Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
Yaoi
M
Romance and Hurt
.
.
.
.
.
.
.
Gang nam, 1995
.
.
Seorang anak berumur 5 tahun tengah bermain dengan berbagai mainan yang tergeletak di lantai. Dengan ditemani sang ibu yang tengah merajut santai.
"BRRRM BRRRM" Ucap sang anak menirukan suara mobil.
"Yeon-i, tolong ambilkan Eomma susu, ne"
"Ne Eomma" anak kecil bernama Hakyeon itu segera beranjak kedapur dan kembali dengan segelas susu ditangannya. "Apa Jisoo lapar lagi?" Ucap nya seraya menatap kearah perut sang Ibu yang membesar.
Ibunya tertawa kecil mendengar ucapan anak sulungnya tersebut. "Hmm, Dongsaeng-mu sangat lapar. Coba sentuh Yeon-i"
Hakyeon berlutut dihadapan perut sang Ibu dan menempelkan kedua tangannya beserta telinganya disana. "Eoh, Jisoo menendangku"
"Jika Jisoo sudah lahir, kau harus menjaga Dongsaeng-mu dengan baik Yeon-i"
Hakyeon diam menatap sang Ibu yang sekarang tengah mengusap lembut rambutnya.
"Kau harus mencintainya, seperti kau mencintai dirimu sendiri"
Hakyeon kecil tersenyum manis. "Aku akan mencintai Jisoo seperti aku mencintai Eomma" ucapnya dengan pelukan erat diperut sang Ibu.
"Eoh, ada yang ingin Eomma perlihatkan padamu. Coba kau ambil buku berwarna merah di loker bawah lemari"
Hakyeon kecil menoleh kearah lemari besar di belakangnya, dia langsung berlari dan membuka loker itu. "Ini Eomma?"
"Anak pintar, kemari sayang" ucap sang Ibu lembut, anak sulungnya tersebut langsung berlari memberikan buku itu.
"Nah," Ibunya memangku Hakyeon seraya membuka buku merah tersebut. "Ini Eomma, sebelum Yeon-i lahir"
"Cantiik~ Eomma cantiik"
"Seperti Yeon-i kan"
"Tidak! Yeon-i ini tampan"
Sang Ibu tertawa seraya mencubit gemas pipi tembam anaknya itu, dia melanjutkan membuka album foto.
"Eoh, Siapa ini ?" tunjuk Hakyeon pada seorang pria yang berfoto mesra dengan sang Eomma.
"Dia Suami Eomma"
"Suami Eomma? Suami Eomma, itu Appa?"
Sang Ibu tertawa lagi. "Appa itu adalah Appa Hakyeon. Ini bukan Appa Hakyeon"
Hakyeon terdiam dengan bibir yang cemberut. "Dia Appa Jisoo?"
Tawa Sang Ibu semakin kencang. "Tidak sayang~, Appa Jisoo juga Appa-mu, Appa Jisoo Suami Eomma. Dan ini Suami Eomma sebelum bertemu Appa-mu"
"Aaah, Yeon-i pusing!"
"Ya sudah, ya sudah" ucap sang Ibu seraya membalikan album itu lagi.
"Yang Ini Suami Eomma juga?" tunjuknya lagi pada foto Ibunya dan dua orang pria.
"Bukan Sayang~. Begini saja, Eomma akan cerita seraya menunjukkan foto, tapi Yeon-i tidak boleh berkomentar dulu. Setuju?"
Hakyeon kecil mengangguk semangat.
"Baiklah, dimulai dari sini" Nyonya Cha membalik halaman awal Album. "Ini Eomma saat menikah dengan Tuan Park Yu Chun. Dia Suami pertama Eomma, sebelum Eomma menikah dengan Appa Yeon-i dan melahirkan Yeon-i" Nyonya Cha menatap sang anak yang menganggukan kepalanya, dia tersenyum melihat bahwa anak sulungnya itu mengerti. "Dan Ini adalah saudara tunggal Suami Eomma, Park Yu Shin. Yang ini Istri Park Yu Shin bersama anak mereka, Park So Jin, dia lebih tua 4 tahun dari Yeon-i. Dan ini foto Appa Yeon-i" Sang Ibu menunjuk salah satu foto dimana Nyonya Cha sedang berfoto dengan suaminya dan seorang pria. "Appa-mu adalah sahabat Park Yu Chun, Yaitu Cha Yunho" Ucap Sang Ibu mengakhiri cerita.
"Eomma, kenapa fotonya berubah ?"
"Hmm?"
"Dari awal sampai sini semua tentang Paman Yu Chun, tapi setelah itu semua tentang kita"
Nyonya Cha tersenyum seraya mengusap lembut rambut sang Anak. "Kau memang pintar Yeon-i" Ibunya menatap album itu. "Cerita Tuan Park berakhir karena Eomma menikah dengan Tuan Cha, Appa-mu"
.
.
.
.
.
"Mereka adalah keluarga dari Suami pertama Eomma-ku"
"Jadi, Eomma-mu memiliki dua Suami?"
Hakyeon menggelengkan kepalanya. "Itu cerita pribadi bukan, tidak seharusnya aku menceritakannya"
Inguk menghembuskan nafasnya. "Baiklah, maaf"
"Tolong, mereka jangan dimasukan daftar introgasi"
Inguk menatap Hakyeon yang tengah menatap dengan matanya yang terlihat cemas. "Baik Baik, aku mengerti." Inguk mengemasi berkas dan Laptopnya. "Saat ini kau belum bisa keluar dulu, aku akan memberitahu Dongesaengmu untuk membawa pengacara agar kau bisa pulang. Itu syarat bebas sementara waktu"
Hakyeon menganggukan kepalanya.
"Minumlah Coffee nya sebelum dingin" Ucap Inguk seraya keluar dari ruangan meninggalkan Hakyeon yang duduk terdiam.
Inguk keluar dan mendekati Jisoo yang langsung berdiri ketika melihatnya keluar dari ruangan dimana Hakyeon berada.
"Hyung-mu bisa pulang, jika kau membawa pengacara kemari. Itu sebagai syarat bebas sementara sebelum pelaku sebenarnya ketemu atapun jika tidak ketemu terpaksa kita harus melakukan sidang"
"Sidang? Kenapa harus disidang?"
"Kemari," Inguk mengajak Jisoo untuk duduk dan berbicara secara pribadi. "Keluarga korban menuntut pelaku untuk segera di penjara, dan itu Hak mereka. Tapi, apabila sampai batas waktu kita tidak menemukan pelaku lain, Hakyeon harus menjadi pelakunya"
Jisoo menatap tidak percaya ucapan Detektif didepannya. "Hyung-ku, bukan dia pelakunya."
"Aku tau. Aku juga berfikir seperti itu"
"Tidak Ahjussi, sungguh. Bukan Hyung-ku pelakunya. Dia hanya di jebak"
Inguk menatap Jisoo curiga. "Maksudmu ?"
"Iya, aku tau, pelakunya yang merencanakan pembunuhan itu..."
"Jisoo-ya!"
Kedua orang itu menoleh pada Taekwoon yang tengah berlari menghampiri mereka. Taekwoon membungkuk pada Inguk dan menatap Jisoo sesaat.
"Kau siapa?" ucap Inguk menatap curiga Taekwoon.
"Jung Taekwoon, kekasih Cha Hakyeon. Ada yang ingin aku bicarakan pada Anda" Taekwoon berbicara pada Inguk, namun dia melirik Jisoo yang menatap bingung padanya. "Tapi sebelumnya, biarkan aku berbicara dengan Jisoo sebentar"
"Hmm baik, aku akan masuk menaruh berkasku dulu"
Taekwoon mengawasi Inguk yang sudah pergi meninggalkan mereka, dia duduk ditempat dimana Inguk duduk sebelumnya.
"Kenapa kau ini?!"
"Kau ini yang kenapa! Orang bodoh mana yang membongkar kejahatannya sendiri!"
"Ap..apa maksudmu?"
"Aku tau, kau akan mengatakan pada Detektif itu kalau kalian yang merencanakan pembunuhan itu kan? Kau tidak berfikir, kau sendiri juga bisa dipenjara bodoh! Kau tidak pikirkan Hakyeon jika dia kehilanganmu lagi, apa yang akan terjadi padanya!" Taekwoon memarahi Jisoo yang sekarang terdiam dengan kepala tertunduk.
"Lalu aku ... harus bagaimana ?"
"Kau cukup diam. Jangan sampai mereka tau jika kau terlibat. Hongbin, dia akan memberikan bukti kejahatan Nuna-nya"
"Sebenarnya..Itu bukan ide Sojin Nuna"
Taekwoon mengerutkan dahinya. "Idemu?"
Jisoo menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak hanya kita, masih ada dua orang lagi. Salah satunya.."
"Apa?"
"Teman-mu, Kim Wonshik"
"Kim..Wonshik?"
"Iya, dia ide dari semua ini. Dia juga yang membujuk Hongbin dan Sojin Nuna agar aku bergabung bersama mereka. Aku benar - benar membenci temanmu itu" ucapnya dengan sebuah cibiran.
TAKK
Taekwoon memukul kepala Jisoo. "Dasar bocah, kenapa kau ini juga harus terlibat." Ucap Taekwoon menghembuskan nafasnya lelah.
"Aku.." Jisoo menundukan kepalanya. "Sungguh menyukai Hakyeon Hyung"
Taekwoon menatap Jisoo yang terlihat menyedihkan itu.
"Kau tidak mengerti perasaanku saat tau kalau orang yang sangat aku cintai ternyata Hyung-ku. Aku bahkan berharap tidak pernah hidup."
"Kau ingin merebutnya dariku?"
Jisoo menatap tajam Taekwoon, dan menganggukan kepalanya.
"Kau tidak akan bisa melakukan itu. Kau hanya bocah, bukan seorang pria"
Mata Jisoo semakin menatap tajam Taekwoon, dia terlihat tidak terima dengan ucapan Taekwoon.
"Kalau kau ingin merebutnya dari ku, buktikan kalau kau memang pantas untuknya. Kita bertarung secara sehat, tidak seperti ini Jisoo-ya"
Tatapan Jisoo menjadi lunak saat Taekwoon tersenyum kepadanya.
"Jika Hakyeon memang berpaling dari ku karena kau, seorang Cha Jisoo bisa membuat Hakyeon mencintaimu sebagai seorang pria, aku akan mundur."
"Kau..serius?"
Taekwoon menganggukan kepalanya. "Itu semua tergantung Hakyeon" Taekwoon menoleh kearah Inguk yang sudah keluar dari ruangannya.
"Sekarang kau pulang, dan beritahu Hyuk soal ini"
"Kau belum memberitahunya?"
"Aku tidak sempat, kau menelepon dan aku langsung kemari" Taekwoon menoleh kembali kearah Inguk yang mulai mendekat. "Pergilah"
Jisoo menganggukan kepalanya. "Kita membutuhkan pengacara" Jisoo berdiri dari tempat duduknya.
"Katakan itu pada Hyuk, dia akan mengurus semuanya"
"Kau mau kemana?" tanya Inguk yang sudah hadir disana.
"Aku harus pulang, kita butuh pengacara"
"Ah iya benar"
"Saya permisi Ahjussi" Jisoo membungkukkan badannya dan beranjak dari sana.
Begitu pun Detektif Seo yang sekarang duduk ditempat Jisoo sebelumnya. "Jadi ada perlu apa ?"
"Ini soal Hakyeon"
Inguk menganggukan kepalannya. "Hakyeon, dia merupakan pelaku tunggal. Jika hingga sampai waktu penuntutan pelaku lain belum ketahuan, Hakyeon bisa jadi pelaku utama"
"CCTV, bagaimana ?"
Inguk menggelengkan kepalanya perlahan. Kedua tangannya terlipat diatas meja. "CCTV itu terpotong, salinan lainnya tidak ditemukan. Rekaman itu hanya melihatkan Hakyeon saat menemukan jasad korban"
"Lalu bagaimana ? tidak bisakah dengan cara lain ?"
"Kami sedang mengumpulkan seluruh rekaman di Rumah Sakit itu. Kau ingat seorang paman yang menumpahkan Sup di Jas mu ?"
Taekwoon terdiam dan berfikir sesaat. "Bagaimana kau tau ?"
"Hakyeon menceritakannya. Aku mencurigai orang itu. Saat itu, kemana dia pergi, atau kau bertemu dengannya lagi ?"
Taekwoon menggelengkan kepalanya perlahan. "Dektektif Seo"
"Ada apa ?"
"Ada seseorang yang ingin memberikan bukti"
"Bukti?"
"Hmm" Taekwoon menganggukan kepalanya, dia memberikan sebuah foto pada Inguk. "Dia Park Hongbin, Nuna nya yang merencanakan pembunuhan itu. Aku lihat, dia berniat baik. Tapi dia bisa saja berubah pikiran jika Nuna-nya harus di penjara"
"Nuna-nya ?"
"Hmm. Park SoJin. Aku ingin Anda untuk mengawasi mereka. Jika dia berubah pikiran, Anda bisa mencari bukti lain disana"
"Tunggu, tadi kau bilang apa?"
"Hongbin, ingin memberi bukti"
"Bukan bukan. Nuna-nya, siapa tadi?"
"Park Sojin ?"
"Nahhh, Park Sojin" Inguk sontak berteriak seraya menunjuk Taekwoon. "Itu dia, sudah ku duga"
"Ada apa ?"
"Dengar, Hakyeon bercerita ini padaku" Inguk menarik kursi mendekat pada Taekwoon. "Sojin, keluarga Park itu adalah keluarga dari suami pertama Eomma-nya Cha Hakyeon"
Taekwoon mengkerutkan dahinya. "Keluarga ?"
"Hmm, dia tidak mau menceritakannya" Inguk menatap serius Taekwoon yang berada disampingnya. "Kau kan kekasihnya, carilah informasi mengenai masa lalunya"
"Untuk apa?"
"Sojin, aku rasa itu dendam lama. Dia bilang keluarga mereka terlibat kecelakaan dengan keluarganya di masa lalu. Sojin, orang itu memang berniat jahat pada keluarga Cha, aku yakin itu"
Taekwoon menganggukan kepalanya. "Hakyeon, dimana dia ?"
"Diruang introgasi, kau bisa menemuinya"
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaehwan bersiul santai seraya menatap angka lift yang semakin naik ke atas. Di kedua tangannya menggenggam dua bungkus kantong plastik yang berisi beberapa minuman dan makanan ringan. Dia keluar saat lift berhenti tepat di lantai yang dia tuju, kakinya berjalan berirama menuju ke ruang kantor Sojin.
"Eoh, Hongbin-ah" Panggil Jaehwan pada Hongbin yang berdiri didepan pintu ruangan Sojin.
Hongbin yang tersentak kaget, terlihat begitu gugup dan cemas.
"Kenapa tidak masuk ?"
"Ah..aku...aku baru dari dalam" ucapnya panik seraya memasukan sesuatu kedalam saku celananya.
Jaehwan memincingkan matanya melihat sesuatu yang bersembunyi di saku Hongbin.
"Ak..aku pergi dulu" ucap Hongbin yang langsung pergi terburu - buru dari sana.
Jaehwan hanya mengedikan bahunya dan masuk kedalam ruangan didepannya. Didalam sudah ada Wonshik dan Sojin yang duduk berhadapan. Jaehwan menggabungkan dirinya duduk disamping Wonshik.
"Kenapa Hongbin pergi?" ucapnya santai seraya mengeluarkan isi makanan.
"Hongbin disini ?" tanya Sojin heran.
"Dia tadi berdiri didepan pintu, katanya habis dari sini."
"Kenapa dia tidak masuk ?" Wonshik bertanya seraya menatap tajam Sojin. "Kenapa dia tidak pernah bergabung lagi dengan pembicaraan kita ?"
"Jangan - jangan, dia menguping"
"Apa maksudmu Hyung ?"
"Tadi aku lihat dia memasukan sesuatu kedalam sakunya, dia terlihat seperti maling." Jelas Jaehwan menceritakan kepada Wonshik.
"Ya! Park Sojin!" Teriak Wonshik meminta penjelasan kepada Sojin yang sedari tadi hanya diam.
Sojin menghembuskan nafasnya lelah. "Hongbin, dia tau pembunuhan itu ulah kita. Dia, selalu seperti ini sejak dulu"
"Ceritakan lebih jelas !"
"Dia tidak setuju!" Sojin menatap sebal Wonshik yang terus meneriakinya. "Dia, mungkin akan mengungkapkan semua nya"
"Brengsek! Dia Dongsaeng-mu! itu tanggung jawabmu Park Sojin!"
"Aku tau Kim Wonshik! Berhenti berteriak brengsek!"
Wonshik menatap nyalang Sojin yang juga menatapnya tajam. "Jisoo, anak itu mungkin tidak akan bergabung dengan kita lagi. Kita bisa berakhir di penjara jika adikmu juga berkhianat"
"Aku tau. Masalah Hongbin, biar aku yang urus"
Wonshik melipatkan kedua lengannya didada, dia menyandarkan tubuhnya pada sofa "Jika kau tidak becus menanganinya, lihat saja, aku yang akan turun tangan!"
.
.
.
.
.
.
.
"Aku akan mengawasi di ruang sebelah" Ucap Inguk yang mengantarkan Taekwoon menuju ruang dimana Hakyeon berada. Taekwoon langsung masuk begitu saja kedalam.
"Hakyeon-ah" panggilannya kepada seseorang yang sekarang tengah menoleh kearahnya.
"Woon-ie~" Hakyeon mengulurkan kedua lengannya, Taekwoon yang melihat itu langsung menghampiri Hakyeon dan memeluk tubuh itu erat. "Hiks Taekwoon-ah hiks hiks" tangis Hakyeon pecah saat dirasakannya kehadiran seseorang yang sangat dia butuhkan.
"Tidak apa - apa, aku disini. Tidak apa - apa" Taekwoon mengusap punggung dan rambut Hakyeon lembut, berharap kekasihnya itu merasa tenang dan lebih baik.
Di ruangan lain, dua orang Detektif tengah duduk seraya mengamati mereka dari sana. Kaca searah itu, memperlihatkan bagaimana Hakyeon menangis setelah Taekwoon datang.
"Heol, lihat. Dari tadi dia baik - baik saja. Kenapa sekarang menangis histeris seperti itu", ucap seorang Detektif seraya menikmati ayam gorengnya.
Inguk tersenyum melihat pandangan didepannya. "Itu berarti Hakyeon lemah didekat Taekwoon"
"Maksudnya Hyung ?"
Inguk menghela nafas seraya menatap junior disampingnya. "Cinta, Cinta sejati. Kau tidak mengerti seperti itu ?!"
"Haiish aku tidak pernah sempat memikirkan cinta - cintaan. Dan Hyung, kau ini seperti mengerti saja"
"Haiish anak ini !" cibir Inguk dan kembali focus kepada dua orang di depan mereka.
Taekwoon melepas pelukan Hakyeon, dan mengambil kursi hadapan kekasihnya itu untuk dia bawa dan duduk di samping Hakyeon.
"Hakyeon-ah, dengarkan aku"
"Ada apa Woon-ie?"
"Kau tau kan, kau bisa di penjara jika mereka tidak menemukan pembunuhnya."
Hakyeon mengangguk mendengar ucapan Taekwoon.
"Aku, sudah tau siapa pembunuhnya"
"Su..sungguh Woon-ie?"
Taekwoon menggenggam kedua tangan Hakyeon. "Seorang namja mendatangiku pagi tadi di Rumah Sakit, dia mengatakan bahwa dia akan membawa bukti pembunuh yang sebenarnya."
"Namja itu siapa ?"
"Dia Park Hongbin, dan Park Sojin adalah dalang dari semua ini"
Hakyeon menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangan yang sedang di genggam Taekwoon di tariknya begitu saja.
"Hakyeon-ah~"
"Mereka tidak ada hubungannya dengan ini semua"
"Hakyeon-ah, sadarlah..kau bisa masuk penjara jika kau seperti ini. Bagaimana nasib Jisoo?, bagaimana dengan Perusahaanmu?"
Dia tetap menggelengkan kepalanya, bahkan wajah itu menghadap kedepan.
"Bagaimana denganku!"
Mendengar teriakan sang kekasih, Hakyeon langsung menoleh pada Taekwoon.
"Kau akan meninggalkanku ?"
"Tidak Woon-ie"
"Kau akan membuangku?!"
"Ti..tidak Woon-ah" Kedua tangan Hakyeon terulur menyentuh tangan Taekwoon.
"Lantas kenapa kau seperti ini?"
Kedua mata Hakyeon memerah. "Ak..aku hanya ingin menjaga hubungan baik. Aku..aku ingin memperbaiki hubungan kekeluargaan, jika mereka tertangkap, mereka akan semakin membenci kami"
"Dengar" Tangan Taekwoon mengusap air mata yang turun perlahan di pipi Hakyeon. "Jika mereka tidak tertangkap, dendam mereka tidak akan pernah berakhir. Jika mereka tertangkap, kau bisa membantu mereka dan menunjukkan rasa pedulimu sebagai keluarga"
"Benarkah, bisa seperti itu?"
"Tentu saja"
Hakyeon menghembuskan nafasnya perlahan. "Aku akan ceritakan sesuatu"
Taekwoon menganggukan kepalanya dan siap mendengarkan cerita Hakyeon.
"Dulu, saat aku masih berumur 5 tahun Eomma pernah cerita mengenai bagaimana dia menikah dengan Appa"
.
.
.
"Kenapa Eomma menikah dengan Appa?" Tanya Hakyeon kecil yang masih setia duduk di pangkuan sang Ibu. Ibunya menutup album foto dan menatap kedua mata Hakyeon.
"Karena Eomma mencintai Appa"
"Lalu, Paman Park bagaimana ?"
"Dia pergi"
"Kemana Eomma ? Kenapa Eomma tidak ikut ?"
"Karena dia kembali kepada Tuhan Yeon-i, dia pergi meninggalkan Eomma"
"Lalu Eomma menikah dengan Appa ?"
Sang Ibu menganggukan kepalannya. "Keluarga Paman Park tidak menyukai Eomma, karena pernikahan kita tidak pernah di restui"
"Maksudnya seperti apa Eomma?"
Nyonya Cha tersenyum kepada Hakyeon. "Contoh seperti ini, Hakyeon ingin ice cream coklat, tapi Eomma tidak memperbolehkan dan Hakyeon harus makan ice cream vanila"
"Aahh, Yeon-i mengerti"
"Saat Paman Park meninggal, dia mewasiatkan seluruh hartanya pada Eomma. Tapi Saudara nya tidak terima dan menuntut dengan pengacara. Yeon-i tau, saat itu Eomma hampir memiliki bayi, jadi bisa di bilang itu kakak Yeon-i"
"Lalu, dimana kakak Yeon-i?"
"Dia juga sudah meninggal. Mereka mengambilnya dari Eomma"
"Kenapa Eomma ? Kenapa mereka jahat sekali ?"
"Sayang~ dengarkan Eomma Ne" Sang Ibu menatap kedua mata Hakyeon seraya mengusap lembut kepalanya. "Sejahat apa pun mereka nanti pada kita, Hakyeon tidak boleh membencinya, karena mereka tidak tau apa yang mereka lakukan. Suatu saat, jika Hakyeon sudah dewasa Hakyeon akan mengerti kenapa Eomma selalu membiarkan mereka menyakiti Eomma"
.
.
.
Hakyeon terdiam setelah menceritakan pada Taekwoon.
"Kalian tidak bersalah bukan,? Mereka bahkan tidak punya alasan untuk membenci kalian"
Hakyeon menggelengkan kepalanya. "Semuanya, dendam ini, semua karena Eomma dan Appa"
"Eomma dan Appa-mu?"
Hakyeon menganggukan kepalanya dan kedua mata itu menatap kedepan tepat pada Taekwoon. "Apa yang diceritakan Eomma-ku tidak semua kebenarannya. Semuanya berawal dari bagaimana Suami pertama Eomma-ku meninggal"
Taekwoon terdiam mendengarkan ucapan Hakyeon, begitu pula kedua orang yang mengawasi mereka dari sana.
"Eomma dan Appa ku lah yang membunuh Paman Yu Chun"
Taekwoon membulatkan matanya, sama seperti kedua orang yang sekarang berdiri saking terkejutnya. "Kau, tau darimana?"
"Aku mendengar perdebatan mereka. Setiap hari mereka selalu meributkan mengenai perbuatan yang mereka lakukan dimasa lalu. Itu lah kenapa seluruh harta bisa beralih atas nama Eomma-ku, Kim Jae Joong, dan bagaimana mereka masih menyimpan dendam sampai saat ini"
"Jadi mereka ingin meminta hak mereka kembali ?"
Hakyeon kembali menggelengkan kepalanya. "Aku rasa, mereka ingin membuat kami merasakan apa yang mereka rasakan dulu. Karena dulu kedua orang tua ku sudah berencana untuk mengembalikan harta mereka, tapi mereka menolaknya mentah - mentah"
"Semua berawal dari orang tuamu ? Kenapa mereka melakukan itu ?"
Hakyeon menggelengkan kepalanya tidak tau, "Taekwoon-ah, apa yang harus aku lakukan ?"
"Kita akan keluar dari sini dulu, tunggu pengacara datang, setelah itu semua masalah ini biar aku yang urus" Taekwoon mengusap wajah Hakyeon lembut. "Tidak apa - apa, aku selalu bersamamu. Ini bukan salahmu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sojin memasukan mobilnya kedalam garasi rumah, dia keluar dan langsung masuk kerumah terburu - buru. "Hongbin-ah!" panggilnya kepada adik semata wayangnya. Sojin berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, "Park Hongbin!"
BRAAKK
Di dobraknya pintu kamar sang adik. Disana Hongbin tengah berdiri terkejut. "Apa yang kau sembunyikan ?"
Hongbin hanya terdiam menatap takut sang kakak.
"Berikan itu!" Tangan Sojin terulur meminta sebuah benda yang bersembunyi di balik badan Hongbin. "Berikan pada Nuna, Hongbin-ah"
Hongbin menggelengkan kepalanya. "In..ini yang terbaik untukmu"
"Untukku ? Hah! Yang benar saja! Kau ingin menjebloskan Nuna-mu sendiri ke penjara?!"
"Bukan..bukan seperti itu."
"Kemarikan !" Sojin berusaha mengambil paksa benda yang masih berusaha pula disembunyikan Hongbin. Keduanya sama - sama bertahan. Sojin tidak ingin dia masuk penjara sedangkan Hongbin memegang kunci rahasia sang kakak.
BRUUUKK
Hongbin jatuh tersungkur terdorong sang kakak yang sekarang sudah mengambil alih sebuah benda ditangannya. Sojin menatap Flash disk yang dia genggam. "Ini, akan Nuna bawa. Dan kau, tidak boleh keluar kamar selama dua minggu ini. Itu hukuman untuk Dongsaeng yang tidak penurut" Sojin keluar dengan menutup keras pintu kamar sehingga menimbulkan suara benturan.
Hongbin hanya terdiam dalam tangis menatap kepergian sang kakak yang menjadi menakutkan semakin harinya.
Sojin berjalan perlahan menuruni tangga, dia memasukan Flash Disk itu kedalam tasnya dan menelepon seseorang.
"Ne ?"
"Aku sudah mendapatkan buktinya, dan kini aman bersamaku"
"Bagaimana Hongbin ?"
"Dia aku kurung di kamar"
"Bahaya jika dia keluyuran saat batas waktu penuntutan nanti"
"Kapan sidang dimulai Wonshik-ah ?"
"Aku dengar dua hari lagi, jika kita tidak ketahuan, sudah pasti Hakyeon yang akan di penjara"
Sojin menaruh tasnya di meja dapur dan mengambil gelas kosong, tidak lupa dengan tawa bahagianya. "Akhirnya~ Aku tidak akan pernah melupakan pertolongamu ini Wonshik-ah"
"Itu tidak masalah, tapi ingat perjanjian kita"
"Tenang saja" Sojin menuangkan jus dari lemari es kedalam gelas. "Setelah dia dipenjara, seluruh orang - orang Hakyeon harus di musnahkan, kini semua itu akan jadi milik kita"
Wonshik yang berada diseberang sana terdengat tertawa sangat girang, dan membuat Sojin mengulas senyum bahagianya juga.
"Baiklah, sampai jumpa dipersidangan nanti"
"Sampai ketemu untuk kemenangan, Park Sojin"
.
.
.
.
.
"Sajangnim" Hyuk berlari dengan nafas terengahnya saat melihat Hakyeon dan Taekwoon beserta pengacaranya keluar dari kantor polisi. "Astaga, Sajangnim. Saya sangat khawatir"
"Iya terlihat, dia habis menangis Hakyeon-ah" Goda Taekwoon seraya mendekap Hakyeon dari samping.
"Aku tidak apa - apa Sekretaris Hyuk. Ini semua berkat Ahjussi" Hakyeon menolehkan kepalanya pada seorang pria paruh baya di sampingnya. "Terimakasih Ahjussi"
"Ah, ini sudah kewajiban saya sebagai Pengacara keluarga Cha. Ini kan sudah tugas saya"
"Tidak hanya aku, Sajangnim. Abeoji, tadi dia bahkan panik bukan main"
Hakyeon dan Taekwoon tertawa riang bersama.
"Ya! Anak durhaka!" Pengacara Han memukul anak satu - satunya di keluarga Han itu tanpa ampun.
Taekwoon mendekap Hakyeon erat, melihat Hakyeon yang bisa tersenyum ringan kembali, hatinya menjadi lebih tenang. "Ayo kita pulang" ucapnya pada sang kekasih, dan dibalas anggukan.
Keempat orang itu pergi dengan mobil biasa yang dibawa Hyuk. Pergi menuju rumah yang sudah dirindukan Hakyeon.
.
.
.
WHUUUSSS
Suara air panas terdengar begitu syahdu dari dalam kamar mandi Hakyeon. Disana, didalam bathum itu terdapat sepasang manusia dimana Taekwoon memeluk Hakyeon dari belakang, dan Hakyeon menyandarkan tubuhnya pada dada Taekwoon. Mereka memejamkan matanya merasakan nikmatnya air panas yang merendam seluruh tubuh mereka.
"Besok tinggalah dulu dirumah"
"Iya, aku mengerti"
Kedua tangan Taekwoon memeluk tubuh Hakyeon semakin erat. "Kita akan mengakhiri ini semua" Bibir Taekwoon bergerak mengecup leher belakang Hakyeon perlahan dan merambat kebahunya.
Hakyeon memejamkan matanya merasakan sentuhan nikmat di kulit tubuhnya, bibir itu menghisap kulit Hakyeon hingga menimbulkan bekas merah.
Tangan Taekwoon bergerak mengusap lembut dada Hakyeon yang mulai mengeras, tidak lepas bibirnya terus mengecupi leher tan itu.
"Hmmpphh~~" Tangan Hakyeon meremas rambut Taekwoon. Kepala Taekwoon semakin mendekat karena kini Taekwoon menghisap leher bawah Hakyeon begitu nikmat.
Tangan yang tengah mengusap dada itu, terus meremas memelintir dan memainkan puting Hakyeon. Membuat sang kekasih mendapat kenikmatan yang begitu menyenangkan. Kedua matanya bahkan tertutup erat dengan bibirnya yang digigit menahan desahan.
"Keluarkan saja Love~~" tangan Taekwoon yang lainnya bergerak kebawah menggapai benda milik Hakyeon yang lemas terendam air panas.
"Aaahhh~~ Hmmmp Woon Woon~~" Mata Hakyeon menatap sendu kebawah, mengarah pada miliknya yang tak terlihat jelas karena terhalang air. Disana Taekwoon meremas dan mengocok milik Hakyeon begitu cepat namun bertempo membuat sang korban mendesah nikmat dengan wajah memerahnya dan nafas yang memburu.
"Oouhhh Ahhhhmmmp Aahhh~~"
Taekwoon mengocok milik Hakyeon begitu cepat, hingga air itu bergetar dan memuncrat keluar bathum. Taekwoon terus mengecupi leher Hakyeon, tangan satunya juga masih bermain asyik di dada kekasihnya.
"Aahhh hahh Woon-ahhmmp~~ aaah hah hmmp ouh"
BLUUUR
Taekwoon mengangkat tangannya dan menjilat bekas cairan yang memuncrat dari benda Hakyeon yang menyelimuti tangannya.
Hakyeon menoleh kebelakang, karena Taekwoon menghentikan kegiatannya.
"Tunggu, aku sedang membersihkan sisa milikmu" ucap Taekwoon yang begitu nikmat menjilati tangannya.
"Jijik Taekwoon"
"Kau ingin coba?"
"Iihhh" Hakyeon menampik tangan kekasihnya yang terulur ke mulutnya.
"Lihatlah. Kau mengeluarkan semuanya disini. Kita bermandikan spermamu"
"Ya ! Kau yang membuatku keluar"
"Kalau begitu kita lanjutkan diranjang saja" Taekwoon keluar dari air dan langsung membopong Hakyeon tanpa mengenakan pakaian apapun.
"Ya! Taekwoon-ah" Hakyeon meronta, menolak melakukan ritual yang akan terjadi berkali - kali lipat. Ritual yang memang bagi Taekwoon adalah hal yang tidak melelahkan.
BRUUUKK
Taekwoon menjatuhkan Hakyeon begitu saja ke kasur, dia langsung naik ke atas Hakyeon dan mengangkat kedua kaki tan itu.
"Jung...Jung Taekw Aaaaaahh!"
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pria dengan jas kulit hitamnya tersebut berlari masuk ke dalam kantor Polisi, dimana disana sudah ada Inguk yang tengah berkutik dengan komputer didepannya dan beberapa Polisi serta detektif yang juga melakukan hal yang sama. Ada juga yang tengah memeriksa seorang pencuri dan berbagai hal lain nya.
Pria itu berlari mendekati Inguk. "Hyung, ini" pria yang sudah kita kenal dengan nama Minhyuk sebelumnya itu memberikan sebuah disk pada Inguk.
Inguk menerima sebuah data di dalam disk yang diberikan juniornya. Dia langsung memutar di Komputer dan mengamati setiap rekaman disana.
"Kenapa kau ingin lihat semua rekamannya?"
"Aku mencari seseorang" Inguk mempercepat rekaman hingga menemukan orang yang dia cari. "Nah ini"
Kedua orang itu mengamati bagaimana disana seorang pria paruh baya tidak segaja menumpahkan Sup dijas Taekwoon.
"Ini saat terjadi pembunuhan"
"Sungguh ?"
"Si pelaku tidak jeli mengambil rekamannya. Kita lihat kemana Ahjussi ini akan pergi"
"Jadi, maksud Hyung. Ahjussi ini berkaitan dengan pembunuhan?"
"Aku rasa begitu. Jika Hakyeon berada disini saat waktu pembunuhan sudah jelas bukan dia pelakunya. Sudah jelas dia akan terbebas"
"Eoh itu" Minhyuk menunjuk ke arah rekaman dimana Ahjussi itu berada di tempat parkir dan menghampiri seseorang berambut blonde.
"Itu dia. Lihatlah ! Seorang pria lagi mendekatinya" Ucap Inguk saat dua orang itu didatangi seorang pria lagi dengan jaket hitam dan topi hitamnya.
"Si Blonde itu pasti Bos nya"
Inguk memperbesar rekaman sehingga memperlihatkan dengan jelas wajah pria itu. "Cari tau siapa orang itu, dan berikan surat penangkapan".
Tbc
.
.
.
.
Chapter 10 UP !
[Dinda455] Hehe iyaa Dinda ini sudah UP kok, terimakasih sudah mampir dan review, ikutin terus yah ceritanya ^^
[aiiuukirei] Hongbinya masih polos, anak di bawah umur dia XD ,, Iya, kasian kalau Inguk ntar mojokin Hakyeon, kasian Hakyeonnya tambah musuh lagi malahan wkwk, ditunggu yh chapter selanjutnya, makasih :*
[zoldyk] Udah lama nggak keliatan kamu :v .. ^^ Thankyou ya, ditunggu chapter selanjutnya ^^
[HMYgrey] Masa lalu Leo yang kelam masih jadi rahasia. XD , biarkan waktu yang menjawab, hehehe semangat buat km juga. Terimakasih uda ngikutin, ditunggu yh chapter selanjutnya ^^
[GaemGyu92] XD sabarr eonni sabaaarrr, nanti darah tinggi gara gara FF loh, kan gk mainstream XD Episode ini uda nggak sebel kan, tuh Hakyeon nya uda bebas, salah satu pelakunya juga ada yang mau ketangkep hehe, di tunggu yh eonni chapter selanjutnya ^^
[Hakyeon Jung] Amiiinn~~~ Amiinn~~~ XD Loh wkwk nyatuin merekanya di FF Lain yh Eonni, tapi Eonni yang bikin wkwkw Jisoo sama Nam JooHyuk nya. Kerabat jauh ya, walaupun sebenarnya uda nggak ada hubungan loh, secara kaya Eonni tuh mantan istrinya Hakyeon, berarti Eonni belum tentu masih jadi keluarga Hakyeon wkwkwk.. Eonni nya yg di bully XD, aku masih geli kesalahan ku beberapa hari yang lalu. PM Eonni tuh serasa jebakan Badman -_- Ravi nya di hemat Eonni, jangan sering dikeluarin nanti pada ngamuk semua saking jengkelnya sama dia XD :* Ditunggu next chapter Eonni sayang~ :*
[Kim Eun Seob] Okee ini sudah Up eonni ^^
[RetnoFujoshi] Hahaha iyaa Beb, ini sudah next kok ^^ Makasih yah sudah mampir, di tunggu chapter selanjutnya
Okee, di tunggu chapter selanjutnya yah, jangan lupa review nya ^^
N-nyeeooooong~~
