PERLU DIPERHATIKAN: chapter ini penuh dengan copy-paste dan remake dari ffku yg lainnya. Kalo nemu kesamaan sama sebuah ff, itu murni tulisanku. Bukan plagiat.

.

.

.

Musim gugur yang dingin. Begitu juga dengan akhir pekan di dalamnya. Seharusnya begitu. Tapi tengah hari ini udara bahkan tampak terbakar di atas jalanan aspal. Jadi Woojin mengurungkan niat untuk berjalan-jalan, menghirup udara segar di taman kota sendirian.

Ia berjalan kembali ke dalam kamar. Dan ketika membuka pintu, ia tidak menyambung langkah. Hanya membiarkan diri berdiam di ambang pintu ketika tanpa sadar memperhatikan Jihoon yang terduduk rileks di tepi ranjang. Menunduk memperhatikan perut bulatnya setelah menyingkap pakaian. Mengekspos kulit abdomen yang terlihat semakin mulus dari waktu ke waktu.

Jihoon menusuk-nusuk permukaan perutnya dengan telunjuk. Mengajak bicara sebuah persona yang tidak terlihat namun bisa ia rasakan. "Sayang, kau sedang apa? Aku bosan. Ayo kita bermain."

Tidak ada reaksi dari dalam sana. Ia mendesah lesu.

"Ah, di jam ini kau pasti sedang tidur." Lalu mengelus perut itu. Begitu lembut, menghargai sesuatu yang rapuh yang hidup di balik perlindungan tubuh Jihoon. "Cepatlah lahir. Aku benar-benar bosan. Aku ingin segera bermain denganmu."

Woojin tidak pernah melihat Jihoon tersenyum begitu tulus. Ini juga bukan untuk pertama kali ia mendapati Jihoon berbicara dengan perutnya. Woojin tidak mengerti. Kenapa manusia kejam seperti Jihoon bisa luluh hanya dengan seonggok makhluk kecil yang bahkan tidak pernah ia lihat sosoknya? Terlebih kehadiran janin itu tidak diinginkan. Tapi kenapa Jihoon bisa menerimanya?

Satu hal yang Woojin mengerti.

Jihoon mencintai anaknya.

Dan dengan segala kebaikan dan perhatian yang Jihoon berikan pada Woojin, Woojin mulai menyadari. Bahwa Jihoon jatuh cinta padanya.

Jihoon perlahan berubah menjadi semakin lunak. Ia tidak pernah membantah Woojin. Setiap kali Woojin melontarkan kalimat menyakitkan dari bibirnya, Jihoon tidak pernah membalas. Jihoon hanya diam tanpa ada tanda-tanda perlawanan darinya. Ia tetap membalas dengan memberikan perhatian dan kasih sayang pada Woojin. Dan berjuang keras agar Woojin juga bisa melihat dirinya.

Jihoon mengambil sebuah mantel tipis dari dalam lemari, memakainya dengan cepat.

"Kau mau ke mana?" Woojin bertanya dengan nada datar seperti biasanya.

Awalnya Jihoon mengernyit heran. Woojin tidak pernah peduli dengan apa yang dilakukan Jihoon sebelumnya. Dan sekarang ia bertanya?

"Aku mendapatkan dokter baru untuk melakukan check up rutin. Aku akan ke rumah sakit untuk menemui dokter Kwon Hyunbin."

"Mengemudi sendirian?"

"Ya... sendirian saja. Aku bukanlah anak kecil yang harus diantar kemana-mana. Lagipula aku kuat. Tidak akan ada sesuatu yang buruk menimpaku."

"Aku akan mengantarmu." Woojin sendiri tidak mengerti kenapa ia berkata demikian? Apalagi Jihoon. Kalimat itu seperti keluar begitu saja.

"Ada apa denganmu?"

"Jangan banyak tanya. Kutunggu di mobil."

Woojin segera berlalu dari jangka pandang. Jihoon masih memiliki tanda tanya besar di kepala tentang sikap Woojin yang tidak disangka-sangka. Tapi pada akhirnya ia mengedikkan bahu. Menerima saja perlakuan itu.

.

.

.

Jihoon telah berbaring di atas meja pemeriksaan, di ruang periksa. Woojin yang – sama sekali tidak bermaksud – setia duduk menemani di sampingnya, hanya diam ketika melihat Hyunbin mengangkat baju dan menurunkan celana Jihoon dengan telaten. Jel dingin melapisi sebagian kecil permukaan kulit perut Jihoon dan Hyunbin sedikit menekankan sebuah alat khusus pada perut itu. Memancarkan kumpulan sinyal yang mengumpulkan gelombang abstrak sehingga membentuk gambar di sebuah layar yang bisa Woojin dan Jihoon lihat.

Sang dokter menggerakkan alat itu perlahan. Memperhatikan setiap hal yang terjadi yang bisa ia lihat.

Dengan ultrasound empat dimensi, mereka bisa melihat sosok janin itu. Memang tidak nyata. Itu hanyalah gambar hasil dari kumpulan gelombang yang disorotkan pada permukaan perut Jihoon. Tapi makhluk mungil itu terlihat nyata. Dengan tangan kanan kecilnya yang tampak sedang menggosok sebelah mata yang tertutup. Dan tali pusat yang melayang-layang hingga sekitar dada. Tali yang menjadi sumber kehidupan utama baginya. Benda yang menjadi perantara Jihoon menyalurkan kasih sayang dan kehangatan.

Jihoon sudah pernah melihat hal ini sebelumnya. Apalagi Hyunbin.

Sementara Woojin yang baru saja memiliki pengalaman pertama, merasa terkejut melihatnya. Ia melihat bagaimana janin itu cegukan. Ia melihat bagaimana kaki-kaki kecil janin itu menendang kuat. Ia melihat bagaimana janin itu melompat. Ia melihat bagaimana sebuah jantung kecil berdetak dengan cepat.

Dan satu hal yang paling penting dari ini semua.

Ia merasakan bagaimana dirinya begitu takjub melihat kehidupan itu.

Ia hidup.

Makhluk itu benar-benar nyata.

Dan aku yang membuatnya.

Apa yang Park Jihoon rasakan saat ini?

Janin itu hanya sebesar jeruk. Tapi ada banyak hal yang sudah bisa ia lakukan. Tentu Jihoon juga bisa merasakan banyak hal. Kenapa Woojin masih bertanya-tanya soal itu?

"Bayinya perempuan. Dan ia tumbuh dengan sehat." Ujar Hyunbin ketika mengarahkan kursor di layar pada sebuah spot dan memperbesarnya.

Woojin melihat bagaimana Jihoon menyemat senyum bahagia tak terkira. Woojin yang biasanya menyukai penderitaan dan kesedihan Jihoon, sekarang menyukai kebahagiaan Jihoon yang memancarkan keindahan baginya.

"Selamat tuan Park Woojin. Anda akan menjadi seorang ayah dari anak perempuan."

.

.

.

Jihoon menempati kursi berdampingan dengan Woojin yang berhadapan dengan Hyunbin. Mereka hanya dibatasi sebuah meja.

"Kandungan anda baik-baik saja." Hyunbin tersenyum formal. Terlihat sangat normal. Tapi tidak jika sudut pandang Jihoon yang melihatnya. Dokter ini tampak hot, Jihoon pikir. Ia baru menyadarinya.

Menyukai laki-laki adalah hal yang sangat menyenangkan. Jihoon tidak menyangkal itu.

Terutama ketika ia mengingat kejadian tadi. Saat Hyunbin memintanya untuk berbaring, menarik baju ke atas, membuka ritsleting celana dan memelorotkannya, lalu menyentuh permukaan kulit perutnya. Jihoon tidak bisa berhenti berpikir macam-macam. Hormonnya untuk saat ini benar-benar berbahaya.

"Anda hanya harus menjaga asupan gizi dengan baik. Dan hindari hal-hal yang bisa membuat anda kelelahan dan tertekan. Apakah anda minum?"

"Sudah lama aku berhenti."

"Merokok?"

"Masih, sih."

"Anda harus menghentikan itu. Atau janin akan memiliki resiko besar untuk terlahir prematur karena ia tidak akan kuat dengan itu."

"Aku mengerti, seonsaengnim. Dan oh iya. Tidak perlu seformal itu padaku. Panggil saja aku dengan namaku." Dan Jihoon merasa untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berbuat genit pada laki-laki. Ia ingin berbuat seperti itu pada Daniel sebelumnya. Tapi ia tidak pernah berani.

Sementara pada dokter yang satu ini, Jihoon terus menatapnya tanpa henti.

Dan Woojin menyadarinya.

Ia mendelik tidak suka.

Apa-apaan tatapannya itu?!

Kemudian ia mengerjap untuk kembali ke kesadaran.

Dan kenapa aku peduli?

"Baiklah nak Jihoon." Dokter itu menerima Jihoon yang secara tidak langsung baru mengajak untuk lebih mengakrabkan diri. "Ngomong-ngomong, karena bayinya perempuan, ia akan menjadi anak yang cantik seperti ibunya kelak." Lanjutnya, berbasa-basi.

"Tapi aku tampan." Jihoon memprotes.

"Lalu kalau ia cantik nanti, turunan siapa?"

"Nyonya Kim, atau nyonya Lee."

"Tapi kau juga cantik."

Sadarlah dokter Kwon. Kau hanya seorang dokter. Tidak perlu menggoda istriku seperti itu di depanku.

Woojin semakin dibuat bingung dengan perasaannya sendiri saat ini. Tapi ya sudahlah. Ia akan berusaha untuk tidak peduli.

Selanjutnya Hyunbin menyarankan Jihoon untuk meminum banyak susu agar janinnya menjadi lebih gemuk dan lebih kuat. Dan Jihoon bertekad untuk mematuhinya.

Kemudian ia lanjut mendengarkan penjelasan sang dokter. Sesuatu paling aktual dari deretan prosedur yang telah mereka lalui selama beberapa jam terakhir.

"Kau memiliki bentuk tulang pinggul yang bulat, sehingga memungkinkan untuk melahirkan dengan proses normal seperti wanita umumnya. Apalagi kau juga memiliki lubang interseks. Sehingga kau benar-benar memiliki akses untuk jalan keluar bayi."

Jihoon tidak tahu apakah ia harus senang dengan kabar yang satu ini? Di satu sisi, ia tidak perlu mencemaskan: Aku laki-laki. Nanti bayinya akan keluar dari mana? Namun di sisi lain, ia benar-benar cemas karena jika ia akan melalui proses persalinan secara normal, itu artinya ia akan merasakan sakit luar biasa yang biasanya hanya dialami wanita. Jadi, apa ia akan sanggup menghadapinya kelak? Dan dengan kondisi Woojin dengan segala keapatisannya, ia tidak bisa meminta Woojin untuk menyemangatinya. Setidaknya ia akan membutuhkan dukungan secara verbal. Itu akan sedikit membantu. Lalu kepada siapa ia akan memintanya?

"Seonsaengnim, kau saja yang menangani proses kelahiran bayiku, oke?" pinta Jihoon.

Benar juga. Hyunbin bisa menemaninya.

Coret. Ia hanya diminta untuk menangani. Tidak masuk hitungan. Jihoon tetap membutuhkan orang lain. Ia tidak mau menghadapi perjuangan antara hidup dan mati itu sendirian.

"Bisa diatur."

Dan entah bagaimana, Woojin tidak menyukai permintaan itu.

.

.

.

Di dalam sebuah mobil sport, Jihoon menceritakan kembali informasi yang Hyunbin berikan padanya tadi pada Woojin. Ia terlalu antusias hingga tidak mau berhenti berbicara. Ia terlihat aneh sekarang. Sedikit terlihat seperti anak perempuan. Dan ia tidak menyadarinya.

Woojin tetap memfokuskan pandangan ke jalanan di depan ketika mengemudi. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Jadi ia memilih untuk diam saja. Terlihat dingin sebagaimana ia biasa berlaku pada Jihoon.

"Pendengaran baby kan sudah berfungsi, ia bisa mendengar apapun yang dikatakan semua orang yang berada di sekitarnya. Jadi kita harus mengatakan hal-hal baik padanya." Jihoon melanjutkan ocehan.

"Aku akan mengatakan pada makhluk itu bahwa ia hanyalah milikmu saja. Bukan milikku."

Jihoon berhenti berbicara detik itu. Kalimat Woojin yang menusuk benar-benar menghancurkan suasana hatinya yang baru saja berbunga-bunga dalam waktu singkat.

Woojin segera merasa bahwa ia salah bicara.

Ia mendengar sendiri dari Hyunbin bahwa Jihoon harus dihindarkan dari apapun yang bisa membuatnya tertekan.

Seharusnya Woojin bisa mendukung perjuangan Jihoon dalam menjalani proses kehamilannya. Bukan malah semakin menambah beban pikirannya.

"Sepertinya cuaca sudah membaik. Aku rasa tidak ada salahnya jika aku melanjutkan niatku untuk berjalan-jalan sebelumnya. Kau mau ikut?" Woojin langsung mengambil sikap. Mengatakan maaf secara tidak langsung. Karena kata maaf untuk Jihoon terlalu mahal untuk ia ucapkan.

Jihoon tidak menjawab. Ia masih terlihat murung.

"Hei. Aku terlalu malas untuk mengantarmu pulang ke rumah dulu. Jadi tentu saja kau harus ikut." Woojin yang semakin dilanda rasa bersalah, memaksa. Dan memainkan kalimat agar tidak terlihat terlalu jelas.

"Terserah saja."

.

.

.

Jihoon baru saja menyelesaikan rutinitas paginya memakaikan dasi dan jas seragam sekolah pada Woojin. Itu adalah salah satu kegiatan menyenangkan yang tidak pernah ia lewatkan.

Dan untuk hari ini, tambahan ia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan membuat benda itu berpindah ke tangan Woojin.

Selembar foto hasil ultrasound yang ia lakukan terakhir kali.

"Ini, bawa kembali foto ini." Woojin dengan cepat hendak mengembalikan benda itu pada Jihoon.

Namun Jihoon mendorong tangan Woojin pelan, menolak perlahan, "Tidak. Aku ingin kau menyimpannya."

"Untuk apa? Aku tidak membutuhkan benda seperti ini."

"Pokoknya simpan saja."

Woojin memasukkan foto itu ke dalam saku jas seragam sekolahnya, "Puas? Sekarang aku bisa pergi kan?"

"Tidak tanpa sebuah ciuman."

"Tidak, terima kasih. Aku pergi."

Jihoon memperhatikan Woojin yang meninggalkannya begitu saja setelah sebuah penolakan yang menyakitkan.

Sampai kapan akan terus begini?

.

.

.

Ketika Woojin berjalan di koridor sekolah setelah bel istirahat terdengar, ia mengeluarkan foto USG dari dalam saku jasnya. Memperhatikan gambar di atas permukaan kertas licin itu lekat-lekat.

"Hei, makhluk mengerikan. Kau telah menambah beban hidupku, kau tahu?" ia menyentil foto itu. Berbicara padanya seakan sosok itu benar-benar berada di hadapannya.

Ia melihat tempat sampah berdiri dua meter dari tempatnya berdiri, dan sebuah ide untuk membuang foto itu muncul.

Ia berjalan mendekati tempat sampah dan hendak membuang benda di tangannya.

Sekarang hanya tinggal melepaskan tangannya dari foto itu, dan semua selesai. Namun setelah ia melihat kembali gambar pada lembaran tipis itu, ia menarik tangannya kembali.

Aku simpan saja. Lumayan. Sebagai barang bukti bahwa aku adalah lelaki perkasa dan bertanggung jawab.

Tapi di dasar hatinya yang paling dalam, ia yakin ada alasan lain selain itu.

Seseorang merampas benda itu dari tangan Woojin. Membuyarkan lamunannya.

"Hei!" Woojin berseru. Menggerakkan tangan untuk meraih foto itu kembali.

Tapi orang itu berhasil menghindar dan mengamati lembaran licin itu. "Jadi ini adalah rupa dari anakmu dan Jihoon? Wow. Menakjubkan sekali."

"Kembalikan, Bae Jinyoung!" sungguh, apa yang salah dengan teman dekat Jihoon ini? Kenapa ia terlihat bahagia sekali? Pikir Woojin.

Setelah selesai, Jinyoung mengembalikannya ke tangan Woojin.

"Apa kau sering bertemu dengan Lee Daehwi?"

Dan sekarang anak itu tiba-tiba menanyakan sepupu Woojin?

"Tidak juga. Tapi aku mengunjunginya sesekali. Begitu juga sebaliknya." Woojin menjawab malas.

"Ah, bisakah kau sampaikan salamku padanya?" yang uniknya ditanggapi dengan antusias.

Woojin mengangkat sebelah alis.

Kenapa bukannya menitipkan salam pada Jihoon?

Woojin yakin. Ada sesuatu di antara sepupunya dan Bae Jinyoung.

.

.

.

Jihoon baru saja menghabisi setengah perjalanan menuju minimarket terdekat. Ia masih berada dalam masa mengidam, dan hanya bisa memenuhi keinginan oleh dirinya sendiri. Woojin masih berada di sekolah. Jihoon tidak akan mengganggunya. Ia juga tidak akan mempercayakan hal ini pada siapapun selain dirinya.

Ia berjalan dengan tangan kosong di tengah padatnya pejalan kaki yang berlalu-lalang di trotoar. Ini masih jam kerja. Ia tidak bisa membayangkan akan seramai apa pusat kota ini jika jam pulang kerja dan sekolah telah tiba.

Ia tidak pernah lagi mengendarai motor sport-nya. Di usia kandungannya yang telah menginjak bulan kelima sekarang perut itu sudah terlalu besar untuk tidak menyentuh tangki motor ketika ia menaikinya. Dan ia tidak ingin mengambil resiko apapun.

Ia bisa pergi berjalan-jalan keluar rumah di hari biasa seperti ini karena hari ini Daniel tidak datang. Gurunya itu memiliki janji dengan dosen pembimbingnya saat ini. Ya, ia sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk meraih gelar profesor. Dan sekarang ia sedang mengerjakan disertasi dan akan segera mencapai cita-citanya.

Sebelum melintasi penyeberangan beberapa menit yang lalu Jihoon sempat mengangkat telepon dari Daniel yang mengajaknya untuk berjalan-jalan jika urusan dengan dosennya selesai. Mereka juga sempat memperdebatkan film apa yang sebaiknya mereka tonton di bioskop nanti. Daniel dengan sedikit malu mengungkapkan bahwa ia ingin menonton Finding Dory. Jihoon terpingkal mendengarnya. Lalu menolak dan kukuh dengan keinginannya untuk menyaksikan The Conjuring 2. Daniel kalah berdebat, dan berakhir memutuskan untuk mengikuti apa yang Jihoon mau.

Setelah sampai di seberang, Jihoon kembali menghentikan langkah untuk mengangkat sebuah telepon tak dikenal. Masa bodoh dengan minimarket yang tinggal berjarak hanya tiga blok dari tempatnya berpijak saat ini. Ia bisa melanjutkan langkahnya setelah ini.

"Halo."

"Halo Park Jihoon."

"Maaf, dengan siapa saya bicara?"

"Lai Guanlin."

Ia sempat terdiam lebih lama sebelum mengatakan, "Bagaimana bisa-"

"Itu tidak penting."

"Apa maumu?" ia tidak bisa bernada dingin. Guanlin bukanlah seseorang dari kalangan baik-baik. Ia adalah salah satu anak yang seringkali membuat dirinya dan Jihoon terlibat tawuran antar sekolah.

Mereka adalah musuh bebuyutan dari sekolah yang berbeda.

Jihoon berprasangka akan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan setelah ini.

"Aku memiliki Park Woojin di sini."

"Apa?!" tanggap Jihoon spontan. What a joke?!

"Kau mendengarku dengan baik."

Di tempatnya, Guanlin memperhatikan Woojin yang pergelangan tangan dan kakinya ia ikat dengan kuat. Tubuhnya ia ikatkan pada sebuah pilar beton. Dan mulutnya ia ikat dengan kain dan membuat simpul di belakang kepalanya.

Ia tidak sedang main-main.

"Oh, atau perlukah aku memperdengarkan langsung suaranya untukmu?" ia menurunkan kain yang menahan Woojin untuk berbicara.

"Lepaskan aku, sialan!"

"Woojin!" Jihoon mengeratkan genggaman pada ponselnya.

"Bersediakah kau menjemputnya kemari?" Guanlin berujar santai.

"Tidak, Park Jihoon! Jangan dengarkan apa yang ia minta! Tetaplah berada di tempatmu!"

Guanlin pikir sudah cukup. Ia hanya perlu membuat Jihoon yakin bahwa Woojin sedang bersama dirinya saat ini. Jadi ia kembali menutup mulut Woojin.

"Ia berisik sekali. Aku harus mengikat mulutnya dengan kain untuk bisa membuatnya diam."

"Jangan berbuat macam-macam padanya!" Jihoon positif dibuat khawatir dan tertekan setelah mendengar suara suaminya itu. Bagaimana bisa ini semua terjadi begitu cepat? Rasanya baru saja Woojin berpamitan sebelum pergi sekolah tadi. Dan sekarang ia sudah menjadi sandera?

Tentu saja. Guanlin membuntuti langkahnya ketika jam istirahat Woojin pergi ke sebuah toko buku. Dan di saat yang tepat ketika tidak ada hawa manusia di sekitar, ia membius Woojin dan membawanya.

"Jangan khawatir. Ia aman. Asalkan kau bisa datang tepat waktu."

"Baiklah. Kirimkan aku alamatmu." Otaknya berputar begitu lambat. Ia tidak bisa berpikir apapun lagi selain ia harus menyelamatkan Woojin saat ini.

"Segera, setelah aku menutup telepon ini. Dan oh ya, datanglah sendiri. Atau kau akan menyesal." Dan Guanlin segera memutus sambungan. Beberapa detik setelahnya Jihoon mendapatkan sebuah pesan yang mencantumkan alamat lengkap sebuah tempat.

Jihoon tidak peduli dengan ancaman Guanlin. Ia tidak dungu. Akan sangat berbahaya baginya jika ia datang sendirian. Terlalu beresiko. Ia harus meminta bantuan.

"Halo Jihoon. Ada apa?" Daniel bertanya di seberang.

"Guanlin membawa Woojin." Jihoon langsung pada poinnya.

"Apa kau bilang?" Jihoon sudah menceritakan banyak hal pada Daniel. Termasuk betapa buruknya hubungan ia dan Guanlin. Sehingga Daniel juga tahu ini bukan pertanda baik.

"Ia menyanderanya. Aku akan ke tempatnya sekarang."

"Tidak Jihoon. Kau tetaplah di sana. Biar aku yang menangani ini."

"Cepatlah saem!"

"Aku akan segera ke tempat itu. Kirimkan alamatnya."

Sambungan diputus, bersamaan dengan Jihoon yang mulai mempertimbangkan sesuatu.

Ia tidak bisa tinggal diam menyaksikan Woojin menunggu terlalu lama. Waktu yang ia miliki hanya berbatas beberapa kejap.

Ia mengelus perut besarnya gusar. Mengajak sesuatu yang berada di dalamnya berbicara, "Aku harap kita akan baik-baik saja..." memejamkan mata. Mengembuskan nafas perlahan. "Tetaplah kuat, sayang..."

Karena ia telah memutuskan untuk pergi.

Ia merasakan sebuah tendangan di perutnya. Sedikit mengurangi rasa khawatirnya.

"Tentu saja. Kau sangat kuat. Bisa kurasakan dari tendanganmu itu..." Ia bahkan merasa bahwa kaki mungil itu seperti akan keluar menembus perutnya.

Janin itu pasti bisa merasakan sapuan kasih yang ibunya berikan. Hingga bisa bertingkah antusias di antara tingginya konsentrasi cairan yang menyelubunginya di dalam kehangatan rahim itu.

.

.

.

Ia memasuki sebuah bangunan tua tak terurus. Gelap bahkan ketika matahari berada tepat di atas bangunan itu. Lembab dan berdebu. Beberapa kaca jendela yang pecah ditutupi papan kayu. Papan-papan itu membelah sisa-sisa garis sinar matahari dan udara yang menerobos masuk.

Ia menelusuri dan memeriksa setiap ruangan yang ada. Namun nihil. Ia tidak menemukan ada tanda-tanda kehidupan. Itu sempat membuatnya takut akan ada seseorang yang melancarkan serangan tiba-tiba dari balik tubuhnya. Jadi ia berjalan dengan lebih waswas hingga menghentikan langkah di samping sebuah tangga lebar.

Benar juga. Ia belum memeriksa lantai atas. Tanpa mempedulikan ketakutannya, ia segera menaiki tangga. Menyambung langkah untuk memasuki sebuah pintu terbuka yang seakan telah menantinya untuk memasukinya.

Dan apa yang ia lihat di sana membuatnya membulatkan mata.

"Woojin!"

Yang dipanggil namanya hanya menatap sendu. Percuma berontak. Ia tidak akan menang dalam situasi ini. Ia tidak bisa berbuat apapun.

"Senang bisa bertemu lagi, Park Jihoon." Guanlin menampakkan wujud dari balik pilar yang menjadi tempatnya mengikat tubuh Woojin.

Jihoon menatap tajam, "Lepaskan dia."

Guanlin melangkahkan sepasang kaki panjangnya semakin dekat dengan sang lawan bicara, "Ow, tentu saja. Aku akan melakukannya. Jika kau mengabulkan permintaanku."

Jihoon mendesah pasrah, "Katakan."

"Tuliskan kode brankas orang tuamu."

What?! "Dalam mimpimu."

"Jangan coba-coba denganku. Kau tahu seberapa kuatnya aku. Sekarang cepat tulis semuanya."

"Aku tidak akan membiarkan kedua orang tuaku hancur."

Guanlin terbahak, bermaksud merendahkan pernyataan Jihoon, "Lucu sekali. Kau pikir aku tidak tahu mereka telah mengusirmu karena kau tidak bersedia untuk menggugurkan kandunganmu, hm?"

Jihoon tercekat. Ia pikir berita kehamilannya hanya akan tersebar di sekolahnya saja.

Tentu saja. Ada banyak penghianat yang tidak bisa menutup rapat mulutnya.

"Bukan urusanmu."

Beberapa jawaban dingin Jihoon berhasil membuat urat-urat kecil menyembul di pelipis Guanlin, "Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau tidak akan membiarkan kedua orang tuamu hancur sementara kau sendiri akan menghancurkan suami yang kau cintai ini?" ia terus berusaha untuk membuat Jihoon bersedia mengikuti apa yang ia inginkan.

Motherfucker.

Jihoon mengumpat secara internal. Ia tidak akan mengatakan kata kasar itu di depan janinnya.

"Berikan tab-mu." Balas Jihoon pada akhirnya.

Woojin menggeleng kuat berkali-kali. Hanya bisa menjerit dalam hati.

Tidak, Park Jihoon. Kumohon jangan. Ayah dan ibumu telah menerimamu kembali sebagai anak yang mereka cintai. Kau harus menjaga mereka dengan baik, begitu juga seluruh harta yang telah mereka dapatkan dari hasil keringatnya selama ini.

Guanlin mengukir senyum antagonis, "Anak pintar."

Ia menyerahkan tablet-nya pada Jihoon. Jihoon akan menulis di sana.

Ya, dalam mimpi Guanlin. Karena kenyataannya yang Jihoon lakukan adalah membanting benda itu sekuat tenaga ke lantai dan menginjaknya hingga layarnya pecah.

Ia terlalu nekad sepertinya.

Lebih tepatnya, ia sudah sangat gatal. Sudah lama ia tidak berkelahi, apalagi tawuran. Tapi karena hanya ada ia dan Guanlin sendirian di sana, ini akan menjadi duel singkat yang menyenangkan.

Guanlin menyemat senyum sarkastik, "Jadi kau sedang menantangku? Baiklah." ia merenggangkan otot leher panjangnya hingga terdengar suara keras retakan tulang dari sana, "Kau telah salah mengambil keputusan."

Ia menarik kerah mantel Jihoon dengan kasar dan

BRAK!

Menghempaskan kuat tubuh Jihoon hingga terlempar ke sebuah tumpukan kursi kayu. Jihoon mendesis, meringis menahan rasa sakit yang mendera punggungnya.

Woojin semakin gelisah. Ingin sekali mengeluarkan teriakan dari paru-paru keringnya. Namun yang terjadi hanyalah peluh yang mengalir semakin deras melintasi pelipis.

Sementara Jihoon terus mengucap mantera sugesti dalam hati.

Tenang saja. Daniel seonsaengnim akan segera datang...

Guanlin kembali menarik kerah Jihoon hingga bangkit. Ia akan melanjutkan semua ini.

BUGH!

Jihoon lebih dulu mendaratkan bogem di wajah kasar Guanlin hingga sentuhannya terlepas. Bahkan pukulan kuat itu berhasil membuat Guanlin termundur beberapa langkah.

Ia kembali maju dan menendang dada Jihoon hingga punggung Jihoon membentur dinding. Guanlin kembali menghampiri Jihoon dan akan memberikan serangan bertubi-tubi seperti orang kesetanan. Jihoon telah memukul wajahnya tadi. Tidak mengetahui bahwa mulai saat ini jika ia melawan Guanlin satu kali, maka Guanlin akan membalasnya seribu kali.

PRANG!

Jihoon memukul kepala Guanlin, kali ini menggunakan sebuah botol kaca. Hingga pecah menjadi serpihan-serpihan tajam. Namun tidak cukup kuat untuk membuat nasib kepala Guanlin seperti botol itu. Tapi setidaknya Jihoon telah membuat darah segar mengalir dari kepala Guanlin. Cairan pekat itu bercampur dengan cairan sedikit keruh yang tumpah dari botol itu. Dan lelaki oriental itu ambruk di hadapannya.

Jihoon bersyukur karena tuan Park memintanya membelikan sebotol Portified Wine. Anggur yang sudah sangat ayah mertuanya itu rindukan. Tapi Jihoon terpaksa mengeluarkan botol yang baru dibelinya tadi itu dari bagian dalam saku mantelnya dan memukulkannya pada Guanlin. Ia akan membelikannya lagi nanti.

Yah, jika ia masih diberikan kesempatan untuk bisa bertahan lebih lama.

Jihoon merasa tubuhnya setengah remuk. Tapi motivasi untuk menyelamatkan Woojin memberinya kekuatan untuk tetap bertahan.

Dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia bangkit. Berusaha melangkah cepat menghampiri Woojin dan melepaskan seluruh ikatan tali yang melilit tubuhnya.

"Park Jihoon!" Woojin yang tidak sabar segara memegang kedua lengan Jihoon dengan erat, "Kau tidak apa-apa?" pertanyaan bodoh. Jelas-jelas ia melihat sendiri bagaimana Jihoon menerima serangan kasar bertubi-tubi.

"Argh! Pelan-pelan, Woojin." Tubuh Jihoon serasa dihujani seribu batu ketika ia menggerakkannya. Woojin meringis karena merasa bersalah.

Jihoon akan segera membawa Woojin keluar dari sana. Atau lebih tepatnya, Woojin yang akan membawa Jihoon. Karena saat ini Jihoon tampak begitu lemah.

BRAKKK!

"PARK JIHOON!" Woojin berseru.

Mereka tidak melihat serangan itu datang.

Guanlin baru saja memukulkan kursi kayu pada punggung Jihoon hingga benda itu hancur. Mengabsolutkan kepayahan Jihoon yang sekarang secara sempurna merasa dirinya remuk. Sepertinya punggung Jihoon adalah sasaran favorit Guanlin saat ini.

Woojin merasa muak dengan semua ini. Ia hendak bangkit dan menyerang Guanlin dengan tenaga yang masih banyak tersedia dalam dirinya.

Guanlin meraih salah satu potongan kursi yang telah hancur itu dan akan didaratkan ke kepala Jihoon.

Namun tiba-tiba tubuhnya ambruk.

Dengan sisa tenaga yang Jihoon miliki, ia berhasil menembakkan bius dari pistol khususnya hingga jarum tajamnya menancap tepat di bagian ceruk leher Guanlin.

Dan Daniel tiba dengan begitu terlambat.

Ia dan Woojin akan membawa Jihoon ke rumah sakit sekarang.

.

.

.

Tidak terhitung sebanyak berapa puluh kali Jihoon biasa mengonsumsi jeruk, bayam, dan yoghurt dalam tujuh hari selama tiga puluh hari terakhir. Yang Hyunbin yakini sebagai penyebab Jihoon memiliki tulang yang begitu kokoh. Tidak peduli berapa kali Guanlin menghempaskan tubuh Jihoon hingga punggungnya membentur dinding bahkan ia memukul punggung itu menggunakan kursi kayu hingga hancur, tidak ada satu ruaspun tulang Jihoon yang retak apalagi patah. Ia hanya mengalami memar parah di permukaan punggungnya. Memar yang akan segera pulih dengan beristirahat selama beberapa minggu.

Ia telah dipindahkan ke dalam ruang rawat inap. Yang kemudian akan tinggal selama beberapa hari untuk memenuhi masa pemulihan. Sisanya ia akan diizinkan pulang untuk melanjutkan istirahat di rumah.

Nyonya Lee masih berada di Amerika untuk urusan bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan. Sementara tuan Park baru saja melakukan penerbangan untuk menyusul istrinya itu ke sana. Dan Woojin tidak menginformasikan kondisi Jihoon pada orang tuanya karena ia pikir Jihoon bisa melalui semua ini sendirian.

Woojin meninggalkan Jihoon di rumah sakit untuk tetap pergi ke sekolah keesokan harinya.

Dan kebetulan Daniel yang datang berkunjung bersedia untuk menemani Jihoon hingga Woojin kembali dari sekolah.

Baiklah, sepertinya Woojin bisa bernafas lega.

Hingga siang harinya Jihoon membuka mata.

Dan ia bisa merasakan kedamaian ketika melihat Daniel terlihat damai di dalam tidurnya di atas sofa.

Jihoon merasa ia tidak perlu dijaga. Tidak juga membutuhkan pengawasan. Ia yakin bahwa dirinya baik-baik saja.

Tapi Daniel selalu memberikan perhatian yang tidak biasa padanya.

Lupakan itu sejenak. Sekarang Jihoon harus pergi ke kamar mandi. Ia ingin mencuci muka. Ia tidak ingin terlihat buruk di hadapan guru kesayangannya.

Dengan hati-hati ia bangkit. Perlahan menapakkan sepasang kaki di lantai dingin dan berdiri. Ia tidak tahu di mana mereka meletakkan sandal rumah sakitnya?

"ARGH!" ia tiba-tiba meraung. Meremas kuat perutnya yang dirasa sakit luar biasa yang terasa seribu kali lebih sakit dibandingkan bagian lain tubuhnya.

Keributan itu membangunkan Daniel.

Ia menyerukan nama Jihoon secara spontan ketika melihat darah mengalir di sekitar selangkangan Jihoon. Dengan cepat merambat mengotori celananya dan membanjiri lantai.

Sungguh, cairan pekat berbau amis yang Jihoon keluarkan itu banyaknya bukan main.

Dengan sigap Daniel memegangi Jihoon. Tangan lainnya menekan tombol untuk memanggil perawat.

Air mata mengalir deras membasahi kedua pipi Jihoon. Ia terisak hebat. Ia tidak bisa menyaksikan ini. Ia tidak bisa menyaksikan darah ini, juga sumber cairan merah segar itu datang.

Anakku...

.

.

.

"...as well as paying attention to the children about the worship and always monitoring the daily interaction. It is expected to be a learning to be more aware of the environmental situation, more attention in the association of children not to fall into the the lifestyle of hedonism. Um..." Woojin berusaha untuk membuat bahasa yang ia katakan seringan mungkin ketika guru bahasa Inggris di kelasnya menunjuknya untuk menjelaskan pesan moral dari sebuah film.

Kelas bahasa Inggris hari ini adalah yang paling menyenangkan bagi salah satu kelas tingkat akhir di sekolahnya. Kim Chungha selaku guru yang bersangkutan menyulap kelas menjadi sebuah bioskop. Tirai ditutup rapat, lampu dimatikan, speaker ruangan difungsikan dengan volume di atas biasanya, dan cahaya proyektor disorotkan ke depan kelas untuk menayangkan Dorian Gray. Sebuah film Inggris yang menonjolkan sebuah kehidupan hedonisme pada era Victoria. Zaman dimana Inggris berada di puncak kriminalitas terburuknya sepanjang lima abad terakhir.

Dan begitu film selesai, sang guru meminta Woojin berdiri di tempatnya dan menyebutkan nilai filosofis berdasarkan pendapatnya sendiri yang ia ambil dari film itu.

Dan demikianlah kelanjutan penjelasan Woojin yang mentransfer apa yang otaknya tangkap hingga ia pikir tidak ada lagi yang tersisa.

"What else?" Chungha bertanya apakah Woojin masih memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Woojin berpikir keras. Seharusnya masih ada. Ia harus memberikan penjelasan lebih banyak untuk membuat dirinya terlihat lebih keren di mata semua orang di sana. Bagaimana bisa ia menjelaskan secara lancar sementara dirinya tidak pernah berada dalam gaya hidup itu? Berfoya-foya menghabiskan harta, berjudi, mabuk-mabukan, menjalani kehidupan seks yang liar, dan bentuk kesenangan lainnya. Ia hanyalah seorang nerd yang selalu patuh pada orang tua dan taat pada peraturan sekolah dan tidak pernah melakukannya.

"I think... that's all, ma'am." Ia sudah buntu. Tak apalah. Setidaknya mereka tetap akan menganggapku anak pintar di sini.

"What a great way to show your opinion, Mr. Park. Along with the content of it." Chungha mengukir senyum bangga. Ia merasa bangga memiliki seorang murid yang cerdas meskipun bukan sepenuhnya hasil didikannya. Ia harap Woojin bisa mempertahankan kekonsistenan pola aktivitas sekolahnya dan bisa melalui ujian kelulusan dengan nilai yang memuaskan.

Riuh tepuk tangan di seisi kelas membahana. Tepukan kagum yang tetap terdengar begitu menyenangkan meskipun Woojin sudah biasa mendengarnya.

"Alright, please sit down Mr. Park."

Woojin membungkuk hormat sebelum kembali mendudukkan diri di bangkunya.

Choi Yoojung adalah siswa berikutnya yang diminta untuk menjelaskan pendapat.

Woojin ingin sekali memperhatikan gadis itu berbicara untuk membandingkan kemampuan mereka. Jika saja tidak ada notifikasi obrolan yang tiba-tiba mengusiknya.

Nama Daniel terpampang sebagai si pengirim.

Ia menyentuh layar ponselnya untuk membaca pesan.

Jihoon baru saja kehilangan bayinya.

Ia sudah terlelap di bawah pengaruh obat penenang.

Kami menanti kehadiranmu di instalasi gawat darurat.

Seluruh anggota tubuh Woojin terasa lemas seketika.

Ya Tuhan. Bagaimana perasaan Park Jihoon saat ini...?

Ia buru-buru bangkit, tidak mempedulikan sopan santun yang seharusnya ia lakukan.

Chungha meminta Yoojung untuk berhenti berbicara.

"Mr. Park. You should not interrupt someone during her explanation." Guru itu menangkap raut kekhawatiran di wajah murid pintarnya. "What's the matter?"

"Izinkan saya untuk pulang lebih cepat, madam Kim."

"In English please."

"Istri saya mengalami keguguran." Satu kalimat singkat, sesingkat suasana kelas berubah ramai seperti sebelumnya.

"Oh My Lord." Chungha refleks berkata. Ia lalu melihat satu tetes air mata jatuh di pipi Woojin. "We're so sorry, Park Woojin. For your little family." Ia memberikan ucapan dukacita diiringi raut wajah yang setara. "Okay, you may leave the class. I wish your wife the best condition."

Woojin berterimakasih. Segera meninggalkan kelas setelah menerima ucapan dukacita yang tulus dari teman-temannya.

Ia harap kedatangannya nanti bisa membuat Jihoon merasa lebih baik.

Ya, ia harap.

.

.

.

TBC

.

.

.

Aku bisa tau tentang ultrasound berdasarkan pengalaman pribadi. Aku udah dua kali di-usg. Nambah pengalaman baru dengan cara itu menyenangkan juga. Yg nyebelin tuh pas setelah itu aku ditimbang berat badanku naik drastis. Meh. Tapi itu dulu. Skrg aku kalo nemu timbangan seneng bgt hahaha *apasih jadi curhat -,-

Ini pertama kalinya aku lanjut ff sebelum review mencapai target. Soalnya ff sebelah udah aku up, jadi udah rada tenang dan punya waktu buat lanjut ini. Dan aku tambahin dikit words nya. Kalo dibuletin ini tuh jadi 5k words. Mayan kan. Tapi chap depan ga janji bakal lebih panjang ya wkwkwk.

Review buat chap kemaren aku balesin di chap depan ya. Paling aku jawab yg ini aja. Yg nanya apa aku sarjana sastra inggris, jawabannya adalah iya. Inggris-perancis lebih tepatnya. Dan penjelasan ujin dalam b inggris tentang hedonisme itu aku ambil dari bab tiga skripsi aku xD

Chap depan juga bakal aku jawab pertanyaan seputar hyungseob.

Juga bakal cantumin nama kalian.

Chap ini full momen 2park kan ya? Semoga suka ya.

Aku mau balik lanjut ff lain. Jadi aku bakal tetep pasang target oke? Wkwkwk. Next target 361.

Bhai :*