Love BEFORE-AFTER
.
.
#10
SehunKai(GS)Chanyeol !Slight
Hurt/Comfort
Marriage AU
T+/PG-15
.
.
DontLike, DontRead!
.
Be good Readers..
.
Happy Reading
Jongin menekan bel, terdengar sahutan dari dalam. Dia menunduk memainkan ujung sepatu. Hari ini dia pergi mengunjungi rumah orangtuanya, melepas rindu sekalian memberikan benda yang dibelikan Sehun untuk mereka.
Ah, Sehun..
"Oh? Jongin? Putri kecilku..masuklah."
Jongin terkekeh mendengar panggilan masa kecilnya. Masih sama seperti dulu. Dia memeluk dan mencium pipi sang ibu lalu menarik wanita itu duduk di sofa. Wanita yang sangat bahagia saat mendengar dia menyetujui pernikahannya dengan Sehun. Wanita ini tak tahu apa yang disembunyikannya dengan Sehun. Kira-kira apa yang dirasakan ibunya saat melihat keserasian palsu diantara mereka?
Jongin menatap kedua mata ibunya, disana ada lekukan bulan sabit sama sepertinya. Yang akan terbentuk kala mereka tersenyum lebar. Gadis itu tersenyum, menyesal membohongi ibunya.
"Ah! Ibuu..Aku merindukanmu." rengek Jongin tiba-tiba seraya menangkup pipi ibunya. Nyonya Kim tertawa, menarik pelan hidung anaknya sayang.
"Aku juga, mana Sehun? Suami mu itu pasti bekerja. Ya kan?" Jongin mengangguk membuat Nyonya Kim menghela nafas pelan. Wanita itu kecewa tidak dapat bertemu menantu nya. Jongin dapat menebaknya.
Jongin buru-buru mengulurkan barang yang dipegangnya, "Sehun membelikan kalian barang antik di sana kemarin. Em, semoga ibu suka katanya."
Jongin melihat sendiri bagaimana raut ibunya berubah saat mendengar nama Sehun. Sejenak Jongin berpikir, kenapa harus sesenang itu?
"Wah? Ayahmu pasti suka. Bilang padanya, terima kasih ya?" Jongin mengangguk dengan senyum tipis. Dia memejamkan matanya saat tangan halus ibunya mengelus pipinya lalu menepuk pelan kepalanya. Saat ibunya beralih mencubit pipinya, Jongin tertawa.
"Ibu, sudah. aku lapar. Buatkan aku sesuatu?" Manja Jongin menggoyangan lengan ibunya, beliau tertawa pelan gemas melihatnya.
"Baiklah, jangan nakal ya?"
"Ah iya-iya. Cerewet."
Mereka pergi ke dapur, Jongin duduk di kursi kayu mengamati punggung renta ibunya. Wanita itu mengambil beberapa lauk dari lemari es kemudian berlari kecil menghidupkan kompor. Jongin tersenyum. Dia memangku dagu pada sandara kursi.
"Apa kau masih belum belajar memasak, sayang?" Jongin meringis mendengar koreksi Ibunya.
"Err.. Ya?" terdengar decakan, Jongin tersenyum menemukan kepala ibu nya menggeleng kesal. Ibunya menoleh sekilas memberinya tatapan tajam.
"Kau sudah menikah. Kau mau memberi makan Sehun apa? Hm?"
"Kami memesan makanan, ibu." balas Jongin pelan. Dia senang mendengar ibunya mulai berbicara panjang-lebar karena ucapannya barusan. Hal yang tidak didapatkannya selama sebulan setelah menikah.
Jongin beranjak mendekat, "Ibuu, boleh aku menginap?" tanyanya setelah melingkarkan lenganya pada perut Nyonya Kim. Dia meletakkan dagunya di bahu ibunya.
"Kenapa? Kau bertengkar dengan Sehun?" Suara lembut ibunya mengundang kabut di manik Jongin. Dia diam tidak menjawab, hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Lalu kenapa hm? Kalian kan baru pulang bulan ma—"
"Ibu.." Potong Jongin berbisik, dia mengeratkan pelukannya.
"Hm?"
"Tidak ada." Jongin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya. Dia menangis tanpa suara saat merasakan elusan sayang di rambutnya.
'Tidak ada apa-apa..'
I'm so scared that you will see
( aku sangat takut kau akan melihat )
All the weakness inside of me
( semua kelemahan dalam diriku )
I'm so scared of letting go
( aku sungguh takut pada melepaskan sesuatu )
That the pain I've hide will show
( Luka yang selama ini ku sembunyikan akan diketahui )
I know you want to hear me speak
( aku tahu kau ingin mendengarku berbicara )
But I'm afraid that if I start to
I'll never stop
( tapi aku takut jika itu terjadi aku mungkin takkan berhenti )
Jongin pergi menggunakan taksi, menatap kosong luar kaca mobil. Dia melihat anak-anak sekolahan pulang dengan senyum ceria. Mentari sore hari ini terasa sedikit berawan, mungkin nanti malam akan turun hujan. Pikiran membawanya mengingat apa yang dikatakan ibunya sebelum ia pulang dari sana.
Wanita itu memberi nasihat padanya agar masalah sekecil apapun dengan Sehun harus dibicarakan. Dia berkata, akan sayang sekali jika mereka pasangan baru bertengkar pada bulan pertama pernikahan. Itu akan menjadi pertanda buruk. Jongin mendengus mengejek pada dirinya.
"ibu..kau hanya tak tahu." gumam nya pelan.
"Berhenti pak." ucap gadis itu kala gedung apartemennya telah terlihat. Dia membayar setelah itu berjalan masuk ke dalam. Dia pun menunggu denting lift terbuka lalu dengan segera menekan tombol ke enam, lantai dimana apartemen Sehun ada.
Keadaan lift sangat sesak, dia menjadi orang terakhir yang memasukinya. Bahunya berdesakan dengan beberapa penghuni gedung ini. Ada beberapa wajah familiar, Jongin ingat mereka ada tetangga Sehun. Mereka adalah keluarga berkewarganegaraan inggris yang menetap cukup lama di korea. Hanya tiga kali Jongin pernah bercakap dengan mereka, itupun dia dekat hanya dengan sang bungsu mereka—yang kebetulan umurnya dua tahun dibawah Jongin.
"Hai nunna?" Jongin menoleh, melempar senyum ramah.
"Oh hai kau."
Bungsu mereka bernama Vernon, pemuda itu mempunyai wajah tampan. Jongin tak begitu heran mendapati dua-tiga gadis pernah masuk apartemen mereka. Dia yakin itu penggemar Vernon. Meski begitu Jongin sudah menganggapnya adik sendiri.
"Nunna, seperti nya ada pria tinggi mencarimu tadi. Siapa dia?" Jongin mengangkat alisnya bingung.
"Siapa?" Vernon menggidikkan bahunya tidak tahu, lalu mengacuhkan Jongin dengan lanjut memainkan game ponsel.
"Ash, dasar kau.." kesal Jongin melirik pemuda disampingnya.
.
.
.
.
"Hei? Apa yang kau lakukan disini?" Jongin mengguncang bahu pria jangkung yang tengah meringkuk didepan pintu apartemennya. Pria itu reflek langsung berdiri menatap antusias Jongin.
"Ah, Jongin?"
"Bodoh.. Ayo masuk."
Jelas saja Jongin bingung mendapati Chanyeol tiba-tiba muncul disini. Dia khawatir jika yang ditemui Chanyeol bukan dirinya melainkan Sehun. Bagaimana kalau itu terjadi?
Jongin menyuruh Chanyeol duduk di sofa, membawakannya teh melati hangat dari dapur. Dia lalu mendudukkan diri menghadap Chanyeol. Dia terus menatap menuntut pada pria bertelinga lebar yang kini tengah menyeduh teh yang dibuatnya.
"Tau darimana kau alamatku?"
Chanyeol menatap Jongin dengan senyuman lebar, " rahasia." jawabnya membuat Jongin kesal.
"Kenapa kesini?" Jongin kembali bertanya, kebingungannya tidak bisa hilang melihat raut kelewat senang Chanyeol. Dia mengenal Chanyeol sangat lama, apapun maksud pria ini..Jongin yakin hanyalah karena alasan sepele.
"Aku merindukanmu." balas Chanyeol dengan tatapan teduhnya, Jongin mengalihkan pandangan. Tatapan Chanyeol membuatnya mengingat rasa bersalah nya karena pernah melukai pria baik seperti nya.
"Hanya itu?" Chanyeol mengangguk, membuat senyum menghampiri wajah Jongin. Gadis itu tidak bisa menahan nya saat melihat Chanyeol memberikan ekspresi menggemaskan seperti tadi.
"Bagaimana bulan madu mu?"
Jongin mengerang, memukul bahu Chanyeol pelan. Dia tak suka mengingatnya, "Buruk."
Chanyeol tertawa memegang tangan Jongin agar berhenti memukulinya, tidak.. Ini tidak sakit. "Dan mana oleh-olehku?" Dia menengadahkan tangannya meminta barang yang dijanjikan Jongin padanya kemarin. Lewat twitter, Jongin mengiriminya banyak foto menyenangkan disana.
Jongin berlari ke kamar, mengambil beberapa kantong kertas lalu membawanya pada atas telapak tangan Chanyeol. Pria itu terperangah, geli melihat Jongin yang menunggu kata-kata dari mulutnya.
"Terima kasih." Jongin mengacungkan jempolnya lalu kembali duduk. Mereka mulai bercanda seperti biasa, namun terkadang hanya Jongin yang terkekeh karena berhasil menggoda Chanyeol.
"Jongin?" Jongin menoleh, menatap tanda tanya pada Chanyeol yang kini memberinya raut heran.
"Kau sedikit pendiam hari ini." komentar pria itu. Jongin tidak menjawab hanya mengangguk dan terkekeh pelan. Dia menghiraukan tatapan Chanyeol yang seakan melubangi kepalanya.
Detik berjalan, tak terasa jarum jam menujuk angka 8 malam. Jongin tergelak, dia menatap cemas Chanyeol. Sehun akan pulang sebentar lagi. Dan dia masih tak mau mereka berdua bertemu.
"Chan!"
Chanyeol ditarik Jongin menuju pintu dengan langkah terburu, pria itu memasang wajah bingung yang ketara. "Apa? Hey! Kenapa?" Pria itu mengguncang bahu Jongin, mencoba membuat gadis itu sadar dan kembali tenang.
Jongin terus menengok jam dinding di dalam, "Kau harus pulang." tatap Jongin lurus. Chanyeol menggeleng, dia memberi Jongin tatapan protes. Dia masih ingin berbicara dengan Jongin.
Jongin mengerang kesal, "Chanyeol!"
"Kau mengusirku?" tanya Chanyeol tak percaya, dia tidak menerima perilaku Jongin yang seperti ini. Dia sengaja mengulur waktu.
Jongin menggeleng lanjut mendorong punggung tegap itu keluar pintu, tapi nyatanya pria itu menahan nya dengan kedua tangan di tembok.
"Yeol!"
"Aku tidak mau!" Chanyeol menoleh kesal, "Kau kenapa?"
"Aa! Sakit!" Jongin memukul bahu Chanyeol keras melampiaskan kekesalannya. Walau kawannya itu memekik kesakitan, Jongin tidak perduli melainkan terus memukul Chanyeol lebih keras.
"Aku pulang." Pintu terbuka dari luar, mengeluarkan bunyi khas. Terlihat pria tinggi lainnya memasuki ruangan, namun terhalang dua orang. Dia berucap dengan dingin.
Kedua sahabat itu menoleh, salah satunya membulat lucu. Jongin berhenti memukuli Chanyeol, dan menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Lain dengan Jongin, Chanyeol menatap tajam pria yang dikenalnya sebagai Oh Sehun dari artikel yang dibaca nya beberapa hari yang lalu.
Kini yang dilakukannya adalah penilaian kecil. Pria pucat didepannya memiliki tatapan tajam, Chanyeol mengakui jika artikel-artikel itu benar—Suami Jongin berwajah rupawan. Terlalu baby face di umur 30-an nya. Sial, Chanyeol berdecak sambil mengalihkan pandangan meremehkan.
'Jadi ini..Sehun?'
Sehun hanya menatap dua manusia didepannya datar, saat itu Jongin. Sehun melempar tatapan dingin. Dia berjalan melewati mereka dan langsung memasuki kamarnya. Jongin berbalik mengikuti langkah Sehun dengan matanya.
"Baiklah, mungkin aku harus pulang." Chanyeol menepuk bahu Jongin agar gadis itu kembali terfokus padanya. Dia melihat anggukan kecil Jongin serta senyuman tipis yang sangat dirindukannya. Oh betapa ingin dia melihatnya setiap hari. Tapi dia sadar.. Jongin telah menikah. Meskipun dia tau gadis itu tidak menyukai suaminya. Tetap saja tak ada yang tau isi hati wanita.
Chanyeol membingkai wajah Jongin mendekat, saling menatap membalas tatapan bingung Jongin dengan senyum kecil.
"Jaga dirimu, okay?"
Jongin mengerjap, rasa panas menghampiri kedua pipinya. "Menjaga dari apa?" dia melihat Chanyeol tertawa pelan. Dia sangat tampan jika seperti itu.
"Dari suamimu." Canda Chanyeol mendapat rengutan dari Jongin.
"Ash.. Sana pulang." dengan kesal menyentak tangan Chanyeol lalu mendorong tubuh tinggi itu keluar. Mereka tertawa tanpa sebab kemudian saling melambaikan tangan.
"Selamat malam."
Jongin menatap punggung Chanyeol dengan senyuman lebar, dia senang dengan kedatangan pria itu kesini. Walau hanya sebentar. Tak masalah besok atau lusa, dia akan balas berkunjung ke tempat Chanyeol. Dia melihat pungung itu menghilang dibalik pintu lift, Jongin menghembuskan nafas. Bahunya terasa berat dan ringan di waktu yang bersamaan.
"Selamat malam juga, Yeol." Ucapnya pelan sebelum menutup pintu.
"Kau lapar?" Tanya Jongin setelah melihat Sehun keluar dari kamarnya. Dia sedang menonton tv dengan semangkuk popcorn di pangkuan. Sepertinya Sehun tidak mengganti seragam kerjanya. Kemeja yang dikeluarkan dan celana kain hitam di tungkainya. Well masih keren.
Sehun berjalan mendekat mendudukkan diri di samping Jongin gusar. Jongin merengut membuang muka ke layar tv karena Sehun tidak menjawabnya.
"Ya sudah!" Hening. Suara dentingan pedang dari film di televisi memenuhi ruangan. Mata Jongin menatap antusias tiap adegan di layar persegi di depannya tanpa menghiraukan manusia di sampingnya.
"Hei?" Kunyahan mulut Jongin terhenti mendengar suara berat Sehun. Dia berdehem menyahut.
Tapi lama tak ada balasan, membuat Jongin menoleh. Dia akan bertanya tapi urung melihat Sehun yang mengelus random bahu dan lehernya. Gadis itu mengerti, mungkin pria itu terlalu lelah hari ini. Mereka baru pulang kemarin, dia sadar pekerjaan Sehun tidak mungkin berkurang walau memiliki bawahan yang dapat diandalkan.
"Perlu bantuan?" Sehun melirik Jongin berminat namun wajahnya masih tanpa ekspresi. Dengan cepat Jongin menunjuk bahu Sehun.
"M-maksudku.. Itu bahu mu." gagap Jongin meralat perkataannya. Sehun tidak menjawab hanya mengangguk, turun dari sofa lalu duduk memunggungi Jongin. Dia menepuk bahunya menyuruh gadis itu cepat bertindak. Pekerjaan kantor yang menumpuk dan beberapa masalah di tiga divisi membuat kepalanya serasa pecah.
"Uh, bahu mu kaku. Apa yang kau lakukan hari ini?" Jongin mengumpat, tangannya memijat bahu Sehun dengan telaten. Dia belajar dari neneknya, sayang beliau sudah pergi sepuluh tahun yang lalu.
"Investor sialan." gumam Sehun merenggangkan leher, dia merasakan bagaimana tangan Jongin menyentuh bahunya dengan lembut. "Kau berguna juga." gumamnya pelan.
"Apa maksudmu? Aku selalu mengurus Vivi dan hewan peliharaanmu yang lain, me-laundry pakaianmu, memesakan makanan untuk kau makan." gerutu Jongin menatap tajam kepala Sehun. Dia merasa tersinggung atas ucapan suaminya, dia berucap seolah selama ini Jongin selalu merepotkan dan sama sekali tidak berguna. Meski begitu kedua tangannya tetap bergerak memijat-mijat bahu beralih ke lengan kanan Sehun.
Sehun mendongakkan kepalanya ke atas, bertemu tatap dengan mata bulat Jongin. Pijatan di lengannya terhenti. "Siapa tadi?"
Dia yakin melihat Jongin merona samar, "Chanyeol?" manis.
Sehun berdehem, dia memperhatikan setiap ekspresi Jongin. Gadis yang dinikahinya sebulan yang lalu, gadis yang sejak pertama bertemu sudah dibencinya, juga gadis yang selalu membantu menyiapkan kebutuhannya.
Jongin menunduk, "dia sahabatku. Kenapa?"
Sehun menatap bibir Jongin diatasnya, mengkhilap akibat cahaya tv didepan mereka. Jika diingat sudah dua kali dia mencium bibir penuh itu. "Menunduklah lagi." perintahnya tanpa sebab, jauh dari topik.
Jongin yang tidak tahu apa-apa hanya menurut, dia menundukkan kepalanya sampai hanya berjarak sejengkal dari kepala Sehun yang mendongak.
"Seperti ini?"
"Hm ya."
Sehun mengangkat kedua tangannya keudara, membawanya melingkar di tengkuk Jongin. Dia menekan tengkuk itu agar lebih mendekat.
"Pak tua!" pekik Jongin dengan suara berbisik. "A-apa yang kau lakukan?" bisiknya lagi. Suara nya hampir hilang karena keterkejutannya.
Jongin menahan kepalanya agar berhenti bergerak, bahkan keningnya hampir bertemu leher pucat Sehun. Dia memejamkan matanya erat.
"Hanya satu ciuman."
Kiss
Sehun menempelkan bibir Jongin dengan miliknya, walaupun dengan posisi terbalik dia masih bisa mengulum bibir bawah Jongin. Dia menjilat permukaan bibir plum Jongin, bergumam merasakan rasa cherry disana.
Tangan Jongin berada di bahu Sehun, dia meremas kemeja pria itu saat bibir lain menyentuh miliknya. Terkadang Jongin tidak mengerti. Kenapa dengan Sehun atau hidupnya.. Kenapa dengan ini semua.
"Se—umhh.."
Walau Jongin telah memberontak kecil, ada perasaan aneh menguar di perutnya. Bibir tipis Sehun bergerak mengulum lalu mengigitnya keras. Dia memekik membuka belahan bibir nya hingga tanpa sadar—
"Nghh.."
Sehun mengelus tengkuk Jongin, membuat gadis itu melengguh pelan. Dia mengecup bibir itu sebelum melepas ciuman singkat mereka. Dia hampir melakukan sesuatu jika bukan karena akalnya masih waras.
Jongin menahan nafasnya untuk beberapa detik, dia tetap menunduk menatap Sehun yang kini ada dipangkuannya. "Kau.."
Sehun memejamkan matanya, "Bangunkan aku jam dua belas nanti." potongnya dingin tak memperdulikan tatapan linglung Jongin.
Sebagai perempuan Jongin berhak bertanya, dan sekali lagi itu adalah pertanyaan yang sama.
"Apa kau sedang bermain denganku huh? Kenapa?" tanya nya pelan tak ingin membangunkan paras lelah suaminya. Dan Jongin hanya bisa menatapnya tanpa mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang kini berputar di kepala.
"Kenapa?"
.
.
.
.
"Ini kopi mu."
"Hm"
Jongin menatap jengah Sehun yang kini membingkai wajahnya dengan kacamata minus. Dia tampan, Chanyeol juga. Mereka tampan sekali jika memakai kacamata. Tapi untuk hal ini dia lebih memilih Chanyeol.
Jongin mendudukkan diri di lantai beralas karpet hitam, tepat disamping Sehun yang menatap layar laptop dengan wajah serius. Dia memandanginya dari samping. Dari rambut, mata dan garis hidung yang tinggi seperti itu.. Tak heran banyak wanita yang menyukai pria ini.
"Apa kau akan terus menatapku? Lebih baik kerjakan sesuatu yang berguna, Kim." Jongin tersentak, tersadar dari lamunan konyolnya tentang Sehun. Dia menegakkan tubuhnya seolah dia adalah pencuri yang baru saja tertangkap basah.
"Maaf." Sehun mengangguk, menyeruput kopi di mug bergambar krong—milik Jongin. Dia tidak mengerti kenapa gadis itu menyukai tokoh karakter yang hanya bisa berbicara satu kata ini. Perihal bodoh. Oh ya, Jongin masih termasuk bocah.
"Kudengar kau mengambil jurusan management dulu." Jongin menoleh, mengumamkan kata 'ya' sebagai jawaban. Dia melihat Sehun memberinya beberapa kertas dalam map kuning.
"Apa ini?"
"Aku hanya mengetes. Sekarang baca itu."
Jongin kembali merengut tak suka diperintah seenaknya oleh Sehun. Meski begitu dia menurut, gadis itu menunduk. Membaca setiap lembar dengan teliti, terkadang mengangguk-angguk melihat kurva atau diagram di sana. Dia menoleh pada Sehun dan mengembalikan berkas itu di meja.
"Apa ada masalah dengan perusahaan?" Tanya Jongin, ia ikut menatap layar laptop lalu sekilas memperhatikan lagi raut wajah Sehun. Pria itu mengangguk.
"Apa ada yang bisa kubantu?" sambungnya kala mata tajam itu menatapnya. Dia baru kali ini melihat Sehun sangat lelah seperti sekarang. Pria itu menghembuskan nafasnya berat.
"SQ enterprice ingin memutuskan kerja sama" dengus Sehun lalu mengumpat meremas rambutnya kesal.
Jongin mengambil kembali berkas yang ditaruhnya di atas meja, lalu membuka lembar kedua dan mulai membaca nya. "Sepertinya mereka investor tertinggi, apa kau tau alasan mereka?" dia terkejut melihat nominal angka yang terera.
"Tsk, mana kutahu." Jongin melirik Sehun dongkol, kenapa pria itu marah malah dilampiaskan padanya.
"Tapi kudengar presdir muda mereka bilang kalau perusahaan kita hanya berjalan ditempat. Bukan berarti tidak stabil. Gez, brengsek." ralat Sehun lagi-lagi mengumpat. Jongin mengerjap menatap terperangah pada sosok baru Sehun. Woah, pria itu benar-benar sedang marah.
"Kita?" Sehun menatap datar Jongin.
"Kau tidak tau jika kau memiliki sebagian saham disana?" Mata Jongin membulat sempurna, ia menutup mulutnya terkejut.
"Benarkah?" Mata sehun hanya berputar jengah. Dia mengangguk singkat sebagai jawaban dan mulai mengetik sesuatu di laptop.
"E-em, biar ku lihat."
Sehun memperhatikan Jongin yang kini mengamati laporan keuangan tahun ini lalu membandingkannya dengan laporan setiap bulan yang sudah ia print-out tadi. Wajah Jongin terlalu serius, membuat senyum samar hinggap di bibirnya.
"Sehun.." panggil Jongin membuat pria itu mendekat.
" Err..mungkin memang keuntungan perusahaan termasuk dalam kategori stabil karena kita sama sekali tidak rugi. Hanya saja, untuk kenaikan 0,3 % dari tahun lalu, itu bukan prestasi yang luar biasa mengingat perekonomian negara juga menurun drastis tahun ini. maksudku, jika di bandingkan dengan kurs mata uang negara tahun lalu dan tahun ini dengan pendapatan perusahan tahun lalu dan tahun ini." ucapnya seraya membolak balik kertas putih di pangkuannya.
Ada banyak nominal angka, dia bisa menebaknya hanya dengan menghitung manual. Itu membuat Sehun sedikit kagum. Bertanya darimana gadis ini memperlajarinya.
"Lalu kenapa? Kita tidak mengalami kerugian." tanyanya berpura-pura tidak mengerti. Hanya taktik untuk mengetes sampai mana Jongin akan berbicara.
"Kau benar. Tapi lihat.. Kita mengalami penurunan hingga 0.17% " Jongin memperlihatkan tabel serta kurva penjualan perusahaan per tahun pada Sehun. Pria itu mengangguk setuju tapi tidak memberikan tanggapan yang berarti.
"Kurasa presdir baru itu benar. Kita tidak mendatangkan keuntungan,dan mereka mungkin sedang mencari perusahaan lain untuk investasi." Ujar Sehun menutup laptopnya lalu memasukkan benda itu ke dalam tas khusus. Dia mengambil alih kertas di tangan Jongin, menumpuknya dengan berkas lain.
Jongin menatap Sehun cukup lama,sebelum satu ide terlintas. "Sehun!?"
Pria itu menoleh, dia berdiri di ambang pintu. "Hm?"
"Bagaimana dengan meluncurkan produk baru? Pemanas ruangan? Kudengar tahun ini akan menjadi musim dingin terpanjang." Jongin berucap dengan antusias. Dia melihat Sehun tersenyum dan mengangguk.
"Bisa jadi? Kita bicarakan besok. Tidurlah. Dan terima kasih."
"Ah, sama-sama."
Senyum Jongin belum luntur, itu masih menghiasi wajahnya bahkan sampai ia berbaring si atas ranjangnya. Dia menutupi badannya dengan selimut tebal. Ada perasaan senang dan bangga setelah mengucapkan idenya pada Sehun.
Mendapat satu senyum dan kata terima kasih adalah hal sepele. Jongin tidak mengerti kenapa rasanya aneh hingga hati nya meletup-letup kelewat senang.
"Akhh! Ya tuhan! Singkirkan dia!"pekik Jongin menutup seluruh tubunnya dengan selimut. Dia menyadari hal bodoh apa yang barusan dilakukannya.
"Aaa!" teriak Jongin tertahan bantal.
06.45
Jongin keluar dari kamar nya, dengan mulut yang menguap keras. Setelah melihat jam, dia yakin Sehun sudah berangkat sepuluh menit yang lalu. Jongin berjalan menuju dapur, memeriksa apa yang dijadikan pria itu sarapan.
"Hm?" setelah membuka tudung saji, mendapati dua lapis sandwitch disana di atas piring. Dia mengambil kertas yang tak jaih dari letak roti isi tadi. Dia tersenyum.
Sebagai ucapan terima kasih. Makan.
-S-
Jongin berdecih membacanya, "dia tidak manis."
Dia mengambil sandwitch itu dan membawanya masuk ke kamar. Dia memakannya dengan hati yang mendadak merasa senang. Hmm. Entah darimana Sehun mendapatkan ini, rasanya sangat enak.
Drrt drrt
"Oh! Halo?"
"I-ibu?" Jongin menelan gigitan terakhirnya. Dia hampir tersedak saat melihat nama siapa yang tertera di layar.
"Ibu! Ups—"pekik Jongin tak sengaja, dia menutup mulutnya.
'Jongiin, Kenapa kalian tidak mengunjungi kami? Nenek Sehun sedang sakit sekarang.' rengek seseorang di sebrang sambungan.
Jongin berjalan mondar-mandir di didepan pintu, "aa—ee itu.. Sehun. Sehun—dia.. Em.."
Sial otaknya kosong, tidak ada kata yang tepat untuk beralasan. Kenapa ibu mertua harus menelponnya tiba-tiba. Disebrang sana terdengar lagi rengekan, Jongin memijat pelipisnya pelan menghadapi sifat ibu Sehun.
'Ow, kau tak mau mengunjungi kami?' tanya wanita disebrang dengan nada sedih. Mendengarnya Jongin menjadi sedikit gelapan.
"Tidak! Tidak, ukh ibu.. Sehun—Sehun dia.."
'Apa Sehun bersikap buruk padamu sayang? Katakan? Biar ku jewer dia nanti.'
Jongin mengigit bibir bawahnya ragu, "Tidak. Dia bersikap baik. Ukh, ibu? Akan kutelpon lagi nanti. Ma-maaf."
Jongin melempar ponselnya ke ranjang setelah berhasil mengakhiri sambungan. Dia berjongkok menyembunyikan kepalanya di lutut.
"Aaa Sehun! Ibumu menelpon!" tangis Jongin palsu dengan suara keras. Dia mengacak rambutnya fruatasi, bertingkah seperti anak kecil.
"Aku tidak mau, tidak mau, haaa tidak akan mau!"
.
.
.
RnR?
.
.
Tbc
N.o.t.e::
Hai aku balik^^ :'v masih 3k niatnya mau dinaikin lagi 4k. Tapi belum bisaaa. Akh
Sehun ama Jongin dikit ya moment nya, duh :"( /di smack Sehun/ maap chap depan dibanyakin xD
Aduh ada akang vernon nyempil, :"( bias ke lima di 17 :'v
Dan ihh Chanyul mah, kok brani pegang" pipi nini aaaaa terinspirasi dari adegan di drakor anu xD
Wkwk, lebay bgt :"v uda lha. Ntar meledak. Makasih yg review kemaren. Doain selalu bahagia deh xD
TFYR 3
