Thank's for kak Kiracchi and kak Shiera Nafatu Lya, for your supports.
Karena dukungan mereka berdua yang tersirat di dalam review, saya berinisiatif untuk melanjutkan fanfiksi ini hingga chapter terakhir.
Again, ima okuritai... arigato, desu...
"Hei, Lar..."
"Iya, kak Amaya? Ada apa?"
"Itu... Pergelangan tangan kanan kamu, kenapa?" Amaya menunjuk pergelangan tangan kanan Larnetta yang terlihat lebam.
"Oh.." Larnetta terhenyak, mengingat sesuatu, seraya mencari alibi yang benar-benar (serta cukup) meyakinkan.
Diamnya Larnetta seolah meyakinkan Amaya kalau siswi tahun pertama di Hetalia: Junior High School itu sedang mencari alibi, untuk membohonginya.
Amaya mengalihkan pertanyaan. "Sudah diobati?"
"Su- Sudah... kak."
"Ya sudah, kurangi kegiatan menulismu, agar tidak semakin terasa sakit.
"Iya, terima kasih sudah mengingatkan, Kak Amaya."
Amaya tersenyum. "Sama-sama."
Larnetta menelusup di tengah langkah-langkah para paskibraka yang sengaja dipanggil oleh salah satu personifikasi Indonesia, yang sedang menaiki tangga, menuju ke sebuah kapal tempur yang berukuran sangat besar yang berlabuh di sebuah mega dermaga.
"Permisi! Per... Ah! Permisi...!"
Terhitung, entah sudah berapa kali Larnetta mengatakan kata-kata semacam itu. Beberapa anggota paskibraka melihatnya heran, mereka tidak mengenal gadis itu.
"Aduh!"
"Ah, maaf! Maaf!"
Gadis yang seolah kebingungan.
"Hei!"
Satu tangannya dicekal, setelah sepasukan kecil Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut naik ke kapal, menuju ke ruang kemudi san anjungan belakang, juga anjungan depan, untuk menjaga keamanan dari bahaya-bahaya yang mungkin saja terjadi.
Larnetta menjerit, hanya sedetik, pergelangan tangannya dicekal terlalu kencang.
Kuku-kuku yang tidak terlalu panjang dari si penyekal seolah amat teringin menanamkan kukunya ke pergelangan.
"Lepaskan saya!" rontanya menahan sakit. Dia kibaskan tangannya agar cengkraman dari pemuda asing itu terlepas.
Namun sia-sia.
" Kau... Kar..." gumam pemuda itu pelan.
Namun, menemukan sesuatu yang berbeda dari gadis di hadapannya dengan seseorang yang dia kenal, pemuda itu menggeleng. Ini bukan orang yang dia kenal, meskipun hampir keseluruhan mirip.
"Siapa kamu? Dan apa urusanmu mengikuti mereka?" tanya pemuda itu dingin, and to the point.
Sekilas Larnetta lihat, pasti pemuda ini berasal dari salah satu dari tiga-empat negara; Cina, (duo) Korea, atau Jepang.
Atau mungkin malah persilangannya? Wajah pemuda ini oriental, khas Asia Timur, kelihatannya.
"Lepaskan saya!" Larnetta meronta lagi, tangannya sudah terasa sangat sakit sekarang.
Namun pemuda itu bersikeras.
"Tidak." Dingin namun tajam, itulah yang seolah membekukan raga sang gadis untuk meronta lagi. Ditambah tatapan tajam dari iris merah darah itu, seolah ingin melukai tepat pada bagian jantung dan kepala Larnetta.
Larnetta memalingkan wajah, tangan kanannya mulai bergetar lemas karena ada sesuatu yang seolah merobek kulitnya, menembus daging pada pergelangan tangan.
"Ugh...!" rintihnya, air matanya menetes sebutir. Dia kibas-kibaskan lagi tangan kanannya, berharap bisa lepas.
Akan tetapi, sama seperti yang sebelum-sebelumnya: usahanya itu hanyalah kesia-siaan belaka.
"Siapa kau?" tanya pemuda itu lagi, dengan intonasi yang sama.
"Aku tidak akan pernah menjawab pertanyaanmu! Lepas!" Terpaksa, Larnetta mengeluarkan gerakan menyerang. Silat.
Tangannya terlepas, memang benar berdarah, kemudian dia berlari begitu saja ke arah kapal tempur milik Republik Indonesia itu.
Pemuda itu hendak mengejarnya, jika saja salah satu saudarinya tidak menahannya dengan satu gerakan semacam menyentuh bahu kanan pemua itu. "Biarkan dia mengikuti Kartika. Dia adalah personifikasi 'gerilya' dari negaranya."
Akane Honda. "Are you sure?" Pemuda tersebut masih terperangah, dia memastikan.
Akane mengangguk.
"Hai..."
...~*oOo*~...
HETALIA - AXIS POWERS (c) HIMARUYA HIDEKAZU, JAPAN.
Penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya.
•
{Hetalia - Axis Powers}
- WORLD WAR : III -
...
-chapter X-
Indikasi Gerilya Rahasia
•
Rated: still T (R-14).
Genre: Tragedy, Drama, Angst.
Language: INDONESIAN.
Author: INDONESIAN KARA.
Notes: AU, OC, OOC, fictional! WWIII, etc.
•
-Indonesia; 8 September 2017-
*~...o0o...~*
Suatu senja di New York, ada sebuah rundingan besar-besaran du dalam salah satu gedung pencakar langit yang masih baru; pusat politik Amerika Serikat, di ruang bawah tanahnya...
"... Incaran kita selanjutnya adalah Larnetta, seorang gadis yang telah ditakdirkan untuk menjadi personifikasi Indonesia, mulai dari tahun 2018 silam." Allen membalikkan tubuhnya, memincingkan mata, menatap intens kepada lawan-lawan bicaranya.
"Dan sepertinya, kita harus menculiknya, membawa gadis itu kemari, lalu menginterogasinya hingga seluruh kelemahan Indonesia terbongkar." Allen berhenti bicara.
Mengitari meja rapat, dan bersandar di salah satu sisi.
"Jadi, kau memanggil kami kemari adalah untuk membicarakan tentang cara untuk menjatuhkan Indonesia, begitu?" Aluviany berujar.
Sarkasme.
Terkesan sekenanya.
"Personafikasi negara Indon tu? Cih, kau nijangan lah lawak! Tak lawak kate-kate macem tu, tahu tak!?"
Allen menatap perempuan itu, "Tentu saja. Karena dia adalah kunci untuk memenangkan segala perlawanan kita terhadap Indonesia. Bukankah sudah kukatakan kalau Larnetta ada di Indonesia? Tersembunyi, dan berbaur bersama masyarakat biasa?"
"Tentu saja aku tahu hal itu. Tapi, bagaimana kau tahu, kalau manusia- maksudku gadis personifikasi itu memiliki pengaruh besar untuk mengalahkan Indonesia?
"Darimana kau dapatkan informasi itu? Kau... Tidak mengarangnya 'kan?" Seluruh pasang mata menatap kepada Aluviany dan Allen.
O-ouh... Sepertinya sebuah debat akan terjadi.
"Kalau kau tahu caraku, kau pasti akan terkejut..." tukas Allen. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Gaya angkuh ikut ia keluarkan.
Huh, itu sudah khas dari pria macam Allen.
"Memang apa?"
"Kau tahu siapa yang mengikuti pelatihan militer di Russia-"
"Gawat..." Ucapan yang meluncur begitu saja dari mulut Alfred, tentu saja membuat para personifikasi lainnya di ruangan menoleh padanya.
Air muka yang tampak (sangat) terkejut, dengan netra yang masih terpancang pada tablet PC-nya.
Sadar jika ditatapi dengan berbagai macam pertanyaan yang tersirat dari pandangan, Alfred meletakkan tablet PC itu ke meja, agar yang lain dapat membaca dan mengetahui apa yang dia ketahui baru saja; sekaligus makna dari ucapan singkat pria beriris biru laut tersebut.
Lima menit kemudian, para personifikasi negara lainnya turut membulatkan mata.
"Apa!?"
"Tidak mungkin..."
~oOo~
"... Saya tidak percaya dengan apa yang Anda sampaikan! Ini- ini- ini tidak mungkin!" bantah si personifikasi asli dari negara yang berjulukan sebagai 'Negara Matahari Terbit'.
Berita itu datang dari salah satu tentaranya sendiri, dengan tergopoh-gopoh karena waktu itu sudah menjelangnya malam hari.
Pria separuh baya di hadapannya melesu. "Namun, memang begitu kenyataannya. Bahkan..."
-o0o-
"... tidak ada yang tahu, siapa yang berani melakukan hal tersebut. Jika saja senjata-senjata pemusnah massal itu sampai jatih ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab...
"Maka yang terjadi, akan teramat sangat fatal!"
Di gedung pemerintahan pusat negara Israel pula tidaj jauh berbeda. Isra menggebrak meja pemimpin negaranya karena satu alasan.
"Benar, tiga belas rudal berhulu ledak nuklir akan cukup untuk membuat bumi sempurna berlubang!"
"Kita harus segera mengambil tindakan..."
-121-
"... salah satunya adalah dengan mencari dimana letak nuklir itu, juga siapa dalang di balik semua masalah ini..."
Yao mengangguk.
Raut mukanya mencerminkan kecemasan.
"Ai yaaaaaaa! Dua belas bom atom tercuri dari persediaan alutsista negara ini. Entah bagaimana bisa dicuri, padahal pengamanan sudah sangat ketat oleh para prajurit tempur tingkat tinggi, aru. Jika bom-bom itu sampai tidak bisa ditemukan..."
-o0o-
"... maka, kemungkinan terbesar dan paling mengerikan yang akan terjadi adalah Perang Dunia yang selanjutnya, andaikata ada yang benar-benar menyalahgunakan rudal-rudal tersebut dengan identitas dari negara ini.
"Hal ini bisa diperburuk jika ada yang salah sangka, lalu mengirimkan serangan balasan pada United States of America dengan jumlah rudal yang berlipat ganda, dari rudal yang dilepaskan ke negara mereka dengan identitas tersebut."
Alfred menyudahi bicaranya.
Seorang pria asal Negeri Tirai Bambu mengajukan pertanyaan. "Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?"
-oOo-
"Entahlah siapa yang bertanggung jawab untuk semua kejadian hilangnya benda mematikan itu, да. Tapi kita, sebagai personifikasi negara, tidak boleh menyebarluaskan berita ini ke masyarakat awam. Demi keamanan bersama..." Viktor berargumen.
Anya menyetujui. "Да, aku setuju."
"Yang dikatakan Viktor memang benar adanya, да. Lebih-lebih Federasi Rusia dikabarkan telah kecolongan lima Topol-M dalam satu malam saja, да..." cerocosan Ivan disusul oleh terkejutnya para personifikasi Federasi Rusia yang lainnya.
"Apa!?"
"Siapa dan dimana posisi pelaku pencurian rudal yang meresahkan itu!?"
•••
...
...
...
•••
"Tidak dapat dipastikan. Posisinya tidak dapat diketahui secara pasti."
Seusai mendapatkan berita hilangnya rudal berhulu ledak nuklir di sejumlah negara, Dirgantara segera memberitahu Nusantara dan Dirgahayu perihal tersebut, untuk segera melakukan pengecekan kelengkapan alutsista negara mereka.
Seperti dugaan Dirgahayu saat memperoleh berita itu dari Dirgantara, 17 rudal milik Indonesia dinyatakan hilang.
Jumlah tersebut terdiri atas empat belas rudal hulu ledak berkekuatan nuklir, sedangkan tiga lainnya adalah bom hidrogen.
Teramat sangat lebih dari cukup untuk memusnahkan sebuah benua seukuran benua Amerika ditambah dengan luas benua Eropa.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"
Diam-diam Nesiakaharani turut mencari informasi.
Namun setelah tahu masalah yang dihadapi, ia tidak bisa memikirkan sesuatu, untuk keluar dari masalah ini, memecahkan teka-teki, terkait siapakah dalang dibalik layar pencurian senjata pemusnah massal tersebut.
Nesiakaharani tetap berada di ruangannya, hanya berbicara seperlunya, pun tidak pernah menjawab panggilan yang menurutnya 'tidak penting'.
Seolah-olah dia menyangkari dirinya sendiri, menjauhi semuanya, mengunci diri di dalam ruangan pribadi.
Siang dan malam, berusaha untuk mendapat secercah informasi lebih jauh lagi, melalui berbagai media.
... termasuk menggunakan kemampuannya sebagai peretas tingkat menengah.
Namun, kali ini berbeda.
Titik terang masalah yang biasanya muncul dalam waktu paling lama sekitar dua setengah jam, kali ini lebih dari enam jam dia sama sekali tidak menemukan titik terang.
Nesiakaharani menghela nafas lelah, dia keluar dari ruangannya, menuju kamar untuk mengistirahatkan diri.
•••
Tiga jam kemudian...
Pukul 22:36 WIB
- Kota Jakarta -
•••
Dengan langkah gontai, Cithra Nusarahyu melangkahkan kakinya melewati koridor, demi menuju ke ruang kerja 'kakak'nya.
Ada serasa tegang bercampur takut, dengan selarik perasaan khawatir. Bagaimanapun juga, dia harus memberi tahu tentang hal ini.
Tok! Tok! Tok!
"Indonesia..."
Tidak ada jawaban.
Tok! Tok! Tok!
"Indonesia..."
Lagi, tidak ada jawaban.
Nusarahyu menghela nafas, "Indones-"
Kosong. Ketika daun pintunya dibuka, hanya nihil yang didapatnya. 'Nesiakaharani tidak ada di sini?'
Dia menduga, mungkin saja Nesiakaharani sedang keluar, atau beristirahat untuk menenangkan pikiran, barangkali.
Meneliti semuanya, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Nusarahyu menghela nafas, sebelum menyadari ada selipatan kertas yang terselip di antara map tugas-tugas kenegaraan.
Ketika ditarik dan dia baca, ternyata adalah teka-teki yang lainnya...
•••
NAELCSIETIHWDNADOOLBSIDER
ATTENRAL - AISENODNI
•••
'Apa ini?'
Sesuatu yang benar-benar tidak dapat terjawab. Kumpulan huruf yang membentuk teka-teki baru di dalam benaknya seolah mempermainkan otak dan rasa.
Sampai pada satu pilihan: Nusarahyu menyalin kumpulan huruf tersebut dalam secarik kertas baru.
Selesai menyalin, dia pastikan tidak ada huruf yang terlewat atau salah tulis.
Nusarahyu berjalan keluar.
"Ahli kriptografi, Avina Viola Irmadelisia."
to be continued...
[1] Personafikasi, kemungkinan adalah bahasa Melayu (Malaysia) dari kata Personifikasi. Jika ada yang menulis fanfiksi dengan judul 'Personafikasi', namun berlabel Indonesian, dapat dinyatakan salah.
[2] Fanfiksi pada bagian ini ada kaitanya dengan salah satu fanfiksi OS saya. Cukup kalian hilangkan spasinya: m. /s/12628573/1/
A/N: Haruskah saya memindahkan larangan di identitas saya kesini?
Kamu hanya meresahkan saya. Merasa sudah lebih ahli dari saya? Lihat dulu kualitasmu, adu banding? Saya ladeni! Sign in to your account!
Waktu membaca (I. Kara): 3 menit 07 detik.
1945 words.
...
...
Sementara itu, di Indonesia bagian timur; bumi cendrawasih...
Dia mengayuh sepedanya, melewati jalanan yang sangat sepi, karena sekarang sudah malam menjelang tengah malam.
Berhenti di sebuah rumah berbahan kayu, sepeda gunung itu hanya dia parkirkan di samping pintu, lampu ruang tamu masih menyala, ada seseorang yang belum tidur.
Dia buka pintunya, seorang gadis lima belas tahunan menoleh sejenak, lalu berbalik lagi, menatapi layar laptop.
"Vi, jedakanlah dahulu, kubawakan papeda kesukaanmu..."
"Sedikit lagi," ujar si gadis, masih tetap menekuri 'tugas'nya di laptop.
.
Lebih kurang, tujuh menit kemudian...
.
Dia tersenyum kecil. "Selesai! Vion, ini sudah tuntas!" Seruannya menyadarkan seorang pemuda yang tadi menyapanya, dari kegiatan terkantuk-kantuk pemuda itu; Vion.
Vion, nama dari pemuda yang telah disebutkan di atas, sebagai pemuda yang terkantuk-kantuk di sudut ruangan karena terlalu lelah, ikut melihat ke layar.
"Whoah! Kamu berhasil! Kamu hebat, Vi!"
"Ini karena kamu juga yang mengajariku selama berbulan-bulan, Vion." balas gadis itu dengan wajah mulai bersemu merah.
"Tetapi, tunggu dulu..." Vion mengutak-atik sedikit, menemukan ada sesuatu yang janggal.
"Kamu porak-porandakan sistem penjagaan seluruh negara musuh!?"
Vion bahkan tidak menyangka, kemampuan sosok gadis di depannya ini jauh melebihi kemampuannya dalam hal 'ini'...
.
