih pada Irene, apa kau tidak merasabkhawatir?"
Baekhyun sontak terdiam, ia lupa jika suaminya itu masih mengharapkan wanita lain.
"Biar bagaimana pun kau ini sudah bukan seorang perawan lagi Baekhyun ah. Jika kau tidak menjaga lubangmu dengan baik, kau harus bersiap jika suatu waktu nanti suamimu itu mencari sarang baru yang lebih nyaman."
Baekhyun jadi membayangkan jika suatu saat nanti Chanyeol dan Irene berhubungan badan di depan matanya sendiri. Ah tidak-tidak, Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak mau jika itu sampai terjadi dan ia tidak akan pernah rela jika itu sampai terjadi.
"Berikan ramuan itu pada Baekkie eomma."
Heechul memberikan minuman itu sambil tersenyum antusias.
Sambil menghela nafasnya panjang, Baekhyun mencoba meminum ramuan itu sampai habis.
"Bagaimana?"
Baekhyun terdiam setelahnya, rasanya benar-benar tidak enak. Perutnya bahkan seperti diaduk-aduk.
"Huweeekk.. Uhukk.. Uhukk.. Huweeekk."
Heechul terkejut begitu Baekhyun langsung berlari kearah kamar mandi.
"Baekhyun ah, kau baik-baik saja?"
"Huweekk.. Huweekk.. Hiks.. Eomma perut Baekkie mual huweeee."
.
.
.
Setelah selesai melakukan kerja bakti rutin setiap hari minggu, Chanyeol langsung mandi lagi dan duduk di kursi meja makan. Ia menatap Baekhyun yang tengah sibuk berkutat dengan masakannya di dapur.
"Apa eomma yakin? Memangnya Baekhyun bisa memasak?" tanya Chanyeol pada ibunya yang tengah duduk santai dihadapannya.
"Percaya saja pada Baekhyun, selama ini dia sudah berusaha keras untuk belajar memasak. Siapa tau saja makanannya kali ini enak."
Chanyeol menatap istrinya itu sekali lagi, ia lantas berjalan pelan menuju dapur.
"Baek.. "
Baekhyun menoleh ketika suaminya menyentuh pundaknya lembut.
"Chanyeol, kenapa kau kesini?"
"Kau yakin bisa melakukannya? Tidak perlu memaksakan diri jika kau memang masih belum bisa."
"Tidak apa-apa Chanyeol, aku bisa. Aku sudah belajar masak. Aku yakin aku bisa memasak sesuatu yang enak hari ini." ucapnya sambil memotong-motong sayuran.
"Awww.. "
Chanyeol sedikit terkejut ketika Baekhyun meringis karena jari telunjuknya tanpa sengaja teriris pisau.
Chanyeol refleks menyentuh jari telunjuk Baekhyun dan menghisap darah yang keluar langsung dari mulutnya.
Baekhyun sontak saja terkejut, ia langsung mematung melihat apa yang Chanyeol lakukan.
"Sebaiknya biar aku saja yang memasak, kau duduk saja bersama eomma di depan."
Baekhyun menggeleng lagi. "Tidak Chanyeol, aku akan buktikan kalau aku sudah bisa memasak sekarang."
Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Yasudah, tapi kau hati-hati ya. Aku tunggu di depan."
Baekhyun mengangguk sambil tersenyum lucu.
.
.
.
Sayur bayam, telur ayam balado dan sayur tahu kuah asam sudah tersedia diatas meja makan. Heechul tampak sangat antusias dengan masakan menantu kesayangannya itu.
"Tunggu apalagi, ayo kita makan sekarang. Eomma sudah sangat lapar."
Baekhyun dengan sigap mengambilkan makanan untuk Chanyeol. Chanyeol tersenyum kecil melihatnya. "Terimakasih."
"Sama-sama." jawab Baekhyun malu-malu.
Heechul mencoba mencicipi kuah sayur bayam buatan Baekhyun dan seketika itu juga senyuman di wajahnya pun langsung lenyap tergantikan dengan kedua alisnya yang bertaut.
Chanyeol juga mulai menyendokan nasi yang sudah dicampur sayur tahu yang disiapkan Baekhyun untuknya. Ketika nasi itu baru menyentuh lidahnya, alis Chanyeol pun langsung ikut mengernyit.
Melihat reaksi ibu dan suaminya yang seperti itu Baekhyun pun lantas ikut penasaran dan mulai mencicipi makanan buatannya sendiri. Wajahnya langsung berkerut ketika ia mencoba sayur bayam buatannya.
"Asin sekali."
Ia lantas mencoba sayur tahu dan telur buatannya juga. Lagi-lagi alisnya mengernyit karena rasanya benar-benar tidak enak. Ini bahkan tidak layak disebut sebagai makanan.
Chanyeol dan Heechul terdiam dan saling bertatapan sejenak.
"Hiks.. Ini tidak enak, Baekkie benar-benar tidak berguna." Baekhyun tidak mampu menahan airmatanya lagi.
Chanyeol menatap istrinya itu dengan pandangan yang sulit di artikan. "Siapa bilang tidak enak? Aku suka makanan ini."
Heechul tentu saja terkejut dengan perkataan Chanyeol, ia tidak bermaksud menghina menantunya. Tapi jujur saja, masakan Baekhyun benar-benar parah.
"C-Chanyeol.. " Baekhyun tampak tergagap.
Pria tinggi itu lantas menyendok kembali sayur bayam, tahu dan telur ayam yang sudah disiapkan Baekhyun. Ia campur dengan nasi dan langsung memakannya dengan lahap.
Heechul bahkan sampai menutup mulutnya melihat apa yang Chanyeol lakukan.
Baekhyun semakin menundukan kepalanya melihat itu dan ia menangis dalam diam. Ia benar-benar merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak berguna.
.
.
.
Pukul 13.30 siang, Chanyeol duduk diruang tengah sambil menonton acara pertandingan sepak bola kesukaannya. Satu kakinya ia tekuk diatas kursi dan kaki yang satunya lagi ia biarkan menjuntai ke bawah lantai. Sambil bertelanjang dada dan hanya menggunakam celana kolor pendek diatas lutut, Chanyeol asik menghisap rokoknya sambil terus fokus menonton televisi.
"Chanyeol.. "
Chanyeol menoleh sekilas ketika Baekhyun muncul dan langsung duduk disampingnya. Ia hembuskan asap rokoknya pelan lalu kemudian ia kembali fokus menonton bola.
"Aku membawakan singkong rebus dan kopi hitam untukmu."
Chanyeol melirik sepiring singkong rebus yang masih hangat dan segelas kopi hitam yang juga masih mengepulkan asap.
"Kau yang membuat singkong itu?"
"Bukan, eomma yang membuatnya."
Chanyeol mengangguk pelan, ia mengambil sepotong singkong rebus itu dan memakannya.
"Dimana eomma?"
"Eomma baru saja pergi, dia bilang ada arisan ibu-ibu kampung sore ini."
"Oh.. " Chanyeol hanya bergumam singkat, ia masih terlalu fokus pada acara bola yang ditontonnya.
Baekhyun menunduk dan menghela nafasnya dalam. Ia memainkan kedua ibu jarinya sambil menggigit bibir bawahnya pelan.
"Chanyeol.. "
"Hmm.. "
"Aku minta maaf soal tadi, aku tau makanannya tidak enak. Harusnya kau tidak memakannya. Aku tidak suka jika kau memaksakan diri seperti itu."
Chanyeol refleks menoleh. "Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa makanannya tidak enak, kau kan masih belajar."
"Aku lebih suka jika kau memarahiku seperti saat aku baru pertama kali datang kesini. Kau akan langsung marah jika aku berbuat kesalahan. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada kau membenarkan setiap perbuatanku."
"Aku tidak membenarkan perbuatanmu. Ini bukan soal marah atau tidak, ini tentang bagaimana untuk menghargai perbuatan orang lain. Makanan mu memang tidak enak, tapi setidaknya kau mau berusaha untuk membuat makanan yang enak. Itu jauh lebih baik daripada kau tidak mau berusaha sama sekali. Aku tidak akan marah jika kau tidak bisa membuat makanan yang enak, tapi aku akan marah jika kau tidak mau berusaha membuat makanan yang enak. Begitu juga dengan pekerjaan yang lain, aku tidak akan marah jika kau tidak bisa mencuci ataupun membersihkan rumah. Tapi aku akan marah jika kau tidak mau berusaha mencuci atau membersihkan rumah dengan baik. Kau mengerti maksudku?"
Baekhyun terdiam mendegarnya, beberapa detik kemudian ia langsung mengangguk sambil tersenyum lembut. "Ne, aku mengerti."
Pria kecil itu lantas dengan berani memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami. Chanyeol pun nampaknya tidak merasa begitu terkejut dengan perbuatan Baekhyun, ia malah melingkarkan satu tangan kekarnya untuk memeluk tubuh Baekhyun. Ia kembali fokus pada pertandingan sepak bola yang ia tonton sambil terus menyesap rokok.
Baekhyun tidak mengerti apa yang Chanyeol tonton, ia tidak suka bola dan sama sekali tidak tertarik pada permainan olahraga favorit para pria itu. Ia lantas mengambil ponsel berwarna pink disaku celananya untuk menghilangkan bosan dan mulai berselancar di internet. Ia iseng mencari sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga di situs Naver dan ada satu artikel yang membuatnya cukup tertarik.
'Gambaran mengenai rumah tangga ideal.'
KLIK
Baekhyun membuka artikel itu dan membacanya dengan seksama.
"Chanyeol, jika kita punya anak nanti, kau mau punya anak berapa? Disini ditulis jika kita hanya boleh punya dua anak jika ingin punya keluarga yang ideal."
"Artikel bodoh macam apa itu? Keluarga ideal dan bahagia tidak harus diukur dengan hanya punya dua anak saja, aku ingin punya sebelas anak. Agar aku bisa membuat kesebelasan sepak bola."
Baekhyun mendelik, ia menatap Chanyeol dengan ekspresi kesal. "Kau pikir aku ini tikus? Mana bisa aku melahirkan anak sebanyak itu."
"Kenapa tidak? Itu bisa saja terjadi jika aku terus menanamkan benihku di dalam tubuhmu. Aku tidak perlu memikirkan apapun karena tugasku hanya menyuntikmu saja. Sisanya, kau yang akan mengandung selama 9 bulan dan melahirkan mereka semua."
Baekhyun mencubit perut berotot Chanyeol dengan kesal, Chanyeol meringis namun ia tertawa pada akhirnya.
"Kalau begitu, kau saja yang hamil."
Chanyeol tertawa lagi. "Aku bercanda Baek, aku tidak terlalu memikirkan soal itu. Berapapun anak yang Tuhan berikan untuk kita aku akan menerimanya. Yang terpenting bukan berapa anak yang akan kita punya, tapi bagaimana kita merawat dan mendidik mereka nanti. Menjadi ayah dan ibu itu mudah Baek, tapi menjadi Orangtua itu sulit."
Baekhyun mengangguk setuju, menjadi ibu dan ayah itu memang mudah. Kalian hanya perlu memiliki anak maka kalian akan langsung disebut sebagai ayah dan ibu. Tapi kalian tidak bisa disebut sebagai orangtua jika kalian hanya memiliki anak. Ada sebuah tanggung jawab besar jika kalian ingin disebut sebagai orangtua.
Chanyeol kembali menghisap rokoknya, atensinya tanpa sengaja menatap paha Baekhyun yang terekspose bebas di depan matanya. Ia baru sadar jika Baekhyun daritadi hanya menggunakan celana hotpans super pendek diatas paha. Tenggorokan Chanyeol mendadak terasa kering melihatnya.
"Baek, apa kau tidak punya celana lain?"
Baekhyun terdiam sejenak. "Aku biasanya memang suka pakai hotpants begini jika dirumah aboeji. Rasanya lebih nyaman dan tidak panas."
"Jika ingin keluar rumah jangan pakai pakaian seperti ini ya, aku takut terjadi sesuatu padamu."
Baekhyun mengangguk. "Iya Chanyeol, aku mengerti."
Chanyeol kemudian melirik sekitar rumahnya, hanya ada mereka berdua disini. Tidak ada eomma dan suasananya sangat sepi. Ia lantas menyimpan rokok terakhirnya dan satu tangannya bergerak nakal untuk mengelus paha mulus Baekhyun.
Baekhyun terkejut tentu saja, ia refleks mendongak keatas dan mendapati suaminya itu masih fokus menonton acara pertandingan bola. Chanyeol seperti nya segaja, tangannya terus bergerak nakal mengelus dan mengusap paha Baekhyun semakin dalam.
Baekhyun rasanya ingin mendesah saja, tapi ia berusaha menahannya. Sensasi ketika telapak tangan Chanyeol yang kasar menyentuh permukaan kulit pahanya yang halus dan lembut benar-benar terasa luar biasa. Sekujur tubuhnya merinding dan gemetaran hebat.
Chanyeol semakin berani menyentuh, mengelus dan meremas paha Baekhyun semakin kedalam hingga tangannya berhenti pada gundukan kecil ditengah selangkangan Baekhyun, tangannya dengan berani meremas kemaluan Baekhyun dari balik hotpans yang ia kenakan dengan keras. Baekhyun tidak memakai celana dalam, oleh karena itu rangsangan yang Chanyeol berikan langsung terasa nyata.
"Ahhh.. " Runtuh sudah pertahanannya, Baekhyun akhirnya mendesah.
Chanyeol lantas menarik istrinya itu agar mendongak dan menatap matanya langsung. Ketika mata mereka bertemu, Chanyeol menghembuskan asap rokok dari hidungnya dan Baekhyun refleks menutup kedua bola matanya.
Chanyeol mendekatkan mulutnya pada telinga sebelah kanan Baekhyun dan berbisik dengan suara beratnya yang membuat Baekhyun merinding hebat.
"Eomma sedang tidak ada dirumah, kita bisa menghabiskan waktu untuk membuat anak. Kau mau?"
Baekhyun mengangguk pasrah, suara Chanyeol yang berat dan seksi itu saja sudah membuat tubuhnya lemah.
Chanyeol langsung mencium bibir Baekhyun dengan lembut yang langsung dibalas ciuman juga oleh Baekhyun.
Keduanya saling menutup mata rapat, Chanyeol memiringkan kepalanya ke kiri dan Baekhyun memiringkan kepalanya ke kanan.
Baekhyun melingkarkan kedua tangannya dibelakang kepala Chanyeol dan Chanyeol memeluk tubuh kecil itu. ia baringkan tubuh kecil itu dengan hati-hati. ia lantas langsung menindih tubuh istrinya itu diatas sofa ruang tengah.
"Cppkkmmhh.. Mmphh.. Cppkhhm.. "
Suara kecipak bibir yang saling beradu itu bahkan mengalahkan nyaringnya suara para suporter sepak bola di televisi.
Mereka berdua tampak begitu terbuai dengan kenikmatan bibir masing-masing. Kumis tipis Chanyeol langsung menusuk permukaan atas bibir Baekhyun. jujur saja sensasinya begitu membuat Baekhyun gila.
Baekhyun memukul dada Chanyeol pelan, ia sudah kehabisan nafas karena Chanyeol terus menghisap bibirnya kuat.
Chanyeol melepas pagutan bibir mereka dan menatap Baekhyun dengan tatapan seduktif. Ia usap lelehan liur disudut bibir Baekhyun dan kembali melumat bibir itu dengan penuh nafsu.
Ia hisap dan gigit bibir Baekhyun dengan pelan.
"Ahhhh.. "
Ketika Baekhyun mulai membuka mulutnya, Chanyeol langsung memasukan lidahnya untuk mengabsen seluruh isi mulut Baekhyun. Lidahnya mengajak lidah Baekhyun untuk berperang dan Baekhyun pun berusaha untuk bergelut dengan lidah Chanyeol yang lihai seperti belut. Tapi tetap saja, sekuat apapun ia berusaha ia tetap tidak mampu melawan dominasi seorang Park Chanyeol.
"Ahh.. "
Akhirnya hanya desahan-desahan pasrah saja yang keluar dari mulut kecilnya.
Baekhyun menjambak rambut Chanyeol dengan cukup kencang untuk menyalurkan sensasi kenikmatan yang ia rasakan.
Slurrrp.
Chanyeol menghisap lidah Baekhyun dengan kencang, setelah itu ia hisap juga bibir atas dan bawah Baekhyun secara bergantian.
Baekhyun menatap sayu suaminya ketika pria itu sudah merasa puas dengan bibirnya. Chanyeol tersenyum kecil ketika melihat bibir Baekhyun yang bengkak karena hasil perbuatannya.
"Kita pindah ke kamar, aku khawatir eomma tiba-tiba saja pulang."
Baekhyun mengangguk pasrah, ia melingkarkan kedua tangannya dibelakang leher Chanyeol dan pria tinggi itu mengangkat tubuh Baekhyun ala bridal style.
.
.
.
Mereka berdua sudah sama-sama telanjang bulat. Chanyeol berbaring diatas kasur kamar dengan kejantanan yang sudah mengacung tegak. ia memejamkan matanya erat ketika Baekhyun mengulum kejantanannya dengan telaten.
Baekhyun mengulum batang kelelakian Chanyeol dengan mulut kecilnya, ukuran penis Chanyeol terlalu besar untuk mulutnya yang kecil. Alhasil, hanya setengah dari batang kejantanannya saja yang masuk kedalam mulutnya.
Ia menggerakan kepalanya naik turun sambil terus menghisap dan menjilati batang kelelakianbmilik Chanyeol. Chanyeol sendiri tampak begitu menikmati mulut hangat Baekhyun ketika mengulum kejantanannya.
Lidah Baekhyun bergerak dari pangkal batang penis Chanyeol hingga ke pucuk kepala penis Chanyeol. Terkadang lidahnya juga ikut memutar layaknya ular yang melilit mangsanya.
Baekhyun mencoba beralih pada dua bola zakar suaminya. Ia hisap kedua bola itu secara bergantian sambil terus mengocok batangnya dengan tangan kanannya.
Chanyeol semakin memejamkan matanya erat karena itu, tampaknya Baekhyun semakin mahir saja melakukan oral seks.
Baekhyun melepas kulumannya pada kejantanan Chanyeol, ia langsung berdiri dan duduk diatas tubuh suaminya.
Chanyeol tersenyum kecil ketika melihat tubuh Baekhyun yang sedikit berkeringat terpampang sangat nyata dihadapan matanya sekarang. Tubuh Baekhyun itu cukup kecil, pinggangnya ramping dan perutnya sangat rata. Dadanya lumayan berisi dengan dua puting mengacung berwarna merah muda. Kulitnya putih mulus dan bersih seperti susu dan pantatnya juga bulat dan kenyal.
Baekhyun merona malu ditatap sedemikian rupa oleh suaminya itu. "K-kenapa kau menatapku seperti itu Chanyeol ah?"
Chanyeol terkekeh. "Ani, hanya saja tubuhmu indah sekali Baekhyun ah. Jika seperti ini hasilnya, aku rela bekerja siang malam untuk membelikan banyak alat kecantikan mahal untukmu."
Baekhyun tersenyum malu-malu, entah kenapa ia begitu senang dipuji seperti itu oleh Chanyeol.
"K-kau mau aku masukan sekarang?"
"Terserah kau saja Baek, aku milikmu."
Baekhyun mengangguk pelan, ia lantas mengocok kejantanan Chanyeol pelan dan berusaha memasukan benda itu kedalam lubang kecilnya.
"Ssshh.. "
Baekhyun meringis pelan ketika kejantanan suaminya mulai menerobos masuk kedalam tubuhnya.
Chanyeol refleks memegang pinggang Baekhyun agar istrinya itu tidak terjatuh. "Rileks Baekhyun ah."
Baekhyun mengangguk mengerti, rasanya cukup perih ketika ia mencoba posisi uke on top seperti ini.
JLEB
"Ahhhh.. "
Kejantanan Chanyeol tertanam sempurna di dalam lubang Baekhyun. Pria cantik itu terdiam selama beberapa detik untuk menyesuaikan diri. Baru setelahnya ia bergerak maju mundur diatas selangkangan Chanyeol.
"Ahhh Chanyeollhh.. " posisi seperti ini benar-benar membuat prostat Baekhyun langsung tertumbuk oleh kejantanan Chanyeol. Rasanya sangat memabukan, tubuhnya seperti tersengat secara berulang-ulang.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar pria itu menunduk dan ia bisa langsung melumat bibirnya pelan. Ia gerakan pinggulnya dari bawah keatas agar penisnya semakin dalam menyentuh prostat Baekhyun.
"Mmphhtthh.. Ahhmmphh.. Channmphht.. "
Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat, ia semakin mempercepat gerakannya menghujam lubang Baekhyun.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Chanyeollhh ahhhh.. "
Baekhyun memejamkan matanya erat, sensasi ketika kejantanan Chanyeol menyentuh prostatnya benar-benar membuat Baekhyun gila. Ia seperti diterbangkan ke langit ke tujuh.
Baekhyun mengangkat wajahnya, ia menatap wajah Chanyeol yang sudah mulai dibanjiri oleh keringat. Ia usap keringat itu dengan tangannya dan Dengan berani ia mencium bibir tebal sang suami dengan lembut. Keduanya menutup mata mereka lagi dan saling melumat bibir masing-masing.
Setelah itu, Baekhyun menegakan tubuhnya. Ia juga ikut menggerakan tubuhnya berlawanan arah dengan gerakan Chanyeol.
PLOL PLOK PLOK PLOK
Suara kulit yang saling beradu itu terdengar sangat eksotis dan menggairahkan di kamar berukuran sedang ini.
Chanyeol merubah posisi menjadi terduduk, ia terus menghujam lubang Baekhyun dengan kencang. Ia peluk tubuh Baekhyun dengan erat dan ia kembali melumat bibir Baekhyun dengan penuh nafsu.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol sengaja meremas pantat Baekhyun dengan kencang, dan hal itu sukses membuat Baekhyun mendesah tertahan dalam ciumannya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol menghisap dan melumat bibir Baekhyun dengan kencang, ia juga menjulurkan lidahnya untuk bertarung lidah.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Chanyeollhh.. A-akuhh.. Aaaaahh."
CROTT
Baekhyun ejakulasi untuk yang pertama, seluruh cairannya keluar membasahi perut sang suami.
"Kau menyukainya?" tanya Chanyeol berbisik seduktif di telinga Baekhyun.
Baekhyun hanya mengangguk pelan, ia sandarkan kepalanya pada bahu tegap sang suami. Tenaganya seperti sudah terkuras habis.
"Sekarang menungginglah, kita coba posisi doggy style."
Baekhyun mengangguk lagi. Ia langsung memposisikan dirinya untuk menungging dihadapan Chanyeol. Chanyeol lantas meremas kedua bongkahan pantat kenyal sang istri.
PLAK PLAK PLAK
"Aaaahh.."
Chanyeol dengan sengaja memukul pantat Baekhyun hingga memerah, Baekhyun lantas meringis antara perih dan juga nikmat.
Chanyeol melebarkan belahan pantat sang istri dan ia langsung memasukan 3 jari kanannya kedalam lubang rektum Baekhyun.
"Sshhh.. Hhhhh.. " Baekhyun meringis lagi, Chanyeol menggerakan ketiga jarinya maju mundur dan juga melebarkan ketiga jarinya di dalam sana.
"Ahhh.. "
Chanyeol menarik ketiga jarinya ketika dirasa sudah cukup. Ia kemudian mengocok kejantanannya pelan dan bersiap kembali memasuki lubang hangat nan ketat milik sang istri.
Chanyeol memukul-mukulkan penisnya sebentar diantara belahan pantat Baekhyun sebelum ia memasukan penisnya kedalam lubang favoritnya.
JLEB
"AAAAHHH."
Baekhyun mendesah keras, ia melengkungkan tubuhnya keatas ketika sekali lagi kejantanan sang suami berhasil menyentuh prostatnya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Aaahhh.. Ouhhhh.. Hmmpphh.. Chanyeolhh.. "
Chanyeol menundukan tubuhnya, ia remas kedua dada Baekhyun dengan gemas sambil masih terus menghujam lubang Baekhyun dengan kencang. Ia menjilat dan menciumi cuping telinga Baekhyun dengan seduktif.
"Chanyeollhh.. "
Chanyeol memejamkan matanya erat, sensasi ketika penisnya bergesekan langsung dengan dinding rektum sang istri benar-benar sangat nikmat.
Ia menciumi punggung mulus sang istri hingga banyak meninggalkan bekas kemerahan disana.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Tanpa melepaskan penyatuan tubuh mereka, Chanyeol merubah posisi menjadi terduduk dan Baekhyun yang membelakanginya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol terus menghujam lubang Baekhyun dengan kasar dan cepat, ia sama sekali tidak memberikan Baekhyun waktu jeda sedikitpun untuk bernafas. Ia tolehkan kepala Baekhyun kebelakang dan kembali ia ajak sang istri untuk berciuman panas.
"Ckkpmmhh.. Mmpphh.. Ckkmphh.. "
PLOK PLOK PLOK PLOK
Bunyi kecipak saliva dan suara kulit yang beradu itu saling bersahutan memenuhi ruangan kamar yang menjadi saksi bisu penyatuan tubuh mereka. Tangan Chanyeol ikut bergerak mengocok kemaluan sang istri sampai menegang sempurna.
"Mmmpphh.. Aahhh Chanyeollhh.. "
Baekhyun melepas ciuman mereka, prostatnya ditumbuk dengan sangat keras dan kemaluannya dikocok dengan tak kalah cepat pula. Baekhyun benar-benar dibuat melayang oleh perbuatan Chanyeol.
"Channhhh.. Ahhh.. Akuhhh.. "
CROTTT
Baekhyun ejakulasi lagi untuk yang kedua kalinya, tubuhnya langsung limbung dan menyandar lemah di dada bidang sang suami.
"Cppknmh.. Mppmhh.. Cppmkhh.. "
Mereka kembali berciuman dengan panas dengan posisi Baekhyun masih membelakangi Chanyeol.
"Berbaringlah Baek."
Dengan tubuh yang lemas luar biasa, Baekhyun langsung melepas penyatuan tubuh mereka dan langsung berbaring diatas kasur, ia lebarkan kedua kakinya dengan pasrah.
JLEB
Chanyeol langsung kembali menancapkan batang kelelakian miliknya kedalam lubang Baekhyun.
"Ahhhhh/ooohhh." Keduanya mendesah nikmat.
Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan sambil menciumi wajah mungil Baekhyun. dimulai dari kening, mata, hidung dan turun kebibir.
Chanyeol kembali mengajak perang lidah yang disambut dengan lemah oleh Baekhyun.
"Ckkphh.. Ckkmph.. Cpppkkhhm.. "
Baekhyun mengalungkan tangannya ke pundak Chanyeol dan sesekali meremas rambut Chanyeol dengan gemas.
"Cppkh.. Ckkpmmh.. ahhhh.. "
Ciuman mereka terlepas dan Chanyeol turun menciumi dagu dan leher Baekhyun.
"Aaaahhh... "
Chanyeol mencium dan menghisap leher Baekhyun dengan kuat dari arah kiri ke kanan dan begitu seterusnya.
"Ahhh... "
Chanyeol menggigit dan meninggalkan banyak kissmark berwarna kemerahan di leher putih Baekhyun.
Setelah puas dengan leher Baekhyun, Chanyeol melanjutkan cumbuan nya kearea dada. Dimulai dari pundak dan berhenti di kedua nipple Baekhyun.
"Chanyeollhh.. ahh.."
Baekhyun menggeliat resah dibawah kungkungan tubuh Chanyeol, kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri menikmati rangsangan yang diberikan Chanyeol di dada dan bagian bawah tubuhnya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Pinggul Chanyeol masih terus bergerak maju mundur dengan tempo yang pelan.
"Kauhh nikmatthh sekalihh Baekhyun ahh.."
Chanyeol menghisap nipple sebelah kanan Baekhyun dengan penuh nafsu, sedangkan nipple yang sebelah kiri ia pelintir dengan tangan, terkadang ia menjepit nipple itu dengan jari telunjuk dan jempolnya juga.
"Ahhhhhh... "
Baekhyun membusungkan dadanya keatas dan menekan kepala Chanyeol semakin dalam.
PLOP
Chanyeol melepas pagutannya pada nipple sebelah kanan dan beralih dengan nipple sebelah kiri.
"Slurrp.. Plop... ahhh."
Dada Baekhyun yang tadinya putih bersih sekarang penuh dengan tanda kissmark berwarna kemerahan.
Chanyeol menegakan tubuhnya dan mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang lebih cepat.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Aaahhh.. Aaahh.. Ougghh.."
Baekhyun mendesah tak karuan dengan tubuhnya yang terhentak-hentak kencang, semakin lama sodokan Chanyeol semakin terasa cepat.
Chanyeol terus menggenjot dengan tempo yang sangat cepat. Tangannya tidak tinggal diam, kedua tangannya bergerak dan meremas dada berisi Baekhyun dengan kencang. Bibirnya pun bergerak melumat bibir Baekhyun dengan rakus.
"Ckkphh.. Mpmpph.. Ckmphh.. Slrupp.."
Baekhyun meremas rambut Chanyeol dengan kencang untuk menyalurkan kenikmatan yang ia rasakan.
"Akuhhh tidakhh tahann lagi Baek, aku mau keluarrhh.. "
Chanyeol merasakan penisnya mulai berkedut kencang di dalam lubang Baekhyun.
"Hmmpphh ahh bersamahhh Channh.."
PLOK PLOK PLOK PLOK
CROTT
"AHHHHHHHHH."
Baekhyun ejakulasi untuk yang ketiga kalinya. Cairan spermanya menyembur hingga ke perut Chanyeol, sedangkan Chanyeol sendiri menyemburkan seluruh benihnya di dalam lubang Baekhyun.
Tubuh Chanyeol ambruk, tapi ia masih berusaha menahan bobot tubuhnya agar tidak menindih Baekhyun. Dengan tubuh yang sama-sama dipenuhi oleh keringat, Chanyeol kembali mencium dan melumat bibir Baekhyun dengan lembut.
Keduanya sama-sama tersenyum setelahnya, Chanyeol mengusap peluh di wajah sang istri dengan penuh kasih.
"Terimakasih Baek, terimakasih untuk semuanya.. "
Baekhyun tersenyum sambil mengangguk malu-malu.
"Baek, aku.. "
"Iya?"
Chanyeol terdiam selama beberapa saat.
"Chanyeol? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Ah tidak, sebaiknya sekarang kau tidur, kau pasti lelah." balas sang suami sambil menggeleng pelan.
Baekhyun sedikit mengernyitkan alisnya bingung. Chanyeol seperti hendak mengungkapkan sesuatu tapi ia terlihat ragu.
Chanyeol menarik penisnya pelan dan seketika itu juga cairan berwarna putih kental keluar dari lubang Baekhyun dengan cukup banyak. Baekhyun meringis, selalu seperti ini jika ia selesai berhubungan intim dengan Chanyeol. Lubangnya terasa perih dan ngilu.
Chanyeol mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan sisa cairan sperma mereka berdua sampai bersih. Setelah itu ia langsung mengambil handuk dan memakainya dengan asal.
"Kau tidurlah, aku mau membersihkan diri dulu."
Setelah menyelimuti tubuh telanjang Baekhyun, Chanyeol langsung berjalan keluar kamar untuk membersihkan diri karena tubuhnya terasa sangat lengket.
Baekhyun tersenyum kecil, rasanya ia masih bisa merasakan sentuhan dari telapak tangan kasar Chanyeol diseluruh tubuhnya.
"Chanyeol ah." ia menggumamkan nama suaminya itu sambil tersenyum malu-malu. Wajahnya sudah merona parah dan ia tidak tau kenapa.
"Aaahhh aboeji, Baekkie maluuu.. " ucapnya sedikit berteriak sambil menutup wajahnya dengan selimut.
.
.
.
"Kalian siapa?"
Chanyeol sedikit terkejut ketika ia membuka pintu rumah dan mendapati 2 orang perempuan berdiri di depan pintu rumahnya.
Lisa dan Jisoo tampak mematung sebentar, lebih tepatnya mereka terpesona dengan ketampanan pria di hadapan mereka. Niat awalnya mereka hanya ingin berkunjung karena sudah terlalu merindukan sahabat mereka Baekhyun. Tapi saat mereka hendak mengetuk pintu, pintu rumah itu sudah terlanjur dibuka terlebih dahulu dari dalam.
"K-kami t-temannya Baekhyun." ucap Jisoo sambil tergagap.
Chanyeol membulatkan mulutnya membentuk huruf o dan tersenyum hangat kemudian.
"Kalian kemari ingin bertemu dengan Baekhyun? Masuklah, Baekhyun ada di dalam. Biar aku panggilkan sebentar."
"S-sebentar tuan, anda siapanya Baekhyun?"
"Aku suaminya, Park Chanyeol."
Kedua perempuan muda itu tampak menganga takjub mendengarnya, jadi ini yang menjadi suami dari sahabatnya itu? Astaga, wujud dan sosoknya benar-benar jauh dari ekspektasi mereka berdua.
"Ayo masuk."
"Ne." jawab mereka berdua yang terdengar sangat antusias.
Jisoo dan Lisa menunggu diruang tamu sedangkan Chanyeol berjalan masuk untuk menemui Baekhyun.
Lisa memegang tangan Jisoo dengan erat. "Ya, Jisoo ya? Aku tidak menyangka suaminya Baekhyun bisa setampan itu."
Jisoo mengangguk setuju. "Aku juga tidak menyangka, tadinya aku pikir yang menjadi suami Baekhyun itu jelek, kotor, dekil dan bau. Tapi Chanyeol benar-benar diluar ekspektasi. Jika seperti ini aku juga rela jika harus menikah dengan pria miskin seperti Chanyeol."
Tak lama kemudian, Chanyeol dan Baekhyun berjalan beriringan menghampiri mereka.
"Jisoo ya, Lisa ya." Baekhyun tampak begitu senang, ia langsung memeluk dua sahabat karibnya itu yang juga dibalas pelukan balik oleh mereka.
Chanyeol hanya tersenyum kecil melihatnya, mereka bertiga terlihat seperti Teletubies dimata Chanyeol. Baekhyun Laa-Laa, Lisa Tinky Winky dan Jisoo Po haha.
"Kenapa kalian baru mengunjungiku lagi sekarang?"
"Maafkan kami Baek, tugas kuliah benar-benar menyita waktu kami belakangan ini."
Baekhyun mengangguk mengerti. "Yasudah, kalau begitu kalian duduklah. Biar aku buatkan minuman dulu."
"Aku pergi dulu ya Baek."
Baekhyun menoleh sebentar. "Iya, hati-hati Chanyeol."
"Permisi." ucap Chanyeol sambil tersenyum ramah pada 2 orang sahabat Baekhyun.
"Ne." balas Jisoo dan Lisa serempak sambil tersenyum malu-malu.
Lisa terus memperhatikan Chanyeol yang berjalan keluar rumah.
PLETAK
"Aww sakit Jis." Lisa mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Jisoo.
"Kau baru saja memperhatikan suami orang Lis, kau mau jadi pelakor ya?"
"Pelakor, apa itu?"
"Perebut laki orang."
"Ish kau ini." Lisa berdecak sebal mendengarnya.
Baekhyun terdiam bingung melihat tingkah kedua sahabatnya itu. "Kalian kenapa sih?"
Jisoo dan Lisa saling berpandangan sebentar lalu kemudian mereka tertawa canggung. "Haha tidak ada apa-apa Baek, kau tidak perlu khawatir."
Baekhyun tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua. "Yasudah, aku buatkan kalian minuman dulu."
.
.
.
"Chanyeol pergi untuk bemain futsal bersama dengan teman-temannya."
"Ahh.. " Jisoo dan Lisa mengangguk bersamaan.
"Kau tau Baek? Aku benar-benar tidak menyangka jika suamimu setampan itu, tadinya aku pikir Chanyeol itu tidak jauh berbeda dengan pria kampung kebanyakan. Tapi ternyata aku salah, dia jauh lebih baik dari apa yang aku bayangkan."
Lisa mengangguk setuju dengan pendapat Jisoo. "Jika saja ia menjadi dosen di kampus kita, aku yakin sekali dia akan menjadi pria terpopuler mengalahkan Kang Daniel."
Baekhyun tertawa mendengarnya. "Kalian ini berlebihan sekali, jangan bilang kalian jatuh cinta pada suamiku haha."
Jisoo dan Lisa saling tatap untuk sejenak dan mereka kompak ikut tertawa bersama.
"Oh iya Baek, aku membawakanmu beberapa hadiah. Tas dan sepatu merk Gucci keluaran terbaru."
"Benarkah?" Baekhyun menerima barang pemberian dari Jisoo itu dengan tatapan terharu. Rasanya ia sudah lama sekali tidak melihat barang bermerk seperti ini.
"Aku juga membawa hadiah untukmu Baek, Jam tangan Rolex keluaran terbaru. Kau pasti sudah lama kan tidak membeli koleksi jam tangan baru?"
Baekhyun mengangguk semangat. Rolex, astaga, kapan terakhir kali ia melihat benda mahal ini?
"Terimakasih, kalian benar-benar sahabat terbaik ku."
"Sama-sama." mereka bertiga berpelukan lagi dan saling tertawa kemudian.
"Oh iya, aku sampai lupa Baek. Sebenarnya kedatangan kami kemari untuk memberitahumu sesuatu."
"Apa itu?"
"Tentang Sehun, pria itu sekarang sudah kembali ke korea."
Senyum di wajah Baekhyun langsung sirna ketika ia mendengar nama kekasihnya disebut.
"Ia muncul dikampus untuk mengurus surat pindah, entahlah. Sepertinya ia tidak akan berkuliah lagi di kampus kita."
"Belakangan ini juga dia terus menganggu kami, dia terus-terusan bertanya tentang keberadaanmu pada kami. Tapi kami tidak menggubrisnya, biar bagaimana pun kami tidak ingin pria itu kembali mengganggu kehidupanmu sekarang Baekhyun ah."
Baekhyun menghela nafasnya sejenak. Jadi Sehun sudah kembali?
"Sebenarnya hubungan kalian sudah sampai sejauh mana? Kalian sudah putus kan?"
"Sebenarnya belum, 2 thn lalu Sehun pergi meninggalkanku tanpa ada kata putus diantara kami."
"Benarkah?" Jisoo dan Lisa tampak begitu terkejut.
Baekhyun mengangguk. "Aku ingin sekali bertemu dengan Sehun, aku ingin bertanya kenapa ia pergi dan menghilang dariku selama ini. Aku juga ingin memperjelas soal hubungan ku dengannya. Aku.. Aku ingin putus darinya."
"Putus, kau yakin?"
Baekhyun mengangguk. "Aku belajar banyak hal selama aku menikah dengan Chanyeol. Sekarang aku tau bahwa seorang istri tidak boleh mengharapkan pria lain selain suaminya. Aku sudah punya suami sekarang, dan aku tidak ingin mengkhianati suamiku. Aku takut dosa."
"Kau benar-benar sudah banyak berubah Baek." ucap Jisoo sambil tersenyum bangga.
"Aku senang mendengarnya, Sehun memang bukan pria yang pantas untukmu." ucap Lisa ikut menimpali.
"Sudahlah, jangan membahas soal itu lagi. Rasanya aku ingin menangis saja jika mengingat sesuatu tentang Sehun."
"Bagaimana jika kita pergi menonton Chanyeol yang sedang bermain futsal saja?"
Jisoo mengangguk menyetujui saran dari Lisa.
Baekhyun tampak berpikir sejenak. "Yasudah, aku juga bosan dirumah terus. Ayo."
"Yeay." Jisoo dan Lisa tampak begitu antusias.
.
.
.
"GOL!"
"YEAYYYY."
Chanyeol baru saja mencetak gol dan teman-teman satu timnya bersorak senang. Begitu juga dengan Baekhyun, Jisoo dan Lisa. Mereka berteriak heboh ketika Chanyeol berhasil mencetak gol.
Setelah dinyatakan menang, Baekhyun lantas berjalan ke pinggir lapangan dan memanggil suaminya itu.
"Chanyeol ah."
Chanyeol menoleh dan berjalan pelan menghampiri istrinya.
"Untukmu." Baekhyun menyodorkan satu botol air mineral untuk Chanyeol.
Chanyeol menerima botol itu sambil tersenyum lembut. "Terimakasih."
Baekhyun kemudian membersihkan keringat di wajah dan pelipis suaminya itu dengan handuk kecil ditangannya.
Jisoo dan Lisa yang melihat itu tampak tersenyum sumringah. "Aku jadi ingin cepat-cepat menikah jika seperti ini caranya, mereka romantis sekali."
Jisoo mengangguk menyetujui. "Mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi."
.
.
.
"Soojungie.. "
Soojung yang baru saja pulang dari rumah temannya langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
"Appa, appa sudah pulang?"
Pria berperawakan tinggi dan berkulit eksotis itu mengangguk pelan, dengan masih menggunakan kemeja dan pakaian kerjanya lengkap, pria itu langsung meminta putrinya untuk duduk.
"Ada apa appa? Appa ingin bicara sesuatu?"
"Appa dengar belakangan ini kau sering keluar malam tanpa pengawasan, apa itu benar?"
Soojung mengangguk. "Iya appa."
Pria itu tampak menghela nafasnya pelan. "Sayang kau tau kan kau tidak bisa pergi keluar rumah tanpa pengawasan apalagi sampai tengah malam?"
"Iya aku tau, tapi aku tidak suka jika terus-terusan di kekang. Aku ingin seperti gadis-gadis lain. Aku juga ingin tau tentang dunia luar."
"Appa mengerti sayang, tapi kau berbeda. Kau putri dari seorang Perdana Menteri. Kau bisa merusak reputasi keluarga kita jika kau ketahuan keluyuran tengah malam. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?"
"Appa tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri."
Jung Soojung atau yang lebih dikenal dengan nama Krystal di depan publik itu sejatinya adalah seorang putri tunggal dari mantan aktor senior yang kini beralih profesi menjadi Perdana Menteri Korea Selatan bernama Jung Yunho. Yunho punya nama dan pengaruh yang cukup besar di Korea, itulah kenapa putri satu-satunya pun ikut menjadi terkenal dan dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Korea. Sedari kecil Krystal sangat di awasi dengan protektif oleh ayahnya karena banyaknya pesaing yang tidak suka atas dilantiknya ia menjadi seorang Perdana Menteri. Yunho sangat takut para pesaingnya itu melukai Krystal atau lebih parah melenyapkan nyawanya. Maka dari itu sedari kecil Yunho tidak pernah mengijinkan Krystal untuk keluar rumah tanpa pengawasan. Tapi beberapa hari belakangan, ketika ia melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Asisten pribadinya memberitahu jika Krystal selama satu minggu belakangan selalu keluar rumah sampai tengah malam. Ia selalu berhasil mengelabui para bodyguard yang Yunho sewa untuk menjaga putrinya. Yunho tentu saja sangat kesal, ia langsung kembali ke Korea hari ini untuk bertemu langsung dengan putrinya.
"Pokoknya appa tidak mau tau, mulai sekarang appa akan menambah 10 bodyguard lagi untuk mengawalmu."
"Apa? Appa tidak bisa melakukan itu, aku tidak mau dikawal oleh orang sebanyak itu."
"Appa tidak mau ambil resiko, kau terus bersikap nakal belakangan ini. Appa hanya tidak mau kau terluka."
"Tapi tidak dengan cara merenggut hak dan privasiku appa."
Yunho terdiam, ia tahu putrinya sangat tidak menyukai apa yang dilakukannya. Tapi Yunho tidak punya pilihan. Ia hanya ingin melindungi putri semata wayangnya itu.
Soojung merengut kesal. Hilang sudah kebebasannya mulai sekarang. Eh tapi tunggu dulu. Ia jadi teringat pada pria tampan yang menolongnya tempo hari. Seketika senyuman manis langsung tersungging di wajah cantiknya.
"Baiklah appa, Soojungie berubah pikiran. Aku mau dikawal bodyguard tapi aku ingin aku yang memilih bodyguard ku sendiri. Dan hanya boleh ada satu bodyguard, aku tidak mau lebih dari itu."
"Apa? Hanya satu? Itu terlalu membahayakan sayang."
"Appa tidak perlu khawatir, aku sudah punya calon bodyguard pilihanku dan aku yakin appa tidak akan kecewa. Dia sangat pandai berkelahi dan tubuhnya juga besar. Aku yakin appa tidak akan kecewa."
Yunho menghela nafas. "Baiklah, kau suruh dia untuk bertemu appa dulu. Jika ia tidak memenuhi kualifikasi, appa akan tetap menyewa 10 bodyguard tambahan untuk mengawalmu."
"Iya Soojungie janji, appa pasti tidak akan kecewa."
Wanita berambut pendek itu tersenyum senang, ia langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan mengirimkan sebuah pesan untuk seseorang.
.
.
.
Drrt.. Drrtt.. Drrtt..
Baekhyun yang tengah melipat pakaian dikamarnya langsung menoleh ketika ponsel Chanyeol berbunyi. Ia berjalan kearah meja nakas dan mengambil ponsel tersebut. Ada satu pesan masuk. Chanyeol sedang mandi setelah lelah bermain futsal bersama teman-temannya. Baekhyun ragu, apakah ia harus membuka pesan itu atau tidak ya?
Setelah beberapa menit berpikir Baekhyun akhirnya memutuskan untuk membuka pesan itu karena sudah terlalu penasaran.
"Maafkan aku Chanyeol."
KLIK
'Oppa, jika kau ada waktu luang aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Salam hangat dari wanita berambut pendek yang kau selamatkan kemarin. ❤❤❤'
Baekhyun menutup mulutnya shock, wanita berambut pendek siapa? Chanyeol tidak mungkin selingkuh dibelakangnya kan?
Astaga, mata Baekhyun sampai berkaca-kaca karenanya. Emot hati dibelakang pesan yang ditulis wanita itu sangat menyayat hati Baekhyun.
Tapi.. Kenapa Baekhyun harus merasa sedih? Bukankah ia tidak mencintai Chanyeol? Kenapa ia harus merasa tersakiti ketika ada seorang wanita yang mengirimkan emot hati pada suaminya?
"Hiks.. " Baekhyun meneteskan airmatanya pelan.
"HUWEEE ABOEJIIIII..."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hola TPMWMMFIL is back ~
Wah makasih yah atas respon positif yang kalian kasih buat ff abal ini wkwk sampe terharu :v
Btw, buat yang nanyain konflik author sih sebenernya ga ada niatan buat ngasih konflik yang gimana banget ya, karena emang dari awal ff ini dibuat author cuma pengen fokus sama kehidupan rumah tangganya ChanBaek aja, kalo ada konflik juga palingan konflik ecek-ecek aja lah. Ga mau yang berat-berat haha tapi liat aja kedepannya kek gimana. Author mah kan suka berubah pikiran tiba-tiba haha.
Oh iya satu lagi, author gak jago kalo soal bikin NC. Jadi sorry sorry aja kalo NC nya kurang hot atau terkesan maksa wkwk.
Okey deh, segitu aja cuap-cuapnya. Minta reviewnya aja kalo kalian ngerasa ff ini pantas untuk di review. (Review dari kalian menentukan lanjut atau tidaknya ff ini wkwk).
Selamat liburan dan jaga kesehatan kalian.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
