Diaclamer : Naruto selalu punya om Masashi Kishimoto. Nggak berani ngaku-ngaku karena takut disantet *plaakk!*

Title : New Life

Pairing : Naruhina and others

Warning : Au, Gaje, Alur kecepetan, Typo yang berserakan, bahasa campur aduk kayak rujak dan masih banyak kekurangan di fanfic ini.

.

.

Yohoho minna-san! Sheilchan kembali membawakan chapter 10!

Makasih yang di cahpter kemarin dah mau sempet-sempetin review. Makasih banget pokoknya. Karena kalian Sheilchan jadi semangat ngetik kelanjutannya.

Di chapter kemarin kayaknya dah pada bisa nebak ya kalau yang nelfon Hinata itu Gaara? :v ... nggai jadi kejutan lagi deh... :v

Jadi apa yang dilakukan Gaara sebenarnya? Bernarkah Gaara meminta Hinata menjadi pacarnya? Apakah Gaara meneror teman-teman Hinata dan mengancam Hinata untuk melakukan apa yang ia inginkan? Lalu janji apa yang diberikan oleh Gaara pada Hinata?

Oke deh..dari pada makin penasaran, mending langsung aja.. READ ENJOYYY! ^_^

.

.

Ini tak bisa di biarkan! Aku harus segera bertindak karena ini sudah sangat keterlaluan.

Ia berlari dan begitu kakinya menapak di lantai atas itu, seorang siswa bersurai merah telah duduk menyandar di dinding dengan senyum kemenangan mengembang di wajahnya.

"Akan ku lakukan apa yang senpai inginkan!"

.

.

CHAPTER 10.

+Konoha Senior High School, jam istirahat+

+Ruang kelas 2-B+

"Hinata, kau pergi kemana tadi? Kok lama sekali sih?" tanya Sakura to the point.

Begitu bel istirahat berbunyi Hinata langsung di kerubungi dan diinterogasi oleh ketiga sahabatnya. Gadis itu didudukkan dengan paksa di bangkunya dan di hujani dengan berbagai pertanyaan. Kepala gadis itu berputar dari kiri, kekanan, kedepan, lalu kekiri lagi dan seterusnya karena pertanyaan beruntun yang dilontarkan tiga sahabatnya.

"Iya. Kau tiba-tiba pergi tanpa bilang padaku. Bahkan aku tak sadar kapan kau pergi saat kekacauan itu." Cerca Temari. Gadis itu sedikit bergidik ketika mengingat insiden Invasi para kecoa pada jam pelajaran pertama tadi ketika para kecoa yang , entah bagaimana, bisa ada di laci Sakura. Gadis itu berkacak pinggang, agak kesal karena Hinata pergi begitu saja dan tak membantunya melawan pasukan pengacau ketentraman kelas itu. XD

Hinata yang masih duduk di bangkunya merasa sedikit terintimidasi akibat dikelilingi tiga sahabatnya. Ia menatap ke arah lain sambil memainkan jarinya, terlihat bingung ingin menjawab.

"E-Etto.. a-aku.. t-tadi ke toilet.."

Ino mengernyitkan dahinya, "Mana mungkin kau berada di toilet selama lebih dari setengah jam." Cercanya. "Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu Hinata."

Hinata diam. Ia masih enggan menatap ketiga temannya. Sakura memegang bahu Hinata yang tampak bimbang, menuntunnya untuk menatap ke arahnya, "Ceritalah. Tak apa. Mungkin kami bisa membantu."

Dengan sedikit ragu, Hinata menggeleng, "Tidak teman-teman. Aku baik-baik saja. Kalian tak perlu khawatir." Katanya sambil tersenyum.

'Senyum palsu.' Batin Sakura.

Ino berdecak. Ia duduk dengan kesal di bangkunya dengan wajah masam. "Astaga Hinata. Kau itu tak pandai berbohong, jadi kami tahu jika kau memang sedang ada masalah. Maka dari itu, sebagai teman, aku memintamu untuk menceritakan masalahmu itu pada kami. Kau terlihat sangat terbebani tahu!"

Hinata menggigit bibirnya. Ya, ia memang tak pandai menyembunyikan sesuatu, tapi ia juga tak bisa ambil resiko dengan menceritakan masalahnya kepada teman-temannya. Apa lagi ini sudah menjadi kesepakatan antara ia dengan orang itu.

Hinata mendorong kursinya ke belakang dan berdiri, rautnya kelihatan gelisah, "M-maaf teman-teman, a-aku pergi dulu." Kata Hinata dan gadis itu langsung berlari keluar kelas, mencoba menjauh dari ketiga sahabatnya.

Temari, Sakura dan Ino tentu saja terkejut karena Hinata langsung berlari begitu saja dari hadapan mereka tanpa alasan yang jelas lagi.

"Hei Hinata! Kau mau kemana?!" teriak Sakura. Gadis itu hendak menyusul sahabatnya, namun Temari langsung memegangi bahunya. Sakura berbalik dan hendak protes namun begitu melihat Temari menggelengkan kepalanya, Sakura langsung diam.

"Biarkan saja dulu Hinata seperti itu. Mungkin ia butuh waktu sendiri untuk memikirkan masalahnya yang entah apa itu. Kita sebagai sahabatnya tak bisa berbuat apa-apa jika dia tetap masih tak mau menceritakannya pada kita. Jadi.. kita tunggu saja. Aku yakin Hinata akan mau menceritakannya besok." Katanya berusaha menenangkan sahabat pinknya. Ia tahu Sakura sangat khawatir pada Hinata dan Ino juga. Ia juga. Tapi jika memang Hinata belum mau bercerita ya mau bagaiamana lagi? Sebagai teman mereka juga harus mengerti keadaan dan mood Hinata. Ia yakin Hinata pasti akan bercerita pada mereka jika dirinya sudah merasa lebih tenang dan siap. Sungguh sikap Temari itu sangat bijak dalam menyikapi keadaan ini, jadi tak heran jika ia di pilih menjadi wakil ketua kelas sekaligus wakil ketua osis.

Sakura dan Ino menundukkan kepalanya dengan sendu. Apa yang dikatakan Temari memang benar. Mereka tak bisa memaksa Hinata untuk bercerita. Jadi mereka akhirnya mencoba memilih waktu yang pas untuk meminta Hinata menceritakan masalahnya pada mereka.

.

.

Hinata masih berlari di koridor. Pikirannya terasa kacau dan kalut. Ia mengutuk dirinya sendiri yang malah berlari meninggalkan sahabat-sahabatnya tanpa alasan yang jelas. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari sahabatnya karena ia tak mungkin menjawab dengan sejujurnya, kemana ia pergi saat kekacauan di kelas pagi tadi.

Hinata menundukkan kepalanya. Tidak. Ia benar-benar tak bisa cerita. Ia tak ingin ada orang lain yang terlibat dengan masalahnya lagi. Apa lagi masalah seperti sekarang ini.

Dan kesialan yang menimpa teman-temannya adalah sebagian akibat dari masalahnya. Dan mungkin akan jadi lebih parah jika ia tak segera bertindak. Ia tak ingin teman-temannya terluka... dan Naruto..

Langkah kakinya terlihat makin melemah saat berlari dan nafasnya juga mulai terengah. Kepalanya tertunduk namun tetap terus berlari. Orang-orang yang berjalan di dekatnya tak ia pedulikan dan ia tetap berlari hingga menyenggol mereka. Hinata menulikan telinganya saat orang-orang yang ia senggol mengatainya dan mencacinya. Sungguh, Hinata hanya ingin terlus berlari. Terus jika saja dengan berlari beban masalahnya bisa hilang terbawa angin. Terus hingga ia bisa mencari jalan dari masalahnya. Hingga akhirnya ia tak sengaja menabrak seseorang di depannya dengan cukup keras.

+BUKK+

"Auh!"

Tubuh Hinata terlihat oleng kebelakang karena bertabrakan cukup keras dengan sosok di depannya. Namun orang di depannya dengan sigap mengulurkan tangannnya dan memegang lengan kecil Hinata hingga gadis itu tak terjatuh.

"Hinata, kau tak apa?" tanya orang itu.

DEG

Hinata kenal suara ini. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menemukan sosok Naruto yang kini tengah memegangi lengannya. Shappire itu menatap lavendernya terlihat khawatir.

"N-Naruto.." gumamnya. Dan sedetik kemudian ia mulai sadar. Gadis itu mendorong tubuh Naruto agar menjauh darinya dan Naruto langsung melepaskan pegangannya di lengan Hinata. Hinata memundurkan tubuhnya dan membungkukkan sedikit tubuhnya, "M-maaf.. a-aku tidak sengaja."

Hinata ternyata menabrak Naruto yang kemungkinan habis kembali dari kantin. Empat teman seperjuangannya berdiri di belakang pemuda berambut jabrik itu, menatap bingung ke arah Hinata yang kini mulai gugup.

"Ya. Tak apa. Tapi kau baik-baik saja kan?"

Hinata mengangguk pelan. Sai yang berada di belakang Naruto bertanya pada Hinata.

"Kenapa kau lari-lari seperti orang sinting begitu Hinata?" tanyanya. Perkataannya cukup membuat orang tersinggung, namun ia malah tersenyum tanpa dosa . Kiba langsung menyikut pinggang pemuda itu dengan keras hingga Sai hampir jatuh, lalu mengatakan, 'Jangan mengatai Hinata sinting bodoh. Bisa-bisa Naruto akan menggantungmu.' Bisiknya. Dan benar saja, sekarang saja Naruto sudah menatap Sai dengan tatapan seperti pembunuh berdarah dingin yang ingin memotong lidah Sai sekarang juga. Sai memilih cengengesan untuk menghilangkan aura negatif Naruto padanya, namun tak dapat di pungkiri jika pemuda itu sampai berkeringat dingin hingga hampir terkencing.

Kiba membenarkan pertanyaan Sai, "Maksudnya kenapa kau berlari tanpa melihat jalan Hinata?"

Hinata hendak menjawab namun kelihatan ragu. Apa lagi saat ini ia benar-benar tak ingin bertemu dengan kelima pemuda ini, terutama Naruto. Namun tatapan Naruto yang terlihat begitu mengkhawatirkannya membuatnya benar-benar tak bisa menolak untuk berbohong. Kepalanya menunduk sebentar lalu tegak kembali, mencoba menatap manik sebiru langit di hadapannya yang begitu memikat hati.

"A-Aku.. sebenarnya.."

SET

DEG

Hinata berhenti bicara. Manik lavendernya membulat, menatap seseorang yang berada beberapa meter dari belakang Naruto dan teman-temannya. Gadis itu menelan ludahnya. Naruto yang melihat arah tatapan Hinata ikut menolehkan kepalanya ke belakang. Namun ia hanya melihat beberapa siswa dan siswi yang berbincang dan berjalan di koridor. Ia tak melihat ada hak aneh atau hal yang bisa membuat seseorang terkejut. Tapi kenapa ekspreai Hinata kelihatan terkejut begitu?

"Ada apa Hinata?" tanyanya bingung dan sekali lagi menoleh ke belakang karena Hinata masih menatap kesana. Bahkan teman-temannya yang turut kepo juga ikut menoleh dan mencari-cari objek aneh yang mampu membuat Hinata terkejut.

Hinata kembali mengalihkan perhatiannya pada Naruto. "I-itu t-tidak apa-apa kok. Se-sebenarnya... sebenarnya aku mau ke kamar mandi karena kamar mandi di lantai atas penuh. J-jadi a-aku permisi dulu." Katanya lalu segera menerobos barisan lima pemuda yang melihat ada kejanggalan pada diri Hinata lantas berbalik hendak menghentikan gadis itu. Namun ternyata Hinata sudah berhenti beberapa langkah di depannya. Gadis manis itu berbalik, "Ehm.. N-Naruto, ha-hari ini aku tidak bisa latihan. Aku ada keperluan. Maaf.."

Naruto tentu saja terkejut. Kemarin Hinata bilang jika ia punya waktu luang untuk latihan tugas menyanyi, bahkan gadis itulah yang mengusulkan hari ini. Gadis itu juga kelihatan bersemangat saat mengatakannya. Tapi kenapa sekarang malah berbalik 180 derajat?

"Eh.. oh.. be-begitu ya. Ya sudah tak apa kok. Kita masih punya banyak waktu untuk latihan."

Hinata tersenyum. "Terimakasih atas pengertiannya. Aku pergi dulu."

Naruto menatap punggung Hinata yang semakin menjauh darinya. Entah kenapa Naruto merasa kecewa karena Hinata membatalkan janjinya. Tapi hari ini, gadis itu memang agak aneh. Ya, sejak tadi pagi Naruto sudah menyadarinya. Gadis itu terlihat agak risau dan khawatir. Namun kadang berubah jadi ketakutan, seperti ada sesuatu yang membuat gadis itu tak nyaman. Dan Hinata juga kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?

Memikirkannya saja membuat Naruto semakin bingung. Dan sepertinya bukan hanya dia yang merasakannya.

"Hari ini Hinata kenapa ya? Dia kelihatan aneh." Kata Kiba. Naruto menoleh ke arah pemuda bertato segitiga terbalik di pipinya itu, "Aneh bagaimana maksudmu?" tanyanya dengan tatapan dingin yang tentu saja membuat Kiba merinding. Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada.

"Eh.. m-maksudku bukan aneh seperti yang kau pikirkan. Aneh yang ku maksud itu sikap Hinata yang berbeda dari biasanya." Katanya agar pemuda yang menjadi pimpinan Geng Rokie yang terhormat itu tak gagal paham.

Naruto mengangguk, " Jadi, kau sadar juga ya?"

"Tentu saja! Kau pikir hanya kau saja yang sadar jika hari ini dia agak aneh?!" teriaknya agak frustasi.

Sasuke yang sedari tadi diam kini ikut bicara, "Ya. Sikapnya agak aneh sejak pagi tadi. Dan lagi tak biasanya kan dia pergi sendirian begitu?"

Sai manggut manggut, "Hm.. benar juga ya. Biasanya dia kan pergi bersama gerombolannya yang berisik itu." Celetuknya. Kiba langsung memukul kepala Sai karena pemuda itu kembali asal bicara.

"Aku tak tahu ada apa dengannya hari ini. Tapi firasatku mengatakan sepertinya akan ada hal buruk menimpanya." Kata Naruto lirih, menerawang ke arah di mana Hinata menghilang.

Sasuke dan Kiba menatap Naruto yang tampak sedikit risau. Naruto menghela nafasnya, "Sudah lah. Lupakan saja. Lebih baik kita segera ke kelas sekarang." Ajaknya lalu mendahului teman-temannya yang masih berdiri menatap aneh pemuda itu. Namun mereka kemudian ikut berjalan di belakang Naruto.

Sasuke yang sudah berjalan beberapa langkah lantas menoleh kebelakang ketika disadarinya sosok pemuda berkucir ala nanas masih diam di tempatnya.

"Kau masih mau di situ?"

Shikamaru yang semula menatap ke arah lain lantas menoleh ke Sasuke, "Tidak." Lalu ia ikut berjalan di samping Sasuke.

"Ada apa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sasuke. Shikamaru memang kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Lihat saja dahinya yang berkerut itu. Dan lagi Sasuke juga agak bingung karena Shikamaru diam saja sedari tadi.

"Sebenarnya memang ada.. dan aku curiga jika seseorang telah mengancam Hinata."

Sasuke dan Shikamaru saling bertatapan. Dan sepertinya mereka mulai menyadari sesuatu dan segera pergi menyusul teman-temannya.

.

.

Gadis bersurai indigo itu berdiri sendirian di tepi jalan belakang sekolahannya. Gadis itu masih memakai seragam SMAnya dan seperti tengah menunggu seseorang. Ia terus-terusan melihat ke arah jam tangannya yang berwarna coklat, memastikan jika hari belum beranjak malam. Setiap jarum menit berpindah membuat perasaannya jadi bertambah tegang.

Gadis itu kembali melirik arlojinya.

"Sekarang hampir pukul 4 sore. Seharusnya sebentar lagi 'dia'-

+BROM.. BROOOMMM..+

CKIIITT

..datang.."

Suara decitan motor yang beradu dengan aspal terdengar memekakkan telinganya. Gadis itu segera tahu dan tersadar lalu menatap ke depannya. Sebuah motor keren berwarna merah darah berhenti tepat di depannya dengan seorang siswa berseragam sama dengannya sebagai pengendaranya. Jantung Hinata makin berdebar, bukan karena terpesona akan sosok yang mengendarai motor merah itu, tapi karena... takut.

Pemuda berseragam sekolah yang sama dengan gadis itu menegakkan tubuhnya. Tangan berkulit putihnya menanggalkan helm berfilm gelap miliknya hingga akhirnya wajah tampan dan surai merah miliknya terlihat.

"Sudah lama menunggu, Hinata-chan?"

Sosok itu, Gaara, menyeringai ke arah Hinata. Hinata menelan ludahnya, mencoba menguasai ketakutannya akan sosok senpai-nya yang telah menyeretnya ke dalam masalah.

"Ti-tidak." Jawabnya pendek, namun terdengar sedikit terbata. Gaara turun dari motornya dan bersandar pada motor merahnya itu dengan tetap menatap ke arah Hinata. Hinata lebih memilih mengalihakan wajahnya ke arah lain.

Gaara tersenyum, "Hey, kenapa kau tak mau menatap ke arahku? Jangan gugup seperti itu Hinata-chan. Kau benar-benar manis jika sedang gugup. Tapi pasti akan bertambah manis jika kau tersenyum." Katanya. Pemuda itu meraih dagu Hinata dan Hinata langsung menyentakkan kepalanya agar tak tersentuh oleh tangan Gaara.

Sungguh Hinata sangat muak dengan Gaara. Sejak kapan pemuda itu belajar berkata manis seperti itu? Dan lagi kenapa juga Gaara tersenyum seperti itu? Dan dia juga berani memegang dagunya. Jika saja pemuda itu bukan Gaara, Hinata benar-benar akan melemparkan tasnya ke wajahnya lalu menelfon polisi dan mengatakan jika seseorang telah melakukan tindakan asusila padanya.

Dengan mengumpulkan keberanian, Hinata mencoba menatap Gaara. Tapi ia sama sekali tak tersenyum. Gaara agak mengernyit, "Hey, tersenyumlah sedikit. Aku benar-benar rindu dengan senyum manismu Hinata-chan."

Ukh! Benar-benar Hinata ingin muntah sekarang. Tapi ia tak bisa melakukannya sekarang. Dan lagi, gadis itu tak mau ambil resiko lebih banyak lagi jika kali ini menolak permintaan Gaara.

Dengan menguatkan hati Hinata coba tersenyum, walau terkesan di paksakan, lalu berkata, "Lebih baik kita segera berangkat."

Gaara malah menyeringai, "Hm.. sepertinya kau sudah tak sabar ingin berkencan denganku ya Hinata-chan?"

Astaga! Cukup sudah! Hinata benar-benar tak kuat jika harus berlama-lama berurusan dengan pemuda satu ini. Hinata hanya ingin urusan perjanjian ini cepat selesai dan lagi ini sudah sore. Jika ia pulang sampai larut malam, kakaknya Neji pasti akan menginterogasinya.

Dengan sedikit menahan kesal Hinata menjawab, "Maaf senpai, sekarang sudah sore dan aku tidak bisa pulang hingga larut malam."

"Baiklah baby.. aku tahu.. aku tahu.." katanya dan Hinata kembali ingin muntah ketika Gaara berkata baby. Dia pikir Hinata bayi?

Pemuda itu mengenakan helmnya dan naik ke motor kerennya. Gaara menstater motornya.

+BROOOOMMM+

"Ayo Naik."

Hinata menghela nafasnya. Sebenarnya ia enggan naik dibonceng motor oleh Gaara. Tapi ia tak bisa menolak. Akhirnya dengan terpaksa Hinata duduk di belakang Gaara. Tangannya memegangi jaket Gaara. Gaara mengernyit lewat helmnya lalu menoleh ke arah Hinata, "Kenapa kau malah berpegangan pada jaketku?"

"Te-tentu saja agar tidak jatuh." Balasnya.

Gaara berdecak, "Jika kau tak ingin jatuh, seharusnya kau berpegangan padaku. Bukankankah kau sudah sering melakukannya bersama si KYUUBI?" kata Gaara dengan nada sedikit mengejek. Hinata hanya diam.

Tiba-tiba Gaara menarik tangan Hinata dan menuntun tangan gadis itu agar melingkari perutnya. Hinata tentu saja terkejut. Ia hendak menarik tangannya kembali, namun Gaara langsung berkata, "Jika kau melepaskannya, aku akan membatalkan kesepakatan kita" dan Hinata kembali tak berdaya. Dengan berat hati Hinata menurut dan tetap dalam posisinya, memeluk Gaara dari belakang. Dari helmnya Gaara tersenyum penuh kemenangan lalu motor merah itu melaju begitu Gaara meng gas motornya.

Hinata menemani Gaara kemanapun pemuda itu pergi. Ini bukanlah sebuah kencan karena Hinata hanya dibawa berputar-putar di sekitar pusat kota oleh Gaara dan Hinata ingatkan jika ia tak mau menganggap ini sebuah kencan! Bukan kencan Hinata ulangi, okey?! Lagi pula ia terpaksa melakukan ini.

Kadang Gaara membawa motor secara cepat lalu tiba-tiba melambat. Atau malah ngerem mendadak. Dan itu tentu saja membuat Hinata jadi makin erat memeluk Gaara. Gaara tersenyum dari balik helmnya dan Hinata tahu jika Gaara sengaja melakukannya.

Gaara memelankan motornya ketika manik jadenya menemukan sebuah kafe bertuliskan 'Yakiniku Q'. Motor merahnya berhenti di depan kafe itu. Hinata turun dari motor Gaara dan langsung berdiri menjaga jarak dari pemuda itu.

Gaara menanggalkan helmnya lalu turun dari motor merahnya. Ia sedikit mengacak surak merahnya dengan tangan kanannya untuk merapikan rambutnya. Gadis-gadis yang berada di dalam kafe itu juga yang hendak masuk ke kafe memekik karena terpesona dengan tingkah cool Gaara juga ketampanan pemuda itu. Walaupun Gaara memang lebih pendek dari pemuda biasanya, tapi kulitnya yang putih juga wajah tampannya begitu memikat hati. Bahkan Hinata hampir terpesona jika saja ia tak ingat dengan perbuatan kejam dan licik Gaara.

"Kafe? Kenapa senpai mengajakku ke kafe?" tanya Hinata bingung.

"Tentu saja untuk makan. Dan apa kau tetap mau berdiri jauh-jauh dariku?" kata Gaara sambil menatap Hinata dengan manik jadenya. Pemuda itu langsung menarik dan merangkul Hinata tanpa persetujuan gadis itu. Hinata hendak protes dan menampik tangan Gaara yang ada di pundaknya tapi Gaara langsung menginterupsi,

"Jangan berani-berani berbuat yang tak perlu."

Hinata kembali terpedaya. Gaara kembali berbisik, "Bagus. Karena aku tak mau pemuda lain melirikmu karena mengira kau datang sendirian." Katanya. Memang benar sih ketika Hinata menatap pemuda lainnya yang ada di dalam kafe, mereka semua sedang menatapnya bahkan juga sambil tersenyum jahil. Hinata langsung merinding. Mungkin perkataan Gaara dan perlakuan pemuda itu kali ini bisa ia terima.

Akhirnya Hinata masuk ke kafe itu bersama Gaara yang merangkulnya. Hinata hanya menurut walaupun sebenarnya ia merasa risih dengan kelakuan Gaara. Orang-orang yang melihat mereka berdua berbisik-bisik dan memuji betapa cocoknya mereka.

"Lihatlah Hinata-chan, banyak orang yang melirikmu iri mengira kau adalah pacarku. Dan mereka juga memuji jika kita ini cocok. Jadi seharusnya kau senang jika aku menjadi pacarmu." Kata Gaara menyombongkan diri.

Hinata hanya menatap pemuda itu dengan sedikit kesal yang hanya di balas senyuman oleh Gaara. Memangnya pemuda itu kira jika ia bangga berpacaran dengan Gaara? Jangan mengada-ada!

Gaara mendudukkan Hinata di bangku depan, di dekat jendela yang bisa langsung melihat ke jalanan karena kaca itu tembus pandang. Hinata sebenarnya enggan duduk di sini. Ia takut jika ada anak KSHS atau orang-orang yang dikenalnya melihatnya sedang bersama Gaara.

"S-senpai.. b-bagaimana jika kita duduk di tempat lain?" pintanya.

"Aku lebih suka duduk di sini." Kata Gaara. "Dan kau harus menemaniku."

Hinata menghela nafasnya. Dengan terpaksa gadis itu duduk di tempat yang sudah dipilihkan Gaara. Sementara pemuda itu duduk di depannya dengan santai. Hinata memilih menundukkan kepalanya agar tak banyak orang yang mengenali dirinya.

Gaara memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Gaara memesan makanan dan minuman sementara Hinata hanya memesan parfait. Jujur saja ia tidak lapar, makanya hanya pesan itu.

Pelayan itu mencatat menu yang Hinata pilih, "Baiklah. Kami menawarkan menu minuman untuk pasangam. Apa Mas dan Mbaknya ingin pesan?

"Ya" "Tidak". Jawab Gaara dan Hinata serempak. Gaara menjawab Ya dan Hinata menjawab Tidak.

Gaara langsung menatap Hinata dan Hinata balas menatap Gaara, sementara pelayan tadi bingung dengan pilihan keduanya.

"Maaf Gaara-senpai. Kau jangan salah paham. Kita kesini bukanlah untuk berkencan " tegas Hinata.

"Tapi aku menganggapnya iya." Balas Gaara sambil tersenyum menyebalkan. Dan dengan keberaniannya, Hinata tetap menatap Gaara, mencoba membuat pemuda itu membatalkan pesanan minuman untuk pasangan itu.

Gaara berdecak, "Ck, baiklah. Kami tak jadi pesan." Kata Gaara sedikit kesal.

Pelayan tadipun pergi dan tak lama kemudian membawakan pesanan keduanya lalu pergi lagi.

Hinata memakan parfaitnya dalam diam, sementara Gaara memilih makan sambil menatap Hinata.

"Kenapa kau hanya pesan parfait?" Tanya Gaara coba mencairkan suasana.

"A-aku tidak lapar." Jawab Hinata lalu lanjut memasukkan sendok es ke mulutnya. Namun kepalanya masih setia menunduk, tampak tak begitu menikmati kebersamaannya dengan Gaara. Sejujurnya masih ada rasa takut diri Hinata ketika gadis itu berada bersama Gaara. Jika saja ada Naruto, pemuda itu pasti akan langsung menolongnya. Namun, kali ini tidak mungkin. Dan gadis itu juga tak berharap jika Naruto akan datang. Setidaknya tidak saat ini. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Hinata mencoba untuk tetap bertahan di situasi ini.

"Ku harap Senpai benar-benar menepati janji senpai" Kata Hinata membuka suara.

Gaara yang sedang menyeruput Alpukat juice nya lantas berhenti. "Tenang saja. Kau tak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku.."

Hinata diam. Ia memang tak sepenuhnya percaya dengan kata-kata Gaara. Tapi gadis itu tak punya pilihan lain. Ia harus berusaha percaya pada Gaara demi teman-temannya.

"Apa kau meragukan ucapanku?" tanya Gaara.

"B-bukan begitu.. ha-hanya saja, apa yang senpai lakukan selama ini membuatku agak sulit mempercayai senpai."

Gaara meletakkan minumannya dan fokus pada Hinata. Pemuda itu bersuara, "Lalu bagaimana saat kau bertemu dengan pemuda berkepala kuning itu? Bukankah kau tadi hendak mengadu padanya? Apakah aku masih bisa percaya padamu padahal kau sudah berjanji takkan mengatakan hal ini pada siapapun hn, Hinata-chan?"

Hinata meneguk ludahnya kasar.

"A-Aku.. i-itu-"

"Hh... sudahlah. Lupakan saja." Kata Gaara. Pemuda itu melanjutkan. " Jika saja kau memberi jawaban tadi malam, maka aku tak akan bersusah payah melakukan hal-hal itu Hinata-chan. Padahal aku hanya meminta padamu satu hal. Tapi kau menolak dan Kau juga meremehkan kata-kataku. Bukankah aku sudah bilang, aku tak pernah main-main dengan kata-kataku?"

"Tapi, kenapa harus melakukan itu pada teman-temanku? Bukankah ini hanya masalah kita senpai?"

"Aku tak peduli." Kata Gaara membuat Hinata kesal."Teman-temanmu selalu menghalangiku untuk mendekatimu. Jadi sekali-kali aku harus memberi mereka pelajaran."

"Kau.. kejam." Kata Hinata pelan. Tapi tatapannya terarah langsung pada Gaara. Gaara hanya tersenyum.

"Seharusnya kau berterimakasih padaku Hinata karena aku hanya meminta satu permintaan darimu dan setelah itu kau akan mendapatkan semua yang kau mau. Bukankah kau yang paling untung di sini? Jadi bukankah ini lebih dari impas?

Impas Gaara bilang? Bagaimana bisa pemuda itu mengatakan hal ini impas jika ia sama sekali tak mendapat keuntungan dari kesepakatan mereka? Hinata hanya tak punya pilihan, jadi ia harus melakukan apa yang diminta oleh Gaara.

"Tapi, kenapa harus teman-temanku?"

"Aku sudah bilang kan padamu lewat telepon.. tadi malam." Kata Gaara. Pemuda itu tersenyum licik "Aku akan melakukan apapun sampai apa yang ku inginkan terpenuhi."

"Dan meneror teman-temanku adalah caranya?" ungkap Hinata tak suka. Gadis itu benar-benar ingin meninju wajahnya itu hingga tak bisa tersenyum lagi.

"Sampai akhirnya, kau menerimanya juga kan?"

Hinata langsung diam. Bagaiamana mungkin ia bisa menolak jika Gaara mengancamnya secara tidak langsung dengan meneror teman-temannya? Ini kan masalahnya, dan teman-temannya tak ada sangkut pautnya. Jadi demi melindungi teman-temannya, Hinata terpaksa menyetujui permintaan Gaara.

Gaara terus memperhatikan wajah Hinata yang kelihatan galau.

"Sudahlah Hinata, kau nikmati saja sore ini bersamaku. Jangan terlihat gelisah dan terbebani seperti itu. Apa yang membuatmu terlihat khawatir? Hm.. coba ku tebak. Sa.. pasti kau takut jika Uzumaki itu sampai melihatmu bersamaku di sini."

DEG!

Mendengar Gaara menyebut Naruto secara tidak langsung membuat hati Hinata mencelos. Memang benar sedari tadi sebenarnya dia sangat khawatir jika sampai Naruto melihatnya di sini bersama Gaara. Jika sampai Naruto melihatnya, mungkin pemuda itu tak akan mau melihat wajahnya lagi. Apa lagi kafe ini jaraknya tak begitu jauh dari sekolahnya. Dan rasa gelisahnya tentu dapat di tebak dengan mudah oleh Gaara.

Gaara mendecih, "Si Uzumaki itu terlalu berlebihan. Dan dia sok sekali ingin menjadi orang yang penting untukmu. Dan lagi lagaknya yang seperti penjagamu itu membuatku jijik. Dia jadi seperti anjing yang langsung menyalak ketika tuannya di ganggu."

"Jangan pernah bicarakan Naruto seperti itu!" tegas Hinata. Gadis itu mengepalkan tangannya kesal. Ia tak suka orang yang selama ini ada untuknya itu diolok oleh Gaara. "Naruto itu orang yang baik. Dia selalu menolongku dan ada untukku. Aku tak pernah memintanya menjagaku, tapi Naruto selalu ada ketika aku dalam kesulitan. Jadi Senpai tak punya hak untuk mengatai Naruto seperti itu!"

"Kau jadi sensitif ketika aku membicarakannya." Kata Gaara. "Tapi persepsi setiap orang berbeda Hinata-chan. Dan aku menganggapnya sebagai seorang yang menghambat langkahku. Dan apa kau tahu? Aku sangat ingin menyingkirkannya."

Hinata tak terkejut ketika mendengar Gaara mengatakan ingin menyingkirkan Naruto. Setiap orang yang bermusuhan pasti ingin menyingkirkan musuh mereka kan? Tapi Naruto pengecualian karena pemuda itu tak pernah membuat kesalahan lebih dulu pada Gaara. Malah Gaara yang selalu memancing emosi Naruto lebih dulu.

"Kenapa senpai sangat ingin menyingkirkan Naruto? Naruto tak pernah mencari masalah pada senpai. Tapi senpai yang selalu mencari masalah pada Naruto terlebih dahulu."

"Aku tak mencari masalah dengannya." Kata Gaara. "Dialah yang melibatkan diri pada urusanku."

Hinata terdiam, memikirkan kata-kata Gaara.

Melibatkan diri pada urusan Gaara?.. mungkin apa yang di katakan Gaara memang tak sepenuhnya salah. Buktinya Naruto memang sangat bersikeras menghalangi pemuda bersurai merah marun itu agar tak mendekatinya. Padahal hal itu tak ada sangkut pautnya dengan Naruto. Naruto memang punya masalah dengan Gaara. Bahkan sejak lama. Dan Hinata baru-baru ini juga punya masalah dengan Gaara. Namun masalah Naruto dan Hinata berbeda. Tapi Naruto malah ikut masuk dalam masalah Hinata dan Gaara, hingga akhirnya masalah ini jadi makin rumit.

Tapi, Naruto melakukan hal itu untuk melindunginya dari Gaara yang memang katanya sering berlaku buruk pada gadis. Jadi, Naruto tak salah kan?

Melihat Hinata yang terdiam akibat perkataannya membuat Gaara tiba-tiba mempunyai ide untuk berbuat sedikit jahil padanya. Pemuda itu mengeluarkan Handphonenya dari saku baju.

"Hm.. aku jadi penasaran. Bagaimana jika Uzumaki itu ku beritahu jika aku sedang kencan di kafe bersamamu ya?" katanya sembari membuka kunci layar handphonenya.

JGGLEEERRR!

Hinata langsung melotot. Ia menatap pemuda di depannya dengan tatapan horor.

"Senpai j-jangan bercanda."

"Bagaimana dengan ini?" tanya Gaara.

Gaara menunjukkan latar handphonenya membuka Whatsap dan di layar itu tertulis dengan jelas nama 'Uzumaki Naruto' di sertai dengan foto pemuda berambut jabrik itu yang tengah naik motor. Hinata tentu saja terkejut. Itu.. kontak Naruto? Benarkah?! Kenapa Gaara bisa punya kontak Naruto? Bukankah dia benci Naruto? Hinata menatap tak berkedip layar handphone Gaara.

Gaara menyeringai. Ia menarik kembali handphonenya, dari depan wajah Hinata. "Kau percaya kan?"

Mulut Hinata sedikit terbuka, menatap Gaara antara percaya dan tidak percaya. Terlihat masih bertanya tanya benarkah kontak di handpone Gaara tadi kontak Naruto?

Gaara makin tersenyum. "Hm.. bagaimana kalau ku coba memberitahunya ya.. atau memintanya ke sini?"

Hinata yang sedang sibuk berfikir kembali melotot, "Senpai.. k-kau hanya bercandak kan? K-kau tidak akan melakukannya kan?" tanyanya takut. Nada bicaranya bergetar.

"Menurutmu?" Gaara malah bertanya balik lalu terlihat mengetik sesuatu di layar handphonenya. Hinata tentu saja langsung panik. Ia berdiri dari bangkunya.

"Senpai!" panggil Hinata. Gadis itu berusaha membuat Gaara membatalkan niatnya untuk memberi tahu Naruto. Namun Gaara mengabaikan Hinata dan sibuk menulis pesan untuk Naruto. Karena di abaikan Hinata berusaha merebut handphone milik Gaara. Gadis itu menggapai tangan kanan Gaara yang sedang memegang handphone namun Gaara langsung memindah handphonenya ke tangan kiri.

"Senpai! Jangan lakukan itu! Kalau sampai Naruto tahu, dia bisa marah!" pekik Hinata masih berusaha meraih tangan kiri Gaara.

"Benarkah? Kita kan belum mencobanya jadi kita tak akan tahu kan bagaimana reaksinya?" kata Gaara biasa sambil menjauhkan tangan kirinya. Karena panik campur kesal, Hinata mendekat ke Gaara dan menarik tangan kanan pemuda itu agar dapat meraih handphone di tangan kiri Gaara. Namun Gaara malah berdiri dan mengangkat handphonenya tinggi. Hinata tentu saja tak dapat meraihnya. Gaara lebih tinggi darinya. Alhasil Hinata malah berakhir dengan lompat-lompat tidak jelas untuk menggapai handphone Gaara. Aksi keduanya menjadi tontonan semua orang di dalam kafe, termasuk seekor kucing yang jadi maskot kafe itu.

Hinata menyerah untuk merebut handphone Gaara. Gaara tentu heran. Ia melirik Hinata yang kini menatapnya dengan tatapan memohon.

"Senpai.. jangan lakukan itu.. jangan bilang pada Naruto. Onegai.." katanya lirih. Tangan Hinata masih memegangi tangan Gaara sehingga orang-orang akan beranggapan jika mereka itu mesra sekali. Apa lagi dengan jarak wajah yang kurang dari 30 cm.

Sesaat jantung Gaara berdebar melihat tatapan memohon Hinata. Gadis cantik itu tampak sangat manis ketika mengatakannya. Apa lagi ketika pipi seputih porselennya berubah memerah karena menahan malu sekaligus kesal.

'Kawaii...' Batin Gaara.

Hinata masih setia berdiri di depan Gaara dengan tatapan memohon dan Gaara menatap Hinata karena terpesona. Melihat Gaara yang diam saja membuat Hinata mengira jika pemuda itu akan membatalkan niatnya untuk mengirim pesan ke Naruto. Namun ternyata-

"Dengan jarak sedekat ini tanggung jika tidak diselesaikan. Kalau kau mendekat lagi pasti bibirku sudah menyentuh bibirmu."

BLUUUSSSSHHH

Pipi Hinata langsung memerah mendengar perkataan Gaara yang malah menggodanya. Apa lagi saat ini Hinata dapat melihat jika wajah Gaara makin mendekat. Dengan penuh kesadaran, Hinata langsung berusaha menjauh, tapi ternyata Gaara malah melingkarkan lengannya di pinggang Hinata hingga membuat gadis itu tak bisa pergi. Gaara menyeringai dan wajahnya makin mendekat. Hinata masih berusaha menjauhkan Gaara darinya dengan mendorong dada pemuda itu. Namun Gaara bahkan tak bergeming sedikitpun. Hinata pasrah karena tak dapat melepaskan dirinya. Sementara orang-orang yang melihat adegan itu langsung mengeluarkan handphone mereka untuk merekam adegan 'mesra' itu.

"S-senpai. "

Hinata menutup matanya dan berusaha menjauhkan wajahnya karena wajah Gaara tinggal berjarak sejengkal dari wajahnya. Jantungnya berdebar. Sungguh ia tak rela jika sampai Gaara menciumnya. Apa lagi ini akan jadi first kiss nya. Ia tak mau jika first kiss nya menjadi pengalaman buruk seumur hidup. Tapi Hinata tak bisa melepaskan diri.

'Kami-sama.. ku mohon.. tolong aku.'

"Hi-Hinata?"

Seseorang tiba-tiba memanggil nama Hinata, membuat Gaara dan Hinata terkejut. Karena terkejut, dengan reflek Gaara melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hinata dan sedikit menjauh. Kesempatan itu Hinata gunakan untuk mendorong dada Gaara agar menjauh darinya. Dalam hati Hinata cukup bersyukur karena orang yang memanggil namanya telah menyelamatkan bibir sucinya dari bibir Gaara. Hanya saja Hinata tak tahu siapa orang itu karena tertutup tubuh Gaara. Yang Hinata yakini, pastilah orang itu kenal dengannya atau setidaknya pernah bertemu dengannya.

Gaara tampak kesal. Pemuda itu menggeser tubuhnya lalu berbalik untuk melihat orang yang telah menggagalkan aksinya untuk mencium Hinata. Hinata turut menarap ke asal suara.

DEG!

Manik amethysnya membulat begitu melihat sosok pemuda berambut pirang dengan aksen kumis kucing di pipinya sudah berdiri beberapa meter di depannya. Pemuda itu menggunakan seragam khas anak KSHS. Plastik berisi makanan di tangannya terjatuh ke lantai dengan dramatis. Pemuda itu menatap Hinata dengan tatapan tak percaya.

"A-apa-apaan ini?"

.

.

"Apa-apaan ini?" kata Naruto. Manik biru shappirenya menatap bergantian antara Hinata dan Gaara mencoba mencari penjelasan. Pemuda ith tampak terkejut dengan pemandangan di deoannya. Kenapa... kenapa Hinata bisa bersama Gaara?

SEEESSSHHHH...

Hinata menatap horor Naruto yang tiba-tiba muncul di hadapannya di saat yang tak tepat. Mulutnya terbuka dan tampak bergetar. Bahkan gadis itu tak bisa berkata-kata. Naruto.. kenapa dia di sini?

Gaara yang semula terkejut berubah menyeringai. Naruto tiba-tiba muncul di saat ia ada bersama Hinata.

'Sepertinya ini saat yang tepat.'

Pemuda bersurai merah itu tiba-tiba merangkul pundak Hinata yang tampak lemas. Tubuh Hinata langsung tersentak. Gadis itu menatap Gaara yang masih menyeringai. Naruto yang melihat tindakan Gaara tentu terkejut. Tangannya terkepal kuat dan shappirenya menatap tajam sosok bersurai merah itu. Orang-orang yang melihat adegan itu tampak bergidik karena merasakan aura menakutkan yang keluar dari tubuh Naruto. Suasana menjadi hening, namun menegangkan.

Gaara makin mesra merangkul Hinata. Sementara Hinata hanya diam karena terlalu terkejut.

"Apa kau tak bisa lihat Kyuubi? Tentu saja aku dan Hinata-chan sedang berkencan."

DEG!

Naruto membulatkan shappirenya tak percaya. Apa tadi panda merah itu bilang? Kencan? Kencan dengan Hinata? Lalu apa-apaan suffix -chan yang ia berikan untuk Hinata itu?

Dada Naruto tiba-tiba terasa sesak. Ia merasakan Jantungnya berdebar sakit. Setiap debarannya seolah menyayat jantungnya.

Sementara itu Hinata langsung menatap horor Gaara. Kenapa pemuda itu malah bilang seperti itu pada Naruto? Naruto bisa salah paham! Atau jangan-jangab Gaara sengaja mengatakannya agar Naruto salah paham?.

Hinatapun melepaskan rangkulan Gaara dengan kasar hingga tubuh Gaara agak terhuyung.

"Se-senpai?! Ke-kenapa senpai berkata seperti itu?!" Pekiknya.

Gadis itu beralih pada Naruto dengan sedikit panik. Dapat ia lihat kepala Naruto tertunduk tampak lemas. Surai pirangnya menutupi shappirenya. Pemuda itu menatung di tempatnya, tampak hancur. Dan Hinata tahu, itu karena dirinya.

Hinata hendak bersuara memanggil nama pemuda itu. Namun tiba-tiba Naruto mengangkat kepalanya. Manik birunya yang biasa menebarkan kehangatan dan kenyamanan berubah menjadi tatapan dingin yang mengerikan. Hinata tentu saja memilih untuk diam karena tatapan itu tertuju langsung pada dirinya. Sekujur tubuh Hinata bergetar ketakutan karenanya. Tatapan itu.. sangat mengerikan..

"Benarkah apa yang di katakan Gaara? Hinata?" tanya Naruto. Nadanya bahkan berubah juga menjadi dingin dan terdengar mengintimidasi. Hinata tercekat melihat perubahan Naruto. Tidak... Naruto benar-benar marah padanya..

Hinata berusaha menjawab. Namun suaranya tak dapat terdengar karena terlalu takut. Bahkan jantungnya berdebar sangat cepat dan membuat tubuhnya menjadi berkeringat dingin. Tatapan itu.. bahkan lebih mengerikan dari saat kemarin Naruto marah dengannya. Kali ini dia serius.. Hinata sudah membuat pemuda itu kecewa

"A-A-Ak-ku.."

"Tentu saja. Apa kau tak bisa melihatnya hm, Kyuubi? Aku dan Hinata sedang berpacaran dan apa kau tahu? Hinata bahkan memanggilku Gaara-kun." Kata Gaara membuat suasana semakin panas dan kacau.

Mendengar perkataan Gaara yang dusta itu membuat Hinata langsung menoleh ke arah Gaara. Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan sambil beradu tatapan dengan Naruto yang wajahnya makin mengeras. Gaara makin memperkeruh suasana yang sudah keruh. Dan masalah ini jadi makin ruet sekarang.

Hinata langsung gelagapan. Ia menoleh ke arah Gaara dan Naruto bergantian.

"Ap-i-itu tidak benar!" Hinata beralih ke arah Naruto. "N-Naruto... apa yang di katakannya itu tidak be-"

"Jadi begitu." Kata Naruto membuat Hinata berhenti bicara. Pemuda itu menatap dingin sosok Gaara dan Hinata yang kini makin gelagapan.

"Jadi ini balasannya huh?" kata Naruto sambil tersenyum hambar. Perkataannya itu membuat dada Hinata berdenyut sakit karena kata-kata itu jelas ditujukan untuknya.

"Setelah apa yang ku lakukan selama ini untukmu. Menjagamu dan berusaha menjauhkanmu dari orang yang dapat merusakmu, kau malah mengabaikannya? Menganggapnya lelucon dan angin lalu?"

Naruto menatap Hinata langsung. Kilat matanya menunjukkan betapa terlukanya dia karena tindakan Hinata. Hinata tentu tak bisa berkata apa-apa melihat ekspresi terluka itu. Ia telah mengecewakan Naruto dan membuat pemuda itu merasa tersia-siakan.

"N-Naruto.. itu.. itu tidak benar.." kata Hinata lirih. Gadis itu berusaha berjalan mendekati Naruto dan berniat meraih tangannya. Namun Naruto malah mundur dan mengangkat tangannya.

"Sudah cukup." Katanya. Hinata berdiri mematung di tempatnya. Kepala Naruto menunduk.

"Aku mengerti sekarang." Katanya membuat hati Hinata teriris karena Naruto mengatakannya sambil tersenyum. Senyum palsu.

"N-Naru.."

"Sekarang terserah padamu ingin bagaimana. Aku tak akan pernah melarangmu atau menasehatimu lagi. Aku sudah tak peduli. Bahkan jika kau menjadi kekasih Gaara aku akan diam saja." Kata Naruto membuat hati Hinata makin teriris sakit. Sementara Gaada malah tersenyum.

"Sepertinya aku sudah mengganggu kalian. Jadi aku akan pergi."

Naruto mengambil plastik berisi makanan yang ia jatuhkan ke lantai lalu bergegas keluar dari kafe dengan wajah datar tanpa menoleh ke belakang.

"N-Naruto!"

Dengan penuh rasa bersalah Hinata berlari keluar kafe untuk mengejar Naruto, meninggalkan begitu saja Gaara yang tadi berdiri di sampingnya. Namun Gaara tak mengejarnya. Pemuda itu malah duduk kembali dengan tenang di kursinya sambil mengaduk-aduk jus alpukatnya. Orang-orang yang melihat hal itu saling berbisik-bisik namun Gaara mengabaikannya.

"Tak ku sangka rencanaku berjalan terlalu mulus. Hinata.. mulai besok, Naruto tak akan mendekatimu lagi." Kata Gaara lalu tersenyum penuh kemenangan.

.

.

Naruto berjalan keluar dari kafe dengan langkah lebar. Kepalanya menunduk. Plastik putih di tangannya ia remat dengan kuat hingga sobek. Wajahnya mengeras. Gigi putihnya bergemelutuk. Tak ia sangka, semua pengorbanannya selama ini untuk Hinata, malah di balas olehnya seperti itu? Kenapa dia tega melakukan itu? Kenapa?! Sungguh Naruto merasa sangat bodoh sekarang. Kenapa ia mau susah-susah membantunya? Kenapa ia mau susah-susah ingin menghiburnya?

Plastik di tangannya ia buang ke tempat sampah seperti perasaannya saat ini. Merasa terbuang.

"N-Naruto!"

Hinata berlari keluar dari dalam kafe dan langsung menghampirinya. Gadis itu tampak merasa sangat bersalah. Ia harus segera mengatakan hal yang sebenarnya pada Naruto!

"N-Naruto... k-ku mohon. Dengarkan penjelasanku!" kata Hinata dengan sedikit terengah setelah sampai di tempat Naruto. Gadis itu tampak begitu menyesal bercampur panik.

Naruto berdiri sebentar begitu Hinata datang. Gadis itu berada tepat di belakangnya. Naruto berbalik dan tampak berjalan mendekati Hinata. Namun.. pemuda itu ternyata malah melewati gadis itu begitu saja. Ia malah berjalan ke arah motor hitam oranyenya yang terparkir di depan kafe.

DEG!

Melihat reaksi Naruto yang mengabaikannya tentu saja membuat dada Hinata terasa sakit. Bahkan Naruto sama sekali tak melihatnya seolah.. ia tak ada.

Namun ia harus menjelaskan kesalah pahaman ini sekarang. Harus! Jika tidak, Naruto.. akan benar-benar membencinya.

"Naruto!"

Hinata berbalik dan mengikuti arah Naruto. Gadis itu memanggil nama Naruto lagi. Namun pemuda itu sama sekali tak berbalik atau bahkan berhenti. Melihat reaksinya lagi membuat Hinata serasa ingin menangis. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.

Hinata mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Naruto hingga akhirnya iia berhasil berada tepat di belakang pemuda itu.

"NARUTO!"

GREPP!

Hinata langsung menahan tangan Naruto dengan dua tangan kecilnya. Hal itu tentu saja membuat Naruto berhenti melangkah karena tangannya dipegangi oleh Hinata. Naruto berdiri diam di tempatnya.

Hinaata mengeratkan genggaman kedua tangannya pada tangan besar Naruto. Gadis itu menatap punggung Naruto dengan penuh penyesalan. Bahkan manik lavendernya tampak berkaca-kaca seperti ingin menangis.

"Naruto.. kumohon.. ku mohon, dengarkan penjelasa-"

"Apa yang perlu di jelaskan?" kata Naruto. Nada bicaranya datar dan sangat dingin. Bahkan pemuda itu tak membalikkan badannya. Hinata diam mendengar perkataan Naruto. Pemuda itu melanjutkan.

"Bukankah sudah jelas? Aku melihatnya sendiri tadi, dan Gaara juga mengatakannya padaku. Bahkan kau sepertinya tak membantahnya." Kata Naruto. Walau bicara dalam Nada seperti itu, namun Hinata tahu, pemuda itu melepaskan setiap perih hatinya saat ini lewat kata-kata itu.

"N-Naruto.. itu semua hanya salah paham!. a-aku bisa jelaskan semua-"

"TIDAK PERLU!" Teriak Naruto.

Hinata tersentak mendengar Naruto berteriak padanya. Naruto... berteriak padanya..Selama ini, pemuda itu bahkan tak pernah berteriak atau berkata kasar padanya. Tisak pernah.. Tapi.. kali ini..

Dengan sedikit menyentakkan tangannya, Naruto melepaskan genggaman Hinata. Hinata langsung mundur selangkah karena itu.

"N-Naru.."

"Mulai sekarang, jangan pernah merasa kenal denganku."

JLEEEBBB!

Jantung Hinata serasa tertikam belati mendengar perkataan Naruto. Gadis itu menatap tak percaya sosok di depannya ini yang bahkan tak berbalik atau hanya meliriknya. Bibirnya bergetar. Pemuda itu bilang.. jangan pernah mengenalnya.. lagi? Jadi.. Naruto tak ingin mengenal Hinata juga?

Hinata meremat dada kirinya yang berdenyut sakit. Hanya karena kata-katanya saja.. kenapa sesakit ini rasanya? Mata Hinata berkaca-kaca hingga mengaburkan penglihatannya.

"Sekarang aku tahu.. apa tujuanmu sebenarnya mendekatiku. Kau hanya ingin mencari perhatian pada Gaara kan karena kami terlibat masalah dan melibatkan dirimu dalam masalah kami? Tak ku sangka.. jadi seperti itu dirimu yang sebenarnya?"

JLEEBBB JLEEEBB!

Hati Hinata makin terasa sakit. Sekarang, Naruto bahkan mencap buruk dirinya. Ia bukanlah gadis seperti itu! Kenapa Naruto busa mengatakan hal seperti itu pada Hinata?

"Kenapa Naruto menilaiku seperti itu?... Aku tidak pernah berfikiran seperti itu.. tidak pernah... Ku kumohon Naruto.. ku mohon.. biarkan aku menjelaskan semuanya.."

Naruto mengabaikan Hinata dan pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Gadis itu hanya mematung di tempatnya bahkan setelah Naruto sudah duduk di motornya. Sia-sia.. Naruto terlanjur marah dan kecewa padanya. Pemuda itu susah tak mau mendengarkannya lagi.

Pemuda itu memundurkan motor kerennya lalu meng gas motornya. Dan pergi.

BROOOMMM

Naruto pergi dengan motornya begitu saja melewati Hinata yang masih mematung di tempatnya, tanpa meliriknya lewat kaca helm.

Hinata tersadar. Ia membalikkan tubuh rampingnya agar bisa mengikuti arah laju motor Naruto. Air mata yang semula terbendung, kini tumpah begitu saja melewati pipinya. Sakit.. hatinya sakit.. hancur.. Naruto.. Naruto benar-benar pergi..

"NARUTOOO!"

.

.

BERSAMBUNG

Yohoho.. akhirnya selesai juga chapter ini! Jadi gimana nih readers ceritanya? Memuaskan nggak? Semoga memuaskan ya! ^_^

Jadi.. pada akhirnya hubungan Naruto dan Hinata benar-benar retak karena Gaara! Padahal sebenernya Naruto itu hanya salah paham. Tapi Naruto terlanjur sakit hati dan kecewa pada Hinata, jadi ia sama sekali nggak mau ndengerin penjelasan Hinata.

Lalu bagaimana ya tugas menyanyi duet keduanya? Apa bakal di tuker? Dan bagaimana besok ketika di sekolahan? Hal menghebohkan apa yang akan terjadi besok?

Karena itu kalau para readers penasaran, kasih semangat ke Sheilchan buat update secepatnya dengan mereview fanfic ini ya! Sheilchan usahain mungkin minggu depan, atau depannya lagi bakal update. Jadi.. REVIEW PLEASE! ^_^