SLEEP WITH THE DEVIL
.
.
© Santhy Agatha
.
REMAKE!
.
HAEHYUK
.
.
Cast : Lee Donghae - Lee Hyukjae
.
Warning : Genderswitch for Hyukjae | REMAKE.
.
.
Note : Aku tekankan sekali lagi ini adalah FF REMAKE. Cerita ini aslinya HANYA MILIK 'SANTHY AGATHA' Seorang penulis Novel terhebat. Aku hanya mengganti nama pemeran saja dgn HaeHyuk.
.
Enjoy ~
.
.
.
.
.
.
BAB 14
.
.
"TIDAK!"
Hyukjae berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya.
Hyukjae tidak tahu bagaimana perempuan hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Hyukjae langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya.
"Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Lee Donghae! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh?!"
Donghae menatap Hyukjae dengan pandangan kesakitan,
"Aku tidak bisa Hyukjae, aku tidak bisa kalau kau hamil!"
lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk.
Ketika membanting gelasnya dan menatap Hyukjae, matanya menyala-nyala,
"Spencer…..dia sempat hamil kau tahu…kemudian keguguran…"
Hyukjae tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Donghae.
Nama Spencer seakan tabu untuk diucapkan ketika Hyukjae masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Lee.
Dan sekarang Donghae sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
"Tetapi kondisiku dan Spencer berbeda, aku sehat-sehat saja…"
"Yang tidak orang lain ketahui adalah Spencer hamil lagi setelah keguguran itu,"
Mata Dongahe nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Hyukjae di ruangan itu,
"Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Spencer berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya," Nafas Donghae tercekat,
"Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Spencer sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah….kehamilan itu yang Membunuhnya!"
"Tapi aku tidak sama dengan Spencer, Donghae," Hyukjae menyela, berusaha mengembalikan Donghae ke masa kini, "Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku."
"AKU TIDAK MAU KAU SAKIT KARENA KEHAMILANMU!"
Donghae menyela marah dan ketika menyadari wajah Hyukjae memucat karena suaranya yang meninggi, Donghae memperlembut suaranya, tatapannya memohon,
"Aku minta padamu Hyukjae, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi."
.
.
.
.
Dada Hyukjae bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Donghae dan betapa egoisnya dia!
Betapapun Donghae merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Hyukjae, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Hyukjae ini adalah darah dagingnya, anaknya!
Sebegitu tidak berharganyakah Hyukjae di mata Donghae sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Donghae kepada Spencer?
"Tidak Donghae," Hyukjae menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap.
"Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya. Meskipun kau hanya menganggapnya sampah…" Hyukjae menatap Donghae dengan tatapan terluka yang dalam,
"Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga...dia adalah anakku dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku."
Donghae tertegun mendengar ancaman Hyukjae itu, dia menatap Hyukjae dan menyadari perempuan itu terluka.
Donghae terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya dan itu melukai Hyukjae.
Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,
"Dengar Hyukjae, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku-"
"Aku tidak ingin menentangmu!" Hyukjae setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai, "Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Spencer, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku?! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga?! ANAKMU JUGA!"
Anakmu juga.
Kata-kata itu terasa menusuk dada Donghae hingga membuatnya mengernyit.
Anaknya juga…
Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Donghae pernah mengalaminya sekali dan jika dia harus mengalaminya lagi…
"Mungkin nanti kau akan berubah pikiran."
"Tidak akan Donghae."
Hyukjae menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi.
Dan Donghae menatapnya dengan cemas, "Apakah kau pusing lagi?"
"Ya," Hyukjae mengerang dan memijit kepalanya.
"Aku akan mengambilkanmu air," Donghae menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Hyukjae, "Ini…minumlah."
Hyukjae menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Donghae meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang.
Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan.
Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Donghae langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi.
Tetapi sekarang keadaan berbeda. Donghae tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Hyukjae-lah yang pertama kali memecah keheningan, "Kau ingin tidur?"
Donghae menatap ke sisi tempat tidur yang kosong.
Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah.
Hyukjae menggeser tubuhnya memudahkan Donghae untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan.
Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
.
.
.
.
Pagi harinya suasana begitu dingin, Donghae seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Hyukjae tetap waspada.
Mengingat sifat Donghae, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya.
Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu?
Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Hangeng.
Hyukjae mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Donghae lebih mementingkan kenangannya akan Spencer daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Hyukjae harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
"Anda akan mempertahankan anak itu kan?," suara Hangeng menyentakkan Hyukjae dari lamunannya.
Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Hyukjae.
Hyukjae menatap Hangeng dan mencoba tersenyum, Hangeng sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Hangeng pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Donghae.
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini."
Senyum terukir di bibir Hangeng, "Tidak nyonya, Tuan Donghae tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan Donghae menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Lee yang harus saya hormati pula."
Kelegaan meliputi hati Hyukjae, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Hyukjae menatap Hangeng dengan ragu,
"Apakah kau tahu bahwa Spencer meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?"
Hangeng menatap Hyukjae hati-hati dan menganggukkan kepalanya,
"Saya tahu, setelah kematian nyonya Spencer. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Donghae, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Spencer. Nyonya Spencer bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil…"
Hangeng menghela nafas panjang dan menatap Hyukjae lembut, "Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Donghae."
"Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Spencer, dia menganggapku sama seperti Spencer," Hyukjae memejamkan matanya pedih.
"Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya,"
Hangeng menatap perut Hyukjae dan tatapannya melembut di sana, "Saya yakin Tuan Donghae tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Spencer. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat. yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Donghae adalah karena dia peduli kepada Anda?"
Peduli kepadanya?
Bagaimana bisa?
Donghae menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
"Tuan Donghae menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Spencer, dia takut kehilangan Anda."
Hyukjae menatap Hangeng dengan tak percaya, "Dia tak mungkin takut kehilanganku."
"Percayalah kepada saya," Hangeng tersenyum lembut. "Tuan Donghae memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu,"
Hangeng membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Hyukjae dalam keheningan.
.
.
.
.
"Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?"
Hyukjae menatap Donghae yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Donghae memasuki kamar sedemikian larut dan lelaki itu tampak lelah.
Donghae menatap Hyukjae sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama hitamnya,
"Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam."
Dengan kasar Donghae menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Hyukjae,
"Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu."
"Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah."
"Kita akan berdebat lagi malam ini ya," Donghae mendesah lelah, "Aku lelah Hyukjae, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu."
"Donghae," seru Hyukjae setengah marah, "Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!"
"OKE!" Lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka, "Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu…Tetapi..." mata Donghae menajam, "Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi."
Donghae mengalah.
Hyukjae terpana, sebelumnya Donghae tidak pernah mengalah secepat itu. Hyukjae tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati-matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini dan Donghae semudah itu mengalah kepadanya.
"Kenapa?" Donghae menatap Hyukjae marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Hyukjae,
Hyukjae langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, "Tidak-tidak ada apa-apa."
"Tetapi aku punya satu syarat," gumam Donghae tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Hyukjae terkesiap dan menatap Donghae waspada dan reaksi itu membuat Donghae menahan tawanya.
"Tenang Hyukjae, kau tegang seperti senar yang akan putus. aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu."
"Apa syaratmu?"
Pandangan Donghae berubah sensual, "Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu."
Pipi Hyukjae memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Donghae.
Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Donghae mengganggu kehamilannya..
"Baik," Hyukjae mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, "Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku."
Donghae hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Hyukjae, matanya menyala dengan sensual, "Apakah kau masih pusing seperti semalam?"
Hyukjae tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Donghae yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya.
Donghae pasti akan bercinta dengannya ketika Hyukjae sudah tidak pusing. Dan Hyukjae tidak akan bisa.
Tidak akan mampu menolak pesona gairah Donghae.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit, "Sebenarnya aku masih pusing."
"Benarkah?" Donghae menatapnya tajam bercampur kecemasan, "Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah."
"Sudah…" sedikit geli Hyukjae melirik Donghae, tetap berusaha berakting kesakitan.
Lelaki itu menatap Hyukjae lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Hyukjae bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Donghae sudah siap, keras dan bergairah di sana.
Lelaki itu sudah begitu bergairah dan Hyukjae tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa… tetapi tidak!
Hyukjae tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Donghae, Hyukjae ingin menghukum Donghae karena hatinya masih sakit atas usulan Donghae untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku pusing sekali," Hyukjae sengaja membuat suaranya terdengar lemah, "Aku mau tidur,"
Dengan gerakan sakit dibuat-buat Hyukjae mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Donghae hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Hyukjae.
Dia sudah dua hari tak bercinta dengan istrinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Hyukjae yang sedang sakit kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri.
Donghae melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.
"Donghae.. " suara Hyukjae menggugah penyiksaan yang dialaminya.
"Apa Hyukjae?" Donghae menjawab kasar.
Diam-diam Hyukjae tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Donghae.
Rasakan kau, Tuan Lee Donghae yang arrogant, soraknya dalam hati,
"Aku…aku pusing…maukah kau memijit kepala dan pundakku?"
.
.
.
.
Mata Donghae menyala ketika menatap mata Hyukjae.
Perempuan ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Donghae?
Memijit Hyukjae? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Donghae bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Hyukjae di tangannya?
"Oke, berbaliklah," Donghae menggeram lagi.
Hyukjae tidak pernah meminta tolong kepadanya dan kalau Hyukjae melakukannya, itu berarti Hyukjae benar-benar kesakitan.
Jemari Donghae bergerak menyentuh kepala Hyukjae, kehelaian rambut seperti sutra yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Donghae menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh istrinya.
Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Man!
Donghae memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Hyukjae terus menerus mendesah keenakan karena pijatan Donghae.
Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Donghae mencumbunya dan itu luar biasa menyiksanya.
Kejantanan Donghae sudah berdenyut-denyut dan Donghae merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Hyukjae.
"Sudah cukup?"
"Aku masih sedikit pusing di sisi ini," Hyukjae memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Donghae ingin mengigit lembut di bagian lunak di sebelah sana.
Sial. Sial. Sial!
Sambil terus memijit Hyukjae, Donghae menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Hyukjae tampak santai, Donghae melepaskan pijitannya dengan hati-hati.
Bagus.
Hyukjae sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan.
Dengan tak kalah hati-hati, Donghae bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.
"Donghae."
Hampir saja Donghae mengerang mendengar panggilan Hyukjae,
"Apa Hyukjae?" desis Donghae serak.
"Sekarang aku sudah tak pusing lagi."
Hening.
Donghae tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Hyukjae, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
"Bagus," bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Hyukjae dan melumat bibirnya tanpa ampun.
Gairahnya yang menggelegar tidak ditahan-tahannya lagi, Donghae menyentuh Hyukjae di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh istrinya, menikmati betapa tubuh Hyukjae yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.
Payudara Hyukjae tampak lebih berisi, mungkin karena kehamilannya.
Ketika akan menyentuhnya seperti biasanya, Donghae tertegun dan menatap Hyukjae,
"Apakah aku akan menyakitimu?"
Hyukjae tersenyum meminta pengertian, "Sedikit nyeri di bagian situ," desahnya.
Donghae tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu hanya mengecup ujung payudaranya, lalu mamainkannya dengan lidahnya lembut, tangannya menelusur ke bawah dan menyentuh pusat kewanitaan Hyukjae, menemukan bahwa Hyukjae sudah siap dan bergairah untuknya.
Dengan menahan dirinya, Donghae menindih Hyukjae dan menyatukan tubuhnya, berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena istrinya ini sedang hamil, Ya ampun!
Tubuh mereka menyatu dan Donghae bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Hyukjae mencapai orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.
.
.
.
.
Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia kehamilannya Hyukjae menyadari bahwa dia menyayangi suaminya.
Ya, Hyukjae menyadarinya ketika dia merindukan Donghae saat lelaki itu tidak ada di sisinya.
Astaga! merindukan Lee Donghae adalah hal terakhir yang ada di pikiran Hyukjae, tetapi itu memang terjadi.
.
.
.
Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Hyukjae sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Hyukjae bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang perutnya.
Dengan lembut Hyukjae mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena perubahan hormon. L
Hyukjae tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Donghae, perasaannya menjadi hangat.
Oh, Donghae tidak berubah.
Masih sama, begitu dingin, kaku dan menakutkan bagi para pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang.
Gaya bercinta Donghae berubah sejak Hyukjae hamil.
Bahkan ketika usia kehamilan Hyukjae beranjak makin tua, lelaki itu tidak menyentuh Hyukjae lagi. Dia hanya mengusap lembut rambut Hyukjae sebelum tidur.
Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Hyukjae, setidaknya Donghae terlihat mencoba berkompromi.
Benarkah Donghae sebenarnya mencemaskannya?
Benarkah Donghae sebenarnya tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti Spencer?
Hyukjae tidak tahu. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak.
Teringat akan sikap Donghae selama kehamilannya. Lelaki itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi lelaki itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Hyukjae tidak ada.
Hyukjae tahu Donghae seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Hyukjae membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya dari sekelebat matanya, Hyukjae tahu bahwa Donghae sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Hangeng sudah membantunya duluan.
Pernah juga Hyukjae membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Donghae bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur.
Hyukjae juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Donghae pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang.
Terasa kencang hingga menohok ke perut Donghae. Donghae langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan dan beranjak pergi.
Sebegitu paranoid-kah Donghae dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Donghae dengan bayi ini? Bukankah keberhasilan Hyukjae mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Donghae bahwa Hyukjae adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
"Padahal kau tidak tahu apa-apa, Nak," Hyukjae mengusap perutnya dengan sayang, "Maafkan ayahmu yang konyol itu."
"Nyonya, ada yang ingin bertemu," Hangeng tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Hyukjae dari lamunannya.
Sungmin muncul di belakang Hangeng, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun.
Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya yang menyala-nyala, mata Kyuhyun,
"Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?"
Sungmin masuk, meletakkan Romeo dengan lembut di sofa dan memeluk Hyukjae.
Sejak pernikahannya dengan Donghae, Hyukjae bersahabat erat dengan Sungmin dan Donghae membiarkannya karena memang Sungmin adalah satu-satunya teman Hyukjae.
"Bagaimana kondisimu sayang?"
Mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Sungmin menatap ke perut Hyukjae yang terlihat membuncit,
"Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting."
Hyukjae menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat"
Sungmin tertawa, "Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Romeo, tapi di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan."
Dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah,
"Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu."
"Terima kasih Sungmin" Hyukjae menyentuh lengan Sungmin, benar-benar tulus dengan ucapannya.
Berhari-hari dilewatkannya bersama Donghae yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Hyukjae, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Sungnin menatap Hyukjae prihatin, "Bagaimana dengan Donghae?," Sungmin tahu kisah tentang Spencer tentu saja.
Hyukjae mendesah,
"Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada. Dan dia…tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku. Aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Spencer atau..."
"Hyukjae…." Sungmin menyela dengan lembut, "Kadang-kadang ada laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Donghae?"
"Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya." pipi Hyukjae merah padam.
Sungmin tersenyum, "Dan apakah kau mencintai suamimu, Hyukjae?"
"Aku tidak tahu," Hyukjae memegang pipinya yang mulai terasa panas, "Perasaanku berubah. Dulu aku begitu membencinya tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira. Lalu aku memandangnya dengan lebih baik, sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada. Apakah itu cinta, Sungmin?"
Senyum Sungmin melembut, "Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Hyukjae. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Donghae menjelaskan perasaannya."
Hyukjae menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang.
Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Hyukjae menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi.
Lebih keras dan menyakitkan.
Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh.
Dia mendengar suara Sungmin yang terkesiap dan mengikuti arah pandangan Sungmin, ketengah pahanya…..
Disana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi.
Apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan? Tetapi setahu Hyukjae proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah.
Tapi bukan pendarahan seperti ini.
Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya.
Hyukjae mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus dan terus hingga membasahi roknya.
Ada sesuatu yang salah di sini!
"Oh Tuhan, Hyukjae! Aku harus memanggil ambulance!"
Hangeng langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan.
Tetapi ketika kesakitan yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Hyukjae tidak kuat.
Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
Ketika Donghae menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting.
Dia langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat Hyukjae katanya dibawa.
Terengah Donghae berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Hangeng.
Napas Donghae terengah dan menatap Hangeng yang tampak pucat dan cemas.
Donghae melihat darah.
Darah di lengan dan baju Hangeng yang kebetulan berwarna putih,
"Kenapa ada darah di bajumu?"
Suara Donghae bergetar, menahan perasaan cemas yang mulai menggelegak.
"Nyonya…nyonya pendarahan..saya menggendongnya…"
Pendarahan?
Kenapa ada darah? Mau tak mau ingatan Donghae melayang ke masa bertahun-tahun lalu ketika Spencer mengalami keguguran, pendarahan yang sama, kesakitan yang sama.
"DIMANA HYUKJAE?!"
"Dokter masih menanganinya Tuan."
"Donghe,"
Suara Sungmin yang lembut mengalihkannya, "Kondisi Hyukjae kritis, dokter bilang ada yang salah dengan posisi plasentanya yang mengakibatkan pendarahan. Mereka sedang berusaha mengeluarkan bayinya."
"Bagaimana dengan Hyukjae?" suara Donghae bagaikan erangan menahan siksaan.
"Hyukjae tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulance, Donghae,"
Sungmin memandang Donghae cemas, "Mereka sedang berusaha di dalam sana."
Sungmin menoleh pada ruang operasi di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya, "Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa."
Berdoa?
Donghae sudah lama tidak berdoa. dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam ini dulunya putih bersih.
Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Spencer yang dulu dicintainya meregang nyawa.
Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Donghae setelah menguburkan Spencer, sekaligus menguburkan seluruh kepercayaan yang dulunya pernah di pegangnya.
Donghae membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat dan kemudian lama kelamaan wataknya berubah menjadi kejam.
Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan Donghae, tidak ada lagi.
Sampai ayah Hyukjae datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya.
Donghae menyadari kemiripan itu, meskipun penampilan Hyukjae di foto berbeda dengan Spencer.
Donghae tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Hyukjae yang ke dua puluh lima itu murni karena ingin menjadikan Hyukjae sebagai pengganti Spencer.
Tetapi kemudian entah kenapa Donghae jatuh cinta kepada Hyukjae, entah sejak kapan Donghae tidak tahu.
Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian dari Hangeng yang membuatnya sadar bahwa Hyukjae telah berkembang menjadi perempuan yang mandiri. Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama itu atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Donghae tidak tahu.
Yang dia tahu pasti, Hyukjae tersimpan di hatinya.
Hati yang dulu sudah dia buang, Ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan sekarang, istri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang bisa Donghae lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh.
Istri dan anaknya astaga!
Bahkan Donghae selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut Hyukjae yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya.
Hyukjae berjuang sendirian selama masa-masa kehamilannya.
Sangat jauh dari yang dilakukannya ketika Spencer mengandung, dia merawatnya, dia menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan Spencer sehat dan bahagia di setiap detiknya.
Dan sekarang, kepada Hyukjae, istrinya yang sesungguhnya sangat dicintainya, Donghae telah berbuat luar biasa jahat.
Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?
Tuhan..
Jika dia benar benar ada, Donghae rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Hyukjae.
"Kalau Hyukjae tidak dapat diselamatkan….." Suara Donghae tertelan di tenggorokannya, "Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya."
Hangeng menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang sedang cemas.
Sementara Sungmin diam-diam menyusut air matanya.
Jadi lelaki ini, yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai istrinya.
Ternyata mencintai Hyukjae dengan sepenuh hatinya. Sungmin berdoa,
Kau harus hidup Hyukjae, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam tetapi kau telah sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang lebih kelam.
.
.
.
.
.
.
Entah berapa jam proses operasi yang menyiksa itu dan Donghae duduk di sana dengan seluruh tubuh menegang dan tersiksa.
Hangeng masih menungguinya di sana, sementara Sungmin sudah berpamitan karena putranya membutuhkannya. Sungmin bilang akan kembali besok pagi.
.
Lalu terdengar tangis bayi.
Tangis bayi yang sangat kuat dan keras, seakan memompa seluruh udara yang ada ke dalam paru-parunya.
Donghae terkesiap dan saling berpandangan dengan Hangeng, tubuhnya makin menegang.
Apakah itu suara anaknya?
Tiba-tiba lampu menyala hijau dan seorang perawat keluar, memanggilnya,
"Tuan Lee Donghae."
Dongahe diajak masuk ke ruangan dalam di bagian ruang persiapan operasi yang menjadi pembatas antara ruang tunggu dengan ruang operasi,
"Ini Putera anda Tuan Donghae, kami menunjukkannya sebelum dia dibawa ke kamar bayi."
Bayi itu menangis begitu keras, seolah-olah memprotes kenapa dia direnggut dari kehangatan yang nyaman di perut ibunda-nya ke dunia yang penuh marabahaya ini.
Donghae mengamati bayi itu dengan takjub, mahluk kecil tak berdaya itu yang selama ini tumbuh di perut Hyukjae.
Darah dagingnya yang tumbuh dari percintaannya dengan Hyukjae.
Mahluk itu begitu tak berdaya dan ingatan bahwa Donghae memusuhinya dulu terasa begitu konyol.
Anak laki-laki ini anaknya.
Buah cintanya dengan Hyukjae.
Perawat itu menunjukkan alat kelamin bayi itu, anak laki-laki yang sehat dan wajahnya itu, yang bahkan sudah menunjukkan kemiripannya dengan seluruh keturunan Lee, lalu membawa sang bayi ke ruangan khusus.
Sejenak Donghae masih tertegun di sana, lalu teringat kepada Hyukjae…Hyukjae.. bagaimana istrinya?
"Suster," Donghae memanggil suster itu, berusaha agar tidak terdengar panik, "Bagaimana dengan istri saya?"
Suster itu melirik ke ruang operasi, "Masih belum sadar tuan, kondisinya cukup stabil meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi waktu-waktu mendatang. Anda bisa menengoknya nanti ketika dia sudah dipindah dari ruangan operasi ke ruangan iccu".
Lalu suster itu pergi meninggalkannya, memaksanya menunggu ke dalam ketidakpastian yang menyiksa lagi.
Kalau dulu, Donghae pasti akan membentak, memaksa, menggunakan cara kasar agar bisa dituruti kemauannya.
Dia ingin melihat Hyukjae segera! Kenapa para dokter tidak becus itu begitu lama menanganinya?!
Tetapi Donghae menahan dirinya.
Tidak. Mereka sedang menyelamatkan Hyukjae. Dia tidak boleh mengganggu mereka, karena nyawa Hyukjae taruhannya.
.
.
.
.
Ruangan iccu itu sepi, hanya ada Hyukjae dan suara detak jantungnya yang dimonitor.
Hyukjae masih belum sadarkan diri dan menurut penjelasan dokter tadi, kondisinya masih belum lepas dari kritis.
Donghae duduk di sana, disamping ranjang Hyukjae, mengamati wajah Hyukjae yang terbaring pucat pasi.
Dia pernah mengalami ini sebelumnya dan ternyata Spencer tidak pernah terbangun lagi. Akanlah Hyukjae melakukan hal yang sama pada dirinya?
"Kau tidak boleh meninggalkanku Hyukjae," Donghae menggeram parau, "Kau tidak boleh meninggalkanku sebelum aku mengizinkanmu, putra kita menunggu disana, ingin disusui. jadi kau harus bangun dan menyusuinya, membantunya tumbuh menjadi anak yang sehat..yang..." suara Donghae tertelan, menyadari bahwa dia sudah berkata-kata terlalu banyak.
Donghae lalu menyentuh jemari Hyukjae dan menggenggamnya, "Maafkan aku," bisiknya parau, "Maafkan aku karena selalu memaksamu, menyakitimu, bahkan ketika kau mengandung anakku. aku tidak pernah memperhatikanmu seperti seharusnya," Dengan lembut Donghae mengecup jemari Hyukjae, "Bangunlah sayang dan akan kutebus semua kesalahanku."
Hening.
Hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di ruangan itu, Donghae menggenggam jemari Hyukjae makin erat,
"Bangun sayang, apakah kau akan tega meninggalkanku dan putra kita? Kau bahkan belum memberinya nama, akan aku panggil apa dia?"
Mata Donghae terasa panas membakar.
Dia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi kediaman Hyukjae yang begitu berbeda dengan kesehariannya yang berapi-api membuatnya merasakan aliran dingin merayapi benaknya.
Ketika kemudian panas membakar itu berubah menjadi tetesan hangat yang mengalir di sudut matanya, suara Donghae berubah serak,
"Aku mencintaimu Hyukjae, istriku. Dan aku bersumpah akan mengabdikan seluruh kehidupanku kepadamu jika kau mau bangun dari tidur pulasmu yang menakutkan ini."
Air mata Donghae menetes di jemari Hyukjae. Dan kemudian jemari itu bergerak, membuat Donghae terpaku.
Jemari itu bergerak lagi, samar. Dan kemudian gerakannya lebih mantap.
Bersamaan dengan itu, bulu mata Hyukjae bergerak-gerak, membuat Donghae menunggu dengan cemas.
Lalu setelah penantian yang sepertinya terasa seumur hidupnya, mata Hyukjae terbuka langsung menatap mata Donghae yang basah,
"Kenapa….kau…menangis?"
Donghae langsung memasang muka sedatar mungkin meskipun perasaannya meluap-luap, "Mataku kemasukan debu."
"Oh," Hyukjae memejamkan mata lagi, sepertinya percakapan itu membuatnya lelah, "Anakku?"
"Dia laki-laki kecil yang sehat dan sempurna, tangisannya sangat keras membuat para suster harus menutup telinga dengan kapas ketika mengurusnya."
Hyukjae tersenyum dan mencoba membuka matanya lagi, "Namanya…"
"Apa Hyukjae?"
"Aku mempersiapkan namanya…" suara Hyukjae melemah, "A…..Angel"
"Angel?" Donghae mengerutkan keningnya, dari sekian banyak nama, kenapa Hyukjae memilih nama Angel?
Hyukjae tersenyum lemah,
"Dia…putra…dari seorang...Malaikat."
Aku iblis yang jahat! Bukan malaikat!
Batin Donghae berteriak keras membantah. Setelah semua yang dia lakukan kepada Hyukjae, perempuan itu masih menganggapnya sebagai malaikat?
"Men…cin…."
"Apa Hyukjae?"
Donghae berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Hyukjae karena suara Hyukjae semakin lemah,
"Mencintaimu….Donghae."
Lalu Hyukjae kembali tak sadar, meninggalkan Donghae kembali dalam tidur lelapnya.
Air mata mengalir lagi di mata Donghae, mata seorang iblis yang telah disentuh oleh sang malaikat.
Hyukjae salah, dia bukanlah malaikat. L
Hyukjae adalah malaikatnya.
Dan pernyataan cinta Hyukjae membuat dada Donghae terasa sesak. Sesak oleh perasaan meluap-luap yang tak pernah terungkapkan sebelumnya.
.
.
.
.
Kondisi Hyukjae membaik seiring berjalannya hari. Bahkan pagi ini dia sudah diperbolehkan menyusui Angel, untuk pertama kalinya.
Hyukjae menerima bayi itu di pelukan lengannya degan takjub.
Bayinya, putranya yang selama ini bertumbuh di perutnya dan dikandung olehnya, sekarang ada di dunia nyata dengan rambut tebal cokelatnya dan mata cokelat milik ayahnya yang sekarang sedang penuh air mata.
Ya, Angel sedang menangis keras-keras sekarang.
"Dia lapar,"
Suster kim terkekeh geli dan membantu Hyukjae setengah duduk, Hyukjae membuka gaun pasiennya dan mendekatkan payudaranya, Secara otomatis Angel langsung mencari dan melahap putting itu lalu menghisapnya dengan begitu rakus.
Hyukjae takjub merasakan bahwa putranya berbagi makanan dengan dirinya, bahwa tubuhnya-lah yang memberikan makanan untuk putranya.
"Dia sepertinya sangat lapar," suara itu berasal dari ambang pintu dan Hyukjae menoleh mendapati Donghae berdiri di sana.
Hari ini jam sembilan pagi dan Donghae sepertinya belum pernah pulang dari rumah sakit, lelaki itu tampak lelah.
Donghae berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas dari putranya yang menyusu.
Putranya sedang menyusu di tubuh istrinya. Sungguh pemandangan yang luar biasa indahnya.
"Kau tampak lelah", Hyukjae menatap Donghae lembut.
Lelaki itu mengalihkan pandangan dari putemranya ke mata Hyukjae, menatap Hyukjae dengan mata beningnya yang berwarna cokelat,
"Aku belum pulang, Hangeng membawakanku baju ganti dan aku mandi serta bercukur di sini, dilantai atas aku punya kamar sendiri."
Hyukjae baru sadar bahwa ini rumah sakit yang sama tempatnya dirawat setelah kecelakaan dan kemudian diculik oleh psikopat kejam itu.
Ini adalah rumah sakit milik Donghae,
"Yah ini rumah sakit yang sama," Donghae tersenyum meminta maaf, "Tetapi kali ini tidak ada lagi penjagaan di depan, aku sibuk mengurusmu sampai aku tidak sempat mencari musuh."
Hyukjae tersenyum mendengarnya.
Tepat ketika Angel melepaskan putingnya dan tertidur lelap dengan pipi montoknya masih menempel di payudara ibunya.
Diperbaikinya posisi tidur Angel sehingga nyaman dan Donghae mengikuti semua itu dengan pandangannya.
"Kau mungkin bisa pulang dan beristirahat Donghae."
Donghae mengangkat bahu, "Aku akan pulang untuk beberapa urusan, mungkin beberapa jam, lalu aku akan kembali," dengan canggung Donghae berdiri, sejenak hanya menatap lama, lalu mengangguk dan melangkah pergi.
Seorang suster masuk dan berpapasan dengan Donghae di pintu, dia bertugas mengambil Angel dan membawanya ke kamar bayi.
"Sungguh Anda isteri yang beruntung memiliki suami sebaik itu," suster itu tersenyum menatap punggung Donghae yang hilang di balik pintu.
"Dan seorang Lee Donghae pula, Anda sungguh beruntung dicintai seperti itu."
Hyukjae mengernyit, menyerahkan Angel untuk digendong sang suster dengan hati-hati.
Beruntung? Apakah maksud suster itu dia beruntung karena memiliki suami seperti Lee Donghae?
"Oh Anda tidak tahu ya?," suster itu meletakkan Angel dengan lembut di kereta kaca khusus bayi yang dibawanya, "Tuan Donghae sangat setia menunggui ketika Anda tak sadarkan diri hampir 2 hari lamanya. Dia selalu ada di sana tak pernah meninggalkan Anda. Kondisi Anda saat itu masih belum pasti, kadang Anda tersadar dan menceracau. Lalu tak sadarkan diri lagi, kadang kondisi Anda sangat drop sehingga kami harus menangani Anda secara intensif dan tuan Donghae menuntut untuk ada di sini, setiap detiknya mendampingi Anda. Ketika kondisi Anda stabil, dia ada di sebelah ranjang Anda, mengajak Anda berbicara dan menggenggam tangan Anda. Sepertinya semua penantiannya tidak sia-sia karena akhirnya Anda bangun dan membaik," suster itu tersenyum memuji, "Sungguh suatu anugerah yang tak terkira, bisa memiliki suami sebaik itu."
Lalu dengan mendorong kereta bayi suster itu pergi meninggalkan Hyukjae yang masih termenung di atas ranjang.
Benarkah Donghae, Donghae-nya yang sombong, arrogant dan pemarah itu melakukan semua yang dikatakan oleh sister itu?
Benarkah Donghae mencemaskannya sampai sedemikian?
Rasanya tidak bisa dipercaya...
.
.
.
.
Hyukjae sudah boleh pulang bersama Angel, dan Donghae menjemputnya tepat waktu. Lelaki itu tidak berubah, tetap begitu dingin hingga Hyukjae berpikir jangan-jangan yang dikatakan suster waktu itu hanyalah kebohongan atau khayalan semata.
Donghae duduk di sebelah Hyukjae dalam mobil itu diam dan menatap ke jendela, tampak menjaga jarak,
"Kau...eh, sudah baikan," Akhirnya Donghae memecah keheningan, menatap ringan pada Angel yang tertidur di pelukan Hyukjae dan tatapannya melembut, "Dia sepertinya sangat sehat."
"Dia menyusu dengan kuat," Hyukjae tersenyum dan mengecup dahi Angel dengan sayang.
Semula Hyukjae merasa sedikit takut atas reaksi Donghae kepada Angel. Lelaki itu membenci Angel dengan alasannya ketika dia di dalam kandungan Hyukjae, apakah lelaki itu akan membenci Angel ketika dia sudah lahir ke dunia ini?
Sepertinya Donghae menyayangi Angel, meski tidak ditunjukkannya dengan kata-kata.
Hyukjae sering menangkap tatapan penuh kelembutan yang dilemparkan Donghae kepada Angel.
Oh ya, Hyukjae mengerti, seorang Donghae mungkin tidak bisa lepas dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada anak kecil, tetapi Angel telah mencuri hati Donghae dan Hyukjae mensyukuri itu.
Mereka sampai di rumah dan dengan takjub Hyukjae menyadari bahwa kamar bayi sudah disiapkan.
Kamar itu terletak di kamar kecil yang memiliki pintu penghubung dengan kamar mereka sehingga Hyukjae bisa dengan mudah mendatangi Angel ketika putra mereka membutuhkannya.
Dengan lembut, Hyukjae meletakkan Angel yang tertidur pulas di box bayi barunya.
Bayi itu sangat pandai, tidak rewel dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan suasana di tempat barunya.
Donghae berdiri di ambang pintu penghubung dan mengamati Hyukjae, kemudian membalikkan badannya hendak pergi,
"Donghae,"
Lelaki itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Hyukjae,
"Ada apa?"
"Apakah…apakah setelah sekarang kita mempunyai putra, kau masih menganggapku sebagai pengganti Spencer?"
Hyukjae harus bertanya, dia tak tahan lagi memendamnya. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putra dan Hyukjae tidak mampu hidup dalam ketidakpastian semacam ini.
Anaknya harus tumbuh di keluarga yang saling mencintai dan ketika Donghae tidak bisa memberikannya. Maka Hyukjae akan pergi,
"Apa?"
Ada nyala di mata Donghae dan itu seharusnya sudah bisa menjadi tanda peringatan buat Hyukjae, tetapi dia tidak mau mundur dan dia tidak bisa.
"Kau selama ini selalu menganggapku sebagai pengganti Spencer. Sekarang kita mempunyai Angel, aku hanya ingin menunjukkan sikapku. Aku tak mau menjadi pengganti seseorang, jadi mungkin aku akan pergi bersama Angel."
Wajah Donghae mengeras.
"Kau pikir apa yang sedang kau katakan?"
"Aku sudah mempelajari surat perjanjian itu, dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus menikahimu di usiaku yang ke dua puluh lima tahun, tidak dituliskan klausul apabila kita berpisah…saat ini...aku ingin berpisah."
Kau bilang waktu itu kau mencintaiku!
Donghae ingin meneriakkan kata-kata itu di depan Hyukjae, dia begitu marah hingga jemarinya mengepal,
"Berani-beraninya kau mengajukan perpisahan kepadaku? Tidak pernah ada seorangpun yang bisa meninggalkan Lee Donghae!"
.
.
.
.
Hallo.. Masih adakah yg menunggu FF remake ini? Satu chapter lagi dan ini akan selesai ^^
Review pls? Thank you!
